Ngumpul lagi, Heboh lagi

Category : tentang KeseHaRian

Anget anget Tai Ayam.
Biasanya kalo pas lagi anget, ya ramai topik dan bahan pembicaraannya.
Begitu dah lama, sepi dan kering.
Gitu deh kebiasaan kita kalo baru bikin group chat, obrolan antar kawan. Ada aja yang dibahas.

Begitu juga acara Ngumpul kami di group Whatsapp seminggu terakhir.
Setelah rame bertengkar dan musuhan di BlackBerry Messenger, group Alumni kelas A1 Fisika angkatan 1992-1995 SMAN 6 Denpasar, pindah kamar ke dimensi lain yang jauh lebih familiar penggunaannya.
Nggak harus tanya-tanya PIN, tapi cukup ngandelin nomor ponsel mereka.

Voila, Group Whatsapp kami pun dibuat dalam sehari.

Adalah Wahyu Adi Mulyono, kawan kami yang punya kemampuan intelegensia dan finansial yang diatas rata-rata itu, saya mintakan tolong agar memantau nomor ponsel semua kawan yang masih aktif di Group BBM, untuk dibuatkan Group WA.
Ndak ada agenda khusus sih kali ini. Apalagi rencana Reunian atau gimana gitu.
Cuma Ngumpul doang, say hello.
Hasilnya lumayan. Dari 41 kawan seruangan, akhirnya tersisa 9 orang lagi yang belum ketemu nomor ponselnya. Secara rumah asal sih masih bisa terpantau, cuma soal waktu luang untuk main ke masing-masing mereka aja yang belum kesampaian.

Tidak hanya itu, tampaknya postingan pertanyaan kami pada beberapa kawan seruangan, dipantau pula oleh alumni dari kelas lain. Yang kemudian berinisiatif membuat group Whatsapp pula untuk tingkat sekolah. Walhasil notifikasi ponsel pun ributnya bukan main. Syukur Whatsapp menyediakan opsi Mute 1 tahun, bisa tanpa notifikasi pulak. Terpaksa, ketimbang pusying.

Namun demikian, memasukkan semua kawan yang ada di group Whatsapp kelas ke group sekolah, sempat terpikirkan hal yang sama seperti halnya pola group serupa di bidang kerja. Keluar dari kelompok besar, untuk tetap berada di kelompok kecil. Toh secara garis besar, isinya sama. Namun karena sejak awal diminta tidak meninggalkan tempat, ya dilakoni saja padahal sebagian besar kawan seruangan sudah melakukan duluan dan titip absen.

Maka itu ada dua postingan tambahan terkait aktifitas diatas, yaitu publikasi file Foto yang dikelompokkan per kelas dalam bentuk kompres file di akun Google Drive dan file Video di halaman berbagi YouTube dan juga akun Google Drive bagi yang ndak paham cara unduh melalui yucub tadi.
Kalian yang merupakan alumni angkatan kami, silahkan mampir ke akun saya diatas untuk bisa mendapatkan semua konten.

Balik ke group Whatsapp, sepertinya ini bakalan jadi cikal bakal reuni lagi. Padahal janji di awal tahun 2010 kemarin, agendanya 10 tahun lagi baru deh dilakukan lagi. Tapi apa bisa jadi kemungkinan lebih cepat ?

Yamaha XMax 250, Besar Gagah tapi… ?

2

Category : tentang Opini

Kaget sekaget-kagetnya pas melihat secara langsung bodi bongsor XMax 250 dari dekat di gerai Yamaha Diponegoro, saat membayar lunas administrasi hari Selasa sore kemarin.
Bagaimana tidak, biasa bolak balik membawa Honda Beat milik istri ke tukang cuci depan rumah, jadi bengong sendiri liat dimensi dudukan belakang motor matic satu ini.

Berhubung saya melewatkan semua proses launching Yamaha XMax tempo hari, dan juga hanya bisa memantaunya lewat halaman YouTube, ya jelas saja jadi kaget. Meskipun sudah tahu dari para reviewer, tentang tidak biasanya ukuran motor utamanya bagi pengendara dengan tinggi tubuh standar orang Indonesia, tetep aja kaget pas menyadari langsung bagaimana kenyataannya.

Honda PCX yang awalnya sudah saya anggap gagah, membuatnya tampil mini ketika disandingkan bersama XMax 250. Gilak bener. Padahal secara kapasitas mesin, ya ndak jauh-jauh amat. Tapi secara visual, kesan luksnya PCX jauh lebih baik dengan bodi glossy. Sedang XMax lebih ke penampilan doff.

Besar dan Gagah. Itu kesan pertamanya.
Setidaknya untuk urusan kaki pengendara, kini ndak usah khawatir bakalan membentur setang motor, mengingat jarak dudukan dengan setang, lumayan jauh. Demikian halnya sisa dudukan, masih muat untuk Gek Ara dan Gek Intan di bagian depan dengan posisi nyaman.
Asoy…
Persoalan kaca spion juga begitu. Kini bisa melihat rangorang di belakang dengan baik, ndak usah geser kiri kanan lagi pas lagi mau belok.
Trus dudukannya yang tinggi, membuat kaki saya ini agak sedikit menjinjit kalo pas lagi santai di pemberhentian seperti lampu merah misalkan. Ndak bisa saya bayangkan kalo tinggi orang itu setara rata-rata lokal.

Tapi… ?
Ada tapinya juga sih ya. Bagaimanapun kelebihan, kekurangan pasti ada. Setidaknya menurut saya.

Bodi Besar dan Gagah rupanya lebih banyak lantaran chasing bodi yang agak berlebihan.
Kompartemen di bawah Jok jadi contoh pertama. Lebar dan dalam. Keknya Gek Ara muat kalo mau diboboin disitu.
Dinding juga bawahannya saat diketok-ketok ya plastik kek fiber gitu. Jadi kesan rapuh dan ringkih saat mengetahui bodi aselinya langsung nempel di pikiran. Begitu juga pas getok-getok penutup mesin, tutupan depan dan lainnya, anjir ini ndak ada logam-logamnya.
Hanya di warna silver bagian motornya saja yang mengandung tingkat kekerasan lebih.

Untuk jangka pendek mungkin bakalan adem dipandang, tapi jangka panjang ?
Saya jadi ingat dengan motor matic lainnya, dengan bodi mengelupas mungkin lantaran terkena paparan panas matahari atau bisa jadi panas mesin saat digunakan berkendara lama. Ealah… ini musti diakali sepertinya.

Keluhan ini sempat disampaikan ke seorang kerabat yang kebetulan sudah kenyang gonta ganti motor. Dari Tiger lama, Tiger Revo, Inazuma, Ninja 250 sampai 650 pun pernah dilahapnya, dan dijual kembali setelah bosan.
Persoalan ketok-ketok bodi ya memang ada dalam setiap kendaraan masa kini, kata dia. Saya aja yang masih beranggapan dengan motor jadul, bersikeras berharap ada unsur logam dibeberapa bagian bodi.
Setidaknya biar selaras dengan besar dan gagahnya bodi, atau paling minim saat berkendara dan seandainya terjadi tabrakan, gak ancur ancur amat part lainnya mengingat secara harga lumayan mahal buat ditebus.

Lain lagi dengan dudukan yang lebar. Sepertinya ni motor memang diperuntukkan bagi pasangan yang memiliki tinggi diatas rata-rata orang indonesia. Karena kalo mau gandeng belakang, musti ngangkang cemnya ayam panggang. Mereka yang semampai, saya yakin bakalan kesulitan kecuali ambil pose gandeng samping.

Trus ada knalpot, yang meskipun berwajah gahar tapi suara yang dikeluarkan tergolong halus, gak match. Ini mirip Yamaha Scorpio terdahulu, yang gak mencerminkan kekarnya penampilan.
Keknya dalam waktu setahun kedepan musti ganti yang agak garang tapi meredam. Macam vokalisnya Obituary gitu.

Soal speedometer memang keren dengan perpaduan analog dan digital di tengahnya. Cuma informasi yang ditampilkan terlalu berlebih. Mirip miliknya roda empat, jadi agak khawatir juga soal perawatan atau pemeliharaannya kelak. Pasti mahal lah…

Terakhir tentu saja soal kunci kontak yang tanpa kunci kontak. Musti banyak belajar dari User Manualnya agar bisa mengetahui cara menyalakan motor, membuka tangki bensin hingga mengunci setang.
Memang tidak biasa kelihatannya…

Video Reuni SMAN 6 Angkatan 1992 Tahun 2010 [update]

Category : tentang KeseHaRian

Menyambung postingan sebelumnya terkait Foto Reuni SMAN 6 Denpasar Angkatan 92 yang dilaksanakan pada tanggal 3 April 2010 lalu di Restaurant Canang Sari, Sanur Denpasar, berikut saya tambahkan Video yang dibesut the Black Production, I Ketut Jaya Artawan dibagikan melalui halaman YouTube dan Google Drive jika dibutuhkan.

