SeLesai sudah… Upacara pengabenan PanDe KeTut NaDHi

5

Category : Cinta

Pande Ketut Nadhi
kami memanggilnya Pekak (kakek) Titih.
Telah meninggalkan kami, tanggal 3 Februari 2009 pukul 03.30 dini hari di ruang ICU Rumah Sakit Wangaya Denpasar, dengan meninggalkan seorang Istri, tujuh (dari sembilan) orang anak, sembilan belas (dari dua puluh) orang cucu dan dua puluh orang cicit.
> PanDe Baik merupakan cucu nomor sepuluh dari anak kedua Beliau, apabila diurutkan berdasarkan tanggal kelahiran <
> Mirah Gayatridewi, putri kami merupakan cicit paling bungsu yang lahir pada tanggal 18 Maret 2008 lalu <

untuk menghormati BeLiau disaat terakhirnya, saya lampirkan beberapa foto Beliau yang sempat saya ambil gambarnya dengan kamera digital Konica Minolta X31 3,2 MP dan juga Nokia CDMA 6275i 2,0 MP. Sebagai berikut :

29 Januari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dirawat di paviliun Praja Rumah Sakit Wangaya Denpasar, kamar 108

3 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dinyatakan meninggal pukul 03.30 dini hari di ruang ICU, dan dibawa kerumah duka di Jalan Sumatra gg.III no.3 Denpasar untuk dimandikan oleh keluarga

5 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dimandikan kembali oleh krama banjar Titih beserta seluruh kerabat dan keluarga besar. Upacara ini dinamakan ngeRingkes

9 Februari 2009, kami melaksanakan upacara mejauman untuk Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi. Upacara ini dikenal dengan ngaJum.

10 Februari 2009, upacara pengabenan Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, ke setra Badung di jalan Imam Bonjol. Diantar bersama-sama dengan pengabenan almarhum (pemilik Hotel Suranadhi) rekan sesama Kelihan pada periode yang sama, yang juga meninggal pada tanggal yang sama

10 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, nganyut ke Segara pada pukul 18.30 sore

10 Februari 2009, upacara ngeLanus / meMukur Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, pukul 21.00 malam, yang dilanjutkan dengan nganyut ke Segara pada pukul 01.30 dini hari 11 Februari 2009

10 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, merupakan salah satu anggota LeGiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) untuk wilayah Kota Denpasar. Untuk itu pula, peti jenazah BeLiau diselimuti oleh bendera merah putih, dikawal oleh bendera merah putih pula pada saat pengantaran jenazah ke Setra Badung, dan mendapatkan penghormatan terakhir dari rekan-rekan BeLiau. Sebelum diberangkatkan dari rumah duka (penyerahan jenazah dari keluarga kepada LVRI) dan sebelum dibakar (penyerahan jenazah kembali dari LVRI kepada pihak keluarga).

Mei 1937, foto kenangan Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, di Banjar Tainsiat. Tempat asal BeLiau sebelum akhirnya menikah / nyentana ke Titih. Sebuah foto yang menjadi pe-er bagi PanDe Baik, agar dapat dicetak dalam ukuran besar sebelum BeLiau meninggal. Syukurlah tugas ini bisa tercapai dengan baik pada tanggal 23 Oktober 2008 lalu, saya selesaikan tepat pada saat ulang tahun Ibu (anak kedua BeLiau) yang ke-60.

Semoga saja kami yang ditinggalkan, dapat melanjutkan perjuangan BeLiau sesuai kemampuan bidang kami masing-masing.

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

KiLas BaLik PanDe Baik di Tahun 2008 : tentang KeLuarGa

3

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Menjadi seorang Rekan Kerja sekaligus Suami yang Baik bagi IsTri terCinta, saya yakin menjadi dambaan bagi setiap laki-laki ‘waras’ dalam memasuki tahap pernikahan, sebuah ikatan bagi dua kepala dengan dua ego yang sama sekali berbeda.

Untuk bisa mengetahui kadar seberapa berhasilnya saya mewujudkan hal tersebut, sepertinya gak bisa saya katakan, karena IsTri lah yang jauh lebih tahu dan berwenang untuk menjawab itu semua.

