Mengubur Angan Google Adsense

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Masih banyak Jalan menuju Roma…
dan Rejeki sudah ada yang mengatur…
Kita tinggal berusaha saja.

Saya meyakini betul tiga kalimat diatas. Termasuk saat berurusan dengan model pemasangan iklan di halaman blog yang informasinya cukup menggiurkan secara nilai. Namun sayang, Google menolak permohonan dan juga banding yang saya ajukan untuk halaman www.pandebaik.com lantaran terlanjur banyak mengandung ajakan untuk pencarian konten ilegal dan terlarang lainnya. WTF hehehe…

Adapun konten dimaksud antara lain berkaitan dengan tips terkait Torrents, penggunaan 4Shared ataupun pembagian materi yang menyiratkan ajakan tadi. dan proses banding pun telah berkali kali diupayakan pasca membredel tulisan per tulisan yang dianggap bermasalah bagi Google. Ah, memang bukan jodohnya kali.

Maka itu, angan untuk bisa menikmati serpihan rejeki dari Google tampaknya memang harus dikubur dalam-dalam sambil mencari celah dan cara lain untuk bisa mengaisnya kembali. Mungkin saja bakalan bertumpu dari halaman www.tipstekno.com

Tapi toh seperti tiga kalimat yang saya comot dari pepatah lama, yakin sekali akan kebenarannya. Yang meskipun secara materi tidak seberapa penghasilannya, manfaat yang ada dari halaman blog ini cukup banyak kok. Kalo kalian mau mencari tahu apa saja, bisa membacanya lebih jauh dari postingan yang ada di halaman ini.

Jadi, harus tetap optimis kawan..

Nikmati Kemudahan Transaksi ATM BPR Lestari

1

Category : tentang Opini

Beberapa pertimbangan kami, calon nasabah untuk bisa memiliki simpanan investasi jangka panjang adalah dukungan atau ketersediaan fasilitas tambahan yang diberikan oleh para penyedia jasa disamping suku bunga yang bersaing dan kemudahan-kemudahan lainnya yang mampu memenuhi kebutuhan aktifitas ataupun transaksi yang kelak akan dilakukan nantinya.

Pemberian Kartu ATM misalkan.
Kartu ATM yang didalam negeri dikenal sebagai Anjungan Tabungan Mandiri atau resminya merupakan singkatan dari Automatic Teller Machine, secara umum dapat diartikan sebagai petugas yang melayani kebutuhan nasabah termasuk dalam keperluan menarik atau menyetorkan uang secara otomatis laiknya sebuah mesin. Kartu ini biasanya didapatkan ketika kita menabung pada bank-bank asing, pemerintah, swasta nasional atau pemerintah daerah, dengan cara pengajuan atau bahkan saat pembukaan rekening sebagai salah satu penawaran menarik. Di jaman kekinian rasanya memang konyol kalo kita sebagai nasabah memutuskan untuk menitipkan investasi tanpa memiliki Kartu satu ini. Apalagi fungsi yang ditawarkan bisa lebih dari sekedar transaksi menarik tunai tanpa harus antri dan dapat dilakukan kapan saja.

BPR Lestari
sebagai sebuah lembaga keuangan yang dekat dengan masyarakat Bali sejak Tahun 1999, kini dikenal sebagai BPR Terbesar Kedua Nasional serta Terbaik di Bali dengan besaran aset hingga 4 Trilyun Rupiah. Tidak heran apabila eksistensi mereka telah berkembang ke wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten. Dan pada Tahun 2017 ini, demi mendukung mobilitas nasabah yang cukup tinggi, BPR Lestari meluncurkan Kartu ATM Lestari sekaligus menjadikannya sebagai satu-satunya BPR yang memiliki ATM di Bali.
Dengan adanya ATM Lestari ini diharapkan dapat memberi banyak kemudahan serta nilai tambah bagi para nasabah dalam bertransaksi tanpa perlu antri di kantor-kantor kas dan cabang BPR Lestari.

Saat ini ATM Lestari khusus diperuntukkan bagi nasabah Tabungan Jumbo dan Tabungan Lestari yang menawarkan suku bunga tinggi dan bebas biaya administrasi. Selain proses tarik tunai 24 jam, ATM Lestari bisa juga digunakan untuk pengecekan saldo serta transfer antar rekening BPR Lestari. Informasinya, Sementara mesin ATM yang dapat digunakan masih terbatas pada kantor Kas Teuku Umar dan Sesetan, namun infonya sedang diupayakan kelak ATM Lestari dapat digunakan di jaringan ATM Bersama.

Untuk Pertama kalinya, ATM Lestari ini diluncurkan dengan tema ‘Indonesia Kita’ dengan menggunakan latar belakang bendera merah putih. Hal ini demi mengkampanyekan semangat kebhinekaan yang ingin disampaikan BPR Lestari bahwa meski kita berbeda, semua tetap satu jua, Indonesia. Agendanya, dalam setiap tahunnya ATM Lestari akan diperkenalkan dengan tematik yang berbeda.

Kartu ATM Lestari dapat diajukan di seluruh kantor BPR Lestari dengan ataupun tanpa pengenaan nama pemilik diatasnya. Fitur ini dapat digunakan untuk lebih memudahkan nasabah dalam mengenali kartu ATM yang dimilikinya atau orang lain saat kehilangan.

Tips Setup Perangkat Pintar untuk Anak

Category : tentang TeKnoLoGi

Memberikan bekal perangkat ponsel pintar ataupun yang berukuran besar laiknya tabletpc pada anak-anak agaknya sudah mulai lumrah dilakukan. Meski sebagian orang tua menyampaikan alasan demi masa depan dan pengetahuan mereka di jaman teknologi informasi ini, namun ada juga yang menganggap bahwa upaya ini adalah usaha meninabobokan anak agar tak mengganggu aktifitas orang tuanya. Mana yang benar, saya yakin kalian sebagai orang tua yang sebaya dengan saya pasti lebih tahu. He…

Jika melihat dari sistem operasi yang disematkan pada perangkat diatas secara, sepengetahuan saya hanya ada dua jaman sekarang ini. Android dan iOS.
Android yang dikembangkan oleh Google bisa ditemukan dalam beragam merek, spek dan besaran layar. Sedang iOS besutan Apple hadir dalam jumlah terbatas. iPad untuk ukuran tablet dan iPhone untuk ukuran ponsel.
Ada sih sistem operasi satu lawas yang mencoba peruntungan di pangsa mobile, namun kelihatannya belum begitu digemari, utamanya di kalangan anak-anak. Yup. Windows.

Tapi terlepas dari apapun itu perangkat yang dibekali, ada satu benang merah yang saya yakini menjadi penghubung atau kesamaan pola dalam melakukan aktifitas didalamnya.
Alamat Email.

Alamat email atau selanjutnya kita sebut saja dengan email, merupakan syarat mutlak untuk bisa menggunakan semua perangkat diatas. Minimal untuk bisa masuk kedalam pasar aplikasi secara resmi atau menyimpan semua history dan data selama kita berinteraksi dengan perangkat tersebut.
Untuk membuatnya gampang saja. Gunakan alamat email yang mudah diingat, dan percobaan password tanggal lahir. Sesederhana itu. Toh ini hanya untuk kepentingan perangkat yang nantinya akan digunakan lebih banyak untuk bermain dan belajar.

Langkah kedua, Pengaturan.
Mengingat secara fungsinya, pengaturan lebih lanjut bisa ditujukan kepada operasional mencakup layar, suara, daya tahan batere ataupun aplikasi yang dijalankan atau tidak. Pada dasarnya ya menyederhanakan kinerja perangkat agar tak banyak mengganggu aktifitas sang anak.
Kalau perlu, terkait Notifikasi aplikasi yang barangkali dianggap mengganggu.

Ketiga, suntikan Aplikasi tambahan.
Berhubung yang menggunakan lebih banyak anak-anak, perangkat bisa disuntikkan aplikasi utility yang mampu memblokir konten terlarang atau melaporkan aktifitas sang anak kepada orang tua, atau launcher user interface layar depan yang tidak memungkinkan anak untuk menghapus aplikasi secara tak sengaja. Semacam Lock Layar dalam posisi standby.

Langkah terakhir ya pengisian konten. Apakah berupa permainan yang nantinya akan mengedukasi si anak, belajar memahami pola dan alur, atau hiburan lainnya seperti video musikal ataupun filem keluarga masa kini. Bisa juga tivi series macamnya Marsha dan sejenisnya, ditambah motivasi psikologis untuk menambah semangat mereka.
Orang tua tentu lebih paham kebituhan anak mereka.

Berkaitan yang terakhir diatas, tentu dibutuhkan storage tambahan agar tak membebani kinerja perangkat akan kebutuhan ruang pada storage atau penyimpanan internal. Ukuran 32 atau 64 GB akan memberikan keleluasaan lebih untuk menyimpan dan memutar konten dengan beragam variannya.

Kira-kira begitu Tips hari ini dari saya.

Kamar 932 Hotel Borobudur Jakarta

Category : tentang PLeSiran

Untuk kelas sebuah hotel di DKI Jakarta, Hotel Borobudur kalo boleh saya cari persamaannya mirip dengan Grand Bali Beach yang ada di Sanur Bali.
Fasilitasnya tergolong lengkap. Areanya luas. Sehingga mereka yang menginap bisa memanfaatkan area taman dan jogging track untuk berolahraga atau menikmati waktu luang dengan optimal.

Kami berdua, saya dan sepupu menempati kamar nomor 954 sementara pimpinan diberikan sebuah kamar yang spesial, setidaknya menurut petugas di front office berhubung kamar dengan satu bed sebagaimana yang Beliau minta kebetulan penuh per hari kemarin. Sembari menunggu tamu yang akan check out, Ibu Kadis kami diberikan kamar sementara dan begitu ada kamar kosong, akan dikontak kembali. Done.

Kamar 932 menjadi spesial, dijelaskan karena secara luasan sedikit lebih besar ketimbang lainnya, dengan fasilitas shower dan bathub yang juga berbeda jenis dengan kamar lainnya. Posisi ada di tengah bangunan di depan lorong kaca menuju lift.
dan Kamar itu memang benar-benar “spesial”.
Setidaknya menurut putrinya Ibu yang selama ini tinggal di Jakarta, malam itu diajak menginap bareng untuk menemani aktifitas Beliau diluar agenda kerja.

Menjadi “Spesial” karena rupanya kamar 932 tersebut ada ‘penunggunya’. Ya. Serius.
A D A P E N U N G G U N Y A.

