Upacara 3 Bulanan Gek Mutiara

Category : tentang Buah Hati

Senyum tipisnya masih tersungging manis setiap kali disapa saat ia berada di kereta dorong depan layar televisi. Sudah jauh lebih tenang jika dibandingkan dengan lusa kemarin. Mungkin karena ia yakin bahwa upacara kali ini bisa berjalan dengan baik. Namun tidak dengan kedua orangtuanya.

Dari paket 175 orang yang kami undang dalam daftar pendek nama saudara yang harus dihubungi satu minggu terakhir, bisa dikatakan yang hadir itu bertambah sekitar empat puluh persennya. Padahal yang diundang itu hanya sebatas saudara Misanan, sepupu tingkat pertama. Hal ini sempat membuat saya ketar ketir dengan katering yang kami pesan, meskipun informasi sepihak, biasanya ditambahkan lagi sekitar 25 porsi dari jumlah pesanan.
Akan tetapi kekhawatiran itu hilang saat mengetahui masih terdapat sisa makanan di akhir acara, masih cukup untuk dibagikan pada famili terdekat.

3 bulanan Mutiara panDe

Upacara 3 bulanan atau yang dikenal dengan istilah Nyambutin ini jatuh pada hari Minggu, 31 Mei kemarin. Hari yang sudah lama kami nantikan mengingat history Mutiara yang dilalui semenjak ia lahir cukup berat dirasa. Jadi senang sekali ketika itu semua terlewati.

Pande Nyoman Mutiara AnnikaDewi, putri ketiga kami. Benar benar berharap bahwa kesehatan dan kepulihannya akan membawa kegembiraan di tengah keluarga bahagia ini.

Gek Ara sejauh ini

Category : tentang Buah Hati

Hari sudah menjelang malam, namun bola mata si kecil ini masih tampak bersemangat. Seakan minta diijinkan bermain. Padahal ibunya sudah mulai tampak letih menjaganya sejak pagi. Kamipun bergiliran menggendongnya agar ia tak rewel dan menangis keras.

Usianya baru dua bulan kalender. dan Perkiraan akhir Mei nanti, akan menginjak tiga bulan Bali. Namun bersyukur, pipinya sudah tampak mulai berisi.

Diujung bibirnya, senyum manis mulai nampak. Biasanya saat kami mengajaknya berbicara. Iapun mulai mengeluarkan suara Aw Aw Aw demi menandakan respon pembicaraan yang disampaikan. Satu perkembangan yang luar biasa.

Mutiara 6

Satu persatu dokumentasi foto dan videonya dari ia dilahirkan, kami pindahkan semalam. Dari memori ponsel ke laptop. Rencananya akan diburning dalam bentuk dvd, baru dihapus. Mungkin beberapa diantaranya akan kami cetak dalam bentuk foto bujursangkar sebagaimana biasa.
Ini dilakukan karena sang Ibu masih merasa shock saat tak sengaja Intan, putri kedua kami, memutar kembali semuanya. Suara alat dan nafas adik masih terdengar jelas. Seakan kami masih mengalaminya.
Sepertinya sudah saatnya ia tersenyum dalam gambar.

Pukul dua belas tengah malam dan tiga dini hari, alarm ponsel berbunyi tanda Ibu berupaya menyusui si anak di tengah rasa lelah yang mendera. Usai itu, obat akan kami berikan untuk meredakan Kolestasis yang masih ia derita hingga kini.
Rencananya kamis pagi ini akan kami periksakan kembali ke RS Sanglah untuk mengetahui perkembangannya.

Yang kuat ya Cantik…

MiRah dan Sepeda Barunya

Category : tentang Buah Hati

Dibandingkan saudara sebayanya, Mirah putri pertama kami tergolong lambat untuk bisa belajar naik sepeda roda dua lantaran di usianya yang menginjak 7 tahun, ia belum jua mampu melakukannya.

Namun jika dibandingkan dengan sang Bapak, kelihatannya Mirah akan jauh lebih maju dan berhasil mengingat si Bapak baru bisa mengayuh sepeda roda dua saat ia duduk di bangku SD kelas 5. Tepatnya saat jalan Gatot Subroto Timur mulai dibangun, karena disitulah saya belajar bersama sepupu saat menginap dirumahnya yang berdekatan jalan tersebut.

Bukan pada Hari Ulang Tahunnya, sepeda baru itu kami belikan. Tapi justru pada hari ulang tahun Bapaknyalah baru terkabul ide tersebut lantaran baru teringat dalam pikiran. Maka sebuah sepeda lipat dengan tulisan Pasific di kelir pink sekujur badan sepeda, kini mulai ia pelajari dari ujung rumah ke ujung halaman.

MiRah dan Sepeda Baru 3

Hanya berselang tiga hari, iapun mulai mampu mengayuh pedal sepedanya meski dengan formasi kaki yang terlipat jauh keatas, sedikit menyulitkan menurut pandangan saya. Namun begitu tampaknya Mirah jadi makin mahir saat diajak mengujicobakannya di areal parkir timur lapangan Puputan Badung, maka tidak heran jika ia kini begitu bangga dan tidak meringis lagi saat satu persatu luka goresan menghampiri kakinya yang panjang.

Gek Ara Pulang

Category : tentang Buah Hati, tentang iLMu tamBahan

“Mungkin memang adik Komang berniat buat nyari momen Bapak menyumbangkan darah untuknya…”
Celetuk seorang kawan begitu saya sampaikan padanya bahwa hari ini, putri ketiga saya Gek Mutiara diperbolehkan pulang oleh dokter Anak yang merawatnya.
Dengan syarat, kami bisa merawatnya dengan telaten di rumah…

Maka jam kantor pada hari Senin pagi inipun jadi terasa jauh lebih singkat dari yang seharusnya. Maklum, sekitar pukul 11an saya pamit pada semua kawan di ruangan Permukiman Dinas Cipta Karya untuk meluncur ke Rumah Sakit Sanglah guna memastikan kebenaran kabar itu sekaligus mengurus semuanya.