Begitu pula untuk menjadi seorang Rekan Kerja bagi lingkungan kerja saya, tentu saja mereka yang lebih berhak memberikan nilai atas sikap dan kinerja saya selama ini.

MeLanjutkan posting saya sebelumnya, tentang KiLas BaLik yang saya alami dan jalani di sepanjang Tahun 2008, kali ini saya ingin mengungkapkan kisah kedua, tentang betapa mengesankannya KeLuarga yang saya miliki saat ini.

Ohya, sebelum saya melanjutkan, ada satu lagi kejutan sekaligus harapan yang saya dapatkan di awal Tahun 2008 ini. Menjadi Bapak yang Baik bagi putri kecil saya, MiRah GayatriDewi.

Ya. Kami akhirnya dikaruniai seorang putri kecil nan lucu, yang bagi saya pribadi ia bagaikan seorang malaikat datang disaat kami (saya dan IsTri) dilanda keraguan dan keputusasaan harapan memiliki buah hati, buah Cinta kami. Bagaimana tidak ?

Dua tahun lalu, saya sempat dinyatakan mengidap Varikokel oleh dokter Wimpie Pangkahila, yang selama lima bulan memberikan advis juga obat-obatan penyubur, dengan total biayanya yang menguras habis isi tabungan saya. Bahkan di bulan terakhir saya mengikuti advisnya, untuk biaya obat saja, saya harus meminjam uang pada Mertua yang waktu itu secara kebetulan menawarkannya.

Tak puas dengan perjuangan saya di dokter Wimpie, saya beralih ke dokter Nono, yang merupakan rekomendasi dari dokter kandungan Wardiana di Apotek Agung Jalan Sudirman. Hasilnya sama. Malah jauh lebih parah. Saya divonis tak akan bisa memiliki keturunan, kecuali harus menjalani Operasi Bedah pada pembuluh darah putih guna menyembuhkan Varikokel tersebut.

Sialnya, sang dokter hanya memberikan kemungkinan 50-50 untuk keberhasilannya. Karena jikapun itu gagal, saya harus menjalani satu operasi lagi yang saya tak peduli lagi apa istilah medisnya. Ya, saya akhirnya memutuskan untuk ber-Pasrah diri pada-NYA.

Bersyukur, atas tuntunan dari seorang yang amat sangat kami segani, nak lingsir Sri Empu di Griya Pande Pohmanis, memberikan jalan untuk memohon pada-NYA sambil berusaha mencari tahu solusinya. Ya, kamipun diminta menjalani upacara pernikahan sekali lagi, atas dasar hari baik dari pertemuan hari kelahiran kami (saya dan IsTri).

Tak lama kami menunggu, karena begitu upacara pernikahan yang kedua kalinya dijalani, dua minggu kemudian, IsTripun positif hamil, yang cukup membuat shock dokter Wardiana dan menyatakan inilah yang namanya ’Mukjizat’ dari Tuhan.

Sembilan bulan lamanya kami menanti hadirnya si kecil dengan advis dan obat-obatan dari dokter Wardiana, membuat kami begitu bersyukur dengan kondisi yang ada. Kehamilan yang ditunggu, biaya advis dokter serta obat/vitamin yang terjangkau, juga hangatnya sambutan dokter Wardiana, tiap bulan kami datang untuk konsultasi maupun bersua di RS Sanglah, membuat kami menjadikan dokter Wardiana sebagai dokter kandungan terbaik. He…

Balik ke cerita putri kami MiRah Gayatridewi, akhirnya Selasa 18 Maret 2008, bayi mungil nan lucu inipun hadir ditengah kehidupan kami, dan memberikan rasa syukur yang paling indah dalam hari-hari kami berikutnya.

Ya, menjadi Bapak yang Baik bagi putri saya kelak agaknya menambah ”beban” saya diatas, agar mampu pula menjadi seorang Rekan Kerja sekaligus Suami yang Baik bagi IsTri. ”Beban” yang saya maksud tadi itu adalah satu harapan sekaligus pula menjadi satu tantangan bagi saya agar dapat mewujudkan keduanya dengan Baik pula.

