Catatan Akhir Tahun 2012

6

Category : tentang DiRi SenDiri

Mih, gag nyangka sudah menginjak akhir tahun… Gag nyangka juga kalo ternyata sudah setahun pula berusaha eksis nulis di Koran Tokoh dan Blog meski masih suka bolong-bolong…

Gag nyangka kalo InTan putri kedua kami sudah berusia dua bulan… Padahal sepertinya baru kemarin ia lahir dari rahim ibunya… Gag nyangkanya lagi setahun pula masa jabatan fungsional sebagai Sekretaris LPSE Badung dijalani…
Semua berjalan begitu cepat, entah karena semua dijalani dengan enjoy dan santai, sehingga waktu pun berlalu jadi gag terasa…

Akhir tahun 2012 seperti biasa jadi satu momen untuk mengingat perjalanan selama satu tahun terakhir. Meski tak semua mampu diingat, namun setidaknya beberapa diantaranya telah tercatat di blog sebagaimana harapan. Entah apa yang akan terjadi di tahun besok.

Ah, gag nyangka kalo ternyata masa tugas sebagai Sekretaris Panitia Karya Pujawali lan Mesimpen Ida Betara Ratu Gede sudah pula berakhir, padahal beberapa hari lalu masih bertanya-tanya, ‘ntar tugas saya ngapain yah ?

Banyak kesibukan yang saya lewati di tahun 2012, namun semoga saja semua bisa berjalan sesuai rencana. Jadi gag sabar menunggu detik-detik pergantian tahun nanti malam.

So, Selamat Tahun Baru 2013 ya Kawan, semoga semua harapan yang belum terkabul di tahun 2012 kemarin, bisa terkabul di tahun esok.

Tapi ngomong-ngomong, apa yah harapan yang saya pikirkan untuk Tahun 2013 nanti ?

Tetep bisa nulis dengan rutin meski jeda waktu sedikit lebih lama, 3-4 hari sekali… Bisa bersikap lebih adil dan sayang untuk kedua putri saya yang lucu… Makin mesra dengan Istri di tahun ke-7 pernikahan kami… Makin baik dalam menjalankan tugas serta kewajiban, entah itu berkaitan dengan kantor, adat sosial ataupun organisasi lainnya… Dan makin bisa bersabar bagi diri sendiri…

Terlalu muluk ?

Oke, mungkin berharap kalo semua Ormas di Bali bisa dibubarkan, gantung para pemimpinnya, dan semua anggota yang berbadan kekar dan penuh tato, bisa diberdayakan jadi petani. Jadi gag percuma BL tiap hari… He…

Custom ROM, Alternatif Upgrade OS Pengguna Android

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh perangkat ponsel pintar keluaran terkini adalah keberadaan sistem operasi yang secara berkala diperbaharui oleh para vendor yang merilisnya, untuk memberikan perbaikan dan penyempurnaan serta menutup celah keamanan yang terdapat pada masing-masing ponsel.

Sayangnya dalam dunia Android, tidak semua perangkat ponsel pintar yang dirilis oleh masing-masing vendor memiliki kesempatan untuk mendapatkan Upgrade sistem operasi mengingat spesifikasi dan jenisnya yang memang berbeda-beda. Hal inilah yang sebenarnya menjadi kekurangan terbesar dari sebuah perangkat pintar berbasis Android, seperti yang pernah diklaim oleh Apple lewat iOS mereka.

Meski demikian, secara mata awam pengguna, proses atau kemungkinan untuk mendapatkan pembaharuan sistem atau Upgrade, sebenarnya tidak terlalu urgent kebutuhannya apabila sistem operasi yang kini masih diadopsi oleh perangkat sudah tergolong stabil dan aman. Bahkan jika boleh dikatakan, proses Upgrade atau pembaharuan ini hanyalah sekedar gengsi belaka di kalangan pengguna Android yang rata-rata masih menginginkan fitur terdepan terdapat dalam perangkat yang dimiliki.

Lantas, jika memang secara resmi tidak semua perangkat ponsel pintar berbasis Android mendapatkan kesempatan untuk pembaharuan atau upgrade sistem, maka satu-satunya pilihan alternatif yang dapat dilirik adalah Custom ROM.

