Kehilanganmu

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Menjalani hari-hari dalam kesendirian sebenarnya bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi jika kita mulai terbiasa dengan tawa canda riang dan kehangatan keluarga kecil. Padahal kelihatannya semua berjalan seperti biasa, namun ada satu emosi yang kerkadang siap diledakkan sewaktu-waktu. Hal yang sangat berbahaya menurutku.

Ketika kata-kata itu sudah tak lagi bisa diterima oleh telinga, ketika pikiran sudah ditutupi oleh kabut kelam dan ketika seluruh urat nadi sudah mulai menegang, ketika itu pula satu hal kecil dapat memantik kobaran api sedemikian besar. Membakar rumah dan isinya lantas menghilang tanpa kata.

Kehilanganmu seperti membunuh diriku. Terdiam dalam bisu tanpa kata dan tawa. Pikiranku hanya bisa menerawang tak jelas… dan tiba-tiba saja aku ingin berlari.

Suara kecil itu bertanya padaku, hanya jawab yang tak menentu bisa kukatakan. Kasihan dirimu Nak…

Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan Bapakmu ini.

Terdiam bersamamu

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Tangis kecil itu meraung saat ia berada dalam dekapan ibunya, entah apa yang terjadi. Aku datangi dengan sejuta tanya yang ada hanyalah dua tangan kecil yang berusaha meraihku. Ada apa Nak ?

Suara lain terdengar jauh lebih keras, kali ini dengan nada bentak, aku jadi semakin bertanya.

Tangis kecil mulai mereda, yang ada hanyalah sesegukan dan rasa takut setiap kali ia memandangmu. Kuputuskan untuk menjauh dan mulai bercanda. Tapi bentakan itu tak jua mereda.

Satu hal kecil yang memantik kobaran api begitu besar… dan tinggalkan aku terdiam bersamamu disudut jalan hanya bisa memandang lalu lalang orang tak menentu…

Selamat merayakan Hari Kasih Sayang

23

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit Sanglah menuju sal Jempiring, menengok keponakan yang kabarnya selama empat hari terakhir dirawat akibat gangguan pernafasan, mengingatkanku pada saat mendampingi MiRah GayatriDewi pertengahan tahun 2008 lalu. Wajah-wajah yang menyiratkan kegetiran hidup harus mereka lalui selama berhari-hari disini, sementara banyak orang diluar sana begitu gempita mempersiapkan diri untuk menyambut satu hari yang sangat spesial hadir dibulan ini.

Hari Kasih Sayang atau Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari bisa dikatakan merupakan satu hari yang paling ditunggu, entah oleh pasangan remaja yang sedang dilanda asmara ataupun pasangan yang kini sudah berumahtangga tetap berusaha mengingat dan berharap melewatkannya bersama orang-orang yang mereka cintai. Seperti biasanya BBC atau Bali BLogger Community, komunitas blogger yang ada di pulau Bali inipun tak lupa berancang-ancang menyusun rencana untuk dapat memaknai lebih jauh Hari Kasih Sayang ini.

Menyaksikan wajah-wajah mungil dan lugu dalam gendongan Bapak Ibunya atau hanya bisa terdiam memperhatikan tangan si kecil yang dibalut perban untuk memegang jarum suntik infus membuatku makin terharu dan teringat pada penderitaan MiRah beberapa waktu lalu. Tangisan mereka membuatku makin tersadar bahwa aku harus melakukan sesuatu yang berguna hari ini. Tapi apa ?

Tak membutuhkan banyak uang untuk bisa membahagiakan orang lain. Tak membutuhkan banyak publikasi dan kamera untuk bisa berbuat sesuatu pada orang lain. Yang ada hanyalah tekad, seperti halnya jargon yang kerap didengungkan oleh BBC dalam setiap kesempatan bahwa ‘Berbagi Tak Pernah Rugi’.

Sekantong darah sepertinya akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. Apalagi disini, di sebuah Rumah Sakit dimana bisa saja salah satu dari wajah mungil tadi menjadi bagian dari mereka itu. Lagipula dengan kondisiku kini, tak ada salahnya untuk melakukan itu.

