Heningnya Nyepi Tanpa Dunia Maya

Category : tentang DiRi SenDiri

Langit yang tadinya cerah benderang, kini sudah beranjak menjelang sore. Suasana rumah dan lingkungan masih sama. Terasa sunyi dan sepi.
Kicauan burung yang tadi pagi ramai terdengar, berganti dengan obrolan canda para sepupu di bale bali. Hari biasa tak akan pernah sejelas ini dari jauh.

Kaki masih melangkah satu demi satu. Menyusuri permukaan paving natural halaman rumah yang kini sudah mulai berdebu. Tertutup tanah juga lumpur pasca hujan seharian kemarin. Mengering menyisakan lapisannya yang kotor pada kedua telapak kaki ini.

Perayaan Nyepi tahun ini jauh lebih hening. Bisa jadi lantaran sebagian besar operator internet membunuh jaringan mereka dalam satu hari penuh sejak pagi. Membuat dunia maya seakan kosong tak berdaya.

Tak terlihat lagi pembagian informasi provokasi Nyepi sejauh ini. Pula makian demi makian atas ketidakpuasan larangan aparat desa setempat, yang diunggah ke media sosial.
Warga Bali tampaknya jauh lebih menikmati Tahun Baru Caka 1940 ini. Setidaknya demikian yang tampak di permukaan.

Sebotol besar Tuak habis ditenggak seharian ini. Sedikit demi sedikit.
Masih ada dua botol lagi yang tersisa di dalam kulkas. Bekal buat diri sendiri melewati gelapnya malam Nyepi.
Rasa pening pun mulai mendera kepala. Melebarkan alur aliran darah, siap mengantarkan tidur ke alam mimpi.

Onet, Membunuh Waktu Perayaan Nyepi Tanpa Internet

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu keluhan terbesar netizen yang berdomisili ataupun berlibur di Bali saat perayaan Nyepi tahun ini adalah ketiadaan Internet. Keputusan Kominfo atas dasar usulan dari PHDI beberapa waktu lalu rupanya didukung penuh oleh sejumlah besar operator internet tanah air, utamanya dalam kaitan jaringan telekomunikasi.
Maka lengkap sudah penderitaan mereka yang sebelumnya sudah sangat berkeberatan dengan adanya empat larangan sebagaimana tertuang dalam Catur Brata Penyepian, kini ditambah pula dengan Amati Internet.

Tidak bisa Update Status, berbagi Swa-Foto, selfie di jalanan, atau bahkan War antar pejuang Mobile Legend.
Tak tampak lagi kerumunan anak-anak di pojokan rumah sambil menggenggam ponsel dan menatap lekat layar gawai masing-masing. Berganti dengan tiduran sepanjang hari setelah lelah mengarak ogoh-ogoh semalam suntuk.

Kalian yang tidak termasuk pada golongan diatas, sudah ngapain saja seharian ini ?
Menonton film di layar pc, bercengkrama dengan keluarga sambil memandangi cerahnya langit, mencandai adik bayi yang lucunya melebihi pikachu, atau bahkan bermain games tanpa akses inernet pada layar ponsel, bisa jadi pilihan bagus untuk membunuh waktu seharian ini.

Adalah Onet, satu games yang selama ini setia menyambangi layar depan kedua ponsel yang saya miliki, namun lantaran kesibukan jadi jarang dimainkan. Kali ini jadi favorit saya sepanjang hari, disela kelelahan menulis, mencoba memenuhi resolusi perayaan Nyepi tahun ini.

Caranya cukup mudah. Hanya menemukan dua gambar pokemon yang serupa, pada sisi yang sama atau berhadapan. Semudah cocot para motivator dalam mengemukakan pemikiran mereka akan nikmatnya hidup.
Namun yang membuat pemainnya sedikit kesulitan adalah upaya mata untuk bisa menemukan dua gambar serupa tadi, dari 128 gambar senada yang diatur dalam grid berdempetan 16×8. Dalam waktu yang singkat.
Jangan harap bisa leyeh leyeh saat memainkan games yang satu ini, karena selain harus berpacu dengan waktu, mata kalian dituntut pula ketelitiannya dalam menemukan pasangan yang sama.

Selama memainkan Onet, dari sekian kali percobaan ulang, level rendah 4-5 lumayan membuat frustasi lantaran tingkat kesulitan menemukan karakter yang sama pada posisi yang sejajar, cukup menyulitkan. Sehingga dari 6 kesempatan untuk melakukan pengacakan gambar, harus terbuang percuma pada kedua level tadi. Namun jika beruntung, kalian bisa mencapai level hingga 25-an, tanpa pernah tahu permaianan ini punya tingkatan tertingga pada level yang mana.
Sangat berbeda dengan Onet versi PC yang hanya sampai Level 7, pemain sudah bisa mencatatkan namanya pada scoreboard.

Konsumsi Tuak dan Konsekuensinya

Category : tentang Opini

Nyaris empat puluh tahun hidup dan beraktifitas, baru dalam setahun terakhir ini berani membawa pulang miras dan menyimpannya dalam kulkas, serta dinimati secara terang-terangan di rumah sendiri.
Efek pergaulan di luar rumah memang terasa bedanya.

Tapi eits, jangan Negatif Thinking dulu kawan.
Miras atau minuman keras yang saya bawa ini tentu bukan miras sembarangan apalagi oplosan.
Bukan pula minuman campur sari yang ditambah-tambahi gerusan obat nyamuk bakar atau rendaman pembalut wanita.
Ini Tuak.
Tuak adalah Nyawa.

He… kurang lebih begitu nyanyian lokalan Bali yang lagi ngeTrend selama setahun terakhir. Hasil kolaborasi genjekan semeton kangin, melahirkan theme song baru bagi kalangan anak-anak muda Bali peminum Tuak, yang kalau tidak salah, mengambil nada teriakan ole ole ole sepak bola dunia.

Tuak sendiri dari info yang saya baca adalah minuman hasil fermentasi dari pohon jaka atau aren yang banyak ditanam penduduk desa, utamanya di Desa Sibang Gede atau Desa Taman, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Ini salah dua desa yang saya ketahui sebagai penghasil Tuak Terbaik sejauh ini.
Bisa jadi masih banyak desa lainnya, jika mau ditelusuri lebih jauh.
Yang kalau difermentasi lebih mendalam lagi, bakalan berubah menjadi miras terbaik di pulau Bali, yaitu Arak Bali.
Saya mah berani mengkonsumsi sampai tingkat Tuaknya saja.

Dilihat dari Hasil Tuak yang difermentasi, ada beragam juga yang saya dengar. Namun dari sekian banyak varian yang ada, Tuak wayah dari Desa Sibang Gede ini saja yang menjadi favorit saya sejauh ini. Tahu kenapa ?

Karena selain efek yang diakibatkan pasca mengkonsumsi Tuak wayah Sibang Gede, yaitu pening kepala dan rasa kantuk yang teramat sangat, manfaat lainnya adalah mampu menurunkan kadar gula darah secara drastis bila dikonsumsi secara berkala. Entah benar atau tidak, dari beberapa kali pemeriksaan gula darah pasca mengkonsumsi Tuak, memang terpantau turun drastis meski sebelumnya berada pada titik diatas 200 mg/dl.
Bisa jadi karena pengaruh sugesti juga sih.

Namun demikian, saya pribadi tidak menyarankan Tuak dan minuman semacam ini jadi konsumsi kalian kedepannya, lantaran efek dan konsekuensi yang mampu ditimbulkannya tadi, cukup berat dirasakan bagi sebagian orang. Utamanya bagi mereka yang belum mampu mengendalikan diri fan nafsu saat berada dalam situasi lupa akan kesadaran diri sendiri.
Saya yang kerap mengkonsumsi Tuak saja tidak membutuhkan waktu lama untuk mengubah warna kulit wajah menjadi merah padam. Memudahkan kawan kerja di ruangan untuk segera menyadari bahwa saya sudah terkontaminasi kandungan Tuak. Memabukkan.
Lantas memilih tiduran ketimbang bicara ngelantur. Jauh lebih aman bagi diri sendiri juga lingkungan.

Sama seperti menggunakan Pisau atau Sosial Media. Mengkonsumsi Tuak ada sisi Positif, juga sisi Negatifnya. Tergantung dari kalian memilih opsi yang mana.

24 Jam Tanpa YouTube, Perayaan Nyepi di Bali

Category : tentang Buah Hati, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Kalian yang berdomisili dan liburan menikmati Nyepi di Bali, apa kabarnya hari ini ?
Sudah dapat main kemana saja sejak pagi ?

Ditinggal tidur siang sejam lamanya, akhirnya rencana Pemutusan Jaringan Internet di Bali, jadi juga dilaksanakan. Setidaknya pada jaringan yang kami gunakan sejauh ini di rumah. IndiHome.
Padahal sejak pagi tadi, koneksi masih aman lantjar djaja. Dipakai unduh majalah oke, dipake YouTube-an oleh anak-anak pun Nevermind. Aman…

Tapi apa kata Dunia saat bangun dari tidur pasca menenggak dua gelas Tuak usai olah raga tadi, Internet mendadak hilang dan jaringan dua arah berganti menjadi tanda seru ?
Biarkan saja. Selow…

Toh juga anak-anak, pangsa pasar pengguna utama halaman YouTube di gawai mereka masing-masing, sudah diinfokan dari jauh-jauh hari sebelumnya.
Bahwa Pak YouTube pada Hari Raya Nyepi besok gak bakalan bisa dipake, karena Internetnya Capek.
Done. Selesai sudah.
Mereka paham, dan nggak ada rewel sejak pagi tadi hanya karena ndak bisa menonton video Upin Ipin, Doraemon atau Banjir Air Mata-nya Fun Cican.
Lebih memilih menikmati puluhan koleksi video serupa yang sudah diunduh sebelumnya.
Anak-anak dan ketergantungan mereka pada YouTube, gawai juga koneksi internet adalah satu hal yang mengkhawatirkan sejumlah kawan netizen penghuni dunia maya saat agenda pemutusan internet selama pelaksaan Hari Raya Nyepi diberlakukan di Bali.

Sebagai gantinya, mereka asyik bermain boneka sejak pagi, bermain andai-andai di sejumlah tempat sekitaran rumah, hingga berlagak bermain dengkleng padahal saya yakin mereka tak paham sama sekali bagaimana cara bermainnya.
Sungguh menarik dunia anak-anak sesungguhnya.

24 Jam tanpa akses ke halaman YouTube hari ini.

Dinikmati saja, toh hanya sehari ini.

Pelaksanaan Nyepi dan agenda Pemutusan Internet di Bali

Category : tentang Opini

Salah satu pertimbangan khusus yang diambil oleh PHDI dibalik rencana dan usulan pemutusan jaringan Internet kepada Kominfo dan sejumlah operator jaringan telekomunikasi di Bali pada pelaksanaan Hari Raya Nyepi tahun ini adalah untuk mencegah polemik yang ditimbulkan di dunia maya, dari orang per orang yang tidak puas dengan pemberlakuan Catur Brata Penyepian sebagai budaya seluruh Umat Hindu di Bali. Ketidakpuasan mereka biasanya diunggah melalui status akun media sosial FaceBook yang memang belakangan makin lumrah digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat bahkan anak ABeGeh tingkat eSDe sekalipun, yang secara nalar bisa jadi belum paham, mana yang pantas diumbar secara luas, mana yang hanya untuk konsumsi pribadi. Meski yang namanya pembatasan umur minimal 13 tahun sudah ditetapkan oleh pihak FaceBook. Tetap saja bisa ditembus dengan mudah.

Bagi sebagian besar pengguna Internet di Bali tentu saja hal ini menimbulkan pro dan kontra. Ada yang setuju, ada juga yang sebaliknya. Namun ada juga yang memilih selow, macam saya. Just kidding.

Mereka yang Tidak Setuju hadir dari kalangan pengguna Internet tingkat mahir, yang bertanggungjawab pada keluhan Customer dan Client untuk Jasa terkait Data ataupun lainnya yang disampaikan secara online, atau mereka yang khawatir akan penyampaian informasi Bencana utamanya Gunung Agung bakalan tersendat, pula hadir dari kalangan freak pemain games Mobile Legend. Apa kata Dunia jika tak bisa War seharian nanti ?

Sementara kalangan yang Setuju dengan pemberlakuan kebijakan diatas, bahkan yang memilih Selow dan abai, hadir dari kalangan yang bisa jadi tidak memerlukan jaringan Internet secara permanen, hanya digunakan untuk berSosial Media dan aktifitas ringan lainnya, atau yang sudah menyadari tantangan yang bakalan timbul setiap Hari Raya Nyepi dilaksanakan. Seperti saya. Hohoho…

Kenapa bisa Selow saja menanggapi pemberlakuan agenda pemutusan Internet ini, ya toh hanya sehari saja. Bukan seminggu, bahkan sebulan penuh.
Hanya 24 Jam, terhitung dari pukul 06.00 pagi hari saat Hari Raya Nyepi hingga pukul 06.00 hari minggu esok harinya. Itupun dikurangi sekian jam waktu tidur malam dan siang kalo ada.
Mengurangi keuntungan atau menimbulkan Kerugian ? Hanya sehari juga.

Pro dan Kontra terkait rencana Pemutusan Internet rupanya tidak hanya terungkap di kalangan Netizen yang berdomisili di Bali. Di luaran juga ada. Oleh mereka yang bukan Umat Hindu pun juga ada.
Bisa begitu lantaran bisa jadi mereka belum pernah mengetahui kasus per kasus penghinaan Nyepi yang terjadi saban Hari Raya Suci ini dilaksanakan. Kalian yang penasaran bisa mencarinya di halaman blog saya ini, dengan menggunakan kata kunci terkait tadi. Ada banyak kejadian dalam waktu yang berbeda.

Persoalan rencana Pemutusan Internet bagi kalangan Umat Hindu yang terbiasa menjalankan Tapa Brata Penyepian, saya yakin bukanlah satu masalah besar.
Karena kalaupun mau mengambil langkah yang lebih ekstrem lagi, bagi kalian yang memiliki kondisi kesehatan tanpa sakit yang berbahaya macam Diabetes, saya jaminkan tidak akan mati hanya karena tidak mengkonsumsi apapun selama 24 bahkan 36 jam kedepan. Jadi seandainya kalian hidup sendirian tanpa teman di kosan, nggak usah ikutan antre di supermarket, membeli jatah makan sebulan hanya karena merasa bakalan dikurung dalam rumah selama Nyepi.
Yang notabene dalam ajaran Hindu, aktifitas ini memang dianjurkan untuk menahan hawa nafsu selama melaksanakan Catur Brata Penyepian, dan yang paling gampang dilakukan adalah menahan lapar.

Lantas Nikmat apa lagi yang kau jadikan alasan untuk tidak menikmati Nyepi di Bali ?

Resolusi Nyepi dan 10 Postingan Blog hari ini

Category : tentang KeseHaRian

Untuk sesaat disela aktifitas olah raga pagi, saya jadi ingat satu gambar capture salah satu akun IG, yang lupa disimpan di ponsel mana, menceritakan perbedaan kapasitas isi pikiran dengan banyaknya perkataan yang dapat diungkap. Hal ini cukup menggelitik mengingat kebenaran akan fakta yang ada.
Kita memang jarang membicarakan hal yang kita pikirkan selama ini.
Bagaimana jika kalian adalah seorang Blogger ? Seperti saya misalkan ?

Cukup menarik. Mengingat Blogger sejatinya sangat jarang berkata-kata, namun sebaliknya mampu menuangkan kata dan pikiran dalam bentuk tulisan atau kalimat.