Custom ROM dalam dunia Android jika dibahasaawamkan kurang lebih memiliki makna ROM atau OS (sistem operasi) alternatif yang dikembangkan dari versi aslinya, oleh pihak ketiga baik developer ataupun perorangan, yang biasanya memberikan tambahan positif bagi pengaturan default yang sudah ada, serta mengurangi hal-hal yang dianggap tidak perlu. Tambahan positif itu meliputi aplikasi, utility dan juga widget yang dirasa perlu dan sekiranya mampu mendukung kinerja ponsel. Sedangkan OS yang dikembangkan biasanya mengambil dari rilis resmi yang sudah ada.

Oleh karena dikembangkan dari pihak ketiga, baik developer ataupun perorangan, tingkat kestabilan dan keamanan sistem yang diberikan oleh sebuah Custom ROM tidaklah disarankan oleh vendor resmi, mengingat dari beberapa kali uji dan pengalaman yang kami dapatkan, hanya satu dua jenis Custom ROM saja yang berhasil berjalan dengan baik pada perangkat ponsel Android. Sisanya, kami memang menemui sejumlah permasalahan, bugs atau fungsi yang tidak dapat dijalankan dengan baik.

Custom ROM ini biasanya bisa ditemukan pada forum-forum ternama atau mailing list yang memang secara khusus mengulas keberadaan Android sekelas XDA Developers atau Android Indonesia. Dan lantaran tidak direkomendasi oleh para vendor resmi, maka kerusakan dan hal-hal yang mampu terjadi pada ponsel menjadi tanggung jawab pengguna sepenuhnya.

Salah satu opsi percobaan penggunaan Custom ROM pada perangkat ponsel pintar berbasis Android yang pernah kami uji dan lakukan adalah perangkat Samsung Galaxy Ace S5830 yang dirilis pada tahun 2010/2011 lalu. Untuk seri ini setidaknya ada 11 jenis Custom ROM yang bisa diujicoba untuk disuntikkan kedalam perangkat mengingat secara resmi, versi Android yang tersedia untuk perangkat ini hanyalah sampai GingerBread 2.3.6. Tidak heran apabila yang menjadi dasar pengembangan OS seperti yang kami sebut diatas adalah versi resmi ini.

Terpantau Cuastom ROM yang diperuntukkan bagi perangkat Samsung Galaxy Ace S5830 diantaranya The Myth Basic dan Advance (green), Omega ROM untuk para gamer, VillainROM, First UA, CyanogenMod 9 dan 10, ICS Stock, Moto Razr dan Prada UI. Tiga jenis yang kami sebut terakhir merupakan Custom ROM yang terinspirasi dari model ponsel ternama yang mengadopsi Android versi 4.0 Ice Cream Sandwich, Motorola Razr dan LG Prada 3.0.

Proses instalasi masing-masing Custom ROM rata-rata memiliki kesamaan. Pengguna diwajibkan mengunduh dan menginstalasi beberapa aplikasi tambahan pada perangkat seperti CWM Recovery yang bisa didapat dari halaman yang sama dengan topik bahasan Custom ROM di forum-forum tadi, atau menggunakan aplikasi berbasis pc seperti Odin.

Cara instalasinya pun akan kembali bergantung pada proses instalasi aplikasi tambahan tadi. Jika menggunakan Odin maka pengguna mutlak membutuhkan bantuan sebuah perangkat pc/notebook dan kabel data, sedangkan apabila menggunakan CWM Recovery, Pengguna cukup memindahkan file instalasi Custom ROM ke memory eksternal ponsel, lalu mengeksekusinya dari layar ponsel tanpa bantuan perangkat dan asesoris tambahan.

Yang terpenting untuk disadari dan diwaspadai saat memutuskan untuk mencoba Custom ROM pada perangkat pintar berbasis Android, selain Resiko yang harus ditanggung pengguna adalah ketersediaan power atau tenaga batere yang disarankan untuk selalu fully charged demi mencegah perangkat mati kehabisan daya ditengah proses instalasi. Dan untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, sediakan selalu ROM atau OS (sistem operasi) versi resmi yang tersedia dan dapat diunduh dari halaman resmi masing-masing vendor. Ini kami sarankan apabila terjadi aktifitas bootlop, hang atau layar hitam yang tidak bereaksi pasca percobaan, maka opsi selanjutnya adalah… kembali ke laptop. Kembali pada sistem operasi resmi dari vendor.

Jangan lupakan juga untuk selalu melakukan Backup baik daftar kontak, sms, log atau aplikasi yang kawan kerap gunakan pada ponsel. Ini akan jauh memberi rasa aman ketimbang kawan harus kehilangan semuanya tanpa ada jaminan bisa mengembalikan data yang sama.

Ketika proses instalasi Custom ROM berhasil dilakukan, kami yakin akan ada banyak penyesuaian dan pembelajaran yang kawan lakukan untuk dapat menguasai dan menggunakan perangkat ponsel dari tampilan awal sebelumnya. Bahkan jika beruntung, tak hanya perubahan tampilan yang dapat dirasakan, namun juga adanya penambahan aplikasi dan utility yang sekiranya berguna untuk mengoptimalkan perangkat bisa dinikmati tanpa perlu bersusah payah mencari dan mencobanya lagi.

Satu hal penting terakhir yang dapat kami sarankan disini jika kawan sudah memiliki niat untuk mencobanya adalah, selalu membaca petunjuk instalasi yang dibuat oleh masing-masing pengembang untuk menghindari salah langkah dan kegagalan. Lakukan diskusi bila perlu dengan yang bersangkutan untuk lebih menambah wawasan.

Android Kamera atau Kamera Android ?

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Batas antara teknologi yang dikembangkan pada sebuah perangkat ponsel pintar berbasis sistem operasi Android yang mengusung lensa kamera tingkat wahid tampaknya sebentar lagi bakalan terhapus sudah. Beberapa vendor belakangan mulai berani membekali produk mereka dengan tawaran menarik pengalaman fotografi ala profesional. Katakan saja salah satunya HTC One X series. Vendor Taiwan yang merilis ponsel kelas premium ini bahkan mengundang beberapa fotografer kondang di berbagai sesi promo serta menantang para penggunanya untuk memamerkan hasil foto yang mereka tangkap di berbagai belahan alam tanah air.

Menariknya, bila menelaah komentar sang fotografer Gabriel Ulung Wicaksono di media online beberapa waktu lalu terkait ‘kamera ponsel lebih dianggap sebagai kamera main-main’ barangkali ada benarnya. Pendapat beliau bahkan menambahkan bahwa ‘Jika dibandingkan kamera poket dengan megapixel lebih kecil dan kamera ponsel dengan megapixel lebih besar, kualitasnya masih lebih bagus kamera poket’. Percaya ?

Untuk membuktikannya, gunakan fitur zooming pada masing-masing hasil foto yang dihasilkan baik oleh sebuah kamera digital bermegapixel kecil dengan kamera ponsel bermegapixel besar. Biasanya hasil ditampakkan pada sebuah gambar dari kamera ponsel sedikit lebih kabur dari hasil sebuah kamera digital.
Namun bagaimana apabila kini dua vendor kamera ternama mencoba peruntungan mereka sekaligus memperluas pasar dengan merilis kamera berbasis Android?

Nikon Coolpix S800c. ini adalah kamera pertama yang dirilis oleh Nikon dengan berbasiskan sistem operasi Android. Tidak dijelaskan Nikon menggunakan versi Android yang mana, namun jika dilihat secara sepintas dari spesifikasi yang dipajang di halaman web site resmi mereka, tampak jelas apabila Android yang disuntikkan sebagai firmware ponsel bukanlah jualan utamanya.

Nikon S800c

Menyajikan detail spectek yang memang hanya mampu dipahami oleh seorang penggemar fotografi, Nikon CoolPix S800c tampaknya ingin melanjutkan generasi kamera CoolPix dimana dari segi desain yang diusung memang tak jauh berbeda dengan sebelumnya.

Memanfaatkan Image Sensor CMOS 16 MP, merupakan sebuah modal awal bahwa resolusi ini belum mampu disamai oleh berbagai ponsel pintar dari sekian banyak brand yang mengadopsi sistem operasi Android. Masuk ke jenis lensa yang digunakan, NIKKOR dengan perbesaran 10x Optical Zoom menjadi jaminan bahwa secara kualitas, Nikon memang tak ingin di-cap main-main. Demikian halnya dengan fitur Autofokus yang mampu mendeteksi 9 area sekaligus, face priority dan Subject tracking.

