Semua Harap untuk Ara

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Sedikit demi sedikit rejeki yang telah kami kumpulkan sejak awal pernikahan, diberikan untuk pengobatan Ara, putri ketiga kami. Biaya perawatannya cukup tinggi untuk pegawai ukuran kami. Hingga malam ini, total yang harus kami bayarkan mencapai 30 juta rupiah. Dan bisa jadi kedepannya bakalan lebih banyak lagi yang dibutuhkan.

Tapi bukan soal biaya yang menjadi keluhan cerita kali ini. Karena kami yakin, baik Ara, Intan maupun Mirah, tiga putri kami yang cantik ini, masing-masing sudah membawa Rejekinya sendiri untuk disimpan orang tuanya. Hanya saja saya merasa sangat bersyukur ketika Rejeki itu tetap kami upayakan simpan hingga hari ini. Sehingga bisa dimanfaatkan secara optimal saat kami butuhkan.

Tapi ada dua pola yang menjadi pikiran saya selama ini soal rejeki.
Pertama bahwa Rejeki itu sudah dipersiapkan atau diberikan lebih dulu oleh-Nya melalui anak-anak kita, dan saat dibutuhkan, akan ada pemanfaatannya sehingga kita bisa sedikit lebih ringan dalam menghadapi cobaannya, minimal tidak lagi memikirkan soal biaya. Atau istilah ekstreemnya, akan ada penghabisannya entah melalui jalur yang mana. Bisa hura-hura, sakit ataupun gaya hidup.
Kedua bahwa Rejeki itu akan datang ketika kita membutuhkannya. Awalnya kita akan kebingungan, diberi pertanyaan berapa yang akan dihabiskan, berapa kebutuhan total dan lainnya. Tapi kelak Tuhan akan memberikannya sesuai dengan jumlah yang kita butuhkan dengan beragam cara pula.
Terserah kalian mempercayainya yang mana yang benar.

Sedangkan bagi saya, dua duanya benar. Sehingga sekali lagi, sangat bersyukur saya diberikan rejeki di awal untuk dimanfaatkan bagi mereka kembali. Sedangkan hura-hura dan gaya hidup, rasanya memang belum sempat kami cicipi hingga hari ini.

Akan tetapi tingginya biaya juga tak lepas dari Ego yang saya tanamkan sejak awal. Bahwa pikiran ekstreem saya rupanya sudah mengakar ketika mendapati bahwa ada perbedaan perilaku atau pengambilan tindakan antara pemanfaatan biaya melalui Asuransi Kesehatan atau yang kini disebut dengan istilah BPJS dengan masuk melalui Jalur Umum. Bahwa kami kemudian memilih jalan kedua, untuk mendapatkan pelayanan terbaik bagi anak kami kelak. Mengingat jalur asuransi swasta, tidak mengcover kebutuhan ini.

Jadi ya, ini sudah menjadi Resiko kami kemudian. Bahwa kami sudah bertekad memberikan perawatan dan pengobatan yang terbaik bagi putri kami ini. Tinggal doa dan harapan yang menggebu untuk kesembuhan bagi Ara, Mutiara ketiga keluarga kami.

Menjaga Asa pada Ara

3

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Jari kecil itu masih berupaya memegang telunjukku yang kuberikan padanya.
Ditengah sakit yang ia derita tampak wajahnya sedikit lebih baik dari malam kemarin.
Tak kulihat ia menangis saat kuajak bicara ditengah kegalauan yang kurasakan.
Ia tidur memejamkan matanya sembari kuelus keningnya yang bersih sambil mendendangkan gumaman tembang anak Bali yang kusukai.
Hatiku tetap berusaha tabah melihatnya pagi ini.

Mutiara Gek Ara 1

Perkembangan Ara per malam tadi, Trombositnya naik menjadi 10, dengan ambang normal diatas 150.
Tapi karena naiknya akibat transfusi, secara medis belum bisa dianggap baik. Lagipula untuk sekali transfusi minimal menaikkan 10-25 sel/mm, tapi ini sudah 2 kali transfusi baru naik 6 saja.

Disamping itu hasil CPR (test Kuman), hasilnya jauh tinggi sebesar 132 dengan ambang Normal 5-10. Kemungkinan Kuman ini yang menyebabkan Trombosit sulit naiknya.
Terkait ini, Dokter masih mengupayakan untuk mengetahui Kuman jenis apa yang dimaksud.

dan Terakhir, hasil test daya tahan, terpantau menurun. Sehingga Ara kini mulai diberikan infus pengganti utk meningkatkan daya tahan yang harganya sekitar 4 juta per botol untuk 2 kali input ke tubuh bayi.

Terkait pemberian Infus, Tim Dokter kesulitan menemukan pembuluh darah kecil yang ada di tangan dan kaki adik, mengingat minimnya Trombosit itu. Sehingga kini adik disuntikkan infus melalui pembuluh darah (vena) besar yang ada di kepala, leher atau pangkal paha. Utk Kepala sudah dicoba, tapi gagal karena terjadi bengkak. Maka kini yang disuntikkan adalah pangkal paha. ????

Sedih melihat kondisinya kemarin malam. Tubuhnya penuh luka suntikan dan membiru. Ara menangis saja dari pertama ibunya berkunjung. Padahal sebelumnya anteng…

Per tadi malam, adik dipindah ke ruangan NICU untuk lebih intensifnya pengawasan. Dengan harga kamar 1 juta per harinya. Disamping itu, dokter yang menanganinya pun terjadi penggantian ke Dokter Darma, salah satu dokter senior di Puri Bunda.

Kami saat ini tetap berupaya menyiapkan biaya pengobatan. Tidak ada satupun terdapat keinginan untuk menghentikan upaya perawatan, meskipun per hari ini biaya yang dihabiskan Gek Ara sedari awal sudah sebesar 26 Juta.
Pokoknya kami tetap berusaha yang terbaik untuk Ara.
Mahal memang biaya yang dibutuhkan kedepannya, tapi ya memang sudah resiko yg harus dihadapi…

Sirna Sudah Semua Penderitaannya

Category : Cinta

Senja telah beranjak memudar saat kami tiba di pesisir pantai matahari terbit, sabtu sore 18 Mei 2013, satu lagi hari bersejarah bagi kami…

Sesuai rencana, upacara pengabenan almarhum kakak, Pande Made Hartiasih di rumah duka Yang Batu berjalan dengan tenang dan tertib. Sanak saudara berdatangan silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhirnya pun demikian dengan rekan-rekan kantornya di PDAM Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, tak lupa perwakilan dari alumni Smansa angkatan 89.

image

Waktu luang yang tercipta pasca upacara Ngajum/Mejauman sembari menunggu prosesi pengabenan, merupakan saat-saat dimana kami seolah kembali ke masa lalu untuk sejenak. Mengisahkan kembali perjalanannya sedari awal, terdeteksi kanker hingga melewatkan hari terakhir di RS Wangaya, tak lupa berbagi wajah dari masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa yang memang dengan sengaja aku simpan dan kumpulkan dalam bentuk kepingan cd sejak tahun 2000an lalu.

Proses pembakaran jenasahpun berlangsung dengan cepat, mengingat secara fisik hampir tak ada daging yang melekat pada tulang yang terbalut kulit, kondisi terakhir almarhum lantaran kesulitannya untuk menelan makanan padat. Yang kemudian memberikan waktu menunggu cukup lama, menanti kehadiran sulinggih yang masih menuntun semeton Pande di Pedungan untuk upacara yang sama.

Hampir tak ada air mata lagi yang bisa diteteskan mengingat semua sudah ditumpahkan sejak awal rasa sakit yang diderita kakak mulai menghampiri, hingga hari terakhir kepulangannya. Sungguh, aku baru merasakan kehilangan.

Cepat atau lambat, kami memang dituntut untuk bisa menerima kenyataan, meski terkadang kehadirannya masih terlintas didepan mata, baik dengan wajah sehat saat aku menikah dulu, maupun kurus keringnya kakak pasca kanker lidah yang menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit. Terutama Ibu dan Bapak yang memang terlihat begitu terpukul dengan keadaan sekarang. Namun setidaknya, kami bisa sedikit berbangga bahwa hingga akhir hidupnya, kami masih berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuknya. Meski pada akhirnya, semua akan kembali menyatu dengan-NYA.

image

Sebuah perahu jukung bermotor, tampak sudah siap mengantarkan kami ketengah laut untuk melarung tulang dan semua kenangan yang kami pangku, dan ini pengalaman pertamaku untuk ikut mengantarkannya. Sebuah usaha untuk tetap menjaganya hingga akhir perjalanan.

Sirna sudah semua penderitaannya kini…

Dan kami sudah harus kembali kerumah serta meneruskan kisah masing-masing hingga nanti bisa bertemu dan berkumpul kembali bersama-sama.

Mengenang Kakak, Pande Made Hartiasih

2

Category : Cinta

Saat awal aku terdeteksi menderita Diabetes, balkon kantor di Bidang Pengendalian dan Evaluasi Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung, merupakan salah satu tempat nongkrong favorit di pagi hari sesaat setiba di ruangan sebelum mulai bekerja. Tujuan utamanya hanyalah untuk berjemur, menikmati hangatnya matahari pagi yang hingga kini masih dengan gratis dan bebas kita nikmati…

Disinilah banyak ide tulisan lahir dan diselesaikan lantaran tempatnya yang terbuka dan leluasa, dengan pemandangan yang suka bikin kangen setiap harinya. Demikian halnya dengan pagi ini.

Hari ini, hari kelima kami kehilangan kakak, orang yang aku sayangi sejak kecil meski tak pernah diungkap secara lugas padanya. Namun apa yang aku lalui selama ini baik sebelum dan sesudah pernikahan dan berkeluarga, cukup membekas. Lantaran hanya dia, kakak yang mampu aku miliki selama ini secara dekat. Meski kami terpaut 8 tahun, namun kehadirannya selama ini kerap menjadi teman bicara kalo aku sedang dalam masalah.

mbok mami Hartiasih-PanDe Baik

Hari ini merupakan hari kelima pula, ia terbaring kaku dalam balutan kain kafan diatas tempat tidur ruang jenasah Rumah Sakit Wangaya. Diluar fasilitas pendingin yang kabarnya hanya dapat digunakan dua unit saja. Masih berada disana karena dari pihak keluarga suaminya, baru dapat memutuskan rencana kepulangannya siang ini. Berhubung terbentur kendala beberapa upacara yang telah lama pula dipersiapkan.

Kadang aku masih suka kangen pada kehadirannya yang begitu kunanti setiap akhir pekan. Karena disitulah kami bisa berkumpul bersama anak-anak dan orang tua kami, serta mengajak mereka untuk sekedar menikmati waktu di warung makan yang kami inginkan. Lalu bertukar cerita dan bersenda gurau.

Pemandangan biasa yang selalu aku lihat dan nikmati adalah saat ia marah lantaran sang suami yang memang malas bangun pagi, sehingga kerap beberapa kegiatan yang sudah kami rencanakan berangkat lebih awal jadi molor beberapa jam. Demikian halnya dengan kemanjaan si anak, Prasta, keponakanku yang kadang suka meminta hal-hal aneh secara dadakan. Jika sudah demikian, kakak akan menggerutu meski dalam amarahnya, sebenarnya ia memiliki rasa sayang yang besar pada kedua laki-lakinya tersebut. Setidaknya itu yang aku ketahui saat membaca satu persatu kalimat yang ia buat dalam Surat Wasiat yang kami temukan dalam tas, minggu sore pasca kepergiannya.