Edan bener.
Yang melihat ya putrinya Ibu.
Yang kelihatannya ketularan kemampuan melihat dari suaminya. Hiy…

Jadi pas tengah malam, yang bersangkutan terbangun gegara merasa gak enak feeling. Langsung ketakutan melihat sosok wanita berbaju putih duduk di kursi meja tulis pojokan ruangan. Setelah itu melayang dan nemplok di plafond kamar.
Praktis dia gak bisa tidur lagi dan pindah tempat ke bed satunya dimana si Ibu berada.
Dikira kangen ya si Ibu lanjut tidur sambil meluk putrinya.
Baru cerita pas pagi hari, dan ngotot minta Check Out hari itu juga.
Kebetulan deh… hehehe…
Tapi sebenernya si Ibu sempat juga merasakan hal yang sama di sore hari sebelumnya. Saat memilih untuk beristirahat tanpa AC, ruangan malah terasa jauh lebih dingin. Agak kebingungan, namun pikiran masih bisa positif dan mengabaikannya. Baru ngeh setelah denger cerita si anak. Hiy…

Tapi ya ngomong-ngomong soal ‘penunggu’ ya setahu saya rata-rata hotel besar pasti punya cerita yang sama. Katakanlah Grand Bali Beach tadi.
Ada satu kamar yang memang tidak dijual atau ditawarkan kepada tamu lantaran memang khusus diperuntukkan bagi Ratu Kanjeng Roro Kidul. Pernah baca di Intisari. Begitu juga Pelabuhan Ratu di Jogja.
Wajar sih ya.
Dan penunggu ini bisa jadi datangnya dari ‘tumbal’ tak sengaja yang mati saat pembangunan gedung atau memang ada dari sononya.

Jadi ingat cerita memetwitnya Winar. Hehehe…

Ubah Rencana dan Balik Kanan

Category : tentang PLeSiran

Ketika mendapati fakta bahwa agenda hari ini kacau dan kunjungan ke lapangan dibatalkan sepihak, sempat terpikirkan untuk mengajukan perubahan jadwal terbang balik pulang ke Bali ke pagi ini.
Tapi bersyukur pimpinan punya inisiatif lain.
Kami tetap berkunjung ke salah satu lokasi kegiatan yang tadinya menjadi agenda, dan pengajuan perubahan skejul terbang disepakati geser ke sore hari.

GA 420 pukul 16.35.

Ini merupakan pengalaman pertama saya melakukan perubahan jadwal agenda terbang. Rumit juga mengingat proses gak segampang yang saya bayangkan di awal, tinggal pencet sana sini dan selesai.
Namun harus mengorbankan sejumlah pulsa untuk melakukan kontak ke maskapai, mencatatkan nomor kode booking, nomor tiket, dan lain lain. Harus menunggu 2 menit tiap kali transaksi diproses, dan mengulang kembali proses dari awal ketika telepon terputus. Aduh…

Tapi ndak apa deh… yang penting kita pulang.

Cuma ya gitu…
Jadi sedikit terburu-buru buat packing. Terlanjur diturunkan semua isi tas di hari pertama kemarin. Gak bisa leyeh-leyeh lagi. Harus lanjut kerja lagi.

Ini kali kedua saya menjejakkan kaki di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Yang pertama pas pengalaman nyariin Uber tempo hari trus dapet Driver Tua. Hehehe…
Keren dan Megah. Ya menurut saya pribadi sih ya.
Suka banget dengan desainnya yang meski masih kalah bagus dengan desain Bandara kami di Ngurah Rai Bali. Ini skalanya ya lebih mirip di luar negeri.

Gak sempat lagi beli oleh-oleh kawan. Jadi maaf saja. Tas rasanya sudah numplek gegara nggak punya waktu buat berkemas, diburu jadwal ke lapangan dadakan tadi pagi. dan kepala juga sudah numplek berisikan ide postingan yang hingga sore tadi masih malas buat dituangkan.
Maka jadilah sebagian besar waktu menunggu didalam pesawat, digunakan buat menulis. Draft postingan, untuk dipublikasi saat mendarat di Bali nanti.

Well, kira-kira begitu cerita perjalanan kali ini.
Singkat dan Padat.
Serta penuh cerita.
Semoga kali lain bisa lebih baik lagi.

Berkunjung ke Taman Ayodya Blok M

Category : tentang PeKerJaan

Tadinya agenda hari ini rombongan kami akan berkunjung ke dua tempat. Tanah Abang dan Blok M. Melihat secara langsung paket kegiatan yang dilaksanakan dengan menggunakan metode e-Katalog dengan spesifikasi penataan taman dan penataan pedestrian. Sampe sore.
dan kami berencana balik ke Bali besok sore.

Apa daya semua agenda kacau.
dan Hari ini, kami tidak ada jadwal mengkhusus sebagaimana info dari pemimpin rombongan dan dibebastugaskan.
Kecewa dan bingung.

Namun pimpinan mencoba membijaksanai.
Kami bertiga, memutuskan untuk tetap ke salah satu lokasi tujuan diatas, tentu berkoordinasi terlebih dahulu dengan tim pengendali dari Bina Marga DKI Jakarta, Ibu Riri.
Great.
Kami mendapatkan kontak salah satu vendor yang saat ini sedang bekerja di Taman Ayodya Blok M. Pekerjaan Pedestrian dan Pembangunan Trotoar.
Adapun vendor penyedia merupakan sebuah perusahaan dengan spesialisasi semen.
Holcim.

Tiba di lokasi sekitar pukul 10.15 pagi, kami bersua dengan tim lapangan yang dipimpin oleh Pak Prabanto didampingi oleh Pak Dadang, yang bersedia menjelaskan proses kontrak kerja penanganan pedestrian di Blok M, melalui metode e-Katalog. Termasuk bagaimana mungkin yang mengambil pekerjaan lebih identik dengan produsen material.

Dalam kesempatan yang baik ini, kami mendapat banyak ilmu baru dalam hal per-betonan, diantaranya teknologi ThruCrete yang kini mulai banyak digunakan oleh Pemda DKI di sejumlah taman dan pedestrian, sebuah teknologi beton yang mampu menyerap air sehingga tidak menciptakan genangan setempat, juga SpeedCrete teknologi beton yang cepat kering.
Dari penjelasan yang disampaikan sempat pula terbersit di pikiran kami untuk mengaplikasikan teknologi yang sama di paket kegiatan konstruksi kami di Kabupaten Badung baik Jalan Lingkungan Permukiman ataupun Jalan Kabupaten.

