Akhirnya, kakakku berpulang pada-NYA

10

Category : Cinta, tentang DiRi SenDiri

Telpon berdering pagi hari, sesaat usai aku bangun dari tidurku, masih mengajak Intan bercanda di sofa usang, dan bathinku telah bisa menebaknya…

Tanpa menunggu banyak waktu, aku bersiap dan memanggil Bapak untuk meluncur ke Rumah Sakit Wangaya secepatnya. Kakak sudah dalam kondisi kritis.

Setiba di kamar 307, aku bergegas menuju ruang jaga perawat dan meminta informasi selengkapnya agar bisa mengabarkannya pada suaminya dan ibu dirumah. Kakak masih dalam kondisi koma, tekanan darahnya drop 40/60… Hasil pemeriksaan gula terakhir sekitar 147…

Perawat datang membawa alat untuk memeriksa denyut, dokter pun hadir untuk memastikannya…

Kakakku telah berpulang pada-NYA…

Masih lekat di ingatan, permintaan terakhirnya untuk pulang kerumah… Yang ia sampaikan pada suaminya kemarin… Mungkin itu sudah merupakan satu tanda darinya pada kami… Dan akupun telah menyadarinya sejak awal…

Pande Made Hartiasih, seorang kakak yang lahir 42 tahun yang lalu kini telah pergi… Meninggalkan kami yang masih terpekur disini…
I LOVE YOU mbok Mami…

Kangen *uhuk

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Belum genap seminggu saya bertugas sebagai Kepala Seksi Permukiman Dinas Cipta Karya Kabupaten Badung, rupanya rasa kangen hampir setiap hari mendera. Mungkin ini merupakan efek dari suasana baru, yang kalo gag salah pernah pula saya rasakan saat berpisah dengan Tim 10 pelaksana LPSE Badung periode awal.

Namun kini, bisa dikatakan rasa kangen ini jauh lebih besar, mengingat saya meninggalkan tiga tempat yang hingga minggu lalu masih kerap disambangi.

Kantor Pengendalian dan Evaluasi Dinas Bina Marga dan Pengairan. Ruangan ini memang sejak awal saya tempati, pun sejak kami masih berkantor di jalan Beliton saat pertama kali lolos CPNSD tahun 2003/2004 lalu. Suasana kerjanya adem, apalagi menjadi salah satu karyawan tertua *eh terlama disitu, menjadikan saya sedikit lebih menguasai medan untuk beberapa pekerjaan. Syukurnya, ruangan ini berada di gedung dan lantai yang sama, jadi kalopun kangen dengan ruangan dan orang-orangnya, saya tinggal mampir bentar usai ke Toilet ataupun makan siang. :p

Kantor LPSE Badung. Ruangan kecil namun nyaman untuk saya tempati di lantai bawah, merupakan rumah kedua yang biasa disambangi saat senggang di kantor utama. Pun sebagai tempat untuk melakukan tugas jaga dan rutin sebagai Sekretaris Badung, memformulasikan Tim, Adminstrasi hingga hobby tanpa gangguan banyak hal.

Terakhir, tentu saja Rumah. Oke, memang tidak sepenuhnya saya meninggalkan rumah, namun waktu untuk bercanda, bersendagurau bersama Istri, dua putri dan orang tua, secara otomatis jadi berkurang. Apalagi dalam waktu seminggu pertama ini, BPK sedang gencar-gencarnya meminta data secara berulang. Maka jadilah saya berangkat pagi dan pulang malam. Tiba dirumahpun, baik MiRah dan Intan yang kini lagi lucu-lucunya tidak bisa saya ajak terlalu lama. Keburu tidur…

Terlepas dari ketiga hal tersebut, hubungan personal saya dengan Istri dan dua senior di LPSE pun jadi agak merenggang. Namun kalian jangan coba-coba mengambil kesempatan usai membaca kalimat diatas *uhuk

Jika dulu, Istri secara rutin saya ajak berangkat bareng, pulang bareng hingga makan siang bareng, kini sudah gag lagi. Apalagi dengan hadirnya BPK, jam pulang saya sudah molor jauh dari biasanya. Pun dengan jam makan siang yang terganggu akibat panggilan mendadak. Sedih sih kadang-kadang, gag ada yang bisa diajak sharing atau ketawa bareng, tapi kalo mengingat pada tugas, semua itu ya memang harus dijalani. Mungkin nanti ada masanya kami ngumpul lagi.

Demikian halnya dengan kedekatan terhadap dua senior di LPSE Badung. Jika dahulu kami secara rutin berkumpul untuk membahas hal-hal yang menjadi kesulitan seminggu terakhir dan berusaha memecahkannya, kini sudah mulai jarang ngumpulnya. Baik secara nyata atau langsung atau via whatsapp. Untuk yang ini, sedihnya gag sebesar kalo dengan istri, namun tetap saja merasa

kasihan dengan mereka berdua. Tapi yah, ini juga menjadi resiko atas kepindahan yang saya lakukan. Semoga saja kali lain bisa terwujud ngumpul-ngumpulnya.

Kangen…
Entah sampai kapan rasa ini bakalan menghantui hari-hari…

Doa untuk Kakak

Category : tentang DiRi SenDiri

Duduk di pojokan deretan kamar rawat inap lantai tiga paviliun praja Rumah Sakit Wangaya, mengingatkanku pada masa menunggui MiRah putri kami saat ia terbaring sakit akibat Demam Berdarah beberapa waktu lalu… Kini kami kembali lagi di tempat yang sama untuk menunggui kakak kandungku yang jauh lebih lemah terbaring akibat kanker lidah, menggerogoti tubuh dan dagingnya hingga menyisakan kulit membungkus tulang. Sangat memprihatinkan.

Pikiranpun melayang…

Masih lekat dalam ingatanku. kakak ikut mengantar kami ke seputaran Kuta hanya untuk mencari sepatu kets berwarna putih sebagai kewajiban dan keharusan bagiku di kantor Bupati melaksanakan tugas hari jumat pagi. Itu kebersamaan kami yang terakhir, melihatnya makan dengan lahap bersama putranya.

Jauh setelahnya, kamipun masih sempat berkumpul bersama kakak kandung laki-lakiku yang datang ke Bali, dan menghabiskan waktu sekeluarga sehari sebelum keberangkatannya balik ke Kanada. Saat itu ia sudah tak dapat lagi makan dengan baik mengingat sakit yang ia derita pada lidah dan telinga. Aku masih ingat, hanya kuah bakwan yang dapat ia telan serta sedikit nasi untuk mengisi perut di tengah keriuhan kami bersendagurau.

Perjuangannya sungguh berat terasa.

Kanker lidah yang divonis telah mencapai stadium empat dalam waktu singkat, telah mengagetkan syaraf kami hingga titik yang terbawah. Ditambah diagnosa dokter akan Diabetes yang diderita makin melengkapi kesedihan kami, akan keinginan kakak untuk sembuh seperti sedia kala.

Dokter sama sekali tak berani untuk memberikan keputusan akan langkah apa yang harus kami perbuat. Pengobatan kanker atau kemoterapi tak disarankan, mengingat lemahnya kondisi kakak saat itu serta diabetes yang diderita mengecilkan kemungkinan untuk dilakukannya tindakan. Satu-satunya langkah yang menjadi harapan saat itu adalah mencoba jalan alternatif ke Tangerang, pada seorang ilmuwan yang sedang mengembangkan cara membunuh sel kanker lewat alat yang dibuat secara khusus sesuai kondisi pasien.

Hasilnya nol… Sama sekali tak berpengaruh… Dan kondisi kakak makin tambah parah dengan keluarnya air liur dan dahak dalam jumlah banyak, serta sulitnya ia menelan makanan yang meski sudah diblender dan disaring oleh ibu dan suaminya. Pasrah…

Meski demikian, dalam kepasrahan kami tetap berbuat untuk berobat dan berobat. Namun keinginan untuk menyembuhkan kakak selalu tersandung pada kesulitan untuk mencerna obatnya, dan kondisinya kini pun bertambah kritis.

Rabu siang lalu merupakan neraka bagi kami. Disini semua idealisme, harapan dan amarah tertumpah hingga akhirnya kakak diputuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit demi mendapat asupan infus dan cairan makanan yang disuntikkan lewat selang, gara-gara selama dua hari ini tak ada apapun yang bisa ia telan lagi. Ketimbang menunggu, bukankah lebih baik kami berbuat ?

Waktu kian menunjukkan malam yang semakin pekat. Hujan diluaran pun mulai turun membasahi bumi. Demikian halnya air mata kami yang menetes satu demi satu hanya untuk bisa panjatkan doa untuk kakak, demi mukjizat dan kesembuhannya nanti…

Biarpun lama, namun kehadirannya akan tetap kami tunggu… Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih mendengarnya…

Menanti Mukjizat dari-NYA

Category : tentang DiRi SenDiri

Aku lupa, sudah berapa lama kami tak bercandatawa seperti dahulu… Berkumpul bersama, menikmati hari minggu pagi bersama anak dan orangtua, untuk sekedar melepas penat bekerja seminggu penuh beban… Saatnya untuk melepas dengan kegembiraan…

Aku lupa, sudah berapa lama suara itu hangat menyapaku… Hanya untuk bertanya kabar putri kami atau keadaan orang tua yang kebetulan jarang berkunjung untuk melepas rindu… Sambil membawakanku sebungkus makanan kesukaan, yang biasanya kami bagi sedikit dengan anak-anak…

Aku lupa, kapan terakhir kali melihat wajahnya yang gembira, entah usai mendapatkan THR, datang dari jalan-jalan atau menonton sesuatu… Dan senyum itu selalu terbayang hingga hariku kini…

Aku lupa, kapan terakhir kali aku ucapkan jika aku menyayanginya dan mengharapkan kesembuhannya, hingga kami bisa berkumpul seperti dulu lagi… Aku lupa…

Yang mampu aku ingat hanyalah gambar karikatur yang kubuat saat ia menikah dulu, sebagai satu tanda mata bahwa aku sangat kehilangannya sebagai kakak meski rumah yang ia tempati berada bukan diseberang pulau… Kini rupanya masih tergantung di tembok kamarnya seperti awal dahulu…

Yang mampu aku ingat hanyalah uang pemberiannya yang hanya aku terima jika aku mau, karena kami berdua masing-masing sudah berkeluarga dan punya tanggung jawab… Satu kali saat aku menikah… Satu kali saat wisuda… Satu kali saat kelahiran MiRah putri kami… Meski tak banyak, tapi aku tahu ia ingin aku menyimpannya…

Yang mampu aku ingat hanyalah perjuangannya saat ia remaja, tekun dan giat mencari uang sampingan, sedikit demi sedikit sejak akhir tahun, mengumpulkan persiapan untuk hari Valentine kelak, dengan membuat kartu ucapan dan dijual
di toko terdekat…

Yang mampu aku ingat, saat ia mengajarkan aku mengendarai mobil Kijang Jadul ke arah Bukit Jimbaran selepas masa SMA, agar aku berani melintasi naik turunnya jalan raya juga keramaian, persiapan kuliahku kelak…

Tapi Kini ia hanya bisa terbaring tanpa mampu berbicara lagi… Satu satunya komunikasi yang mampu ia lakukan dengan cara mengetikkan pesan lewat fitur sms pada ponsel miliknya, untuk kemudian diperlihatkan pada orang yang ia tuju…
Hanya kulit yang membalut tulang saja yang tersisa…

Aku bisa merasakan kesakitannya saat kupapah ia dengan kedua tanganku dari tempat tidur menuju kendaraan rabu malam lalu… Sangat ringkih dan dengan nafas tertahan…

Aku bisa merasakan keinginannya untuk sembuh namun tak kuasa mendapatkannya, entah karena Beliau belum menghendaki, entah karena faktor apa yang menyebabkan, entah sampai kapan ia harus mengalaminya…

Suasana Baru di Permukiman

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Memasuki ruangan yang terletak di pojok kelod kauh (barat daya) masih di lantai dan gedung yang sama, sebenarnya sudah beberapa kali pernah saya lakukan, hanya saja sama sekali tak pernah terpikirkan bahwa saya bakalan memulai karir dari ruangan ini.

Bertemu dengan sedikitnya sepuluh kawan baru, sebelas hingga pimpinan terdahulu yang kini saya gantikan, memberikan banyak perubahan baik itu cara meminta tolong (jika kalimat ‘memberi perintah’ terlalu arogan kesannya buat saya) lantaran sebagian besar dari kawan baru ini lebih berumur, cara bekerja lantaran perubahan pola dari pekerja lapangan dan komputer ke balik meja pengambil keputusan, atau rajin melaporkan perkembangan kerja pada pimpinan. Semua itu kemudian memberi satu efek yang luar biasa pada kebiasaan saya… Kurang Nafsu Makan.

Oke, bisa jadi ini terjadi gara-gara saya merupakan tipe pesuruh, yang lebih suka bergerak di lapangan atau bekerja berdasarkan perintah namun tidak bisa memberi perintah, atau tipe yang lebih suka eksplorasi hal nyata, bukan bahasa dan aturan serta birokrasi, hingga menyebabkan kekagetan luar biasa.

Untuk itu pula, saya lalu memohon sedikit kebijakan dari pimpinan agar diberi kesempatan mempelajari medan terlebih dahulu, sebelum terjun didalamnya nanti. Tentu dengan sedikit konsekuensi dan penyesuaian. *maaf apabila banyak pihak yang kemudian direpotkan

Namun seiring berjalannya waktu, meski belum sampai seminggu, bekerja bersama sebagian dari tim yang saya miliki, sungguh mengagumkan. Loyalitas mereka luar biasa. Hanya saja saya belum mampu melakukankan secara full team. Semoga saja apa yang saya khawatirkan tidak separah yang saya bayangkan. Meski sudah mulai terlihat bentuk kasarnya.

Yang hingga kini masih tetap menjadi beban adalah seberapa besar dan banyak kegiatan yang harus saya tangani dalam setahun nantinya, dan tentu berulang ditahun berikutnya. Memang tak akan bisa saya jawab dalam hitungan hari, namun tetap saja itu memberikan kekhawatiran akan kesalahan-kesalahan yang kelak akan saya perbuat.

Praktis, semua ini bakalan membuat saya makin jarang bisa menulis, ngoprek hingga bermain games *uhuk dan mengajak dua putri kami bercanda tawa seperti dulu.

*fiuh…
*apapun yang terjadi, terjadilah…
Hanya berharap bahwa semua bisa berjalan dengan baik…

Menjadi Bagian dari Sistem

4

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Kaget ? Tentu saja… Kaget setengah mati malah…

Sesaat setelah mendengar kabar dari Pak Gus Kompyang, kawan di Bagian Umum dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung, minggu malam 28 April 2013 lalu, di Bale Banjar Tainsiat, sesaat setelah Serah Terima jabatan *uhuk Komandan Regu VIII ke Danru yang baru, pikiran saya seakan blank lantaran tidak menyangka bakalan mendapat kabar secepat itu…

Oke, meski Golongan saya sudah memenuhi syarat (III/c), pun gelar S2 sudah dikantongi tahun 2010 lalu, tak sedikitpun hasrat dan ambisi saya terlintas dibenak untuk naik menjabat sebagai Eselon IV mengingat ketiadaan koneksi dan usaha yang saya lakukan untuk melobi tingkat pimpinan yang lebih tinggi.

Jabatan itu adalah sebuah Amanah…

Demikian hal yang saya tahu dari kalimat yang dilontarkan oleh banyak ulama negeri ini. Bisa jadi ada benarnya…
Karena ketika mendengar kabar mengejutkan ini, sontak banyak hal yang terpikirkan seolah bersiap menjadi beban baru. Entah hubungan dengan staf, atasan ataupun secara horisontal, jenis pekerjaan, banyaknya, lingkup dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya…

Tak lupa memikirkan pula nasib saya sebagai Sekretaris di LPSE Badung, mengingat salah satu warning yang diberikan oleh pimpinan disitu adalah, posisi akan dikeluarkan segera setelah menjabat. So ?

Bukan, bukan masalah posisi dan peluangnya yang saya pikirkan, namun besaran reward yang selama ini saya terima secara resmi sesuai Peraturan Bupati Badung. Dimana reward ini sangat diandalkan untuk menutupi kebutuhan akan besarnya Biaya Asuransi Kesehatan yang saya tanggung untuk keluarga. Jika kemudian tidak ada lagi pos yang bisa diharapkan, mau nyari dari mana ?

Lantaran ini yang pertama kali dan tidak terduga, praktis kualitas tidur yang saya dapatkan pun tidak senyenyak biasanya, meskipun sebelumnya ya tidak bisa dikatakan nyenyak :p hampir ada saja beban yang saya pikirkan saat beranjak tidur, termasuk kesulitan Login yang dialami oleh kawan”ULP dan Rekanan di SPSE milik LPSE Badung sejak hari Jumat kemarin.

Nyatanya kini saya memulai karir dari Kasie Permukiman di Dinas Cipta Karya Kabupaten Badung. Sebuah tempat dimana bercokolnya pengajuan kegiatan fisik Jalan Lingkungan yang jumlahnya ratusan, plus pavingisasi dan PNPM yang rawan dikorupsi itu. *hasil telaah media Radar Bali setiap pagi

*fiuh…
*apapun yang terjadi, terjadilah…
Hanya berharap bahwa semua bisa berjalan dengan baik, tanpa satu hambatan yang menusuk dada…

Makin Jarang Oprek Android

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Memiliki sebuah perangkat Android nampaknya mau tidak mau, suka tidak suka, rata-rata pasti pernah terbersit keinginan bahkan hingga mencoba langsung aksi oprek mengoprek perangkat, dengan maksud dan tujuan tertentu. Entah menginginkan kinerja yang lebih baik, menembus batas normal yang mampu dilakoni kemampuan handhelds, bahkan coba-coba, ingin tau atau membuatnya keren secara penampilan tok. Diluaran itu, tentu masih banyak alasan lagi yang bisa diungkap jika kalian merupakan salah satunya…

Demikian halnya dengan saya. Perkenalan pertama dengan perangkat Android awal tahun 2011 lalu merupakan pintu gerbang dari semua aksi ekstrem yang pernah saya lakukan sepanjang kisah kepemilikan sebuah ponsel. Dari proses Upgrade OS Android versi 2.2 Froyo ke 2.3 GingerBread, Rooting, BootLoop, Flashing, Custom Rom, CWM hingga Mati Totalnya HTC One V padahal belum diapa-apain :p sedang Samsung Galaxy Ace pertama malah aman hingga akhir hayatnya… Dijual :)) Ada banyak pengalaman yang saya dapat selama menjalani proses tersebut, satu diantaranya bahwa aktifitas ekstrem seperti yang disebutkan tadi sebetulnya gag perlu-perlu amat dilakukan oleh setiap pengguna ponsel dan tablet berbasis Android. Karena memang beda kebutuhan, dan kepentingan. Apalagi bagi mereka yang memegang ponsel atau tablet berkategori flagship dengan spesifikasi hardware yang jelas jauh lebih tinggi.

Katakanlah aktifitas Rooting.

