Mimpi itu…

Category : tentang KHayaLan

‘Bos, ada yang gak beres terjadi pada tim kita Bos…’
‘Bos, ada yang gak beres terjadi pada tim kita Bos…’

Kalimat itu berulang-ulang terdengar pada telinga disela ingatan yang makin berkurang…
Padahal rasanya baru saja kupejamkan mata untuk meninggalkan gelapnya dunia masuk ke dunia lain yang kuharapkan sejak tadi.

Suasana yang terekam tak jauh berbeda dengan gentingnya pertempuran ala spionase 007 yang kutonton sebelum tidur tadi. Penuh intrik yang membutuhkan tindakan dan tanggapan secepatnya.

Tapi rupanya… ‘pak, pak… pak…’

Suara istri terdengar sayup tapi pasti…

‘Intan ngompol pak… tadi lupa dipakein Pampers…’

*aduh !!!

Aku dan Pikiranku

1

Category : tentang KHayaLan

Terbangun dari tidur tanpa semangat mungkin sudah biasa dilakoni. Apalagi ditambah dengan beban pikiran yang mendera bathin rasanya memang gak ingin melanjutkan hari sementara waktu. Penat. Galau.

Ada rasa prihatin pada kondisi beberapa kawan yang mencoba curhat padaku kemarin. Kasihan juga mereka. Sementara aku masih bisa bersyukur atas semua anugerah yang diberikan-Nya hingga hari ini. Pula atas dukungan keluarga yang masih hangat tanpa cela.

Ada juga rasa iri pada beberapa kawan yang sudah mapan dan menghabiskan waktu luang mereka dengan menyalurkan hobi, jalan jalan bersama keluarga hingga berkumpul dengan saudara lain bahkan menjalani kesehariannya dengan pandangan yang berbeda dan tak pernah terpikirkan.

Aku dan pikiranku.
Seakan masih mencekik semua rencana yang ada didepanku.

Puja Trisandhya sudah selesai berkumandang dari corong bale banjar nun jauh disana. Dan aku masih malas untuk segera bangun dari kesendirianku selama ini. Ada banyak hal yang ingin kuselesaikan dalam waktu yang sempit ini.

Ruang Tamu, 7.47 PM

Category : tentang DiRi SenDiri

…Satu satu daun berguguran …Jatuh ke bumi dimakan usia
…Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
…Redalah reda

…Satu satu tunas muda bersemi …Mengisi hidup gantikan yang tua
…Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
…Redalah reda

…denting piano kala -jemari menari …nada merambat pelan di kesunyian malam …saat datang rintik hujan bersama setiap bayang
…yang pernah terlupakan

…Karena lapar kucing hutan menerkam tikus salju …Tikus salju malah mendapatkan teman
…Kucing hutan yang gagal gagal lagi …Tikus salju biasa saja sudah nasibnya selamat

…Dari balik bukit dikaki cemara
…Aku melihat mulut harimau berlumuran darah
…Kucing hutan yang gagal ia terkapar
Akhirnya mati

Satu Penerbangan lagi

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Pesawat dengan nomor penerbangan GA 221 mendarat mulus di landasan bandara Cengkareng saat jarum panjang jam tangan menunjukkan angka enam. Masih ada waktu setengah jam artinya sebelum berpindah pesawat dan kembali pulang. Cukup wakti untuk membeli roti dan sebotol air mineral, bekal menanti jadwal di ruang tunggu keberangkatan. Ah, sudah gak sabar untuk bersua empat gadisku.

Jadwal penerbangan berikut, tampaknya mundur dua puluh menit dari waktu yang ditunjukkan pada tiket, artinya tentu masih cukup waktu untuk membersihkan diri dari keringat. Agar bisa sedikit lebih segar saat tiba di Ngurah Rai nanti.

Intan marah kelihatannya saat kutelpon sesaat sebelum naik pesawat di bandara Adisumarmo. Jelas tampak ia kangen dan ingin tiduran ditemani Bapaknya. Entah apakah malam ini aku masih sempat meninabobokannya, atau malah baru sampai saat mereka terlelap.

Tapi yang penting, aku pulang.

Dan semua kangen ini akan terbayar lunas sebentar lagi…

Santai dulu sebelum Pulang

Category : tentang PLeSiran

Akhirnya, sampai juga di bandara.

Setelah menanti ketidakjelasan kontak dari Golden Bird, sayapun memesan taxi pada petugas front office dan mendapatkan informasi bahwa jika saya mau menunggu lima belas menit lagi, akan ada kendaraan hotel yang bisa mengantar hingga ke bandara, free, sebagai service atau pelayanan hotel bagi tamu mereka. Wah, siapa yang bisa nolak kalo begini ?

Maka, gak sampai lima belas menit perjalanan, Hyundai milik hotel yang dikendarai oleh mas Sri Soeranto itupun mengantarkan saya tiba di bandara dengan selamat.

Setelah membungkus dua tas dan kardus berisikan oleh oleh di penyediaan jasa dekat pintu masuk dan melakukan check in lebih awal, sayapun memilih untuk keluar lagi mencari makan siang. Perut sudah mulai protes sejak tadi.

Memesan sepiring nasi goreng telor dan tahu bakso di gerai Lana Coffee rasanya memang wajar jika kita gak terlalu berharap akan rasa dan kualitas masakan yang ada di emperan ruang tunggu bandara ini. Jauh dari enak atau memuaskan. Tapi ya, dalam situasi seperti ini saya selalu ingat petuah dosen senior sewaktu kuliah di Arsitektur dulu bahwa ‘makanlah selama tidak masam atau basi’ apapun itu menu dan rasanya. Terpenting perut kenyang dan pikiran pun tenang. (Gusti Bagus Oka – landung)

Usai santap siang, masih menyempatkan diri sebentar untuk membaca tabloid Pulsa terbaru sambil menikmati segelas kopi pahit hingga waktu menunjukkan pukul 13.45 dan sayapun memilih masuk ke ruang tunggu keberangkatan, ketimbang terlambat atau malah ketinggalan pesawat seperti kisah para anggota dewan Jembrana pada posting sebelumnya itu.

Jadwal keberangkatan masih lama. Pukul 15.40 WIB, jadi masih ada sisa satu setengah jam lagi. Maka ketika menginjakkan kaki di ruang tunggu yang tampak sepi calon penumpang ini, sayapun memilih pijat refleksi sebentar dengan mengambil paket durasi satu jam sambil menunggu waktu tiba.

Well, gak ada salahnya memanjakan diri sejenak, menikmati waktu bersantai di Kota Solo ini mumpung masih bisa, karena saat saya kembali lagi pulang nanti, tentu sejumlah aktifitas rutin dan kebutuhan anak sudah siap menanti. Lakoni saja…

Menanti Waktu (Pulang)

Category : tentang PLeSiran

Jadwal yang tercantum dalam lembaran tiket elektronik pergi pulang yang saya pesan lewat telepon selasa lalu adalah sekitar pukul 16.00 WIB. Artinya saya masih punya waktu tiga jam atau dua jam untuk leyeh leyeh menanti di lobi hotel ini, atau jalan jalan lagi mengelilingi Kota Solo atau malah menunggu waktu di seputaran bandara Adisumarmo.

Jauhnya jadwal, sebenarnya saya pilih lantaran berpikir bahwa waktu keliling kota buat nyari oleh oleh ketiga putri saya, baru bisa terlaksana pasca check out dari hotel, atau jumat pagi dengan ancer-ancer waktu memuaskan. Apa daya yang terjadi malah sebaliknya. Waktu untuk menikmati Kota Solo malahan bisa saya lakukan kemarin malam, dan saya anggap tuntas toh bingung juga mau beli oleh oleh apa lagi. Tinggal yang untuk Staf kantor saja yang belum kesampean. Lagian mau dibawakan apa ya mereka ?

Suasana lobi hotel ini cukup panas, tapi gak terlalu mengganggu lantaran ketinggian rangka atap dari lantai cukup tinggi, jadi hawa masih bisa masuk meski gak bisa dibilang leluasa. Tapi cukuplah bagi saya untuk duduk sebentar, menunggu kedatangan taxi yang belum saya pesan. He…

Dalam pertemuan PPIP kali ini, saya menjalani proses bersama teman sekamar pak Agus Yudi dari Kabupaten Bangli yang punya hobi mirip mirip, yaitu gadget. Maka bisa ditebak, kalo topik obrolan dan aktifitas luang di dalam kamar berkisaran soal apa saja. Dari review, kekurangan dan kelebihan hingga Tips menyesatkan yang sepertinya bakalan mampu membuat Beliau itu lupa akan pekerjaannya beberapa waktu. Jadi Good Luck kawan, semoga apa yang dicari di dunia maya bisa didapatkan. Saya cuma nitip kalo lain kali bersua kembali, ajarkan saya soal investasi dananya.

Waktu sudah berlalu setengah jam lamanya. Dan saya pun masih duduk di pojokan sambil berusaha menghubungi nomor telepon Golden Bird yang diberikan petugas mereka di bandara Adisumarmo kemarin. Rupanya nomor itu belum terdaftar katanya. Sementara nomor Flexy yang terdaftar sebagai Counter mereka malah dikatakan tidak aktif lantaran sudah harus diganti ke nomor GSM.
Maka jadilah saya menanti kembali sambil leyeh leyeh menikmati secangkir kopi sendirian.

Menikmati Kota Solo di Malam Hari

Category : tentang PLeSiran

Oke, meski faktanya gak semua bisa kami lalui, tapi tetep aja yang namanya Kota Solo bisa dinikmati lewat jendela Angkasa Taxi nomor lambung 021, dengan pengemudinya seorang pemuda berusia 21 tahun, pengagum Naruto bernama Bayu. Ia lah tour guide kami malam ini, 7 Mei 2015, pasca desk RKTL di sesi terakhir tadi.

Menikmati Kota Solo tentu belum afdol jika belum mampir untuk membeli oleh oleh batik buat keluarga, atau mencicipi Nasi Liwet khas Kota Solo.

Untuk batik, saya lupa tadi diantar ke mana. Yang pasti, berhubung pasar Klewer sudah dinyatakan tutup maka si Naruto eh si Bayu itu mengantarkan kami ke gerai Oleh Oleh yang lokasinya gak jauh dari Hotel Lorin tempat kami menginap.
Saya pun membeli beberapa baju kaos anak bergambar Kota Solo, dan tak lupa buat diri sendiri dengan ukuran besar. He…

Sedang Nasi Liwet, kami diantar ke Bu Wongso 99 yang saat itu masih dalam situasi sepi. Maka santapan khas Kota Solo itupun ditandas tuntaskan dalam waktu singkat. Berhubung secara porsi juga pas banget, gak banyak macam porsi makan los emperan.

Suguhan Nasi Liwet itu mirip nasi campur kuwah bakso, namun ada rasa santannya disitu. Untuk lauknya, saya minta daging ayam disuwir plus setengah butir telor dan tahu bacem. Bertiga, menghabiskan budget 60ribu saja sudah termasuk minum. Lumayan kok…

Muter muter Kota Solo sebenarnya sih gak jauh beda dengan Kota Denpasar, rumah tinggal saya. Hanya secara lingkungannya yang ada sepertinya sih ya, kurang terawat utamanya saat kami melewati Keraton Surakarta. Tembok luar yang sebetulnya bisa dinikmati para wisatawan kebetulan mentas, tampak kotor oleh lumut dan lembab. Kalo di Bali sih, mungkin sudah mendapat bantuan dana dari pemda setempat dan dijadikan semacam kawasan Heritage begitu. Tapi ya sudahlah, masing masing pemimpin daerahnya pastilah sudah punya masterplan sendiri untuk itu.

Yang agak mengagetkan adalah, kami agak kesulitan mencari minimarket di seputaran Kota Solo. Infonya sih Walikota terdahulu agak menyulitkan soal perijinan mereka dan mendahulukan kebutuhan masyarakat akan pasar tradisionalnya. Dan baru nemu di daerah Purwosari, selatan jauh dari hotel kami menginap.

Yang jauh lebih mengagetkan lagi ya soal alun alun keraton yang dipenuhi dengan berbagai hiburan anak dan jajanan rakyat. Beda banget dengan alun alun Kota Denpasar dimana pedagangnya ngomplek menjauh di pojokan persimpangan jalan, lantaran ngeper melihat batang hidung para jajaran Satpol PP yang siap mengangkut barang dagangan mereka jika sampai menyentuh pinggiran maupun area lapangan. Wih… Surga banget dah pokoknya kalo mau ngajak anak-anak kesini. Gak lupa ngeliatin langsung Odong-Odong yang diperuntukkan bagi semua kalangan umur, berupa sepeda kayuh beroda empat, dengan hiasan lampu khas Odong Odong namun dibentuk unik menjadi sebuah Helikopter, Angsa hingga Suzuki Splash. He…

Gak terasa argo taksi yang dikemudikan pemuda jomblo Bayu Naruto ini sudah menunjukkan angka seratus ribuan lebih saat roda kendaraan masuk ke pelataran parkir samping Hotel Lorin. Kamipun bubaran menuju kamar masing masing untuk nanti berupaya menikmati lagi malam sepinya Kota Solo.

Lorin Hotel, 13.14 PM

Category : tentang PLeSiran

Suasana Kota Solo tak ubahnya Batam, kota terakhir yang saya kunjungi tahun lalu. Lalu lintasnya tak begitu ramai. Kanan kiri pandangannya pun sepintas tampak sama. Yang membedakan hanya tanah merahnya saja.

Pengemudi taksi Golden Bird yang kusewa sejak mendarat di Bandara Adi Sumarmo pun bercerita, bahwa lokasi hotel yang nanti dituju sebetulnya gak begitu jauh dari bandara. Sekitar 10 menitan saja dengan melalui dua daerah, Boyolali dan Karanganyar, lalu belok kiri, nyampe dah.

Solo kota kecil. Kata si Bapak yang asli Solo itu, gak banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi kalo disandingkan dengan Bali. Saran Beliaunya, saya diminta mampir ke jalan Slamet Riyadi, tempat mangkalnya Bus berTingkat dan kereta api Uap yang bakalan mengajak kita keliling kota Solo. Bisa gak ya ambil waktu disela kesibukan nanti ?

Peserta sudah banyak yang menanti di depan hotel. Ini karena jadwal check in belum bisa diakses mengingat panitia kegiatan masih jalan jalan keluar. Harus menunggu sekitar dua jam-an lagi. Yo wis… harus jalan dulu kalo mau selamet.

Perut sudah mulai lapar. Snack Time yang diberikan awak pesawat barusan sepertinya belum bisa mengganjal. Usai menitipkan tas ransel di lobby, kakipun mulai gatal menyusuri trotoar jalan seputaran hotel, dan mata menangkap tulisan ‘Soto 100 Meter lagi’ nun jauh disana. Aha, gak jauh jauh rupanya.

Di jalanan Solo ternyata masih bisa menyeberang jalan secara sembarangan seperti di jalanan rumah. Belum diatur dalam satu jembatan penyeberangan layaknya Jakarta atau serempak di persimpangan layaknya Singapura. Jadi makin keenakan deh.

Kawan kawan rombongan Satker dari Provinsi Bali baru saja tiba. Suasana jadi sedikit cair berkat candaan mereka yang menyapa akrab sejak berpapasan di jalan tadi. Ternyata mereka mengirimkan Tim lengkap tanpa kehadiran sang PPK, pak Kadek Sutika. Kawan sekamar saat Rakor di Manado tahun lalu. Rencananya sih kali ini saya bakalan sekamar dengan Bapak Agus Yudi, Satker dari Bangli itu.

Lobby depan Lorin Hotel gak jauh beda dengan suasana Sanur Paradise yang ada di persimpangan Hangtuah, lagi lagi gak berasa berada di luar kota.
Jadi ya semoga saja waktu bisa berlalu cepat selama beraktifitas disini.
Sudah gak sabar menunggu waktu pulang.