Lokasi berlanjut ke Taman Sepeda. Tempat dimana teknologi ThruCrete selesai diterapkan. Sayangnya secara visual sebagaimana penjelasan pak Prabanto, lebih mirip struktur batu yang rapuh, sehingga para pejalan kaki yang melewati konstruksi tersebut lebih memilih menghindar utamanya yang menggunakan high heels. Wajar sih, apalagi kalo para anggota Dewan itu sampai melihatnya. Wah, bisa bonyok kami dimaki…

Matahari kian terik. Jam makan siangpun tampaknya sudah terlewat jauh. Namun semangat tidak kendor sedikitpun mengingat banyaknya pengalaman baru yang didapatkan sesi kedua hari ini. Gak nyesel deh berinisiatif untuk tetap bekerja sesuai jadwal kunjungan.

Kembali ke Jakarta tanpa Pak Ahok

Category : tentang PLeSiran

Ketika penugasan dinas ke luar kota diberikan, harapan yang dahulu pernah ada saat menyebut DKI Jakarta, tak lagi greget saya rasakan.
Ya, Pak Ahok.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama.
Kini Beliau tidak lagi ada di gedung Balai Kota.
Berpindah tempat ke Rutan Brimob Depok pasca Vonis 2 Tahun yang dijatuhkan Hakim Dwiarso atas dakwaan Penistaan Agama yang Beliau lòntarkan di Kepulauan Seribu.
DKI tanpa Ahok, sudah gak asyik lagi rasanya buat dinanti.

Tapi ya berhubung sudah penugasan resmi, maka semua persiapan keberangkatan musti langsung dilakukan sebagaimana biasanya. Cuma, posisi saya kini sebenarnya tidak lagi berada pada pemilik pekerjaan. Namun fakta lapangan, pejabat pengganti nampaknya belum fasih benar dengan kebiasaan pimpinan. Jadi ya mau ndak mau, saya jua yang menghandel semua sejak awal.
Tiket Pesawat, auto Check In, pembayaran, penyiapan akomodasi hingga kelengkapan dokumen, sppd, surat tugas dan materi pemaparan. Syukurnya sepupu bisa handel yang terakhir. Meski ndak tuntas bisa terselesaikan. Sementara transportasi di Jakarta yang awalnya berencana memanfaatkan Uber, dibantu salah satu pimpinan yang batal berangkat.
Jadi Clear.

Jakarta tetap Macet.
Ya. Tapi itu juga karena kami salah ambil jalan. Mengambil opsi sesuai petunjuk Google Maps, berhubung driver yang mendampingi kami masih agak bingung mencari jalur lintasan dari Bandara Halim menuju LKPP RI di Kuningan.
Maka ya terlambat hampir sejam lamanya menjadikan pimpinan rombongan agak ketar ketir menunggu di ruang rapat LKPP lantai 10.

Namun bersyukur, proses diskusi bisa berjalan baik. Hangat dan Padat. Hampir semua sudah saya tuangkan dalam Catatan di halaman Blog ini semalam. Keknya masih ada beberapa hal lagi yang harus disampaikan, namun dengan durasi nyaris dua jam lamanya berkutat dengan layar ponsel sebagai satu-satunya media yang dimiliki saat ini, rasa lelah pun menghampiri.
Maka berendam di hangatnya air Hotel Borobudur jadi pilihan. Lumayan bikin segar dan melanjutkan postingan lanjutan yang sempat tertunda.

Perjalanan kali ini cukup menyenangkan. Apalagi saya bisa bertemu dua senior yang sangat dikagumi sejak awal menjadi abdi negara, serta berdiskusi panjang dengan semangat yang masih tetap sama.

Ah ya, hari ini kami diagendakan berkunjung ke lapangan, dimana salah satu pekerjaan konstruksi milik DKI Jakarta ini dilakukan dengan menggunakan e-Katalog.

Gimana cerita lanjutannya ? Tunggu saja…

Catatan Studi Banding e-Katalog Kabupaten Badung di LKPP RI

Category : tentang PeKerJaan

Salah satu upaya untuk memberikan kemudahan kepada K/L/D/I dalam melaksanakan pengadaan sesuai kebutuhan instansi masing-masing, dimana pelaksanaan pengadaan dapat dilakukan secara langsung terhadap barang/jasa yang diinginkan serta mampu memberikan kepastian spesifikasi teknis dengan acuan harga yang seragam, dapat diwujudkan melalui sistem informasi elektronik yang dikembangkan oleh LKPP RI dengan nama e-Katalog.

e-Katalog atau Katalog Elektronik merupakan sebuah sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai Penyedia Barang/Jasa Pemerintah. Yang mana merupakan bagian dari e-Purchasing, tata cara pembelian Barang/Jasa melalui sistem katalog elektronik. Selanjutnya hal-hal yang berkaitan dengan ini diatur melalui Perka LKPP Nomor 14 Tahun 2015 tentang e-Purchasing menyempurnakan Perka LKPP Nomor 17 Tahun 2012 tentang hal yang sama, sebelumnya.

Kabupaten Badung pada pertengahan Tahun 2016 lalu, menjadi percontohan pelaksanaan e-Katalog daerah di Indonesia bersama tiga pemerintah daerah lainnya. Peluncuran katalog daerah yang dilakukan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) bersama MCA-Indonesia, menggandeng empat Pemerintah Daerah yaitu Kabupaten Badung, Provinsi Gorontalo, Kota Semarang dan Kota Yogyakarta. Peluncuran tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kepala LKPP Agus Prabowo dengan Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta di Gedung LKPP, Jakarta Selatan, Jumat 17 Juni 2016 lalu.

