Mengenang Kakak, Pande Made Hartiasih

2

Category : Cinta

Saat awal aku terdeteksi menderita Diabetes, balkon kantor di Bidang Pengendalian dan Evaluasi Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung, merupakan salah satu tempat nongkrong favorit di pagi hari sesaat setiba di ruangan sebelum mulai bekerja. Tujuan utamanya hanyalah untuk berjemur, menikmati hangatnya matahari pagi yang hingga kini masih dengan gratis dan bebas kita nikmati…

Disinilah banyak ide tulisan lahir dan diselesaikan lantaran tempatnya yang terbuka dan leluasa, dengan pemandangan yang suka bikin kangen setiap harinya. Demikian halnya dengan pagi ini.

Hari ini, hari kelima kami kehilangan kakak, orang yang aku sayangi sejak kecil meski tak pernah diungkap secara lugas padanya. Namun apa yang aku lalui selama ini baik sebelum dan sesudah pernikahan dan berkeluarga, cukup membekas. Lantaran hanya dia, kakak yang mampu aku miliki selama ini secara dekat. Meski kami terpaut 8 tahun, namun kehadirannya selama ini kerap menjadi teman bicara kalo aku sedang dalam masalah.

mbok mami Hartiasih-PanDe Baik

Hari ini merupakan hari kelima pula, ia terbaring kaku dalam balutan kain kafan diatas tempat tidur ruang jenasah Rumah Sakit Wangaya. Diluar fasilitas pendingin yang kabarnya hanya dapat digunakan dua unit saja. Masih berada disana karena dari pihak keluarga suaminya, baru dapat memutuskan rencana kepulangannya siang ini. Berhubung terbentur kendala beberapa upacara yang telah lama pula dipersiapkan.

Kadang aku masih suka kangen pada kehadirannya yang begitu kunanti setiap akhir pekan. Karena disitulah kami bisa berkumpul bersama anak-anak dan orang tua kami, serta mengajak mereka untuk sekedar menikmati waktu di warung makan yang kami inginkan. Lalu bertukar cerita dan bersenda gurau.

Pemandangan biasa yang selalu aku lihat dan nikmati adalah saat ia marah lantaran sang suami yang memang malas bangun pagi, sehingga kerap beberapa kegiatan yang sudah kami rencanakan berangkat lebih awal jadi molor beberapa jam. Demikian halnya dengan kemanjaan si anak, Prasta, keponakanku yang kadang suka meminta hal-hal aneh secara dadakan. Jika sudah demikian, kakak akan menggerutu meski dalam amarahnya, sebenarnya ia memiliki rasa sayang yang besar pada kedua laki-lakinya tersebut. Setidaknya itu yang aku ketahui saat membaca satu persatu kalimat yang ia buat dalam Surat Wasiat yang kami temukan dalam tas, minggu sore pasca kepergiannya.

Demikian pula untuk bekal bagi kedua orang yang disayanginya itu, sudah dipersiapkan sejak awal dalam bentuk jaminan hari tua, asuransi dan tabungan. Satu hal yang barangkali kemudian melecut perasaanku untuk minimal bisa berbuat hal yang sama kelak.

Balkon ruangan sudah mulai terasa panasnya. Matahari pun mulai beranjak naik, dan aku masih terpekur sendiri ditemani segelas kopi yang sudah mulai dingin.

Pagi ini jelas menjadi sedikit berbeda dari biasanya. Karena kini suasana hati sepertinya sudah tak dapat ditawar lagi. Kutumpahkan saja semua.

MiRah putri pertama kami adalah yang paling ia sukai untuk diajak bercanda. Mungkin lantaran keinginannya untuk bisa memiliki seorang putri, tak jua terkabul. Pun demikian saat kehamilan terakhir yang ia miliki, saat positif mengidap kanker tempo hari, harus rela gugur lantaran janin tak berkembang.

Sama halnya saat kehadiran InTan, putri kedua kami, Di sela rasa sakit yang ia derita, kakak masih menyempatkan diri untuk menggendong keponakannya selama beberapa saat di sabtu atau minggu pagi, bahkan terkadang ia tetap bersikeras ingin mengajaknya dalam waktu yang lama.