Yah, memang saya sadari, sangat sulit untuk dilakukan. Karena untuk mewujudkannya, satu sama lain harus ada yang dikorbankan, termasuk pula menyangkut pekerjaan kantor plus konsentrasi saya pada perkuliahan yang saya jalani sedari dua tahun lalu. Bersamaan dengan pernikahan saya yang kedua tadi.

Selain itu, saya pun masih harus menjadi Anak yang Baik bagi kedua orang tua saya plus satu tanggungan Bibi. Paling tidak, selama mereka masih ada, saya bertanggung jawab pada kesehatan dan juga kebahagiaan mereka. Hal yang saya yakin sangat sulit diterima bagi mereka yang telah menikah. Apalagi bagi seorang IsTri yang ’ANTI’ pada Mertua.

Maka apapun itu resikonya, tetap saja harus saya jalani.

Sedikit keributan dalam rumah tangga itu hanyalah masalah biasa. Namanya juga menyatukan dua kepala dengan dua ego yang berbeda. Asal jangan ikut-ikutan trend para artis Indonesia yang ribut dikit, menganggap tidak ada kecocokan dalam rumah tangga, ya langsung berujung pada perceraian. Semoga saja tidak.

Begitupun sedikit pertentangan antara saya dengan orangtuapun, saya anggap biasa. Toh, dua tiga hari kemudian, saya yakin gak ada dendam lagi diantara kami.

KeLuarga memang yang paling utama bagi saya pribadi. Apalagi ditambah dengan kehadiran seorang putri kecil malaikat kami, MiRah GayatriDewi. Membuat suasana rumah bertambah hangat, ceria dan tentu saja ramai dengan celotehan dan tangis si kecil.

Ah, semoga saja ditahun depan, saya bisa jauh lebih Baik lagi.

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

> PanDe Baik mencoba menuliskan uneg-unegnya kembali perihal KiLas BaLik KeLuarga ini disela tugas dan kewajibannya menemani dan menjaga si kecil MiRah GayatriDewi hingga tertidur di Minggu pagi nan cerah ini….. <

Tahun KeTiga

6

Category : Cinta

Dear Cinta, gak banyak yang bisa aku ungkapkan hari ini. Berhubung kondisi kesehatanku yang kurang mendukung. Begitu pula kesibukan kita masing-masing yang gak memungkinkan terciptanya suasana mesra seperti yang pernah kita harapkan sebelumnya. Walau begitu, aku yakin kau kan tetap selalu setia menantikan waktu dimana kita bisa saling bicara, disela celoteh putri kita yang kian lucu dan menggemaskan.

Hari ini adalah spesial bagi kita berdua. Karena hari ini tiga tahun lalu, menurut agama yang kita anut, men-sah-kan hubungan yang telah dibina dengan penuh kasih. Karena hari ini tiga tahun lalu, kita akhirnya merasakan jua apa yang orang-orang nantikan dalam hidupnya. Bersatunya dua insan dalam ikatan cinta pernikahan.

Aku tahu tak banyak yang bisa aku berikan padamu tiga tahun ini. Tapi aku yakin bahwa kau akan selalu mengerti bahwa Cinta tak selamanya berupa Materi. Cinta itu ada karena kita inginkan. Cinta itu ada karena kita memang berharap banyak padanya. Cinta itu ada dalam diri Putri kita.

Dear Cinta, hari ini Tahun keTiga Pernikahan kita.

”Kita Begitu Berbeda dalam Semua, Kecuali Dalam Cinta”

> PanDe Baik mengutip kalimat terakhir dari GIE yang sempat tampil pula pada kartu undangan pernikahan kami tiga tahun lalu. Kali ini tanpa iringan lantunan musik, hanya rintik air hujan yang turun sambil menunggu Istri pulang kerja di sore hari yang mendung. Akhirnya membatalkan kuliah lantaran kondisi kesehatan yang tak kunjung membaik. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

Susahnya jadi SingLe Parent

4

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Setelah kelahiran putri kami Mirah Gayatridewi, sempat terpikirkan untuk mencarikan pengasuh saat kami tinggal kerja tiap harinya. Akan tetapi, orang yang pertama tak menyetujui pemikiran kami itu adalah Ibu. Beliau beralasan masih sehat dan kuat untuk menjaga dan merawat si kecil dirumah saat kami tak ada. Bila hari-hari biasa sih gak masalah, tapi yang dikhawatirkan pun satu saat akan tiba.

