Mereka Cahaya yang selalu Ada

Category : tentang Buah Hati

Hari masih gelap, hanya ada sedikit penerangan yang masih menyala disekitaran rumah. Satu persatu langkah kaki perlahan menyusuri paving lama menunaikan tugas rutin pagi sebelum berangkat kerja. Tawa anak-anak terdengar nyaring dari kejauhan.

Ara dan Intan sudah bangun rupanya.

Dua wajah mungil itu hadir di kaca jendela memanggil-manggil Bapak dengan nada yang riang. Sesekali neneknya mengingatkan keduanya agar tak terlalu ribut lantaran ini masih pagi buta, belum banyak yang tersadar dari mimpi.

Si bungsu Ara, hari ini menginjak usianya yang ketiga tahun. Gak nyangka aja kalo ia sudah sebesar ini.
Bayi yang dulu pernah ditangisi saat terbaring lemah falam inkubator rumah sakit, tumbuh dengan segala kepintaran dan tawa candanya dengan nada bicara khas. Kalian yang biasa menghubungi kami lewat nomor rumah, pasti tau siapa pemilik suara penerima telepon kami.

Intan yang kini sudah masuk ke jenjang TK besar, merupakan teman setia si bungsu dalam bermain, bercerita dan juga bertengkar. Ia terlalu polos untuk berada diantara adik dan kakaknya. Selalu mengalah jika dijahati. Jadi paling cengeng dan sensi. Berusaha menarik perhatian kami, kedua orang tuanya jika sudah berada di rumah saat hari libur. Belakangan mulai tertarik untuk live secara rutin di akun instagram milik Ibunya.

Si sulung Mirah, tumbuh tinggi dan jangkung untuk anak seusianya. Apalagi saat bersanding dengan kawan-kawan sekelasnya. Selalu menginginkan segala sesuatunya bisa tampil sempurna termasuk soal waktu. Mirip neneknya. Sudah mulai keteteran jika berhadapan dengan mata pelajaran di sekolahnya meski hingga hari ini masih dipercaya memegang rangking tiga besar di kelasnya.

Anak-anak ini benar-benar karunia Tuhan yang paling indah. Banyak orang rela menghabiskan waktu luang untuk bisa menikmati tumbuh kembang mereka yang berharga. Banyak juga yang masih tetap berupaya bisa mendapatkan kesempatan yang sama menikmati anugerah-Nya. Namun banyak juga yang tak menginginkan keberadaannya.

Bagi kami, Mereka adalah cahaya yang kelak akan selalu ada bagi kedua orang tuanya.

Polemik Parkir Mahal Hotel Mulia Nusa Dua

4

Category : tentang Opini

Hari minggu pagi lalu, saya di-mention oleh akun @pekaklonto, kawan di media sosial Twitter, yang meReTweet akun milik @AryaWBPinatih46 dengan caption “Kok hotel mewah bayar parkir? Aturan dr mana ini? Uang parkir nya lari kmana? @pekaklonto @BaleBengong” lengkap dengan gambar print out karcis parkir di Hotel Mulia Nusa Dua sebesar 55 Ribu rupiah untuk parkir selama 10 jam 54 menit bagi kendaraan DK 21** LT.

Lantaran kurang paham dengan aturan terkait, jawaban balasan yang saya sampaikan cukup sederhana. Hanya menyinggung pengalaman parkir di Level 21 Denpasar (yang disanggah bukan parkir hotel/sejenis), dan juga pengalaman order Grab di sebuah hotel bintang tiga area Tebet Jakarta. Dimana parkiran hotel juga dikenakan charge sehingga kesepakatan order dengan sopir Grab, agar saya menunggu diluar area hotel atau jika tetap ngotot nunggu di lobi hotel, biaya parkir saya yang menanggungnya.

Berselang sehari, postingan serupa muncul di grup Suara Badung akun media sosial FaceBook yang diunggah oleh Bli Surya Darmadi. Link postingan terkait bisa dilihat disini.
Yang rupanya sudah mendapat tanggapan, mengecam tindakan penerapan parkir semahal itu hingga mencaci maki pihak Hotel Mulia.

Berbekal sedikit pengetahuan akan pengenaan parkir serupa di dua publik area diatas, saya pun mencoba mengulik lebih jauh dengan bantuan Google. Berikut hasilnya yang saya sampaikan sebagai komentar dalam postingan diatas.

* * *

OSA Semeton Kabupaten Badung…
Mohon Maaf jika ada yang kurang berkenan dengan komentar tiang berikut ini. Bukan bermaksud menggurui, namun tiang harap kita semua bisa sama sama belajar terkait ini. Sehingga apabila Salah, mohon bisa dikoreksi, mengingat tiang bukan berasal dari Bidang/Instansi yang menangani urusan Parkir.

Penetapan Tarif Parkir berdasarkan peraturan dari Perhubungan Darat ditentukan melalui Perda Daerah setempat.

Untuk wilayah Kabupaten Badung, tiang menemukan Perda Kab.Badung Nomor 13 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Fasilitas Parkir. Dimana pada Pasal 26 menyatakan :
(1) Penyelenggara Fasilitas Parkir di luar Rumija (ruang milik jalan) …. dapat memungut biaya terhadap penggunaan fasilitas yang diusahakan.
(2) Satuan Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan :
a. Penggunaan Fasilitas Parkir per Jam, per hari ; atau
b. …

Sementara yang tergolong Fasilitas Parkir di luar Rumija bisa dilihat pada Pasal 14 ayat (1) poin b. Gedung parkir, taman parkir dan/atau tempat sebagai fasilitas penunjang kegiatan pada bangunan utama.

Jadi sementara, untuk Kasus Hotel di Kabupaten Badung berdasarkan Perda diatas, bisa jadi diBenarkan ?
Mohon dikoreksi apabila Salah.
Namun terkait besaran Tarif Parkirnya, mungkin Rekan dari Dinas terkait di Kabupaten Badung bisa menjawabnya ?

Sementara itu, Kota Denpasar sendiri menetapkan Perda nomor 5 Tahun 2013 dimana berdasarkan berita media online Nusa Bali 2 Maret 2018 lalu, informasinya PD Parkir Kota Denpasar mulai menerapkan tarif parkir progresif untuk dua tempat yaitu Ramayana dan Level 21. Alasannya bisa dibaca pada paragraf terakhir berita diatas, dan masuk akal.

> Dengan penerapan tarif progresif juga diharapkan mampu menanggulangi overloadnya parkir karena satu mobil atau motor parkir dikenakan perjam. “Kemarin biasanya satu mobil atau motor bisa berjam-jam bahkan harian parkir di lokasi, kini dengan tarif progresif kendaraan bisa cepat bergeser agar bisa dimanfaatkan pengendara lain.”

Link berita : Nusa Bali

Matur Suksema.

4 Hal Penting yang Wajib Diketahui Sebelum Menjadi Agen Pegadaian

Category : tentang Opini

Siapapun Bisa Jadi Agen Pegadaian.

Begitu penyampaian rekan-rekan dari PT.Pegadaian (Persero) hari sabtu siang kemarin di Istana Taman Jepun dalam agenda Seminar Sosialisasi Fintech #BisnisJamanNow Agen Pegadaian yang bekerja sama dengan IWITA (Indonesia Women IT Awareness).

Pesertanya cukup membludak. Dari sekian banyak kursi yang disiapkan, tim panitia sampai harus menambahkannya lagi plus satu tenda besar di sisi sebelah kiri wantilan untuk menampung antusiasme masyarakat yang hadir di bawah teriknya matahari.
Luar Biasa acara ini.

Seminar ini dipandu oleh Mas Casmudi VB, salah seorang blogger Bali yang piawai laiknya motivator, bersama 5 narasumber lainnya yang sejak awal mencoba memperkenalkan #BisnisJamanNow Agen Pegadaian dalam rangka menyambut hari jadi PT.Pegadaian (Persero) yang ke 117 tahun.

Dari sekian banyak pemaparan dan peluang kerja bagi para wanita khususnya, kelihatannya ada 4 hal penting yang wajib kalian ketahui sebelum memutuskan untuk jadi Agen Pegadaian.

Pertama, ini #BisnisJamanNow.
Yang namanya Bisnis tentu tidak akan bisa dilepaskan dengan yang namanya Untung dan tentu saja, Rugi.
Hal ini sepertinya luput dari perhatian sekian banyak peserta lantaran sejak awal dicekoki akan sisi kelebihan saat memutuskan langkah untuk menjadi Agen Pegadaian. Misalkan saja pada video dua anak muda yang diskusi di warung Ibu Berkah. atau video dua ibu muda yang sudah lama tidak bertemu.
Sehingga sebelum melangkah ke poin berikutnya, ada baiknya pertimbangkan juga akan adanya kemungkinan kerugian yang bisa ditemui diluar penyiapan modal awal, apabila kelak salah mengambil keputusan.
Sarannya, ambil sesi pelatihan atau pendidikan yang memadai dari Pegadaian dahulu sebelum lanjut terjun menjadi Agen Pegadaian.