Hampir semua urusan rumah tangga rupanya ia handle tanpa peran suami. Aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Tepatnya saat sang suami menangisi kepergian istrinya, dan mulai merasa pesimis dengan hidupnya kelak. Bagaimana cara mendidik dan menjaga sang anak, menyekolahkan hingga minimal bisa membelikannya baju dari hasil keringat sendiiri. Ya, ternyata jangankan untuk si anak, untuk istripun ia mengaku belum pernah membelikan apa-apa sejak pernikahannya dahulu. Yang akhirnya baru aku sadari bahwa ini merupakan satu resiko kealpaan kerja sang suami dalam hidup berumah tangga.

Kalau tidak salah ingat, topik pembicaraan kami yang terakhir adalah terkait keterlibatannya dalam tim Panitia Pengadaan Barang/Jasa di kantornya, PDAM Kota Denpasar. Yang dilakoninya dalam posisi menjabat sebagai salah satu Kasubag disana. Ia bercerita banyak tentang kondisi Pengadaan yang terjadi di PDAM Kota, yang notabene masih diselenggarakan secara konvensional. Ia banyak bertanya tentang LPSE yang selama ini aku ceritakan. Pun dengan pembaharuan beberapa peraturan yang terkait dan kegiatan sosialisasi perubahannya. Saat itu, ia masih dalam kondisi sehat tentu saja.

Namun sejak ia positif dinyatakan menderita Kanker Lidah, hampir tak ada hal serius yang pernah kami diskusikan lagi. Lantaran ia lebih banyak diam dan menahan sakit yang dirasakan, dan aku hanya bisa merasa kasihan melihatnya.

Beberapa bulan sebelum kepergiannya, ia sempat meminta padaku untuk mengcopykan games Magic Lines (yang biasanya dikenal dengan nama Bola Bola dikalangan Pegawai Negeri Sipil) pada perangkat ponsel yang baru ia beli, menggantikan Nexian Berry terdahulu yang telah mulai kadaluwarsa. Sayangnya, ponsel yang ia beli tak dapat melakukan instalasi games yang dimaksud. Maka akupun memberikan perangkat NetBook HP Mini yang sudah lama tak kupakai untuknya. Kebetulan di perangkat tersebut, games Bola Bola masih tertanam dengan baik, lantaran Istri dahulu juga sempat keranjingan memainkannya. Sayang, ia tak mampu menggunakannya lebih lama, lantaran kondisi kesehatannya yang tak lagi memungkinkan.

Yang kini kupikirkan hanya satu. Prasta, putranya.

Aku bisa membayangkan betapa pedihnya ia ditinggal sang Ibu, meskipun mungkin sudah lama ia rasakan demikian. Namun kini, sosok sang ibu sudah tak ada lagi secara fisik didepannya. dan aku hanya bisa terdiam melihatnya tertidur dalam kesendiriannya tanpa adanya sang ibu disisinya. Yang aku tahu, hingga kini ia belum juga mau tidur di rumah bersama sang Bapak. Entah karena takut teringat pada sang Ibu ataukah ada alasan lain.

Esok pagi, kami akan memulai prosesi upacara Pengabenan sesuai rencana. Aku hanya berharap bahwa prosesi dapat berjalan dengan lancar dan sesuai harapan, meski hingga kini aku masih belum rela dengan kelihangan ini. Entah hingga kapan aku bisa menerimanya dengan lapang dada, malahan bisa jadi hingga aku bisa menumpahkan semua uneg unegku di media ini, meski dengan resiko penurunan tingkat kunjungan. Karena hanya di media ini saja yang masih bisa aku miliki untuk bersuara lebih lepas tanpa beban.

Pande Made Hartiasih, 16 Agustus 1970… 12 Mei 2013…

Ia pergi tepat saat hari kelahiranku, Minggu Umanis wuku Merakih. Mungkin itu diambilnya agar lebih mudah mengingatkanku kelak.

