Butuh Udara Segar

Category : tentang DiRi SenDiri

Usai menuntaskan proses verifikasi usulan bedah rumah tempo hari, rasanya perjalanan saya kali ini sudah mulai menemukan jalan buntu. Segala kejenuhan dalam rentang nyaris setahun ini, benar-benar menghilangkan semua kreatifitas dan pola pikir pembaharuan yang saya punya.
Mentok tanpa daya.

Ini memang penyakit rutin dalam gaya saya dalam bekerja. Ketika merasa semua berjalan stagnan tanpa adanya perkembangan berarti, biasanya itu merupakan sinyal untuk mengubah haluan, pindah ke tempat kerja yang baru.
Di masa lalu, dalam setahun saya bisa resign tiga kali hanya lantaran merasa tak lagi mampu mengembangkan diri.
Tapi kini saat menjadi pegawai negeri ?
Tentu tak semudah itu.

Saya memang lagi butuh udara segar tampaknya.
Perlu darah baru untuk bisa memulihkan semangat kerja yang mulai luntur.
Pembaharuan pola kerja, pembagian tugas tim, atau bisa juga Liburan. Ah, untuk yang terakhir ini, rasanya ndak mungkin bisa dilakoni saat ini.

Masuk akal, pembaharuan pola kerja dan tim inilah yang menurut saya paling masuk akal. Mengingat disebelah masih ada dua tim yang harus dibimbing agar bisa menyelesaikan pekerjaan dalam 2 bulan terakhir ini. Penuh resiko dan tantangan.
Meski beberapa hari terakhir sudah mulai masuk di ranah ini, namun upaya untuk bergabung kembali, belum lugas dilakoni. Rasanya masih ada beberapa hal yang mengganjal.

Liburan panjang yang tidak bakalan dapat menikmati liburan ini, sepertinya menjadi kesempatan terakhir saya untuk me-recharge ulang pikiran dan tentu saja suasana kerja di ruangan. Jika tidak, maka akibatnya bisa fatal.
Semoga saja saya bisa melewatinya kelak.

Kunjungan Singkat ke Balik Jeruji

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Ada rasa haru ketika melihat sosok yang dahulu kerap berdiskusi saban pagi berjalan dari pintu besi yang mengurung sebulan ini, hingga menyunggingkan senyumnya saat melihatku di seberang jeruji.
Sosok itu Kepala Bidang kami, yang ditahan Kejaksaan Senin malam 2 Oktober lalu, atas kasus yang membelitnya dua tahun silam.

Beliau tampak sehat, dan masih bersemangat seperti dulu. Ini kali kedua saya bertatap muka mengunjunginya di LP Kerobokan. Banyak hal yang ingin saya sampaikan.

Tak pernah terbayangkan sebenarnya, apabila satu saat nanti bisa jadi ketiban sial dan mengalami hal yang sama dengan PakYan. ‘Yang penting kamu yakin, tidak ada uang negara yang diambil. Jika memang hanya kesalahan sebatas administrasi ya kenapa musti takut ?’ Ungkapnya disela pertemuan kami selasa siang kemarin.
Selain itu nasehatnya masih sama dengan sebelumnya. Nasehat yang sama sebagaimana mantan pimpinan yang resign dari pekerjaan sebagai PNS Oktober lalu.
Bahwa perbanyak waktu bersama keluarga, karena kita tidak mengetahui kapan dipisah dengan mereka. Sedang pekerjaan, ambil sesuai porsi kemampuan, jangan memaksakan diri apalagi atas tekanan pimpinan.
Beuh… saya jadi makin sedih mendengarnya.

Emosi kali ini masih bisa saya tahan. Padahal sejak awal pertemuan sempat drop juga. Tapi malu kalo sampai di kunjungan kedua ini saya masih menggalau. Hingga obrolan mulai terasa santai dan mengalir.

Saya hanya ingin menyampaikan progres kerja kami hari ini.
Bahwa kegiatan Bedah Rumah yang tempo hari banyak menyita waktu, kini sudah mulai dimudahkan olehNya. Proses Pencairan secara bertahap dilakukan, meski masih banyak bolongnya namun tujuh puluh lima persen beban sudah bisa dilewati. Tinggal pengawasan dan pertanggungjawabannya saja.
Selain itu pula, saya ingin menyampaikan progres jalan lingkungan, yang tampaknya sudah mulai bermasalah saat Beliau tinggalkan. Cukup pelik persoalan yang ada, tapi musti optimis harus bisa diselesaikan.

Saya sendiri gak banyak membawa buah tangan. Secara kondisi kesehatan sebenarnya ya ndak jauh beda dengan yang saya alami.

Tapi senang bisa mengunjungi Beliau, sendirian.
Ada banyak cerita yang bisa dituliskan dalam blog ini kelak. Hanya soal mau dan sempatnya saja.

