Satu Satu

Category : tentang Opini

Orang-orang lalu lalang datang dan pergi.
Ada kesedihan dan juga kegembiraan yang hadir di dalamnya.
Aku hanya bisa melihat dan yakin, bahwa kelak akan melewati satu masa itu. Entah meninggalkan, atau ditinggalkan.

Tak ada yang tahu, kapan Ia akan memanggilmu pulang.
Tak ada yang tahu juga, kapan Ia akan memanggil orang yang kau sayangi untuk pulang.
Kita semua hanya bisa menunggu waktu dan giliran, tak pasti kapan.

Jika yang pergi adalah kesayangan keluarga, kehampaan akan hinggap untuk jangka yang lama.
Jika yang pergi adalah tulang punggung keluarga, kepedihan akan berlangsung sangat lama.
Namun Jika yang pergi, bukanlah siapa-siapa, yakin tak akan ada yang pernah pedulikan.
dan semua yang pergi, satu saat pasti kan kembali. Entah dalam lingkaran yang mana.

Satu persatu orang-orang yang kukenal dekat, sudah mendahului.
dan Aku hanya bisa berharap, tak pernah melihat orang yang kusayangi mendahului lebih awal.
Semoga kami berada dalam masa dimana menyayangi dan mencintai keluarga, bisa lebih lama.

Kelelahan itu Tuntas Jua Akhirnya

Category : tentang Opini

Delapan Bulan…

Ya, delapan bulan. Perlu waktu delapan bulan untuk bisa menyelesaikan ini semua. Untuk satu pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.
Rasanya Plong sejauh ini. Entah bagaimana nanti.
Yang penting semua usaha dan upaya sudah membuahkan hasil.

Tidak disangka ini bisa terjadi.
Kelelahan yang pada akhirnya saya lepas dan pasrahkan pada-Nya, hari ini selesai juga.
Padahal sudah sempat kehilangan semangat dan cenderung membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Mengingat perjuangan rasanya sia-sia saja dilakukan.

Hanya karena keinginan untuk menyelamatkan diri masing-masing, dan mengabaikan pengorbanan orang lain, kelelahan ini makin menjadi seiring perubahan orang dan perubahan posisi. Semua mencoba buang badan. Meski sakit, tapi harus tetap dijalani. Karena ini buah dari perjuangan akhir di tahun kemarin.

Rasa syukur pun dipanjatkan pada-Nya. Ucapan Terima Kasih disampaikan pada semua pihak yang telah membantu. Tak kenal lelah.
Kini tinggal melunasi hutang pada yang pernah ikut terlibat didalamnya.

Akhirnya Berpisah Lagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Gak terasa Tiga Minggu sudah kakak liburan di Bali.
Mengajak dua Putranya yang sudah segede gaban bersama sang istri, menepati janji yang pernah mereka ucapkan lima tahun lalu. Pulang sebentar setelah lelah mengumpulkan dollar.

Ada banyak cerita yang dilalui selama mereka di Bali. Dari soal ujian bahasa Inggris setiap hari bagi semua orang di rumah lantaran dua ponakan tidak menguasai bahasa ibu, melali dan melali nyaris tiap hari, hingga ributnya tandem baru, Ananta bungsu dari kakak dengan Ara bungsu kami, yang terlihat cocok satu sama lain dalam kesehariannya.

Saya sendiri bagai ujian praktek bicara Inggris dengan upaya grammar seadanya, modal nekat, pokoknya biar tetep nyambung, karena kasian juga kalo diem dieman sepanjang hari. Menyapa, menawarkan makan malam, atau sekedar ngocehin game yang mereka mainkan melalui ponsel iPhone 4nya.

Sementara untuk Mirah dan Intan, yang sebelumnya terdengar begitu fasih berbahasa Inggris, mendadak diam tanpa berani berkata apa apa. Seperti biasa, takut salah ucap.
Padahal, mumpung dengan saudara lah salah ucap itu musti dibiasakan, biar tahu salahnya dimana. He…

Tapi Jujur, selama Tiga Minggu ini, saya jarang bisa mengungkapkan perasaan dalam tulisan Blog tentang aktifitas mereka. Pun demikian saat kepulangannya hari Jumat lalu.
Itu sebabnya baru hari ini bisa tersampaikan.
Terlupakan dengan rasa haru dan senang, bisa bertemu lagi. Padahal selama empat tahun terakhir, pasca meninggalnya kakak perempuan, saya merasa tak punya saudara yang diajak menikmati hari. Yang ini jauh di Canada, meski masa kekinian ada video call nya whatsapp, tetap saja tak merasakan nikmatnya ‘mendekatkan yang jauh.’

Mengingat Whistle Blower, jadi Saksi Kunci, serius ?

1

Category : tentang Opini

Sesaat ketika mengetahui adanya fitur Whistle Blower di aplikasi LPSE, Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik beberapa tahun yang lalu, istilah yang saat itu menjadi Trend atas kasus apa gitu, saya lupa, maaf… sempat terpikirkan ‘seberapa beranikah kalian mencoba menerapkannya atas penyimpangan-penyimpangan yang kelak ataupun sudah terjadi pada birokrasi negeri ini ?’
Karena kalau melihat dari sisi positif atau reward yang diberikan, saya meyakini tak seberapa positifnya jika dibandingkan tekanan atau teror yang berpotensi diakibatkan karenanya, terutama apabila adanya ketidaksengajaan atau bisa jadi kesengajaan kebocoran informasi yang terjadi selama proses tersebut berlangsung.

Berselang sekian tahun, apa yang menjadi pertanyaan tadi, terjawab sudah.

Johannes Marliem, Saksi Kunci KPK atas kasus e-KTP yang kabarnya bakalan menjerat banyak pihak, tewas di Los Angeles Amerika. Ditengarai akibat bunuh diri, yang kalo secara logika pribadi, masih banyak kejanggalan didalamnya. Entahlah…

Ditambah teori konspirasi sebagaimana film epik JFK (1991), saya kok jadi semakin yakin, tentang kekhawatiran, seberapa kuatnya kita akan menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi ketika memilih tampil ke depan podium mendeklarasikan sebagai Abdi Negara yang Baik ?

Itulah yang terjadi pada sosok PakDe Jokowi, Presiden Indonesia keTujuh, dibully habis ketika sudah berupaya bekerja dengan benar, masih tetap Salah di mata banyak orang, atau Pak Ahok yang akhirnya terpeleset ucapan dan dipenjara, serta terbaru, Johannes Marliem yang tak mampu berbuat banyak, tewas mengenaskan.

Pada akhirnya, saya sendiri hanya bisa menuangkannya dalam sebuah status di akun sosial media FaceBook yang selama ini saya hindari.
‘Kematian Saksi Kunci KPK kasus e-KTP, Johannes Marliem di LA, menguatkan Pertanyaan yang selama ini bersliweran di Kepala.’
“Seberapa Kuat dan Seberapa Berani kah kalian menjadi seorang Saksi Kunci atau mungkin Whistle Blower pada kasus-kasus yang terjadi di Birokrasi negeri ini ?”

    Sambil menenggelamkan semua harapan dan keinginan yang sejak awal begitu menggebu, serta memilih jalan diam meski tak sesuai dengan hati nurani. Namun setidaknya ini merupakan keputusan terbaik bagi Keluarga nantinya.

Gek Ara dan Gigi Camed care nak Jawe

Category : tentang Buah Hati

Melanjutkan postingan terakhir tentang si Cina Kecil Gek Ara, tahukah kalian bahwa ia juga mewarisi gigi camed Bapaknya yang kerap disangka nak Jawe (orang jawa) dauh tukad ketika diajak ngobrol menggunakan bahasa nasional ?
Ya, demikianlah adanya Gak Ara.
Kasihan sebenarnya.