Demikian pula untuk bekal bagi kedua orang yang disayanginya itu, sudah dipersiapkan sejak awal dalam bentuk jaminan hari tua, asuransi dan tabungan. Satu hal yang barangkali kemudian melecut perasaanku untuk minimal bisa berbuat hal yang sama kelak.

Balkon ruangan sudah mulai terasa panasnya. Matahari pun mulai beranjak naik, dan aku masih terpekur sendiri ditemani segelas kopi yang sudah mulai dingin.

Pagi ini jelas menjadi sedikit berbeda dari biasanya. Karena kini suasana hati sepertinya sudah tak dapat ditawar lagi. Kutumpahkan saja semua.

MiRah putri pertama kami adalah yang paling ia sukai untuk diajak bercanda. Mungkin lantaran keinginannya untuk bisa memiliki seorang putri, tak jua terkabul. Pun demikian saat kehamilan terakhir yang ia miliki, saat positif mengidap kanker tempo hari, harus rela gugur lantaran janin tak berkembang.

Sama halnya saat kehadiran InTan, putri kedua kami, Di sela rasa sakit yang ia derita, kakak masih menyempatkan diri untuk menggendong keponakannya selama beberapa saat di sabtu atau minggu pagi, bahkan terkadang ia tetap bersikeras ingin mengajaknya dalam waktu yang lama.

Hampir semua urusan rumah tangga rupanya ia handle tanpa peran suami. Aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Tepatnya saat sang suami menangisi kepergian istrinya, dan mulai merasa pesimis dengan hidupnya kelak. Bagaimana cara mendidik dan menjaga sang anak, menyekolahkan hingga minimal bisa membelikannya baju dari hasil keringat sendiiri. Ya, ternyata jangankan untuk si anak, untuk istripun ia mengaku belum pernah membelikan apa-apa sejak pernikahannya dahulu. Yang akhirnya baru aku sadari bahwa ini merupakan satu resiko kealpaan kerja sang suami dalam hidup berumah tangga.

Kalau tidak salah ingat, topik pembicaraan kami yang terakhir adalah terkait keterlibatannya dalam tim Panitia Pengadaan Barang/Jasa di kantornya, PDAM Kota Denpasar. Yang dilakoninya dalam posisi menjabat sebagai salah satu Kasubag disana. Ia bercerita banyak tentang kondisi Pengadaan yang terjadi di PDAM Kota, yang notabene masih diselenggarakan secara konvensional. Ia banyak bertanya tentang LPSE yang selama ini aku ceritakan. Pun dengan pembaharuan beberapa peraturan yang terkait dan kegiatan sosialisasi perubahannya. Saat itu, ia masih dalam kondisi sehat tentu saja.

Namun sejak ia positif dinyatakan menderita Kanker Lidah, hampir tak ada hal serius yang pernah kami diskusikan lagi. Lantaran ia lebih banyak diam dan menahan sakit yang dirasakan, dan aku hanya bisa merasa kasihan melihatnya.

Beberapa bulan sebelum kepergiannya, ia sempat meminta padaku untuk mengcopykan games Magic Lines (yang biasanya dikenal dengan nama Bola Bola dikalangan Pegawai Negeri Sipil) pada perangkat ponsel yang baru ia beli, menggantikan Nexian Berry terdahulu yang telah mulai kadaluwarsa. Sayangnya, ponsel yang ia beli tak dapat melakukan instalasi games yang dimaksud. Maka akupun memberikan perangkat NetBook HP Mini yang sudah lama tak kupakai untuknya. Kebetulan di perangkat tersebut, games Bola Bola masih tertanam dengan baik, lantaran Istri dahulu juga sempat keranjingan memainkannya. Sayang, ia tak mampu menggunakannya lebih lama, lantaran kondisi kesehatannya yang tak lagi memungkinkan.

Yang kini kupikirkan hanya satu. Prasta, putranya.

Aku bisa membayangkan betapa pedihnya ia ditinggal sang Ibu, meskipun mungkin sudah lama ia rasakan demikian. Namun kini, sosok sang ibu sudah tak ada lagi secara fisik didepannya. dan aku hanya bisa terdiam melihatnya tertidur dalam kesendiriannya tanpa adanya sang ibu disisinya. Yang aku tahu, hingga kini ia belum juga mau tidur di rumah bersama sang Bapak. Entah karena takut teringat pada sang Ibu ataukah ada alasan lain.

Esok pagi, kami akan memulai prosesi upacara Pengabenan sesuai rencana. Aku hanya berharap bahwa prosesi dapat berjalan dengan lancar dan sesuai harapan, meski hingga kini aku masih belum rela dengan kelihangan ini. Entah hingga kapan aku bisa menerimanya dengan lapang dada, malahan bisa jadi hingga aku bisa menumpahkan semua uneg unegku di media ini, meski dengan resiko penurunan tingkat kunjungan. Karena hanya di media ini saja yang masih bisa aku miliki untuk bersuara lebih lepas tanpa beban.

Pande Made Hartiasih, 16 Agustus 1970… 12 Mei 2013…

Ia pergi tepat saat hari kelahiranku, Minggu Umanis wuku Merakih. Mungkin itu diambilnya agar lebih mudah mengingatkanku kelak.

Ah, aku akan tetap merindukan masa-masa ini, pun halnya dengan kehadiran kakakku…

Akhirnya, kakakku berpulang pada-NYA

10

Category : Cinta, tentang DiRi SenDiri

Telpon berdering pagi hari, sesaat usai aku bangun dari tidurku, masih mengajak Intan bercanda di sofa usang, dan bathinku telah bisa menebaknya…

Tanpa menunggu banyak waktu, aku bersiap dan memanggil Bapak untuk meluncur ke Rumah Sakit Wangaya secepatnya. Kakak sudah dalam kondisi kritis.

Setiba di kamar 307, aku bergegas menuju ruang jaga perawat dan meminta informasi selengkapnya agar bisa mengabarkannya pada suaminya dan ibu dirumah. Kakak masih dalam kondisi koma, tekanan darahnya drop 40/60… Hasil pemeriksaan gula terakhir sekitar 147…

Perawat datang membawa alat untuk memeriksa denyut, dokter pun hadir untuk memastikannya…

Kakakku telah berpulang pada-NYA…

Masih lekat di ingatan, permintaan terakhirnya untuk pulang kerumah… Yang ia sampaikan pada suaminya kemarin… Mungkin itu sudah merupakan satu tanda darinya pada kami… Dan akupun telah menyadarinya sejak awal…

Pande Made Hartiasih, seorang kakak yang lahir 42 tahun yang lalu kini telah pergi… Meninggalkan kami yang masih terpekur disini…
I LOVE YOU mbok Mami…

Selamat Berbagi di Hari kasih Sayang

6

Category : Cinta

Aura Pink sepertinya sudah mulai melanda seputaran Kota Denpasar, dari supermarket hingga pedagang bunga, dari toko boneka hingga status facebook milik teman. Terhitung hari Senin kejepit depan, ratusan ribuan pasang anak muda bahkan lebih bakalan melaksanakan ritual tahunan bersama orang tercinta atau dikasihi. Lantas bagaimana dengan yang telah menikah ?

Valentine’s Day merupakan hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Diwujudkan dengan saling berkirim benda baik kartu, boneka, cokelat yang bernuansa cinta, jantung hati, cupid kepada orang yang diharapkan. Belakangan makin berkembang menjadi sms, email bahkan status Facebook pun bernuansakan cinta.