Layanan katalog daerah dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan pengadaan barang/jasa di Dinas/Instansi daerah seperti Provinsi, Kabupaten dan Kota. Sebagai tahap awal, baru beberapa jenis produk yang masuk ke dalam proyek percontohan katalog daerah. Khusus Kabupaten Badung dengan jenis produk konstruksi dan perawatan kendaraan.

Berkaitan dengan hal diatas, demi menjajagi proses penyusunan Katalog Daerah dan penerapannya di dua SKPD Teknis tahun anggaran berikutnya, beberapa perwakilan SKPD di lingkungan Kabupaten Badung melakukan Studi Banding ke LKPP RI pada hari Rabu dan Kamis 17-18 Mei 2017. Mengundang pula perwakilan dari Dinas Bina Marga DKI Jakarta sebagai pionir pengadaan jasa konstruksi menggunakan metode e-Katalog, dengan agenda Diskusi dan Pembahasan hal-hal yang dipandang penting diketahui bersama, khususnya pada penggunaan material Paving yang dilaksanakan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman di sejumlah besar Jalan Lingkungan sebagai salah satu paket kegiatan strategis di Kabupaten Badung.

Adapun hal-hal yang menjadi bahan diskusi terkait diatas dapat disampaikan sebagai berikut :

1. Bahwa dalam pelaksanaan Katalog Daerah yang merupakan bagian dari sistem informasi e-Katalog dan e-Purchasing, telah memenuhi aspek efisiensi, efektifitas dan akuntabilitas, serta tidak bertentangan dengan indikasi pemecahan paket dengan maksud menghindari pelelangan pada Pasal 24 ayat 3 Perpres 54 Tahun 2010 beserta seluruh perubahannya.

2. Bahwa dalam upaya penuangan kode rekening paket kegiatan dengan menggunakan e-Katalog dalam DPA dapat dilakukan dengan menyajikan item sub kode objek belanja/sub kode rekening sesuai dengan rincian item pekerjaan pada paket kegiatan dimaksud.

3. Pada Studi Kasus paket Kegiatan Peningkatan Jalan Lingkungan Perumahan dan Permukiman nantinya yang dilaksanakan per Desa/Kelurahan atau Perumahan, dapat ditampilkan secara gelondongan, atau lebih baik lagi, item pekerjaan Pemasangan Material yang ada di lokasi dimaksud sesuai penjabaran Perencanaan DED yang pernah dibuat. Misalkan saja :

– pemasangan Paving full colour 20×20 cm tebal 6 cm K.225 seluas …. M2 ;
– pemasangan Paving full colour 20×20 cm tebal 8 cm K.225 seluas …. M2 ;
– pemasangan Kansteen Segilima 15x30x50 cm K.225 sepanjang …. M1 ;
– pemasangan saluran Drainase Udith Type 30 K.225 sepanjang …. M1 ;
– pemasangan Tutup Plat Drainase Udith 30x60x8 cm K.225 sepanjang M1 ; dan
– pemasangan Sumur Resapan Type 1 M1 sebanyak …. unit.

4. Penjabaran diatas akan disesuaikan kembali per masing-masing paket yang dilaksanakan dengan menggunakan nomenklatur Desa/Kelurahan atau Perumahan, sesuai Perencanaan DED yang ada.

5. Adapun item pekerjaan pemasangan material diatas, nantinya akan dilakukan upaya Penyusunan Katalog Daerah oleh ULP Badung dengan menyaring sejumlah besar Pelaksana Pekerjaan melalui sosialisasi dan pembukaan pendaftaran Lelang e-Katalog, dengan hasil akhir berupa penayangan Penyedia dengan memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang/pemasangan di halaman https://e-katalog.lkpp.go.id/ milik LKPP RI.

6. PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan akan menentukan pilihan Penyedia/Pelaksana sesuai Hasil Penayangan e-Katalog seuai item pekerjaan yang dibutuhkan. Apabila misalkan dari 4 item pekerjaan, terdapat 1 Nama Penyedia/Pelaksana yang memiliki Hasil Penawaran masuk dalam tayangan e-Katalog, keempat item pekerjaan ini dapat dituangkan menjadi satu kesatuan Kontrak, tentu dengan alasan logis dan sesuai aturan dari PPK. Misalkan untuk mempermudah proses pengerjaan dan pengelolaan paket secara keseluruhan.
Akan tetapi apabila dari 4 item pekerjaan, salah satu Penyedia/Pelaksana hanya memiliki 3 Hasil Penawaran yang masuk dalam tayangan e-Katalog, maka untuk 1 pekerjaan lainnya akan melibatkan Penyedia/Pelaksana ke-2 yang dituangkan dalam 2 Kontrak yang berbeda. Demikian pula selanjutnya.

7. Untuk Kasus Pelaksanaan Paket Kegiatan dengan 2 Penyedia/Pelaksana yang berbeda, PPK wajib melakukan Pengawasan dan Pengelolan paket kegiatan secara lebih intens agar dalam pelaksanaannya tidak berbenturan atau saling menyebabkan keterlambatan. Apabila terjadi wanprestasi atas paket kegiatan tersebut, PPK wajib menelusuri penyebab terjadinya wanprestasi tersebut serta berlaku sesuai aturan yang diatur dalam Kontrak serta memiliki kewenangan untuk mengajukan peninjauan ulang terhadap Penyedia/Pelaksana kedepannya.

8. Bahwa PPK dalam menunjuk atau memilih Penyedia/Pelaksana tidak lagi diharuskan pada opsi Harga Terendah. Namun bisa jadi lebih pada Kuantitas Penyediaan Material yang dapat diselesaikan sesuai kebutuhan per paket kegiatan.
Atau pemilihan dapat mendahulukan opsi Harga Terendah terlebih dahulu, berlanjut ke harga yang lebih tinggi apabila secara Kuantitas Penyedia/Pelaksana sebelumnya tidak Mampu memenuhi sesuai kebutuhan yang ada.