Demi memuaskan hasrat penyimpanan gambar bagi penggunanya, kamera Nikon CoolPix S800c menyediakan dua opsi penyimpanan yaitu Internal sebesar 1,7 GB dan eksternal memory berjenis sdcard.
Beberapa kemampuan Scene yang disediakan secara default oleh Nikon mencakup light, beach, black and white copy, close up, dusk/dawn, easy panorama, landscape, night, party/indoor, snow, sports dan sunset. Sedangkan kemampuan editing mencakup border, crop, D-Lighting, filter fffects, quick retouch, rotate image, skin softening dan small picture.

Untuk menyajikan menu yang menggunakan sistem operasi Android, Nikon CoolPix S800c hadir dengan mengusung layar sentuh jenis OLED 3,5” yang masih dapat dilihat meskipun berada dibawah panas matahari. Sedang dukungan perekaman video yang mampu dihasilkan sudah mengadopsi format HD 1080p 30 fps. Selebihnya tidak disebutkan dukungan perangkat akan kartu simcard atau koneksi wireless lainnya yang barangkali bisa berguna untuk melakukan share hasil foto.

Jika Nikon CoolPix S800c merupakan sebuah perangkat kamera berbasis Android, maka untuk yang satu ini formatnya masih agak kebingungan. Android Kamera atau Kamera Android ?

Kami katakan begitu mengingat perangkat yang satu ini memiliki sejumlah fitur yang nyaris sama dengan teknologi yang disematkan dalam sebuah ponsel pintar berbasiskan sistem operasi Android namun juga mengusung teknologi kamera yang seperti halnya Nikon, belum mampu ditandingin oleh sejumlah ponsel pintar lainnya.

Samsung Galaxy Camera GC100. Jika dilihat dari namanya, barangkali yang terlintas dikepala kawan tentu ponsel pintar Galaxy series milik Samsung yang dibekali dengan fitur kamera kelas atas, demikian halnya kami. Namun jika menilik spesifikasinya lebih jauh, image sensor sebesar 16 MP dengan autofocus dan 21x optical zoom plus pop-up Xenon flash, tampaknya sudah meyakinkan pikiran apalagi saat melihat desain keseluruhan yang memang murni menggunakan gaya kamera ala Samsung.

Samsung G camera

Jika pada kamera Nikon tadi spesifikasi terkait Android dan fitur pendukungnya tergolong minim, tidak demikian halnya dengan Samsung Galaxy Camera ini. Setidaknya untuk versi Android yang dipergunakan sudah mengadopsi versi terbaru 4.1 Jelly Bean dengan besaran CPU Quad Core 1,4 GHz Cortex A9. Familiar ?

Tidak hanya itu saja, namun ada juga layar sentuh 16 M warna dengan size 4,8” berjenis Super Clear LCD capaitive dan menggunaan User Interface TouchWiz tampaknya makin mengesankan kami bahwa kamera ini memang mengusung teknologi ponsel pintar Samsung Galaxy series. Ditambah kapasistas memory internal 8 GB, RAM 1 GB dan dukungan slot memory eksternal microSD hingga 64 GB. Plus kemampuan layanan data (ketersediaan simcard) HSDPA dan HSUPA serta Wi-Fi, hotspot dan Bluetooth makin menegaskan image yang ingin ditunjukkan oleh Samsung. Hanya saja, soal kemampuan telepon dan sms-nya saja yang ditiadakan.

Mengingat kehadiran sistem operasi Android pada perangkat Samsung Galaxy Camera GC100 memang dianggap serius, maka tidaklah heran jika persoalan aplikasi yang dihadirkan didalamnya memang jauh lebih spesifik dan mendukung kemampuan fotografi penggunanya.

Apabila secara desain Samsung Galaxy Camera GC100 ini hadir dengan penampilan kamera pocket, jangan salah apabila soal kemampuan bisa dikatakan setara kengan kamera profesional lantaran ada opsi pengaturan lensa secara manual, mencakup shutter speed, white balance, iso dan pilihan lainnya.