Selasa kemarin sesuai jadwal merupakan hari dimana upacara Pengabenan Nenek sebelah rumah, yang masih keluarga kami juga. Salah satu diantara kami berlima terpaksa mengorbankan kewajibannya untuk menjaga sikecil selama upacara Pengabenan dilaksanakan. Tentu saja itu aku. Karena Bapak Ibu dan Bibi sudah dipastikan harus hadir dalam upacara tersebut. Sedangkan Istri dengan terpaksa tak dapat tinggal dirumah demi mengurus/melengkapi syarat-syarat guna pengajuan SK CPNS yang baru saja diumumkan dan harus selesai per tanggal 9 nanti. So, jadi SingLe Parent nih ceritanya ?

Belajar dari pengalaman terakhir yaitu hari Senin kemaren, saat dirumah duka dilakukan upacara Mandusin dan Ngajum (Mejauman), kami berdua (aku dan Istri) setelah ijin permisi dari kantor, bertugas menjaga si kecil hingga malam tiba. Berhubung Istri melakukan kewajibannya membersihkan rumah (sore), mandi, mebanten dan lainnya, maka tugas untuk menjaga si kecilpun dilakukan sendirian saja. Syukur gak rewel.

Nah, kali ini aku bertugas dari pagi hingga Istri pulang dari mengurus kelengkapannya, sedangkan yang lain sudah berangkat kerumah duka.

Usai memberi maem pagi, si kecil langsung tertidur lelap dipelukan, apalagi ditemani oleh sayup-sayup instrumen Kecapi Degung dari MP3 Player yang memang disiapkan spesial untuk hari ini. Maka sambil nungguin si kecil bobo, masih bisa menyempatkan diri untuk makan pagi juga ngopi, sambil nge-Blogwalking tentu. He…

Lumayan lama si kecil tertidur, eh dia cek cing (-istilah kami untuk Pipis si kecil), dan membasahi semua pakaiannya. Lantaran sambil tiduran ia masih sempat guling-guling sebentar. Jadilah kerepotan mengganti baju atasnya dengan hati-hati agar ia tak sampai menangis.

Si kecil bangun dari tidurnya, kebetulan diluar lagi hujan. Maka untuk meredakan tangis si kecil, diajak nonton hujan yang kebetulan pula ini pertama kalinya ia melihat hujan. Lumayan bikin ia ketawa kecil sambil ngoceh.

Untuk mengisi perutnya, sambil ngasi mimik susu dalam botol dot yang baru selesai dibuat, gula batupun dilarutkan dalam air hangat untuk selingan si kecil nanti.

Eh si kecil sudah bersiap Pup rupanya. Dua hari ini ia memang blom sempat ngluarin pup-nya. Jadilah ini pengalaman pertama, menangani pup si kecil sendirian. Ugh susahnya. Syukur ia gak nangis saat dicebokin di aer dingin kamar mandi. Apalagi saat ngucek celananya yang terkena pup, sementara satu tangan megang si kecil. Seadanya aja dikucek-kucek….

Menemaninya bermain, guling-gulingan sambil memperhatikan ia belajar merayap mencapai pinggiran tempat tidur, ngoceh sambil sesekali merengek, membuat hati ini merasakan betapa beruntungnya kami sudah dikaruniai seorang putri yang sehat dan lucu.

Bersyukur banget sikecil gak serewel yang dikhawatirkan, dia mau aja dikelonin Bapaknya sambil ngliatin hujan turun, plus nyanyi lagu-lagu slow rock macam Firehouse, Eagles juga Bon Jovi. Sambil menunggu Ibunya pulang kantor.