Sekantong Darah untuk Gek Ara

Sebenarnya saya sudah mempersiapkan diri untuk memberikan darah ini kepada si cantik Mutiara pada hari jumat lalu, namun informasinya PMI telah menyediakan darah untuk transfusi bagi putri kami yang dinyatakan mengalami penurunan HB dan Trombosit.
Dari jumlah standar yang ditentukan antara 10-13, Gek Ara menghasilkan angka 7,2. Ini menurun lagi dibanding hasil test darah yang sebelumnya. Begitupun Trombosit menurun dari 151 menjadi 137.

Namun bersyukur bahwa Gek-nya hanya membutuhkan satu kantong darah lagi untuk menjaga kemungkinan transfusi tambahan apabila stok darah O yang dimiliki PMI kosong saat diperlukan. Artinya ya cukup hanya darah Bapaknya saja yang diambil untuk putri kecil ini.
Padahal ada beberapa saudara juga kawan yang menyatakan kesiapannya untuk memberikan darah mereka jika dibutuhkan.
Jadi Terima Kasih untuk kalian yang sudah mengontak saya sebelumnya.

Pulang 3

Sehari setelah Nyepi, tepatnya saat maturan, saya dikontak untuk menyiapkan darah yang dimaksud. Maka setelah menyelesaikan semua urusan hari tersebut, sayapun menjalani pemberian darah untuk yang ke-45 kalinya, dimana kali ini sebagai donor pengganti. Bukan Sukarela sebagaimana biasanya.
Itupun ternyata, setelah dihitung masa pasca donor darah sebelumnya, hanya berselang 72 hari saja dari standar 75 hari yang ditetapkan. Namun karena ini untuk kepentingan anak sendiri dan kondisi fisik saya siap, maka dengan memohon kepada petugas ruangan, darahpun jadi diambil saat itu.

BPJS Menanggung Semuanya

Kaget.
Kaget tentu saja.
Saat melakukan konfirmasi pembayaran Rawat Inap di Kasir BPJS, Asuransi yang kami gunakan untuk merawat Gek Ara selama dua setengah minggu di RS Sanglah, rupanya ditanggung Full oleh BPJS. Padahal total biaya yang dikeluarkan selama proses tersebut cukup banyak, kisaran 21jutaan.
Seperlima biaya yang kami habiskan dalam waktu yang sama saat adik dirawat di Puri Bunda sejak kelahirannya tempo hari.

Pulang 01

Ealah… tahu begitu, mungkin sejak awal malah lebih baik menggunakan BPJS di RS Sanglah saja ya ? Bathin saya saat berjalan balik ke sal Cempaka dimana Gek Ara dirawat semingguan terakhir.
Tapi yah… ini semua ada hikmahnya juga kok. Diambil positifnya saja.

Lega

Sesampainya Gek Ara di rumah, saya segera mengabarkan beberapa Kawan dan Saudara yang intens menanyakan kabar putri ketiga kami ini, bahkan satu dua diantaranya sempat pula memberi Advis, mengingatkan saya pada hal-hal yang selama ini luput dari kemampuan saya dalam menyadari situasi dan kondisi semacam ini.
Maka sudah sewajarnyalah saya mengucapkan banyak Terima Kasih untuk mereka, dan juga kalian yang telah mampir di blog ini lalu berkomunikasi dan menyapa lewat akun Whatsapp maupun sms, berkeinginan untuk menengok tapi selalu saya larang mengingat ketiadaan tempat untuk menerima kehadiran kalian. Tapi apa yang tersampaikan, sudah cukup memberikan semangat dan harapan untuk tetap berusaha meskipun lelah dan nyaris putusnya asa di tengah perjuangan ini.

Menyitir kalimat #ngehek yang pernah saya baca, ‘jika kamu tak merasakan capek, maka kamu tidak sedang berjuang untuk mendapatkan hasil tersebut…’

Jadi bisa dikatakan, malam ini bolehkan jika kami sudah bisa menarik nafas lega. Meskipun bukan tidak mungkin, pola tidur si adik Gek Mutiara ini kelak akan mirip dengan kedua kakaknya yang pula menguras tenaga juga pikiran utamanya saat malam hari dimana belasan tubuh lainnya sedang beristirahat dengan nyamannya. Akan tetapi, dengan kehadirannya di rumah ini, saya jauh lebih yakin bahwa semua rasa capek itu takkan sebesar saat kami masih menjalaninya di rumah sakit manapun.

Pulang 08

Sekali lagi, Terima Kasih. Matur Suksema semuanya untuk Dukungan dan Do’a selama satu bulan ini. Semoga kelak, Gek Mutiara putri ketiga kami bisa membalas semua amal baik kalian dengan cara yang ia yakini nanti.

Sekian dulu laporan dari kamar tidur yang bisa disampaikan sembari menunggu waktu pemberian obat dan mimiknya Gek Ara. Denpasar, Nangka 31, 10.01 PM.

Selamat Pagi Mutiara AnnikaDewi Cantikku

Category : tentang Buah Hati

Cepat Sembuh Nak…

Bapak Kangen peyuk peyuk nak Cantik…

Ara 02

Jangan lama-lama nginep di sal Cempaka, kasihani Ibumu sayang…