Angry Bird, Cut The Rope dan Plants vs Zombie for BlackBerry ?

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Huh… siapa bilang kalo games ternama kembangan Rovio, Angry Birds series tidak bisa dimainkan dengan baik pada perangkat BlackBerry ? Kalopun ada, silahkan unjuk tangan dan simak tulisan saya kali ini.

Yah, setidaknya yang saya maksudkan sih bukannya tersedia di BlackBerry Apps World, namun ketiga games seperti yang disebutkan pada judul diatas, rupanya masih bisa dimainkan dalam perangkat TabletPC berbasis BlackBerry, atau yang lebih dikenal dengan istilah PlayBook. Dan untuk bisa mewujudkannya, pengguna BlackBerry harus bisa mengucapkan Terima Kasih kepada para pengembang aplikasi dan permainan yang dibuat berbasiskan Android, karena dari format file inilah, semua permainan yang adiktif dan mengasyikkan tadi, akhirnya bisa jua diujicoba pada perangkat dimaksud.

BB ANDROId copy

Pertama, Angry Birds. Permainan fenomenal di jagat perMobileGames ini merupakan seri yang dikembangkan oleh Rovio, dengan memberi kuasa penuh pada sekawanan burung untuk menghancurkan keberadaan para babi pencuri telur. Setidaknya ada 5 versi yang kini wara wiri di pasar aplikasi. Angry Birds versi classic atau original, Rio, Season, Space dan terakhir, Star Wars. Dalam perangkat BlackBerry PlayBook, kelima seri ini rupanya dapat dimainkan dengan baik tanpa lag ataupun jeda. Kabar yang mengasyikkan bukan ?

Cut The Rope. Permainan potong tali untuk memberi si tokoh utama permen warna warni ini, merupakan salah satu jenis permainan terlaris baik di pasar aplikasi milik Apple atau iOS, ataupun milik Google dan Android. Maka bisa dikatakan, saat permainan yang satu ini bisa juga dijalankan pada perangkat PlayBook, maka yang namanya kebosanan dahulu melanda iman, kini sudah tak lagi. Tinggal menunggu seri lainnya yang serupa seperti Where’s My Water yang menyajikan si Buaya tukang mandi, dan lainnya.

Terakhir ada Plants vs Zombie. Pernah merasakan adiktif dan ketagihan saat menjajal permainan yang satu ini dalam bentuk personal computer ataupun berbasis Android ? Kini BlackBerry PlayBook anda pun bakalan merasakan akibatnya. Lama dipegang, hingga menghabiskan daya dan melakukan charge sedemikian cepat. Minimal untuk menyelesaikan 50an level lebih, dalam menyelesaikan semua tantangan yang ada. Sayangnya, jenis yang tersedia beneran versi Mobile, sehingga meskipun ada, namun kategori Mini Games, Puzzle dan Survival tidak mampu dimainkan seseru versi PC.

Tapi yah, jangan kecewa dulu deh… karena masih banyak varian games seru dan unik yang dapat dimainkan pada perangkat BlackBerry PlayBook saat ini, tentu saja musti rajin-rajin hunting di kategori Top Games dan mencari via mbah Google, file aplikasi, versi Bar-nya :p

Menjajal Games Android di BlackBerry PlayBook

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Pertama kali berkenalan dengan tabletpc besutan RIM selaku pengembang perangkat pintar BlackBerry yang banyak dikenal publik lewat fitur chat BBM-nya, ada banyak harapan yang dibebankan untuk segera diujicobakan. Satu diantaranya adalah kemampuannya untuk menjalankan aplikasi serta games Android yang kabarnya tersedia secara default dalam App World, pasar aplikasi milik BlackBerry. Dapat diunduh dan digunakan tanpa perlu melakukan aktifitas converter atau migrasi antar OS.

Sayangnya harapan tinggallah sebuah harapan.

Aplikasi atau games yang tersedia di pasar aplikasi BlackBerry tersebut tidaklah sesuai dengan apa yang dibayangkan. Ketersediaannya Hanyalah beberapa saja, itupun tidak semua bisa dijalankan dengan baik. Terdapat lag atau semacamnya dan berujung pada hang dan wajib force closed.

Maka jadilah perangkat BlackBerry PlayBook yang dikenal dengan istilah iPad Kakek oleh MiRah, putri pertama kami hanya sebagai perangkat pelengkap apabila iPad Bapak, Samsung Galaxy Tab 7+ yang biasa saya gunakan, tidak berada dirumah. itupun kemudian tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal lantaran games yang ada tidak sesuai dengan kebiasaannya pada perangkat Android.

Harapan untuk dapat menjalankan aplikasi dan games berbasis Android pada perangkat BlackBerry PlayBook, belakangan muncul kembali, seiring dimuatnya artikel di Tabloid Pulsa terkait topik konversi file apk, standar file Android, menjadi bar, standar file milik BlackBerry PlayBook, untuk kemudian diinstalasi dan digunakan pada perangkat dimaksud.