Untuk yang ke-29 kali, jarum itu disuntikkan ke lenganku. Melanjutkan sebuah harap dimana darah ini akan jauh lebih berguna bagi mereka. Melanjutkan sebuah awal yang kumulai sejak akhir masa SMA, kendatipun tidak secara rutin kulakukan. Melanjutkan sebuah makna yang ingin kuberikan pada MiRah GayatriDewi putriku kelak untuk sebuah kisah di Hari Kasih Sayang ini.

Selamat merayakan Hari Kasih Sayang Kawan…

I K R A R tentang Kau dan Aku

26

Category : Cinta

“…meniti hari.. meniti waktu…

Membelah langit.. belah samudra…

Ikhlaslah Sayang.. kukirim kembang…

Tunggu aku.. Tunggu aku…

Penantianmu.. Smangat Hidupku…

Kau Cintaku.. Kau Intanku…”

Gak terasa sudah menginjak tahun keempat, kami menjalani hidup untuk saling mengisi saling melengkapi. Banyak hal yang terjadi selama itu, namun bersyukur kami tetap bisa menjaga agar jalan yang dilalui tetap berada pada jalurnya.

Hidup berumah tangga itu ternyata susah.

Susah karena kami harus memilih untuk memprioritaskan satu dua kepentingan bersama diatas keinginan dan ego pribadi. Susah karena kerap kepentingan bersama itu tak enjoy kami lakukan, demi menjaga harkat dan martabat keluarga. Demi anak dan masa depan kami kelak.

Hidup berumah tangga itu ternyata gampang.

Gampang karena kami ternyata masih mampu untuk saling berbagi, tetap mengerti satu sama lain. Gampang karena masih banyak keluarga, family dan teman yang berkenan membantu ketika kesulitan satu persatu harus kami hadapi.

Sudah Empat tahun ya…

“…do’a kan lah sayang… harapkanlah manis…

Suamimu… Suami yang baik…”

(IKRAR – Iwan Fals / Album ‘Belum Ada Judul 1992)

untuk ALit Ayu Kusumadewi, untuk perkawinan kita yang ke-4…

I LOVE U…

…untuk ALIT AYU KUSUMADEWI… istriku.

8

Category : Cinta

Enam bulan lalu MiRah, putri kecil kami beruntung dapat merayakan ulang tahunnya yang pertama bersama keluarga ditengah kesibukan kami mempersiapkan piodalan yang jatuh setiap  hari raya Galungan. Kali ini giliran Ibunya sekaligus istri yang baik bagiku, mendapatkan keberuntungan merayakan ulang tahunnya pada hari raya yang sama.

Jadi, selamat Ulang Tahun Istriku. Semoga apa yang menjadi impian dan harapanmu selama ini dapat terwujudkan. Peluk cium via blog… Hehehe…

Berhubung MiRah GayatriDewi putri kami blom tau kapan ulang tahunnya, ia pun mengklaim hari ini adalah hari ulang tahunnya. Demikian pula dengan kue ulang tahun yang telah disiapkan. Hehehe…

IBU dan MiRah

I LOVE YOU TWO…

Sebuah Cermin dari Anang Krisdayanti

14

Category : Cinta

Siapapun tak akan mengira cerita perceraian akhirnya menghinggapi sepasang insan yang terlihat begitu mesra dan serasi Anang dan Krisdayanti, demikian pula halnya saya.

Anang Krisdayanti, jujur saja menjadi sebuah inspirasi hubungan kami, saya dengan Istri sejak kami memutuskan untuk melanjutkan kehidupan bersama ke jenjang pernikahan, bahkan sebaris kata-kata yang teruntai dalam salah satu tembang Cinta mereka, kami cantumkan dalam kartu undangan pernikahan kami tahun 2005 lalu. Sungguh, saya pribadi tak menyangka bahwa hal yang saya perkirakan jauh hari sebelumnya terjadi juga.

