Perang Sudah Dimulai

2

Category : tentang Opini

Satu persatu akun pertemanan di sosial media kembali menampakkan wajah aslinya. Jika selama ini selalu terbuai oleh sejumlah pencitraan palsu yang ingin dibangun dengan tujuan menambah follower atau pengikut, kini kian jelas terlihat mereka ada di posisi mana.
Entah dengan klaim terpanggil karena hati nurani, bisa juga ya sekedar mencari makan di tengah sulitnya persaingan yang ada.

Timeline mulai dipenuhi ajakan dan paparan ayat ayat suci yang sesungguhnya tak relevan bila dikaitkan dengan ajang pilkada. Apalagi Indonesia adalah negara demokrasi.
Ya, topik ini lagi membicarakan Pilkada DKI Jakarta yang oleh sebagian orang disebut sebagai Pilpres edisi 2.
Kehebohannya, black campaign nya, fitnah yang mengesampingkan akal sehat, permainan tafsir kitab suci dan ribut antar kawan lama, ah itu sudah biasa.

Tidak ada kawan ataupun lawan abadi dalam politik. Yang ada hanyalah Kepentingan.
dan semua dibalut dalam bahasa ‘demi kepentingan rakyat’.
Partai yang dahulunya bergabung di seberang, kini mulai merapat dan meninggalkan kesepakatan yang pernah dibanggakan.
dan mereka yang dahulu bahu membahu bersatu melawan fitnah, kini memilih berpisah dan melancarkan fitnah yang sama untuk sang mantan kawan.
Yah… Begitulah…

Hanya yang sangat disayangkan bahwa ada, orang-orang yang dulunya pernah menjadi idola banyak kalangan, kini dijauhi hanya karena politik kepentingan tadi.
Pura buta dan Pura tuli, ikut arus mengadu domba masyarakat, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Perang sudah dimulai.
Tinggal kalian, inginnya berdiri dimana.

Saya cukup pindah ke Bigo aja sementara waktu.

’64 Persen PNS Kemampuannya hanya Juru Ketik ?’

3

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Video yang diunggah oleh akun Instagram @punapibali rabu malam (26/10) kemarin, sempat menggelitik pikiran saya sedari awal menontonnya. Bagaimana tidak ?

Bahwa dari 4,7 Juta, 64 persen PNS kemampuannya hanya Juru Ketik ?

Emejing…

Dan kalimat berikut yang tampil adalah ‘dengan kemampuan terbatas itu… mereka bingung mengerjakan apa di kantor…’

Sangat Emejing…
Tapi kenapa baru nyadar sekarang ya ?
Padahal kalo menurut pandangan saya pribadi, hal ini sudah berlangsung sejak lama. Dari jaman saya berstatus baru jadi PNS, semua pertanyaan itu sudah berkeliaran di kepala.
‘Serius nih, kemampuan kawan-kawan seruangan hanya segini ?’
Sementara saya masih ingat, seminggu sebelum diminta ngantor pertama kali, saya sudah menyiapkan diri untuk tidak gugup bekerja sebagai abdi negara. Jika saja Blog dan Sosial Media sudah menjadi Trend saat itu, saya yakin status atau postingan keresahan saya sebelum menghadapi hari jadi tersebut akan bisa dibaca kembali hari ini.
Ya, saya kecele…
Ini terjadi gegara saya terbiasa bekerja disiplin dengan orang di sejumlah perusahaan konsultan lepas materi kuliah hingga dinyatakan diterima sebagai PNS tahun 2003 lalu.

Owh enggak. Tulisan ini bukan untuk membangga-banggakan bagaimana perjalanan saya menjadi seorang PNS yang saya sendiri meyakini, tidak masuk dalam prosentase 64 diatas. Meskipun jika boleh dikatakan, kemampuan saya sejauh ini pun masih sangat terbatas, jika disandingkan dengan sejumlah kawan yang kini kerap saya ajak berinteraksi di komunitas ataupun sosial media.
Saya akui kok.

pns-pande-baik

Tapi apa yang disampaikan oleh Menpan RB Asman Abnur itu memang benar adanya.

