(dibalik) Benchmarking Diklat PIM IV Badung ke Palembang

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PLeSiran

Bench D 1

Foto diatas adalah suasana diskusi kelompok, dalam rangka mempersiapkan materi Benchmarking untuk di Presentasikan esok paginya. Tokoh paling bawah tengah adalah bp. Made Surya Darma (tanpa Ali), yang bertugas di Bagian APU Kab.Badung

Bench D 2

3×3… atas ki-ka : bp. Agung Surya Putra dari Bagian Adm.Kesra Kab.Badung, www.pandebaik.com dari seksi Permukiman Dinas Cipta Karya dan IB Sudiyadnya dari UPT lalu Lintas Dinas Perhubungan Kab.Badung… tengah ki-ka : ibu Adi Srijati dari UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Kuta Utara, bp. Sura dari UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Mengwi dan ibu Subiasmini dari Perpustakaan Kab.Badung… bawah ki-ka : IB.Caniscahyana dari BPPT Kab.Badung, bp. Wayan Adi Sudiatmika dari Bappedalitbang dan… siapa je ? :p

Bench D 3

Foto diatas adalah suasana kebersamaan saat makan siang/malam di luaran beserta hasil akhir yang tersisa :p

Bench D 4

nah, ini gambar Pempek Kapal Selam yang kami nikmati di Dinas Kebersihan Kota Palembang, trus gambar Es Kacang Merah dan bp. Wayan Adi Sudiatmika pemilik panbelog.wordpress.com lagi nyobain es Kacang Merah :p


Masih tentang Palembang

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PLeSiran

Saat daratan mulai terlihat dari kaca jendela pesawat, mata tertumpu pada satu area luas yang lebih mirip Galian C, berada di pinggiran jalan besar dua lajur namun masih minim kendaraan. Selengang inikah Kota Palembang ? bathinku saat itu…

Tidak salah memang jika hal tersebut terlintas di benak untuk beberapa saat. Yang ada hanya satu dua kendaraan roda dua terlihat melintas tanpa teman. Segera saat mata tertumpu pada ujung jalan yang masih berupa tanah dan tertutup lahan, oh… ini jalan baru yang belum dibuka rupanya.

Hal ini akhirnya terungkap saat bapak Agung Nugrogo, Kepala Dinas Kebersihan Kota Palembang bercerita tentang usaha mereka dalam mengatasi sampah, drainase dan permukiman kumuh. Paparan atas beberapa pertanyaan dan apresiasi yang kusampaikan di sela kunjungan kami, tahap Benchmarking Diklat PIM IV Kabupaten Badung ke kota Pempek sedari Senin lalu.

Terima Kasih juga pada mata dan ingatanku. Karena masih bisa mengingat nama jalan Kapten Rivai, dimana saat kami melintas, beberapa titik dalam ruas itu rupanya masih dalam tahap galian. Infonya sih galian itu baru boleh dilakukan, pasca penilaian kebersihan kota untuk meraih Adipura Kencana tempo hari. Hebat jika memang koordinasi antar instansi bisa terwujud sedemikian rupa.

Yang Unik kami temui di sepanjang jalan Kota Palembang adalah… gedung gedung tua yang rata-rata dimanfaatkan secara optimal untuk kantor-kantor pemerintahan dari UPT Dispenda hingga paling tinggi Kantor Walikota dan Dewan Perwakilan Rakyat Kota Palembang.

Untuk kantor Walikota misalnya. Dulu gedung ini dinamakan kantor Ledeng. Kurang lebih begitu saat jaman kolonial dahulu. Oleh pak Walikota kemudian direnovasi sedikit hingga tampilannya jadi jauh lebih bersih dan rapi. Demikian halnya dengan gedung Kantor Perijinan yang luarnya masih berupa gedung tua bersejarah, namun dalemannya sudah dipoles sedemikian modern dan lapang. Sangat nyaman tentu saja jika digunakan untuk bekerja dan pelayanan kepada masyarakat.

Pemanfaatan gedung tua ini mengingatkan saya pada Kota Bandung (bukan Badung loh ya) dan Buleleng. Makanya sempat terkagum kagum menyaksikan deretan bangunan tempo dulu yang hingga kini masih dihuni dan dijaga dengan baik.

Cuma sayangnya sih, sebagian besar rumah rumah yang ada, termasuk Rumah Panggung, ketinggian level lantai rumah sama tingginya dengan halaman dan jalan raya. Hal ini sempat pula saya amati saat bertandang ke daerah seputaran Jawa. Kira-kira apa mereka gag pernah mengalami kebanjiran atau genangan air masuk rumah ya ?