Salah satu alasan kenapa handhelds dijejajli aktifitas Rooting adalah terkait permasalahan minimnya internal storage yang ada, lantaran tidak ada keterbukaan peluang untuk mempertanyakan dan memberi kuasa kepada pengguna perangkat, bakalan ditaruh (baca:install) dimana aplikasi maupun games yang diminati kali ini ? Sangat berbeda jika dibandingkan dengan proses instalasi pada perangkat berbasis Windows Mobile maupun Symbian terdahulu, karena sejak awal pengguna diberikan kebebasan untuk menentukan posisi instalasi. Dengan demikian, pada kasus Android, perangkat akan secara otomatis meletakkannya di posisi dimana sekiranya dibutuhkan untuk mempercepat akses, bahkan bisa jadi aplikasi atau permainan yang berukuran besar malah dijejalkan pada internal storage yang biasanya tergolong minim dibekali.

Selain itu terkait pula dengan besaran sisa memori RAM yang tersedia, untuk dapat menjalankan aplikasi ataupun permainan secara sempurna dalam bentuk multitasking. Nah, dua hal inilah yang biasanya menjadi hambatan bagi pemilik perangkat untuk menginstalasi lebih banyak aplikasi dan games sesuai keinginan, lantaran begitu banyaknya ketersediaan yang ada di pasar aplikasi atau yang kerap disebut dengan Google Play. Hal ini tentu tidak akan terjadi pada perangkat Android terkini yang biasanya telah dibekali internal storage minimal 4 GB hingga 32 GB plus memory RAM minimal sebesar 512 MB.

Berbeda lagi dengan aktifitas UpGrade dan perburuan Custom ROM, dimana tujuan utamanya menginginkan pembaharuan sistem operasi dan aplikasi Android dan tentu saja perubahan tampilan khas teknologi Android yang sedang berkembang kini. Terpantau sistem terakhir yang banyak digunakan oleh berbagai perangkat Android baik lokal maupun branded adalah versi 4.0 Ice Cream Sandwich dan 4.1 Jelly Bean, dan sebentar lagi bakalan meluncur pula 4.2 Key Lime Pie.

Jika para vendor perangkat merasa peduli untuk memperhatikan konsumennya, biasanya sih bakalan secara rutin memberikan pembaharuan versi sistem operasi, selain bertujuan untuk mencegah adanya celah keamanan yang berpotensi masuknya segala ancaman berupa virus, malware, script dan lainnya. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan para vendor lokal, ataupun seri lama namun branded, yang rata-rata tidak memiliki tim pengembangan sistem operasi tersendiri, sehingga penggunanya harus berpuas diri pada sistem yang dibekali sejak awal. Hal inilah yang kerap menjadi alasan mengapa aksi perburuan Custom Rom itu terjadi. Syukur apabila banyak pengembang independen di luar sana mau membuat versi Custom Rom sendiri, yang biasanya menyasar seri Android yang banyak digunakan, jika tidak ? Gigit jarilah mereka ini pada akhirnya… Namun apakah sedemikian perlunya aktifitas UpGrade ataupun perburuan Custom Rom ? Jika itu resmi dikembangkan oleh para vendor, tentu jawabannya harus, mengingat faktor keamanan tadi plus bonus aplikasi, yang barangkali memang dinanti oleh para penggunanya.

Sedang Custom Rom, ada baiknya sih sebelum mencoba dan menggunakannya pada perangkat yang kawan miliki, agar sebanyak mungkin mengumpulkan informasi terkait versi tersebut. Dari fitur dan aplikasi tambahan apa yang dimiliki, langkah serta proses yang harus dijalankan, apakah terdapat patch atau penyempurnaan instalasi sesudahnya, dan bugs atau hal-hal yang barangkali kelak sulit untuk dijalankan. Biasanya sih ini terkait penggunaan kamera, suara, atau koneksi wireless. Karena memang pengembangan Custom Rom ini tidak dibarengi dengan uji coba secara mendalam pada banyak perangkat. Jadi hati-hati sebelum melakukannya. Kegagalan proses yang terjadi baik dalam aksi Rooting maupun Upgrade dan perburuan Custom Rom ini biasanya mengakibatkan perangkat mengalami bootloop (gambar pembuka yang ditampilkan berulang-ulang tanpa kepastian tindaklanjutnya) atau brick dan mati total. Bayangkan jika itu sampai terjadi ? Bukankah jadi lebih repot ? Dan kasihan juga data contact, agenda dan data lain yang tersimpan dalam perangkat namun tidak sempat diselamatkan.

