Libur Panjang Tanpa Liburan

Category : tentang KeseHaRian

Yeah, demikianlah adanya.
Padahal momen seperti minggu ini jarang-jarang bisa didapatkan. Cuma karena kesibukan baik pribadi maupun anak-anak, libur panjang kali ini nggak bisa dilewati dengan Liburan sekalipun.

Pertama ya terkait upacara pelebon staf kami yang meninggal beberapa waktu lalu, jatuh hari Sabtu siang. Praktis, dari Jumat sudah nggak ada rencana khusus terkait itu. Nyambung ke hari Minggu hingga Selasa, Mirah putri pertama kami ada agenda pengayaan di sekolahnya, Kumon Matematika dan Les pagi. Maka buyar sudah semuanya.

Saya sendiri masih dalam upaya menurunkan kadar gula darah yang sekitar dua minggu lalu sempat naik gila-gilaan, mencapai angka 468 mg/dl yang musti ditebus dengan puasa makanan enak. Syukurnya Sabtu pagi kemarin gula puasa sudah bisa turun ke angka cantik yang dipuja sebagian besar rakyat Indonesia. 212 mg/dl. Meski masih tergolong tinggi, tapi lumayanlah, sudah ada kemajuan.
Menu makan siang musti dialihkan ke sayuran tanpa nasi. Sementara sarapan pagi dan malam, beras rendah gula diganti pake beras hitam hasil pembagian di kantor. Lalu cemilan berubah menjadi ketela, dan kopi sachet menjadi teh atau kopi tanpa gula. Menyiksa tapi sudah nggak ada pilihan lain.

Libur panjang bukan berarti pula jadi makin banyak waktu luangnya. Gegara permainan Plants vs Zombie 2 rasanya semuanya jadi serba terbatas. Sudah masuk tahap adiktif, serupa dengan Subway Surf atau FaceBook beberapa waktu lalu. Menyita perhatian lantaran keasyikan.
Maka itu jangan heran pula kalo halaman ini jadi jarang update tulisan. Kalopun ada palingan ya keluh kesah saya yang gak ada faedahnya bagi kalian yang mampir dan membaca.

Kalo kalian, libur panjang ini sempat kemana saja ?

Akhir Kisah

Category : tentang DiRi SenDiri

Sudah banyak yang kaget dengan perubahan tubuh yang saya alami dua tahun terakhir. Masa dimana Gula Darah sudah tak lagi saya pedulikan perkembangannya, karena toh tak banyak juga yang peduli dengan bagaimana cara menurunkannya.

Sejauh yang saya alami hingga tulisan ini dibuat, belum ada keluhan yang dapat disampaikan. Hanya sakit pinggang atau tulang ekor ini saja yang barangkali sedikit mengganggu. Apakah Asam Urat atau lainnya. Ah aku sudah tak peduli lagi.

Aku hanya menyesal sudah menyia-nyiakan hidupku yang baru berjalan 37 tahun. Satu waktu dimana sudah dikaruniai tiga gadis centil dan lucu, namun riak-riak pernikahan baru saja muncul dan menjadi. Istri tak lagi mampu mengontrol emosinya saat ia berhadapan dengan Ibu. dan sebagaimana biasa, tentu saja aku, sang suami baginya, dan sang anak bagi ibuku, menjadi pelanduk yang mati di tengah tengah. Selalu begitu.

Mengubah sifat mungkin bukan itu yang kuinginkan. Namun memaklumi dan berjalan lagi, mungkin iya. Tapi bisa jadi tidak bagi pemikiran istri. Entah bagaimana lagi harus menengahi dan menjembatani mereka.

Dengan tubuh yang makin kurus, dan situasi hidup yang makin tak jelas, jikapun boleh aku tuliskan wasiatku disini dan kelak akan dibaca oleh kalian, satu waktu yang bisa jadi tak bisa aku tentukan. Sangat jauh sesudahnya.

Aku hanya ingin kalian berdamai, karena kalian keluargaku. Dengan Ibu, aku adalah anak kandungnya. Dengan Dirimu, aku adalah pilihan yang ada dan kurasa yang Terbaik yang sebenarnya ada. Namun entah jika menurutmu bukan. Aku hanya berharap bisa begitu.

Aku mencintai anak-anakku. Yang meski kerap kumarahi namun senyumku tak pernah habis saat kalian mulai manja dihadapanku. Meski tak satupun yang mampu penuhi harapan untuk mendapatkan anak laki-laki, namun aku bangga punya kalian bertiga. Dan aku bangga menjadi Bapak bagi kalian, itupun jika kalian bangga padaku.

