Menu
Categories
Jalanan Kota Senin Pagi
April 6, 2015 tentang KHayaLan

Keringat masih menetes saat kendaraan mulai laju mundur dari halaman rumah. Isak tangis Intan, putri kedua kami masih terdengar seraya meminta Bapaknya untuk mau mengantarkannya main ke alun-alun. Hampir setiap pagi di hari kerja ia sedih ditinggal Bapak, namun akan kembali ceria saat sudah tak melihatnya lagi. Begitulah anak-anak.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.51, masih tetap maju dua puluh menit dari yang seharusnya. Jalanan Kota Denpasarpun mulai dilalui satu persatu.

Lantunan suara Bang Iwan yang dikumpulkan minggu lalu satu persatu kalah jauh diterpa angin semilir yang masuk lewat jendela mobil. Sengaja kubuka untuk dapat menghirup sejuknya pagi dan nikmati panasnya sinar matahari. Namun awan di beberapa tempat sempat halangi kesenanganku disela lalu lalang ramainya arus.

Banyak hal penting yang terlintas di benakku, namun kuabaikan demi hari-hariku nanti. Biarlah waktu yang akan mengingatkannya kembali. Penat jika kuladeni itu semua dalam sempitnya waktu yang dimiliki.

Wajah manis Gek Ara mulai membayang

Anak cantik ini kelihatannya senang saat kudendangkan kisah Bang Iwan sampai tertidur dalam pangkuan, sempat kewalahan juga semalam akibat panasnya hawa yang tak tertahankan.

Kotaku tak sejuk lagi

Gerbang Puspem Badung mulai tampak dari kejauhan. Rutinitas pun mulai menanti untuk diselesaikan. Dan aku harus siap menghadapinya.

Leave a Reply
*