Bagaimana dengan opsi pengambilan gambar panorama ? aplikasi yang disediakan akan memandu pengguna dalam mengambil objek gambar dengan memberikan petunjuk ketepatan pemindahan serta memadukannya secara apik. Demikian halnya dengan pilihan scene mode dan filtering, semua bisa digunakan sedemikian mudahnya layaknya menggunakan ponsel biasa.

Menilik permukaan bodi kamera, sedikitnya hanya terdapat tombol power dan shutter di sisi atas perangkat lengkap dengan tombol zooming disekeliling tombol shutter. Di sisi kanan perangkat terdapat satu tombol flash yang jika ditekan akan memunculkan opsi Xenon Flash dari sisi atas kamera. Sedangkan di sisi kiri perangkat terdapat jack audio, port charger dan strap. Sedang pada sisi belakang atau tampilan layar menu mengadopsi desain tablet dan ponsel Samsung terkini yang meniadakan tombol fisik.

Untuk penawaran harga jual dari perangkat Samsung Galaxy Camera GC100 ini kabarnya berada di kisaran 5,5 juta rupiah, setara dengan harga ponsel Samsung Galaxy series high end yang dirilis dua bulan terakhir, sedangkan Nikon menawarkannya dengan harga yang jauh lebih terjangkau, 3,5 juta rupiah saja. Nah, siap beralih ke Kamera Android ? atau Android Kamera ?

Dari Paradise Island kembali pada Sudoku

Category : tentang TeKnoLoGi

‘Akhirnya, lebih memilih balik ke Sudoku ketimbang melanjutkan Paradise Island yg makin tak terjangkau kalo main murni…’

Status tersebut terlontar hari Sabtu malam lalu, beberapa saat pasca langkah pertama dari tiga yang harus dilalui untuk ‘membayar’ pekerja memperbaiki tower yang ada di pulau kedua games Paradise Island for Android. Apa pasal ? Lantaran Persyaratan yang diberlakukan pada langkah kedua ini rasanya mustahil bisa dilakukan oleh para pemain yang menggunakan cara murni jujur seperti yang saya lakukan.

Screenshot_2012-12-15-23-04-09

Bagaimana tidak ? Ada banyak hal yang harus dipenuhi, termasuk mencari item harta yang bisa kita dapatkan dengan mendonasikan sejumlah uang pada patung di pinggiran pantai. Belum lagi ‘upah’ yang harus dipenuhi sangat gila jumlahnya ditambah banyak hal gila lainnya. Setelah memainkannya selama hampir satu tahun, rasanya sudah cukup bagi saya untuk menjajal games Paradise Island hingga level 37 -koreksi-. Itupun dengan bermain secara fair tanpa adanya usaha pencurangan atau cheating.

Dengan sulitnya persyaratan yang diberlakukan, sempat pula ada keinginan untuk mencoba cheat seperti yang disarankan seorang kawan di akun twitter dengan memanfaatkan aplikasi gamecih. Cuma persyaratan untuk melakukan Root terlebih dahulu, membuyarkan keinginan saya untuk mencoba.

Dengan meningkatnya level permainan ke tingkat 37 ini, banyak hal yang sudah dilalui misalkan era Halloween, Thanksgiving, Christmas dan lainnya yang masing-masing membutuhkan source yang tidak sedikit untuk memenuhi persyaratan yang diberlakukan. Namun lama-lama, semua mulai terasa membosankan.

Screenshot_2012-12-15-23-05-32

Apalagi saat mencoba untuk berkunjung ke pulau lain yang menjadi 10 besar tebaik, terdapat banyak kejanggalan-kejanggalan yang tampaknya memang bisa dilegalkan dengan memanfaatkan aplikasi gameCIH tersebut. Misalkan bangunan penghasil piatres yang sebetulnya hanya boleh dibangun satu unit, pada pulau yang saya kunjungi terdapat 8 unit dijajar rapi. Bagaimana mungkin ? Jika saya mencoba membangun 2 unit saja sudah tidak diijinkan ?

Bermain game Paradise Island dengan cara curang malah mengingatkan saya dengan kondisi negara kita yang bisa menghalalkan apa saja termasuk peraturan dan larangan. Semua bisa diatur dengan sedikit lobby (cheat) dan uang. Fiuh…

Tapi sudahlah, pengalaman bermain games Paradise Island itu sudah lebih dari cukup. Bahkan untuk mengingat bahwa saya pernah mencapai level tinggi, beberapa gambar saya abadikan sebagai bukti.

Screenshot_2012-12-16-10-02-04

Sebagai gantinya, kebetulan saja kemarin menemukan games Sudoku 10.000 yang berisikan 40 tingkat kesulitan dimana masing-masingnya memberikan 250 lembar permainan yang siap diuji. Satu keasyikan yang pernah saya rasakan saat bermain games yang sama di versi PC.

Jadi ? Bye Bye Paradise Island… Balik lagi ke Sudoku deh…

Dar Der Dor Jelang Tahun Baru

4

Category : tentang Opini

Ini adalah rutinitas yang mau tidak mau harus kami lalui setiap kali Tahun Baru menjelang. Para kerabat berbondong-bondong menghabiskan uang recehan (begitu istilah yang mereka gunakan) untuk dihambur-hamburkan dalam bentuk kembang api dan petasan dengan besaran dan ledakan yang makin lama makin menghebohkan.

Jika ini dilakukan di H-5 dari perayaan Tahun Baru sih kami masih bisa maklum. Namun jika dilakukan jauh-jauh hari H-20 seperti yang kami alami setiap tahunnya, kira-kira apa masih bisa diterima ?

Untuk melakukan protes terkadang kami malah diserang balik lantaran dianggap tidak memahami keinginan untuk bersenang-senang, jikapun kami diamkan tentu saja itu sangat mengganggu. Karena tidak hanya polusi bagi suara alias bising, namun aksi ngawur itu menyisakan bau yang cukup menyesakkan nafas ditambah sampah kertas yang dibiarkan begitu saja pasca aksi membuat kotor pekarangan rumah. Apalagi ini dilakukan jauh-jauh hari.

Yang makin membuat kami terheran-heran adalah peran para orang tua yang jika boleh dikatakan memiliki usia yang muda dan berpikiran modern, malah mendukung aksi yang dilakukan oleh anak-anak mereka bahkan ikut terlibat didalamnya. Memang sih kami menyadari jika yang namanya toleransi kini hanya tinggal nama saja lantaran tak lagi diajarkan di sekolahan, tapi jangan lantas para orang tua tidak mengenalkannya pada generasi berikutnya.

Selain minimnya rasa kesadaran pada diri sendiri dan lingkungan, ini diperparah oleh kondisi yang berkembang di masyarakat dimana perdagangan kembang api dan petasan seakan tidak terkontrol oleh aparat penegak hukum. Memang bisa saja mereka berdalih ini toh terjadi setahun sekali, namun jika event setahun sekali itu berlangsung selama 20 hari lamanya, siapa juga sih yang tahan ?

Kadang kami berdoa untuk bisa menghentikan mereka dari aksi yang mereka lakukan hanyalah dengan berharap mereka akan merasakan efek jera yang diakibatkan oleh ledakan petasan atau kembang api itu sendiri secara fisik, apakah itu diperbolehkan ?

jika mereka boleh mengganggu orang lain, kenapa tidak dengan kami ?

Antara Intan Pradnyanidewi dengan Mirah Gayatridewi

3

Category : tentang Buah Hati

Jika dibandingkan dengan masa-masa kecil putri pertama kami Mirah gayatridewi, barangkali kelahiran putri kedua kami kali ini terasa sedikit lebih berat, apalagi kalau bukan lantaran kesibukan yang makin padat dan kadang kala membuat jenuh pikiran juga fisik. Namun untuk urusan ngemong, tetaplah jadi nomor satu.

Jika dibandingkan lagi dengan publikasi cerita ataupun foto dengan kelahiran putri pertama kami, keberadaan Intan terasa sedikit terlupakan, bisa jadi banyak orang tua yang merasa demikian sama seperti yang saya rasakan. Namun tetap, gambar dan foto kami ambil secara berkala, hanya seperti ungkapan diatas tadi bahwa kejenuhan tidak bisa dibendung, aksi publish di blog pun jadi makin terhambat oleh mood.

Intan putri kedua kami katanya lebih mirip wajah bapaknya waktu kecil, demikian halnya dengan marah-marahnya *uhuk

Namun karena ini putri kedua, sayapun tetap berharap secara wajah bisa secantik kakaknya atau minimal mengambil wajah ‘bali’ ibunya, bukan boros wajah Bapaknya. Agar kelak ia tak malu jika dikatakan mirip Bapak, namun tetap secantik ibu. :p

Dibandingkan dengan saat merawat Mirah kecil, kini saya tak lagi ragu dan bingung saat harus menggendong, meninabobokan, atau menggantikan popoknya lantaran semua itu akan terasa secara alami seiring berjalannya waktu. Malah terkadang saya lebih suka meminta Intan untuk saya gendong, utamanya agar ibu, kakek dan neneknya bisa lebih bebas beraktifitas, efeknya aktifitas sendiri malah lebih cenderung terabaikan.

Agar Intan tertidur dalam gendongan, tembang bali ‘gending rare’ Putri Cening Ayu menjadi favorit saya untuk dilantunkan. Sambil tersenyum, saya tak lupa mengelus kepala kecilnya agar ia tahu bahwa saya begitu menyayanginya. Yang kalo sampe ketahuan Mirah kakaknya, saya bakalan kena pukul dan jewer lantaran lebih suka menggendong adik ketimbang dirinya.

Ya, MiRah sudah mulai cemburuan dengan si adik. Dengan berat tubuhnya yang kini mencapai 24 Kg, ukuran tinggi badan malah sudah setara sepupunya yang tingkat SD. Sayapun merasa untuk putri kedua kami Intan, memiliki postur yang sama. Mengambil genetik saya.

Banyak kisah yang sebetulnya ingin saya ceritakan disini. Tentang Intan putri kedua kami yang punya kebiasaan menggeliat kalo lagi tidur di kasur namun terdiam saat berada di gendongan, atau tentang Mirah yang hari minggu lalu sempat tampil menjadi Janger dalam salah satu sesi pentas budaya. Namun tetap yang namanya mood menulis, hilang seketika saat kedua putri kami ini berada dekat di mata.

I Love You Two…

Guns N Roses Live di Jakarta ?

1

Category : tentang InSPiRasi, tentang KeseHaRian

Jika saja kabar ini datangnya sekitar dua dekade lalu, barangkali histeria penggemar musik rock di Indonesia masih sedang hangat-hangatnya.

Generasi muda kala itu bisa dibilang lagi haus-hausnya dengan penampilan musisi rock papan atas yang sedang menjadi raja dan menggapai puncaknya, plus dengan formasi yang solid pula.

Masih ingat dengan rusuh stadion pasca konser Metallica ? atau konser Sepultura yang baru saja merilis album Arise ? wih… keliatan banget nih semua selera jadul dan makin memperjelas batasan umur masa kini.

Diantara sekian banyak musisi rock, barangkali Guns N Roses saja yang absen dari penjadwalan konser live mereka di Indonesia. Padahal saat itu dobel album Use Your Ilussions masih terdengar jelas ditelinga. Nah, kini ?

Pasca album Spaghetthi Incident yang lebih banyak meng-cover version kan lagu dari musisi lain, Guns N Roses kalo gag salah kedapatan tampil di original soundtrack nya Interview With The Vampire, itupun lagi-lagi meng-cover versionkan karyanya Rolling Stones. Kabar bergulir dengan perpecahan anggota yang menyisakan nama sang vokalis sementara anggota lainnya menyebar bahkan kabarnya tiga diantaranya membentuk grup baru ‘Velvet Revolver’ yang punya sound khas dari Guns N Roses versi dobel album tadi.

Kesombongan Axl sang vokalis, kerap mendapat kecaman dari banyak musisi lain terutama yang memang menjalankan masa tumbuh kembangnya bareng dengan band besar Guns N roses. Publik mungkin masih ingat dengan penampilan mereka di event bergengsi Rock And Rio yang memang gag mencerminkan usia dari Axl kini. Malah kelakuannya kemudian menjadi bahan tertawaan para wartawan jika dibandingkan dengan musisi lain yang hingga kini masih solid.

Guns N Roses versi terbaru kini menyajikan 8 musisi termasuk Axl Rose pada vocals, Dizzy Reed pada keyboards (yang ini kalo gag salah sudah bareng pas Use Your Illusions Tour), Tommy Stinson pada bass, Chris Pitman keyboards (entah kenapa menggunakan 2 kibordis), Richard Fortus pada rhythm guitar, Frank Ferrer pada drums (padahal gebukan si Matt Sorum udah keren banget), Ron “Bumblefoot” Thal pada lead guitar dan DJ Ashba pada lead guitar (juga). Bandingkan dengan formasi awal mereka yang Cuma berlima namun menghasilkan karya jauh lebih klasik.