Sedang saran lain dari proses perburuan Custom Rom adalah penggunaan Launcher yang biasanya jauh lebih aman untuk dicoba dan memiliki banyak variasi tema untuk dicoba. Bisa jadi untuk mendapatkan tampilan ‘ala Jelly Bean misalkan, cari dan install saja Launcher Jelly Bean. Simpel kan ?

Barisan aktifitas semacam itu bisa dikatakan hampir setiap minggu menjadi agenda rutin, apalagi jelang perangkat Samsung Galaxy Ace S5830, Android pertama yang saya miliki, berencana untuk dijual lantaran jarang dipergunakan. Hal ini terjadi karena istri, saya hibahkan kepemilikan HTC One V, hadiah dari HTC Road beberapa waktu lalu, sedang saya pribadi memegang perangkat Tablet Samsung Galaxy Tab 7+ saat harga promo setahun lalu. Dan lantaran sudah kadung jatuh cinta pada versi TabletPC, sayapun enggan beralih lagi ke perangkat Android berlayar 7 kebawah. Dua minggu sebelum Ace dijual, sayapun kemudian mencoba menguji beberapa Custom Rom yang sudah dikumpulkan jauh sebelumnya satu persatu. Hasilnya ? Lihat saja pada daftar Halaman Android yang ada di halaman ini poin ….. Setelah puas, baru deh Ace laku terjual. Nah, pasca kepemilikan TabletPC 7+, praktis semua aktifitas diatas kecuali Upgrade, sudah tak lagi saya lakukan, lantaran secara besaran internal storage sudah cukup lapang (16 GB ditambah eksternal untuk foto, video dan buku sebesar 16 GB), plus memory RAM sebesar 1 GB tentu sudah lebih dari cukup. Apalagi secara jatah sistem operasi, Versi 4.0.4 Ice Cream Sandwich sudah bisa dinikmati setelah berpuas diri dengan OS bawaan 3.2.1 Honeycomb. Sayapun tak berminat lagi mencoba Custom Rom hanya untuk mendapatkan Jelly Bean, cukup menggunakan beberapa Launcher secara bergantian, dari Go Ex, Espier, DX hingga kini Apex Pro. Sudah sangat lumayan dan memuaskan.

Makin jarangnya saya melakukan barisan aktifitas tersebut, pun disebabkan oleh alasan yang sama dengan makin jarangnya punya kesempatan untuk menulis, seperti yang sempat diungkapkan beberapa waktu lalu. Jadi mohon maaf apabila belakangan saya memang jarang menurunkan tips, trik atau pembelajaran lainnya tentang Android baik di Blog maupun akun Twitter. Apalagi saat ini, pasokan perangkat Android baru tergolong jarang saya dapatkan mengingat rata”perangkat yang diambil oleh kawan dan saudara, sama satu dan lainnya. Yaitu Samsung Galaxy Note II. Jadi ya harap maklum saja. *uhuk

Video LPSE Management Training Advanced Badung Bali

Category : tentang PeKerJaan

Berikut Link Video terkait kegiatan LPSE Management Training Advanced yang diselenggarakan di Kabupaten Badung Provinsi Bali, tanggal 2-4 April yang lalu, kerjasama LKPP dengan LPSE Badung.

Support by BaliTV (Terima Kasih untuk bli bagus Gede Susila aka Yan Nusa)

Video LPSE MT Advanced Badung bali

powered by YouTube