Lain kali pasti saya sambung lagi.
Semoga kesehatan Beliau selalu dijaga olehNya.

Kangen ngeBlog lagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Sepertinya saya sudah tiba pada titik nadir dimana semua ide dan juga mood untuk menuliskannya, hilang perlahan digerus waktu. Lelah pikiran bisa jadi penyebab utamanya.
Meski belum berselang lama dari update postingan terakhir, tapi saya Kangen banget bisa ngeBlog lagi.
Bisa nulis banyak lagi dalam sekali waktu.

Dua minggu terakhir rutinitas lebih banyaj dijelali soal pekerjaan yang belum jua tuntas di tengah pergolakan anggaran, seakan tanggung jawab itu dibebankan semua di pundak ini. Padahal sejatinya posisi itu tak lagi diemban hingga akhir tahun ini paling tidak. Namun entah mengapa semua panah masih mengarah saja.

Kesehatan juga jadi kendala. Gangguan pada telinga, gigi dan pergelangan kaki akibat panas knalpot motor masih terasa sakitnya hingga kini. Sementara itu yang namanya gula darah kok ya makin tinggi saja rasanya.
Pertanyaan ‘kok makin kurus’ jadi terdengar wajar kalo ingat kondisi diatas. Apa daya lingkungan seakan tak peduli akan hal itu.

Maka itu saya Kangen banget bisa ngeBlog lagi. Kangen bisa nulis nulis banyak lagi. Menumpahkan semua pemikiran dari keluhan, impian, gaya hidup hingga hal hal kecil yang berkaitan dengan keluarga.
Apa ini efek samping dari membuka kembali lembaran FaceBook beberapa waktu lalu ?

Akhirnya Berpisah Lagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Gak terasa Tiga Minggu sudah kakak liburan di Bali.
Mengajak dua Putranya yang sudah segede gaban bersama sang istri, menepati janji yang pernah mereka ucapkan lima tahun lalu. Pulang sebentar setelah lelah mengumpulkan dollar.

Ada banyak cerita yang dilalui selama mereka di Bali. Dari soal ujian bahasa Inggris setiap hari bagi semua orang di rumah lantaran dua ponakan tidak menguasai bahasa ibu, melali dan melali nyaris tiap hari, hingga ributnya tandem baru, Ananta bungsu dari kakak dengan Ara bungsu kami, yang terlihat cocok satu sama lain dalam kesehariannya.

Saya sendiri bagai ujian praktek bicara Inggris dengan upaya grammar seadanya, modal nekat, pokoknya biar tetep nyambung, karena kasian juga kalo diem dieman sepanjang hari. Menyapa, menawarkan makan malam, atau sekedar ngocehin game yang mereka mainkan melalui ponsel iPhone 4nya.

Sementara untuk Mirah dan Intan, yang sebelumnya terdengar begitu fasih berbahasa Inggris, mendadak diam tanpa berani berkata apa apa. Seperti biasa, takut salah ucap.
Padahal, mumpung dengan saudara lah salah ucap itu musti dibiasakan, biar tahu salahnya dimana. He…

Tapi Jujur, selama Tiga Minggu ini, saya jarang bisa mengungkapkan perasaan dalam tulisan Blog tentang aktifitas mereka. Pun demikian saat kepulangannya hari Jumat lalu.
Itu sebabnya baru hari ini bisa tersampaikan.
Terlupakan dengan rasa haru dan senang, bisa bertemu lagi. Padahal selama empat tahun terakhir, pasca meninggalnya kakak perempuan, saya merasa tak punya saudara yang diajak menikmati hari. Yang ini jauh di Canada, meski masa kekinian ada video call nya whatsapp, tetap saja tak merasakan nikmatnya ‘mendekatkan yang jauh.’

Menyandang Status Tersangka

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KHayaLan, tentang Opini

Saya yakin gak satupun dari kita, kamu, juga saya… menginginkan hal diatas terjadi.
Akan tetapi demikianlah kondisi beberapa senior saya di pemkab Badung saat ini.

Tersandung paket kegiatan konstruksi di Tukad Mati Kuta, dua kepala bidang yang saat pekerjaan dilaksanakan ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK atau bahasa awamnya terdahulu dikenal sebagai Pimpro, dan satunya lagi bertugas sebagai Pembantu Pelaksana Teknis Kegiatan atau PPTK.
Yang satu masih tetap bertugas di tempat kerja terdahulu, satunya lagi dipromosikan ke tempat dimana saya kini bertugas.

Tak ada yang menyangka sebetulnya. Mengingat kedua sosok abdi negara ini saya kenal begitu ulet dalam bekerja.
Informasinya hanya karena lalai dalam menjalankan tupoksinya masing-masing, mereka berdua kini telah naik status menjadi Tersangka dalam paket kegiatan tersebut.

Siapapun saya yakin bakalan kaget, dan lantas kehilangan semangat kerja. Apalagi status Tersangka yang disandang, bakalan mengancam karir dan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Demikian pula terkait harga diri di mata sanak saudara maupun masyarakat sekitar tempat tinggal. Juga secara luas dalam pergaulan. Sayapun yakin akan demikian adanya apabila berada dalam posisi yang sama.

Jangankan menyandang status Tersangka.
Baru hanya dipanggil dan diperiksa saja, image kita sudah jatuh didepan banyak orang, ketika hal itu diketahui publik. Bukan apa-apa, tapi yang namanya awam biasanya sudah memandang negatif ketika itu terjadi. Terlepas proses berlanjut atau berhenti.
Saya pun pernah mengalaminya.

Yang paling kasihan, tentu saja keluarga. Istri, anak-anak, dan orang tua.
Itu sebabnya ketika status belum meningkat menjadi Tersangka, biasanya kami akan berupaya menutupi fakta pada mereka, agar tak menjadi khawatir secara berlebihan. Menganggap bahwa semua ini semacam aktifitas kerja biasa lengkap dengan segala resikonya. Sehingga ketika ini bisa diselesaikan, maka semua akan berlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Namun ketika kejadian, naik status menyandang sebagai Tersangka ? Disinilah semua tantangan yang sebenarnya bakalan dimulai.

Itu sebabnya, ketika panggilan dan pemeriksaan dilakukan, Saya berupaya kooperatif dan mengikuti alur normatif serta optimal dalam membuktikan semua pekerjaan yang selama ini berusaha dilakukan dengan benar.
Bahwa dengan bekerja secara benar saja, sebetulnya masih ada celah yang bisa dianggap salah oleh orang lain, apalagi bekerja sengaja secara salah ?
Bisa habis kita di tengah jalan.

Bahwa kemudian ada hal-hal yang luput untuk diingat, bisa jadi wajar ketika pekerjaan tergolong overload sebagaimana pengalaman di tahun sebelumnya.
PC laptop atau Ponsel pun bisa mengalami hang saat semua beban dipaksakan untuk dikerjakan, apalagi otak manusia ?

Itu sebabnya tak sekalipun terlintas keinginan atau bayangan masa depan bakalan menyandang status Tersangka seperti halnya diatas. dan semoga tak akan pernah terjadi.

Run Boy, Run…

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada banyak hal yang dilakukan orang untuk melarikan diri dari satu masalah.
Minum alkohol, merokok, hangout atau bolos saat jam kantor.
Hal terakhir adalah yang paling sering saya lakukan saat sudah mumet dan menyerah pada satu keadaan.
Namun biasanya perjalanan waktu tak akan bisa setenang sesunyi yang diharapkan.
Ada rasa bersalah. Ada rasa bingung saat melakoninya.

Lingkungan kerja kerap menjadi sumber masalah. Sangat jarang hadirnya dari keluarga.
Bisa jadi situasi yang berbeda terjadi pada kalian.

Berusaha tenang dan melupakannya, nyaris tak mampu dilakukan. Apalagi jika sudah tak sesuai dengan hati nurani.
Maka Pasrah pun dilakukan di hadapan-Nya. Berserah dan Mohon Petunjuk.

dan Petunjuk biasanya akan datang begitu kita meminta.
Sesederhana itu.

Maka sudah tidak seharusnya lagi saya memilih untuk lari dari masalah.
Lebih baik diselesaikan, semampunya.
Tentu atas Petunjuk dari Beliau.

Tuhan itu Maha Jahil.
Kalian Ingat ?

Tentang Tuhan dan Minggu ini

Category : tentang DiRi SenDiri

Tuhan itu Maha Jahil.
Serius…

Ketika Senin kemarin saya berada pada titik jenuh dan bosan hingga malas ngapa-ngapain, tiba-tiba saja pagi ini saya dikaruniai kesibukan dadakan yang cukup ampuh mengembalikan semangat kerja saya kembali meski belum sepenuhnya.
dan Sore tadi, saya memilih untuk berolahraga sejenak di lapangan puputan sepulang kerja.
It works…
Aneh memang.

Begitu juga di waktu lalu, ketika saya berada dalam situasi yang menyenangkan, sehari setelahnya, Intan putri kedua kami harus dirawat di RS karena gejala Typhus. Praktis hari-hari berikut yang kami lalui penuh kesibukan menemani si nakal di kamar vip RS Bhakti Rahayu hingga minggu sore. Siapa sangka bisa berubah secepat itu.

