Menu
Categories
Catatan dari Singapura
December 6, 2014 tentang PLeSiran

Tidak ada kendala yang berarti sebenarnya ketika Petugas Imigrasi yang dihadapi kali ini meminta saya untuk membuka kacamata hitam, lalu memicingkan mata dan meyakinkan bahwa wajah yang ia lihat memang sesuai dengan foto yang ada dalam paspor. Sempat terbersit untuk bertingkah ala mister Bean yang beraksi dengan wajah lucunya, tapi mengingat reaksi yang kemungkinan bisa didapat, sayapun mengurungkannya. Apa daya yang bermasalah bukanlah saya. He…

Pak Nyoman Murdana, salah satu peserta rombongan ditarik ke ruang Interogasi oleh petugas setelah mereka kaget saat melakukan pemeriksaan di gate pertama pasca pendaratan pesawat. Usut punya usut ternyata PakMan salah menjawab formulir Embarkasi yang diisi didalam pesawat tadi dengan pilihan ‘yes’ untuk pertanyaan ‘apakah Anda pernah dilarang masuk ke Singapura ?’ -tentu dalam bahasa Inggris- hehehe… pantesan saja jika ia digiring dan ditanyai. Syukurnya ada petugas yang bisa berbahasa Melayu, karena PakMan gag fasih berbahasa Inggris.

PanDe Baik Singapura 04

Selain kabarnya dilarang menjual permen karet di outlet outlet yang ada diseputaran Singapura, ternyata pada area wilayah tertentu terdapat juga Edaran atau Himbauan kepada para pedagang untuk tidak menjual Beer dan Minuman beralkohol lainnya kepada Konsumen, diatas jam 8 malam pada hari Sabtu dan Minggu. Rencana mentraktir staf pun batal karena usaha untuk mencari Beer di luar area wilayah tersebut pun kandas setelah diinformasikan bahwa dalam Edaran tersebut, dilarang membawa minuman beralkohol dari luar wilayah masuk ke area pada waktu yang sama. Kalau melanggar, cctv siap merekam dan mengeluarkan ‘surat cinta’nya. Ealah…

Kebiasaan Sopir Taksi tembakan yang kami pesan melalui pihak Hotel sebetulnya sudah terbaca saat ia mengatakan bahwa ‘karena kami Turis, maka kami harus membayar dobel dari tarif argo yang dikenakan. Pas mau berargumen lebih jauh dengan mengandalkan bahasa Inggris yang pas-pasan, sang sopirpun menekan satu tombol di Argo Taksi yang menunjukkan nilai dua kali lipat menjadi $ 22 untuk jasa yang ia berikan mengantarkan kami dari hotel menuju Orchard Road. Sialnya, saya lupa minta struk atau notanya. Sehingga uang sebesar $ 11 melayang seiring kepergian Mr.Lee, sopir taksi lokal yang mengaku produk original Singapura.

Menyusuri jalanan di sepanjang Orchard Road menjadi catatan terakhir yang bisa disharing, lumayan memberikan bulir keringat hingga satu setengah jam kemudian baru sampai di hotel yang kami tinggali selama berada di Singapura. Gara-garanya ya aksi tertipu tadi, dan juga keingetan cerita Tour Guide yang menyampaikan bahwa hanya butuh waktu 15 menit perjalanan untuk bisa menggapai hotel. Mungkin waktu dimaksud adalah waktu tempuh dengan kendaraan kali ya ? He…

Leave a Reply
*