Halaman YouTube : (streaming video dan unduh offline)
1. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 1/5 di halaman YouTube
2. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 2/5 di halaman YouTube
3. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 3/5 di halaman YouTube
4. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 4/5 di halaman YouTube
5. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 5/5 di halaman YouTube

Google Drive : (unduh file)
1. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 1/5 di Google Drive
2. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 2/5 di Google Drive
3. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 3/5 di Google Drive
4. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 4/5 di Google Drive
5. Video Reuni SMAN 6 Denpasar Angakatan 92 bagian 5/5 di Google Drive

Begitu kira-kira.

Yamaha XMax 250, akhirnya datang juga

1

Category : tentang Opini

Cukup lama menanti kehadirannya.
Kalau ndak salah sih saat NMax mulai digulirkan terdahulu, dan dua sepupu saya yang sekandung, memutuskan membeli 2 unit dengan warna hitam dan putih, dari hasil penjualan Suzuki Thunder mereka sebelumnya. Sengaja dinanti karena secara kapasitas mesin, infonya lebih besar dari Yamaha Scorpio yang saya miliki tempo hari. Ya, 250cc.

Menjatuhkan pilihan pada kendaraan bermotor berjenis matic sebetulnya ya ndak sengaja. Hanya gara-gara kesulitan mengajak anak-anak serta saat berkendara, cukup membuat mangkel karena pada akhirnya ya harus dilakoni sendirian. Terhalang tangki dan dudukan yang tinggi.
Hanya saja saya belum menemukan pilihan sebelumnya, untuk pertimbangan besaran kapasitas mesin dan kenyamanan berkendara untuk tubuh saya yang kelewatan ini.

Awalnya berharap banyak dengan Yamaha TMax yang sepertinya memenuhi semua kriteria diatas, namun musti dipendam dalam-dalam setelah mengetahui harga jualnya setara Avanza.
Baru mulai optimis kembali ketika diinfo sales Yamaha bahwa dalam 1-2 tahun kedepan bakalan rilis seri pertengahan antara NMax dengan TMax.
Ya XMax ini jawabannya.

Saat Launching terdahulu, saya rupanya melewatkan semua proses yang ada. Baik mencoba test drive secara langsung bahkan hanya sekedar melihatnya saja. Namun begitu, saya tetap memantau semua lewat dunia maya.
Kesempatan hadir saat gelombang kedua pemesanan online digulirkan. Berkat bantuan kenalan spg di Yamaha, saya mendapat kesempatan lebih cepat dari yang diperkirakan.
Hanya 1-2 bulan menunggu, XMax 250 yang menjadi impian selama ini akhirnya datang juga ke halaman rumah hari Jumat sore kemarin.

Cost yang dihabiskan ya lumayan juga jika dibandingkan dengan pembelian motor sebelumnya.
Sempat ragu ketika mengetahui angka penjualan berada diatas angka 50 Juta. Setara Kawasaki Ninja 250 atau Honda CBR 250 yang digadang-gadangi sejumlah rekan kerja dan sesama blogger.
Namun balik pada kriteria diatas, saya putuskan menjatuhkan pilihan pada XMax 250 ini.

Mau tahu seperti apa kesan pertamanya ?
Ikuti terus halaman ini.

Kangen ngeBlog lagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Sepertinya saya sudah tiba pada titik nadir dimana semua ide dan juga mood untuk menuliskannya, hilang perlahan digerus waktu. Lelah pikiran bisa jadi penyebab utamanya.
Meski belum berselang lama dari update postingan terakhir, tapi saya Kangen banget bisa ngeBlog lagi.
Bisa nulis banyak lagi dalam sekali waktu.

Dua minggu terakhir rutinitas lebih banyaj dijelali soal pekerjaan yang belum jua tuntas di tengah pergolakan anggaran, seakan tanggung jawab itu dibebankan semua di pundak ini. Padahal sejatinya posisi itu tak lagi diemban hingga akhir tahun ini paling tidak. Namun entah mengapa semua panah masih mengarah saja.

Kesehatan juga jadi kendala. Gangguan pada telinga, gigi dan pergelangan kaki akibat panas knalpot motor masih terasa sakitnya hingga kini. Sementara itu yang namanya gula darah kok ya makin tinggi saja rasanya.
Pertanyaan ‘kok makin kurus’ jadi terdengar wajar kalo ingat kondisi diatas. Apa daya lingkungan seakan tak peduli akan hal itu.

Maka itu saya Kangen banget bisa ngeBlog lagi. Kangen bisa nulis nulis banyak lagi. Menumpahkan semua pemikiran dari keluhan, impian, gaya hidup hingga hal hal kecil yang berkaitan dengan keluarga.
Apa ini efek samping dari membuka kembali lembaran FaceBook beberapa waktu lalu ?

Foto Reuni SMAN 6 Angkatan 1992 Tahun 2010 [update]

Category : tentang KeseHaRian

Atas permintaan beberapa kawan Alumni yang tidak dapat hadir dalam Reuni SMAN 6 Angkatan 1992 Tahun 2010 tempo hari, berikut kumpulan Foto terkait yang saya kelompokkan per Topik untuk memudahkan pengunduhan.

Foto diatas, saya jadikan satu folder dalam setiap Tema, dan di kompres dalam bentuk file ZIP. Bagi kalian yang mengunduh file melalui perangkat ponsel, bisa mengunduh aplikasi UnZip di pasar aplikasi masing-masing untuk melihat isi Foto didalamnya.

Berikut daftar Foto dimaksud :
1. Foto pertemuan di restoran DCoz Renon bisa diunduh disini ;
2. Foto Persiapan Reuni, Rapat Panitia hingga kunjungan ke SMAN 6, bisa diunduh disini ;
3. Foto SMAN 6 Tempo Doeloe, diambil dari majalah Candra Lekha dan sumber lainnya, bisa diunduh disini ;
4. Foto SMAN 6 Masa Kini, di Tahun 2010 pastinya. Bisa diunduh disini ;
5. Foto kegiatan OSIS Angkatan 92, bisa diunduh disini ;

6. Foto aktifitas Kelas Jurusan A1 Fisika, bisa diunduh disini ;
7. Foto aktifitas Kelas Jurusan A2 Biologi 1, bisa diunduh disini ;
8. Foto aktifitas Kelas Jurusan A2 Biologi 2, bisa diunduh disini ;
9. Foto aktifitas Kelas Jurusan A3 Sosial 1, bisa diunduh disini ;
10. Foto aktifitas Kelas Jurusan A3 Sosial 2, bisa diunduh disini ;

11. Foto aktifitas Kelas I2, bisa diunduh disini ;

12. Foto Reuni SMAN 6 Angkatan 92 Tahun 2010 yang saya bagi dalam 4 Folder/Bagian lantaran berjumlah ratusan dan berukuran lumayan besar.
Folder Satu bisa diunduh disini ;
Folder Dua bisa diunduh disini ;
Folder Tiga bisa diunduh disini ;
Folder Empat bisa diunduh disini ;
13. Foto Personal dari masing-masing alumni saat Reuni berlangsung, baik yang diambil secara closed up, dan ada juga yang diambil bersama papan Reuninya, bisa diunduh disini.

Kira-kira itu yang bisa dibagi, selamat beraktifitas.

Satu Satu

Category : tentang Opini

Orang-orang lalu lalang datang dan pergi.
Ada kesedihan dan juga kegembiraan yang hadir di dalamnya.
Aku hanya bisa melihat dan yakin, bahwa kelak akan melewati satu masa itu. Entah meninggalkan, atau ditinggalkan.

Tak ada yang tahu, kapan Ia akan memanggilmu pulang.
Tak ada yang tahu juga, kapan Ia akan memanggil orang yang kau sayangi untuk pulang.
Kita semua hanya bisa menunggu waktu dan giliran, tak pasti kapan.

