Nikmatnya Pepes Ikan Warung Merapen Penarungan

Category : tentang TeKnoLoGi

Soal selera bisa saja berbeda. Namun untuk yang satu ini tiada salahnya jika saya rekomendasikan. Terutama bagi kalian yang memiliki lidah yang terbiasa dengan masakan Bali tanpa bumbu saos, mustard atau mayonaise.

Pepes Ikan Warung Merapen Penarungan.

Pada dasarnya tidak ada yang istimewa jika kawan bertandang ke warung ini untuk pertama kalinya. Tempat makan yang sangat sederhana di perbatasan Desa Penarungan dan Abiansemal, tepi jalan tanpa kolam ikan atau tatanan landscape yang dihiasi bambu dan patung patung indah bernuansa Bali. Siapapun tidak akan pernah menyangka jika di warung kecil ini menyediakan sajian yang mampu memanggil Anda kembali untuk mencobanya.

Saya pribadi sebenarnya sudah mengenal warung ini sejak lama, tahun 2009-an kalo gag salah. Namun baru secara resmi diperkenalkan ke keluarga sekitar setahun lalu, ke mertua enam bulan lalu, dan seisi rumah sekitar tiga bulan lalu. Awalnya tempat ini masih berlokasi sekitar 25 meteran di sebelah selatan di sisi jalan yang sama. Kondisi warung yang terdahulu bisa saya katakan jauh lebih sederhana, jika kata ‘mengenaskan’ dianggap terlalu kejam untuk menggambarkannya. Hanya ada sekitar dua tiga meja dengan masing-masing empat kursi kayu, ditambah sebuah rak counter kaca yang menyajikan sejumlah kartu perdana serta pulsa, ditambah deretan pisau hasil karya semeton pande di sekitar warung tersebut. Pisau ?

Ya, nama warung ‘Merapen’ merupakan sebutan kata lain dari Prapen, sebuah tempat yang disakralkan bagi soroh atau Klan Pande, dimana merupakan tempat berstananya Dewa Brahma perlambang merahnya api yang pula merupakan tempat untuk membuat pelbagai persenjataan di masa lampau termasuk perkakas seperti pisau, mutik, blakas dan sejenisnya. Maka tidak heran jika si empunya warung merupakan semeton atau saudara kami juga.

Namun jangan lalu salah sangka jika di tulisan ini kami kemudian merekomendasikan Warung Merapen pada kalian sebagai salah satu alternatif tempat kuliner terutama apabila Kawan sedang melewati jalur jalan menuju Sangeh atau Bedugul jalur Desa Penarungan. Bukan atas dasar hubungan keluarga dimana salah satu Bhisama atau janji yang dahulu disampaikan oleh para leluhur kami, sejauh-jauhnya semeton Pande, tetap diakui sebagai nyame (saudara) ping due atau mindo atau mindon.

Lokasi tepatnya jika boleh saya gambarkan lewat kalimat, dapat diakses melalui jalur kearah utara dari perempatan desa Penarungan (pasar, puri dan kantor perbekel) dan berada di sisi kanan (timur jalan), sebelum batas/perbatasan desa Penarungan dengan Abiansemal. Jikapun kawan merasa kebingungan, tanyakan saja pada peduduk di sekitaran Desa Penarungan, Warung Merapen Banjar Belawan, Abiansemal Dauh Yeh Cani.

Pemiliknya bernama I Putu Murasta. Bapak ini secara rutin berburu ikan segar diseputaran kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar dan Kota Denpasar untuk memenuhi target pesanan konsumen yang kian hari kian melonjak. Terbukti jika Kawan mampir ke lokasi sekitar sore hari, dijamin tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan.

Diatas telah saya katakan bahwa ini dapat direkomendasikan bagi kalian yang terbiasa dengan masakan Bali tanpa bumbu saos, mustard atau mayonaise. Jadi bagi yang paham, pasti tahu bagaimana rasa Base Rajang atau Base Genep yang bisa ditemukan pada masakan khas Bali lainnya seperti lawar, babi guling dan sejenisnya. Nah bagaimana jika kali ini dipadukan dengan ikan air tawar segar ? jadilah Pepes Ikan Merapen.

Ikan air tawar ini akan dipepes dengan menggunakan Base Genep atau Base Rajang yang telah diolah dengan mesin buatan penduduk setempat, yang hasilnya menyerupai hasil olahan manual tangan. Jadi tidak halus seperti hasil blender, namun tidak juga membuat pegal dan panas tangan si peracik. Pepes ikan yang telah diolah tadi ditutupi pula dengan daun ketela (ubi) untuk menambah rasa khas Bali yang diinginkan. Mengingat bahan yang digunakan merupakan Base Rajang atau Base Genep, rekomendasi tidak kami berikan bagi kalian yang memiliki masalah dengan pencernaan. Salah-salah seperti salah satu atasan kami yang langsung mengalami (maaf) mencret di keesokan harinya, setelah menyantap seekor pepes ikan Merapen tandas habis hingga ke bumbu dan daun ketelanya.

Harga jualnya tergolong terjangkau. Rata-rata per porsi sekitar 16ribu rupiah ditambah sepiring nasi dan semangkuk kecil sup ikan. Sedang harga per ekor pepes ikan jika Kawan ingin bawa pulang, bervariasi dari 8, 10 hingga 15 ribu per ekornya tergantung ukuran ikan yang diinginkan.

Dalam menikmati sajian, jika kawan mampu menghabiskannya hingga bumbu dan daun ketelanya maka persiapkanlah sejumlah tissue untuk melap keringat yang keluar dan (maaf sekali lagi) ingus dari hidung sebagai tanda pedas dan nikmatnya pepes ikan Merapen. *pengalaman pribadi

Kini sajian Warung Ikan Merapen Penarungan sudah semakin banyak memiliki langganan. Kabarnya beberapa pegawai dinas di lingkungan pemerintah Kabupaten Badung sampai membeli sejumlah porsi pepes ikan Merapen di pagi hari sebelum berangkat kerja, dan menjualnya kembali pada rekan lainnya sebagai variasi makan siang. Kami sendiri secara rutin bersama keluarga sabtu-minggu pagi, atau berdua dengan istri saat makan, jauh-jauh main ke Desa Penarungan hanya untuk menikmati pepes ikan Merapen.

Ohya, sajian ini sempat pula kami temukan di Warung Mina sebagai salah satu menu baru yang mereka sajikan. Namun entah mengapa dari segi rasa masih kalah jauh dari miliknya Merapen. Entah memang yang original memiliki rahasia meracik yang khusus atau mungkin lidah kami sudah terlanjur terbiasa dengan sajian pepes ikan Merapen.

Bagi kalian yang kebetulan lewat atau memang ingin merasakannya, hubungi dulu nomor ponsel si pemilik di 8521995 atau 9249292 untuk kepastian ketersediaan stok ikan, atau ingin memesannya terlebih dahulu agar tak sampai kehabisan.

Tak lupa, jika kalian menganggap bahwa ini iklan berbayar yang dipesan si pemilik, silahkan abaikan dan lupakan saja. Namun jika kalian percaya pada saya akan rekomendasi kali ini dan berkeinginan untuk mencobanya sekali-kali, jangan lupa bungkuskan dua ekor untuk saya yah… :p

Iwan Fals in Collaboration with SID Gedor Denpasar

Category : tentang InSPiRasi, tentang Opini

Dibandingkan dengan konser pertama Iwan Fals, the Living legend musisi Indonesia yang diadakan pada bulan April 2003 di panggung terbuka Ardha Candra Denpasar, rasa untuk menyaksikan Mega Konser yang diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 2012 oleh Koperasi Keran kemarin, bisa dikatakan berkurang sangat jauh. Ada keraguan untuk mengambil Tiket Masuk yang ternyata hanya seharga 50ribu rupiah saja, sehingga saya baru memesannya seminggu sebelum pegelaran dimulai.

Bisa jadi lantaran fokus perhatian saya pribadi kini terhadap karya om Iwan Fals sudah mulai berkurang jika dibandingkan era 80/90an dahulu, bisa juga karena faktor kelahiran putri kami yang kedua sehingga ada rasa berdosa jika saya meninggalkan keluarga untuk bersenang-senang sendirian.

Ya, sendirian. Padahal dengan harga tiket masuk yang awalnya dibanderol seharga 100ribu dan naik pada awal Oktober menjadi 125 ribuan, ternyata saya malah mendapatkan dua tiket seharga 50ribu. Lha, trus mau ngajak siapa dong, bathin saya selama seminggu terakhir. Dan kalo memang benar itu seharga 50ribuan, lantas apa saja yang didapatkan bagi pembeli tiket bulan-bulan awal kemarin yah?