Sayangnya, lantaran waktu yang agak lama, -artikel tersebut diturunkan secara terpisah dalam 3 edisi, dari proses sign key, konversi hingga instalasi- keinginan untuk segera menguji hasil konversi sudah sedemikian tinggi, hingga satu hal kemudian terlintas dalam benak, ‘kenapa gag hunting file standar aplikasi bar saja di Google ?’ Ini seperti hunting file apk tempo hari demi mendapatkan file standar aplikasi serta games Android versi Premium. Maka usaha inipun dilakukan dengan harapan baru, bisa segera diapply tanpa menunggu waktu turunnya edisi berikut Tabloid Pulsa.

Hasilnya ? Lumayan banyak. Sekitar 50an aplikasi dan games yang bisa ditemui pada perangkat Android, terunduh dalam format file bar dan siap untuk diinstalasi ke perangkat BlackBerry PlayBook dengan bantuan aplikasi DDBP berbasis windows pc serta kabel data.
Proses yang berlangsung tidak terlampau lama ini, menghasilkan 90% aplikasi dan games rupanya bisa berjalan dengan baik sementara sisanya bisa jadi bergantung pada proses pengunduhan yang kurang sukses. Terpantau beberapa file memang berukuran tidak sebagaimana yang tertera pada halaman pengunduhannya.

Lantas apa dan bagaimana pengalaman menggunakan aplikasi dan games berbasiskan Android pada perangkat tabletpc BlackBerry PlayBook ? Tunggu di tulisan selanjutnya.

Punya Android, kini bukan mimpi lagi

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Balik sejenak ke tahun 2010 lalu, dimana perkembangan teknologi ponsel masih dipenuhi oleh model keypad qwerty ataupun layar sentuh ala iPad, yang dipenuhsesaki perangkat tanpa sistem operasi, khas lokal atau China yang memang marak dan terjangkau, sebaliknya Android masih tergolong langka dan mahal. Terhitung baru beberapa nama vendor saja yang masuk dan hadir sebagai pionir.

Dibandingkan dengan ratusan line up yang dijebolkan ke publik, Android masih tergolong barang mewah dimana secara spesifikasi, rata-rata menggunakan jeroan high-end meski ada pula yang low, namun tetap saja dikemas dalam desain keren dan harga selangit.

Banyak pihak yang meragukan kehadirannya bakalan menembus dominasi BlackBerry, iPhone dan Nokia yang saat itu masih merajai pasar dengan penjualan gila-gilaan. Namun jujur, Saya sendiri saat itu begitu optimis dengan kehadiran Android dan yakin bakalan jadi the Next Thing seperti halnya keberadaan ponsel china atau lokal, dan memang terbukti. Bukan lantaran kemewahan desainnya atau spek yang mumpuni, namun lebih pada banyaknya vendor yang kelak bakalan membackup. Ini seperti melihat sistem operasi Windows Phone dan Symbian di masa jayanya.

Masuk ke tahun 2011, dimana untuk pertama kalinya mimpi saya akan kepemilikan perangkat Android bisa terwujud, Samsung memulai perang dengan merilis empat line up terbaik dengan mengusung sistem operasi terbaru saat itu, Froyo 2.2 dimana fungsi Tethering atau mobile hotspot sudah bisa ditemukan tanpa perlu menggunakan bantuan sarana tambahan lagi. Satu hal yang kemudian mengubah fungsi modem portable.

Masuknya jajaran ponsel Samsung Galaxy series ke pangsa pasar mid to low end, yang saat itu masih didominasi barisan Android mid hingga high end, membuat banyak vendor kemudian berusaha untuk turut mengikuti dengan merilis satu dua perangkat murahnya, demi mencuri perolehan kue yang sedianya tidak mampu diambil alih oleh perangkat berbasis iOS atau iPhone, pun BlackBerry, sebagai raja saat itu.

Mini, Gio, Fit dan Ace, menjadi empat bersaudara yang paling diincar lantaran harga yang lumaya terjangkau (kisaran 1,2 hingga 2,75 jutaan), namun sudah memiliki beragam kemampuan yang sudah bisa menyamai kemampuan perangkat dari vendor lain di rentang harga diatasnya.

Terpantau di akhir tahun 2011, beberapa vendor yang dahulunya masih setia merilis feature phone, atau ponsel tanpa sistem operasi, mulai mengendus pasar dengan menurunkan seri Android murah sejutaan mereka demi persaingan tingkat global, serta masuk dalam lini pemula. Hasilnya mantap. Pelan tapi pasti, dominasi Android mulai terasa di tengah gempuran perangkat dan iklan BlackBerry yang mengagungkan fitur messengernya.