Satu hal yang saya tekankan kemarin malam saat ngeTwit, adalah ‘masih banyak hal yang bisa dilakukan saat Nyepi, meskipun harus mengikuti aturan yang berlaku dalam Catur Brata Penyepian. Termasuk didalamnya rencana pemblokiran Internet untuk wilayah Bali.’
Terkait dengan hal diatas, dalam Nyepi kali ini, sebagai seorang Blogger, salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan waktu luang yang ada seharian ini, tentu saja Menulis.
Sehingga satu Resolusi yang ingin dicapai hari ini adalah 10 postingan Blog terkait semua hal yang sekiranya bisa dilakukan saat Nyepi. Tidak hanya dipikirkan namun mampu dituangkan dalam satu cerita singkat.
Kira-kira mampu nggak ya ?

Kalian sendiri punya kegiatan apa hari ini untuk mengisi waktu ? Jangan memaki-maki di dunia maya ya ?

PS : kebetulan yang namanya akses Internet masih bisa jalan sejak tadi pagi. Maka untuk membuktikan pencapaian resolusi diatas, satu persatu dari postingan yang berhasil dituliskan hari ini, bakalan diPublish secara langsung.
Dipantau ya…

Berolah Raga Pagi di Hari Raya Nyepi, 10K Langkah, 100 Menit Exercise

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Lumayan juga. Berkeliling berkali-kali di halaman rumah hingga natah merajan selama 40 menitan lebih secara konstan, target pencapaian harian yang saya set pada aplikasi Samsung Health bisa tercapai dengan baik.
Hal ini sekaligus menganulir pendapat saya di postingan sebelumnya yang agak meragukan aktifitas rumahan selama Hari Raya Nyepi, minim aksi dan keringat. Nyatanya tidak.

10 Ribu langkah dan 100 Menit Exercise.
Gak disangka, bisa terwujud. Itupun masih ditambah panas matahari pagi dengan vitamin D-nya.
Lumayan bukan ?

Padahal demi mengantisipasi sedikit gerak badan dan langkah yang bisa dilakoni pada Hari Raya Nyepi hari ini, saya mencoba menebusnya sehari kemarin dengan berjalan dua kali lipat target harian, yaitu 10 K langkah. Tapi nyatanya, semua bisa dilakukan dengan baik tanpa harus melanggar salah satu dari empat brata penyepian hari ini.

Kalo kalian, sudah melakukan apa hari ini ?

Memecah Catatan My Personal Best Samsung Health

Category : tentang DiRi SenDiri

‘Sebenarnya hari ini jadi waktu yang bagus buat berjalan-jalan hingga ke banjar, mumpung lalu lintas sepi…’ celetuk sepupu saat melihat saya mengelilingi halaman rumah dari pintu pagar depan hingga natah merajan. ‘Gile lu Ndrok…’

Terbiasa melakoni rutinitas pagi juga sore untuk berjalan kaki dengan cepat, membuat badan jadi terasa kaku gegara belum sempat ditempa sejak tadi. Sementara aktifitas sesempatnya macam begini, cukup menyulitkan ruang gerak berhubung tak leluasa meregangkan badan.

Mencatatkan aktifitas fisik dengan bantuan aplikasi Samsung Health secara manual ataupun otomatis, memberikan gambaran pencapaian harian kita secara berkala.
Saya masih ingat catatan terbaik saya di bulan lalu untuk jarak terjauh yang pernah ditempuh sekitar 6 km-an, tepatnya saat berjalan hingga wilayah Cerancam dan Benculuk, sabtu pagi beberapa waktu lalu. Terpecahkan dengan pencapaian hingga 9 km-an, saat dibawa keliling kota Denpasar dari Gerenceng hingga Renon. Yang unik, rasa capeknya jadi tidak terasa seperti sebelumnya.