9. Mengingat terbatasnya Penyedia/Pelaksana Lokal di Kabupaten Badung, proses penyusunan Katalog Daerah ini dapat melibatkan peran serta mereka yang berada di luar Badung, dengan catatan bahwa Biaya Mobilisasi dapat diperhitungkan include dalam harga material/biaya pemasangan, tidak terpaku pada jauh dekatnya lokasi pekerjaan dari base Penyedia/Pelaksana.

10. Apabila penerapan Katalog Daerah ini akan dilaksanakan pada Anggaran Perubahan sesuai arahan Bapak Bupati Badung, perbedaan harga penawaran paket tidak akan menjadi masalah mengingat adanya perbedaan metode yang digunakan.

11. Berkaitan dengan penerapan Katalog Daerah dan kaitannya dengan efisiensi anggaran dan pelaksanaan paket kegiatan, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman berencana untuk mengajukan semua item pekerjaan yang ada dalam satu paket kegiatan Peningkatan Jalan Lingkungan secara ideal. Untuk itu, mengacu pada Perka LKPP Nomor 14 Tahun 2015, Dinas agar bersurat kepada Sekretaris Daerah mengajukan permohonan baru dan selanjutnya ditangani oleh ULP Badung.

Demikian yang dapat disampaikan sejauh ini sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan selanjutnya.

Terbang (lagi) ke Jakarta Bersama Citilink

1

Category : tentang PeKerJaan

QG 153. Tujuan Jakarta.

Pagi ini, sebagaimana yang telah direncanakan tiga hari sebelumnya, saya kembali duduk menunggu jam boarding keberangkatan pesawat Citilink di Gate 3 ruang tunggu Bandara Ngurah Rai Bali.
Kali ini perjalanan akan memakan waktu hingga 2 hari kedepan, berkaitan dengan upaya pemberlakuan e-Purchasing Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah atau yang lebih familiar dikenal dengan istilah e-Katalog.
Hal ini menyikapi pilot project dari LKPP RI kepada 5 Daerah kalau tidak salah, dimana 4 diantaranya merupakan Pemerintah Provinsi di Indonesia dan Badung adalah satu-satunya Kabupaten yang diikutsertakan di dalamnya.

Perjalanan kali ini merupakan pengalaman pertama yang pernah saya agendakan keberangkatannya berempat dengan pimpinan, namun batal satu akibat kematian salah seorang famili di Jogyakarta yang mengharuskan yang bersangkutan hadir sebelum siang ini untuk mengikuti proses penguburan.
Sementara kehadiran sudah terlanjur dilakukan Check in via mobile web yang akhirnya tidak dapat di-Cancel/Refund ataupun diganti dengan Nama lain.
Rugi satu tiket deh.

Itu artinya, hanya kami bertiga yang positif berangkat. Ibu Kepala Dinas eh plt, Pak Pande Permukiman yang notabene masih merupakan adik sepupu di satu halaman rumah, yang per akhir Desember kemarin menggantikan saya di posisi Kepala Seksi Permukiman, dan tentu saya sendiri Pak Pande Perumahan. Hehehe…
Kebetulan di tanggal yang sama, saya dipindahtugaskan ke Bidang Perumahan dengan fokus utama pekerjaan berkaitan dengan Peningkatan Kualitas Perumahan atau lazimnya kini dikenal dengan istilah Bantuan Bedah Rumah.
Meski tidak spesifik satu itu saja. Sementara sih iya.

Lepas dari Bidang Permukiman yang dahulunya lebih banyak bergaul dengan Usulan penanganan Jalan Lingkungan, tampaknya tidak bisa dilepas begitu saja mengingat pejabat pengganti di Bidang Permukiman yang salah satunya ya sepupu tadi, masih belum menguasai betul medan tempur di lapangan pun proses pelaksanaan pasca perencanaan dilakukan.
Seiring dengan itu, per tahun lalu kebetulan pimpinan kami pernah mengajukan kegiatan konstruksi ini sebagai pilot project penggunaan metode e-Purchasing atau e-Katalog, yang rupanya secara intens dilanjutkan prosesnya sedari awal tahun 2017 ini.
Maka demi tercapainya tujuan diatas, saya sebagai mantan PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen yang bertanggung penuh akan semua paket kegiatan penanganan Jalan Lingkungan di Kabupaten Badung tahun anggaran 2013 hingga 2016, diminta ikut mendampingi kawan-kawan di Permukiman serta Tim Penyusunan e-Katalog dari LKPP. Baik terkait pemaparan spesifikasi, material, pola pelaksanaan hingga proses pengadaan yang dahulu dilakukan dengan Pelelangan Umum.
Ini dilakukan agar tidak ada informasi yang hilang ketika nantinya akan dieksekusi oleh kawan-kawan di Permukiman dengan pejabat baru ini.

Masalahnya adalah, kedua PPK resmi yang kini ditunjuk untuk melaksanakan tugas penanganan, sedang menjalani Diklat Kepemimpinan tingkat IV dengan konsekuensi tidak bisa terlibat penuh dalam proses pembahasan e-Katalog ini. Termasuk agenda Studi Banding ke DKI Jakarta yang menurut informasi Tim dari LKPP, sudah pernah melakukan Pengadaan Kegiatan Jasa Konstruksi serupa dengan metode e-Katalog.
Maka ya… Mau tidak mau, Mantan PPK diwajibkan ikut serta sesuai Perintah Pimpinan.
Gitu…

Lalu bagaimana cerita selanjutnya terkait agenda hari ini, kita lanjut sebentar setibanya di LKPP ya.
Kangen banget bisa bertemu sahabat lama disana.