Katakanlah di posisi saya saat ini.
Memiliki sejumlah staf yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, seperempatnya bisa dikatakan ya memang secara kemampuan hanya juru ketik. Tidak mampu menganalisa, membuat konsep surat ataupun notulen rapat sekalipun, bahkan seperempatnya lagi tidak bisa mengetik.
Emejing kan ?

Sementara saat saya masuk ke ruangan besar di pojokan barat lantai dua gedung lama, sebagian diantara kami seingat saya malah punya rutinitas membaca koran pagi, membolakbalikkan semua halaman hingga siang, lalu ngeloyor entah kemana. Dan itu fakta.
Maka ya ndak heran kalo diantara kami yang dijejali berbagai macam pekerjaan, tugas dan lainnya oleh pimpinan, sempat merasakan bahwa ‘mereka yang berusaha rajin bekerja ya akan terus diberikan pekerjaan, sementara yang malas ya dibiarkan. Tidak ada upaya meningkatkan kompetensi atau kemampuan, baik dari atasan apalagi dari dirinya sendiri… Nyaris tidak ada Sanksi atau ancaman pemecatan karena secara aturan terkait disiplin pegawai ya memang tergolong masih longgar.’

Akan tetapi belajar dari pengalaman semenjak jadi PNS, membuat saya selalu berupaya untuk memanage mereka yang terpantau memiliki keterbatasan kemampuan sebagaimana cerita diatas.
Meski tak sempurna, minimal staf yang saya miliki tak sampai duduk diam dari pagi hingga sore, apalagi sampai berhari-hari.
Untuk mereka yang tak mampu mengoperasikan komputer, saya berikan tugas pengawasan lapangan secara rutin, dan melaporkan hal-hal yang sekiranya dianggap penting atau tidak dapat diselesaikan permasalahannya dilapangan melalui akun BBM atau Whatsapp, ada juga yang ditugaskan untuk pencatatan administrasi manual yang hingga kini masih digunakan dalam alur kerja birokrasi. Sementara bagi mereka yang kemampuannya hanya sebatas juru ketik, saya tinggal memberikan konsep dokumen, menugaskan mereka bekerja dan selalu melakukan koreksi saat selesai dikerjakan.
Agak repot sih sebenarnya.

‘ada PNS jago gosok batu akik tapi tak bisa ngetik…’ kata Pak Ahok, masih dalam video yang sama.
Ya memang ndak heran, sebagaimana yang seringkali saya ungkapkan dalam postingan blog terkait kinerja kami, para PNS yang posisinya diidam-idamkan banyak orang.
Justru itu baru satu tipe yang spesifik.
Jika saja kalian menyadari ada banyak ragam tipe PNS di luar itu, mungkin ndak hanya caci maki yang saya dapatkan secara pribadi hanya lantaran kalian mengeneralisir bahwa keberadaan kami sama semua.
Dari tipe yang ngulik rumus matematika ‘Togel’, baca koran seharian tadi, omong doang tapi ndak mau bantuin kerja, hingga calo perijinan. Dan ada juga tipe yang nyambi jualan, entah kain kebaya, cincin hingga ponsel kawe. Ah, itu mah biasa.
Hanya saja memang tak terlihat secara kasat mata saat kalian mengunjungi kami ke ruangan. Percaya deh.

‘Dia (Menpan) mengakui Kompetensi PNS masih rendah…’

Ya begitulah adanya.
Dan saya lihat, itu lebih banyak menjangkiti mereka yang kini sudah berusia 40-an tahun keatas, dimana sudah mulai merasakan bahwa otak tak mampu lagi mengimbangi kemajuan teknologi yang kini makin berkembang. Tapi kalo sebatas urusan nge-FaceBook atau nonton YouTube ya masih diupayakan lah.
Hei, ini fakta Kawan.