Sejenak membayangkan betapa susahnya jadi SingLe Parent bagi sikecil seperti yang dilakoni banyak orang diluar sana. Apalagi kalo sambil bekerja…

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

6

Category : Cinta

Gak terasa hari ini Umat Hindu sudah merayakan hari raya kemenangan ‘Dharma’ melawan ‘Adharma’, dimana pada hari ini pula keluarga kami mendapatkan giliran untuk mempersiapkan segala keperluan upacara yang akan berlangsung sedari Sugihan Jawa kmaren hingga Kuningan nanti.

Kesibukan itu pula -disamping kondangan ke Klungkung hari minggu kmaren- menjadikan kami sekeluarga berbagi tugas agar jalannya upacara dimana puncaknya jatuh pada hari ini, bisa berjalan dengan lancar dan baik. Sehingga memaksa saya tak ikut serta berpartisipasi dalam rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Bali Blogger Community dalam rangka hari Kemerdekaan kemarin di RSJ Bangli. Mohon untuk dimaklumi.

selamat-galungan.jpg

Akhirnya, saya selaku penulis dan pemilik blog ini, beserta keluarga besar PANDE Tainsiat, mengucapkan pada semua rekan yang beragama Hindu, Selamat merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, mohon maaf jika selama ini ada tulisan dan kata-kata saya yang tampil dalam blog ini, ada salah dan tak berkenan dihati, serta semoga pula Ida Sang Hyang Widi Wasa selalu berkenan memberikan yang terbaik bagi kita semua.

Selamat merayakannya bersama segenap keluarga dan teman-teman yang dicintai.

Waktu Paling Menyenangkan bareng Istri

9

Category : Cinta

Pulang kerja, usai mandi sore dan apabila segala pekerjaan yang sudah menjadi pembagian tanggung jawab berdua bareng Istri telah selesai dikerjakan, apalagi kalo gak kuliah, wah wah wah… merupakan satu waktu yang paling menyenangkan dalam hidup. Bisa berkumpul bareng keluarga kecil, minimal paling sering ya Istri dan si kecil Mirah.

Sekedar tukar pikiran, keluh kesah ataupun senda gurau, bercerita kejadian seharian tadi atau waktu yang telah lewat, hanya untuk mengetahui aktivitas apa saja sudah yang dilakukan, barangkali saja ada yang bisa dibantu dan dipecahkan agar esok bisa terselesaikan dengan baik.

Topik yang paling sering sih gak jauh-jauh dari tingkah polah si kecil selama ditinggalkan atau yang gak dilihat, sampe perilaku orang-orang seisi rumah yang saling bertentangan satu sama lainnya. Cape deeehh…

bareng-istri.jpg

Tapi yang paling dinanti tiap minggunya mungkin hanya bermanja-manja bareng Istri, hal yang makin jarang kami lakukan sejak kehadiran putri kecil kami. Dari mencet jerawat, saling bersihin kotoran telinga sambil rebahan dan dipangku hingga yang paling ditakuti adalah pencarian komedo. Ugh, apalagi kalo sudah mencapai sudut antara hidung dan kulit wajah, sakitnya.

Walopun begitu, tak jarang pula ending daripada kemesraan ini adalah…

3 Bulanan Putu Mirah : Potret Reuni Keluarga

1

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Menyambung cerita 3 bulanan putri kami tanggal 1 Juli lalu, rupanya menjadi ajang reuni dan temu empat keluarga besar yang rupanya sudah saling mengenal baik melalui pentas politik hingga dunia kerja.

Ini bisa dimaklumi, lantaran baik dua keluarga dari pihak saya -bapak dan ibu- dan juga dua keluarga dari pihak Istri, rata-rata berkecimpung dalam pemerintahan -kerja kantoran-, termasuk pula Bapak saya yang sedari awal, merupakan penjahit langganan para pegawai pemerintahan di seantero Bali ini. Hohoho… yang tak kalah mengasyikkan ya pertemuan dua kubu politik yang dahulu berseberangan, kini bersatu dalam ikatan keluarga dan bersua bersenda gurau pada upacara keturunan mereka pula.

mirah-upacara-04.jpg

Keakraban yang terjadi selama upacara berlangsung, mungkin dapat ditangkap oleh putri kami, yang sedari awal upacara dimulai hingga selesai -bahkan hingga pamitnya sanak saudara- selalu menampakkan wajah yang riang gembira, seakan tahu bahwa kami berkumpul pada hari dimana ia menjadi ‘bintang’nya. Apalagi saat bersua dengan Kumpinya –Kompyang- (kakek nenek kami) dan terekam pula baik dalam bentuk foto dan video, jelas menampakkan wajah yang senang bukan kepalang.

mirah-upacara-05.jpg

Namun jika boleh diurutkan dari atas, yang paling gembira tentulah kami berdua. Yang ternyata masih didengar oleh-Nya, untuk bisa dikaruniai keturunan yang sehat dan terlahir normal seperti halnya kami, setelah menunggu dan mengalami masa-masa dirasani –digosipkan- oleh orang-orang disekitar kami. Kini sudah bisa memberikan upacara tiga bulanan pada putri –malaikat kecil kami- yang lucu, serta antusias disaksikan oleh segenap sanak saudara bahkan rekan kami, plus berbagai bantuan yang tak kami sangka sebelumnya. Sungguh, kami mensyukuri segala hal yang terjadi ini.

3 Bulanan Putu Mirah

1

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Usai juga rentetan upacara ‘Nelu Bulanin’ putri pertama kami, tanggal 1 Juli lalu, yang telah kami persiapkan sedari sebulan sebelumnya. Upacara yang sedianya dilangsungkan pada pukul 1 siang, rupanya harus dimulai 2 jam lebih awal, berhubung undangan dari keluarga Istri sudah nyampe rumah diikuti rombongan kantor subdin Bina Program BMAIR.

Upacara yang diramaikan dan dihadiri oleh hampir seluruh keluarga dan teman yang diundang (absen hanya 3 undangan saja), berlangsung lancar tanpa hambatan, walaupun sempat was-was dengan cuaca yang tak bersahabat sejak pagi, hingga Istripun memutuskan untuk mesesangi di Penunggun Karang dan saya sendiri di Prapen, memohon sinar-Nya untuk upacara putri kami ini. Syukurlah, apa yang kami harapkan bisa terwujudkan hingga akhir acara yang menurunkan hujan gerimis malam harinya.

mirah-upacara-01.jpg

Yang patut disyukuri lagi, adalah bantuan dari sanak saudara yang diberikan sebelum upacara berlangsung (tercatat pada kami) maupun yang datangnya hari itu (tentunya luput dari perhatian, siapa yang membawa tadi). Dari lauk untuk hidangan (terutama sate yang jumlahnya hingga 800 tusuk) dan juga ayam serta lawar tentunya. Sampai ke cemilan jajan, yang jumlahnya mencapai angka seribu biji. Membuat di akhir acara, kami membagikannya kembali untuk saudara-saudara yang membantu sedari upacara dipersiapkan hingga selesai. Belum lagi sesangi babi guling yang juga ditambahkan satu lagi oleh kakeknya yang mendapat rejeki menjelang upacara putri kami. Itu semua tergolong ‘wah’ bagi kami, yang tadinya mengharapkan upacara kecil dan sederhana, agar nantinya putri kami tak merasa terbebani pada semua itu.

Upacara yang didukung penuh pula oleh mertua kami hingga sore, sembari menunggu saudara dari pihak Istri yang datang usai upacara, bahkan memberikan banyak bantuan dari beras dan telor hasil di kampung Canggu, dan juga air mineral yang hingga akhir acara masih bertumpuk dengan bantuan yang datang dari saudara terdekat. Sungguh, putri kami membawa rejekinya sendiri rupanya.

mirah-upacara-02.jpg

Tak cukup hanya itu, yang paling membuat haru tentunya perhatian dari atasan instansi tempat kami bekerja, yang langsung menitipkan bantuan tunai lewat seorang rekan kantor, walaupun Beliau tidak kami undang-beri tahu- berhubung lingkup acara yang kecil dan sederhana, cukuplah mengundang seorang Kepala Dinas -atasan tertinggi pada instansi- saat kami menikah tempo hari. Disamping khawatir mengganggu kesibukan Beliau ditengah pemberitaan temuan bpk dan juga trotoar rusak di media cetak.