Cerita Masa Kecil

2

Category : tentang KHayaLan

Ngikut trend cerita generasi 90-an, rasanya saya adalah salah satu diantaranya. Bisa dikatakan hari ini usia dah di kepala tiga, cukup tua kalo ikut-ikutan cerita soal masa kecil.

Tapi asyik juga. Sekali-sekali pengen nginget apa yang dahulu pernah dilakuin.
Cerita masa kecil, masa dimana saya tumbuh besar tanpa gangguan perangkat berlayar sentuh sebagaimana anak-anak saya alami saat ini.

Saya sendiri tumbuh di tengah kota denpasar, dimana tepatnya jalan nangka masih berlalu lintas dua arah.
Bemo roda tiga adalah kendaraan yang lumrah wara wiri namun kini tiada lagi. Kadang diisi penumpang, kadang juga ngiklanin film yang tayang di bioskop sambil melempar lembaran film yang dilipat lipat persegi empat. Satu hal yang saya dambakan saat itu adalah mencicipi es krim yang lewat dengan menggunakan mobil saat duduk nongkrong di warung kerja milik Bapak. Sayangnya kami bukan keluarga berada yang mampu membeli es krim setiap mereka lewat.

Snack atau makanan ringan yang saya sukai ada Mami. Semacam mie goreng yang dikeringkan dan dibungkus dalam kemasan mini. Harganya masih 25 rupiah saja. Kalo ndak salah ingat.
Ada juga permen susu, atau yang berhadiah piring dan lainnya, didapat dengan mencoblos kotak kotak yang ada. Tentu tak pernah terjadi ada pembeli yang memenangkan piring, karena kabarnya itu bonus bagi pedagangnya. Hehehe…

Saya suka main kembungan. Balon yang ditiup berasal dari cairan dalam tube kecil, melalui sedotan seukurannya yang berwarna kuning. Kembungan ini akan kami terbangkan ke langit dan dipukul naik tiap kali turun ke tanah. Sayang, lupa namanya.

Kecil-kecil sudah bisa merokok. Ya, jaman itu sudah ada yang namanya permen manis berbentuk batangan rokok. Kalo diselipkan di mulut bakalan terasa sepet lantaran ada kertasnya. Musti dibukain lalu dikunyah.

Ada juga permen karet Yosan, yang tiap kali beli musti beneran yakin melihat huruf yang tertera dibalik pembungkus permen. Karena kalo kita bisa lengkap memiliki bungkus dengan huruf Y-O-S-A-N itu, bakalan dapat hadiah. dan ngomongin hadiah, satu-satunya hadiah yang pernah saya terima di masa kecil adalah perlengkapan sekolah dari Chiki. Lantaran bisa mengumpulkan lembar bertuliskan C-H-I-K-I dan mengirimkannya ke Jakarta.

Salah satu permainan yang saya gemari waktu kecil dulu ada Guli atau kelereng. Jenisnya banyak, dari yang biasa, putih susu, mini, hingga jumbo. Selain itu ada Tak Til, permainan memukul ranting kayu. Benteng diantara dua tiang rumah atau sekolah. Mengkeb-mengkeban atau petak umpet diantara bangunan pelinggih merajan rumah. Gala atau permainan yang saling menjaga lawan agar tak lewat batas. Atau mobil-mobilan yang diimajinasi dari bahan dan barang bekas di sekitar tempat bermain. Termasuk dari kulit jeruk bali tiap kali ibu membelah buah untuk kami makan bersama.

Bermain tanah, meguyang, hingga baju dan telapak tangan kotor rasanya hampir tiap hari dilakoni. Beda dengan anak jaman sekarang yang kotor sedikit, langsung dicuci pengempunya.
Menggetok kepala sepupu hingga berdarah pun salah satu kenakalan saya saat itu. Entah apa alasannya.

Super hero yang saya gemari di masa itu ada Megaloman. Pahlawan dari negeri sakura ini selalu membunuh dan meledakkan monster musuhnya dengan rambut api miliknya. Ada 9 kaset video yang dirilis untuk satu seri Megaloman. Dan yang paling keren bagi kami adalah kaset ke 8. Kalo ndak salah episode Megaloman yang direbut banyak monster.

Saking sukanya, koleksi gambaran yang dijual sebanyak 36 aksi kalo ndak salah dalam satu lembar besar, yang dipotong dan dipamerkan, menjadi hal yang paling membanggakan diantara kawan. Seri kwartet, empat seri dengan satu tema, kemudian menjadi permainan mengasyikkan sepulang sekolah.

Selain Megaloman, saya menyukai tokoh Lion Man yang berubah menjadi singa. Ya namanya juga Lion. Hehehe… juga Zaabogar yang saya miliki kaset serinya.

Meski lebih sering diantar jemput oleh Bapak saat masih bersekolah di SD 1 Saraswati, sesekali saya berjalan kaki atau bonceng sepeda teman. Namun lantaran dasar saya suka melali sepulang sekolah, sempat satu hari saya disangkakan kena penculikan karena saat itu memang lagi rame-ramenya. Padahal saya jalan kaki main ke rumah orang tua angkat di jalan Suli. Kedua orang tua marah besar ketika saya pulang diantar sopirnya Uwak Odantara.

Saya termasuk anak yang bodoh. dan Cengeng.
Bodoh karena dari SD hingga bangku SMP, tak pernah sekalipun mendapatkan rangking. Apalagi kalo dibandingkan kedua kakak yang begitu dibanggakan orang tua. Kalo mau dicompare dengan Mirah putri saya, yakin dia bakalan jumawa kalo tau bapaknya ini bukan anak yang istimewa di mata guru sekolah. Meski begitu, saya gak pernah mencontek. Seingat saya sih ya. Mungkin karena sukar berbohong karena begitu melakukannya, jadi seperti tersiksa lahir bathin.
Cengeng, lantaran suka menangis tiap kali diejek oleh kawan sekolah dan juga saudara sepupu.