Tapi ya… kenapa nyadarnya baru sekarang ?

Selamat Hari Blogger Nasional

Category : tentang InSPiRasi, tentang Opini

Hari gini masih nge-Blog ?
Ahahahaha… Ya gitu deh.

Ceritanya sih, saya masih tetap berusaha eksis ditengah kegalauan berSosial Media, yang makin kesini kelihatannya makin menggerus waktu luang buat nulisin draft blog.
Tapi bersyukur bahwa yang namanya stamina update, sejauh ini masih ada meski hanya dua tiga hari sekali. Setidaknya masih lah juari untuk menyandang profesi sampingan sebagai seorang Blogger.

img_20161027_194145

dan di Hari Blogger Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober, hari ini, kalo boleh sedikit pamer, merupakan tahun kesepuluh saya aktif menulis dan menghasilkan sekitar 2.600 postingan dengan topik campur aduk.

Dengan banyaknya jumlah postingan yang ada, menyebabkan tidak semua tulisan yang pernah dilahirkan bisa dibagi atau dibaca netizen dunia maya, utamanya tulisan-tulisan lama yang seandainyapun diperkenalkan kembali menggunakan plugins Tweet Old Post, rasanya kurang pas saat dibaca ulang.
Misalkan ya tulisan yang berkaitan dengan Koprol, FourSquare dan perburuan Badges, juga review ponsel lawas macam BlackBerry, Nokia hingga Samsung Android rilis awal.

Inilah salah satu kelemahan menulisi Blog yang mengambil topik campur aduk.
Beda dengan Blog yang mengambil tema khusus berkaitan dengan perilaku atau pola hidup macam BlogDokter. Dimana ketika tulisan lama dibagikan kembali menggunakan plugins tersebut, rasanya masih jauh lebih bermanfaat bagi sebagian orang.

Ohya, masih berkaitan dengan upaya memperkenalkan kembali postingan atau tulisan lama saya di akun sosial media, saya banyak dibantu oleh Selebtwit atau Selebblog Dokter Cock pengelola akun sekaligus halaman blogdokter, yang pula ikut serta membagikannya melalui akun pribadi yang bersangkutan. Entah kapan bisa membalas budi baik Beliau.

Pun tahun ini jadi satu upaya saya mencoba kembali menjadi kontributor halaman BaleBengong yang sudah sekian lama saya tinggalkan. Cuma entah apakah draft tulisan yang dikirim nanti bakalan bisa lolos sensor para tetua lantaran kontributor yang aktif saat ini, secara kualitas berada jauh diatas. Agak kagok juga sih.

Terakhir, ya Selamat deh untuk semua kawan Blogger yang saya kenal maupun yang masih sama tetap berupaya eksis, semoga dengan momentum Hari Blogger Nasional ini bisa mengembalikan semangat menulisi Blog dengan kualitas yang lebih baik lagi kedepannya.

Pembentukan Suka Duka Arsitektur Udayana 95

Category : tentang KuLiah

Menyambung postingan sebelumnya di hari jumat lalu terkait upaya silaturahmi di venue Ayucious Renon yang berlangsung pada hari Sabtu 22 Oktober kemarin, diputuskan untuk membentuk Suka Duka Arsitektur (Universitas) Udayana (angkatan) 95 dengan penunjukan bli bagus Putu Swihendra sebagai Kelihan pertama, periode 2016/2018.
Adapun agendanya menggagas pertemuan secara rutin, misalkan dua bulan sekali dalam bentuk arisan, atau Ngumpul Lagi saat anggota berada dalam posisi Suka Duka tadi. Tentu disertai pemberian donasi yang akan ditentukan lebih lanjut.

Sedangkan untuk mempermudah koordinasi antar kawan di angkatan 95 Arsitektur ini, ditunjuk pula beberapa ketua kelompok/kelihan tempekan yang membawahi beberapa kawan terdekat baik dan lingkung kerja ataupun regional tempat tinggal. Sekurangnya ada 9 kelompok yang dibentuk sekaligus ketua masing-masing, untuk dapat menyampaikan informasi ataupun hal-hal lain yang nantinya dianggap perlu. Utamanya bagi anggota yang jarang aktif, tidak aktif ataupun tidak terdaftar dalam group Whatsapp Angkatan.

Terlepas dari hasil keputusan diatas, ndak lengkap rasanya kalo saya belum share rekaman lensa yang diambil dengan mengandalkan kamera ponsel tanpa adanya pengetahuan fotografi yang memadai. Jadi mohon dimaklumimi. He…

img_20161024_051343

img_20161024_052003-1

img_20161024_051821

img_20161024_051720

img_20161024_051911

img_20161024_051530

img_20161024_051207

Sampai bertemu di kesempatan lainnya ya…

Ngumpul Lagi yuk…

Category : tentang KuLiah

Saya lupa ini ajang reuni kami yang kali keberapa, berhubung gak semua janji ketemuan bisa diladeni waktunya termasuk pas Ulang Tahun Teknik Udayana kemarin.
Ya, cerita hari ini soal kami alumni Teknik Arsitektur Universitas Udayana Angkatan 95 yang berupaya mengagas kembali silaturahmi lewat tema ‘Ngumpul Lagi’, di salah satu venue publik seputaran kawasan Renon.

img_20161021_100515

Dari yang sudah melakukan konfirmasi kedatangan melalui transferan dana sebesar 200K ke rekening Bu Yantie, yang kini berprofesi sebagai dosen Politeknik Udayana, ada sekitaran 19 orang dari 65 mantan mahasiswa/i yang berhasil kami ingat saat Reuni pertama tahun 2012 lalu.
Adapun rangperorangnya bisa disebutkan macam bli bagus Dharma Astawa dan bli Putu Swihendra, dua penggagas pertemuan kali ini, trus ada bu Dwi Lantari, tandem saya di tempat kerja, ada Bu Setiawati yang kabarnya punya baby baru, lalu Bu Kadek Eka Citrawati pemilik Bali Alus yang beken itu, Anom Rahmadi, Heru Susanto, ada pak Agus Karnadinata satu satunya couple yang berhasil langgeng hingga kini di angkatan kami bersama bu dosen tadi, lalu ada Agung Jelantik dan bli Wayan Lelo Sunarta, duo daha teruna yang masih kami nantikan undangan merahnya, trus Bu Arie Utami pemilik Anemone yang fenomenal di kalangan anak Calistung, ada Bu Yuli Hermalini, mbak Kadek Parashati #kode, pak Nyoman Parwata yang baru saja meraih Juara 2 Sayembara Pasar Badung, bli bagus Putra Wiarsa jagonya Bambu, bli Suardana Kumbara pemilik warung makan Subak Saih Abianbase, bu Dahliana serta Gus Adi Wasita yang dikenal dengan julukan King…
ceKing maksudnya. He…

Acaranya sendiri digelar Sabtu besok sekitaran pukul 13.00 sampe 16.00 waktu setempat, dan kabarnya sih bakalan disambangi salah satu warga kami yang mengabdi di negara tetangga, dan kini dipercaya memegang profesi mentereng yang sejalan dengan pendidikan yang kami lakoni selama 5-6 tahun silam.
Bagaimana suasananya nanti, simak lanjutannya.

RTLH MBR RTM

Category : tentang PeKerJaan

Semua berawal dari program Sejuta Rumah yang dicanangkan pak Jokowi saat Beliau dipercaya memegang jabatan tertinggi di negara ini, melalui tangan Kementrian Perumahan Rakyat yang kini telah bergabung dengan Pekerjaan Umum. Satu amanat besar utamanya bagi kami yang bertugas di daerah untuk bisa mengawal kebijakan tersebut dengan baik.
Begitu garis besarnya.