Berdasarkan waktu yang tertera pada HTM, kurang lebih penonton diminta hadir pada pukul 18.00 wita, sore hari. Namun beruntung, informasi berlanjut saya dapatkan bahwa Mega Konser om Iwan Fals kali ini rupanya dibuka oleh dua musisi lokal Bali yang namanya sudah beken dikenal, bli bagus Nanoe Biroe dan Trio macan eh punker Superman Is Dead. Artinya besar kemungkinan, om Iwan Fals mendapat jatah manggung paling akhir atau sekitar pukul 20.00 wita. It’s okay, toh mereka berdua juga gag kalah keren dengan om Iwan. Maka agar sempat menyaksikan penampilan keduanya, sayapun berangkat menuju lokasi konser, GOR Ngurah Rai Denpasar sekitar pukul 18.45 wita. Yang sayangnya jauh melenceng dari rencana.

Sampai di lokasi, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wita. Waktunya SID tampil nih pikir saya. Namun ternyata meleset sangat jauh. Untuk sekitar 30 menitan berikutnya, saya dan juga beberapa penonton lain disuguhkan sajian iklan tentang koperasi Keran, sang penyelengara yang jujur saja jadi agak aneh mengingat disampaikan di sebuah event konser musik. Sepegetahuan saya selama ini menonton konser, mungkin baru kali ini bisa ditemui presentasi seperti ini :p dan rupanya beberapa penonton yang duduk manis di sekitaran, mengaku sejak nyampe sudah disuguhi sajian macam ini. Lha, musiknya kapan ? :p

Tepat pukul 19.35 wita, Superman Is Dead tampil menggebrak panggung meski dengan jumlah penonton yang masih sangat sedikit untuk ukuran perkiraan saya pribadi. Bisa jadi seperti kata Bobby sang vokalis bahwa ‘tumben nih mereka tampil di event yang memberikan harga Tiket Masuk 50ribuan, yang bisa ditebak pembelinya hanya ‘orang-orang yang sudah taraf dewasa sehingga sulit mengharapkan aksi penonton penuh anarki dan mandi lumpur. Sepanjang pantauan hanya sebagian kecil penonton di barisan depan saja yang melakukan aksi khas sajian konser musik rock. Itupun didominasi anak-anak muda Outsiders yang secara kebetulan tertangkap kamera dalam rentang jangkauan terbatas. Sementara kami yang ada di barisan belakang masih santai duduk manis dan terbengong bengong. Hehehe…

Sambutan baru mulai meriah saat SID menyatakan tampil kolaborasi bareng om Iwan Fals lewat karya Air Mata Api dari album Mata Dewa (1989). Vokal om Iwan yang seharusnya mendominasi lagu ini digantikan oleh Eka sang pembetot Bass SID dengan nada yang tak kalah kerennya. Koor makin menjadi saat karya om Iwan yang kedua dilantunkan secara bersama yaitu Kemesraan dan secara spontan memanas saat dilanjutkan dengan ‘Jika Kami Bersama’.

Yang keren dari penampilan SID malam itu adalah hadirnya Bobby lewat gitar Akustik membawakan karya ‘Jadilah Legenda’ dan Jerink yang sempat mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi alam lingkungan Bali terutama kasus Mangrove yang belakangan menghangat. Sangat menyentuh kawan…

Sekitar pukul 20.30an wita barulah om Iwan Fals bersama band barunya, Toto Tewel, Feri, Raden dan siapa yah yang megang keyboard ? menggedor lapangan GOR Ngurah Rai lewat karya-karya ternama miliknya yang dilantunkan secara bersama-sama di sepanjang lagu. Dari ‘di bawah Tiang Bendera, Hatta, Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi atau Sore Tugu Pancoran dengan cepat dilahap habis oleh barisan Orang Indonesia yang pula datang hadir jauh-jauh ke Bali. Tak lupa karya fenomenal grup Swami dengan Bongkar dan Bento, serta Bunga Trotoar yang masih berasal dari album yang sama.