Ah, aku akan tetap merindukan masa-masa ini, pun halnya dengan kehadiran kakakku…

Akhirnya, kakakku berpulang pada-NYA

10

Category : Cinta, tentang DiRi SenDiri

Telpon berdering pagi hari, sesaat usai aku bangun dari tidurku, masih mengajak Intan bercanda di sofa usang, dan bathinku telah bisa menebaknya…

Tanpa menunggu banyak waktu, aku bersiap dan memanggil Bapak untuk meluncur ke Rumah Sakit Wangaya secepatnya. Kakak sudah dalam kondisi kritis.

Setiba di kamar 307, aku bergegas menuju ruang jaga perawat dan meminta informasi selengkapnya agar bisa mengabarkannya pada suaminya dan ibu dirumah. Kakak masih dalam kondisi koma, tekanan darahnya drop 40/60… Hasil pemeriksaan gula terakhir sekitar 147…

Perawat datang membawa alat untuk memeriksa denyut, dokter pun hadir untuk memastikannya…

Kakakku telah berpulang pada-NYA…

Masih lekat di ingatan, permintaan terakhirnya untuk pulang kerumah… Yang ia sampaikan pada suaminya kemarin… Mungkin itu sudah merupakan satu tanda darinya pada kami… Dan akupun telah menyadarinya sejak awal…

Pande Made Hartiasih, seorang kakak yang lahir 42 tahun yang lalu kini telah pergi… Meninggalkan kami yang masih terpekur disini…
I LOVE YOU mbok Mami…

Selamat Berbagi di Hari kasih Sayang

6

Category : Cinta

Aura Pink sepertinya sudah mulai melanda seputaran Kota Denpasar, dari supermarket hingga pedagang bunga, dari toko boneka hingga status facebook milik teman. Terhitung hari Senin kejepit depan, ratusan ribuan pasang anak muda bahkan lebih bakalan melaksanakan ritual tahunan bersama orang tercinta atau dikasihi. Lantas bagaimana dengan yang telah menikah ?

Valentine’s Day merupakan hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Diwujudkan dengan saling berkirim benda baik kartu, boneka, cokelat yang bernuansa cinta, jantung hati, cupid kepada orang yang diharapkan. Belakangan makin berkembang menjadi sms, email bahkan status Facebook pun bernuansakan cinta.

Hari Valentine atau yang lebih dikenal sebagai hari kasih sayang inipun kabarnya berasal muasal datang dari sebuah hari raya Katolik Roma. Mungkin itu sebabnya baik para alim ulama umat Muslim sempat mengharamkan Valentine’s Day untuk dirayakan, demikian pula tokoh Hindu yang sempat pula mengatakan bahwa dalam Agama Hindu tidak ada yang namanya tradisi Valentine’s Day ini. Tapi apa boleh buat, kalangan generasi muda sudah kadung terpaku ingatannya (termasuk saya) bahwa setiap tanggal 14 Februari merupakan hari yang patut dinanti.

Bila melintas ke masa lalu, Valentine’s Day selalu merupakan nightmare bagi saya. Maklum, di masa remaja saya tergolong Nerd, kuper bahkan kurang dikenal oleh teman sekolah. Salah satu penyebab utamanya adalah rasa minder akibat kurang ‘berpunya’. Jangankan mobil, motorpun tidak saya miliki hingga masa SMA kelas dua. Masih berpeluh mengayuh sepeda balap pulang pergi sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah.

Valentine’s Day baru mulai terasa bermakna ketika pernikahan itu ada. Mewujudkan Cinta dalam arti sebenarnya kepada Istri, makin bertambah dengan kehadiran buah hati kami yang sudah makin meninggi, MiRah GayatriDewi. Tak hanya itu, rasa cinta dan bhakti kepada kedua orang tuapun tumbuh dengan sendirinya, karena memang hanya mereka yang masih saya miliki hingga hari ini.

Berbagi kepada sesama di Hari Valentine pun baru dua tahun terakhir ini saya lakoni. Sekantong darah saya coba sumbangkan di PMI untuk mereka yang membutuhkan. Mencoba konsisten dengan apa yang telah saya mulai, pagi inipun rencana untuk mendonorkan darah tetap ditepati. Meski tidak tepat di hari Kasih Sayang lantaran merupakan Hari Kerja, setidaknya pemikiran untuk tetap berbagi dapat terlaksana.