Yang paling mengesankan bagi kami adalah antusiasme sanak saudara yang berkenan meluangkan waktunya untuk hadir menyaksikan upacara tiga bulanan putri kami ini, di hari kerja dengan sepenuh hati dan keikhlasannya membantu baik tenaga hingga perhatiannya, jauh lebih besar dari yang kami duga sebelumnya.

mirah-upacara-03.jpg

Akhirnya, lewat juga semua kecemasan yang kami rasakan sejak sebulan lalu, termasuk perihal biaya upacara yang nyatanya tak sebesar yang kami sediakan untuk itu. Sambil berharap, semoga saja tiga bulan lagi, kami bisa memenuhi upacara putri kami yaitu Otonan, tentu dengan persiapan finansial dan juga tenaga yang tak kalah banyaknya. Semoga saja putri kami tak menyia-nyiakan apa yang telah kami berikan untuknya sejak lahir, agar bisa menjadi jauh lebih baik dari kami, berguna bagi keluarga kecil ini, kakek neneknya dan tentu sanak saudara kami terlebih dahulu, sebelum ia berguna bagi orang lain. ya Tu Mirah ?

Pengkhianatan pada Istri, Haruskah ?

2

Category : Cinta

Jika kita mau bercermin pada media cetak, layar televisi hingga tetangga maupun sanak saudara, seringkali terdengar oleh telinga perihal perselingkuhan si anu dengan si anu, padahal kedua belah pihak sudah memiliki pendamping hidup yang diputuskan saat menikah dahulu dihadapan puluhan orang sebagai saksi.

Alasan pertama yang paling sering terdengar adalah, ketidakmampuan sang pasangan untuk melayani si pelaku dalam hal adu syahwat yang kemudian dialihkan ke orang lain yang mau dan senasib. Ada juga yang menyatakan alasan, sebagai balas dendam lantaran si pasangan telah melakukannya lebih dahulu.

Berbicara dari sudut pandang seorang pria yang telah beristri, maka yang paling pertama terlontar sebelum nekat melakukan perselingkuhan hubungan dengan wanita lain adalah, mampukah kita mengkhianati Istri yang sekian lama telah mendampingi ?

Walaupun dengan alasan bahwa sang Istri sudah tak mampu lagi melayani syahwat suaminya mungkin lantaran capek bekerja, mengasuh anak hingga mengurus rumah tangga. Tegakah kita meninggalkan Istri yang setia mendampingi dari saat kita blom jadi apa-apa, hingga kini saat sudah memiliki segalanya malah enak-enakan dengan wanita lain ?

pgkhianatan.jpg

Pantaskan kita menelantarkan Istri yang sudah mengadu nyawanya untuk melahirkan putera puteri kita, demi sebuah kenikmatan sesaat dengan wanita simpanan yang siap menguras segala hal yang kita miliki dan capai selama ini ?

1+1=3

2

Category : Cinta, tentang Buah Hati

1121.jpg

Renungan tentang Cinta – 4

5

Category : Cinta

Saat jauh, Cinta Sejati mampu membuatmu tak enak makan namun tak pula merasakan lapar

Saat dekat, Cinta Sejati mampu membuat dirimu duduk diam disisinya tanpa harus melampiaskan hasrat

Saat jauh, Cinta Sejati mampu menjatuhkan air matamu tanpa diawali satu pertengkaranpun

Saat dekat, Cinta Sejati mampu mengubah waktu menjadi begitu singkat

Saat jauh, Cinta Sejati mampu menjaga kesetiaanmu sekalipun gadis lainnya begitu mempesona untuk didekati

Saat dekat, Cinta Sejati mampu hilangkan dahaga tanpa harus dirasakan

Cinta Sejati itu…

mampu menghilanglah semua perbedaan yang ada diantara diri dan menjadikannya Satu Rasa.

Apabila Cinta Sejati itu telah menghampirimu,

menikahlah…