My Last Day

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Menonton beberapa film lama diantara waktu senggang jam kerja kantoran, cukup membuatku terpekur diam. Ingat pada kehidupanku dan sakit yang kuderita.

Diabetes

Perubahan gula darah yang mampu membunuh siapapun pengidapnya secara diam-diam, kelak akan membuka pintu bagi belasan penyakit tingkat tinggi lainnya, dan aku secara pribadi yakin tak akan mau mengalami itu semua di usia yang sangat muda.

Namun apa yang kusaksikan pada kisah-kisah sendu dalam film lama tadi, benar-benar membuatku berpikir keras, kira-kira jika aku diberikan waktu sehari lagi oleh-NYA sebelum ajal menjemput, apa yang akan kulakukan kelak ?

Mengajak anak-anak bermain dan berkata bahwa aku sangat menyayangi mereka dan juga istri dan orang tuaku ? Atau menangisi semua kesalahan yang pernah kuperbuat hingga Ia hanya memberikan sehari lagi waktu untuk bersama orang-orang yang kucintai ?

Maka saat ini pun aku mulai banyak merenung dan berharap bahwa hari terakhir itu tak akan pernah tiba. Karena tak pernah kubayangkan hidup anak-anak dan istri tanpaku. Tanpa kehadiran Bapaknya yang nakal dan jahil. Apa jadinya mereka kelak jika aku tak ada ?

Teringat juga akan satu pendapat bahwa sehebat-hebatnya atau sepenting-pentingnya posisimu dalam satu perusahaan, saat engkau sakit hingga tak mampu mengambil lagi rutinitas itu, maka perusahaan akan dengan segera mencari penggantimu, untuk bisa menjalankan perusahaan dengan baik. Bahwa ternyata kita tak sepenting atau sehebat yang kita pikirkan. Maka pulanglah, dan ajak anak anak bermain…

Telkom Denpasar Lama merespon Keluhan Telepon Rumah

Category : tentang Opini

Kepada Yth. 
Telkom Indonesia (untuk pemberitahuan karena saya tak menemukan alamat email Customer Service) – [email protected]
[email protected]
Redaksi Bali Post (untuk Surat Pembaca) – [email protected]
Redaksi Denpost (untuk Surat Pembaca) – [email protected]

TELKOM DENPASAR LAMA MERESPON KELUHAN TELEPON RUMAH

Om Swastyastu

Orang tua saya tercatat sebagai pelanggan lama layanan telepon rumah milik Telkom. Sudah 14 hari terakhir nomor rumah kami tidak bisa dihubungi (tidak ada dering telepon) dan tidak bisa menghubungi (tidak ada nada tunggu). Untuk antisipasi, saya sudah mencoba untuk membeli pesawat telepon baru namun kondisi yang ada tetap sama.

Saya memutuskan untuk menaikkan keluhan ini ke Surat Pembaca mengingat selama 14 hari ini, tidak ada tindaklanjut yang disampaikan secara langsung baik kunjungan teknisi atau konfirmasi ke nomor telepon yang dapat dihubungi. Saya sudah menghubungi 147 (dipotong pulsa pula) untuk yang ke-5 kalinya per 25 September 2015 pk. 7.14 dan mention berkali-kali serta DM ke akun twitter milik Telkom di @TelkomCare namun jawaban sama selalu saya dapatkan. ‘on progress’

Pada hari ke-3 di laporan yang ke-2, seseorang  yang mengaku Teknisi Telkom sempat menghubungi dengan menggunakan nomor telepon berawalan 0361 yang saat saya hubungi balik selalu bernada sibuk. Yang bersangkutan menanyakan alamat rumah, namun hingga kini belum tampak batang hidungnya. Berikut nomor laporan yang disampaikan Telkom setiap kali saya menyampaikan keluhan. 2015D.0915.11748

Mohon tanggapan secepatnya dari pihak Telkom.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Hormat kami,
Pande Nyoman Artawibawa
Jalan Nangka No.31 Denpasar
Kontak 083 119 540 188 atau di akun Twitter @pandebaik atau email di [email protected]

******

By the way…
Keluhan diatas rupanya sudah ditanggapi dengan Baik oleh pihak Telkom pada hari Sabtu, 26 September 2015, tepatnya hari ke-15 sekitar pukul 4.30 pm.
Ini artinya bahwa ketika semua keluhan yang sudah disampaikan secara lisan ataupun non formal kepada pihak yang berwenang namun belum jua ada tanggapan hingga hitungan Minggu, tidak ada salahnya bagi kita sebagai Konsumen menyampaikan keluhan secara Resmi dan Tertulis untuk diPublikasi dan diTembuskan ke pihak yang memiliki kewenangan lebih tinggi, induk perusahaan atau media cetak. Ketimbang memaki-maki admin sosial media mereka. Demikian disampaikan.

Jadi, Terima Kasih atas tanggapan admin @TelkomCare atas perbaikan Telepon Rumah kami hari ini.
Salam dari Pelanggan tetapmu ini.

Catatan Malam ini, 20 September 2015

Category : tentang Opini

Hari ini saya mendapatkan banyak pengalaman berharga dari keterlibatan dalam sebuah perhelatan yang sebenarnya memiliki makna besar. Namun demikian ada rasa kecewa yang muncul atas akibat yang terjadi pasca penyelewengan kesepakatan, dengan pihak yang seharusnya dipercaya sekalipun.

Benar-benar pengambilan satu keputusan dengan pemikiran yang dangkal, dan hanya mementingkan kepentingan pribadi ketimbang tujuan yang mungkin amat sangat berarti bagi generasi yang ada. Bersyukur saya tak menjadi bagian didalam sistem yang tak beres ini.

Ketika tujuan yang ingin kita raih dengan semua persiapan matang dan harapan yang positif thinking dipatahkan begitu saja oleh kepentingan politik praktis, maka sebetulnya itu memberikan arti yang mendalam bahwa di tahun berikutnya, sudah saatnya kita mandiri tanpa perlu meminta bantuan mereka. Meskipun sejatinya ini merupakan dasar hidup mereka juga.

Jadi memang Pengalaman itu adalah Guru yang paling berharga. Bahwa kita harus yakin memilih rekan kerja yang akan diajak berjuang demi tujuan akhir yang diharapkan, pun memilih tim kerja intern yang dapat dipercaya serta memiliki visi sama untuk mencapai tujuan tersebut.

Jika tidak ? Bersiaplah babak belur dicaci maki, meskipun sebenarnya bukan tupoksinya yang harus dijalankan. Tapi tetap karena menjadi bagian dari Tim dan mengenakan baju yang sama, ya inilah resikonya.

Apa yang saya lalui beberapa hari terakhir dan puncaknya tadi itu, cukuplah membuat saya tersadar bahwa beginilah kondisi hidup dan lingkungan saya beraktifitas dalam arti sebenarnya. Bahwa mereka yang diharapkan banyak berbuat untuk kepentingan yang lebih besar, masih menjalankan kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri serta abai pada tujuan yang sebenarnya. dan Bahwa mereka yang diyakini bakalan bekerja sesuai tugas dan kewajibannya, ternyata tak semudah kata-kata yang diucap, lidah tak bertulang, ape dadi orahang.

Maka sudah sewajarnyalah jika esok, rasanya tak akan ada penantian dan harapan lagi yang ditunggu meskipun itu untuk tujuan yang jauh lebih besar sebagaimana harapan terdahulu. Cukup menjalankan apa yang pernah dijanjikan dengan segala daya dan upaya meski harus merogoh kocek sendiri.

GO-JEK atau GOJEK ?

Category : tentang InSPiRasi

Hai kalian…
ya, kalian yang mampir di halaman ini…

Sudah mulai akrab dengan istilah Gojek ?
atau Minimal pernah lihat satu dua pengendara Gojek melintas didepan mata ?
Kalo Belum, ayo deh googling bentar di dunia maya.

Apa itu GO-JEK? GO-JEK adalah perusahaan berjiwa sosial yang memimpin revolusi industri transportasi Ojek. GO-JEK bermitra dengan para pengendara Ojek berpengalaman di Jakarta, Bandung, Bali & Surabaya dan menjadi solusi utama dalam pengiriman barang, pesan antar makanan, berbelanja dan berpergian di tengah kemacetan.

Kurang lebih begitu informasi yang bisa didapat dari hasil pencarian Google, langsung dari halaman go-jek. Infonya sih GO-JEK itu singkatan dari istilah GOod oJEK, tapi soal kebenarannya sih ya siapa tahu.Jadi sementara ini sih berarti istilah yang bener itu ya GO-JEK, bukan Gojek.

Saya pribadi sih gak tahu pasti kapan layana GO-JEK ini masuk wilayah Bali sebagaimana info mereka. Yang pasti sih selama seminggu terakhir pernah aja sekali dua menemukan helm pengendara GO-JEK di seantero jalan Kota Denpasar. Makanya penasaran juga pengen kenalan.

Untuk bisa memanfaatkan layanan GO-JEK ini tentu kita sebagai calon pemanfaat, bisa memulainya dari pengunduhan aplikasi melalui pasar ponsel masing-masing dan jangan lupa me-Registrasi Nomor Ponsel untuk diVerifikasi keabsahan penggunanya.

Layanan yang diberikan GO-JEK kalo dilihat dari empat Menu Utamanya sih ada Antar Barang (Instant Courier), Antar Manusia (Transport, nafas utama Ojek), Antar Makanan (Go Food, sekaligus pemesanan dan bayar), dan Antar Belanja Barang (Shopping). Kelebihan kekurangannya, nanti deh saya jelaskan lagi.

Untuk sementara ya itu dulu informasinya, nanti disambung lagi.

Berburu Buku (bekas) di TokoPedia

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang TeKnoLoGi

Disandingkan dengan perangkat gadget baik ponsel maupun tablet, bisa dikatakan keberadaan buku bacaan sudah mulai tergerus kebutuhannya saat ini.
Bisa jadi lantaran jauh lebih praktis secara bawaan, bisa juga jauh lebih ekonomis secara biaya. Semua ada masanya.

Namun bagi saya pribadi, buku tetaplah perlu. Mengingat Buku bisa dibaca dan dinikmati tanpa harus khawatir kehabisan daya baterai sebagaimana halnya gadget. Bisa dinikmati dimana saja termasuk dalam ruang yang melarang hadirnya lensa kamera seperti wilayah Tanpa Tuhan kemarin. *eh maaf

Maka pada saat-saat tertentu, buku, dengan topik atau cerita tertentu, satu dua masih suka diselipkan diantara tumpukan baju dalam tas jinjing saat melawat keluar daerah, atau didalam saku tas selempang. Tujuannya tentu saja menjadi alternatif, saat daya tahan baterai ponsel masih jauh lebih dibutuhkan untuk media komunikasi ketimbang bacaan eBook.

TokoPedia, akhirnya menjadi gerai pertama versi online yang disambangi hari selasa malam lalu. Gara-garanya keingetan novel Cafe Blue karya mas Hilman yang beken itu, merembet ke buku Soe Hok Gie, Andrea Hirata, Arsitektur hingga soal mainan anak tradisional yang kini sudah mulai hilang keberadaannya.

TokoPedia PanDeBaik

Dengan harga yang sangat murah untuk buku-buku bekas namun masih dalam kondisi baru, dan terjangkau untuk buku baru yang bisa jadi tidak laku dijual. Tapi biarpun begitu, yang penting toh isi tetap diutamakan.

Salah satu buku yang saya pesan diatas, sudah dibuatkan tulisannya tempo hari. Sedang sisanya malah belum sempat dibaca di kala senggang. Mungkin nanti.

Mendapati buku-buku yang disukai, tentu menambah panjang daftar ‘warisan’ yang kelak bisa dinikmati oleh tiga putri kecil kami. Itupun kalo mereka berminat untuk membaca buku. Hehehe…

Cafe Blue

1

Category : tentang InSPiRasi

Malam ini saya kedatangan Tamu yang sudah dinanti-nanti. Tamu yang diharapkan kehadirannya dalam dua tahun terakhir. Tamu yang baru bisa ditemukan di gerai jualan online TokoPedia. Eh ?

Cafe Blue

Ini adalah sebuah buku, lebih tepatnya karya novel dari seorang penulis ternama, Hilman.
Ya. Hilman.

Cafe Blue Hilman PanDeBaik

Cafe Blue hadir kalo gak salah di era dollar masih berharga dua ribuan, dimana bercerita tentang seorang gadis sampul bernama Sasa yang membuka tempat nongkrong bagi para remaja sekitarnya dan menawarkan jajanan es krim dengan harga lima ratus rupiah saja. Jaman itu loh ya…

Alur kisahnya sederhana. Hanya lima chapter pendek. Gak ada konflik menjelimet dan bikin pusing, semua berjalan dengan pemahaman yang mudah dicerna, utamanya bagi kalian berusia remaja.
Saya pribadi hanya membutuhkan waktu setengah jam, tak sampai malah, untuk bisa menghabiskan seisi novel dengan baik. Mungkin karena sudah terbiasa membaca cerita yang lebih berat.

Novel satu ini saya dapatkan dari gerai online di aplikasi TokoPedia. Iseng saja sebenarnya saat melakukan pencarian. Keingetan gara gara gak pernah nemu saat dahulu goggling di dunia maya. Maka sudah sewajarnya saya berterima kasih pada penyedia layanan ini.
Harganya naik sepuluh kali lipat. Tapi untuk ukuran masa kini, masih di angka belasan ribu. No problem saya kira.

Cafe Blue, satu diantara tiga buku yang datang malam ini, mengisahkan seorang Sasa dalam menjalankan bisnis karir pertamanya, disela godaan hidup yang datang dari sang Mama. Tak lupa dibumbui kisah cinta sang gadis dengan pujaan hati bernama Andi, seorang mahasiswa dari jurusan komputer yang hadir diantara para jejaka penyuka Sasa.
Bagi yang kerap membaca kisah macam ini, saya yakin bisa menebak kemana arah air mengalir. He…

Membuat penasaran, lantaran dulu itu pernah punya, tepatnya milik kakak almarhum yang kemungkinan besar dibawa serta saat pernikahannya. Pas lagi pengen baca novel jadul macam Gola Gong terdahulu, hanya Cafe Blue ini saja yang terlewatkan.

Kalian minat ?