Berbagi kasih kepada orang yang dicintai ataupun kepada sesama memang sudah sepatutnya tidak hanya dilakukan saat Valentine’s Day. Jika boleh saya sarankan, lakukan setiap hari dan teruskan semampunya. Cara ataupun jalan yang dilakukan ya terserah pada keahliannya. Seperti menulis lewat BLoG inipun saya rasa sah-sah saja.

Ayo, lebih rajin untuk berbagi… dan Selamat berHari Kasih Sayang…

Terpekur Sepi dalam Kesendirian

5

Category : Cinta

‘Meniti hari… Meniti Waktu…

‘Membelah langit… belah samudra…

‘ikhlaslah Sayang… kukirim kembang…

‘Tunggu Aku… Tunggu Aku…

Jika biasanya aku yang selalu bersenandung ketika sendiri jauh dari anak dan istri, kini malah sebaliknya. Sudah dua minggu… tak terasa memang. Bisa jadi lantaran banyaknya kegiatan yang aku lakoni sedari awal bulan, bisa juga lantaran terbiasa.

Jauh dari istri sebenarnya bukan pilihan, namun lantaran kewajiban toh semua harus dijalani. Jadilah aku setiap pagi dan sore berusaha untuk meluangkan waktu menemani MiRah GayatriDewi putri kami, lebih intensif. Beberapa aktifitas yang dahulu kerap kulakukan, mendadak terganti oleh pernak pernik kelucuan dan kenakalan anak kecil. Tak jarang yang namanya kesabaran itu diuji…

Kesendirian sudah mulai menjadi bagian dari hidup. Terutama ketika hari beranjak malam, saatnya MiRah bobo bersama kakek neneknya dan meninggalkanku dalam ruang kamar ini. Awalnya memang susah, hampir tak ada waktu bersantai kulewati. Pelan tapi pasti semua kembali seperti biasa lagi.

Memasuki minggu ketiga aku dilanda kesendirian masih saja tak banyak yang bisa kulakukan. Menulis dua tiga tulisan dalam sekali waktu rasanya sudah tak mungkin lagi. Mengingat sang inspirasi berada jauh dimata.

‘Rinduku dalam… semakin dalam…

‘Perjalanan… pastikan sampai…

‘Penantianmu… s’mangat hidupku…

‘Kau Cintaku… Kau Intanku…

(Ikrar/Iwan Fals/Belum Ada Judul)

Bermain Api… Indikasi, Curiga atau Kenyataan ?

9

Category : Cinta, tentang DiRi SenDiri

Apa yang Anda rasakan ketika satu hari orang yang Anda cintai sepenuh hati, tiba-tiba mengindikasikan Anda ada main dengan perempuan lain yang merupakan rekan kantor ? Marah ? Sedih ? atau Bingung ?

Adapun Alasan utama yang memicu hal tersebut adalah karena Anda ketika berada dalam situasi yang membutuhkan informasi seputar tempat kerja, hampir dapat dipastikan (sepengetahuannya) akan menghubungi nomor ponsel perempuan yang ia curigai. Padahal Anda sama sekali tak memiliki pikiran sejauh itu ? Apa yang akan Anda lakukan ? Marah ? memutuskan untuk tidak menghubungi yang bersangkutan didepan orang yang Anda cintai ? atau makin bingung ?

Cukup lama memang saya tidak berkeluh kesah tentang hal-hal yang bersifat (sangat) pribadi di blog ini. Pertimbangannya tentu saja karena blog ini memiliki pengunjung yang memiliki beragam kepentingan dan barangkali tidak akan memiliki waktu luang untuk membaca, memahami dan menjawab hal tersebut. Tapi yah, karena ini merupakan media pribadi milik saya satu-satunya, maka disinilah semuanya tumpah.

Kadang saya bingung dengan sifat wanita. Mungkin itu sebabnya saya dapat dikatakan kurang romantis. Bingung karena ternyata mereka punya pemikiran yang sudah sedemikian jauh, padahal jujur saja pikiran saya tidak sampai sejauh itu.