Beda lagi dengan jumlah langkah yang ditempuh seharian. Dicatatkan secara akumulasi dari pagi hingga petang.
Dulu masih bisa berbangga ketika angka menunjukkan 15K langkah saat hari Jumat tiba. Pagi krida olah raga kantor, sore jika sempat lanjut ke lapangan puputan. Makin bertambah ketika diselingi jalan-jalan siang pada hari yang sama.
Meningkat pada jumlah 25K saat aktifutas berjalan kaki mulai merambah ke jalan raya. dan itu dilakukan pada hari yang sama. Jumat.
Terpecahkan saat Ida Betara sesuhunan melancaran ke batas desa, Kajeng Kliwon beberapa hari lalu, yang memaksa tambahan aktifitas berjalan kaki di malam hari sepanjang 3 km-an. Lengkap sudah.

Sedangkan Durasi yang dicatatkan pada catatan personal Samsung Health merupakan waktu yang diluangkan untuk melakukan aktifitas secara konstan dan berkesinambungan dalam sekali waktu. Saya mencatatkan sekitar 90an menit saat berkeliling kota tempo hari.

Catatan ini kedepannya akan terus berkembang. Saya yakin itu. Mengingat aktifitas yang sejauh ini sudah pernah direkam sebagai history aplikasi, belum seberapa banyak dibandingkan aktifitas sebenarnya.
Semoga bisa membuat kesehatan tubuh yang jauh lebih baik lagi.

Rahajeng Nyepi Caka 1940 lan Saraswati

Category : tentang Opini

Menyelesaikan tugas atau kewajiban di pagi hari, tepat pukul 6 sudah menjadi hal yang biasa dilakoni selama beberapa tahun terakhir. Menggantikan istri juga ibu untuk menghaturkan banten canang sehari-hari hingga kali ini Nyepi Caka 1940 yang jatuhnya berbarengan dengan hari suci Saraswati.
Kami umat Hindu disarankan untuk dapat menyelesaikan proses atau ritual persembahyangan pada pukul 6 pagi, untuk selanjutnya masuk ke tahap melaksanakan tapa brata penyepian.

Ada yang kurang tentu saja.
Hari ini berhubung salah satu dari empat catur brata penyepian, melarang kami untuk bepergian ke luar rumah, maka rutinitas berolahraga pun dipaksa absen. Harus puas berganti dengan jalan-jalan di halaman rumah tanpa keringat yang membasahi baju. Ya, kecepatannya tak sebanding dengan aktifitas sebelumnya.

Sembari duduk mencari matahari pagi, langit Bali tampak cerah. Senang melihat suasana yang nyaman begini. Tanpa hiruk pikuk lalu lintas pinggiran jalan. Hanya suara burung dan gemericik air kolam yang terdengar nyaring di kedua telinga.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan hari ini.
Meski informasinya Internet off baik yang berkaitan dengan jaringan komunikasi maupun rumahan, namun hingga detik ini, Indi Home masih bisa berfungsi dengan baik. Untuk menguji kecepatan aksesnya pun, sejumlah majalah terbaru dari aplikasi S-Lime, Update aplikasi di Google Play, hingga mengunduh video dari beberapa akun Instagram yang mengabadikan sosok ogoh ohoh Ratu Sumedang semalam pun bisa sukses dilakukan. Entah kenapa.

Aktifitas untuk mensyukuri Hari Raya Nyepi Caka 1940 sudah selesai dilakukan. Demikian halnya Hari Suci Saraswati.
Tinggal sarapan dan melanjutkan aktifitas harian seperti biasa.

Menyambut Pagi Hari Raya Nyepi

Category : tentang Opini

Antusiasme masyarakat tampak begitu terasa akan pencapaian STT Yowana Saka Bhuwana melalui tangan dingin seniman Kedux melahirkan ogoh ogoh Ratu Sumedang yang diarak hingga ke jantung kota Denpasar pada pengerupukan semalam. Menciptakan keramaian lalu lintas yang tidak biasa pada persimpangan jalan Banjar Tainsiat dari tengah malam sebelumnya hingga dini hari tadi.