Gigi camed care nak Jawe.
Entah darimana pula saya bisa mewarisi semua itu dari kedua orang tua yang justru memiliki wajah khas orang Bali.
Bisa jadi saya keturunan yang lahir cacat dari mereka. Yang berbeda satu diantara tiga yang ada. Yang sebenarnya kehadirannya tidak direncanakan, itu sebabnya jarak usia saya dengan kedua kakak, terpaut jauh. 8 tahun.

dan Orang baru akan menyadari bahwa saya orang aseli Bali, setelah mereka disapa dan me?anjutkan obrolan dengan bahasa Ibu, bahasa Bali. Tak ada yang menyangka sama sekali.

Bahwa Gek Ara, putri kami, si bungsu yang nakal, memiliki gigi camed dalam rupa fisiknya, sesungguhnya tidak saya harapkan sama sekali.
Karena kelak, kekurangan ini bisa jadi membuatnya minder pada pergaulan seperti halnya si Bapak yang hingga kini, masih saja disangka nak Jawe.

Informasinya gigi camed ala Buto Cakil ini bisa dioperasi ketika besar nanti. Dengan menggeser rahang bawah ke arah belakang. Namun apa jadinya jika pemberian lahir ini disalahaturkan dari pemberian-Nya ?
Entahlah.

Namun jika saja Gek Ara kelak tidak akan malu dengan wajah yang apa adanya, semoga ia bisa tumbuh menjadi gadis yang membanggakan semua orang yang mengenalnya.

Cina Kecil satu ini Nakal sekali

Category : tentang Buah Hati

Bukan…
Saya bukan mau ngebahas si Cina Kecil, tokoh nasional bangsa Indonesia yang fenomenal itu.
Bukan juga soal rasis yang biasa menjadi makian maha dashyat ke Pak Basuki ‘Ahok’ Tjahaya Purnama yang kini menginap di Mako Brimob.
Tapi soal putri kecil kami, si bungsu.
Cina Kecil yang Nakal sekali.

Ya, kalian ndak salah ingat.
Putri kecil kami, si bungsu, yang dahulu pernah kami tangisi sebulan lebih lamanya, gegara ditinggal sendirian di rumah sakit, lengkap dengan tangisannya yang melengking itu, kini sudah tumbuh menjadi sosok anak yang Nakal dan riang dalam kesehariannya bercanda bersama kami.

Pande Nyoman Mutiara AnnikaDewi.

Itu nama panjang yang kami berikan untuknya, dua tahun silam. Panggilannya sederhana. Gek Ara.

Dari segi wajah, Gek Ara adalah kembaran bapak satu-satunya. Ya, ia mirip sekali dengan saya. Bapaknya yang kini kurus kering dibabat Diabetes.
Ini selalu dilontarkan orang saat mereka melihat Ara lalu memandang wajah saya. Kembaran Bapak.

Maka ndak heran, kalo unsur Cina-nya langsung menurun.
Ya. Gek Ara memiliki mata kupit eh mata sipit khas orang Cina yang saya miliki sejak lahir. Itu sebabnya ia dijuluki Cina Kecil oleh pekak nininya. Kakek neneknya.

Entah bagaimana kisah perjalanan kelahiran hingga saya mewarisi mata sipit dari kedua orang tua yang sama sekali tak memiliki mata sipit. Katanya sih, waktu Ibu hamil dulu, Beliau ngidamnya masakan Cina. Entah ada hubungannya atau tidak, saya lahir dengan aksen Cina pada mata. Sehingga di era kekinian, saya kerap dipanggil ‘Koh’ saat berjalan-jalan di mall seputaran Surabaya atau Jakarta. He…

Cina Kecil yang Nakal.

Gek Ara kini bukan main nakalnya.
Ditambah Jahil, lengkap sudah ia diteriaki kedua kakaknya yang kerap menjadi korban keusilannya.
Dari pemindahan barang, menghilangkan yang uniknya bisa ia temukan kembali saat kami kebingungan mencarinya, hingga corat coret buku tulis dan tembok rumah, ia jabani dari pagi hingga petang. Tanpa kehabisan stamina.
Bagi saya, Ara tetaplah Ara. Anak kecil yang menggemaskan.
Maka meskipun Nakal, ia tetaplah kembaran saya yang begitu membuat kangen setiap kali pulang kerja.

