Menu
Categories
Dar Der Dor Jelang Tahun Baru
December 19, 2012 tentang Opini

Ini adalah rutinitas yang mau tidak mau harus kami lalui setiap kali Tahun Baru menjelang. Para kerabat berbondong-bondong menghabiskan uang recehan (begitu istilah yang mereka gunakan) untuk dihambur-hamburkan dalam bentuk kembang api dan petasan dengan besaran dan ledakan yang makin lama makin menghebohkan.

Jika ini dilakukan di H-5 dari perayaan Tahun Baru sih kami masih bisa maklum. Namun jika dilakukan jauh-jauh hari H-20 seperti yang kami alami setiap tahunnya, kira-kira apa masih bisa diterima ?

Untuk melakukan protes terkadang kami malah diserang balik lantaran dianggap tidak memahami keinginan untuk bersenang-senang, jikapun kami diamkan tentu saja itu sangat mengganggu. Karena tidak hanya polusi bagi suara alias bising, namun aksi ngawur itu menyisakan bau yang cukup menyesakkan nafas ditambah sampah kertas yang dibiarkan begitu saja pasca aksi membuat kotor pekarangan rumah. Apalagi ini dilakukan jauh-jauh hari.

Yang makin membuat kami terheran-heran adalah peran para orang tua yang jika boleh dikatakan memiliki usia yang muda dan berpikiran modern, malah mendukung aksi yang dilakukan oleh anak-anak mereka bahkan ikut terlibat didalamnya. Memang sih kami menyadari jika yang namanya toleransi kini hanya tinggal nama saja lantaran tak lagi diajarkan di sekolahan, tapi jangan lantas para orang tua tidak mengenalkannya pada generasi berikutnya.

Selain minimnya rasa kesadaran pada diri sendiri dan lingkungan, ini diperparah oleh kondisi yang berkembang di masyarakat dimana perdagangan kembang api dan petasan seakan tidak terkontrol oleh aparat penegak hukum. Memang bisa saja mereka berdalih ini toh terjadi setahun sekali, namun jika event setahun sekali itu berlangsung selama 20 hari lamanya, siapa juga sih yang tahan ?

Kadang kami berdoa untuk bisa menghentikan mereka dari aksi yang mereka lakukan hanyalah dengan berharap mereka akan merasakan efek jera yang diakibatkan oleh ledakan petasan atau kembang api itu sendiri secara fisik, apakah itu diperbolehkan ?

jika mereka boleh mengganggu orang lain, kenapa tidak dengan kami ?

"4" Comments
  1. Kayaknya kita cuma bisa sabar bli. Saya benar-benar ndak paham dengan cara mereka bersenang-senang, khususnya yang sudah main kembang api jauh sebelum malam tahun baru.
    imadewira´s last blog post ..Ketika Musim Hujan Datang

    [Reply]

  2. Bapak Pande yang baik,

    Selaku wisatawan, kami malah mencari bali dengan khas bali, bukan hingar bingar. Tapi memang tiap orang punya prefensi berbeda. Saya sekeluarga berencana liburan ke bali, karena Bapak Pande ahli dalam kuliner, boleh ngak saya minta saran 4-5 resto yang bener2 unik/khas bali ?
    Saya sangat menghargai kebaikan bapak

    Terimakasih banyak

    [Reply]

    pande Reply:

    Sudah ditindaklanjuti via email yah…

    [Reply]

  3. Hi, nah inilah yg disebt kebablasan, pokoknya jedar jedur sing karuan entek sing masuk akal, h-20 udh ribut2 dengan petasan
    Sige´s last blog post ..Kita masih bersaudara, bentrok ‘Laskar Bali’ ‘PDS Bersatu’

    [Reply]

Leave a Reply
*