Keberadaan Android murah dan terjangkau kian mengganas, seiring pembaharuan teknologi dan sistem operasi, dimana standar yang ada sudah mulai bergeser pada versi 2.3 atau GingerBread. Inilah awal era keemasan Android dalam usahanya merebut posisi peringkat teratas penjualan ponsel maupun TabletPC tingkat Global.

Hegemoni Android pun kian memanas seiring dirilisnya seri flagship atau perangkat yang mengusung jargon Ter- dari segala segi. Meski demikian, ponsel dan TabletPC Android murah tetaplah menggoda iman.

Dengan budget sejutaan, calon pengguna kini sudah bisa mendapatkan satu perangkat yang mumpuni serta mampu bersaing dengan barisan ponsel dari vendor lain di rentang harga yang sama. Meski ada juga yang mencoba menyandingkannya dengan beberapa perangkat tingkat pemula milik vendor lain, yang dijual dengan kisaran harga diatasnya.

Setidaknya ada fitur Mobile Hotspot, ratusan Games dan aplikasi gratis dari pasar milik Google, kemampuan yang memuaskan untuk multimedia dan hiburan, plus dukungan kerja meski hanya sebagai viewer saja.

Jika dengan yang tingkat pemula dan budget terjangkau saja, sudah bisa melakukan semua hal, bagaimana dengan perangkat flagship dari masing-masing vendor yah ?

Web Site SKPD Pemkab Badung, Hidup Segan Matipun *uhuk

6

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

Tulisan kali ini sebagai bentuk kritik kepada diri sendiri dan jajaran lembaga yang ada didalamnya, lantaran dimintakan tolong untuk ikut mengelola web site salah satu SKPD di lingkungan Pemkab Badung, yang di bulan April lalu, masih saya naungi sebagai tempat berteduh dan mencari rejeki. Semoga kelak, apa yang saya tulis bisa dihindari demi kebaikan apa yang sudah dirintis sejak lama.

***

Pernahkah kawan merasa kesal saat keluhan ataupun pertanyaan terkait hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar kita, dan merupakan tanggungjawab Pemerintah selaku pemilik dan pengelolanya, namun hingga hitungan bulan tak jua mendapatkan jawaban atau bahkan tanggapan yang berarti ? Jangan khawatir, kalian tak sendiri.

Jangankan untuk menjawab pertanyaan atau bahkan keluhan yang sudah susah payah disampaikan secara online, demi menghindari rumitnya jalur birokrasi jika disampaikan secara langsung, sebagaimana tujuan utama pembuatan halaman resmi web site di masing-masing SKPD, hanya untuk melakukan Updating Data dan Berita saja rasanya sudah kembang kempis usahanya. Kadang ingat, kadangpun dilupakan. Kalopun boleh diambilkan istilah dari kamus bahasa Indonesia, Hangat-hangat Tahi Ayam *uhuk

Tapi apa memang sebegitu susahnya, melakukan Updating Data ataupun Berita di web site resmi milik Pemerintah ? bisa jadi. Tentu ada beberapa faktor yang menjadi penyebab sulitnya usaha tersebut dilakukan. Berikut diantaranya.

Ketiadaan Team Work. Salah satu perbedaan usaha pengelolaan halaman resmi web site pemerintah dengan pengelolaan halaman blog, katakanlah halaman blog pribadi saya di www.pandebaik.com adalah soal jumlah dan waktu. Untuk mengelola halaman sebuah instansi, tentu minimal dibutuhkan sebuah Team Work yang memang diatur secara jelas dengan menggunakan Surat Keputusan dari pimpinan masing-masing demi memberikan wewenang dan penugasan secara penuh disertai dengan tanggung jawab, bahkan biasanya honor. *uhuk

Karena jika tidak, segala informasi yang hadir di halaman web site resmi milik Pemerintah, minimal merupakan informasi yang akurat dan layak dipercaya, sebagai bentuk kepanjangan tangan Pemerintah dalam memberikan informasi terkini, tanpa perlu diragukan keabsahannya. Serta mampu menjadi dasar atas segala masukan, kritik, pendapat atau bahkan penelitian yang memang membutuhkan data sebagaimana yang terkandung didalamnya. Masalahnya adalah, apabila itu dikerjakan oleh satu orang, baik inputting data, pemberian tanggapan hingga pertanggungjawaban, apakah bisa dikatakan sah jika status yang bersangkutan adalah seorang staf yang hanya dimintakan secara lisan untuk mengelola semua informasi yang ada didalamnya ? Tentu Tidak.

Ini berbeda dengan pengelolaan sebuah halaman webblog pribadi yang dikelola, diUpdating dan dapat dipertanggungjawabkan secara pribadi, meski terkadang malah berkesan tak peduli dengan isi dan tampilan yang ada apakah sudah mampu memuaskan pengunjung dalam memanfaatkan konten, atau acak adulnya penataan akibat terlalu banyak iklan demi pundi-pundi uang yang kelak bakalan didapatkan.