Panas. Yak… di Kota Palembang ini soal cuaca bisa dikatakan sedikit lebih panas ketimbang cuaca di kota asal, Denpasar. Entah apakah disini masih minim pohon perindangnya, masih minim perkerasannya (rata-rata masih berupa tanah sebagai halaman depan gedung), atau apa… Mungkin yang paham bisa sharing cerita disini. Dan itu sebabnya, air mineral jadi hal terpenting yang selalu ada dalam genggaman setiap kali kami melintasi ruas jalanan Kota Palembang. Fiuh…

Jika dalam posting sebelumnya saya sempat ceritakan beberapa kuliner asyik untuk dicoba, kali ini ada satu lagi yang kelupaan dibagi ceritanya. Es Kacang Merah.

Sedari awal saya mengabarkan keluarga bahwa tujuan area Perubahan untuk kegiatan Benchmarking kami adalah Kota Palembang, Ibu (kandung) saya berpesan, jangan lupa untuk mencoba yang namanya Es Kacang Merah.

Es Kacang Merah ini sebenarnya gag jauh beda dengan Es Awal yang dulu bisa ditemui dagangannya di pasar Senggol Kumbasari sisi pojokan Barat Daya, dimana penjualnya (maaf) seorang banci. Dagangan itu sangat laris lantaran es yang dijual berisikan beberapa butir kacang merah yang direbus. Uenak tentu.

Racikan utamanya adalah es Serut halus, dengan campuran santan dan susu. Ditambah kacang merah didalamnya. Es ini awalnya saya temui di restaurant hotel yang kalau tidak salah dua kali menyajikannya. Dan terakhir saya nikmati, saat makan malam di Pempek Candys, dan berharap masih bisa saya temui saat pulang ke Denpasar nanti. Infonya sih, ada dijual tuh di seputaran jalan Noja Denpasar. He…

Ohya, kami menginap di Hotel Arya Duta selama berada di Kota Palembang. Sebuah hotel yang dikeliling tiga mall besar dari Carrefour, Matahari Hypermart sampai Palembang Square. Disebelahnya, ada pula Rumah Sakit Siloam dan Kantor Polisi yang ada diseberang jalan, pilihan alternatif bagi mereka yang kehabisan uang. Bisa menitipkan dirinya untuk dikirim pulang ketimbang jadi gelandangan. *eh

Saya pribadi menempati kamar 903 bersama bapak Suyasa, rekan kerja dari Dinas Pertanian yang sejak awal memang sudah jadi tandem saya satu kamar. Salah satu lantai favorit yang kerap dikunjungi adalah lantai 3. Tempat dimana kolam renang dan sauna berada. Cuma efeknya, musti mengorbankan satu celana untuk basah selama melakoni rutinitas berendam dan hanya dijemur di pintu kamar mandi hingga pulang kembali.

Kota Palembang mirip dengan Kota Denpasar. Alasannya bisa dibaca di postingan sebelumnya. Ini saya ambil kesimpulan saat mencoba berjalan-jalan pagi sebelum beraktifitas dan sarapan, dengan rute jalan seputaran hotel.

Tapi sempat kaget juga pas hari selasa atau rabu kemarin yah, saat jalan jalan saya di-stop beberapa polisi lalu lintas yang terlihat ramai di seputaran hotel dan pinggiran jalannya. Rupanya mereka bertugas untuk menjaga keamanan hotel saat itu, berhubung pak Jokowi, ibu Megawati dan pak Surya Paloh berada di hotel yang sama dalam rangka kampanye. Eh pantesan tadinya sempat liat beberapa kendaraan merah terparkir rapi di lobby hotel.

Sayangnya, meski sempat ditunggui, saya rupanya belum beruntung bisa bertemu Beliau. Malahan beberapa kawan yang makan paginya terlambat dari yang lain, ternyata bisa berfoto bareng dan membanggakannya pada kami. Ealah… nasib nasib…


Benchmarking Diklat PIM IV Badung ke Palembang

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PLeSiran

Benchmark 1

Gambar pertama adalah penampakan Tiket keberangkatan dan balik ke Denpasar, dengan pesawat Garuda Indonesia Bombardier kelas Ekonomi

Benchmark 2

Kota Palembang dengan Jembatan Ampera, penampakan sungai dari jendela pesawat dan suasana jalan raya di pagi hari

Benchmark 3

Kunjungan Benchmarking ke Kota Palembang, kiri atas : Bp. IB Caniscahyana sedang mendalami ilmu pelayanan dari loket milik Badan Kepegawaian Daerah dan Diklat Kota Palembang, kanan atas adalah kenang-kenangan dari Dinas Kebersihan Kota Palembang ‘selamat atas Adipura Kencana-nya) dan bawah saat disambut di kantor Walikota Palembang sekaligus Kantor Perijinan dan Pelayanan Terpadu.