Saya juga tergolong anak yang lemah. Kalo istilah balinya itu, Lempe. Seringkali jatuh dan terluka pada kaki. Ndak heran banyak koreng dan dakinya disitu. Olahraga dijamin dapat urutan akhir kalo soal aerobik. Pula yang mengandalkan kecepatan gerak.
Nyaris tidak punya hobby saat itu. Baru terlihat menginjak smp dengan megambelnya dan menulis mading saat sma.

Anak yang kuper. Kurang pergaulan. Utamanya dengan teman sekolah. Ndak heran tidak banyak kawan sd yang ingat dengan saya. Bahkan ketika bertemu di sanggar tari anak, kawan perempuan yang dulu saya kagumi pun bingung menebak nama saya. Baru ingat pas dikasi clue ‘anak yang paling cengeng di kelas’. Hehehe… sosok saya baru mulai diingat saat masuk smp dan sma gegara tinggi badan yang nyaris setara dengan Cok bersaudara. Itupun diingat lengkap dengan cara berjalan yang lebih banyak menunduk ke bawah lantaran minder, dan kali diajak bicara suka memandang ke arah mana. Aduh…

Kalo diingat-ingat, ada banyak kejadian memalukan yang saya alami atau lakukan di masa kecil. Dari menyebut Kenny G dengan terompetnya, menggunakan dompet hello kitty di bangku smp, hingga banting meja kalo seisi kelas pada ribut. Sementara sd, sering nangis meski gak jelas alasannya.
Maka itu berapa kali diajakin reuni sekolah, saya malas datang. Karena masa kecil saya itu gak asyik banget.

Mencuri.
Saya sering mencuri saat kecil dulu.
Hanya karena tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkan, maka itu saya mencuri.
Dari uang milik Bapak yang ditaruh diatas lemari, untuk jajan sepulang sekolah. Atau majalah di agency dekat rumah hanya karena ingin membacanya. Parah memang…
Baru jera ketika ketahuan.
Dimarah Bapak dan Ibu.
Jadi jangan heran, ketika saya mulai bisa menghasilkan uang sendiri, nyaris semua yang dulu saya ingin miliki, dibeli demi kepuasan sesaat. Misalkan ya pergantian ponsel selama ini. Hehehe…

Berhubung saya banyak minusnya, dan juga gak punya gaya gaul lantaran bukan berasal dari keluarga berada, saya pun merasa minder dan malu saat berhadapan dengan lawan jenis. Ditolak berkali-kali sih sudah biasa. Jadi jangan heran juga kalo pacaran pertama baru terwujud di akhir masa kuliah. Sebelumnya itu musti puas naik sepeda/motor tanpa gandengan.

dan terakhir, saya tidak memiliki kawan bicara sejak kecil. Bisa jadi karena dari segi umur antara saya dengan kedua kakak, terpaut jauh. Sehingga banyak istilah yang miss understanding terlontar jaman itu. Seperti misalkan mengatai ‘Perek’ ke kakak perempuan yang kini telah almarhum, hanya karena tidak mau meminjamkan buku seri Lupus saat ingin membacanya. Pas tau artinya, saya langsung mengunci diri di kamar sampai malam.
Bisa juga lantaran saudara sepantaran hanya ada 3 saja, dan dua diantaranya melewatkan masa kecil jauh dari rumah. Satu sisanya, jarang diberi ijin bermain dengan saya oleh kakak-kakaknya. dan ia meninggal saat kami beranjak remaja.
Itu sebabnya saya menikah di umur 26. Karena tidak ada yang saya ajal bicara sepulang kerja. dan kini memiliki 3 anak dengan jarak umur yang agak berdekatan agar mereka nantinya tak mengalami apa yang saya alami dulu.

Ah, cerita masa kecil…
Sedih dan harus kuat untuk bisa mengakuinya…

Menarik Diri dari Media Sosial

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Entah kesambet apa, semingguan ini saya malas untuk terhubung ke Media Sosial. Kalopun masuk, paling liat timeline bentar, lalu balik lagi ke rutinitas…

Lagi keranjingan Scoop.
Mungkin itu salah satu alasan yang tepat.
Apalagi setelah menghabiskan banyak waktu, banyak memori dan banyak kuota serta banyak batere, rasanya aktifitas ini jadi jauh mengasyikkan ketimbang sebelumnya. Meski yang namanya ambil screenshot layar tetap dilakukan jika menemukan sesuatu yang menarik.

Perkembangan Politik belakangan ini ?
Iya juga.
Pasca kekalahan pak Ahok di Pilkada DKI dan penjatuhan Vonis Penjara 2 tahun, keknya sudah melengkapi semua kegalauan yang saya alami sejauh ini.
Gak respek lagi dengan yang namanya idealisme, keBhinekaan dan rasa percaya pada pimpinan negeri. Semua jadi mengalir begitu saja tanpa ada rasa lagi.

Radikalisme, saling Hujat dan Caci Maki, begitu gampangnya bersliweran di timeline. Bikin enegh dan gak mengasyikkan lagi semuanya.
Begitulah dinamika politik ketika dikaitkan dengan agama. Runyam hidup ini.
Rasanya memang Lebih Baik Menarik Diri dari Media Sosial, untuk Sementara Waktu demi kewarasan berpikir dan menyerahkan semua ini pada-NYA.
Nanti pasti, ada waktunya untuk kembali lagi…