Dengan kesibukan pekerjaan kantor, dari  survey, membuat dokumen, gambar dan peta, pemeriksaan pekerjaan, berpanas-panas dilapangan hingga ke hal-hal yang membutuhkan  konsentrasi pikiran jauh lebih dalam seperti instalasi Debian untuk persiapan Pelatihan Tim LPSE yang terakhir saya lakukan, jujur saja belum pernah terlintas satu pikiran untuk bermain api dengan perempuan lain.

Memang saya akui, jika laki-laki umumnya memang suka memancing sedikit di air keruh. Suka bermain api kecil dan secara tak sadar mampu membesar dengan sendirinya dan membakar semua cita yang sudah dirintis sejak awal. Demikian pula lingkungan kerja kami. PNS merupakan oknum urutan pertama yang memiliki kecenderungan untuk bermain seperti itu. Tapi bukankah ‘tidak semua’ PNS seperti itu ? sama halnya dengan membolos kerja, ‘tidak semua’ PNS memiliki mental bobrok begitu.

Sangat menyakitkan ketika wanita yang begitu saya puja dan cintai tiba-tiba mengindikasikan saya sejauh itu dan rata-rata rekan kaumnya mengamini kecurigaan tersebut. Kalo sudah begitu, lebih baik saya diam saja. Biarlah waktu yang akan menjawabnya…

Pada akhirnya, hal-hal seperti inilah yang paling saya benci. Diindikasikan ada main dengan perempuan rekan sekantor. Padahal saya berani mempertaruhkan kepala dan reputasi saya untuk membuktikan bahwa itu tidak benar. Tapi memang, Gak salah jika Istri saya bersikap demikian, karena orang lainpun saya yakin akan punya pemikiran yang sama.

Hal yang kemudian memecah konsentrasi kerja dan mood untuk ng-BLoG…

Kehilanganmu

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Menjalani hari-hari dalam kesendirian sebenarnya bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi jika kita mulai terbiasa dengan tawa canda riang dan kehangatan keluarga kecil. Padahal kelihatannya semua berjalan seperti biasa, namun ada satu emosi yang kerkadang siap diledakkan sewaktu-waktu. Hal yang sangat berbahaya menurutku.

Ketika kata-kata itu sudah tak lagi bisa diterima oleh telinga, ketika pikiran sudah ditutupi oleh kabut kelam dan ketika seluruh urat nadi sudah mulai menegang, ketika itu pula satu hal kecil dapat memantik kobaran api sedemikian besar. Membakar rumah dan isinya lantas menghilang tanpa kata.

Kehilanganmu seperti membunuh diriku. Terdiam dalam bisu tanpa kata dan tawa. Pikiranku hanya bisa menerawang tak jelas… dan tiba-tiba saja aku ingin berlari.

Suara kecil itu bertanya padaku, hanya jawab yang tak menentu bisa kukatakan. Kasihan dirimu Nak…

Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan Bapakmu ini.

Terdiam bersamamu

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Tangis kecil itu meraung saat ia berada dalam dekapan ibunya, entah apa yang terjadi. Aku datangi dengan sejuta tanya yang ada hanyalah dua tangan kecil yang berusaha meraihku. Ada apa Nak ?

Suara lain terdengar jauh lebih keras, kali ini dengan nada bentak, aku jadi semakin bertanya.

Tangis kecil mulai mereda, yang ada hanyalah sesegukan dan rasa takut setiap kali ia memandangmu. Kuputuskan untuk menjauh dan mulai bercanda. Tapi bentakan itu tak jua mereda.

Satu hal kecil yang memantik kobaran api begitu besar… dan tinggalkan aku terdiam bersamamu disudut jalan hanya bisa memandang lalu lalang orang tak menentu…

Selamat merayakan Hari Kasih Sayang

23

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit Sanglah menuju sal Jempiring, menengok keponakan yang kabarnya selama empat hari terakhir dirawat akibat gangguan pernafasan, mengingatkanku pada saat mendampingi MiRah GayatriDewi pertengahan tahun 2008 lalu. Wajah-wajah yang menyiratkan kegetiran hidup harus mereka lalui selama berhari-hari disini, sementara banyak orang diluar sana begitu gempita mempersiapkan diri untuk menyambut satu hari yang sangat spesial hadir dibulan ini.