Dan untuk Bapak Ibuku. Maafkan anakmu ini karena di akhir hayat kalian, aku tak mampu mendampingi, merawat bahkan mengurusi. Untuk itu pula aku berusaha membahagiakan kalian dengan cara yang aku ketahui. Aku bangga menjadi Bungsu di keluarga ini yang hingga akhir masa ku, tak sampai menyentuh alkohol, narkoba maupun judi, tatto dan perempuan.

Sedang untuk saudaraku, pulanglah. Jaga Bapak Ibu di rumah. Meski jutaan dollar dapat direngkuh diluaran, tapi rumah dan keluarga adalah segalanya. Dan Meski aku tak pernah mendapatkan Dollar apalagi hingga Jutaan, tapi aku bangga pernah lama bersama keluarga dan menyayangi mereka dalam arti yang sebenarnya.

Harta yang kutinggalkan tak banyak.
Asuransi Pendidikan Mirah di Bumi Putera.
Asuransi Prudential Mirah, Intan dan Ara.
Asuransi Prudential ku.
Tabungan di Bank Mandiri. Dan yang berjangka.
Tabungan ku di Bank BPD. Utk Gaji, tabungan utama, atas nama Mirah dan Intan. Untuk Ara, lihat nanti saja.

Hutangku di BPD kurasa tinggal sedikit lagi. 5 tahun dari 2012. Sebesar 50 juta.

Semuanya aku upayakan ada untuk kalian semua. Atur saja yang Terbaik bagi kalian semua.

Sedikit Bicara

Category : tentang DiRi SenDiri

Entah kenapa, dalam sebulan terakhir pikiran ini cenderung kosong dan saya menjadi sedikit bicara. Ini dirasakan oleh Istri yang kemarin sempat mengungkapkan keheranannya di sela perjalanan pagi menuju kantor. Agak khawatir juga tambahnya.

Meskipun secara kesibukan sejak awal bulan Januari bisa dikatakan sudah lebih reda ketimbang tahun lalu, namun pikiran sepertinya masih dipenuhi beban dan hutang pekerjaan yang belum terselesaikan. Apalagi pertengahan bulan ini biasanya Pemeriksa akan hadir dan menyita waktu kurang lebih hingga lima bulan kedepannya. Saya yakin bakalan melelahkan.

Disamping itu kejenuhan akan suasana kerja makin melengkapi semua keluhan yang belakangan saya rasakan. Termasuk pening kepala sisi belakang makin membuat hari-hari tak nyaman. Serasa kesambet apa gitu.

Hingga keluarga sempat terpikirkan untuk bertanya lebih jauh pada orang pintar akan hal ini.
Saya yang biasanya ceria dan banyak bicara baik pada istri ataupun tiga anak yang saban malam bikin rumah macam kapal pecah, mendadak terdiam seribu bahasa hari demi hari.
Sunyi dan sepi sekali.
Uniknya, hal yang sama pula dirasakan mertua saat berkunjung beberapa waktu lalu. Saya hanya menyapa sebentar lalu tidur. Tanpa kalimat apa-apa lagi.

Penat.
Serius…

Merenungi Hidup

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Untuk kesekiankalinya saya teringat akan nasehat seorang mantan atasan kantor yang memilih resign dari abdi negara ketika usianya telah melewati batas wajar pensiun dini.

Agar jangan sampai mengorbankan Kesehatan dan Keluarga hanya demi Karir dan Pekerjaan. Meskipun itu saling terkait dan ketergantungan satu sama lain.

Karena ketika kita sakit atau tidak mampu untuk bekerja lagi, maka perusahaan akan langsung mencari pengganti dan melanjutkan hari tanpa kita. Mereka tidak akan menunggu.
Yang ada hanya ucapan Turut Berduka Cita ditambah beberapa amplop dengan jumlah yang seberapa jika disandingkan dengan beban yang kita tinggalkan pada pundak keluarga.

Kepergian staf saya kemarin, jadi pelajaran berharga.
Itu sebabnya saya kembali tersadar akan sakit yang diderita selama ini, dan berharap kesehatan bisa sedikit pulih agar keluarga tak sampai terlantar.

Hanya saja, apa iya bisa mengurangi beban pekerjaan begitu saja dalam fakta lapangannya ?
Saya masih ragu.

Apalagi dengan kinerja dan kepercayaan yang diberikan atasan, sepertinya itu makin sulit dilakukan.
Saat menghindarpun saya yakin tetap akan dicari.
Terkecuali mampu menurunkan idealisme dan pemikiran yang selama ini dijaga. Cuma apa mau ?

Pilihannya ya hanya itu.

