Menu
Categories
Nyobain Makan Pizza di Domino’s Gatsu
October 18, 2014 tentang Opini

Minggu siang tanpa rencana matang, kami mendatangi Domino’s Pizza Gatsu tengah, yang dari seberang jalan tampak sepi pengunjung. Kami pikir sih itu wajar, karena teriknya matahari memang membuat malas sebagian besar orang untuk mendatangi tempat tempat makan macam begini, apalagi warung Steak yang tadinya berencana kami kunjungi pun juga Tutup. Yah, iseng dicobain deh.

Tapi memang sih, lantaran hari ini juga merupakan Idul Adha, hari pemotongan qurban bagi semeton Muslim, selain beberapa tempat makan gag ada yang buka, jalanan juga tampak lengang dan sepi dari lalu lalang kendaraan. Rencana mampir inipun sebenarnya cuma untuk wasting time bersama anak-anak, mumpung kakak sepupunya menginap dirumah semalam.

Sayangnya, keputusan untuk mengubah haluan ke Domino’s Pizza gag seindah harapannya. Bayangan kami sudah setingkat lebih rendah dari level Pizza Hut yang kebetulan berada beberapa puluh meter di sebelah barat lokasi. Tapi kenyataannya, jauh dibawah. 🙁

Dominos Pizza PanDeBaik

Oke, memang sih kalo mau disandingkan mungkin gag pantas, lantaran beda kelas. tapi kalo dibandingkan dari soal harga yang ditawarkan ya wajar saja Pizza Hut lebih mahal. Karena selain rasa, mereka ternyata menawarkan banyak pertimbangan yang gag dimiliki oleh Domino’s Pizza. Mau tau apa saja ?

Tempat Makan. Selain nyaman, Pizza Hut biasanya menyediakan pula satu pramusaji di setiap beberapa meja untuk menghandle pelanggan jika ingin memesan menu tambahan. Domino’s Pizza lebih mirip gerai KFC atau Mc.Donalds yang pelanggannya melakukan pemesanan dengan cara antre berdiri, makan dan melayani diri di meja  kecil, serta berimprovisasi atas kondisi yang apa adanya.

Menyambung kondisi yang apa adanya diatas, saat kami memesan Pizza ukuran Medium, satu kentang goreng dan nuggets serta empat botol minuman, gag ada satupun alat makan yang bisa kami pegang, alias ya pake tangan. Yang sayangnya untuk tempat makan lantai satu, tampaknya gag menyediakan washtafel maupun toilet untuk tempat mencuci tangan, sehingga kami disarankan untuk naik ke lantai dua, yang sayangnya, menyajikan kondisi keran yang mati. Duh… jadi mangkel. Maka kamipun meminta sendok garpu untuk anak-anak yang diberikan dengan wajah yang berbeda. Sendoknya mirip sendok putih es krimnya Mc.D dan sedikit lebih kecil, sedang garpu transparan mirip garpu spagetthynya KFC. Untuk minum, hanya botol minuman yang kami terima tanpa gelas dan sedotan. Setelah dimintakan, datang gelas plastik khas soft drink, dan sedotan… jangan harap deh. Gag tersedia, katanya.

Karena gag ada pilihan lain, ya sudahlah… dinikmati saja.

Masuk ke Menu yang ditawarkan, kami gag menemukan opsi penambahan pinggiran layaknya menu yang ditawarkan oleh Pizza Hut. Jadi ya menikmati pizza layaknya biasa, yang ternyata gag seindah aslinya. He… untuk yang satu ini, bagi yang biasa mencoba menu di tempat makan baru, saya yakin pernah mengalami hal yang sama. Pun demikian dengan kentang yang kami pesan dan nuggets nya. Bahkan ponakan yang saya ajak kali ini pun mengamini bahwa pesanan yang ia bayangkan dari tampilan menunya ternyata gag sesuai dengan yang tersaji. Sedikit kecewa tentu saja.

Dengan harga total sekitar 153ribuan untuk satu loyang pizza beef pepperoni medium, satu potato wedge, dan satu chick and cheese, serta dua pulpy dan dua air mineral tanggung (sudah termasuk pajak), rasanya sih memang gag jauh-jauh banget dengan harga yang ditawarkan Pizza Hut, item yang sama. Jadi sebenarnya kalopun mau dikaitkan dengan pelayanan dan kepuasan makannya, rasanya sih Pizza Hut jauh lebih worthed untuk dipilih.

Saya pribadi mulai paham, mengapa Domino’s Pizza minim pengunjung yang menikmati menu langsung di tempat ketimbang melakukan pemesanan dan pergi. Bisa jadi karena kondisi yang gag memungkinkan untuk itu, bisa juga lantaran gag nyaman selama makan di lokasi. Selain minimnya fasilitas pendukung, AC di lantai dua pun tampaknya gag berfungsi. Sehingga ruangan terasa jauh lebih panas ketimbang lantai satu.

Tapi apakah menurut kalian memang benar begitu ? Atau punya pendapat lain ? Mungkin kalau punya pengalaman lain yang berseberangan, silahkan di share deh.

Leave a Reply
*