Empat Video Van Der Spek Menampar Bali

1

Category : tentang InSPiRasi, tentang KeseHaRian

Menarik, Sangat Menarik tentu saja…

Menyaksikan satu persatu dari empat video tentang praktek Penipuan di Bali yang direkam secara diam-diam oleh Van Der Spek, seorang turis dari Belanda yang berprofesi sebagai Wartawan/Jurnalis sebuah media di negaranya, cukup membuat miris dada akan perilaku orang Bali yang tak lagi dikenal jujur dan ramah pada wisatawan. Semua hanyalah sebuah kamuflase yang dibalut oleh keserakahan akan uang.

Ya, uang kini sudah bagaikan Dewa dan menjadi segalanya…

Padahal jikapun diperhatikan jauh lebih dalam, rasanya Orang Bali pelan tapi pasti seakan sudah mulai melupakan ajaran agama yang sejak kecil ia baca, pelajari dan lakukan. Misalkan saja Tri Kaya Parisudha, Berpikir, Berkata dan Berbuat yang Baik…

Dengan bukti yang kini sudah dapat dilihat secara luas, apakah perilaku Orang Bali (meski hanya oknum, namun siapa peduli ?) sudah jauh dari keyakinan akan Karma Phala ?

Sangat disayangkan tentu saja, apabila praktek-praktek baik penilangan polisi atau pemeriksaan cukai yang berujung damai dengan uang yang dinikmati untuk kepentingan pribadi, atau penukaran uang yang dipenuhi praktek kecurangan plus iming-iming hadiah padahal itu sudah diatur sebelumnya ?

Entah harus berkata apa jika sudah terdokumentasi begini…

Video Van Der Spek Bali

Namun salute untuk si turis Belanda… Meskipun pada kenyataannya begitu banyak pula perilaku turis yang tidak sopan saat beraktifitas di Bali, setidaknya empat video ini (bisa jadi mungkin lebih) bisa mengingatkan kita bahwa di jaman teknologi modern dimana lensa kamera tak lagi hanya berada dalam perangkat dimaksud atau dibadan ponsel, semua aktifitas yang kita lakukan mampu terekam dengan baik, disengaja ataupun tidak. Tapi apabila yang namanya etos kerja, prinsip menghormati dll tetap dijunjung oleh semua kalangan pekerja swasta maupun negeri dimanapun mereka berada, saya yakin gag bakalan ada yang seperti ini, meski satu dua bisa saja bernasib apes saat mencoba mempraktekkannya.

Ngomong-ngomong, dengan adanya bukti otentik seperti ini apakah pihak terkait yang merasa tertampar tidak akan melakukan perubahan baik sistem maupun mental oknumnya ? Inilah yang patut dipertanyakan kali ini.

Misalkan saja seperti penilangan polisi yang berujung damai, apakah tidak ada cara lain yang lebih memudahkan masyarakat yang melanggar aturan lalu lintas melakukan proses yang aman, tanpa pemborosan waktu, biaya dan tenaga ?

Saat kami diskusi dengan kawan-kawan seruangan kantor, ada banyak ide yang disampaikan terkait ini. Memperbanyak sosialisasi proses pengurusan tilang dimana kabarnya ada yang bisa dibayarkan lewat atm, sehingga yang bersangkutan tak perlu lagi repot ke pengadilan ? Entah dicetak besar, lalu ditempelkan di masing-masing pos polisi ? Atau pembayaran melalui pemotongan pulsa, mengingat kini ponsel rata”sudah dipegang oleh masyarakat hingga menengah ke bawah ?

Demikian halnya aksi Money Changer yang saya yakin, saya pun pernah menjadi korban saat melakukan penukaran mata uang dollar beberapa waktu lalu. Dan kini, video milik Van Der Spek telah membukakan mata akan pentingnya memeriksa kembali sekian banyak lembaran uang yang ditukar, langsung ditempat itu juga…

Semua hal yang dahulunya punya peluang untuk melakukan praktek kecurangan, saya yakin ada cara yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang kini semakin berkembang, meski yang namanya otak manusia tetap saja mencari celah bagaimana agar praktek tersebut bisa kembali dilakukan.

Kini saya masih berharap, akan ada video dari Van Der Spek yang kelima, enam, tujuh dan seterusnya, apakah itu mengungkap praktek pungli di birokrasi pemerintahan terkait pengajuan ijin, pembayaran pajak atau bahkan yang ada kaitannya dengan pengadaan barang jasa…

*colek LPSE dan ULP Badung *uhuk

Jalan Panjang menuju Persiapan MT LPSE Advance

Category : tentang PeKerJaan

Awalnya jelas kaget saat di satu sore pulang kantor, masih mengajak InTan putri kedua saya bermain, nyambi menerima telepon dari salah satu senior kami di LKPP Pusat, Bapak Arso Hadi. Bahkan saking kagetnya, saya buru-buru menutup telepon dan memberikan InTan pada kakeknya lalu menghubungi Beliau balik.

Berkali-kali saya mencoba menegaskan maksud yang Beliau sampaikan, bahwa Apakah Badung bersedia menjadi Tuan Rumah perhelatan workshop Management Training LPSE Advance yang bakalan digelar awal April, sekitar dua minggu kedepannya ? Mereka mencoba menawarkannya pada kami, mengingat LPSE Provinsi telah menolak tawaran dan menyarankannya pada LPSE kami. Saya bilang saat itu, ‘oke… Saya konfirmasi dulu pada pimpinan, dan malam nanti saya hubungi kembali. Namun jika boleh tahu, apa saja hal yang barangkali perlu kami persiapkan sebagai langkah awal ? Mengingat ini adalah untuk pertama kalinya LPSE kami, diminta menjadi Tuan Rumah, pasca Rakornas ke-7 di Sanur dua tahun lalu yang saat itu dihandle Provinsi plus LPSE Kabupaten/Kota’.

Sedikitnya pihak LKPP meminta kami mencari informasi terkait ketersediaan ruangan yang mampu menampung jumlah peserta hingga 200an orang saat Pembukaan dan sekitar 50-75an orang saat sesi diskusi/kelas. Yang notabene jika bisa keberadaannya di seputaran kantor Pemerintah Kabupaten Badung. Pikiran pertama yang terlintas tentu ruang pertemuan yang Pemkab Badung miliki di kantor Bupati, Kertha Gosana, plus ruang pendamping lainnya seperti Kriya Gosana dan beberapa ruang pertemuan yang ada di masing-masing SKPD. Yakin banget jika itu bisa digunakan kelak.

Maka sore itu juga saya kemudian menyampaikan maksud LKPP pada pimpinan kami, Kepala LPSE Badung, dan berusaha meyakinkan Beliau, bahwa bisa jadi ini saatnya LPSE Badung tampil ke publik. Usaha yang tidak sia-sia tentu saja. Beliau menyetujuinya dan meminta waktu untuk menyampaikan hal tersebut pada pimpinan yang lebih tinggi, Kepala Bagian Perlengkapan dan Aset Daerah selaku induk dimana LPSE bernaung serta Assisten III selaku koordinator LPSE Badung.

Sesaat setelah saya mendapatkan jawaban kepastian dari ketiga pimpinan kami, malam itupun saya mengontak kembali Pak Arso Hadi, sementara Bu Kepala LPSE kontak langsung dengan perwakilan Panitia MT LPSE Advance, Ibu Mira Erviana. Maka sejak saat itu pula berbagai rencana dan kebingungan mulai melanda pikiran. Baik persiapan, draft pelaksanaan, maupun terkait sesi Pelatihan aplikasi Monev Online yang sedianya kami lakukan berbarengan dengan kegiatan tersebut.

MT LPSE Advance Badung

Menindaklanjuti keputusan diatas, maka sayapun meminta Pak Arso Hadi untuk memberikan draft persiapan apa saja yang harus kami lakukan sebagai Tuan Rumah, mengingat waktu yang tersedia cukup mepet, sekitar 2 minggu termasuk Hari Raya Galungan. Jikapun boleh saya berbagi, berikut daftar yang tempo hari harus kami persiapkan. Yah, barangkali saja kelak LPSE kawan yang bakalan mendapatkan giliran untuk menjadi Tuan Rumah.