Hari Valentine atau yang lebih dikenal sebagai hari kasih sayang inipun kabarnya berasal muasal datang dari sebuah hari raya Katolik Roma. Mungkin itu sebabnya baik para alim ulama umat Muslim sempat mengharamkan Valentine’s Day untuk dirayakan, demikian pula tokoh Hindu yang sempat pula mengatakan bahwa dalam Agama Hindu tidak ada yang namanya tradisi Valentine’s Day ini. Tapi apa boleh buat, kalangan generasi muda sudah kadung terpaku ingatannya (termasuk saya) bahwa setiap tanggal 14 Februari merupakan hari yang patut dinanti.

Bila melintas ke masa lalu, Valentine’s Day selalu merupakan nightmare bagi saya. Maklum, di masa remaja saya tergolong Nerd, kuper bahkan kurang dikenal oleh teman sekolah. Salah satu penyebab utamanya adalah rasa minder akibat kurang ‘berpunya’. Jangankan mobil, motorpun tidak saya miliki hingga masa SMA kelas dua. Masih berpeluh mengayuh sepeda balap pulang pergi sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah.

Valentine’s Day baru mulai terasa bermakna ketika pernikahan itu ada. Mewujudkan Cinta dalam arti sebenarnya kepada Istri, makin bertambah dengan kehadiran buah hati kami yang sudah makin meninggi, MiRah GayatriDewi. Tak hanya itu, rasa cinta dan bhakti kepada kedua orang tuapun tumbuh dengan sendirinya, karena memang hanya mereka yang masih saya miliki hingga hari ini.

Berbagi kepada sesama di Hari Valentine pun baru dua tahun terakhir ini saya lakoni. Sekantong darah saya coba sumbangkan di PMI untuk mereka yang membutuhkan. Mencoba konsisten dengan apa yang telah saya mulai, pagi inipun rencana untuk mendonorkan darah tetap ditepati. Meski tidak tepat di hari Kasih Sayang lantaran merupakan Hari Kerja, setidaknya pemikiran untuk tetap berbagi dapat terlaksana.

Berbagi kasih kepada orang yang dicintai ataupun kepada sesama memang sudah sepatutnya tidak hanya dilakukan saat Valentine’s Day. Jika boleh saya sarankan, lakukan setiap hari dan teruskan semampunya. Cara ataupun jalan yang dilakukan ya terserah pada keahliannya. Seperti menulis lewat BLoG inipun saya rasa sah-sah saja.

Ayo, lebih rajin untuk berbagi… dan Selamat berHari Kasih Sayang…

Terpekur Sepi dalam Kesendirian

5

Category : Cinta

‘Meniti hari… Meniti Waktu…

‘Membelah langit… belah samudra…

‘ikhlaslah Sayang… kukirim kembang…

‘Tunggu Aku… Tunggu Aku…

Jika biasanya aku yang selalu bersenandung ketika sendiri jauh dari anak dan istri, kini malah sebaliknya. Sudah dua minggu… tak terasa memang. Bisa jadi lantaran banyaknya kegiatan yang aku lakoni sedari awal bulan, bisa juga lantaran terbiasa.

Jauh dari istri sebenarnya bukan pilihan, namun lantaran kewajiban toh semua harus dijalani. Jadilah aku setiap pagi dan sore berusaha untuk meluangkan waktu menemani MiRah GayatriDewi putri kami, lebih intensif. Beberapa aktifitas yang dahulu kerap kulakukan, mendadak terganti oleh pernak pernik kelucuan dan kenakalan anak kecil. Tak jarang yang namanya kesabaran itu diuji…

Kesendirian sudah mulai menjadi bagian dari hidup. Terutama ketika hari beranjak malam, saatnya MiRah bobo bersama kakek neneknya dan meninggalkanku dalam ruang kamar ini. Awalnya memang susah, hampir tak ada waktu bersantai kulewati. Pelan tapi pasti semua kembali seperti biasa lagi.

