Menu
Categories
Simpang di Kampus Bukit Jimbaran
January 21, 2016 tentang KuLiah

Gak sengaja…
atau lebih tepatnya Terpaksa.
Gegara berkas e-PUPNS dikembalikan hari rabu minggu lalu lantaran ijazah S1 tidak dilegalisir aseli (hanya print out warna, hasil scan ijazah versi aseli), dan hanya karena kelengkapan tersebut diberi waktu 1 hari saja, ya mau bilang apa ? Wong ndak punya…

Berangkat pagi pasca absen jari, sekitar pukul 8.30 usai membuat satu notulen rapat tempo hari, langsung cuzzz sendiri ke Kampus Bukit Jimbaran, Universitas Udayana, almamater saya sedari lulus tahun 2001 silam. Dah lama juga ya. Apalagi kalo dihitung dari tahun angkatannya.

Masuk kawasan kampus, hitungan setahun sudah banyak perubahan, utamanya di pintu masuk kampus yang telah merobohkan candi bentar bersayap itu. Berganti rupa dengan jalur jalan dua arah yang baru saja usai diaspal tahun lalu. Kanan kiri pun sudah tertata rapi lewat trotoar dan paving merah. Tambah asri dari luaran.

Sayangnya, penampilan kampus Teknik yang saya cintai ini tampaknya masih tak berubah banyak sebagaimana luarannya. Malah semakin ramai bangunan dan (maaf) agak kumuh untuk ukuran kampus Negeri. Apalagi saat melihat dari dekat kondisi fisik gedung utama, yang catnya makin kusam juga terkelupas, sedang pada batu tempel sudah berlumut dan menghitam.

Memasuki gedung, eh rupanya masih ada pegawai lama yang mengenali. Ya memang sih secara tinggi badan memang tergolong makhluk langka, tapi kalo soal ingat nama itu, berarti spesial. Bisa jadi lantaran waktu Studio Akhir dulu, saya sempat dicap sebagai Tersangka Utama pencurian hard disk pada perangkat komputer Sekretaris Dekan. Dicurigai lantaran saat digeledah, terdapat obeng dan kelengkapan lainnya yang memang mengarah pada aksi pembongkaran cpu unit. Bagaimana tidak, wong saya masuk Studio Akhir bolak balik bawa cpu pulang pergi untuk penggambaran by AutoCad, yang dijaman itu merupakan orang nomor dua yang berani memanfaatkan teknologi ini. He… dan merekalah yang membela saya saat itu.

Mengenaskan.
Saya ndak bawa berkas ijazah aselinya sebagai bahan legalisir. Itu disampaikan staf administrasi yang wajahnya masih muda kinyis kinyis. Bahkan saat ditunjukkan versi Digital yang tersimpan dalam layar ponsel pun ndak mau diterima. Ealah… padahal pas legalisir ijazah S2 tempo hari atau mengurusi KTP aja bisa kok.

Eh, tapinya Pas mau pulang balik disamperin lagi oleh Pak Dewa, sambil nanya nanya ‘kok cepet ?

Dijelasin, si Bapak langsung ambil map saya trus masuk ruangan administrasi. Sambil berucap, untuk pak Pande, saya yang jadi jaminannya deh. Ybs memang benar mantan mahasiswa disini. Kalopun perlu meyakinkan pimpinan, biar saya yang urus. Weleh…
Legalisir ijazah saya malah memang cepat prosesnya. Sampe tandatangan pak Dekan pun dijabani saat itu juga.

Nikmatnya jadi orang yang masih dikenal gegara masuk kategori makhluk langka.

*eh sayangnya saya lupa ambil foto, bisa jadi lantaran diuber waktu. Ditunggu sampe Jam 13.00 oleh Kepegawaian Pak, sms salah satu staf saat itu. Ya langsung ngacir pulang deh…

Leave a Reply
*