Melihat perjalanan Anang Krisdayanti, saya jadi terngiang dengan cerita, impian dan harapan seorang adik perempuan masih sepupu saya, yang kini entah ada dimana. Bahwa setiap wanita pasti ingin selalu “dimengerti”. Bahwa mereka tetap ingin terlihat cantik dan sempurna. Bahwa didasar hatinya mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari kemampuan yang mereka miliki. Sehingga seorang laki-laki diwajibkan untuk mampu memberikan serta mengabulkan “pengertian” yang mereka dambakan, jika tidak, masih banyak laki-laki lain yang bisa melakukannya…

Hingga hari ini saya masih tercenung akan kata-katanya itu… khawatir bahwa perempuan yang saya pilih akan memiliki atau bermaksud dengan hal yang sama dengan pemikiran tersebut… apakah kelak saya mampu memenuhinya ? bagaimana jika tidak ?

Membaca perpisahan mereka memang sudah sejak lama saya menyadari itu. Apalagi Krisdayanti adalah seorang Diva papan atas di dunia entertaiment, namun siapakah yang berada dibalik ketenaran dan keindahan seorang Krisdayanti selama ini jika bukan Anang sebagai seorang suami yang begitu mencintai Istrinya ? Seseorang yang begitu bertalenta mengembangkan kemampuan Krisdayanti sedari bawah, dan kini setelah berada di atas, semua itu seakan terlupakan…

Anang KD

Come On siapa pula yang peduli dengan cerita lalu ? hasut seorang kawan saya saat menyaksikan pasangan ini di layar televisi. ‘Uang adalah segalanya, dengan Uang kita bisa membeli bahkan memiliki apa yang kita inginkan, dan itu tidak dimiliki oleh seorang Anang… Uang adalah Dewa yang mampu mengubah pikiran dan kesetiaan kita menjadi kesesatan… dan sekali lagi, Anang barangkali tidak pernah memiliki hal itu…’

Damn ! untuk saat ini kata-kata itu benar adanya, bahkan dijaman teknologi informasi sedang berkembang pesat, orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan gaya hidupnya, masih ingat dengan remaja Jepang yang rela menjual diri hanya demi sebuah ‘Tamagotchi’ atau remaja kita dalam kisah ‘Virgin’ ? Bisa jadi ini yang menjadi inti dari sebuah kisah Anang Krisdayanti dan patut kita jadikan cermin dalam kehidupan rumah tangga sendiri…

Sedemikian piciknya pemikiran akan sebuah ikatan pernikahan itu ?

SeLesai sudah… Upacara pengabenan PanDe KeTut NaDHi

5

Category : Cinta

Pande Ketut Nadhi
kami memanggilnya Pekak (kakek) Titih.
Telah meninggalkan kami, tanggal 3 Februari 2009 pukul 03.30 dini hari di ruang ICU Rumah Sakit Wangaya Denpasar, dengan meninggalkan seorang Istri, tujuh (dari sembilan) orang anak, sembilan belas (dari dua puluh) orang cucu dan dua puluh orang cicit.
> PanDe Baik merupakan cucu nomor sepuluh dari anak kedua Beliau, apabila diurutkan berdasarkan tanggal kelahiran <
> Mirah Gayatridewi, putri kami merupakan cicit paling bungsu yang lahir pada tanggal 18 Maret 2008 lalu <

untuk menghormati BeLiau disaat terakhirnya, saya lampirkan beberapa foto Beliau yang sempat saya ambil gambarnya dengan kamera digital Konica Minolta X31 3,2 MP dan juga Nokia CDMA 6275i 2,0 MP. Sebagai berikut :

29 Januari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dirawat di paviliun Praja Rumah Sakit Wangaya Denpasar, kamar 108

3 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dinyatakan meninggal pukul 03.30 dini hari di ruang ICU, dan dibawa kerumah duka di Jalan Sumatra gg.III no.3 Denpasar untuk dimandikan oleh keluarga

5 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dimandikan kembali oleh krama banjar Titih beserta seluruh kerabat dan keluarga besar. Upacara ini dinamakan ngeRingkes

9 Februari 2009, kami melaksanakan upacara mejauman untuk Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi. Upacara ini dikenal dengan ngaJum.