Hiruk pikuk dentum sound system di depan rumah, saat puluhan orang mengarak barisan raksasa di gelapnya malam, masih terasa meski alarm ponsel berdering nyaring mengingatkan waktu untuk mulai beraktifitas pagi di Hari Raya Nyepi.
Jadi agak berbeda lantaran hari ini bertepatan pula dengan Hari Raya Saraswati, dimana kami umat Hindu diharapkan dapat menyelesaikan proses persembahyangan sebelum pukul 6 menjelang nanti.

Dunia maya masih riuh dengan pro kontra diblokirnya internet pada Nyepi tahun ini. Termasuk kawan sendiri, sesama masyarakat Bali. Hanya karena merasa tidak ada aktifitas yang bisa dilakukan tanpa paket data. Sementara itu mereka lupa bahwa bisa jadi ada keluarga atau anak sendiri yang bisa diajak ngobrol banyak hal untuk melewatkan waktu dengan cepat.
Padahal masih banyak aktifitas lain yang bisa dilakukan tanpa semua itu.
Selow saja.

Menyambut Pagi di Hari Raya Nyepi.
Mengembalikan semuanya pada alam, berserah diri hanya sehari ini saja. Agar bisa memberikan manfaat yang lebih baik di kemudian hari.

Dari Lapangan ke Lapangan, Turun ke Jalan Raya

2

Category : tentang KeseHaRian

Melakoni aktifitas berjalan kaki dengan tempo yang cepat namun konstan, cukup memberi arti tersendiri dalam sekian kali perjalanan sejauh ini.
Bosan sendiri, pada akhirnya.

Jika untuk mengitari lapangan Lumintang Taman Kota sisi utara membutuhkan waktu sekitar 4-5 menitan satu putarannya, Alun-Alun Kota Denpasar dengan track yang sedikit lebih panjang, membutuhkan waktu 7-8 menitan tergantung kecepatannya. Sementara Lapangan Niti Mandala Renon yang sepertinya memiliki keliling sekitar 1 Km lebih butuh waktu sekitar 15 menit sekali putaran.
Sehingga, dengan waktu tempuh satu jam, kurang lebihnya sudah bisa diperkirakan jumlah putaran yang bisa dilakukan, dan itu… amat sangat membosankan, jika dilakukan berulang.
Jadi tidak salah bila keputusan sejak minggu kemarin, langsung diambil.
Turun ke jalan raya.

Tidak ada Target tertentu yang dibuat sejak awal memulai perjalanan. Hanya mencari rute yang tak biasa agar suasananya bisa memberi semangat baru dalam beraktifitas kelak.
Dari memutari sekolahannya Mirah, berkembang ke GOR Ngurah Rai, lalu pasar Kereneng, ke arah timur, belok di jalan Plawa. Setidaknya sudah 3-5 kali dilakoni.
Lalu ada rute mengitari Les Anemone-nya Intan, putri kedua saya, ke arah timur di jalan Ratna atau ke arah Barat, Lapangan Lumintang sisi Selatan. Pernah juga sekitar 2-3 kali dicoba.
Mengambil jalur yang sedikit lebih jauh ke Cerancam-Binoh lalu menyeberang jalan Gatot Subroto menuju Benculuk, hanya sempat 2 kali saja dalam sebulan terakhir.
Sedangkan tadi pagi, mengambil jalur barat ke Gerenceng-Gajah Mada-Suci-Matahari-Renon, memberikan jarak tempuh terpanjang yaitu 9,28 Km, sejauh ini. Cukup melelahkan namun senangnya bukan main.

Selain memberi suasana baru sebagaimana harapan di awal, banyak juga pengalaman unik disepanjang jalan yang dilalui. Dari melihat orang berantem, kecelakaan akibat salah berlalu lintas, hingga menolong ibu-ibu yang terjatuh gegara membawa banyak barang diatas sepeda motornya. Bisa juga bertemu orang-orang baru hingga kawan lama secara tak sengaja. Bahkan ada juga yang diabaikan begitu saja tanpa tahu siapa yang menyapa.

Kalian pernah melihat saya di jalan sebelumnya ?