Menu
Categories
Percobaan Penipuan berkedok Pembantu Rumah Tangga
January 11, 2013 tentang KeseHaRian

Tadinya sih saya ingin menuliskan tentang keberadaan PRT Pembantu Rumah Tangga yang kami dapatkan dari seorang penyalur berprofesi pedagang Bakso, namun bersyukur belum sempat saya menuangkannya, apa yang kami duga sejak awal kedatangannya sudah terlanjut terjadi.

Modus yang Mudah Ditebak. Demikian pikiran saya sejak hari minggu pagi, hari keempat yang bersangkutan berada dirumah kami.

Awal cerita sebenarnya, kami ingin mendapatkan seorang PRT yang mampu meringankan tugas ibu saat kami tinggal kerja berdua di akhir masa cuti melahirkannya Istri, akhir Januari nanti. Berhubung rutinitas Beliau kini bertambah seiring kehadiran kakak perempuan yang divonis mengidap kanker, diputuskan untuk tinggal di rumah kami, agar lebih mudah merawatnya.

Pasca kelahiran putri kedua kami, jujur saja kesibukan itu makin bertambah yang salah satu efeknya bagi saya pribadi adalah berkurangnya waktu untuk menulis dan berkonsentrasi mengingat aktifitas kini tak lagi luang seperti dulu. Bukan satu masalah besar sebenarnya, namun memang jadi jauh lebih terasa perubahannya.

Belum lagi istri yang seumpama kelak diharuskan untuk lembur di kantor hingga malam, tetap harus mengurus putri kedua kami yang mungkin saja bakalan mengabaikan kesehatannya. Jadi atas dasar inilah kami kemudian memutuskan untuk mencari bantuan seorang PRT lewat jasa Mertua yang secara kebetulan telah menggunakan jasa PRT sebulan terakhir.

Sayangnya, proses untuk mendapatkan jasa seorang PRT ini cukup sulit. Mengingat beberapa PRT yang datang dan hadir di rumah Mertua rupanya mengalami ‘kebingungan’ jauh lebih cepat ketimbang yang diduga, dan itu memang sejalan dengan banyaknya nasehat yang kami dapat dari sanak saudara, teman kantor yang rupanya senasib dan pernah mengalami pengalaman buruk dengan PRT.

Selain itu, jujur saja proses untuk menyiapkan tempat istirahat si PRT pun tidak kalah banyaknya, mengingat kami tidak memiliki kamar kosong yang bisa digunakan, sementara beberapa opsi yang kami tawarkan pada kedua orang tua, yang nantinya akan diajak berinteraksi dirumah saat kami tinggalkan, dicoret dan tidak disetujui. Maka, dengan merakit, membersihkan dan menyulap sebuah dipan tidur milik saya sewaktu remaja dulu, ditambah perubahan tata ruang disalah satu alternatif kamar yang ada, akhirnya semua bisa diselesaikan. Dan PRT yang diharapkan pun, datang tepat waktu.

Dari cerita yang bersangkutan, status yang ia sandang saat ini adalah janda beranak 2. Yang paling besar sudah menginjak kelas satu SMP, sedang yang kecil baru masuk PG. dilihat dari pengalaman bekerja, yang bersangkutan mengatakan belum pernah. Hanya sekali dengan orang China, seminggu dengan gaji sebesar 700 ribu. Satu penghasilan yang besar tentu saja. pas kami tanyakan kenapa ia memilih berhenti bekerja disitu, ia menjawab karena ia tidak bisa merawat bayi sang majikan. *lagi-lagi sebuah tanda bahwa ia sepertinya tidak mau dibebankan pekerjaan merawat bayi

Namun saya secara pribadi tidak bisa percaya begitu saja penjelasannya. Apalagi jika melihat dari pengakuannya yang memiliki rutinitas bangun pagi pukul 6 dan tidur pukul 8 malam. Bahkan sejak awal kedatangan, yang bersangkutan sudah meminta kami untuk mencarikannya sebuah ponsel untuk menghubungi kerabatnya di Jawa.

Melihat dari pola kerja yang priyayi begitu, kami memutuskan untuk mengajarinya lebih awal. Namun tiga hari pertama, yang bersangkutan tetap kukuh belum bisa mengikuti pola yang kami terapkan. Alhasil yang bersangkutan benar-benar bangun tidur setelah dibangunkan, dan tidur lebih awal meski masih ada pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan.

Baru pada hari keempat, minggu pagi yang bersangkutan mau bangun lebih awal sesuai permintaan kami. Namun begitu ia menyelesaikan pekerjaan rumah, ia mengungkapkan kekhawatirannya pada sang Ayah yang sakit dirumah, dan berkeinginan untuk menelepon ke Jawa. Kami berikan sambil sudah merasakan ‘tanda’ de ja vu. Dan tebakan kami benar.

Sheila, nama yang bersangkutan menyatakan bahwa Ayahnya sakit keras. Dan ia harus segera pulang untuk merawatnya. Hebatnya lagi, ia langsung pamitan tanpa mau melanjutkan pekerjaan yang lain. Kabarnya pukul 8 pagi ia sudah harus sampai di Ubung agar tak kemalaman tiba dirumah. Untuk itu, pertama ia minta diantarkan ke Ubung, kedua ia minta diberi uang saku untuk pulang.

