Klingon aka New Scorpio Z

2

Category : tentang KeseHaRian

Agak heran ketika membaca komentar dari om Viar, pemilik brand kendaraan dengan nama sama *eh di salah satu foto yang saya upload ke halaman Instagram beberapa waktu lalu. Klingon… begitu saja. Apa maksudnya ya ?

Ternyata setelah minta bantuan mbah Google, baru deh nemu apa arti Klingon.

Klingon itu dalam istilah sebenarnya adalah sebutan atau nama salah satu tokoh antagonis di film seri Star Trek yang dapat dikenali lewat bentuk batok kepala yang sedikit lebih besar dari manusia biasa. Nah trus kaitannya dengan komentar tadi apa yah ?

Klingon PanDe Baik

Rupanya Klingon merupakan sebutan bagi kendaraan bermotor besutan Yamaha New Scorpio Z yang memiliki batok kepala lampu mirip mirip dengan tokoh Klingon dalam film Star Trek tadi. Ah… baru bisa dipahami.

Klingon atau sebutan bagi batok kepala lampu New Scorpio Z ini sebenarnya bagi saya tidak terlalu mengganggu, meskipun baik di forum ataupun review dari pengguna kendaraan berkapasitas 225 cc ini merupakan salah satu faktor yang menurunkan penilaian orang sebelum memutuskan untuk membelinya.

Sebaliknya yang saya anggap gangguan adalah pola kelistrikan pada lampu tersebut yang serupa motor bebek dimana baru akan berfungsi saat mesin dinyalakan. Lampu akan terlihat makin terang saat kendaraan digeber kencang. Ini berbeda dengan pola yang diadopsi oleh saudaranya sendiri yaitu Yamaha Byson atau pendahulunya Honda Tiger. Agak mengecewakan memang.

Tapi ya sudahlah. Saya pribadi sebenarnya sudah berencana untuk mengganti batok kepala Klingon dengan tampilan khas Triumph yang berbola mata ganda itu. Sayangnya sih belom kesampean hingga hari ini. Semoga kelak bisa terwujud.

Klingon ? Hehehe…

Off Campus

Category : tentang PeKerJaan

Matahari !!! Huuu Haaaaaa !!!
Selamat Pagi !!! Pagi Pagi Pag… *eh  Mimpi apa nih ?

Mih… Maaf Maaf… yang tadi itu ceritanya Yel Yel kami, kelompok Matahari (tapi bukan Bunga Matahari Shincan loh yah…) yang begitu dibanggakan saat dipamerkan didepan dua puluh peserta Diklat PIM IV Angkatan V Kabupaten Badung… Meski gag dapet Juara Umum dan menyabet emas, tapi pengalaman kali ini memang amat berkesan… apalagi pernah punya pengalaman jatuh dan amnesia saat outbound masa prajabatan terdahulu. Jadi bisa dikatakan yang sesi hari terakhir itu merupakan sesi bertahan hidup normal… ups…

Jika tulisan dua makan siang kemarin ada kaitannya dengan tulisan sebelumnya yang golput itu, maka tulisan kali ini ada kaitannya juga dengan tulisan sebelumnya yang… eh yang mana yah ?

Jadi ceritanya nih usai melakoni 13 hari kerja On Campus di pendidikan pola baru ini, semua peserta angkatan V Kabupaten Badung (sebetulnya angkatan pertama di kabupaten Badung untuk pola baru) kembali ke kantor masing masing (off campus) untuk berdiskusi dengan para Mentor (atasan langsung) serta mendapatkan persetujuan atas tugas Proyek Perubahan yang akan dikerjakan selama masa Diklat selanjutnya nanti.

Demi mendapatkan apa yang ditugaskan selama masa Off Campus ini, sebenarnya sih peserta disarankan untuk tidak mengambil kerjaan kantor, tapi faktanya ya gag bisa begitu. Sama halnya dengan apa yang saya protes saat pembelajaran pertama dahulu, bahwa sebenarnya para peserta tidak bisa meninggalkan pekerjaan utamanya meski usai jam pembelajaran sekalipun.