Hari Kasih Sayang atau Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari bisa dikatakan merupakan satu hari yang paling ditunggu, entah oleh pasangan remaja yang sedang dilanda asmara ataupun pasangan yang kini sudah berumahtangga tetap berusaha mengingat dan berharap melewatkannya bersama orang-orang yang mereka cintai. Seperti biasanya BBC atau Bali BLogger Community, komunitas blogger yang ada di pulau Bali inipun tak lupa berancang-ancang menyusun rencana untuk dapat memaknai lebih jauh Hari Kasih Sayang ini.

Menyaksikan wajah-wajah mungil dan lugu dalam gendongan Bapak Ibunya atau hanya bisa terdiam memperhatikan tangan si kecil yang dibalut perban untuk memegang jarum suntik infus membuatku makin terharu dan teringat pada penderitaan MiRah beberapa waktu lalu. Tangisan mereka membuatku makin tersadar bahwa aku harus melakukan sesuatu yang berguna hari ini. Tapi apa ?

Tak membutuhkan banyak uang untuk bisa membahagiakan orang lain. Tak membutuhkan banyak publikasi dan kamera untuk bisa berbuat sesuatu pada orang lain. Yang ada hanyalah tekad, seperti halnya jargon yang kerap didengungkan oleh BBC dalam setiap kesempatan bahwa ‘Berbagi Tak Pernah Rugi’.

Sekantong darah sepertinya akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. Apalagi disini, di sebuah Rumah Sakit dimana bisa saja salah satu dari wajah mungil tadi menjadi bagian dari mereka itu. Lagipula dengan kondisiku kini, tak ada salahnya untuk melakukan itu.

Untuk yang ke-29 kali, jarum itu disuntikkan ke lenganku. Melanjutkan sebuah harap dimana darah ini akan jauh lebih berguna bagi mereka. Melanjutkan sebuah awal yang kumulai sejak akhir masa SMA, kendatipun tidak secara rutin kulakukan. Melanjutkan sebuah makna yang ingin kuberikan pada MiRah GayatriDewi putriku kelak untuk sebuah kisah di Hari Kasih Sayang ini.

Selamat merayakan Hari Kasih Sayang Kawan…

I K R A R tentang Kau dan Aku

26

Category : Cinta

“…meniti hari.. meniti waktu…

Membelah langit.. belah samudra…

Ikhlaslah Sayang.. kukirim kembang…

Tunggu aku.. Tunggu aku…

Penantianmu.. Smangat Hidupku…

Kau Cintaku.. Kau Intanku…”

Gak terasa sudah menginjak tahun keempat, kami menjalani hidup untuk saling mengisi saling melengkapi. Banyak hal yang terjadi selama itu, namun bersyukur kami tetap bisa menjaga agar jalan yang dilalui tetap berada pada jalurnya.

Hidup berumah tangga itu ternyata susah.

Susah karena kami harus memilih untuk memprioritaskan satu dua kepentingan bersama diatas keinginan dan ego pribadi. Susah karena kerap kepentingan bersama itu tak enjoy kami lakukan, demi menjaga harkat dan martabat keluarga. Demi anak dan masa depan kami kelak.

Hidup berumah tangga itu ternyata gampang.

Gampang karena kami ternyata masih mampu untuk saling berbagi, tetap mengerti satu sama lain. Gampang karena masih banyak keluarga, family dan teman yang berkenan membantu ketika kesulitan satu persatu harus kami hadapi.

Sudah Empat tahun ya…

“…do’a kan lah sayang… harapkanlah manis…

Suamimu… Suami yang baik…”

(IKRAR – Iwan Fals / Album ‘Belum Ada Judul 1992)

untuk ALit Ayu Kusumadewi, untuk perkawinan kita yang ke-4…

I LOVE U…

…untuk ALIT AYU KUSUMADEWI… istriku.