Pasca Vonis 2 tahun Pak Ahok, banyak yang bersedih. Termasuk kalian dan saya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Tuhan sepertinya menunjukkan sisi lain dari hukuman itu, dari berTerimaKasihnya puluhan ribu warga Jakarta lewat kiriman bunga dan balon ke balai kota, ataupun buku ke tempat pak Ahok dipenjara.
Bahkan tidak hanya itu saja.
Tuhan dengan caranya sendiri menunjukkan jati diri mereka yang selama ini sok suci mengklaim diri membela agama, namun di balik itu memiliki agenda yang berseberangan.
Unik…

Tuhan memang Maha Segalanya. Jadi ya ndak heran kalo saya sendiri menyebut-Nya sebagai Maha Jahil.
Begitu mudahnya Beliau membalikkan keadaan dari yang tadinya sedih menjadi gembira, gembira menjadi sedih, sepi kemudian ramai, dan ramai lalu sepi.
Seperti kunjungan ke Blog ini.
He…

FaceBook and Me

Category : tentang DiRi SenDiri

Ternyata sudah lama juga saya bergumul dengan waktu hanya untuk mengeloni akun FaceBook.
Setidaknya dari tulisan perpindahan domain dari pandeividuality.net ke pandebaik.com di tahun 2008 silam, terungkap perkenalan saya dengan akun FaceBook yang kalau tidak salah ingat, waktu itu untuk kali kedua saya membuat akun, dan ternyata belum banyak kawan yang bergabung ke sosial media satu ini. Mereka masih asyik dengan FriendSter kalo ndak salah.

FaceBook dalam perjalanannya banyak membantu aktifitas saya di dunia maya termasuk dalam urusan meningkatkan traffic kunjungan ke postingan Blog.
– Tahun 2009 awal, banyak menurunkan tulisan tentang Morange, aplikasi Push Email bagi ponsel Nokia, atau mereka yang belum mampu menjamah mahalnya ponsel BlackBerry jaman itu.
– Tahun 2009 akhir hingga 2010 awal, mewujudkan Reuni SMA setelah berpisah 15 tahun lamanya. Banyak kisah duka maupun suka didalamnya.
– Tahun 2010 awal bersamaan dengan Reuni SMA diatas, saya mendapat kehormatan bergabung dalam Tim melahirkan LPSE Badung bersama rekan-rekan di Bagian Pembangunan.
– Tahun 2010 pertengahan, gabung dengan Semeton Pande membentuk Yowana dan segala pernak pernik kegiatan sosialnya. Menemukan saudara dan jalan hidup yang sebenarnya.
– Tahun 2010 akhir, mengenal akun FourSquare dan gila-gilaan mengejar Badges bareng Pande Putra, adik sepupu yang mahir soal satu ini.
– Diwaktu yang sama, saya pun akhirnya mengenal Android dari seorang senior di LPSE yang membawa banyak perubahan serta mindset dalam bekerja dan beraktifitas hingga kini.

Selebihnya, FaceBook meneruskan semua kegilaan akan perangkat layar sentuh yang saya yakini bakalan menggilas keberadaan BlackBerry yang saat itu sedang Booming juga Nokia lewat seri N dan E.
Saking yakinnya, saya termasuk yang menolak untuk mengambil perangkat BlackBerry sebagai ponsel utama saat itu. Hehehe… padahal jujur saja, saat kemunculan pertama di baliho milik Indosat, saya termasuk mengidolakan seri jadul BlackBerry lantaran bentuknya yang unik, sementara kawan lain lagi booming ponsel Nokia.

FaceBook akhirnya mulai dirasa menjadi Bumerang. Penghalang banyak hal, dan ketagihan.
Saya alami pada pertengahan Tahun 2015 yang akhirnya diputuskan untuk menutup permanen akun FaceBook setelah mencoba sebelumnya selama 6 bulan pertama.
Semua aktifitas dan dunia seperti terputus begitu saja.

Berselang Dua Tahun, setelah semua aktifitas sudah dirasa menjadi lebih baik, disamping tingkat kunjungan halaman Blog yang semakin menurun, saya mencoba kembali lagi ke akun FaceBook.
Tidak sengaja mengaktifkannya kembali, kaget karena pihak FaceBook masih menyimpannya. Tidak menghapusnya secara permanen.

Maka berbekal pengalaman sewindu sebelumnya, juga pengetahuan tambahan yang saya dapatkan saat meninjau akun FaceBook beberapa kawan atas permintaan yang bersangkutan, saya mencoba untuk mawas diri sejak awal. Mengurangi fitur dan kemampuan yang ada dalam FaceBook masa kini, demi mengamankan kepala dan tetap mampu berbagi informasi laiknya dulu. Serta berharap, FaceBook tidak lagi memabukkan dan mengganggu.

Well, nyaris satu dasa warsa artinya saya mengenal dan bergabung di akun FaceBook ini.
Senang bisa kembali lagi, meski sempat antipati sebelumnya.