Dan entah mengapa ketika kegiatan Off Campus ini dilakoni… satu persatu permasalahan datang setiap harinya (dalam total 5 hari kerja), sehingga mau tidak mau ya harus diselesaikan demi masa depan cerah saat ditinggalkan kembali hari senin nanti. Edan bener…

Terhitung yang paling parah adalah berkaitan dengan waktu pulang yang gag pernah tepat waktu (diatas jam 5 sore). Ini lantaran waktu kerja yang ada rasanya gag pernah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada. Sampai sampai di hari pertama balik kantor malah memicu pertikaian antar pulau yang mengakibatkan ‘pisah ranjang’ selama empat hari berikutnya… ya… sudahlah… mau bilang apa lagi…

Yang lebih bikin kaget lagi ya terkait usaha menindaklanjuti PermenPU nomor 14/MRT/M Tahun 2011 yang isinya tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan di Kementrian Pekerjaan Umum yang mengakibatkan pada pencalonan saya menjadi Kepala Satuan Kerja untuk kegiatan PPIP atau Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan sekaligus merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmennya yang diperbolehkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan APBN. Ini terkait penugasan sebagai pejabat inti satker yang tidak boleh dirangkap. Lebih Edan kan ?

Bukan apa apa sih, tapi masa dengan jabatan baru setahun di Kepala Seksi begini sudah harus masuk lagi menjadi Kepala Satuan Kerja… padahal yang namanya Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK saja rasanya belum semua bisa dilakoni dengan baik, berhubung jumlah paket yang ditangani itu ada sekitar 63 paket dan akan bertambah 6-8 paket lagi di anggaran Perubahan akhir tahun 2014 nanti. Makin Edan kan ?

Maka jadilah masa Off Campus ini yang seharusnya bisa lebih santai dijalani, jadinya jauh lebih berat untuk dilakoni. Apalagi membayangkan kelak mulai Senin nanti bakalan lebih banyak pekerjaan lagi yang harus ditangani… Bweeehhh… harus siap siap stamina dan konsentrasi pikiran nih biar gag jatuh sakit.

Eh… waktu sudah menunjukkan pukul 6.20… saatnya memandikan dua putri kecil kami sebelum bersalin rupa. Ya sudah… nanti saya lanjut lagi deh.

Dua Pilihan dan makan siang

3

Category : tentang Opini

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wita. Siang yang terik sebetulnya jika kami masih berada di area Denpasar.

Sesuai arahan dari panitia, sejak pagi tadi kami tidak diijinkan membawa dompet dan ponsel selama mengikuti Outbound. Praktis saat hari sudah sesiang ini, satu satunya pilihan yang kami nanti tentu saja makan siang yang telah disiapkan oleh Panitia. Apalagi outbound yang ditujukan untuk menguji fisik, mental dan pola berpikir sejak awal tadi lumayan menguras tenaga, mengurai tawa canda bahkan sedikit duka lantaran kekalahan di beberapa permainan.

Tapi santai, yang saya ingin bahas disini bukanlah bagaimana jalannya outbound atau kelanjutannya. Hanya berandai-andai saja. Tingkat keakuratan sebelum paragraf ini tentu bisa dipercaya, namun setelah ini ya jadikan saja sebagai bahan perenungan.

Ketika berada dalam kondisi diatas, Panitia memberi kami dua pilihan makan siang. Masing-masing paket makan tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing baik dari segi kualitas makanan, kadar gizi dan semacamnya. Dengan adanya dua pilihan tersebut jika kami menikmati salah satunya, maka dijamin kami memiliki tenaga untuk bisa menyelesaikan permainan berikutnya. Yang barangkali dari jumlah tersisa sekitar lima, tiga atau empat jenis masih bisa dilakoni dengan baik. Bergantung dari pengolahan makanan oleh tubuh dan cara kita mengatur tenaga yang dihasilkan nantinya.

Sayangnya diantara dua pilihan yang ada, beberapa kawan sempat berpikir untuk tidak menikmati keduanya. Hal ini terlintas lantaran dari kedua jenis makanan yang ada tidak sesuai dengan selera atau harapan yang diinginkan. Jika kalian berada dalam kondisi kami, kira-kira apa yang akan kalian lakukan ? Menikmati salah satu meskipun jenis makanannya tidak sesuai harapan, namun jika itu dinikmati kita diberikan tenaga untuk melanjutkan permainan, atau memilih untuk tidak makan siang ?

Ingat, situasi disini hanya ada Dua Pilihan. Tidak ada uang di kantong, pun tidak ada ponsel. Sedangkan saat waktu makan siang habis, ada lima jenis permainan lagi yang harus diselesaikan.

Jika kalian memilih untuk tidak menikmati makan siang yang ada, apakah kalian siap untuk tidak menyelesaikan kewajiban yang tersisa, capek dan pingsan karena tidak ada asupan tenaga yang bisa dicerna, dan membiarkannya sementara kawan yang lain, berpikir sebaliknya dan sudah siap untuk mengikuti kegiatan selanjutnya ?

Bagi yang cermat dengan kondisi bangsa kita saat ini, saya yakin kalian paham dengan gambaran diatas. Bisa saja kita bercanda saat menjawabnya. Tapi jika saya boleh ingatkan bahwa terkadang pilihan yang ada musti ditanggapi dengan keseriusan karena ini menyangkut bangsa. Saya tentu tidak akan memaksa atau mengarahkan pilihan kalian pada salah satu dari keduanya. Karena itu semua merupakan area private.

Balik ke cerita makan siang diatas yang tentu saja fiksi atau andai-andai dari saya pribadi.

Akan berbeda kondisinya apabila disaat yang sama, kita memiliki kesempatan untuk membeli makan siang sendiri, dengan jenis makanan yang sesuai harapan dan keinginan. Tapi pernahkan kita berpikir bahwa seandainya paket yang telah kita pesan tersebut, kemudian digandakan dan disodorkan kepada beberapa kawan yang ada ?

Apakah mereka akan merasakan kepuasan yang sama dengan yang kalian rasakan ? Atau malah menolak dan memilih untuk tidak menikmatinya dengan alasan yang sama dengan kalian tadi ?

Itulah bedanya.

Pilihan yang ada, saya yakin tidak akan pernah bisa memuaskan satu dua pihak. Karena pilihan tersebut lahir berdasarkan pemikiran sejumlah kepala yang notabene memiliki argumentasi berbeda-beda.

Jadi apakah kalian akan menunggu ada orang yang akan membawakan makan siang yang sesuai harapan ataukah menikmati salah satu pilihan yang ada dengan harapan bisa melanjutkan proses kegiatan selanjutnya meski tidak tuntas ?

Semua kewenangan telah diberikan. Tinggal kalian yang memutuskan.

Errr… cerita outbound dan makan siangnya sekali lagi bukan berdasarkan kejadian fakta yang ada hari sabtu lalu. Jadi yah…

Masih Mau Golput lagi ?

1

Category : tentang Opini

Dalam hidup saya yakin, kita seringkali dihadapkan pada dua pilihan yang berseberangan arah untuk diputuskan segera. Dimana masing-masing pilihan akan mengantarkan kita pada arah, tujuan dan konsekuensinya masing-masing. Ada jalan yang terjal namun memiliki tawaran yang menggiurkan di awal, begitupun sebaliknya. Ada jalur yang salah, ada pula yang benar namun penuh rintangan. Andai pun kita kurang berkenan dengan pilihan tersebut, biasanya kita tak akan mengambil langkah apapun dan diam di tempat tanpa satupun kemajuan yang didapat. Apapun resikonya, untuk maju kita memang harus berani menghadapi dan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.

Demikian pula dengan bangsa ini.

Pertengahan tahun 2014 nanti, kita semua rakyat Indonesia akan dihadapkan pula pada dua pilihan, calon pemimpin bangsa, yang jujur saja sangat sulit untuk ditentukan kelebihan dan kekurangannya secara akurat mengingat antara berita maupun fakta yang disampaikan oleh media, masih simpang siur kebenarannya. Sehingga mau tidak mau masyarakat musti lebih pintar dan arif untuk memilah informasi yang diterima sebagai modal pemilihan nantinya.

Layaknya pilihan dalam hidup tadi, kita rakyat Indonesia benar-benar dihadapkan pada dua pilihan saja oleh-Nya. Padahal sebetulnya jika saja ada satu partai politik lagi yang mampu melakukan koalisi terpisah, bakalan ada satu pilihan lain meskipun agak sulit untuk tampil sebagai pemenang. Meski demikian, bersyukur juga sih bahwa kita sebagai rakyat Indonesia gag jadi dihadapkan pada pilihan calon pemimpin yang salah. Contoh yang beginian, saya yakin kalian pasti tahu siapa yang dimaksudkan.

Dua pilihan itu adalah pasangan Jokowi – Jusuf Kalla dan Prabowo – Hatta Radjasa.

Masing-masing calon pemimpin alias Presiden tentu punya kelebihan dan kekurangan. Demikian halnya dengan para wakil mereka yang ditetapkan menjelang akhir pendaftaran calon. Dimana kini baik kekurangan maupun kelebihan itu dieksplorasi makin dalam yang lama kelamaan malah cenderung memuakkan lantaran saling menjatuhkan satu dengan lainnya.

Makin lebarnya jurang perpecahan antara dua partai pengusung yang dahulu sempat bergandengan mesra di Pilkada DKI atau bahkan kesalahan mengambil keputusan saat menggandeng calon wakil dan kawan koalisi kemudian menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia lainnya merasa enggan untuk menjatuhkan pilihan diantara dua yang ada kini. Padahal inilah tantangan terbesarnya, serupa dengan ilustrasi diatas.

Saya yakin Tuhan ataupun bahkan siapapun yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, takkan mampu memberikan pilihan yang sesuai dengan harapan dan keinginan kita baik dalam kapasitas sebagai rakyat Indonesia maupun sebagai manusia dalam dunia-Nya. Karena inilah yang namanya tantangan dalam hidup. Malah bisa jadi, jikapun pilihan yang ada sudah sesuai dengan harapan dan keinginan kita, di lain pihak malah tidak memuaskan mengingat bukan itu harapannya. Jadi wajar saja jika ada kemudian yang merasa tidak puas dengan kenyataan yang ada.

Lalu apa pilihan kita saat dihadapkan pada situasi serupa ? Lari dari kenyataan ? Diam dan tidak mengambil langkah ? Atau mencoba peruntungan serta berdoa untuk mencari pilihan lain yang saya yakin gag akan terakomodir selama kita masih menginjakkan kaki di bumi yang sama. Atau dengan kata lain… Masih Mau Golput lagi ?

Saya jadi ingat dengan cerita yang pernah saya baca di sebuah media cetak, tentang seorang Bapak yang begitu taat berdoa pada Tuhan, berharap Beliau akan mengirimkan bantuan untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya banjir yang kian mengancam. Yang dalam akhir cerita disebutkan bahwa saat sang Bapak mempertanyakan kebesaran dan kemurahan hati Tuhan yang ternyata tidak menyelamatkan nyawanya, Tuhan malah balik bertanya, pilihan seperti apakah yang engkau harapkan padaku padahal aku telah berkali kali memberikan pilihan padamu namun selalu kau tolak ?

Kita semua sudah berkali-kali dihadapkan pada pilihan untuk memilih Calon Pemimpin Bangsa yang kita cintai ini. Dan sudah terbukti pula, saat pilihan yang salah telah kita sepakati bersama untuk dilakoni selama lima tahun kedepannya, kita seakan dihadapkan pada gerbang kehancuran dan kekecewaan atas perilaku para pemimpin negeri hingga kroni kroni yang ada dibawahnya.

Kini pilihan itupun hadir kembali. Apakah kelak akan jatuh pada sang Gubernur yang tidak amanah menjalankan tugasnya, begitu ambisi pada kekuasaan yang lebih besar serta perilaku pencitraan lewat media, ataukah pada sang mantan Jenderal yang dipecat lantaran tersandung kasus HAM pada Mei 1998 lalu, yang hanya bisa meniru tokoh proklamator bangsa, serta dikelilingi armada perang yang penuh masalah ? Tentu semuanya ada di tangan kalian.

Jikapun masih bersikeras untuk Tidak Memilih karena Tidak Memilih adalah merupakan sebuah pilihan juga, maka persiapkan diri pula untuk merasakan kecewa, siapapun nantinya yang akan terpilih. Malah bisa jadi, kekosongan suara yang kalian ciptakan akan memperbesar perbedaan perolehan suara bagi pilihan lainnya. Dan itu semua bisa menjadi bumerang bagi bangsa ini selama 5 tahun kedepan.

Tuhan sudah memutuskan, ada 2 pilihan yang bisa kalian tentukan. Nasib Bangsa tentu akan berada di tangan kalian.

Bagaimana ? Masih Mau Golput lagi ?