Pahit Manis Pedagang Bali

Tiba tiba jadi ingat tulisan seseorang disana tentang alasan mengapa ibu ibu rumah tangga lebih suka belanja di pedagang selat pasih, semeton Muslim ketimbang pedagang yang merupakan nyama braya Bali.
akhirnya saya mengalami juga…

Salah satunya karena mereka lebih mampu menjaga keramahan dan komunikasi yang baik dengan calon pelanggannya. Siapapun itu.

Sedang pedagang Bali, meski tidak semua, begitu naik sedikit pamornya di mata pelanggan, kadang kala menjadi arogan dan memandang sebelah mata konsumennya. Tak jarang sambil merenggut dalam memberi pelayanan yang seharusnya pembeli dapatkan.

Pengalaman adalah Guru yang Terbaik, kata orang. Maka apa yang dialami kemarin di depot jualan masakan china bali pojokan pasar malam Kereneng pun, menjadi pelabuhan kami yang terakhir kalinya. Ketimbang nantinya berimplikasi jauh mengingat isi kepala orang siapa tahu.
Jaman modern begini, masih ada kok orang yang menggunakan tenung demi menjalankan maksud hatinya.

Mungkin memang kami harus berpindah tempat lagi mencari alternatif tempat makan murah meriah dan enak. Toh masih banyak pilihan di sekitarnya, atau di luaran.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

3 thoughts on “Pahit Manis Pedagang Bali

  • July 15, 2015 at 4:48 am
    Permalink

    He… pengalaman ya bli made ?

  • February 5, 2016 at 4:40 pm
    Permalink

    Ngih patut nike sekadi baos bli, tiyang juga sering mengalami nike..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *