Paradox dan Penantian Panjang Perjalanan Pulang

Memutuskan untuk melakoni liburan kali ini sebenarnya tidaklah mudah. Mengingat jarak yang akan ditempuh dengan menumpang bus pariwisata, dari kota asal hingga tujuan. Tidak dengan pesawat seperti biasanya.
Tapi demi sebuah janji, semua itu dijalani dengan ikhlas.

Duduk menanti kapal laut bersandar di Gilimanuk, rasa penat selama perjalanan mulai terasa. Apalagi tidak ada canda tawa riang anak-anak yang biasanya mengisi hari demi hari yang dilewati. Kangen banget dengan mereka kali ini.

Adalah Paradox, film Hongkong produksi tahun 2017 yang lumayan membuat penasaran lantaran awal kisah harus dipotong gegara kalah suara dengan penggemar dadakan Baahubali, berhasil diunduh saat malam masuk Kota Surabaya. Saat dinikmati pun ada air mata yang mengalir meskipun genre film adalah action. Tapi cerita yang yang diusung tidak lepas dari rasa cinta seorang ayah pada anak putrinya.

Jika saja saya berada dalam posisi yang sama, yakin tidak banyak yang bisa diperbuat. Baik saat silang pendapat di usia remaja nanti, ataupun keputusan untuk menikah dengan pria pilihannya. Entah apakah saya bisa kuat menerima saat itu tiba.

Paradox berakhir sedih jika melihat pada perjuangan sang ayah yang ingin bisa memeluk putrinya lagi. Meski ada Ayah yang yang bisa memberikan cerita kebahagiaan, namun sepertinya masih ndak rela kalo putrinya itu tidak ditemukan dalam kondisi sehat.
Dasar penggemar film Happy Ending.

Jalan pulang sudah makin dekat, dan penantian yang sudah sekian lama dipendam, bakal tertumpah sebentar lagi.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik