Dua Sisi

Category : tentang Buah Hati

Kadang satu ketika usai memarahi Mirah, putri pertama kami lantaran perilakunya yang sudah mulai sulit kami atur, ada rasa sedih dan bersalah jika kemudian mengingat usianya yang baru saja menginjak 6 tahun. Namun jika tidak diingatkan dengan cara keras sesekali, rasanya kok makin menjadi ?

Mirah dan Intan

Satu sisi harapannya sederhana. Mirah bisa mengajak adiknya dengan baik namun memang wajar kalo satu waktu ia punya rasa bosan dan memilih untuk menjauh. Demikian halnya si adik, Intan yang rupanya memang tak kalah nakalnya. Jika dua kekuatan ini sudah bergabung, rumah bakalan serasa gedung cineplex yang siap menggemparkan suasana.

Sisi satunya didikan yang disiplin rasanya memang perlu ditanamkan sejak kecil. Memang sejauh ini disiplin belum saya terapkan dalam hal sekolah dan belajar, walau terpantau Mirah selalu rajin mengerjakan pe er dari guru TK nya atau bimbingan kami, tapi dalam hal tenggang rasa dan toleransi rasanya perlu diberi sedari ia memiliki adik.

Susah ternyata untuk bisa mendidik anak dengan baik. Ini baru satu… belum kelak Intan… fiuh…

Nak Bali Sulit diajak Disiplin ?

1

Category : tentang Opini

Sembari kami mempersiapkan sarana persembahyangan di keramaian pemedek yang tangkil pada hari jumat lalu di Pura Batur Kintamani Bangli, berkali-kali Panitia lewat corong suara mengingatkan para pecalang utamanya yang berada di pintu keluar sisi Utara dan Selatan area Pura untuk menjaga agar tidak ada yang menerobos masuk dan menyarankan untuk menggunakan gerbang utama. Lantaran tak jua digubris oleh pemedek yang masih saja berusaha keras merayu para pecalang, pintupun ditutup paksa dan dijaga ketat.
Meski demikian, usai persembahyangan tetap saja pintu keluar ini menjadi area lalu lintas pemedek dua arah yang mengakibatkan penuh sesak dan terhimpitnya anak-anak hingga menimbulkan emosi dari banyak orang.

Wah Wah… kalau begini jadinya, susah juga ya mau beribadah dengan hati yang tenang…

Lain lagi saat persembahyangan dilakukan. Padahal sebelumnya panitia sudah menyarankan pemedek untuk mematikan ponsel agar nantinya suara notifikasi ataupun deringnya tidak mengganggu konsentrasi pemedek lain.
Tapi ya gitu deh… ada aja yang bandel… maka wajarlah banyak yang ngedumel saat kusyuknya persembahyangan tiba-tiba tersentak lantaran nyaringnya musik dangdut koplo dan denting bbm berkali-kali memecah sunyi.

Usai persembahyangan, meskipun sudah diingatkan untuk menjaga kebersihan, teteeeep aja yang namanya kelakuan dan kebiasaan untuk tidak mematuhi aturan dilakukan.
Masih perlu saya ceritakan seperti apa wajah area pura saat ditinggalkan pemedek ?

Hari sudah menunjukkan jam makan siang saat kami tiba di parkiran bawah Pura Besakih. Berbekal sedikit pengetahuan yang didapat lewat jejaring sosial soal harga makanan disini, kamipun berusaha mengabaikan tawaran banyak pedagang yang ada di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan.
Namun alangkah kagetnya saat masuk ke pelataran Pura Besakih penuh sesak oleh pedagang acung dan asongan, menjajakan berbagai makanan hingga mainan, campur aduk dengan para fotografer polaroid, tamu mancanegara yang berpakaian minim juga pemedek yang tampak asyik duduk bersama keluarga menikmati semuanya di sela itu semua. Wajah pelataran jadi makin tampak jorok dan kumuh lantaran sampah yang berserakan padahal semua anjuran tertera jelas dilengkapi dengan tong sampah yang sudah diatur terjangkau. Ini sebenarnya mau apa sih ?

Yang makin membuat parah adalah barisan pedagang (bali) tetap bisa dijumpai di sisi emperan, luaran pura Pedarman, berjualan sarana persembahyangan dan minuman.
Memang sih, event kayak gini merupakan ladang basah yang bisa dikeruk keuntungannya dari hari biasa, tapi apa gag kebablasan ?

Gag cuma itu, beberapa diantaranya tampak memaksa pemedek untuk membeli dagangan mereka dengan menaruh bunga dan canang lantas menagih sejumlah uang. Lantaran jengkel, beberapa pemedek tampak emosi menanggapinya. Namun dibalas enteng dan bahkan sedikit memelas. Kalo sudah begini, bagaimana caranya mau beribadah dengan hati yang tenang…

Usai menjalani semuanya, kamipun pulang dengan menyisir jalan aspal secara berhati-hati mengingat parkir kendaraan yang ada mengambil badan jalan hampir separuh lebih. Bersyukur lebar bodi kendaraan roda empat yang kami gunakan mampu melewatinya dengan baik. Gag kebayang kalo kendaraan orang lain yang sedikit lebih lebar.

Tapi tak disangka, beberapa orang tampak menghalangi jalur kendaraan dengan berjalan santai dan mengobrol seakan tak pernah ada kendaraan yang akan lewat.
Setelah terpaksa menekan klakson tiga kali untuk mengingatkan, orang-orang tersebut memberi jalan namun searah kemudian menggebuk dan melempar bawaan mereka ke bodi kendaraan sambil berteriak “gaya gen ci mare ngabe mobil…” (banyak tingkah kau baru membawa mobil)…
lha ? Bukannya sudah disediakan trotoar yang sedemikian bagusnya untuk pejalan kaki ?

Otot Otot Baru Yamaha Scorpio Merah

1

Category : tentang KeseHaRian

Dengan tujuan awal yang hanya mengganti kaki tanpa membebani bodi motor hingga ke dudukan, sebenarnya proses penggantian otot Yamaha Scorpio Z tahun 2012 ini gag memakan waktu yang lama. Hanya saja dalam perjalanannya, yang memakan waktu hanyalah proses pencarian spare part yang sesuai dengan keinginan. Itupun lantaran sudah merasa gag sabaran, satu dua bagian akhirnya saya pending dahulu dari proses perubahan pertama ini.

Penggantian Velg menjadi prioritas utama. Mengingat dengan ukuran standar 100 untuk velg depan dan 120 untuk velg belakang rasanya susah untuk mengadopsi besaran ban yang sesuai harapan. Maka jadilah depan diganti dengan velg 3 inchi dan belakang 4,5 inchi. Bedanya dimana yah ? *hehehe…
Mengganti Velg secara otomatis ya harus membeli ban nya juga. Untuk depan, saya lupa ukurannya berapa sedang belakang ambil ukuran 160/60. Jadi hasilnya sekitar 2 koma… *eh
Khusus ban, saya sengaja pilih yang terbaik dari pilihan yang ada, yaitu battlax (bener gag ya penulisannya ?), agar cengkraman ban sedikit lebih baik di jalanan saat berkendara. Mahal dikit ya wajar lah…

Usai mengubah ukuran ban, secara otomatis berpengaruh pada Arm depan dan belakang. Awalnya untuk sisi depan, komang Dika sepupu saya menyarankan untuk menggunakan versi orinya, sehingga perburuan hanya fokus pada sisi belakang yang rupanya agak susah menemukan part untuk Yamaha Scorpio. Maka jadilah part untuk Yamaha Vixion yang dipilih lantaran pilihan lain yang tersedia hanya Arm untuk Kawasaki Ninja dan berharga Mahal tapinya…
Namun sesuai dugaan, saat ban depan dipasang rupanya membutuhkan Upside Down khusus agar bisa masuk dan di-Apply. Ya sudah, untuk yang satu ini pada akhirnya diambil juga pilihan yang ada.

Pengaruh lain dari penggantian ban adalah terkait sayap depan yang mengadopsi variasi untuk Ninja tadi. dan Untuk melengkapi image sangar di area depan, kami mengganti piringan cakram versi ori, dan memindahkan part ori tersebut ke sisi belakang.

Ketika urusan kaki sudah clear, saya masuk ke bagian Footstep yang memang sudah mengidam-idamkan pemindahan ke sisi belakang sehingga kaki pengendara jadi mirip motor balap ketimbang standar biasanya. Sayangnya hingga waktu seminggu pemesanan, gag jua nemu yang warna hitam atau merah seperti yang kami idamkan. Maka jadilah warna coklat metalik yang ada diadopsi tanpa banyak pertimbangan lain.

