Menu
Categories
Menunggui Mirah Pulang Sekolah
July 27, 2014 tentang Buah Hati

Suasananya ramai. Anak-anak lalu lalang berlarian kesana kemari tanpa arah yang jelas. Dari yang berbaju batik sampai endek biru campur aduk jadi satu. Tapi wajah Mirah, putri pertama kami tak tampak disitu.

Waktu yang berjalan sebetulnya belum menunjukkan jam pulang, jadi sepertinya masih sempat menyeruput segelas kopi di kantin belakang sekolah. Wajah Mirah tak jua kujumpai dibeberapa meja makan yang ada didepan kantin.

Empat gadis cilik yang kutanyai rupanya teman sekelas Mirah. Dan dari merekalah aku mengetahui jika ia masih berada di lantai atas, di dalam kelas. Ya sudah, kuhabiskan saja kopiku dulu.

Mata pun menerawang jauh ke arah barat. Lorong yang dahulu menghubungkan area SD 1-2 Saraswati dengan SLUB kini sudah jauh lebih terang benderang warnanya. Gerbang barat pun kini tampak lebih dekat dari perkiraan. Gedung yang ada di kiri kanannya pun sudah berganti rupa. Yang dahulunya merupakan bangunan bertingkat kini hanya berlantai satu dan sebaliknya. Lumayan bikin pangling bagi mereka yang merupakan alumnus sini.

Halaman bermain disebelah pelinggih yang dahulu sering kami tongkrongi, kini sudah dipagari. Semua berpindah ke halaman utama yang kini telah diperkeras tanpa pohon. Beralih fungsi menjadi lapangan upacara bendera, area olahraga dan aktifitas kurikuler. Jadi lebih lapang tentu saja.

Toilet bau dan kotor yang dahulu menjadi cerita seram dan berhantu bagi siapapun di masa lampau, kini sudah berubah menjadi sebuah perpustakaan milik yayasan. Rasanya sih sudah gag ada lagi sisi seramnya, apalagi disebelahnya terdapat kantin milik tetangga, SD 2 Saraswati plus usaha fotocopy.

Ruang kesenian yang dahulu ada di belakang kelaspun kini telah berpindah ke sisi paling timur, tepatnya di sebelah area pelinggih. Suara gambelan pun bertalu berpadu dengan riuh teriakan anak-anak yang mulai tampak berbaris rapi di lantai bawah.

Mirah menjadi Sekretaris Kelas, kata Ibu Murni, wali kelasnya. Mih, bisa apa ya si Mirah nanti mengingat jenjang yang baru menginjak kelas 1 SD ? Karakter yang kalem, tambah si Ibu Guru. Wah… apa gag salah tuh ? Hehehe…

Aku melangkah ke lantai bawah, menuju tempat lowong di pinggiran lantai lalu mulai menulis. Waktu menunggu begini memang paling enak untuk menuangkan ide.
Yah… sebagaimana yang kalian baca sedari tadi.

Leave a Reply
*