10 Februari 2009, upacara pengabenan Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, ke setra Badung di jalan Imam Bonjol. Diantar bersama-sama dengan pengabenan almarhum (pemilik Hotel Suranadhi) rekan sesama Kelihan pada periode yang sama, yang juga meninggal pada tanggal yang sama

10 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, nganyut ke Segara pada pukul 18.30 sore

10 Februari 2009, upacara ngeLanus / meMukur Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, pukul 21.00 malam, yang dilanjutkan dengan nganyut ke Segara pada pukul 01.30 dini hari 11 Februari 2009

10 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, merupakan salah satu anggota LeGiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) untuk wilayah Kota Denpasar. Untuk itu pula, peti jenazah BeLiau diselimuti oleh bendera merah putih, dikawal oleh bendera merah putih pula pada saat pengantaran jenazah ke Setra Badung, dan mendapatkan penghormatan terakhir dari rekan-rekan BeLiau. Sebelum diberangkatkan dari rumah duka (penyerahan jenazah dari keluarga kepada LVRI) dan sebelum dibakar (penyerahan jenazah kembali dari LVRI kepada pihak keluarga).

Mei 1937, foto kenangan Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, di Banjar Tainsiat. Tempat asal BeLiau sebelum akhirnya menikah / nyentana ke Titih. Sebuah foto yang menjadi pe-er bagi PanDe Baik, agar dapat dicetak dalam ukuran besar sebelum BeLiau meninggal. Syukurlah tugas ini bisa tercapai dengan baik pada tanggal 23 Oktober 2008 lalu, saya selesaikan tepat pada saat ulang tahun Ibu (anak kedua BeLiau) yang ke-60.

Semoga saja kami yang ditinggalkan, dapat melanjutkan perjuangan BeLiau sesuai kemampuan bidang kami masing-masing.

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

KiLas BaLik PanDe Baik di Tahun 2008 : tentang KeLuarGa

3

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Menjadi seorang Rekan Kerja sekaligus Suami yang Baik bagi IsTri terCinta, saya yakin menjadi dambaan bagi setiap laki-laki ‘waras’ dalam memasuki tahap pernikahan, sebuah ikatan bagi dua kepala dengan dua ego yang sama sekali berbeda.

Untuk bisa mengetahui kadar seberapa berhasilnya saya mewujudkan hal tersebut, sepertinya gak bisa saya katakan, karena IsTri lah yang jauh lebih tahu dan berwenang untuk menjawab itu semua.

Begitu pula untuk menjadi seorang Rekan Kerja bagi lingkungan kerja saya, tentu saja mereka yang lebih berhak memberikan nilai atas sikap dan kinerja saya selama ini.

MeLanjutkan posting saya sebelumnya, tentang KiLas BaLik yang saya alami dan jalani di sepanjang Tahun 2008, kali ini saya ingin mengungkapkan kisah kedua, tentang betapa mengesankannya KeLuarga yang saya miliki saat ini.

Ohya, sebelum saya melanjutkan, ada satu lagi kejutan sekaligus harapan yang saya dapatkan di awal Tahun 2008 ini. Menjadi Bapak yang Baik bagi putri kecil saya, MiRah GayatriDewi.

Ya. Kami akhirnya dikaruniai seorang putri kecil nan lucu, yang bagi saya pribadi ia bagaikan seorang malaikat datang disaat kami (saya dan IsTri) dilanda keraguan dan keputusasaan harapan memiliki buah hati, buah Cinta kami. Bagaimana tidak ?

Dua tahun lalu, saya sempat dinyatakan mengidap Varikokel oleh dokter Wimpie Pangkahila, yang selama lima bulan memberikan advis juga obat-obatan penyubur, dengan total biayanya yang menguras habis isi tabungan saya. Bahkan di bulan terakhir saya mengikuti advisnya, untuk biaya obat saja, saya harus meminjam uang pada Mertua yang waktu itu secara kebetulan menawarkannya.

Tak puas dengan perjuangan saya di dokter Wimpie, saya beralih ke dokter Nono, yang merupakan rekomendasi dari dokter kandungan Wardiana di Apotek Agung Jalan Sudirman. Hasilnya sama. Malah jauh lebih parah. Saya divonis tak akan bisa memiliki keturunan, kecuali harus menjalani Operasi Bedah pada pembuluh darah putih guna menyembuhkan Varikokel tersebut.

