Kami Darurat Bilik Asmara

Progress pekerjaan Bedah Rumah Tainsiat sudah masuk ke Minggu 19, waktu yang cukup lama untuk bisa membangun tempat tinggal berlantai.
Selain kami harus bedol rumah ke tempat lain yang bisa dikatakan cukup terbatas dalam hal menampung jumlah anggota keluarga, kebutuhan akan Bilik Asmara adalah persoalan tambahan yang kini mulai kami rasakan. Apalagi keberpihakan anak-anak pada siapa yang diajak bobok kali ini, menambah parah kadar kedaruratan kebutuhan tadi.
Yup, Kami berdua sepertinya darurat Bilik Asmara.

Yang namanya hasrat, bagi generasi ‘life begin at 40’ sepertinya kemesraan boleh dikatakan makin bertambah. Ya syukur-syukur hasrat itu muncul bersama pasangan sendiri, bukan pasangan tetangga. Tapi infonya bakalan jadi penyakit jika gak bisa dilampiaskan. Nah, kebetulan kami berada dalam posisi ini.

Maka sejak si bungsu sebegitu ngotot agar bisa bobok bareng Bapak setiap malam, sementara sulung gantian bareng Ibu, jadi makin sulit untuk bisa melakukan aksi, saat hasrat itu muncul secara tiba-tiba. Jauh lebih sulit ketimbang sebelumnya, yang meski dilakukan di ruang tamu dengan tantangan kehadiran pihak ketiga, isyaratnya masih bisa ketahuan. Na ini ?

Otak diputar, rasa malu pada lingkungan pun harus simpan di almari rumah. Agar ide-ide brilian bisa muncul demi keutuhan rumah tangga.

Gimana dong Gaes ?

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik