Menu
Categories
Melanjutkan kisah Tiga Manula Benny Rachmadi
March 1, 2014 tentang SKetSa

Masih ingat cerita kocak Tiga Manula Waluyo, Sanip dan Liem si juragan tajir yang beruntung bisa jalan-jalan ke Singapura, pasca banjir keuntungan dagangan tablet ? Kini mereka kembali lagi lewat kisah jalan-jalan ke Pantura atau jalur Pantai Utara. Bagi yang kerap mudik, saya yakin pasti tau dan pernah menyambanginya.

Adalah Waluyo, salah satu dari tiga Tokoh Manula yang menjadi peran utama selama perjalanan, merasa kangen dengan desa kelahirannya Tingal Wetan dan memilih untuk rendeman di dalam sebuah sumur. Merasa kasihan, si juragan Liem lalu berupaya untuk mengantarkan si Waluyo mudik ke desa asal, yang rupanya kelupaan kalo Tingal Wetan itu ada dimana. Maka diusulkanlah untuk menyusuri Jalur Pantura atau Pantai Utara dengan harapan, Waluyo bisa mengingat kembali dimana Desa kelahiran Tingal Wetan berada.

Seperti biasa, Benny Rachmadi sang kartunis mengawali kisah dengan memberikan beberapa Tips ringan terkait persiapan perjalanan. Termasuk rute pertama yang dikunjungi dari Cikampek.

Tiga Manula 1

Berkarya dan Berkarya.

Kurang lebih begitu yang dapat saya gambarkan untuk seorang Benny Rachmadi, kartunis kelahiran Samarinda 23 Agustus 1969 silam. Setidaknya kemampuannya terus terasah dari seri komik strip di mingguan Kompas, ke bentuk buku dengan berbagai topik nakal. Diantaranya yang pernah dikisahkan dalam blog ini ada 100 Peristiwa yang Bisa Menimpa Anda, 100 Tokoh yang mewarnai Jakarta, dobel kisah Dari Presiden ke Presiden, atau Lost in Bali jilid 1 dan 2 yang merupakan tandem bareng Mice sang rekan termasuk kisah Tiga Manula seri pertama, Jalan-Jalan ke Singapura.

Seperti halnya tulisan seorang blogger atau kolumnis yang merasa sudah jatuh cinta pada dunianya, tak semua karya kemudian bisa memuaskan hasrat para penggemarnya, demikian halnya saya akan karya Tiga Manula lanjutan kali ini. Namun demikian, apa yang tergambar saya yakini memang benar adanya, yang kemudian seakan menampar wajah sendiri. Jadi antara ngakak, senyum simpul hingga miris sendiri, dapat timbul begitu saja tergantung dari sudut pandang orang yang menikmatinya. Tapi mengingat tujuan diluncurkannya buku Tiga Manula ini adalah untuk bersenang-senang atau menertawai diri sendiri, jadi ya dinikmati saja apa adanya.

Saat melalui beberapa rute perjalanan, selain Tips ada juga diberikan beberapa jenis kuliner yang kurang lebih bisa diartikan sebagai hal yang patut dicoba dari ke-khas-an dari daerah tersebut, bisa juga ‘iklan sponsor’ yang dipesan. Hehehe… jadi ya tergantung dari sudut pandang tadi. Katakanlah Nasi Jamblang Cirebon, Kupat Glabed ‘Ibu Inah’ Brebes, Rawon Kalkulator atau Nasi Gandul kota Pati.

Tiga Manula 3

Uniknya, ada juga ke-khas-an lain yang coba ditunjukkan dalam cerita seperti Batik Mega Mendung Cirebon, Ikan Dewa objek wisata Cibulan Jawa Barat, 67 Toilet Bersih Tegal, Batik Tulis Pekalongan, hingga Kakek Misterius Alas Roban. Semua diramu dengan ciri kartun Mas Benny yang menggelitik.

Cerita Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura yang diterbitkan pertama pada November 2012 ini secara tidak sengaja (atau memang sengaja), dilahirkan di era kekinian dimana salah satu ‘petunjuk’ penting yang dapat dilihat secara jelas adalah sosok kendaraan yang digunakan, Honda CRV edisi terakhir, lengkap dengan wajah baru dan buritan belakang yang bengkok. Meskipun bisa jadi beberapa ide dan penuangannya sempat dibuat jauh sebelumnya. Jadi tergolong anyar-lah untuk dinikmati.

Leave a Reply
*