Kedua, Lokasi.
Salah satu poin yang wajib dipenuhi untuk bisa menjadi seorang Agen Pegadaian adalah Lokasi atau Tempat atau Ruang yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai area Transaksi. Persyaratannya kalau tidak salah, dekat dari salah satu kantor cabang PT.Pegadaian (Persero) atau minimal mudah dijangkau oleh transportasi umum. Bahkan Gojek sekalipun. Hal ini menjadi penting, mengingat seorang Agen Pegadaian akan menjadi kepanjangan tangan dari sebuah BUMN Nasional yang resmi dan legal.
Namun kendalanya, tidak semua orang atau Peserta memiliki peluang ini. Jika beruntung, di depan rumah ada areal tempat yang bisa dimanfaatkan atau paling minim menyulap ruang depan, teras atau ruang tamu sebagai area transaksi sebagai Agen Pegadaian. Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki peluang itu ? Apakah diwajibkan menyewa lahan atau tempat sebagai area transaksi kelak ? Mungkin iya, dan itu kembali ke pertimbangan pertama, agar memasukkan biaya sewa sebagai bagian dari modal awal.

Ketiga, Agen Gadai.
Sebenarnya ada 3 jenis Agen yang dijelaskan oleh rekan-rekan dari PT.Pegadaian (Persero), yaitu Agen Gadai, Agen Pemasaran dan Agen Pembayaran. Namun dari pemaparan awal hingga adanya penyampaian informasi Free Voucher Top Up bagi 4 Pendaftar Pertama hari itu sebagai Agen Pegadaian, sepertinya lebih mengarah pada opsi peluang sebagai Agen Gadai. Padahal, tanpa pengetahuan atau pengalaman awal yang cukup, sangat beresiko bagi peserta baru untuk bisa mengambil keputusan menjadi Agen Gadai. Dimana pola kerjanya setelah diamati jadi mirip Makelar Tanah namun peluang ini bisa dikatakan Legal dan dilindungi payung hukum secara resmi. Mohon Maaf jika Salah.
Kenapa mirip, karena sebagai Agen Pegadaian, diwajibkan menaksir harga atas barang yang akan digadai, sebelum memberikan sejumlah pinjaman uang kepada si penggadai, dimana uang itu akan didapatkan kembali pasca barang diserahkan ke Pegadaian. Permasalahannya, apakah nilai yang ditaksir pada awal peminjaman akan setara atau bahkan lebih rendah dari nilai yang nantinya akan ditaksir oleh Pegadaian ? Kalau tidak, maka Nilai Kerugian sudah ada didepan mata.
Sehingga sarannya ada dua. Memberi taksiran harga atau pinjaman yang sekiranya lebih rendah dari Pegadaian tadi walaupun secara pengalaman pertama, bakalan sangat sulit bisa dicapai atau lagi-lagi pahami semua tips standar harga yang nantinya akan diberikan saat pelatihan atau pendidikan oleh PT.Pegadaian (Persero) sebelum terjun ke kancah perang.

Keempat, Opsi Aman, Pilihan Tepat ?
Bila menjadi Agen Gadai dianggap penuh Resiko, maka pilihan Aman bagi Pemula, yang mana ?
Tentu saja menjadi Agen Pembayaran atau Agen Pemasaran, sebagaimana info dari rekan PT.Pegadaian. Mengapa ? Karena dalam peluang dua opsi inilah sekiranya Modal Awal bisa dikatakan tidak dibutuhkan terlalu besar atau bahkan tidak sama sekali.
Sebagai Agen Pembayaran laiknya jasa pembayaran lainnya, dimana tugasnya adalah mengkolektif pembayaran angsuran atas kredit atas pinjaman atau multi payment lainnya yang memang sudah jelas, dengan nominal fee yang kelak akan didapat ketika nilai pembayaran kolektif itu disampaikan ke PT.Pegadaian (Persero).
Demikian halnya dengan Agen Pemasaran, yang entah apakah memiliki pola kerja seperti agen asuransi, customer get customer, atau sekedar penjualan branding di sosial media ? Tapi sepertinya sih lebih ke kemungkinan CgC tadi.
Nilai Fee atau keuntungan yang didapatkan dari dua jenis Agen Pegadaian ini tentu saja lebih kecil dari besaran Fee atau keuntungan yang bisa didapat dari opsi menjadi Agen Gadai. Tapi kembali ke soal Resiko, ya dimaklumi karena dua jenis Agen diatas, bisa dikatakan memiliki resiko yang tidak seberapa.