Benchmark 4

Terakhir adalah suasana Seminar Presentasi hasil Benchmarking, yaitu gambar pak Made Surya Darma dari Bagian APU, kemudian gambar antusiasme peserta Diklat PIM IV Kabupaten Badung Angkatan V dan… www.pandebaik.com saat memaparkan hasil kerja Kelompok 2. ingat ya… 2 :p


Pengalaman Baru Palembang

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PLeSiran

Saat kami tiba di kota Pempek ini, satu hal yang terbayang di benak adalah… Kota Denpasar.

Ya, situasi dan kondisimya gag beda jauh dengan kota kelahiran, baik dari model bangunannya yang masih sangat jarang ditemukan gedung tinggi, juga soal kebersihan dan lingkungannya. Jadi bisa dikatakan gag banyak perubahan hati ataupun mata yang dirasakan.

Palembang punya luasan 40ribu Ha kalo gag salah ingat. Tidak jauh dari luasan Kabupaten Badung, tempat kerja kami di Bali. Akan tetapi jika mau disandingkan dari sisi lainnya, di Palembang tidak kami temukan yang namanya Sampah berserakan, Pengemis berkeliaran dan Pak Polisi yang berjaga di setiap persimpangan jalan. Mungkin menurut kalian bisa berbeda kelak.

Soal sampah, kami akhirnya tahu mengapa bisa sedemikian hebat. Palembang infonya pernah mendapatkan predikat Kota Terjorok di tahun 2005 lalu. Akan tetapi berkat komitmen pemimpinnya saat itu, trofi Adipura sebagai lambang kebersihan akhirnya bisa diraih tahun berikutnya. Hingga kini mereka adalah langganan peraihan trofi dan tahun terakhir mendapatkan Adipura Kencana bersama 2 Kota lainnya, Tangerang dan Surabaya. Kagum ? Jelas…

Rahasia dibalik itu rupanya ada peran serta kesadaran masyarakat yang bisa dikatakan hal yang paling mendasar harus dikuasai. Bahwa pemerintah melibatkan segenap komponen dari siswa SD, SMP dan SMA serta lingkungan Kelurahan yang mendapatkan sosialisasi secara berkala tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungannya sendiri dan Kota Palembang tentu saja. Bahkan sosialisasi ini informasinya  disampaikan pula dalam salah satu sesi materi Diklat PIM sebagaimana yang kami lakukan sejauh ini. Dengan lingkup 16 Kecamatan serta 107 Kelurahan tentu saja ini adalah sebuah tantangan berat bagi para pemimpin yang ada di garda depan Kota Palembang.

Menurut bapak Agung Nugroho, Kepala Dinas Kebersihan Kota Palembang, dukungan diberikan tidak hanya dari masyarakat saja, tapi juga lingkungan SKPD horisontal dan tentu saja vertikal. Bahkan untuk melakukan koordinasi antar instansi, mereka tak segan untuk mendatangi satu persatu instansi lain serta merangkulnya dan melahirkan SK Bersama dalam konteks menjaga kebersihan. Intinya, tugas ini tak hanya diemban oleh Dinas secara khusus, tapi melibatkan semua stakeholdernya.

Kedua soal Pengemis. Entah karena Kota Palembang belum memiliki satu bidang yang menarik untuk dijual, kebutuhan tenaga kerjanya pun rasanya belum setinggi kota besar lainnya seperti Surabaya atau bahkan Badung sekalipun. Maka itu entah apakah tingkat exodus atau perpindahan penduduk ke Kota Palembang ini memang belum dirasa banyak sehingga tingkat kesenjangannya pun tak terlalu jauh terasa.

Dan soal polisi ? Entah ya… heran juga sebenarnya. Tapi tetap asyik untuk berkeliling kota.

Macet, gag begitu banyak. Bahkan saat saya lihat dari jendela pesawat Senin siang lalu, lalu lintas di Kota Palembang ini masih terasa lengang untuk ukuran sebuah Kota. Kemacetan memang terjadi di beberapa titik, tapi kebanyakan ada alasan atau penyebabnya. Sehingga ketika hal itu ditemukan, kemacetan pun bisa terurai dan perjalanan kembali menyenangkan.

Palembang Kota Kuliner ? Bisa jadi.

Selain pempek Palembang yang kami bisa nikmati pertama kalinya saat bertamu di Badan Kepegawaian Daerah dan Diklat Kota Palembang, bersua dengan bapak Kurniawan, Kepala BKD dan Diklat, serta di Dinas Kebersihan dengan bapak Agung Nugroho tadi, rupanya masih banyak yang bisa kami cicipi dan rasakan selama berada disini.

Katakanlah Nasi Minyak. Nasi yang penampakannya mirip Nasi Goreng ini, rasanya sangat jauh berbeda. Agak aneh jika belum terbiasa, dan ada tebaran butiran kismis diantara bulir nasi kemasannya. Belum lagi Tekwan, sejenis bakso ikan ya barangkali ? Ada lagi Mie Celor, mie yang diseduh dengan air panas dan ada santannya, musti hati-hati bagi yang gag kuat pencernaan :p Trus Pindang Ikan Patin, yang saat disajikan, berada diatas kompor kecil menyala, jadi tetap panas saat dimakan.

Camilannya ada Kemplang, kerupuk bulat yang mungkin masih bisa ditemui di kota masing-masing… Kue Maksubah, legit dan manis…Kue Srikaya, nah ini… kue ijo yang mirip puding berbahan dasar telor,¬† Enak tapi agak aneh, ditemui hampir di setiap acara makan. :p Yang punya Diabetes, seperti musti tambah hati-hati lagi deh :p

Tapi yang lebih menarik lagi adalah soal Perijinan. He… kembali ke topik kunjungan kami. Kalo sempat diperhatikan, sebelum terbentuknya KPPT, Kantor Pelayanan dan Perijinan Terpadu Kota Palembang, pendapatan daerah Kota Palembang kalo gag salah sekitar 4 Milyar sekian. Dan pasca terbentuknya KPPT hingga sosialisasi dsb, PAD meningkat menjadi 50 Milyar sekian. Salah satu faktor peningkatannya ya karena perijinan tadi.

Cepat, Mudah dan Transparan. 3 hal tersebutlah yang mereka anut sedari awal hingga kini. Pelayanan Cepat, terdapat batas jadwal yang ketat untuk dapat menyelesaikan layanan perinjinan, minimal 3 kali datang ke KPPT maka urusanpun selesai. Mudah, semua sudah ada langkah-langkahnya dan jelas. Transparan, semua pembayaran administrasi dilakukan melalui loket bank yang ada di sebelah ruang perijinan. Dari 32 jenis perijinan yang ada, sekitar 28 diantaranya kalo gag salah digratiskan alias tanpa biaya. Itu sebabnya, saat kami berkunjung dan ditemani oleh bapak Amirrudin, Kepala Seksi Pelayanan KPPT Kota Palembang, beberapa warga keturunan tionghoa, terlihat anteng menunggu giliran bahkan infonya ada juga yang kelas kakap.

Semua proses dilakukan secara online. Jadi bisa terpantau darimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Jika kalian menjadi salah satu konsumen dari KPPT ini, untuk memeriksa proses pengajuan ijin yang sudah didaftarkan, tinggal mengaksesnya lewat halaman website dengan cara menginputkan nomor referensi yang didapat.

Sistem online juga terpantau di Badan Kepegawaian Daerah dan BKD Kota Palembang. Utamanya di bidang kelengkapan administrasi pegawai, yang jujur saja sempat dikeluhkan selama ini lantaran persyaratan yang mutlak dipenuhi, masih harus berulang padahal syarat yang sama sudah pernah diajukan dan diserahkan sebelumnya. Jadi mirip-mirip akun onlinenya Rekanan Penyedia di LPSE. Sehingga harapannya, saat dibutuhkan untuk melengkapi persyaratan, pegawai tinggal masuk ke akun yang bersangkutan, mencentangkan pilihan administrasi yang dipersyaratkan, dan telah didigitalisasi serta masuk dalam server sistem, untuk dikirimkan plus menambahkan beberapa dokumen yang belum ada. Done.


Liburan

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Matahari masih tampak malu menampakkan diri saat aku memutuskan untuk menurunkan kaki di air yang dingin ini. Sendirian tanpa teman. Disekelilingku hanya ada tembok dan tanaman yang rupanya sempat pula menimbulkan kekhawatiran pada kehadiran ular yang bisa saja tiba tiba turun dan menggigitku dari bawah. Tapi ah… lupakan. Hari ini, aku memutuskan untuk Liburan.

Kepala masih terasa pusing akibat jetlag beberapa hari lalu. Ditambah naik turun lift saat beraktifitas selama empat hari di Hotel Arya Duta Kota Palembang, melengkapi semua sakit yang menghampiri pasca penyusunan tugas dan presentasi kemarin. Aku benar benar butuh Liburan.

Panas matahari mulai menyengat, menyadarkanku dari lamunan. Lama juga aku berada di kolam renang ini. Dan tak satupun kawan yang tahu keberadaanku disini.

Aku sedang (berusaha) menikmati liburan. Meski hal-hal yang kutemui tidak sejalan dengan keinginanku. Maka waktu waktu seperti inilah yang seharusnya bisa kulalui dengan baik. Tak ada yang salah. Jadi biarlah.

Sementara waktu, tugas yang tersisa, kulepas dulu. Pikiranku sepertinya terlalu capek walaupun hanya sekedar untuk memikirkannya. Yang kuinginkan hanya liburan. Dan hari inilah satu satunya kesempatan.


Galau Malam Minggu

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Meh… kanti jam segini belum jua kena aer mandi sejak pagi tadi… masih asyik mindahin beberapa video buat bekal si cantik senin nanti. Kini ia sudah bisa minta tambahan materi baru di tabletpc Samsung Galaxy Tab 7+ hasil hibah beberapa bulan lalu. Mintanya sederhana, video musik anak anak atau yang ada gambar anak anaknya.

Menggalau nih ceritanya…

Apa boleh buat, rencana kami untuk melaksanakan Best Practise, salah satu agenda Diklat PIM IV yang sudah dilakoni sejak tanggal 5 Mei lalu, kini sudah masuk ke tahap III, dan mau gag mau ya harus ikut ambil bagian sebagai bahan tambahan tugas dan ujian Juli nanti.

Sesuai keputusan, kami akan mampir ke Palembang… Sumatera… errr… *cek Google…

Selatan. Kota terbesar kedua di tanah Sumatera katanya. Info dari panitia Diklat, suasananya mirip-mirip Kota Denpasar, cuma sedikit lebih bersih *uhuk

Palembang akan jadi sasaran kami selama satu minggu kedepan. Kalo gag salah, locus yang akan kami sasar ada Perijinan… DKP… dan… apa yah ? He… lupa. Ntar saya liat lagi di buku catatan…

Berkaitan dengan itu, maka sudah sewajarnya lah saya jadi menggalau di malam minggu ini. Malam yang katanya si Jamal Mirdad, malam yang asyik buat pacaran itu. Tapi yah apa mau dikata… aseli saya harus meninggalkan tiga bidadari cantik dirumah selama semingguan itu. Ealah… yang kemarin pulang setiap malam aja masih suka kangen, apalagi ini…

Apalagi tadi itu sempat bobok’in si Intan, anak wewek yang punya hobi macam anak wowok itu. Antengnya dia kalo sudah ditemani bobok… meski kadang suka bikin jengkel kalo sudah keluar cerewetnya itu :p *tapi dijamin tetep sayang dan ngangeni.

Sedang Mirah, tadi sore sempat nagih janji dibikinin spagetthi, dan terkabul. Dan Istri, sudah dapat jatah kemarin. Eh… bagi kalian yang masih dibawah 17 tahun agar dilewatkan kalimat terakhir tadi. Awas loh ditanya tanya lagi…

Yang bikin sedikit tambah galau apalagi kalo bukan tugas RPPnya. Yang sejak pulang kemarin belum disentuh sentuh buat Revisi. Maafkan saya pak Coach… *siapa tau mampir kesini* janji deh besok saya lanjutKen bagian-bagian yang belum selesai. Tapi mohon mbok ya dikoreksi dulu email saya terakhir ya. Hehehe…

Diluar itu, kadar galaunya bisa dibilang gag ngaruh banyak. Apalagi soal kemana kemana nya. Toh di Palembang gag ada yang namanya Stadium… jadi ngikut aja kemana kawan melangkah *ehem