42 Hari Gek Mutiara

1

Category : tentang KHayaLan

Akhirnya kesampaian juga harapan kami, bisa menjalani upacara pertamanya Gek Ara di rumah bersama Keluarga.

Upacara 42 hari atau yang dikenal dengan istilah abulan pitung dina atau satu bulan (Bali-35 hari) tujuh hari, dilaksanakan pada hari Minggu kemarin, 29 Maret 2015 mulai pukul 14.30 wita dengan mengundang saudara terbatas di halaman rumah saja.
Upacara 42 hari ini selesai sekitar pukul 16.00 wita, sedikit lebih cepat dari perkiraan.

Meskipun pada malam harinya Gek Mutiara sempat kami bawa ke UGD Sanglah lagi karena menangis dan tampak kesakitan akibat ruam popok yang ada di pantatnya, sekitar pukul 1.00 dini hari, adik diijinkan pulang tanpa perlu rawat inap lagi. Dan sedari pukul 4.00 pagi tadi adik masih tampak rewel dengan rutinitasnya dan memaksa sang Ibu untuk mengorbankan lagi waktu Istirahatnya.
Tapi semoga Adik Mutiara bisa tetap sehat kedepannya.

Berikut beberapa rekaman lensa terkait upacara 42 harinya Pande Nyoman Mutiara AnnikaDewi.

42 hari Gek Ara 0

42 hari Gek Ara 1

42 hari Gek Ara 4

42 hari Gek Ara 6

42 hari Gek Ara 9

Pikir Pikir Ganti Motor ?

5

Category : tentang KHayaLan

Menyambangi dealer Yamaha Diponegoro sabtu pagi tadi, sempat terpikirkan buat ngeganti motor lagi.
Tapi masih kasihan dengan Scorpio 2012 yang saya miliki, baru setahun lalu usai modif dibikin lebih gambot, masa sudah harus beli lagi ? He…

Awalnya sih cuman iseng ngeliatin foto-foto touring sodara sepupu yang pengacara kondang itu, pak Yande Putrawan, kalian kenal ?
Dia membesut Suzuki Inazuma yang punya bodi jadul tapi panjang untuk ukuran motor, diajak jalan jalan kemanapun suka bersama kawan kawan sesama rider semotor.
Jika dibandingkan dengan Yamaha Scorpio yang saya miliki, Inazuma kelihatannya jauh lebih nyaman buat dipake jalan jauh.

Nah, pas lagi inget inget jarak as sumbu roda yang panjang, di dealer ini malah nemu Yamaha TMax, motor matic yang punya kapasitas mesin dua kali lipatnya Scorpio maupun Inazuma. Tadinya sih tak pikir harganya mirip-mirip si Kawasaki Ninja, makanya sempat kepikiran mau ganti motor…
Tapi pas tahu harganya setara mobil Low MPV macamnya Toyota Avanza atau Honda Mobilio, errr… rasanya musti buang jauh-jauh mimpi itu dah.
Yang harganya se-Kawasaki Ninja 250 aja masih gak rela kalo uang segitu dituker motor, apalagi yang ini ?
Walah…

PanDe Baik Scorpio

Meski begitu, secara penampilan dan fungsi kalopun bisa dihibahkan gratis oleh Yamaha, sepertinya asyik dipake jalan bareng anak-anak. Muat banyak.
Sedang kalo istri ikutan, mending bawa mobil aja biar bisa tidur nyenyak mereka.
He…

Kenapa malah tertarik dengan TMax, bukannya tongkrongan sport yang R-R-an itu, ya memang kelihatannya secara usia sudah lebih suka dengan yang praktis-praktis saja, toh sekarang sudah gak pernah lagi (inget, gak pernah ya… bukan jarang :p ) ngegeber kecepatan motor diatas 80 km/jam.
Lebih suka santai kayak dipantai.
Apalagi kalo pas lagi keliling kota bareng anak-anak, ya pasti lah sambil nunjuk ini itu di sepanjang jalan. Kan gak mungkin kalo riding begitu sambil ngebut. He…

Bersua ‘Nic & Mar’

Category : tentang Opini

Kisah pertemuan dua insan yang telah berstatus mantan, dengan ‘terpaksa’ terjalin kembali di Eropa Paris, berkat Line.
Sounds familiar ?

Kisah serupa pernah digulirkan tahun 2014 lalu menyambung epic lama di blantika film remaja Indonesia. Salah satu aktor yang terlibat masih sama dengan kedua kisah diatas. Nicholas Saputra.

Pemeran tokoh Gie yang sampai sekarang masih saya sukai penampilannya ini, melalui debut awal tahun 2002an lalu lewat ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang beradu akting dengan aktris beken Dian Sastro.
Cerita ini kemudian berlanjut dua belas tahun kemudian dalam bentuk mini drama besutan Line, aplikasi mobile messenger yang mengandalkan nomor ponsel macam Whatsapp, bukan PIN macam BBM. Namun didalamnya memiliki fitur pencarian berdasarkan Nama pengguna sehingga dimungkinkan untuk menemukan dan berbicara dengan seseorang, mantan sekalipun.
Selama lawan bicara menggunakan aplikasi yang sama.
Yang sayangnya, bagi pengguna yang pernah menggunakan Line lalu berstatus mantan karena tidak lagi menggunakan Line, daftar nama yang bersangkutan tetap muncul dalam pencarian, namun tidak akan mendapatkan respon apa-apa ketika dikontak melalui jalur aplikasi yang sama. Kasian banget bagi yang berharap banyak. *he-em

Balik pada kisah ‘Nic & Mar’, saya menemukannya secara tidak sengaja di halaman berbagi video, YouTube pertengahan Maret lalu. Inginnya sih mengunduh beberapa film Indonesia lama yang disajikan full durasi, tapi nyasarnya malah ke serial mini drama ini yang di-update setiap hari Kamis dan Jumat malam.

Nic & Mar PanDe Baik Line

Konsep jualannya mungkin mirip dengan kisah mini drama ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang dirilis tahun 2014 lalu, atau kisah ‘Malam Minggu Miko’ nya Raditya Dika yang memang hanya edar dalam versi YouTube, namun bisa dikatakan alur cerita, permainan musik latar dan pengambilan gambarnya, sesuai dengan harapan banyak penggemar film Indonesia yang sudah familiar dengan sosok Nicholas Saputra.

Adapun lawan main Nicholas Saputra yang berperan sebagai Nic dalam kisah ini adalah Mariana Renata yang berperan sebagai Mar.

Kisah ini dimulai dari perjalanan Nic di Paris yang kebingungan mencari referensi terkait kota yang ia kunjungi, dengan bertanya pada kawan dalam group Line. Salah satu alternatif solusi yang ditawarkan adalah menjumpai Mar, sang mantan kekasih yang telah sepuluh tahunan berpisah dan secara kebetulan bekerja di Paris. Pertemuan yang dijalani sebagai teman lama ini kemudian berkembang lagi menjadi satu hubungan yang berbeda dari sebelumnya.

Nic & Mar PanDe Baik Line 1

Hingga malam ini, ada empat episode yang bisa dinikmati dari cerita ‘Nic & Mar’ melalui channel Line Indonesia di halaman YouTube. Ditambah dua video musik yang melatarbelakangi kisah dengan tajuk ‘Far Away’ dan ‘When You Are Near’, sangat cocok dinikmati bagi kalian yang sudah mulai gerah dengan kehadiran Shitnetron dan sejenisnya di layar televisi.
agar bisa menontonnya secara berulang, saran saya video diatas bisa diunduh dengan menggunakan aplikasi TubeMate pada ponsel Android atau YouTube Downloader pada perangkat PC.

Saya yakin kalian bakal menyukai dan menunggu episode kelanjutan dari kisah ‘Nic & Mar’ ini, yang tentu bisa dikunjungi lagi Jumat malam nanti. Apalagi kisah ini diturunkan hanya dalam durasi yang singkat. Sekitar 6-7 menitan setiap episodenya.

Penasaran ? Mampir aja di halaman Line Indonesia, playlist ‘Nic & Mar’.

Jadi PNS yang (tidak) Baik

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Waktu pada dashboard mobil sudah menunjukkan pukul 8.33. Lewat satu jam dari biasanya.
Meskipun pengaturannya sudah disadari lebih cepat sekitar 20-30 menitan, tetap saja ini terlalu siang untuk bisa berangkat kantor bagi seorang PNS.
Rutinitas sebulan terakhir.

Saat tiba, Ruangan sudah mulai ramai dengan kehadiran rekan kerja. Baik sejawat maupun pelaksana dan konsultan. Padahal biasanya ruangan ini masih sepi tanpa ada seorangpun yang mendahului.

Siang dilalui dengan penat. Kantuk yang menyerang, seakan mengingatkan perjuangan semalam. Mengeloni dua bayi. Mutiara dan kakaknya, Intan. Ara tidur di kasur atas bersama Ibu, Intan di kasur bawah bersama Bapak. Sesekali Intan tersadar dari tidurnya untuk meminta kehadiran Ibu. Kelihatan sekali ia kangen pada Ibunya kini.

Pikiran mencoba konsen pada permintaan di pekatnya malam. Mana botol susu adiknya, mana milik kakaknya. Agar tidak sampai tertukar. Belum lagi menenangkan Intan agar tak lama tersadar dari tidurnya.
Capek namun menyenangkan.

Kesibukan kerja sedikit melupakan semuanya. Banyaknya permintaan seakan menenggelamkan rasa penat yang ada. Hingga sore tiba dan badanpun meluncur pulang.

Namun jika tak mampu dan dikalahkan, terpaksa juga mendahului atau memilih tertidur di jok depan mobil untuk beberapa menit.

Rasanya memang sudah gak layak lagi menyandang nama ‘Baik’ kini…

Gek Ara Pulang

Category : tentang Buah Hati, tentang iLMu tamBahan

“Mungkin memang adik Komang berniat buat nyari momen Bapak menyumbangkan darah untuknya…”
Celetuk seorang kawan begitu saya sampaikan padanya bahwa hari ini, putri ketiga saya Gek Mutiara diperbolehkan pulang oleh dokter Anak yang merawatnya.
Dengan syarat, kami bisa merawatnya dengan telaten di rumah…

Maka jam kantor pada hari Senin pagi inipun jadi terasa jauh lebih singkat dari yang seharusnya. Maklum, sekitar pukul 11an saya pamit pada semua kawan di ruangan Permukiman Dinas Cipta Karya untuk meluncur ke Rumah Sakit Sanglah guna memastikan kebenaran kabar itu sekaligus mengurus semuanya.

Sekantong Darah untuk Gek Ara

Sebenarnya saya sudah mempersiapkan diri untuk memberikan darah ini kepada si cantik Mutiara pada hari jumat lalu, namun informasinya PMI telah menyediakan darah untuk transfusi bagi putri kami yang dinyatakan mengalami penurunan HB dan Trombosit.
Dari jumlah standar yang ditentukan antara 10-13, Gek Ara menghasilkan angka 7,2. Ini menurun lagi dibanding hasil test darah yang sebelumnya. Begitupun Trombosit menurun dari 151 menjadi 137.

Namun bersyukur bahwa Gek-nya hanya membutuhkan satu kantong darah lagi untuk menjaga kemungkinan transfusi tambahan apabila stok darah O yang dimiliki PMI kosong saat diperlukan. Artinya ya cukup hanya darah Bapaknya saja yang diambil untuk putri kecil ini.
Padahal ada beberapa saudara juga kawan yang menyatakan kesiapannya untuk memberikan darah mereka jika dibutuhkan.
Jadi Terima Kasih untuk kalian yang sudah mengontak saya sebelumnya.

Pulang 3

Sehari setelah Nyepi, tepatnya saat maturan, saya dikontak untuk menyiapkan darah yang dimaksud. Maka setelah menyelesaikan semua urusan hari tersebut, sayapun menjalani pemberian darah untuk yang ke-45 kalinya, dimana kali ini sebagai donor pengganti. Bukan Sukarela sebagaimana biasanya.
Itupun ternyata, setelah dihitung masa pasca donor darah sebelumnya, hanya berselang 72 hari saja dari standar 75 hari yang ditetapkan. Namun karena ini untuk kepentingan anak sendiri dan kondisi fisik saya siap, maka dengan memohon kepada petugas ruangan, darahpun jadi diambil saat itu.

BPJS Menanggung Semuanya

Kaget.
Kaget tentu saja.
Saat melakukan konfirmasi pembayaran Rawat Inap di Kasir BPJS, Asuransi yang kami gunakan untuk merawat Gek Ara selama dua setengah minggu di RS Sanglah, rupanya ditanggung Full oleh BPJS. Padahal total biaya yang dikeluarkan selama proses tersebut cukup banyak, kisaran 21jutaan.
Seperlima biaya yang kami habiskan dalam waktu yang sama saat adik dirawat di Puri Bunda sejak kelahirannya tempo hari.

Pulang 01

Ealah… tahu begitu, mungkin sejak awal malah lebih baik menggunakan BPJS di RS Sanglah saja ya ? Bathin saya saat berjalan balik ke sal Cempaka dimana Gek Ara dirawat semingguan terakhir.
Tapi yah… ini semua ada hikmahnya juga kok. Diambil positifnya saja.

Lega

Sesampainya Gek Ara di rumah, saya segera mengabarkan beberapa Kawan dan Saudara yang intens menanyakan kabar putri ketiga kami ini, bahkan satu dua diantaranya sempat pula memberi Advis, mengingatkan saya pada hal-hal yang selama ini luput dari kemampuan saya dalam menyadari situasi dan kondisi semacam ini.
Maka sudah sewajarnyalah saya mengucapkan banyak Terima Kasih untuk mereka, dan juga kalian yang telah mampir di blog ini lalu berkomunikasi dan menyapa lewat akun Whatsapp maupun sms, berkeinginan untuk menengok tapi selalu saya larang mengingat ketiadaan tempat untuk menerima kehadiran kalian. Tapi apa yang tersampaikan, sudah cukup memberikan semangat dan harapan untuk tetap berusaha meskipun lelah dan nyaris putusnya asa di tengah perjuangan ini.

Menyitir kalimat #ngehek yang pernah saya baca, ‘jika kamu tak merasakan capek, maka kamu tidak sedang berjuang untuk mendapatkan hasil tersebut…’

Jadi bisa dikatakan, malam ini bolehkan jika kami sudah bisa menarik nafas lega. Meskipun bukan tidak mungkin, pola tidur si adik Gek Mutiara ini kelak akan mirip dengan kedua kakaknya yang pula menguras tenaga juga pikiran utamanya saat malam hari dimana belasan tubuh lainnya sedang beristirahat dengan nyamannya. Akan tetapi, dengan kehadirannya di rumah ini, saya jauh lebih yakin bahwa semua rasa capek itu takkan sebesar saat kami masih menjalaninya di rumah sakit manapun.

Pulang 08

Sekali lagi, Terima Kasih. Matur Suksema semuanya untuk Dukungan dan Do’a selama satu bulan ini. Semoga kelak, Gek Mutiara putri ketiga kami bisa membalas semua amal baik kalian dengan cara yang ia yakini nanti.

Sekian dulu laporan dari kamar tidur yang bisa disampaikan sembari menunggu waktu pemberian obat dan mimiknya Gek Ara. Denpasar, Nangka 31, 10.01 PM.

Selamat Pagi Mutiara AnnikaDewi Cantikku

Category : tentang Buah Hati

Cepat Sembuh Nak…

Bapak Kangen peyuk peyuk nak Cantik…

Ara 02

Jangan lama-lama nginep di sal Cempaka, kasihani Ibumu sayang…

Sepi… meNyepi…

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Nyaris tak ada hal khusus yang bisa dilakukan pada hari Sabtu, 21 Maret 2015 yang dirayakan oleh seluruh umat Hindu di Bali sebagai Tahun Baru Caka 1937. Jauh berbeda dengan kesibukan yang berkesinambungan sebelumnya.

Tadinya sih berencana meminta surat ijin jalan di Nyepi kali ini untuk meluncur ke Rumah Sakit Sanglah, tempat dimana putri kami Gek Mutiara dirawat dan ditunggui Ibunya, tapi batal mengingat tiadanya fasilitas tidur dan beristirahat disana bagi penunggu selain Ibunya. Maka sehari sebelumnya, kami membawa semua pesanan dan bekal bagi sang Ibu, demi melewati kesepian hari ini.

Dua disana, Dua lagi disini.
Maka untuk menghandel dua cantik nakal yang kami miliki ini, sedari kamis sore hingga jumat siang kemarin, keduanya diajak keliling kota Denpasar untuk menghibur hati yang sunyi tanpa kehadiran sang Ibu serta membebaskannya dari jam malam untuk menonton pawai ogoh-ogoh yang lewat di depan rumah. Yang sayangnya, sebagian besar yang kami tonton, sudah jarang menggunakan iringan gambelan Baleganjur saat mengarak sang Bhuta Kala, berganti dengan House Musik atau Dangdut Koplo. Membuat barisan ogoh-ogoh jadi kehilangan makna dan wibawanya.
Mengecewakan…
Belum lagi rute beberapa banjar tampaknya berbalik langkah mengingat di Desa Tonja tampaknya ada perhelatan lomba ogoh-ogoh sehingga barisan usai jauh lebih awal dari tahun sebelumnya.

Selain minim gambelan, rata-rata perawakan sang Bhuta masih dibuat dari bahan yang katanya tidak ramah lingkungan, jadi masih bisa dibuat indah dan detail. Berbeda dengan sosok yang dibuat dari anyaman bambu dan tempelan kertas koran. Lekuk tubuhnya sedikit lebih kasar dan sukar dibentuk mendetail, dan juga secara aksi jadi jauh dari fenomenal mengingat berat ogoh-ogoh sulit diprediksi. Tapi sudahlah, yang penting Sekaa Teruna di banjar kami sudah mencoba melakukannya sesuai Edaran meski tak ikut dalam lomba, yang hasilnya tak kalah keren dari yang lainnya. Akan tetapi, tumben juga kalo tahun ini saya gak lagi menurunkan liputan foto ogoh-ogoh di seputaran Kota Denpasar. Selain kesibukan kerja, terkendala pada rutinitas ke RS Sanglah dan galaunya suasana hati. Maaf ya…

Pagi tadi usai mandi, maturan, sembahyang dan melayani si kecil Intan, saya hanya mencoba membersihkan kamar tidur dari debu diatas almari pakaian dan juga barang barang yang ada disekeliling. Hasilnya, jadi lumayan bersih dan rapi ketimbang semalam. Selain itu, menitip beberapa baju dan celana kotor pada mesin cuci untuk melapangkan bau ruangan, juga dilakukan sambil membuang waktu percuma dengan menengok beberapa games mobile di ponsel dan tablet Android. Siang ini malah bingung juga mau ngapain lagi.

Ini kali pertama saya melewatkan Nyepi tanpa kehadiran istri di rumah. Jadi kesepian juga ceritanya.
Komunikasi hanya bisa dilakukan sesekali karena ia harus merawat adik Mutiara mengingat kehadiran perawat amat sangat terbatas di sal Cempaka dua hari ini. Meski begitu, semuanya dipaksakan tertumpah dalam messenger. Jadi ya… gak ikutan Amati Internet nih ceritanya.

Dan bentar lagi, adik bakalan mendekati usia 42 hari. Semoga saja ia bisa pulang sebelum itu. Sudah hampir tiga minggu saya tak bisa lagi mengelus dan menciumnya.
Kangen…

Doa dalam Hening

Category : Cinta, tentang Buah Hati

…terpisah dalam jarak

…dua disana

…dan dua disini

…harapan tetap menyala

…untuk menyatukan semua

…dalam keluarga

…ada doa dalam keheningan ini cantik

…hanya untuk kalian semua

…aku disini menanti

…sepi sendiri

InTan PradnyaniDewi, si Cantik yang makin Centil

Category : tentang Buah Hati

Si kecil yang dahulu menjadi Bungsu dalam keluarga kami, kini tumbuh menjadi si Tengah yang Cantik, Nakal dan Centil.
Mau tahu bagaimana aksinya kali ini ?
Berikut beberapa rekaman lensa yang dibesut pengempunya melalui tabletpc ‘BaBa’ kesayangannya * Samsung Galaxy Tab 7+

Intan 03

Intan 09

Intan 04

Intan 01

Intan 02

Selamat Ulang Tahun ke-7 Cantikku MiRah

Category : tentang Buah Hati

Gak ada perayaan khusus dengan mengundang sanak saudara ataupun teman bermain dan sekolahnya…
Gak ada agenda khusus pula yang dipersiapkan untuk melewatkan malam yang berbahagia namun tanpa kehadiran sang Ibu hari ini…
Hanya satu kue ulang tahun dan seloyang pizza ayam menghiasi meja ruang tengah, sepulang dari Rumah Sakit Sanglah yang bisa diberikan untuk Cantik Sulungku, MiRah GayatriDewi, sesuai permintaan dan janji…

Selamat Ulang Tahun yang ke-7 MiRah sayangku, semoga apa yang menjadi harapan kami untukmu bisa terwujud dengan baik Nak…
Dan Maafkan kami, hanya hal sederhana ini saja yang dapat kami lakukan untukmu, berharap adik kecilmu segera bisa bergabung dalam aktifitas kita Nak…

MiRah 01

MiRah 02

MiRah 03

MiRah 04

MiRah 05

18 Maret 2015, dari Bapak Ibu yang menyayangimu

Amor ring Acintya bli Komang Pande Gus Jun

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Mih… kaget mendapat berita bli Komang Gus Jun meninggal di Jakarta tadi pagi karena serangan jantung…
ini salah satu alumni Teknik Udayana sekaligus saudara mindoan semeton Pande yang mengenalkan saya pada musik Thrashmetal era Morbid Angel, Suffocation dan tentu saja Sepultura…

Amor ring Acintya bli Mang…

(FaceBook profile Mar.18 at 11.38 pm)

bli Komang Pande Gus Jun 2

Entah kenapa, saya memimpikan bli Komang barusan.

Tersadar pada pukul 1.38 am 19 Maret, sayapun mulai mengingat kembali apa yang ada dalam benak tadi.

Alkisah saya mengikuti lomba yang diikuti hanya oleh tiga peserta. Lomba tersebut adalah berjalan, berlari dan terakhir mencoba segala upaya yang ada untuk tiba dan sampai di garis akhir yang telah dijaga oleh orang tua penglingsir sebagai satu pendidik kami, semacam rektor atau sejenisnya. Entah…

Untuk mengenali Lokasi lomba, saya diantar Istri yang mengingatkan untuk berkabar melalui ponsel Nokia 6275i lawas yang saya miliki. *oke, mohon jangan tanyakan kenapa harus ponsel Nokia, karena saat tersadar dan mengingat, saya pun bingung kenapa harus menggunakan ponsel tersebut dengan format simcard microchip macam iPhone pula. Namanya juga mimpi, jadi memang dapat dipastikan ya gak bakalan nyambung dengan Logika.

Lomba pun dimulai.

Saya harus melewati orang per orang yang lalu lalang dengan setting jalan setapak mirip di jalur Besakih yang mengambil jalan ke kanan di pertigaan pos polisi itu. Namun orang per orang ini adalah sekumpulan orang yang siap menjatuhkan mental saya dengan kalimat dan kata-kata yang mengejek dan menghina. Tapi karena sudah tahu dan paham saat diberitahu ‘clue’nya oleh istri saya barusan, semua itu saya lalui dengan cuek. Jalan terus…

Rintangan mulai hadir saat saya diharuskan melewati jalan dengan merangkak, sementara tangan harus menghapus dan melafalkan mantra yang *maaf saya sama sekali tidak ingat, namun di ujung jalan, saya diminta meneriakkan satu kalimat semacam yel yang tentu saja masih berupa mantra, yang akan secara otomatis terlintas di pikiran saat saya berkonsentrasi penuh dengan maksud tertentu. Ajaib… saya berhasil mengucapkan mantra tersebut dengan keras dan dipersilahkan melanjutkan perjalanan dengan… dengan apa ya ? Kok bisa lupa…

Perjalanan terakhir, saya lupa mengapa diminta untuk mengayuh sepeda dengan track lurus ke arah utara, hingga mentok di pertigaan, belok kiri dengan turunan tajam dan kondisi jalan yang rusak setengahnya. Yang unik, sembari mengayuh, saya melihat bli Komang Pande Gus Jun, menyalip saya dengan santai, diatas sepeda tuanya.
Disaat melewati jalan rusak, sayapun terjatuh dan dengan berteriak, saya diminta istri untuk boncengan di sepeda bli Komang dengan harapan bisa mengantarkan saya pulang menyelesaikan lomba hingga garis akhir.

Entah bagaimana ceritanya, kok malah saya yang mengambil alih sepeda, ngebut sesuai ‘ilmu pengetahuan’ yang didapat bahwa dengan memacu sepeda dalam arus air di selokan/lubang jalan raya, akan mempercepat laju bak rollercoaster diatas sadel sepeda. Dan entah bagaimana logikanya, sayapun di jelang garis finish yang dihadapkan pada satu area penuh air layaknya danau, disalip oleh dua peserta lainnya dengan menggunakan sepeda motor berkecepatan tinggi.

Saya dinyatakan kalah atau menempati tempat ketiga oleh sang orang tua tadi yang melewati genangan air diatas Truck Wheel Loader yang mirip dengan milik Dinas Bina Marga Badung saat pematangan lahan tahun 2005 silam.

Setiba dirumah, sayapun bercerita pada kedua orang tua perihal perjalanan lomba tadi yang dialami dalam mimpi itu. *Mimpi dalam mimpi, mimpi bertingkat mungkin namanya…
Sembari mengingatkan bahwa tanpa bantuan bli Komang Pande Gus Jun, tentu saya tidak akan bisa sampai di garis akhir, juga dirumah tepat waktu. Maka itu saya mengajak Bapak untuk menengoknya di rumah duka sore ini.

dan semua mimpi itu baru disadari saat terbangun pukul 1.38 tadi…

Ah, mimpi memang gak perlu dinalar pakai logika, masuk akal atau tidak. Apalagi yang diingat juga gak runut jelas dari awal, mengingatkan saya akan pendapat seorang kawan lama, bahwa Mimpi itu gak akan Logis dan Ingat tercerna alur ceritanya. Jadi ya buat apa dipertanyakan lagi.

Yang terpenting bahwa sosok bli Komang ikut hadir didalamnya, yang bisa jadi merupakan bunga tidur dalam ingatan yang tadinya sempat terlintas saat membaca Mantram Gayatri dengan genitri sesaat sebelum tidur. Artinya, pagi nanti saya harus menghaturkan sodha di pelinggih Bethara Hyang Guru atau dimana ya tepatnya ? Mengingat yang bersangkutan belum diupacarai hingga hari ini.
Mohon bantuan para suhu, para guru yang sudah berkenan membaca tulisan yang dilahirkan dini hari pukul 2.09 ini, lantaran gak bisa memaksa mata untuk terpejam lagi.
Baik arti mimpi jika sekiranya itu bermakna, atau soal keterkaitan dengan bli Komang Pande Gus Jun tadi.

Ditunggu yah…