Memasuki minggu ketiga aku dilanda kesendirian masih saja tak banyak yang bisa kulakukan. Menulis dua tiga tulisan dalam sekali waktu rasanya sudah tak mungkin lagi. Mengingat sang inspirasi berada jauh dimata.

‘Rinduku dalam… semakin dalam…

‘Perjalanan… pastikan sampai…

‘Penantianmu… s’mangat hidupku…

‘Kau Cintaku… Kau Intanku…

(Ikrar/Iwan Fals/Belum Ada Judul)

Bermain Api… Indikasi, Curiga atau Kenyataan ?

9

Category : Cinta, tentang DiRi SenDiri

Apa yang Anda rasakan ketika satu hari orang yang Anda cintai sepenuh hati, tiba-tiba mengindikasikan Anda ada main dengan perempuan lain yang merupakan rekan kantor ? Marah ? Sedih ? atau Bingung ?

Adapun Alasan utama yang memicu hal tersebut adalah karena Anda ketika berada dalam situasi yang membutuhkan informasi seputar tempat kerja, hampir dapat dipastikan (sepengetahuannya) akan menghubungi nomor ponsel perempuan yang ia curigai. Padahal Anda sama sekali tak memiliki pikiran sejauh itu ? Apa yang akan Anda lakukan ? Marah ? memutuskan untuk tidak menghubungi yang bersangkutan didepan orang yang Anda cintai ? atau makin bingung ?

Cukup lama memang saya tidak berkeluh kesah tentang hal-hal yang bersifat (sangat) pribadi di blog ini. Pertimbangannya tentu saja karena blog ini memiliki pengunjung yang memiliki beragam kepentingan dan barangkali tidak akan memiliki waktu luang untuk membaca, memahami dan menjawab hal tersebut. Tapi yah, karena ini merupakan media pribadi milik saya satu-satunya, maka disinilah semuanya tumpah.

Kadang saya bingung dengan sifat wanita. Mungkin itu sebabnya saya dapat dikatakan kurang romantis. Bingung karena ternyata mereka punya pemikiran yang sudah sedemikian jauh, padahal jujur saja pikiran saya tidak sampai sejauh itu.

Dengan kesibukan pekerjaan kantor, dari  survey, membuat dokumen, gambar dan peta, pemeriksaan pekerjaan, berpanas-panas dilapangan hingga ke hal-hal yang membutuhkan  konsentrasi pikiran jauh lebih dalam seperti instalasi Debian untuk persiapan Pelatihan Tim LPSE yang terakhir saya lakukan, jujur saja belum pernah terlintas satu pikiran untuk bermain api dengan perempuan lain.

Memang saya akui, jika laki-laki umumnya memang suka memancing sedikit di air keruh. Suka bermain api kecil dan secara tak sadar mampu membesar dengan sendirinya dan membakar semua cita yang sudah dirintis sejak awal. Demikian pula lingkungan kerja kami. PNS merupakan oknum urutan pertama yang memiliki kecenderungan untuk bermain seperti itu. Tapi bukankah ‘tidak semua’ PNS seperti itu ? sama halnya dengan membolos kerja, ‘tidak semua’ PNS memiliki mental bobrok begitu.

Sangat menyakitkan ketika wanita yang begitu saya puja dan cintai tiba-tiba mengindikasikan saya sejauh itu dan rata-rata rekan kaumnya mengamini kecurigaan tersebut. Kalo sudah begitu, lebih baik saya diam saja. Biarlah waktu yang akan menjawabnya…

Pada akhirnya, hal-hal seperti inilah yang paling saya benci. Diindikasikan ada main dengan perempuan rekan sekantor. Padahal saya berani mempertaruhkan kepala dan reputasi saya untuk membuktikan bahwa itu tidak benar. Tapi memang, Gak salah jika Istri saya bersikap demikian, karena orang lainpun saya yakin akan punya pemikiran yang sama.

Hal yang kemudian memecah konsentrasi kerja dan mood untuk ng-BLoG…