Menikmati Sepinya Selasa Pagi Pasca Social Distancing Corona

Saat alarm berbunyi sekitar pukul 4 pagi, saya masih merasa malas untuk segera bangun dari tidur, padahal biasanya jam segini sudah masuk kamar mandi dan bersiap beraktifitas sebagaimana biasanya. Kali ini agak berbeda.

Anak-anak sekolah diliburkan hingga akhir Maret nanti. Semua pembelajaran dilakukan secara online, melalui whatsapp group. Ujian pun ditunda. Itu sebabnya pikiran jadi lebih santuy saat teringat akan tiadanya kewajiban mengantarkan mereka ke sekolah pukul 6.30.
Sebuah pola Sosial Distancing Measure yang diterapkan oleh masing-masing kepala daerah pasca edaran atau instruksi dari pemerintah pusat dan provinsi.

Selasa pagi ini terasa sekali jauh lebih sepi dari biasanya. Suasana jadi seperti Nyepi yang dilakukan jauh lebih awal. Aktifitas mebanten pekideh pagi pun terasa lebih hening dari biasanya.

Jalanan kota Denpasar pun menyiratkan hal yang sama. Area Nangka Selatan yang biasanya riuh dan gaduh, kini terasa lebih lengang. Bahkan di kawasan sekolah Taman Rama pun, gak terasa lagi keruwetan lalu lintasnya. Kendaraan melaju santuy melantuy dari rumah sampai Puspem Badung. Ada yang hilang rasanya.

Satu dua pedagang kecil pinggir jalan mengakui perubahan ini. Warung yang biasanya ramai pembeli dan pegawai yang akan berangkat kerja, jadi lebih leluasa saat saya mengambil beberapa potong pisang goreng sebagai sarapan pagi ngantor nanti. Pemiliknya pun sempat bertanya perihal kebenaran asn atau pegawai negeri yang infonya diliburkan demi mengurangi dampak penyebaran virus Corona.
Ya, sebagian besar memang sudah diliburkan per hari ini. Yang masih berkewajiban ngantor adalah mereka yang masuk golongan struktural, bidang yang masih memiliki pekerjaan mendesak, pelayanan publik atau penugasan piket harian. Sisanya dipersilahkan bekerja dari rumah, dan wajib lapor secara rutin ke masing-masing pimpinannya.
Staf yang ada di bidang kami pun, saya info agar berdiam diri di rumah, dengan ponsel dan data yang menyala saat jam kerja dan jangan berpergian jauh dari rumah. Menunggu kabar baik dari pimpinan.

Segelas kopi dan lantunan lagu-lagu lawas masih setia menemani sepinya selasa pagi ini.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik