Harus Semangat Lagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Setelah sekian hari menggalau hati dan mengeluhkan kondisi kesehatan, sepertinya berpengaruh keras pada produktifitas kinerja pribadi. Dan itu tentu saja gak baik untuk lingkungan kerja juga keluarga.

Kadar Gula Darah bisa jadi penyebab, bisa juga menjadi akibatnya. Entah mana yang benar, tapi kelihatannya keduanya benar.
Maka itu, tiga tulisan Intermezzo bisa hadir di halaman ini. Jadi mohon maaf apabila kurang berkenan.

Belakangan, kondisi kesehatan tampaknya sudah sedikit lebih baik dari sekian hari sebelumnya. Setidaknya, yang namanya mual dan muntah, sudah ndak lagi dirasakan. Demikian halnya luka di kaki.
Meski belum sembuh benar, tapi sudah ndak terlalu nyeri seperti tempo hari.
Kadar gula darahpun seminggu ini sudah turun jadi dibawah 200 saat puasa. Masih tinggi memang, tapi setidaknya sudah lebih baik. Dulu dulu ndak pernah punya kadar gula darah segini.

Jadi ya harus bisa mulai semangat lagi kedepannya.
Karena jika tidak, bisa jadi jumlah pengunjung yang mampir ke halaman ini, bakalan menurun drastis, selaras dan searah dengan penurunan berat badan akhir-akhir ini.
Doakan saya ya Kawan…

Mencoba (lagi) Bersahabat dengan Diabetes

Category : tentang DiRi SenDiri

Bertemu lagi Bapak dan Ibu, kawan semua.
Perkenalkan nama saya PanDe, usia 38 tahun. Saat ini berstatus sebagai seorang suami dari seorang istri dan tiga putri kecil.
Bekerja sebagai pelayan masyarakat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, tepatnya pada Dinas Cipta Karya yang berfokus pada peningkatan infrastruktur jalan lingkungan permukiman, dari tahun 2013 lalu.
Terhitung menjadi penderita Diabetes sejak tahun 2012 hingga kini.

Awal tahu terdahulu, saya cukup paham bahwa yang namanya Diabetes merupakan salah satu penyakit yang cukup serius, lantaran tak pernah menjadi penyebab utama kematian bagi kalangan penderitanya, namun menjadi pintu masuk bagi penyebab utama kematian lainnya seperti jantung, kolesterol bahkan Stroke.
Itu sebabnya saya tergolong cukup serius menyikapi dengan mengubah pola makan, termasuk mencoba mengkonsumsi Tomat setiap hari, berolahraga setiap pagi dan memapar mata hari sebelum memulai aktifitas di kantor.
Namun yang namanya upaya, apalagi dalam hal ini pelakunya adalah saya, sama saja dengan upaya lainnya, ya hanya hangat hangat tahi ayam. Hangatnya hanya di awal, setelah itu ya dicueki. Meski secara pemahaman, tetap sadar bahwa Saya adalah seorang penderita Diabetes.

Bagi seorang penderita Diabetes, tentu pada periode sebelum bulan Mei tahun 2016 ini, saya meyakini bahwa ‘tidak ada makanan pantangan yang harus saya hindari selama dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Termasuk diantaranya Sate Kambing favorit saya dan Kopi Tora Bika Cappucino yang saya konsumsi sejak pertama kali bekerja pasca tamat kuliah dahulu.
dan kini, sayapun dihadapkan pada Fakta Pahit bahwa semua keyakinan itu ‘SALAH BESAR‘. Dengan Huruf Kapital bahkan tanda Bold bilamana perlu.

Fakta Pahit itu adalah kemunculan benjolan pada kaki kanan saya, tepatnya area tulang kering, yang praktis mulai membuat khawatir dan membuat galau termasuk diantaranya melahirkan tiga tulisan Intermezzo kemarin, yang terpantau mulai terasa menyakitkan per selasa minggu lalu.
dan pada akhirnya pecah bernanah berdarah pada hari Senin kemarin pasca diperiksakan ke dokter, hari Jumat sebelumnya.

Satu hal yang paling menakutkan pikiran saya saat itu adalah, luka yang semakin membesar dan pada akhirnya Ancaman Amputasi pada kaki penderita.
Apa Kata Dunia jika itu sampai terjadi ?

….

….

….

Alhasil, saya pun berupaya Mencoba (lagi) untuk Bersahabat dengan Diabetes. Tidak bersekongkol, dan bukan lari dari kenyataan.

Untuk itu, kelihatannya memang hanya dibutuhkan satu hal saja dari seorang penderita Diabetes.

Kesadaran.

Ya, kesadaran.
Kesadaran untuk mengakui pada diri sendiri bahwa Saya adalah seorang penderita Diabetes yang mulai saat ini Harus mulai dengan sadar, berupaya mengurangi Jenis makanan yang dikonsumsi serta Jumlah dan Jadwal. Ndak boleh lagi ngerapu macam sebelumnya.
dan itu… sangatlah berat Jenderal.

Bersyukur, Istri adalah orang pertama yang mendukung Upaya saya kali ini.
Ia secara telaten mau berpayah payah menyemangati saya, merawat luka yang ada di kaki, hingga menimbang beras merah yang boleh dikonsumsi serta berbelanja jenis makanan yang bisa saya nikmati semingguan ini.
Seorang istri yang baik, bukan ?

Ya, kini saya pun mulai mencoba mengkonsumsi Beras Merah. Jenis yang dahulu kerap direkomendasi oleh banyak orang, kawan hingga kerabat, yang jika boleh saya katakan, nyaris tak digubris.
Pun ditakar sesuai saran dari ahli gizi titipan istri, pula mengubah buah Apel menjadi snack tetap, ditambah tomat sisa yang tak termakan di kulkas sejauh ini.

Berhasil ?
Entah.
Saya sendiri belum tahu pasti.

Namun berdasarkan pemantauan kadar Gula Darah, per Jumat pagi kemarin, dengan test acak usai mandi, didapat angka 178 mg/dl yang merupakan hasil puasa seminggu ditambah konsumsi obat racikan dokter BPJS, dan luka di kaki pun sudah menjadi sedikit lebih mending dari sebelumnya.

Terima Kasih ya Tuhan. Ini adalah hasil Test Gula Darah Terbaik saya dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

dan berharap, seminggu kedepannya malah bisa lebih baik lagi.

Janji deh Tuhan…
Jika saya bisa sembuh dari luka ini, saya akan imbangi pula dengan berolahraga kapan sempatnya, sebagaimana anjuran dokter lewat jejaring YouTube yang saya unduh kemarin.

Semoga, kelak Diabetes yang saya derita ini, bukan lagi menjadi ‘the Silent Killer’ seperti slogan yang dibangga-banggakannya selama ini, namun menjadi hiasan dinding saat melihat Anak anak saya berhasil meraih S2 nya di kemudian hari.
Doakan saya ya Kawan…

Blog, satu dasa warsa

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang InSPiRasi

Oke, per 26 Mei ini usia blog www.pandebaik.com sudah satu dasa warsa lamanya. Bukan usia yang muda tapi bukan juga tergolong senior. Apalagi jika sampai menyinggung soal kualitas tulisan, atau makna yang ingin disampaikan. Jadi lupakan saja soal itu.

Akan tetapi kalo masih boleh saya menyebut soal satu dasa warsa atau sepuluh tahun kalo ndak salah, tentu ada banyak perubahan yang terjadi didalamnya. Dan hal ini kalo kalian rajin mampir dan membaca keluhan dan cerita saya setahun terakhir ini pasti paham apa saja diantaranya.

Ya, pertama tentu soal kuantitas. Ada sekitaran 2.600an posting yang hingga kini pernah saya tuliskan dengan jumlah 2.500an yang terpublish sementara sisanya saya keep jadi bentuk private lantaran soal isi memang beneran sampah. Sementara setengahnya merupakan tulisan yang layak dibaca, lalu setengahnya mudah dicerna, lalu ya gitu deh.

Kedua soal topik cerita, tentu ada pergeseran yang kentara. Dari soal pribadi, mimpi dan angan, keluhan dan makian, kuliah dan tugas, teknologi dan ponsel, Android hingga balik lagi ke soal pribadi plus kerjaan. Dimana bisa dikatakan semua ide mengalir begitu saja tanpa henti. Ditulis satu persatu lalu dipublikasi saat sempat. Belakangan isinya malah galaunya saya akan naiknya Gula Darah semingguan terakhir.

Ketiga soal Rutinitas. Sehari bisa dua tiga postingan yang gak lucu bisa didapat pada tahun-tahun pertama. Lalu berubah menjadi satu sehari, dua hari sekali, tiga bahkan sempat juga seminggu dua absen. Syukurnya bukan lantaran bosan, hanya tak sempat saja. Karena waktu luang seorang PNS yang dulunya begitu dibanggakan kini sudah tak lagi ada seiring jabatan diemban selama tiga tahun terakhir dan adanya tiga putri kecil yang nakal tentu membutuhkan perhatian ekstra.

Empat ya soal Metode blogging. Awal-awal masih memanfaatkan pc desktop, lalu notebook, netbook, tabletpc dan kini media ponsel. Membuatnya pun dalam bentuk draft melalui EverNote, kemudian direvisi kembali, ditambahkan gambar lalu publish. Simple gitu aja. Nulisnya juga dari yang ngalor ngidul gak jelas, trus panjang menjelaskan dan kini cukup dua tiga paragraf pendek. Hemat waktu dan pikiran, tentunya.

Terakhir ya tentu soal Manfaat. Na ini yang paling banyak sisi positifnya. Bisa ditiru kalo mau. Dari yang numpang beken lewat media sosial, trus numpang beken lewat media cetak, lanjut numpang beken lewat jejaring nasional. Selain bisa bertutur kata lebih rapi dalam menyampaikan pendapat, kalimat dan topiknya juga lebih terstruktur. Dan akhirnya ya ada juga yang mendatangkan rejeki. Semua berawal dari hobi.

By the way, nge-Blog belakangan ini memang lagi redup. Tapi karena media ini sudah terlanjur menjadi Cap secara pribadi dan orang pun tahunya ya ‘pandebaik’ ketimbang nama aselinya, upaya menulis pun sepertinya memang harus terus dilakoni. Disamping demi menjaga pikiran saya tetap lurus di rel pegawai negeri.

Untuk itu pula saya sudah menyiapkan yang terbaik bagi blog ini, minimal dengan memperpanjang Hosting dan Domain pribadi hingga 5 tahun kedepan di Bali Orange Communication. Jadi jangan khawatir bakalan kehilangan halaman bacaan ini saat semua media mainstream dan personal habis dicerna.

Well, selamat menikmati apa yang ada, dan doakan bahwa menulisi Blog bisa tetap menjadi prioritas demi menjaga eksistensi dunia maya. Salam dari Pusat Kota Denpasar.

dan Maaf jika isi tulisan akhir-akhir ini malah endak enak untuk dibaca…

Intermezzo 24 Mei

Category : tentang DiRi SenDiri

Tuhan akhirnya memberikanku sakit semenjak pintaku kemarin.
Dan itu tak mengenakkan.

Aku pada akhirnya membuat khawatir orang-orang yang kusayang, sementara lingkungan kerja mungkin tak se-khawatir itu…
Jadi teringat dengan nasehat Om Bob Sadino almarhum.

Kesehatanku minggu ini mulai dipertaruhkan.

Benjolan pada kaki, pada tulang kering kaki kanan tampaknya sudah mulai menampakkan puncaknya.
Per tadi sore, nanah bersama darahnya mulai tampak keluar dari ujungnya. Membasahi perban yang menutupinya seharian ini. Mirip bisul, bathinku.