Jadi kangen pada Bapak tiga anak itu, yang tak lupa berpesan agar mulai belajar mengingat-ingat batasan pekerjaan dan batasan keluarga, berhubung usia saya masih tergolong muda.

Amor ring Acintya Pak Gung Wirajaya

1

Category : tentang Opini

Ditengah kemacetan kecil yang terjadi sepanjang jalan Cokroaminoto pagi ini, saya masih mencoba-coba mengingat hal-hal baik yang pernah dilakukan oleh rekan kerja saya seruangan dari pertama kali mengenal hingga minggu-minggu terakhir bertemu.

Anak Agung Wirajaya, kelahiran 1 Juli 1970. Enam bulan sebelum masa Pensiun, Beliau meninggalkan kami untuk selamanya. Sosok yang tidak banyak bicara, namun memiliki selera humor yang unik. Ia mampu membuat senyum dikulum saat celetukannya dilontarkan ditengah pembicaraan hangat. Perlu waktu untuk memahaminya.

Saya mengenal Beliau saat duduk di ruang Permukiman, Dinas Cipta Karya Kabupaten Badung tahun 2013 lalu. Pak Gung dipindahtugaskan dari Bidang Tata Bangunan tepatnya bagian Perijinan bersama satu koleganya yang lain. Meski pendiam, saya paham bahwa Beliau ini menguasai benar seluk beluk perijinan dimana ia ditugaskan dan kerap menjadi tempat diskusi maupun pencarian solusi terkait hal yang sama, utamanya jika ada keluhan serupa yang tidak mampu saya selesaikan.
Lumayan banyak info positif yang saya dapatkan tentang kinerja dan pola penanganan Beliau pada masyarakat.
Itu sebabnya ketika Beliau pernah menyampaikan kesulitannya dalam mengatur waktu akan kesibukan saat didaulat sebagai Kelihat Adat dimana ia tinggal, saya pun tidak pernah mengikat waktu atau kewajiban lain dalam bekerja.

Dalam beberapa percakapan terakhir, saya mengetahui kondisi kesehatan Beliau agak menurun. Tekanan Darah Tinggi dan Hernia, saya ketahui pasca lemah lesu dan penggunaan popok dewasa disela jam kerja saat upaya verifikasi bedah rumah dilakukan. Sebagai atasan yang bersangkutan, saya tidak lagi membebani tugas terkecuali Beliau mau dan menawarkan diri untuk bisa hadir.

Kabar tentang Serangan Jantung, disampaikan sang istri 2 Januari pagi yang lalu. Hari pertama kerja tahun 2018 ini benar-benar membuat shock, lantaran tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Kondisinya yang belum sadarkan diri saat dijenguk di ruang ICCU RS Sanglah Rabu siang selanjutnya, sempat saya rekam dalam rupa video secara diam-diam, agar teman seruangan yang tidak ikut menengok bisa melihat keadaan Pak Gung Wirajaya dan memberikan doa.
Firasat tak enak sempat muncul, gegara kabar beberapa kawan yang sempat mendengar suara Beliau atau melihatnya di pojokan saat apel pagi. Apalagi Sabtu siang kemarin, mendapat info bahwa kondisi Beliau sempat membaik sehari sebelumnya, namun kembali memburuk sehingga memaksa seluruh keluarga hadir mendampingi di lantai 2 penanganan Jantung.

Kabar Duka saya dapatkan pagi tadi. Seusai sarapan dan bersiap jalan menuju kantor.

Amor ring Acintya Pak Gung Wirajaya, semoga bisa mendapatkan yang Terbaik disana.

3 tips Memilih Popok Disposable Diaper

Category : tentang KeseHaRian

Di jaman modern seperti saat ini perlengkapan bayi semakin banyak dan bervariasi. Mulai dari pakaian sampai dengan peralatan kecantikan bayi banyak dijual di pasaran. Selain itu juga berbagai aksesoris khusus bayi pun banyak diproduksi, salah satu diantaranya adalah popok. Peralatan yang satu ini sangat penting disediakan bagi bayi anda dalam mengurangi penggunaan celana dalam. Anda tidak perlu mengganti celana buah hati anda setiap kali ia buang air kecil karena dengan menggunakan popok air seni dapat diserap dengan cepat. Banyak jenis popok bayi yang bagus di pasaran, dengan ukuran yang telah disesuaikan dengan berat badan anak anda. Berikut kami sajikan tips sederhana memilih popok sekali pakai yang aman bagi bayi :

1. Kualitas yang baik
Tips pertama yang dapat anda lakukan dalam memilih popok sekali pakai yang aman adalah dengan memilih jenis popok yang memiliki kualitas baik. Di pasaran kini banyak beredar popok sekali pakai yang menawarkan berbagai kelebihannya masing-masing. Jika anda bingung dengan kualitas popok anda bisa menanyakanya ke pada dokter atau bidan tentang kelebihan dan kekurangan salah satu jenis popok sekali pakai yang anda gunakan.