Setelah saya berembug dengan istri, kami menyatakan bahwa kami sudah ada ikatan kontrak dengan Penyalurnya bahwa jika masa kerja belum genap sebulan, yang bersangkutan belum bisa kami bayar. Dan jika terjadi apa-apa ditengah masa kerja, yang bersangkutan bisa menghubungi penyalurnya untuk pertanggungjawaban selanjutnya. Tentu saja ia menolak. Kami tetap kukuh bahwa kami telah membayar uang tanda jadi sebesar 300ribu di awal dengan sang penyalur. Jadi tanggungjawab tetap ada padanya, dan kami tidak bisa memenuhi permintaan yang bersangkutan.

Bukannya kami tidak ikhlas untuk menolong orang, namun iya kalau apa yang dikatakannya memang benar. Apalagi kini modus penipuan Pembantu Rumah Tangga sudah bisa terbaca lebih dulu dengan adanya sharing cerita di dunia maya. Salah satu referensi yang kami dapat adalah dari Kompasiana. Begitu pula dengan beberapa pengalaman kawan kantor yang mendapatkan nasib serupa, bahkan dengan nilai tanda jadi yang lebih besar.

Sebelum pergi, yang bersangkutan berjanji akan balik jika Ayahnya sudah membaik. Kami katakan Terima Kasih, namun maaf kami tidak bisa menunggu yang bersangkutan. Besok atau lusa tentu segera kami carikan pengganti.

Pasca yang bersangkutan pergi, barulah satu perastu cerita dari Ibu dan Bibi mulai terkuak. Bahwa sejak hari pertama kedatangannya, ia ternyata telah banyak bertanya, dimanakah ojek terdekat di daerah sini ? apakah Terminal Ubung dekat atau tidak ? bahkan ia pun mengeluhkan dan membandingkan fasilitas yang kami berikan dengan yang temannya dapatkan di rumah Mertua. Dan uniknya lagi, ia begitu berani mengata-ngatai Mertua kami dengan majikan yang cerewet. Wah wah wah… padahal ia baru mengalami 5 hari kerja disitu, dan sudah menuntut Gaji. Edan gag ?

Lucunya, pas hari ia meminta dibelikan ponsel, awalnya minta yang harganya murah. Kisaran 150an ribu mengingat uang yang ia punya hanya sebesar 77 ribu. Jadi kalo positif beli, minta dipanjerkan sisanya. Begitu kami katakan dengan budget segitu ya gag dapet ponsel baru mbak, meski dari merek China. Katanya sih ‘ya kalo gitu cari yang merek Cross deh Pak, saya mau… :p

Yang lebih bikin heran lagi, gag menunggu waktu lama, sebuah taksi telah siap menjemputnya didepan rumah dan pergi. Apakah ini berarti ia memiliki satu jaringan yang sudah menyiapkan sebuah skenario dimana pukul 8 pagi tepat ia sudah harus keluar dari rumah lantaran ada taksi yang menjemput ? ataukah lebih luas lagi bahwa ini merupakan sebuah tindakan percobaan penipuan yang seharusnya aparat sudah mulai jeli dan meminta adanya pengaduan dari masyarakat ?

Berhubung saya hanyalah seorang blogger dan modal kami sebesar 300 ribu kami anggap sebagai sebuah keikhlasan menolong orang meski dengan cara yang salah, maka hanya tulisan inilah yang bisa saya persembahkan bagi kawan semua sebagai satu referensi tambahan kelak jika akan mengalami kejadian yang sama.

Tidak ada salahnya untuk waspada, tidak ada salahnya untuk memandang negatif pada seseorang apalagi orang yang tak dikenal. Demi satu tujuan yang memang wajar kita harapkan.

"7" Comments
  1. Sepertinya hal ini menjadi sesuatu yang rutin dalam industri pencarian pembantu rumah tangga. Sehingga banyak orang yang pada akhirnya lebih suka merawat rumahnya sendiri.
    Cahya´s last blog post ..Senja di Kereta Tua

    [Reply]

    pande Reply:

    Ternyata jauh lebih lega saat PRT gag ada lagi dirumah ketimbang sebelumnya *fiuh

    [Reply]

  2. Menurut saya, yang namanya menggunakan jasa PRT, banyakan susahnya ketimbang enaknya. Kalaupun dapet PRT yang tidak punya niat jahat, biasanya tidak akan pernah membuat puas.
    imadewira´s last blog post ..Dilarang Menyebut Nama Orang Tua

    [Reply]

    pande Reply:

    seperti kata teman”dikantor, jauh lebih mudah mencari istri ketimbang PRT :p

    [Reply]

  3. Wah terima kasih sharenya Bli, ternyata beriko banget menggunakan PRT bukan dari Bali, yah walaupun PRT dari Bali pun terkadang sy dengar bermasalah. untunglah cepat kelar tuh kasus PRT..
    SIge´s last blog post ..Partai hidup-mati tim Omega vs tim Badak, Omega CUP I

    [Reply]

  4. Wah kebetulan kemarin saya jg seperti itu bahkan yg mencarikannya tukang pisau keliling dibilang dari cirebon tp minta ongkos 500rb baru 1 hari kerja minta plg pdhl udh dikasi hp alasan neneknya sakit tapi hafal jalanan pas mau plg ke rumah sodara terdekat di daerah depok padahal blgnya orang cirebon lucu sekali 1 hari sudah hafal jalanan depok ketika minta diantarkan suami saya

    [Reply]

    pande Reply:

    Wah… senasib artinya ?

    [Reply]

Leave a Reply
*