Tapi inilah Guns N Roses versi terkini yang bakalan tampil di Jakarta sabtu, 15 Desember besok. Semoga kelakuan Axl bisa sedikit berubah sehingga penonton gag ilfil duluan.

Dan ngomong-ngomong, kalopun boleh di-share sedikit, bagi kalian yang beruntung bisa nonton langsung Guns N Roses di jakarta nanti, mungkin bisa duduk bareng pak Gub Jokowi, bisa nonton streaming videonya alumnus Guns N Roses versi awal di YouTube, khususnya pada perhelatan Rock and Roll Hall of Fame 2012 yang dibuka oleh band punk Green Day. Link video bisa dilihat disini. Lumayan bisa menghibur sebelum bisa melihat langsung aksi ‘the Most Dangerous band’ Guns N Roses

*kira-kira masih tergolong ‘the Most Dangerous band’ gag yah ? :p

(Tidak Lagi) Numpang Tenar di Koran Tokoh

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Masih ingat tulisan saya terkait aksi Numpang Tenar di media cetak Koran Tokoh awal tahun 2012 dulu ? rupanya obsesi ini gag bisa bertahan lama, bahkan sampai setahun pun tidak.

Awalnya sih memang menggebu, untuk tiap sekali punya mood menulis bisa melahirkan 2-3 tulisan untuk dikirim sekaligus. Sayangnya baik mood dan juga waktu untuk menulis rasanya secara perlahan menghilang dalam satu bulan terakhir ini. Apa sebab ?

Kelahiran Putri kedua. Diantara sejuta alasan pembenaran, barangkali hanya satu hal inilah yang paling kuat logikanya. Maklum, kehabisan energi untuk begadang tampaknya langsung memupus semua mood dan waktu untuk menulis. Jangankan untuk media Tokoh, untuk blog pun… jujur, baru hari jumat kemarin sempat meluangkan waktu buat nulis lagi. Itupun terakit isi masih gag fokus dan masih di seputaran pikiran.

Kesibukan. Entah mengapa akhir tahun begini yang namanya kesibukan jeg makin bertambah banyak. Sampai-sampai istri dan ibu sempat mengeluhkan hal yang sama. Saya bukannya meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga sepulang kantor, malah tenggelam dalam tugas. Hampir setiap malam sudah ada agenda yang menunggu.

Masih berkaitan dengan kesibukan diatas, sebagian diantaranya merupakan penugasan dan kerjaan kantor, sebagian lainnya lebih bersifat sosial. Apa mau dikata, semuanya membutuhkan konsentrasi yang tidak sedikit. Bahkan ada satu yang sebenarnya sudah menjadi prioritas namun hingga hari ini belum jua sempat dilakoni.

Baru menyerah saat dihubungi by sms oleh mbak Ratna Hidayati 26 November lalu pukul 9.40 malam. Tersadar jika saya tak lagi mampu memenuhi kuota kolom Tekno selama sebulan terakhir. Meski kadang saya merasa bersyukur bahwa masih ada yang bisa menggantikan tugas saya di kolom yang sama. Tapi apa daya, energi pasca kelahiran putri kami yang kedua memang beneran beda. Malu sih sebenarnya. Apalagi banyak kawan yang mengetahu hal ini baik secara langsung membaca Koran Tokoh hingga yang mendengar dan membacanya dari blog ini.

Yang paling merasa terpukul atas (Tidak Lagi) Numpang Tenarnya saya di Koran Tokoh adalah… anak. Ya, si MiRah GayatriDewi kini kerap mendorong saya untuk menulis lagi. Tentu saja dengan embel-embel menayangkan foto dirinya sebagai ilustrasi gambar. Meskipun ia sebenarnya tidak paham bahwa antara obyek foto selama ini gag ada hubungannya dengan isi tulisan, tapi apa sih yang bisa dibanggakan oleh seorang anak kecil selain bisa Masuk Koran ? :p

*fiuh, entah kapan saya bisa melakukannya lagi…