Kedua, Lingkup Pekerjaan. Rata-rata seorang PNS sudah memiliki beban kerja dan tanggung jawab masing-masing dalam unit dimana ia ditugaskan. Apakah berkaitan dengan Administrasi, Teknis, Pemeriksa hingga yang remeh-remeh seperti tukang jalan, antar surat dsb. Dan itu sudah dijalankan selama bertahun-tahun, dimanapun ia ditempatkan, karena sebisa mungkin saat dilakukan mutasi atau pemindahan, akan tetap mengambil jenis pekerjaan yang sama. Sedangkan untuk mengambil satu pekerjaan tambahan, seringkali dikeluhkan lantaran berbeda dengan rutinitas yang dilakukan sehari-hari sehingga dalam prakteknya seringkali penugasan tambahan ini menjadi prioritas nomor dua atau bahkan cenderung dilupakan. Apalagi kalo ditambah kalimat ‘bukan bidang atau keahlian saya’ bahkan tidak sehobi. Meski sudah dilatih berkali-kalipun, yang namanya niat sudah tidak ada sejak awal, ya tetap saja hasilnya sama.

Ketiga, ketiadaan Rekrutmen Tenaga Baru untuk penambahan item pekerjaan baru. Minimal yang memiliki hobi dan pengetahuan yang setara dengan pengelolaan blogging, namun diberikan waktu luang khusus untuk pengelolaan, serta tugas tambahan yang barangkali bisa mendukung kinerja unit secara keseluruhan. Apakah dengan melatih tenaga yang memang benar berminat ataukah merekrut tenaga kontrak dari luar unit hanya untuk mengambil pekerjaan tersebut secara berkala. Karena toh usaaha untuk Updating Data biasanya dilakukan dalam kurun waktu setahun sekali, sesuai dengan jenis kegiatan yang ada. diluar itu, tentu yang rutin diinputkan adalah terkait Agenda, Kemajuan Pekerjaan, kegiatan yang sedang atau telah dilakukan dan lainnya.

Keempat atau terakhir yang mampu saya telaah adalah soal kebijakan. Ini tentu kembali pada itikad dan tujuan masing-masing pimpinan dalam usahanya untuk melahirkan sebuah halaman web resmi milik unit, plus bagaimana soal pengelolaan, prosedur pemberian tanggapan atau tindaklanjut, bahkan informasi apa saja yang bisa disajikan kepada publik. Jarang memang adanya keberadaaan seorang pemimpin yang mampu dan mau memantau sejauh mana progress kemajuan halaman web milik unitnya sendiri, atau bahkan memberi satu masukan informasi yang kelak bermanfaaat bagi pengunjung yang kebetulan mampir demi mencari data atau dasar hukum tertentu.

Seandainya saja keempat hal diatas dapat terwujud dan ditanggapi dengan baik, minimal tidak hanya keberadaannya saja yang mampu hadir dan eksis di dunia maya, namun juga Updating Data dan Informasi terkinipun bisa diakses dan termanfaatkan oleh masyarakat yang berkunjung. Yang sayangnya hingga tulisan ini diturunkan, terpantau beberapa halaman resmi web site milik SKPD di lingkungan Pemkab Badung sebagai contoh lingkup tulisan kali ini, belum mampu melakukannya dengan baik. Minimal dari segi Updating terakhir yang diinputkan oleh para pengelolanya (jika ada).

Setidaknya terpantau ada 13 (tiga belas) alamat situs resmi instansi di lingkungan Pemkab Badung yang hadir dihalaman badungkab.go.id, halaman web site milik Pemerintah Kabupaten Badung, dengan urutan sebagai berikut.

(1). Bappeda dan Litbang
(2). PDAM Badung
(3). Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan
(4). Desa Bongkasa Pertiwi
(5). Kantor Pemberdayaan Perempuan
(6). Desa Kutuh
(7). Dinas Kesehatan
(8). RSUD Badung
(9). Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan
(10). Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan
(11). Dinas Pariwisata Daerah
(12). Dinas Bina Marga & Pengairan dan terakhir
(13). Dinas Kebersihan dan Pertamanan.
*Untuk link alamat web site masing-masing, dapat dilihat langsung di item dimaksud.

Nah, dari ketiga belas halaman web resmi instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung diatas, bisa saya sajikan Updating data terakhir per 20 Juli 2013, adalah sebagai berikut :
(1). Bappeda dan Litbang terpantau melakukan Updating data terakhir pada tanggal 25 Juni 2011 lewat tulisan Pembuatan Taman Kehati di Kawasan PUSPEM Badung.
(2). PDAM Badung rupanya mengambil bagian halaman milik Pemkab Badung (tidak berdiri sendiri) dengan sajian informasi yang normatif (informasi baku) dan menutup akses penyampaian keluhan, masukan atau kritik secara online.
(3). Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan dengan tulisan Pengumuman Hasil Kelulusan TKB CPNS Daerah Kabupaten Badung Tahun 2012.
(4). Desa Bongkasa Pertiwi terpantau menghilang dari dunia maya, meskipun disearching via Google dengan menggunakan kata kunci tersebut.
(5). Kantor Pemberdayaan Perempuan terakhir menyajikan Data Terpilah tahun 2008-2009 pada bulan Oktober 2010.
(6). Desa Kutuh menyajikan tulisan Pandawa Beach Festival, Wujud Pariwisata berbasis Masyarakat per tanggal 27 Desember 2012.
(7). Dinas Kesehatan tergolong Update, terpantau tulisan terakhir tertanggal 10 Juni 2013 (sebulan lalu) lewat Melindungi Generasi Bangsa Dari Iklan, Promosi Dan Sponsor Rokok, Menkes Luncurkan Peraturan Pencant (judulnya terputus, mungkin yang dimaksud adalah Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau).
(8). RSUD Badung pindah alamat ke rsudkapal.badungkab.go.id dengan menurunkan tulisan terakhir per tanggal 2 Juli 2013 ‘Bupati Menyerahkan Sertifikat dan SK Menteri Kesehatan Tentang Penetapan Kelas RSUD Kab. Badung Sebagai Rumah Sakit Umum Kelas B’.
(9). Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan yang diantara semua halaman, tergolong paling Update lewat tulisan Pasar Murah PKK Badung, Aset Koperasi di Bali Rp. 4,50 Triliun, dan Pelatihan Manajemen Koperasi di Kabupaten Badung yang ketiganya dipublish pada tanggal 12 Juli 2013.
(10). Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan dengan ucapan Selamat hari raya Nyepi, Galungan dan Kuningan per tanggal 7 Maret 2013
(11). Dinas Pariwisata Daerah mengarah ke halaman badungtourism.com yang menyajikan informasi lengkap secara statis, satu tips bagi penyajian halaman web pemerintah agar tidak terlihat jarang disentuh.
(12). Dinas Bina Marga & Pengairan masih berada di alamat lama dengan sajian ‘Warning: Cannot modify header information – headers already sent by (output started at /home/bmadmin/public_html/wp-content/themes/Simplica/functions/sidebar_functions.php:2) in /home/bmadmin/public_html/wp-includes/pluggable.php on line 897’, dimana terpantau memiliki alamat terkini di bmair.badungkab.go.id (lihat historynya di halaman blog www.pandebaik.com) *berarti data alamat belum diperbaharui (diluncurkan awal bulan Juli 2013), dan terakhir
(13). Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang rupanya masih dalam tahap pembaharuan dengan tampilan ’Coming Soon! Website DKP Badung sedang dalam tahap pembaharuan!’.

Dilihat dari sajian data diatas, dapat dipaparkan beberapa hal sebagai berikut :

Pertama, demi ‘amannya’ informasi yang disajikan (agar terlihat tetap Update), dapat ditampilkan dengan memberikan informasi normatif atau secara statis seperti yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Daerah, dalam satu halaman yang berdiri sendiri sehingga mampu menyajikan tampilan dan penataan data lebih inovatif dan terstruktur. Langkah ini bisa digunakan oleh SKPD atau Instansi yang belum mampu membentuk sebuah Team Work atau melahirkan kebijakan untuk pengelolaan halaman website. Tinggal memberikan ‘kuasa’ pada Konsultan Perencana atau Developer web, mendesain isi lalu mempublikasikannya.

Kedua, apabila Team Work, Kebijakan dan Penugasan bisa jelas dilaksanakan, maka opsi seperti yang dilakukan oleh Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan, RSUD Badung atau Dinas Kesehatan dapat dipilih. Langkah ini tentu membutuhkan source sumber dan draft berita serta tenaga secara berkala. Bisa juga dengan melakukan perekrutan tenaga baik intern maupun kontrak, yang minimal memiliki hobi untuk mengelola data dan informasi, dengan pemberian pendidikan lanjutan berupa teknik penulisan atau jurnalistik dasar, ataupun pengelolaaan halaman web dan email.

Ketiga, untuk penyajian halaman ataupun data, rata-rata masih dalam bentuk dan format yang sama. Kalaupun mau, bisa hunting halaman web site milik negara lain, yang kini sudah jauh lebih inovatif dan atraktif dalam memberikan informasi dan tanggapan akan keluhan atau masukan. Namun tentu membutuhkan biaya pengembangan yang lebih besar, untuk desain web atau coding dan sejenisnya. Satu hal yang barangkali tergolong sulit didapat mengingat pola pikir para penentu anggaran bisa jadi masih terpengaruh pada iklan-iklan yang ditempel di pohon ataupun tembok dekat traffic light ‘hanya Seratus Ribu, sudah bisa punya web site’ :p

Terakhir, dibutuhkan keseriusan komitmen dari pimpinan dan team secara keseluruhan, untuk melakukan pengelolaan halaman web site resmi secara berkala. Harapannya tentu agar apa yang sudah dilahirkkan dengan upaya sebelumnya, dapat terus berkesinambungan menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Nah, demikian dulu kritik yang bisa disampaikan demi memberikan masukan pada diri sendiri sebagai salah satu pengelola (yang meski hanya diminta secara lisan) halaman web site resmi pemerintah, dengan harapan tentu saja mampu melaksanakan tugas dan kewajiban secara bertanggung jawab, sehingga apa yang diinginkan oleh sebagian besar masyarakat akan Keterbukaan Informasi Publik dapat terakomodir dengan baik.

FourSquare BadGes, more and more

Category : tentang TeKnoLoGi

Rasanya untuk topik yang satu ini sudah kerap diturunkan, namun tetap saja menarik untuk ditulis lagi dan lagi.

Gara-garanya sederhana, perolehan Badges akun jejaring sosial berbasiskan lokasi, FourSquare kian hari kian bertambah meski kini sudah mulai jarang hunting informasi dihalamannya PCHolic maupun kontak dengan rekan sejawat sesama Jumper. Caranya pun cukup mudah.

Yaitu dengan mengakses halaman depan FourSquare versi web desktop untuk mencari tahu aktifitas yang dilakukan oleh sesama Jumper terpercaya, baik halaman yang disukai sebagai syarat mutlak perolehan Badges, lokasi Venue yang dimasuki serta jangka waktu yang sudah terlewati.

BadGes 4SQ PanDeBaik

Tentu hal diatas baru dapat dilakukan apabila kita berteman dengan para penghobi Jumper, dari belahan dunia lain sekalipun.

Setidaknya ada 2 akun yang rajin saya ikuti aksinya selama ada waktu senggang untuk mengakses halaman FourSquare yaitu Ginan Mashudan, seorang Jumper Indonesia yang rajin menyambangi venue berbuahkan Badges stadium dan juga Pande Putra, akun ponakan yang kini memiliki lebih dari 500an BadGes dari berbagai event.

Khusus pemilihan Venue, bisa diambil dari penampakan Badges tertampil di halaman depan. Sedang jangka waktu biasanya berkaitan dengan Event yang sedang berlangsung. Jika sial atau waktu yang terpantau terlalu jauh, biasanya daftar event yang tampak akan hilang dari halaman tanpa bisa diakses kembali.

Masih penasaran ? jalani saja aktifitas Jumpernya dan nikmati perolehan BadGesnya.

bmair.badungkab.go.id *akses yuk

4

Category : tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

Pecah juga akhirnya telur itu.

Setelah sekian lama saya menggadang-gadangi para pimpinan di kantor lama Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung, lewat studi Thesis Sistem Informasi Jalan Raya Kabupaten tahun 2009/2010 lalu, rupanya membutuhkan waktu tiga empat tahun untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Sayangnya, kini saya sudah berada diluar garis, sehingga agak sulit uuntuk membantu pengelolaannya secara penuh.

bmair.badungkab.go.id

Merupakan alamat resmi dan final version dari SKPD Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung, setelah mengalami tarik ulur penggunaan alamat, baru tercapai di kali ketiga. Jika kalian pernah mengikuti tulisan saya sebelumnya, bakalan ditemukan histori tersebut, dimana awalnya menggunakan domain binamarga.badungkab.go.id, kemudian binamargapengairan.badungkab.go.id dan terakhir, tentu saja bmair.badungkab.go.id

Perjalanan diputuskannya alamat subdomain terakhir, bukan tanpa maksud, dimana salah satu pertimbangan yang saya berikan pada pimpinan agar singkat dan padat sehingga mudah diingat. Berhubung status bmair atau singkatan dari Bina Marga dan pengAIRan ini adalah merupakan subdomain dari halaman web induk, badungkab.go.id. itupun sesudah melakukan penolakan bahwa tidak mungkin jika kami menggunakan domain pribadi seperti binamargapengairanbadung.com atau lainnya tanpa menyertakan domain induk, sebagai syarat halaman web resmi milik pemerintah.

Selain mengalami tarik ulur keputusan, terkait struktur dan desain juga menjadi masalah lantaran saya hanya memahami satu mesin pembuat web/blog yaitu WordPress, sedangkan secara kebutuhan dan interaksi data, saya meyakini bahwa dibutuhkan pengetahuan lebih dari para ahlinya demi mewujudkan puluhan ide segar pimpinan.

bmair badung panDeBaik

Maka berkat bantuan pihak ketiga, halaman web resmi milik Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung pun akhirnya bisa diluncurkan, walau secara diam-diam tanpa seremonial resmi ataupun acara launching yang mewah. Hal ini serupa dan mengingatkan saya pada peluncuran halaman LPSE milik Pemkab Badung akhir tahun 2010 lalu.

Jadi, silahkan diakses ya halaman kami di bmair.badungkab.go.id, dan silahkan memberi masukan, kritik dan sarannya lewat tulisan ini. Namun mohon maaf, mengingat sang admin yang dahulunya didaulat untuk melakukan Update Data kini sudah berpindah kantor *meskipun hanya berpindah ruangan, sehingga untuk data belum bisa disajikan secara kebutuhan terkini.

Yuk akses halaman bmair.badungkab.go.id

(Pilihan) Games di Masa Kerja PNS

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu Kesalahan penempatan Meja Kerja di lingkungan pegawai Pemerintahan adalah posisi komputer yang SEHARUSNYA membelakangi Pintu Masuk…

Tujuannya adalah agar para Pegawai bisa tanggap dan cepat saat ada tamu atau warga yang datang untuk meminta Informasi, sehingga begitu sang tamu datang membuka pintu, mata si pegawai pun bisa langsung tahu… selain untuk memudahkan bermain games tanpa ketahuan *uhuk

Hehehe… itu hanya sebuah joke yang saya lontarkan pasa status FaceBook senin siang, 17 Juni 2013 waktu lalu. Sesaat setelah memergoki salah seorang kawan yang sedang bermain games Zuma di ruangannya yang kosong, entah hanya karena ingin membunuh waktu ataukah memang gag ada yang bisa dikerjakan lagi (bahasa halus untuk kurang kerjaan *uhuk)

Tapi itulah, salah satu opsi positif yang dahulu pernah saya tawarkan saat awal-awal menjadi Pe eN eS. Setidaknya menjadi positif ketimbang mereka keluyuran di mall, pasar atau pulang kerumah, bahkan ada juga yang memilih untuk janjian dikamar shorttime… oke, memang gag semuanya Pe eN eS itu begitu, namun demikianlah kenyataan yang sebenarnya.

Akan tetapi apa yang ingin saya ceritakan kali ini bukanlah soal minimnya kedisplinan para Pe eN eS kita yang hingga kini masih digandrungi untuk menjadi salah satu mata pencaharian paling santai, namun lebih pada pilihan Games atau permainan komputer yang sejak jaman dahulu kala sudah digemari untuk membunuh waktu luangnya.

Pertama dan paling fenomenal tentu saja Bola-Bola. Sebenarnya games yang satu ini memiliki nama asli Magic Lines, tapi lantaran bentuk permainan yang menyajikan gambar bola dalam 2 dan 3 dimensi, maka sebetulnya sah-sah saja dinamakan demikian. Bahkan baik penamaan shortcut maupun file aplikasinya pun sudah diubah menjadi Bola-Bola tadi.

Awalnya memang membingungkan saat pertama kali ditanya perihal games Bola-Bola, karena dalam pandangan saya, Bola-Bola justru mengarah pada permainan Bounce kembangannya GameHouse yang saat itu saya sukai. Maka bisa ditebak, bahwa selain games Bola-Bola atau Magic Lines, Bounce pun dengan segera diminati dan saya jadi kebanjiran order untuk mengcopy-nya ke komputer atau pc di lain ruangan. Apalagi saat itu yang namanya FlashDisk masih belum familiar, dan slot USB di PC pun masih tergolong langka.

Berbekal sekeping cd-r berisikan installer file games milik GameHouse bajakan, sayapun naik turun bergantian pindah dari satu pc ke pc lain, hanya untuk menginstalasi permainan Bounce Out plus makin berkembang menjadi Zuma, Feeding Frenzy dan banyak lagi lainnya. Masa penularan pembunuh waktu dari sisi positifpun sukses dengan sempurna.

Dibandingkan dengan pola perkembangan pilihan ketersediaan games yang dimainkan oleh para Pe eN eS di lingkungan kami, bisa dikatakan sangat lambat jika dibandingkan dengan jenis permainan yang pernah saya kenali dan uji coba di kantor, seperti GTA II, III, Raiden, Cake Mania, Plants and Zombie hingga Need For Speed. Yang ada hingga kini masih betah untuk dimainkan hanyalah Zuma, seperti yang saya pergoki tadi.

Padahal awal tahun lalu, saya sempat menginstalasi beberapa permainan Angry Birds yang sayangnya menurut mereka masih tergolong sulit untuk dimainkan ketimbang Zuma. Dan rasa deg-degannya itu yang gag ada. Sehingga untuk melengkapi seri Zuma yang ada, sayapun melepas beberapa games atau permainan senada seperti misalkan Luxor. Namun tetap saja Zuma menjadi favorit.