Efek yang terasa adalah, kaki ini seperti sebatang kayu yang berat untuk dibawa. Meski masih bisa berjalan dengan baik namun pelan, ada kekhawatiran akan kemungkinan terburuk dari apa yang aku baca dan tonton di dunia maya, akibat gula darah tinggi terhadap kaki si penderita.

Amputasi.

Aku tak mau ya Tuhan…

Cukuplah sakit yang kupinta dan yang Kau beri hanya yang aku alami sedari Minggu malam kemarin. Rasanya tak nyaman kalau diteruskan.

Aku berjanji, akan menggerakkan kaki lebih banyak hingga alun alun jika Kau sembuhkan luka ini.
Aku berjanji, akan mengurangi aktifitas yang tak berguna dan meluangkannya untuk keluarga jika Kau turunkan gula darah ini.
Aku berjanji ya Tuhan.
Aku berjanji…

Intermezzo 22 Mei

Category : tentang DiRi SenDiri

Dua luka di kaki rasanya belum mampu untuk hentikan langkah ini bekerja keras tanpa pernah tahu, lari dari kenyataan untuk sekedar beristirahat.

Semua opini dan pembelaan selalu dijatuhkan dan terhenti saat keinginan atasan begitu menggebu dekati kesempurnaannya. Ia lupa bahwa aku hanyalah seorang manusia biasa yang mempunyai keterbatasan berpenyakit Gula.
Diabetes.
Kencing Manis…

Satu kenyataan pahit yang bilamana terus menerus dipaksakan, kelak akan membuang sia-sia semua harapan yang digantungkan ketiga anakku menyambung asa masa depannya nanti.
Aku lelah kawan.
Lelah untuk berbohong bahwa aku mampu.
Lelah untuk bersemangat bahwa kita bisa.
Lelah untuk menimpali semua keinginan tanpa ada upaya untuk menyelesaikannya.

Ijinkanlah aku untuk beristirahat kawan…

Intermezzo 20 Mei

Category : tentang DiRi SenDiri

Apapun yang terjadi sebenarnya saya selalu berusaha untuk bersyukur dan menikmati apa yang diberikan oleh-Nya, meski terkadang harus memaki-maki dulu, mengeluhkan ini itu dan lainnya.

Rasa syukur itu saya sampaikan pada-Nya setiap kali duduk bersila menghaturkan sembah atau sesaji di pagi hari. Sebagai bentuk Terima Kasih atas semua karunia yang ada.

Namun sekali-sekali saya ingin merasakan sakit. Sekali-sekali ingin beristirahat penuh, bebas dari semua tekanan dan tugas yang membelit setiap harinya. Yang makin berat, tanpa ampun. Sekali-sekali saya ingin orang lain tahu bahwa tidak hanya tubuh saya yang letih, tapi juga pikiran. Tapi ya kasihan keluarga kalo sampai itu terjadi.

Sejak Menikah, rasanya Tuhan belum pernah berikan sakit yang memaksa tubuh ini bisa beristirahat dengan tenang. Bisa jadi karena Tuhan tahu bahwa saya belum cukup mampu untuk hidupi istri dan keluarga apalagi kini dengan tiga anak. Bisa juga Tuhan tahu, saya tak banyak miliki aktifitas luar sehingga selalu memberikan Sehat selama ini.

Di tengah derita Gula, diabetes, kencing manis, dan apapun itu istilahnya, ingin sekali-sekali lepas dari semua beban yang ada. Baik pimpinan, atasan, bawahan, dprd, masyarakat, bpk, inspektorat dan wartawan juga penyidik atau tipikor. Sekali-sekali ingin merasakan nikmatnya menjadi bawahan, yang kapanpun kita mau untuk hadir dan bekerja. Seiring tanggungjawab itu datang, malu jika sampai pekerjaan tak selesai, payah saat semua pekerjaan dibebankan pada pundak.

Aku ingin istirahat ya Tuhan…