Masalah baru muncul ketika pak Made, mulai mengaplikasikan Arm belakang dimana ketika disimulasikan, terdapat beberapa titik yang memerlukan perubahan dan keputusan segera. Diantaranya, pemotongan bagian filter, yang kemudian diganti, tidak jadi dipotong, dengan filter milik Honda Tiger agar sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kedua, dudukan Footstep belakang, menghalangi pula kehadiran Arm baru yang berakibat pada pemindahan (potong dan las baru) footstep ke arah atas lebih sedikit. Disamping itu, lantaran adanya perubahan tinggi ban belakang, diputuskan pula untuk menambah space jarak dudukan dengan ban kendaraan sekitar 5-10 cm, sehingga efeknya menjadikan kendaraan lebih tinggi dari sebelumnya.

Diluar semua aktifitas tersebut, ada dua penambahan atau tepatnya penggantian spare part untuk mengubah wajah kalem Scorpio yaitu setang lebar dan ekor belakang. Maka lengkaplah sudah semuanya.

Scorpio PanDe Baik

Pasca perubahan ini sebetulnya ada satu ide lagi yang belum terealisasi dan akhirnya saya pending dahulu pengerjaannya yaitu perubahan lampu depan, dimana versi ori mengambil tenaga dari spool seperti yang terjadi pada motor bebek dan sepeda, makin terang ketika gas makin pol diputar… menjadi pola motor Honda Tiger dimana tenaga lampu diambil langsung dari Accu/aki. Tapi yah… sudahlah… itu nanti saja dipikirkan.

Memperkuat Otot Scorpio Merah

3

Category : tentang KHayaLan

Sekurangnya ada 5 (lima) hal yang perlu dipersiapkan untuk mewujudkan keinginan melakukan permak motor dari berwajah tinggi ramping menjadi sedikit kokoh dan berbobot.

Scorpio Pandebaik 1

Pertama, tentu saja Dana. Tanpa dana atau suntikan dana rasanya sulit bisa mewujudkan apapun keinginan dan harapan yang ada. Gag bisa hanya mengandalkan usaha. Minimal kisaran 7,5 juta cash didepan.

Kedua ada Ide. Tanpa ide barangkali apa yang akan direncanakan kedepan bakalan ngawur bahkan cenderung useless. Jadi jangan sampau membuang sumber daya yang dimiliki hanya karena ide belum terbayangkan. Bisa hunting via Google atau bahkan melihat tampilan kawan di jalanan.

Ketiga ya waktu luang bagi motor yang cukup banyak. Berhubung aktifitas permak baik variasi hingga modifikasi membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Baik untuk pembongkaran, pengerjaan hingga perubahan jika dibutuhkan.

Keempat tentu Bengkel yang handal. Dana, ide dan waktu yang memadai akan percuma jika orang yang akan melakukam pekerjaan masih dalam taraf coba-coba. Lain hal kalo memang sengaja menggunakan motor sebagai objek percobaan.

Kelima atau terakhir… Referensi. Minimal tempat bertanya dimana membeli ini dan itunya, bagaimana saran alternatif untuk hal-hal yang barangkali memerlukan keputusan pemilik.

Scorpio Pandebaik 2

Dengan memiliki 5 (lima) modal awal tersebut, saya yakin usaha permak motor, mengubah penampilan dari wajah orisonal menjadi sesuai keinginan bisa terwujud dengan baik.

Butuh waktu dua setengah tahun untuk memutuskan Yamaha Scorpio Merah masuk dock dan melakukan perubahan tampilan. Dari yang tadinya tinggi ramping, menjadi kekar dan sedikit berbobot. Alasannya ya kasian kalo dipermak saat masih kinyis kinyis. Hehehe…

Dari segi dana, saya menyediakan Budget sekitar 10 Juta di awal untuk membeli beberapa part bagian kaki depan dan belakang serta pegangan yang sedikit lebih lebar ketimbang pendahulunya. Idenya sederhana, hanya meniru tampilan modif Scorpio yang disajikan sebuah halaman blog dengan perubahan hanya pada kaki, tanpa mengubah bodi utama. Berhubung sudah kadung suka dengan tampilan bodi aslinya. Masuk ke waktu, rupanya setelah kepemilikan Veloz kemarin, motor jadi jarang tergunakan. Itu sebabnya keputusan untuk masuk bengkelpun makin besar.