Tapi ngomong-ngomong, ada yang tau games atau permainan apa yang dahulu ngetrend di kalangan pegawai Pe eN eS dimanapun mereka berada ? saya kasihkan clue atau petunjuk, yaitu di era disket 1.44 ataupun disket besar ? ini saya lakoni pada masa SMP dahulu, kerap diajak mampir ke kantor kelurahan dan dinas dekat rumah oleh kakak-kakak yangg sudah berstatus pegawai pemerintahan. Hehehe…

Tetris, Supaplex, Doom (tingkat mahir) atau MotoGP. Yang Secara grafis, jangan dulu deh disaingkan dengan games pemula masa kini, karena dari segi ukuran file eksekusinya pun masih tergolong mini. Satu disket kecil yang berukuran 1,4 MB pun bisa diisi sekitar 5-10an games terbaik masa itu :p

Nah, kalian sendiri, masuk masa games yang mana ? :p

Mempertanyakan Kredibilitas para pengkaji Feasibility Study

2

Category : tentang Opini

Kasus reklamasi pantai Tanjung Benoa oleh Artha Graha yang sedianya akan dilaksanakan pasca pencitraan semu dengan mendatangkan pesepakbola ternama Christiano Ronaldo bersama Pak Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI akhir Juni lalu, pada akhirnya mengundang banyak reaksi penolakan.

Dilihat dari perencanaannya, tentu rencana reklamasi yang bisa jadi dibaliknya terdapat nama seorang pengusaha kelas wahid Tommy Winata, terlihat begitu sistematis dan mengagumkan, mengingat banyak pihak yang kemudian dilibatkan, salah satunya Universitas Udayana, Perguruan Tinggi Negeri Bali yang sudah melahirkan banyak sarjana, magister bahkan doktor dan profesor.

Yang sayangnya berlaku sebagai pengkaji feasibility study atau analisa kelayakan dari target Reklamasi pantai seluas 400 hektare itu. Yang hasilnya tentu mendukung upaya reklamasi dengan belasan pembelaan dan dampak positif serta meminimalkan dampak negatifnya. Kesimpulan akhir, reklamasi pantai Tanjung Benoa, layak untuk diwujudkan.

Hasil feasibility study semacam ini, saya yakin sudah tidak asing lagi terdengar dan terbaca dimedia, mengingat sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebuah FS atau analisa kelayakan bahkan dapat dibeli untuk memberikan satu keuntungan pada pihak yang memberikan tugas.

Hal ini tentu mengingatkan saya pada sesi pemaparan proposal Thesis di kelas Manajemen Konstruksi Magister Teknik Sipil Universitas Udayana, tahun 2009 lalu. Dimana saat itu salah satu kawan kuliah di angkatan kami, mengangkat satu tema yang begitu diminati banyak mahasiswa pasca sarjana lainnya, mengingat mudahnya topik diarahkan dan diselesaikan. Yaitu Analisa Kelayakan pada sebuah bangunan apartemen yang sedang dibangun di wilayah Kuta, Kabupaten Badung.

Satu pertanyaan yang saya ajukan saat itu adalah ‘bagaimana tindak lanjut yang kelak akan disarankan, apabila ternyata dalam proses dan hasil akhir analisa kelayakan menyatakan Tidak Layak untuk dibangun ? Dengan kata lain, apakah untuk mendukung satu kepentingan, proses dan hasil analisa kelayakan harus dipaksakan atau dilayak-layakkan ?’

Pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh si kawan kuliah saat itu. Tentu mandegnya jawaban yang diharapkan, mengakibatkan saya secara respek diserang balik oleh para sejawat si kawan kuliah yang tidak terima rekannya di pojokkan dengan pertanyaan tersebut.

Bisa jadi kondisinya saat ini serupa dengan hasil analisa kelayakan yang dikerjakan oleh para cendekia pintar di perguruan tinggi yang kebetulan menjadi almamater saya selama 2 periode perkuliahan.

Balik berbicara tentang analisa kelayakan yang dibuat oleh Tim LPPM Universitas Udayana dengan studi kasus reklamasi pantai Tanjung Benoa, bisakah dibeberkan kepada publik, bagaimana proses, kriteria penilaian, sumber data yang dicari serta dasar hukum yang digunakan sehingga hasil kajian, sudah barang tentu dan dijamin 120 persen akan menghasilkan kesimpulan layak untuk dilanjutkan dan diwujudkan.

Nah, apabila kemudian ditengah jalan pasca hasil kesimpulan analisa kelayakan dibeberkan kepada publik namun lebih banyak bertentangan dengan logika sosial, apakah publik, termasuk saya tentu saja, bisa mempertanyakan kredibilitas para penyusun kajian, baik kemampuan, daya analis, pola pikir serta kepentingannya, sehingga jika ini bisa membuktikan bahwa sebuah analisis Kelayakan dapat dipesan sesuai tujuan, dapat menjadi pembelajaran bagi para pembuat kajian lainnya, agar tidak serta merta menggadaikan kemampuan daya analisnya demi segepok uang.

Minimal kelak, jikapun kemudian lembaga pengkaji bisa bersifat independen, hasilnya bisa jadi tidak layak untuk diwujudkan, mengingat a, b, c, d dan seterusnya.

Apakah itu dimungkinkan ?