Sialnya, sang dokter hanya memberikan kemungkinan 50-50 untuk keberhasilannya. Karena jikapun itu gagal, saya harus menjalani satu operasi lagi yang saya tak peduli lagi apa istilah medisnya. Ya, saya akhirnya memutuskan untuk ber-Pasrah diri pada-NYA.

Bersyukur, atas tuntunan dari seorang yang amat sangat kami segani, nak lingsir Sri Empu di Griya Pande Pohmanis, memberikan jalan untuk memohon pada-NYA sambil berusaha mencari tahu solusinya. Ya, kamipun diminta menjalani upacara pernikahan sekali lagi, atas dasar hari baik dari pertemuan hari kelahiran kami (saya dan IsTri).

Tak lama kami menunggu, karena begitu upacara pernikahan yang kedua kalinya dijalani, dua minggu kemudian, IsTripun positif hamil, yang cukup membuat shock dokter Wardiana dan menyatakan inilah yang namanya ’Mukjizat’ dari Tuhan.

Sembilan bulan lamanya kami menanti hadirnya si kecil dengan advis dan obat-obatan dari dokter Wardiana, membuat kami begitu bersyukur dengan kondisi yang ada. Kehamilan yang ditunggu, biaya advis dokter serta obat/vitamin yang terjangkau, juga hangatnya sambutan dokter Wardiana, tiap bulan kami datang untuk konsultasi maupun bersua di RS Sanglah, membuat kami menjadikan dokter Wardiana sebagai dokter kandungan terbaik. He…

Balik ke cerita putri kami MiRah Gayatridewi, akhirnya Selasa 18 Maret 2008, bayi mungil nan lucu inipun hadir ditengah kehidupan kami, dan memberikan rasa syukur yang paling indah dalam hari-hari kami berikutnya.

Ya, menjadi Bapak yang Baik bagi putri saya kelak agaknya menambah ”beban” saya diatas, agar mampu pula menjadi seorang Rekan Kerja sekaligus Suami yang Baik bagi IsTri. ”Beban” yang saya maksud tadi itu adalah satu harapan sekaligus pula menjadi satu tantangan bagi saya agar dapat mewujudkan keduanya dengan Baik pula.

Yah, memang saya sadari, sangat sulit untuk dilakukan. Karena untuk mewujudkannya, satu sama lain harus ada yang dikorbankan, termasuk pula menyangkut pekerjaan kantor plus konsentrasi saya pada perkuliahan yang saya jalani sedari dua tahun lalu. Bersamaan dengan pernikahan saya yang kedua tadi.

Selain itu, saya pun masih harus menjadi Anak yang Baik bagi kedua orang tua saya plus satu tanggungan Bibi. Paling tidak, selama mereka masih ada, saya bertanggung jawab pada kesehatan dan juga kebahagiaan mereka. Hal yang saya yakin sangat sulit diterima bagi mereka yang telah menikah. Apalagi bagi seorang IsTri yang ’ANTI’ pada Mertua.

Maka apapun itu resikonya, tetap saja harus saya jalani.

Sedikit keributan dalam rumah tangga itu hanyalah masalah biasa. Namanya juga menyatukan dua kepala dengan dua ego yang berbeda. Asal jangan ikut-ikutan trend para artis Indonesia yang ribut dikit, menganggap tidak ada kecocokan dalam rumah tangga, ya langsung berujung pada perceraian. Semoga saja tidak.

Begitupun sedikit pertentangan antara saya dengan orangtuapun, saya anggap biasa. Toh, dua tiga hari kemudian, saya yakin gak ada dendam lagi diantara kami.

KeLuarga memang yang paling utama bagi saya pribadi. Apalagi ditambah dengan kehadiran seorang putri kecil malaikat kami, MiRah GayatriDewi. Membuat suasana rumah bertambah hangat, ceria dan tentu saja ramai dengan celotehan dan tangis si kecil.

Ah, semoga saja ditahun depan, saya bisa jauh lebih Baik lagi.

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

> PanDe Baik mencoba menuliskan uneg-unegnya kembali perihal KiLas BaLik KeLuarga ini disela tugas dan kewajibannya menemani dan menjaga si kecil MiRah GayatriDewi hingga tertidur di Minggu pagi nan cerah ini….. <