Menunggui Mirah Pulang Sekolah

Category : tentang Buah Hati

Suasananya ramai. Anak-anak lalu lalang berlarian kesana kemari tanpa arah yang jelas. Dari yang berbaju batik sampai endek biru campur aduk jadi satu. Tapi wajah Mirah, putri pertama kami tak tampak disitu.

Waktu yang berjalan sebetulnya belum menunjukkan jam pulang, jadi sepertinya masih sempat menyeruput segelas kopi di kantin belakang sekolah. Wajah Mirah tak jua kujumpai dibeberapa meja makan yang ada didepan kantin.

Empat gadis cilik yang kutanyai rupanya teman sekelas Mirah. Dan dari merekalah aku mengetahui jika ia masih berada di lantai atas, di dalam kelas. Ya sudah, kuhabiskan saja kopiku dulu.

Mata pun menerawang jauh ke arah barat. Lorong yang dahulu menghubungkan area SD 1-2 Saraswati dengan SLUB kini sudah jauh lebih terang benderang warnanya. Gerbang barat pun kini tampak lebih dekat dari perkiraan. Gedung yang ada di kiri kanannya pun sudah berganti rupa. Yang dahulunya merupakan bangunan bertingkat kini hanya berlantai satu dan sebaliknya. Lumayan bikin pangling bagi mereka yang merupakan alumnus sini.

Halaman bermain disebelah pelinggih yang dahulu sering kami tongkrongi, kini sudah dipagari. Semua berpindah ke halaman utama yang kini telah diperkeras tanpa pohon. Beralih fungsi menjadi lapangan upacara bendera, area olahraga dan aktifitas kurikuler. Jadi lebih lapang tentu saja.

Toilet bau dan kotor yang dahulu menjadi cerita seram dan berhantu bagi siapapun di masa lampau, kini sudah berubah menjadi sebuah perpustakaan milik yayasan. Rasanya sih sudah gag ada lagi sisi seramnya, apalagi disebelahnya terdapat kantin milik tetangga, SD 2 Saraswati plus usaha fotocopy.

Ruang kesenian yang dahulu ada di belakang kelaspun kini telah berpindah ke sisi paling timur, tepatnya di sebelah area pelinggih. Suara gambelan pun bertalu berpadu dengan riuh teriakan anak-anak yang mulai tampak berbaris rapi di lantai bawah.

Mirah menjadi Sekretaris Kelas, kata Ibu Murni, wali kelasnya. Mih, bisa apa ya si Mirah nanti mengingat jenjang yang baru menginjak kelas 1 SD ? Karakter yang kalem, tambah si Ibu Guru. Wah… apa gag salah tuh ? Hehehe…

Aku melangkah ke lantai bawah, menuju tempat lowong di pinggiran lantai lalu mulai menulis. Waktu menunggu begini memang paling enak untuk menuangkan ide.
Yah… sebagaimana yang kalian baca sedari tadi.


Ternyata sudah punya Anak SD

Category : tentang Buah Hati

Pande Putu Mirah Gayatridewi… panggilannya Gek Mirah. Lahir 18 Maret 2008 sehingga kini umurnya sekitar 6 tahun… Anaknya rame di rumah, sepi di sekolah. Suka marah-marah dengan nada bicara keras kalo sudah gag sesuai keinginannya. Tapi langsung berubah lembut pas ada maunya. Anak-anak emang gitu kali ya ?

Pagi ini Gek Mirah saya antarkan ke (bakal) sekolahnya, SD 1 Saraswati untuk pembagian kelas dan pengenalan lingkungan bersama teman. Ia tampak tabah di dalam kelas dan terlihat sekali menikmatinya. Meski masih malu-malu.

SD 1 Saraswati menjadi pilihan terakhirnya, setelah yakin bahwa si Bapak merupakan alumni sekolah ini di tahun 1990 dahulu. Masa jadul. Masa dimana sekolah ini masih terdiri dari 6 (enam) kelas memanjang satu lantai, dan toilet bau dan jorok di pojok barat daya, dengan jalur menuju kantin SLUB disebelah kanannya.

Awalnya Gek Mirah meminta disekolahkan di SD 2 Saraswati. Sekolah yang lokasinya tepat berhadapan dengan sekolahnya kini. Ia meminta lantaran sebagian besar teman TK nya di Lokasari berada di situ. Tapi entah mengapa pilihan itu berubah saat kami mengantarkannya untuk melakukan pendaftaran. Mungkin sudah jodohnya atau bisa jadi ingin ikut Bapaknya :p

Mendapatkan nomor urut 17, Gek Mirah menempati kelas 1 B yang berada di gedung Utara lantai 2 bersama 32 kawan lainnya. Terdapat 15 kawan perempuan didalamnya, satu jumlah yang cukup seimbang dengan kawan laki-laki yang ada. Bandingkan dengan jaman saya dulu dimana kawan perempuan masih terbatas jumlahnya.

Pola pembelajaran anak SD saat ini saya lihat mirip dengan pola Diklat PIM IV yang baru minggu lalu dilalui. Menggunakan penataan meja bundar ala ILC yang kalau tidak salah, soal tempat duduk pun bakalan di rolling secara periodik. Jadi gag ada istilah duduk di depan/belakang sepanjang tahun ajaran. Tujuannya jelas, untuk lebih mengenal kawan secara keseluruhan dan menciptakan kekompakan selama masa belajar, disamping mengedepankan suasana diskusi dalam belajar.

Wih… ternyata sudah punya anak SD yah… gag nyangka. Padahal masih kebayang-bayang dengan suasana pacaran, pernikahan dan kelahirannya. Eh, kini ia sudah duduk di bangku coklat.

Gek Mirah… Gek Mirah… belajar yang benar ya nak. Selama kamu menikmati sekolahmu, kami akan selalu mendukung. Kalopun nanti sudah mulai membosankan, berarti saatnya Liburan. Jadi jangan khawatir…

Yuk ah… Bapak mau kenalan dulu dengan orang tua kawanmu lainnya…


Dua Sisi

Category : tentang Buah Hati

Kadang satu ketika usai memarahi Mirah, putri pertama kami lantaran perilakunya yang sudah mulai sulit kami atur, ada rasa sedih dan bersalah jika kemudian mengingat usianya yang baru saja menginjak 6 tahun. Namun jika tidak diingatkan dengan cara keras sesekali, rasanya kok makin menjadi ?

Mirah dan Intan

Satu sisi harapannya sederhana. Mirah bisa mengajak adiknya dengan baik namun memang wajar kalo satu waktu ia punya rasa bosan dan memilih untuk menjauh. Demikian halnya si adik, Intan yang rupanya memang tak kalah nakalnya. Jika dua kekuatan ini sudah bergabung, rumah bakalan serasa gedung cineplex yang siap menggemparkan suasana.

Sisi satunya didikan yang disiplin rasanya memang perlu ditanamkan sejak kecil. Memang sejauh ini disiplin belum saya terapkan dalam hal sekolah dan belajar, walau terpantau Mirah selalu rajin mengerjakan pe er dari guru TK nya atau bimbingan kami, tapi dalam hal tenggang rasa dan toleransi rasanya perlu diberi sedari ia memiliki adik.

Susah ternyata untuk bisa mendidik anak dengan baik. Ini baru satu… belum kelak Intan… fiuh…