Jika yang pergi adalah kesayangan keluarga, kehampaan akan hinggap untuk jangka yang lama.
Jika yang pergi adalah tulang punggung keluarga, kepedihan akan berlangsung sangat lama.
Namun Jika yang pergi, bukanlah siapa-siapa, yakin tak akan ada yang pernah pedulikan.
dan semua yang pergi, satu saat pasti kan kembali. Entah dalam lingkaran yang mana.

Satu persatu orang-orang yang kukenal dekat, sudah mendahului.
dan Aku hanya bisa berharap, tak pernah melihat orang yang kusayangi mendahului lebih awal.
Semoga kami berada dalam masa dimana menyayangi dan mencintai keluarga, bisa lebih lama.

Kelelahan itu Tuntas Jua Akhirnya

Category : tentang Opini

Delapan Bulan…

Ya, delapan bulan. Perlu waktu delapan bulan untuk bisa menyelesaikan ini semua. Untuk satu pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.
Rasanya Plong sejauh ini. Entah bagaimana nanti.
Yang penting semua usaha dan upaya sudah membuahkan hasil.

Tidak disangka ini bisa terjadi.
Kelelahan yang pada akhirnya saya lepas dan pasrahkan pada-Nya, hari ini selesai juga.
Padahal sudah sempat kehilangan semangat dan cenderung membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Mengingat perjuangan rasanya sia-sia saja dilakukan.

Hanya karena keinginan untuk menyelamatkan diri masing-masing, dan mengabaikan pengorbanan orang lain, kelelahan ini makin menjadi seiring perubahan orang dan perubahan posisi. Semua mencoba buang badan. Meski sakit, tapi harus tetap dijalani. Karena ini buah dari perjuangan akhir di tahun kemarin.

Rasa syukur pun dipanjatkan pada-Nya. Ucapan Terima Kasih disampaikan pada semua pihak yang telah membantu. Tak kenal lelah.
Kini tinggal melunasi hutang pada yang pernah ikut terlibat didalamnya.

Akhirnya Berpisah Lagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Gak terasa Tiga Minggu sudah kakak liburan di Bali.
Mengajak dua Putranya yang sudah segede gaban bersama sang istri, menepati janji yang pernah mereka ucapkan lima tahun lalu. Pulang sebentar setelah lelah mengumpulkan dollar.

Ada banyak cerita yang dilalui selama mereka di Bali. Dari soal ujian bahasa Inggris setiap hari bagi semua orang di rumah lantaran dua ponakan tidak menguasai bahasa ibu, melali dan melali nyaris tiap hari, hingga ributnya tandem baru, Ananta bungsu dari kakak dengan Ara bungsu kami, yang terlihat cocok satu sama lain dalam kesehariannya.

Saya sendiri bagai ujian praktek bicara Inggris dengan upaya grammar seadanya, modal nekat, pokoknya biar tetep nyambung, karena kasian juga kalo diem dieman sepanjang hari. Menyapa, menawarkan makan malam, atau sekedar ngocehin game yang mereka mainkan melalui ponsel iPhone 4nya.

Sementara untuk Mirah dan Intan, yang sebelumnya terdengar begitu fasih berbahasa Inggris, mendadak diam tanpa berani berkata apa apa. Seperti biasa, takut salah ucap.
Padahal, mumpung dengan saudara lah salah ucap itu musti dibiasakan, biar tahu salahnya dimana. He…

Tapi Jujur, selama Tiga Minggu ini, saya jarang bisa mengungkapkan perasaan dalam tulisan Blog tentang aktifitas mereka. Pun demikian saat kepulangannya hari Jumat lalu.
Itu sebabnya baru hari ini bisa tersampaikan.
Terlupakan dengan rasa haru dan senang, bisa bertemu lagi. Padahal selama empat tahun terakhir, pasca meninggalnya kakak perempuan, saya merasa tak punya saudara yang diajak menikmati hari. Yang ini jauh di Canada, meski masa kekinian ada video call nya whatsapp, tetap saja tak merasakan nikmatnya ‘mendekatkan yang jauh.’

Mengingat Whistle Blower, jadi Saksi Kunci, serius ?