Nah kira-kira itu Empat Hal Penting yang Wajib Kalian ketahui sebelum memutuskan langkah untuk menjadi Agen Pegadaian. Sekiranya ada poin yang salah, mohon dapat dikoreksi kembali.

Tetap Semangat.

Siapapun Bisa Jadi Agen.

Ketika Tidak Ada Lagi Cinta Diantara Kita

4

Category : tentang Opini

Menarik sekali ketika bisa menyimak pembicaraan terbatas buk ibuk milenial di kendaraan saat meluncur ke arah Denpasar siang hari kemarin, dimana topik yang lagi hangat-hangatnya bisa diperbincangkan dengan kepala dingin dari sudut pandang orang kelima. Yang artinya, bukan siapa-siapa bahkan host infoTAIment sekalipun.

Namun kisah yang kerap terjadi pada banyak orang ini rupanya dialami juga oleh orang-orang terdekat kita, yang dikasihi atau bahkan yang menjadi panutan dan disegani sekalipun.
Kisah Cinta antar dua manusia yang berbeda kelamin tentu saja, namun seiring berjalannya waktu dan usia, menciptakan situasi ketika tidak ada lagi Cinta diantara Kita.

Berbagai analisa dan alasan yang dikemukakan, sesungguhnya belum mampu menjadi pembenaran diantara kedua pihak. Karena memiliki sisi positif dan negatif secara bersamaan. Sama seperti semua cerita kehidupan yang lain.
Tapi jelas yang paling terpukul dari kasus perceraian jika sampai itu terjadi, tidak hanya jatuh pada sang anak yang kelak bakalan diperebutkan hak asuhnya. Namun berimbas pula pada sang Ibu atau pihak perempuan, utamanya jika pernikahan ini dilakukan dalam adat dan budaya Bali ataupun Hindu.

Pemikiran ini muncul lantaran dalam budaya Bali, pihak perempuan harus menjalani prosesi ‘mepamit’ atau mohon ijin meninggalkan keluarga asal, untuk menjadi bagian di keluarga suami, baik secara sekala kepada orang tua, maupun niskala kepada para leluhur dimana ia lahir dan tinggal. Membayangkan posisi yang bersangkutan pasca perceraian tentu akan menjadi gamang, karena tidak bisa ‘dikembalikan’ begitu saja bak meninggalkan barang bekas di pinggiran jalan.

Akan menjadi lebih sulit lagi ketika perpindahan status si perempuan sampai melibatkan soal kultur dan keyakinan. Katakanlah sampai rela mengubah budaya serta agama yang dianut sebelumnya.
Hal ini amat sangat berbeda jauh ketika proses perkawinan dan perpindahan kultur serta keyakinan terjadi dalam kondisi sebaliknya. Si perempuan cenderung disayang dan dijaga betul sehingga kerap menjadikannya memiliki fanatisme yang jauh lebih besar dan lebih dalam ketimbang sang suami yang sudah sejak awal memeluk agama dan budayanya.
Masuk akal.

Jadi teringat pada cerita dari seorang kawan, saat ia berkunjung ke rumah bersama salah satu putranya yang sudah beranjak dewasa. Perkawinannya kandas di tengah jalan.

Akan ada saat dimana tidak akan ada lagi Cinta diantara kita. Diantara dua manusia yang mengikat janji jauh sebelumnya dan berupaya untuk saling setia dihadapan sanak saudara atau handai taulan.
Dan ketika berada dalam situasi ini, yang tersisa hanyalah sebuah komitmen. Sebuah janji yang sebenarnya wajib dan harus kita tepati hingga ajal dan kematian yang akan memisahkan.

Disinilah dua manusia itu akan diuji oleh-Nya atas semua keputusan yang dahulu pernah diambil.

Apakah akan berpisah dengan alasan sudah tidak ada lagi Cinta diantara kita, dengan alasan tidak ada kecocokan, atau dengan alasan bosan dan telah berpaling ke makhluk-Nya yang lebih menggoda ?
Atau akan meneruskan kapal hingga akhir pertemuan ?

Siapa yang tahu ?