1. Draft susunan SK Panitia Lokal, lengkap dengan NIP, Golongan dan NPWP. Jika bisa, jumlah Panitia Lokal ini hanya sekitaran 10-12an orang saja, dengan susunan Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Anggota. Tidak ada seksi atau bidang yang mengatur hal-hal khusus didalamnya.

2. Survey Hotel yang terdekat di seputaran lokasi. Untuk hal ini, saya berimprovisasi untuk mendapatkan data terkait ketersediaan kamar Twin Room pada tanggal tersebut, price list per malam, dukungan transportasi hotel ke lokasi kegiatan, kontak yang bisa dihubungi baik telepon, fax maupun website, juga akses terdekat yang dapat dijangkau dari Hotel. Hasilnya, silahkan dilihat pada tulisan pertama terkait gelaran MT LPSE Advance.

3. Persiapan Banner dan Backdrop. Sebenarnya sih dari pihak LKPP sempat meminta bantuan kami untuk mencetaknya dengan ketentuan dan jumlah serta desain yang ditetapkan dari Jakarta, mengingat waktu yang dibutuhkan sangat mepet ditambah pengiriman nantinya. Sayangnya, kamipun di Bali tak kalah mepetnya mengingat saat itu adalah persiapan Hari Raya Galungan. Belum lagi keputusan akhir pembuatan Backdrop baru turun selasa malam dengan kabar ‘tidak mendapatkan ijin dari Bupati terkait pemasangan Backdrop di ruang pertemuan’. Maka, untuk gelaran kali ini hanyalah mengandalkan 6 buah standing banner yang dicetak LKPP, dan baru sampai Senin pagi H-1 di Bali, tanpa backdrop ataupun spanduk tambahan. *tumben deh kayaknya jadi seperti ini :p

4. Persiapan Moderator dan Notulensi yang diharapkan dari unsur LPSE Badung. Untuk hal ini, sempat dipertimbangkan kembali agar kami selaku Panitia (yang notabene hanya berjumlah sedikit), dapat fokus ke Persiapan dan jalannya kegiatan, sehingga dalam pelaksanaannya, kebutuhan Moderator hanya dipenuhi saat sesi Pembukaan, tepatnya oleh Assisten III untuk mendampingi pemaparan Pak Patria dari LKPP. Selebihnya, menggunakan jasa kawan-kawan dari LKPP. *padahal demi melaksanakan tugas ini, saya sudah hunting beberapa artikel terkait ‘Bagaimana menjadi Moderator yang Baik, pun menjadi Notulensi yang Baik… *uhuk

5. Selain Moderator dan Notulensi, Panitia Lokal diminta pula menugaskan beberapa orang untuk menghandle posisi di meja Registrasi dan Absensi, Manajer Kelas yang akan memastikan kesiapan sound, pc dll sebagai sarana presentasi, serta dokumentasi baik foto maupun video.

6. Konsumsi. Sebenarnya sih dari pihak LKPP sejak awal sudah menyatakan bahwa dana untuk konsumsi akan ditanggung sepenuhnya, namun demi demi menghormati kehadiran para tamu undangan dan LKPP, kami memutuskan untuk menyediakan Snack saat Pembukaan secara Free *uhuk

7. Sedangkan persiapan terakhir yang dipinta oleh pihak LKPP adalah nama pejabat yang akan menandatangani SPPD dan SLA (kalau tidak salah sih dari unsur Kepala LPSE), dan kontak rental mobil. Untuk yang terakhir ini sebenarnya sih gag perlu-perlu banget, jika pihak Panitia Lokal bersedia meminjamkan satu kendaraan dinasnya sebagai Operasional LKPP selama kegiatan seperti halnya Rakornas terdahulu…

Nah, diluar semua persiapan itu, kira-kira apa lagi yah yang harus dipikirkan demi kelancaran jalannya acara ?

1. Terkait ruangan, tentu ada Surat Peminjaman Tempat, lengkap dengan sound, ac dan pc presentasi. Ditambah toleransi dari pengelola ruangan agar mendahulukan kegiatan ini *uhuk

2. Masih terkait ruangan, selain pertemuan, ada dua ruangan lagi yang harus kami persiapkan yaitu Ruang Panitia untuk menyimpan perlengkapan yang digunakan selama kegiatan pun sebagai ruangan istirahat Panitia, dan Ruang Sholat yang sebisa mungkin diposisikan dekat Toilet dilengkapi arah Kiblat.

3. Protokoler dan Humas. Siapa yang akan membuka acara dari pihak Lokal, penyiapan bahan Sambutan yang nanti akan disampaikan, langkah demi langkah prosesi kegiatan, plus sesi dokumentasi dan peliputan agar kegiatan ini bisa diketahui oleh khalayak baik lewat media cetak ataupun televisi.

4. Penyiapan Sertifikat yang sebenarnya tidak diberikan dari pihak LKPP, namun merupakan inisiatif dari Bapak Sekda Kabupaten Badung untuk menunjukkan tingkat keseriusan kegiatan. Maka untuk hal ini, dari segi desain, hunting bahan hingga pengerjaan diserahkan kepada saya dengan harapan segera bisa diselesaikan. Sekedar bocoran, gambar yang saya gunakan diambil dari gambar BackDrop yang dikirim pak Arso Hadi via email, dikonversi menjadi warna putih, kemudian Draft sertifikat diambil dari dokumen sejenis saat saya menjadi Pembicara di Rakornas dua tahun lalu. Maka gag sampai menunggu waktu lama, sore itu juga desain sertifikat sudah siap cetak, tinggal berburu kertas Linen di Gramedia :p

5. Selain daftar dan kontak Hotel terdekat, saya pun tak lupa menyiapkan Kontak Taxi Bali milik Blue Bird group yang biasanya saya manfaatkan jasanya jika ada kebutuhan untuk keberangkatan ke bandara. Plus daftar pasar oleh-oleh terdekat yang bisa diakses sembari pulang ke hotel masing-masing.

6. Tata cara pengumpulan SPPD dan pengambilannya nanti dengan menggunakan 2 form sebagai tanda bukti. Cukup dibuat dalam format kertas biasa, dibagi 4 area untuk masing-masing 2 form tadi. Satu untuk Panitia, satunya lagi untuk Peserta.

7. Terakhir, mungkin persiapan kesehatan dan mental saja untuk bisa melayani kawan-kawan LPSE yang datang dari berbagai penjuru nusantara, minimal dengan tetap memberikan senyum ramah meski penat dan mengantuk, plus beristirahat yang cukup…

Perjalanan panjang menuju Persiapan Management Training LPSE Advance Badung Bali, memang sedikit melelahkan jika dibandingkan dengan sesi Rakornas yang meski dihadiri dengan jumlah Peserta jauh lebih besar, namun kapasitas kami selaku Panitia saat itu tidaklah sebesar tanggung jawab yang kami emban selama tiga hari terakhir.

Jadi, Terima Kasih kepada kawan-kawan dan semua guru di LKPP yang telah memberikan kesempatan pada kami menjadi Tuan Rumah, memberikan kami arahan dan petunjukmselama sesi pembelajaran dan semoga kedepan, kami bisa menjadi lebih baik lagi apabila kesempatan yang sama kelak dipercayakan kembali pada kami.

Semoga Indonesia mampu melaksanakan 100% Pengadaan yang Bersih dan Akuntabel. Salam LPSE…

Selamat dan Sukses, Management Training LPSE Advance Badung Bali

2

Category : tentang PeKerJaan

Waktu sebenarnya telah menunjukkan pukul 8.30 pagi, saat kami Panitia Lokal event tingkat Nasional milik LKPP, Management Training LPSE Advance yang diadakan di Kabupaten Badung Propinsi Bali, 2 April 2013 kemarin, masih disibukkan oleh persiapan dan registrasi mengingat lokasi merupakan area kantor yang tidak memungkinkan kami meninggalkan sekian banyak barang disekitar ruangan. Maka jadilah pagi tersebut merupakan sesi paling berkeringat bagi saya pribadi sebagai salah satu dari Tim Panitia Lokal bentukan LPSE Badung. Ditambah jejalan pertanyaan yang diajukan oleh para pimpinan kami terkait waktu yang sudah molor hampir satu jam lamanya dari jadwal. Sementara Peserta, belum banyak yang tampak hadir di ruangan Kriya Gosana, bergeser dari rencana semula mengingat jumlah yang sampai pada kami H-1, tidak sebanyak yang diharapkan.

Rencana awal sesi Pembukaan kegiatan Management Training LPSE Advance, sebenarnya akan dilakukan oleh Bapak Bupati Badung, dimana draft Sambutan Beliau, masih saya kerjakan dan revisi hingga senin malam kemarin. Mengingat kalau tidak salah cerna, isinya masih merupakan hasil Copy Paste dari Sambutan Bupati Badung saat kegiatan milik ULP Unit Layanan Pengadaan Kabupaten Badung dilaksanakan beberapa waktu lalu. Sayangnya, mengingat waktu yang tidak memungkinkan, maka acara diwakilkan oleh Bapak Kompyang Suandika selaku Sekda Kabupaten Badung mendampingi Bapak Patria Susantosa dari Direktorat e-Procurement LKPP.

image

Management Training LPSE Advance ini terpantau dari daftar absensi yang disediakan oleh pihak Panitia dari LKPP, sedianya akan diikuti oleh 23 LPSE dari berbagai penjuru nusantara. Namun dari daftar kehadiran yang ada pada kami, hanya 19 LPSE saja yang tercatat, itupun tidak dengan full team kehadiran personil sesuai daftar awal. Kabarnya sih beberapa diantara mereka terhalang kesibukan dan kondisi kesehatan. Maka itu, rencana penyiapan konsumsi dari sekitar 175 boks, jadi lumayan juga yang tersisa.

Pada sesi pertama kemarin, tepatnya pada topik Implementasi e-Procurement untuk Efisiensi dan Akuntabilitas Pengadaan barang/Jasa yang dibawakan oleh Bapak Patria, suasana diskusi rasanya masih terpengaruh oleh lelahnya kondisi masing-masing Peserta pasca perjalanan jauhnya, sehingga beberapa orang (termasuk saya) memilih berada di luar ruangan hingga stamina kembali meningkat. Ini terbukti saat sesi kedua pasca makan siang, diskusi berlangsung hangat terutama pada bahasan aplikasi Monev Online yang memang masih memiliki beberapa catatan seperti halnya Telaah Staf yang saya susun beberapa waktu lalu.

Dalam setiap event yang digelar oleh LKPP, bagi kami tentu saja serasa menjadi ajang Reuni untuk bertemu kembali dengan kawan-kawan yang sepemahaman dan seperjuangan *uhuk *uhuk… Terutama berkaitan dengan kemajuan teknologi dan pengembangan sistem yang kini diadopsi pada aplikasi SPSE, pun pemanfaatan perangkat yang saya lihat sih rata-rata sudah menenteng gadget dengan layar berukuran 7 inchi. Artinya yah, guna-guna yang kami sebarkan sejak Rakornas di Bali dua tahun lalu agaknya sudah menancap di jantung mereka akan pentingnya kepemilikan sebuah gadget *meski berharga murah sekalipun untuk memantau dan menggunakan aplikasi SPSE, demi kelancaran tugas yang diembankan oleh negara *uhuk

Akhirnya, Selamat dan Sukses untuk kegiatan Management Training LPSE Advance di Kabupaten Badung Propinsi Bali, 2-4 April 2013 mendatang. Mari kita wujudkan ‘100 % e-Procurement untuk Indonesia Bersih dan Sejahtera’ dengan ‘Pengadaan yang Tidak meng-Ada-Ada…’

Ohya, tak lupa bagi kawan-kawan LPSE yang berkeinginan untuk mengunduh materi terkait Management Training LPSE Advance ini, dapat diunduh melalui halaman milik LKPP di http://eproc.lkpp.go.id/.