Hal tersulit barangkali adalah masalah pemilihan bengkel. Bersyukur di area pinggiran kota Denpasar, ada Made Jepang yang siap membantu dan bersedia mengambil bagian saat orderan mulai lowong. Pilihan yang tepat rupanya mengingat sebagian besar kawan yang punya minat di bidang oprek, malah dijumpai di bengkel satu ini. Membuat keyakinan untuk menyerahkan motor sepenuhnya jadi makin besar.

Terakhir ya Referensi. Ada Dika Bandot, sepupu yang pula mengCustom mesin Scorpio miliknya menjadi sebuah trail dengan modifikasi ekstrem. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya lah semua dana, ide dan waktu bisa terorganisir dengan baik dan rapi. Thanks a lot my bro…

Maka jadilah kini Yamaha Scorpio Z 225 cc yang dahulu berpenampilan kalem, tinggi dan ramping jadi tambah kekar dan kokoh berkat sentuhan pak Made Jepang dan masukan dari Dika Bandot tadi. Apa saja perubahannya, nanti deh bisa dijelaskan lagi.

Digitalisasi Majalah Gadget

Category : tentang KeseHaRian, tentang TeKnoLoGi

Berawal dari makin penuhnya isi almari pojok ruang tamu yang dijejali berbagai macam buku, terbersit niatan untuk mendokumentasikannya kembali seperti yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Jika dulu masih mampu secara rutin melakukan aktifitas ini dan merangkumnya sesuai tema kedalam sebuah map berwarna khusus, kini rasanya sudah gag mungkin lagi mengingat waktu luang yang ada kian menipis.

Efisien waktu dan tempat. Cuma itu yang terlintas di kepala. Maka jadilah satu persatu halaman dari majalah dan tabloid gadget, prioritas pertama yang harus dibersihkan keberadaannya dari almari, diabadikan dalam bentuk gambar melalui kamera ponsel Samsung Galaxy Note 3 dan menyimpannya sementara dalam eksternal storage.

Hasilnya lumayan. Beberapa Tips yang sekiranya penting untuk dipelajari, diingat dan diujicobakan, berjajar dengan materi Review atau isu hangat yang rutin diperbincangkan dalam setiap edisinya.

Rencananya kalopun nanti ada waktu luang lagi pasca proyek Digitalisasi ini, semua gambar akan dipilah berdasarkan kategori masing-masing seperti pembagian menurut map berwarna tadi. Hal ini tentu saja akan memakan jauh lebih sedikit tempat -cukup disimpan dalam hard disk eksternal atau keping dvd- dan sedikit waktu, lantaran tinggal jepret dan simpan. Tidak perlu lagi merobek halaman dan mem-filekannya.

Tips Digitalisasi panDeBaik

Aktifitas ini hanya membutuhkan sedikit kesabaran untuk bisa menghasilkan gambar (baca: teks) yang bagus, agar nantinya dapat dinikmati saat senggang. Baik dilakukan saat siang hari (di ruang yang terang), atau malam (dengan tambahan lampu flash).

Saat melakukannya, ada banyak ide yang kemudian muncul untuk sekedar dijadikan bahan sharing lewat jejaring sosial bahkan menjadi sebuah tulisan khusus. Bagaimana hasilnya, lihat nanti saja…

Perpanjangan SIM lewat #simkeliling

5

Category : tentang KeseHaRian

Iseng memperpanjang ijin mengemudi SIM C lewat #simkeliling Polres Badung yang hari ini mangkal di Lapangan Perumahan Dalung Permai.

Awalnya sih berharap bahwa pengajuan melalui #simkeliling bisa lebih cepat… tapi apa daya yang antre sudah 30-an pemohon. Ya tanggung… kepalang basah…

Untuk kontak #simkeliling bisa hunting di nomor 081934363494 dengan jadwal :
– Senin di depan SPBU Sempidi,
– Selasa di Jembatan Sibang Darmasaba,
– Rabu di jalan Raya Marlboro Barat,
– Kamis di sebelah timur Tiara Gatsu dan…
– Jumat (ya) Lapangan Perumahan Dalung Permai.
Walaupun #simkeliling ini dari Polres Badung, namun lingkup layanan yang saya tahu sih mencakup Kota Denpasar juga.