8

Category : Cinta

Enam bulan lalu MiRah, putri kecil kami beruntung dapat merayakan ulang tahunnya yang pertama bersama keluarga ditengah kesibukan kami mempersiapkan piodalan yang jatuh setiap  hari raya Galungan. Kali ini giliran Ibunya sekaligus istri yang baik bagiku, mendapatkan keberuntungan merayakan ulang tahunnya pada hari raya yang sama.

Jadi, selamat Ulang Tahun Istriku. Semoga apa yang menjadi impian dan harapanmu selama ini dapat terwujudkan. Peluk cium via blog… Hehehe…

Berhubung MiRah GayatriDewi putri kami blom tau kapan ulang tahunnya, ia pun mengklaim hari ini adalah hari ulang tahunnya. Demikian pula dengan kue ulang tahun yang telah disiapkan. Hehehe…

IBU dan MiRah

I LOVE YOU TWO…

Sebuah Cermin dari Anang Krisdayanti

14

Category : Cinta

Siapapun tak akan mengira cerita perceraian akhirnya menghinggapi sepasang insan yang terlihat begitu mesra dan serasi Anang dan Krisdayanti, demikian pula halnya saya.

Anang Krisdayanti, jujur saja menjadi sebuah inspirasi hubungan kami, saya dengan Istri sejak kami memutuskan untuk melanjutkan kehidupan bersama ke jenjang pernikahan, bahkan sebaris kata-kata yang teruntai dalam salah satu tembang Cinta mereka, kami cantumkan dalam kartu undangan pernikahan kami tahun 2005 lalu. Sungguh, saya pribadi tak menyangka bahwa hal yang saya perkirakan jauh hari sebelumnya terjadi juga.

Melihat perjalanan Anang Krisdayanti, saya jadi terngiang dengan cerita, impian dan harapan seorang adik perempuan masih sepupu saya, yang kini entah ada dimana. Bahwa setiap wanita pasti ingin selalu “dimengerti”. Bahwa mereka tetap ingin terlihat cantik dan sempurna. Bahwa didasar hatinya mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari kemampuan yang mereka miliki. Sehingga seorang laki-laki diwajibkan untuk mampu memberikan serta mengabulkan “pengertian” yang mereka dambakan, jika tidak, masih banyak laki-laki lain yang bisa melakukannya…

Hingga hari ini saya masih tercenung akan kata-katanya itu… khawatir bahwa perempuan yang saya pilih akan memiliki atau bermaksud dengan hal yang sama dengan pemikiran tersebut… apakah kelak saya mampu memenuhinya ? bagaimana jika tidak ?

Membaca perpisahan mereka memang sudah sejak lama saya menyadari itu. Apalagi Krisdayanti adalah seorang Diva papan atas di dunia entertaiment, namun siapakah yang berada dibalik ketenaran dan keindahan seorang Krisdayanti selama ini jika bukan Anang sebagai seorang suami yang begitu mencintai Istrinya ? Seseorang yang begitu bertalenta mengembangkan kemampuan Krisdayanti sedari bawah, dan kini setelah berada di atas, semua itu seakan terlupakan…

Anang KD

Come On siapa pula yang peduli dengan cerita lalu ? hasut seorang kawan saya saat menyaksikan pasangan ini di layar televisi. ‘Uang adalah segalanya, dengan Uang kita bisa membeli bahkan memiliki apa yang kita inginkan, dan itu tidak dimiliki oleh seorang Anang… Uang adalah Dewa yang mampu mengubah pikiran dan kesetiaan kita menjadi kesesatan… dan sekali lagi, Anang barangkali tidak pernah memiliki hal itu…’

Damn ! untuk saat ini kata-kata itu benar adanya, bahkan dijaman teknologi informasi sedang berkembang pesat, orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan gaya hidupnya, masih ingat dengan remaja Jepang yang rela menjual diri hanya demi sebuah ‘Tamagotchi’ atau remaja kita dalam kisah ‘Virgin’ ? Bisa jadi ini yang menjadi inti dari sebuah kisah Anang Krisdayanti dan patut kita jadikan cermin dalam kehidupan rumah tangga sendiri…

Sedemikian piciknya pemikiran akan sebuah ikatan pernikahan itu ?