1

Category : tentang Opini

Sesaat ketika mengetahui adanya fitur Whistle Blower di aplikasi LPSE, Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik beberapa tahun yang lalu, istilah yang saat itu menjadi Trend atas kasus apa gitu, saya lupa, maaf… sempat terpikirkan ‘seberapa beranikah kalian mencoba menerapkannya atas penyimpangan-penyimpangan yang kelak ataupun sudah terjadi pada birokrasi negeri ini ?’
Karena kalau melihat dari sisi positif atau reward yang diberikan, saya meyakini tak seberapa positifnya jika dibandingkan tekanan atau teror yang berpotensi diakibatkan karenanya, terutama apabila adanya ketidaksengajaan atau bisa jadi kesengajaan kebocoran informasi yang terjadi selama proses tersebut berlangsung.

Berselang sekian tahun, apa yang menjadi pertanyaan tadi, terjawab sudah.

Johannes Marliem, Saksi Kunci KPK atas kasus e-KTP yang kabarnya bakalan menjerat banyak pihak, tewas di Los Angeles Amerika. Ditengarai akibat bunuh diri, yang kalo secara logika pribadi, masih banyak kejanggalan didalamnya. Entahlah…

Ditambah teori konspirasi sebagaimana film epik JFK (1991), saya kok jadi semakin yakin, tentang kekhawatiran, seberapa kuatnya kita akan menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi ketika memilih tampil ke depan podium mendeklarasikan sebagai Abdi Negara yang Baik ?

Itulah yang terjadi pada sosok PakDe Jokowi, Presiden Indonesia keTujuh, dibully habis ketika sudah berupaya bekerja dengan benar, masih tetap Salah di mata banyak orang, atau Pak Ahok yang akhirnya terpeleset ucapan dan dipenjara, serta terbaru, Johannes Marliem yang tak mampu berbuat banyak, tewas mengenaskan.

Pada akhirnya, saya sendiri hanya bisa menuangkannya dalam sebuah status di akun sosial media FaceBook yang selama ini saya hindari.
‘Kematian Saksi Kunci KPK kasus e-KTP, Johannes Marliem di LA, menguatkan Pertanyaan yang selama ini bersliweran di Kepala.’
“Seberapa Kuat dan Seberapa Berani kah kalian menjadi seorang Saksi Kunci atau mungkin Whistle Blower pada kasus-kasus yang terjadi di Birokrasi negeri ini ?”

    Sambil menenggelamkan semua harapan dan keinginan yang sejak awal begitu menggebu, serta memilih jalan diam meski tak sesuai dengan hati nurani. Namun setidaknya ini merupakan keputusan terbaik bagi Keluarga nantinya.

Gek Ara dan Gigi Camed care nak Jawe

Category : tentang Buah Hati

Melanjutkan postingan terakhir tentang si Cina Kecil Gek Ara, tahukah kalian bahwa ia juga mewarisi gigi camed Bapaknya yang kerap disangka nak Jawe (orang jawa) dauh tukad ketika diajak ngobrol menggunakan bahasa nasional ?
Ya, demikianlah adanya Gak Ara.
Kasihan sebenarnya.

Gigi camed care nak Jawe.
Entah darimana pula saya bisa mewarisi semua itu dari kedua orang tua yang justru memiliki wajah khas orang Bali.
Bisa jadi saya keturunan yang lahir cacat dari mereka. Yang berbeda satu diantara tiga yang ada. Yang sebenarnya kehadirannya tidak direncanakan, itu sebabnya jarak usia saya dengan kedua kakak, terpaut jauh. 8 tahun.

dan Orang baru akan menyadari bahwa saya orang aseli Bali, setelah mereka disapa dan me?anjutkan obrolan dengan bahasa Ibu, bahasa Bali. Tak ada yang menyangka sama sekali.

Bahwa Gek Ara, putri kami, si bungsu yang nakal, memiliki gigi camed dalam rupa fisiknya, sesungguhnya tidak saya harapkan sama sekali.
Karena kelak, kekurangan ini bisa jadi membuatnya minder pada pergaulan seperti halnya si Bapak yang hingga kini, masih saja disangka nak Jawe.

Informasinya gigi camed ala Buto Cakil ini bisa dioperasi ketika besar nanti. Dengan menggeser rahang bawah ke arah belakang. Namun apa jadinya jika pemberian lahir ini disalahaturkan dari pemberian-Nya ?
Entahlah.

Namun jika saja Gek Ara kelak tidak akan malu dengan wajah yang apa adanya, semoga ia bisa tumbuh menjadi gadis yang membanggakan semua orang yang mengenalnya.