2. Hindari popok yang memiliki zat penyebab iritasi
Tips yang selanjutnya adalah dengan memilih popok sekali pakai yang tidak menggunakan zat-zat berbahaya bagi kulit bayi anda. Anda tentunya tidak menginginkan kulit mulus bayi anda harus terganggu dengan iritasi, selain dapat merusak kecantikan kulit iritasi juga sering mengakibatkan gatal-gatal dan perih yang dapat mengganggu kenyamanan bayi anda. Untuk mengetahui zat yang terkandung dalam popok sekali pakai, anda bisa membacanya pada plastik kemasan pembungkusnya, jika kurang faham dengan suatu zat anda bisa konsultasi dengan dokter anda.

3. Berbahan lembut
Tips selanjutnya yang bisa anda lakukan dalam memilih popok sekali pakai adalah dengan memakai jenis popok yang memiliki bahan lembut. Penggunaan bahan yang kasar akan berakibat bayi anda tidak nyaman, pada ujungnya akan berdampak pada terjadinya iritasi kulit bayi anda, oleh karenanya pilihlah popok sekali pakai yang memiliki bahan yang lembut.

Demikianlah tips memilih popok bayi sekali pakai, semoga dengan pemaparan ini dapat menambah wawasan bagi anda. Anda juga bisa mendapatkannya di https://www.goapotik.com/jual-popok-bayi-dan-anak.html.

Jatuh

Category : tentang DiRi SenDiri

Dalam kondisi begini, kerap alami yang namanya Putus Asa dalam menjalani keseharian.
Diabetes yang tak jua mampu dikontrol, makin hari terasa makin menyiksa.
Bayangan akan akhir nafas tiba dengan ancaman komplikasi selalu terbayang.
Kasihan anak-anak. Kasihan keluarga ini.
Namun apa daya, gula darah saban diperiksa selalu diatas angka 200, 300 bahkan sekali dua sempat mencapai 487.
Dengan konsumsi obat dan berpuasa, rasanya semua percuma begitu saja.
Istirahat hampir selalu dilakoni, dan sepertinya keadaan makin memburuk.
Jatuh dan jatuh lagi…

Diabetes

Cerita di Awal Tahun

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari Baik menyambut tanah Bali pagi ini.
Awal Tahun 2018 yang diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk hidup dan berkarya bagi setiap orang utamanya mereka yang berstatus sebagai kepala keluarga.
Menghidupi anggotanya demi kebahagiaan dan kesejahteraan.

Mari memulainya dengan hal yang positif.

Jalanan yang dilalui masih saja tampak lengang. Bisa jadi karena sebagian besar orang masih lelah dengan aktifitasnya semalam suntuk.
Saya yang semalam menghabiskan Tuak nyaris sepertiga botol besar, langsung tewas tertidur dengan nyaman. Apalagi dicampur obat batuk hitam lima belas menit setelahnya, sukses membuat saya tepar hingga pagi tanpa terbangun lagi malam harinya.
Pagi ini agendanya kami meluncur ke Pura Penataran Puncak Mangu Desa Pelaga Petang, untuk melunasi hutang janji seorang anak manusia yang ingin memperkenalkan jodoh yang ia dapatkan bertahun lalu, dan setelah dua belas tahun lamanya baru bisa terwujud.
Ingin sekali bisa lebih banyak meluangkan waktu sebenarnya untuk mendekatkan diri pada-Nya. Yang setahun lalu jarang kami lakukan lantaran kebiasaan keluarga.

Sementara itu sakit akibat cuaca yang tak menentu pun masih bercokol di badan. Ditambah nanah pada telinga yang cukup membuat tuli sebelah selama beraktifitas. Meski masih bisa dijalankan namun tetap saja tak nyaman.
Berat badan tampaknya makin menurun. Kini mulai terlihat perbedaannya. Kehilangan berat sebanyak 6 kg selama 6 bulan, lumayan membuat banyak perubahan. Ukuran celana turun 2 size, dan baju ukuran XL pun kini sudah bisa digunakan lagi.
Istri yang semakin khawatir akan semua ini kerap mengingatkan agar tetap menjaga kesehatan demi anak dan istri.

Beban pekerjaan masih berat dipikul. Berharap bisa berkurang lagi tahun ini.