Sayangnya, meski sudah berada di lokasi sekitar pk.8.00, hingga lewat 45 menit #simkeliling belum juga berOperasi. Infonya masih menunggu kedatangan satu petugas lagi dan menunggu agar mesin pembuat #simkeliling siap digunakan. *masih dipanaskan

Dibandingkan dengan Proses yang dilakukan di Poltabes jalan Gunung Sanghyang, saya yakin disitu bisa jauh lebih cepat proses dan waktunya (lihat di tulisan saya terdahulu). Hanya dengan pola yang dilakukan #simkeliling bisa jemput bola tanpa jauh bagi pemohon untuk mencapai akses ke Poltabes.

Persyaratan registrasi #simkeliling hanya membutuhkan fotokopi KTP/Kipem dan SIM yang akan diperpanjang, sebanyak 2 lembar, yg kalau pemohon belum menyiapkannya, di dekat mobil #simkeliling ada Ibu Agung yang siap membantu dengan biaya 5rb utk fotokopi 2 lembar tsb *uhuk

Proses selanjutnya, pemohon tinggal menunggu giliran panggilan via TOA, membuka alas kaki dan masuk ke unit #simkeliling utk menyelesaikan proses. Nilai yang dibayarkan untuk satu SIM C kalo gag salah ingat sekitar 160ribu sedang SIM A mencapai 180ribu. Tadi kebetulan ada salah satu pemohon yang mengajukan dua-duanya.

Untuk satu orang pemohon #simkeliling sepertinya perlu waktu sekitar 15-20 menitan dari masuk unit hingga SIM selesai. Jadi kira-kira dapetnya ya… tinggal dikalikan jumlah antreannya saja.

Untuk menunggu panggilan #simkeliling pemohon diberikan satu tempat duduk panjang dengan kapasitas 5 orang dan lainnya berada di sekeliling unit. Jikapun pemohon mau jauh-jauh dari unit #simkeliling sepertinya sih gag disarankan karena suara TOA kalah jauh dengan mesin Diesel yang ada disebelah unit.

Pemohon #simkeliling sudah mencapai antrean 50-an orang ,saudara-saudara… saya dapatnya kapan yah… *asyik twitteran

Akhirnya setelah menunggu sekitar 1,5 jam di sekitar area #simkeliling panggilan itu datang dan SIM C selesai hanya dalam hitungan menit. Sedikit Lebih cepat dari yang terpantau sejak tadi. Itupun dengan hasil foto yang mirip dengan pengaturan Econo Fast pada printer-printer jadul, jadi ada beberapa garis putih yang tampak dengan jelas.

Ruangan atau lebih tepat jika disebut bilik pembuatan #simkeliling benar-benar memanfaatkan betul space kosong yang ada dalam kendaraan. Setidaknya cukup untuk 4 (empat) orang disela meja dan peralatan #simkeliling.

Satu orang di belakang pak sopir mengerjakan form administrasi pemohon, satu orang berada di sebelah pintu masuk menghadap lubang sebagai loket penerimaan dan panggilan, satu orang lagi berada di sisi seberang bagian belakang menghadap komputer yang dikelilingi dengan alat pembuatan #simkeliling. Lengkap dengan mesin cetak cadangan yang dapat digunakan apabila alat lainnya sudah mengalami overheat demi mencegah kerusakan. Sedang orang keempat yaitu pemohon sendiri, berada di tengah-tengahnya. Duduk sambil difoto, sambil ditanya-tanya identitas dan melakukan pembayaran sekaligus. Sangat efisien.

Pelayanan jasa #simkeliling ini memang ramai diminati masyarakat, terbukti dari jadwal mangkal keliling mereka, lumayan banyak yang meng-antre sejak pagi kedatangan hingga selesai sore harinya. Hanya saja, lingkup wilayah yang dilayani memang harus ditambah, tentu dengan memperbanyak armada dan personil yang terlibat. Utamanya yang berada di pinggiran dan luar kota.

Terakhir, satu sisi positif tambahan yang bisa disampaikan untuk pelayanan jasa #simkeliling jika dibandingkan dengan pelayanan di Poltabes adalah… Tanpa Calo.