Lalu apabila kalian kemudian kebingungan membaca judul postingan kali, ya wajar. Karena kalian bukan merupakan bagian yang mengurusi atau menindaklanjuti itu semua.
Saya pribadi baru ngeh setahun terakhir.

Adalah Provinsi Bali, yang intens mengundang kami dalam pertemuan berskala kecil maupun besar di Hotel Grand Santhi, demi membahas satu demi satu agenda kerja dalam upaya mewujudkan sebagian kuota yang diberikan terkait Program Sejuta Rumah.
Sebagaimana halnya pagi ini.

pande-baik-rtlh

RTLH atau Rumah Tidak Layak Huni, adalah sasaran utama yang harus kami rangkum dan catat di masing-masing daerah, serta dituntut sudah BNBA atau ‘by name by address‘ untuk mencegah kesalahan pemberian bantuan kedepannya.
Adapun Kriteria yang ditentukan untuk menemukan data RTLH ini adalah dengan melakukan verifikasi MBR atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah, yang salah satu item penentunya adalah jumlah penghasilan perbulannya. Berada dalam rentang 600ribuan hingga UMK Nasional atau sebesar 4,5 juta.
Ha ? Kalian masuk dalam kelompok ini ?
Sama.
Kita sama kok. He…

Pendataan dan Pencatatan RTLH ini kelak akan menjadi basis data pemberian bantuan Program Sejuta Rumah, khusus yang ditangani oleh Kementrian PU PERA, dimana Kabupaten Badung hanya mengajukan usulan BSPS atau Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya pada jenis Peningkatan Kualitas saja. Bahasa sederhananya, mengusulkan Bedah Rumah.
Hal ini diputuskan mengingat usulan bantuan rumah sebagaimana disampaikan dalam peraturan terkait, rata-rata mewajibkan Pemerintah Daerah menyediakan lahan baru bagi calon masyarakat penerima bantuan.
Sementara bisa dikatakan harga jual tanah atau lahan di Kabupaten Badung amat sangat tinggi jika dibanding kabupaten lainnya.

Sayangnya, belum semua pemerintah daerah Kabupaten di Provinsi Bali ini, siap dengan data RTLH yang BNBA. Sejauh ini baru Karangasem, Buleleng dan Tabanan saja yang sudah menyampaikan usulannya sehingga menjadi prioritas penanganan tahun 2016 ini dengan memanfaatkan dana APBN.
Kabupaten Badung sendiri hingga hari ini masih berstatus On Progress.

Dari 2009 data Rumah Tangga tersisa dalam daftar RTM atau Rumah Tangga Miskin, yang dirilis oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung, terpantau sekitar 497 Rumah Tangga yang sudah diverifikasi lebih lanjut, masuk dalam daftar calon penerima bantuan BSPS diatas atau tercatat sebagai RTLH Tahun 2016 ini.
Dimana daftar RTM sebagaimana disebutkan diatas, biasanya digunakan sebagai data awal pendataan RTLH lantaran sudah pasti dimiliki oleh masing-masing daerah/Kabupaten. Daftar ini sedianya digunakan untuk menyalurkan bantuan Beras untuk Masyarakat Miskin serta bantuan BSPS atau Peningkatan Kualitas atau Bedah Rumah yang ditangani oleh Kementrian Sosial tentu dengan bantuan Dinas Sosial.

Nah, berdasarkan data sebanyak 497 RTLH inilah tugas kami selanjutnya adalah melakukan input kedalam sistem database RTLH milik Pemerintah Pusat, serta memilahnya lebih jauh untuk bisa diajukan penanganannya dengan memanfaatkan dana APBN (minimal 30 RTLH per Desa), DAK (dibawah 30 RTLH per Desa) atau APBD (masih dikaji lebih lanjut terkait besaran bantuan per RTLH penerima bantuan).
dan Agenda kerja hari ini, salah satu fokus pembahasan kelihatannya ya berkaitan dengan tugas diatas.
Bagaimana kelanjutannya, nanti akan dikabarkan kembali.