Bahwa ia kerap di teriaki ‘Cina Kecil satu ini Nakal sekali’ oleh kakek neneknya, Cina Kecil ini adalah anugerah bagi keluarga kami yang udik ini.

dan tahukah kalian, bahwa Ara juga mewarisi gigi camed nak Jawe ala Buto Cakil Bapaknya ?

Menyandang Status Tersangka

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KHayaLan, tentang Opini

Saya yakin gak satupun dari kita, kamu, juga saya… menginginkan hal diatas terjadi.
Akan tetapi demikianlah kondisi beberapa senior saya di pemkab Badung saat ini.

Tersandung paket kegiatan konstruksi di Tukad Mati Kuta, dua kepala bidang yang saat pekerjaan dilaksanakan ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK atau bahasa awamnya terdahulu dikenal sebagai Pimpro, dan satunya lagi bertugas sebagai Pembantu Pelaksana Teknis Kegiatan atau PPTK.
Yang satu masih tetap bertugas di tempat kerja terdahulu, satunya lagi dipromosikan ke tempat dimana saya kini bertugas.

Tak ada yang menyangka sebetulnya. Mengingat kedua sosok abdi negara ini saya kenal begitu ulet dalam bekerja.
Informasinya hanya karena lalai dalam menjalankan tupoksinya masing-masing, mereka berdua kini telah naik status menjadi Tersangka dalam paket kegiatan tersebut.

Siapapun saya yakin bakalan kaget, dan lantas kehilangan semangat kerja. Apalagi status Tersangka yang disandang, bakalan mengancam karir dan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Demikian pula terkait harga diri di mata sanak saudara maupun masyarakat sekitar tempat tinggal. Juga secara luas dalam pergaulan. Sayapun yakin akan demikian adanya apabila berada dalam posisi yang sama.

Jangankan menyandang status Tersangka.
Baru hanya dipanggil dan diperiksa saja, image kita sudah jatuh didepan banyak orang, ketika hal itu diketahui publik. Bukan apa-apa, tapi yang namanya awam biasanya sudah memandang negatif ketika itu terjadi. Terlepas proses berlanjut atau berhenti.
Saya pun pernah mengalaminya.

Yang paling kasihan, tentu saja keluarga. Istri, anak-anak, dan orang tua.
Itu sebabnya ketika status belum meningkat menjadi Tersangka, biasanya kami akan berupaya menutupi fakta pada mereka, agar tak menjadi khawatir secara berlebihan. Menganggap bahwa semua ini semacam aktifitas kerja biasa lengkap dengan segala resikonya. Sehingga ketika ini bisa diselesaikan, maka semua akan berlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Namun ketika kejadian, naik status menyandang sebagai Tersangka ? Disinilah semua tantangan yang sebenarnya bakalan dimulai.

Itu sebabnya, ketika panggilan dan pemeriksaan dilakukan, Saya berupaya kooperatif dan mengikuti alur normatif serta optimal dalam membuktikan semua pekerjaan yang selama ini berusaha dilakukan dengan benar.
Bahwa dengan bekerja secara benar saja, sebetulnya masih ada celah yang bisa dianggap salah oleh orang lain, apalagi bekerja sengaja secara salah ?
Bisa habis kita di tengah jalan.

Bahwa kemudian ada hal-hal yang luput untuk diingat, bisa jadi wajar ketika pekerjaan tergolong overload sebagaimana pengalaman di tahun sebelumnya.
PC laptop atau Ponsel pun bisa mengalami hang saat semua beban dipaksakan untuk dikerjakan, apalagi otak manusia ?

Itu sebabnya tak sekalipun terlintas keinginan atau bayangan masa depan bakalan menyandang status Tersangka seperti halnya diatas. dan semoga tak akan pernah terjadi.