Penonton baru terdiam saat Iwan melantunkan karya terbarunya ‘Tentang Sampah’ yang sedianya bakalan hadir di album terbaru kelak. Namun tak menunggu waktu lama saat ‘Wakil Rakyat, Aku Sayang Kamu hingga Pesawat Tempurku dilantunkan. Mengagumkan. Diusianya yang kini telah menginjak setengah abad, om Iwan Fals masih setangguh dahulu meski lontaran joke atau sindiran moral sudah gag sekuat dulu.

Yang makin mengagumkan adalah tampilnya Drum Solo mas Raden yang menggebuk drum setnya dengan penuh tenaga tanpa melupakan irama yang dijaga begitu baik. Penampilan ini mengingatkan saya pada set list Drum Solo yang biasanya hadir pada band-band besar dan ternama seperti God Bless aka Gong 2000 lewat Yaya Muktio, Guns N Roses lewat Matt Sorum hingga Queen. Ingatan saya juga melayang ke penggebuk drum era 90an yang mengambil rekor MURI terdahulu.

Saking lamanya om Iwan tampil, gag terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 wita. Usai memperkenalkan cahaya kehidupannya dari Yos sang istri, Cikal putri om Iwan yang jadi judul album tahun 1991, serta Raya putra terakhirnya dimana Galang diyakini berada disekitar kami, Tiga Rambu yang kini menjadi organisasi resmi milik om Iwan, Mata Dewa dilantunkan sebagai tembang pamungkas. Entah apakah setelah karya ini Iwan kembali memberi tambahan setlist seperti halnya konser band ternama lainnya, yang pasti sayapun dengan langkah pasti meninggalkan arena yang rupanya tidak terlalu banyak menghabiskan ruang yang tersedia.

Tampilnya om Iwan Fals di Bali 27 Oktober 2012 kemarin malam, sudah lebih dari cukup buat saya. Rasanya kalopun bakal dilanjutkan sampai pagipun, saya sudah tidak berminat untuk melanjutkan sesi. Rasa kangen pada putri kami yang kedua, mengalahkan segalanya. Maka langkah demi langkahpun saya lakoni untuk pulang. Tak percuma berjalan kaki dari rumah demi sebuah nama besar Iwan Fals.

Jujur, saya masih berharap besar bisa menonton secara langsung konser om Iwan bersama sekian nama besar lainnya yang masuk angkatan Beliau saat masa Orde Baru dulu. Swami, Kantata Takwa atau Dalbo. Bisa jadi ini hanyalah sebuah impian yang brangkali harus saya pendam mengingat kondisi kesehatan mereka yang sudah lanjut usia, atau barangkali bisa menjadi sebuah pe-er bagi siapapun yang kelak ingin mendatangkan Iwan Fals kembali di Bali. Yah, siapa tahu ?

Menyambut Hadirnya Bidadari Kecil

8

Category : tentang Buah Hati

23 Oktober 2012, sejenak usai makan siang… saya dan Yande Putrawan, baru saja bercerita tentang De Wira, putranda yang kini sudah berusia enam bulan. Ia menceritakan dengan antusias sambil menunjukkan beberapa video yang ada dalam perangkat tablet Samsung galaxy Tab 7+ yang baru saja ia beli menggantikan Tab lama. Ponselpun berdering.

Di ujung sana, Alit istri saya meminta diantarkan pulang, karena rasa sakit di perut sudah mulai terasa. Memang hingga jelang akhir bulan Oktober, istri belum mengambil cuti melahirkan, berhubung belum ada tanda-tanda. Tanpa bermaksud mengusir dan mengakhiri pembicaraan, kami memutuskan untuk bubaran. Yande menuju Dinas Cipta Karya untuk mengurus IMB-nya, sedang saya bergegas meluncur ke lobby kantor Dispenda Badung, sembari menghubungi dua atasan, kantor dan LPSE.

Sepanjang perjalanan saya terus meminta pada istri untuk segera memeriksakan kandungannya ke Bidan Wiratni sore ini. Tujuannya untuk mempertegas status kandungan, agar esok Rabu kami sudah bisa berbagi waktu, apakah mau ngantor kembali ataukan beristirahat dirumah. Perjalanan pulang yang kami lalui tak langsung menuju rumah. Istri masih sempat membeli ‘nyuh daksina’ (buah kelapa yang telah dikupas kasar), dan saya sendiri masih sempat membeli beberapa jajan untuk banten otonan (hari lahir Bali) MiRah putri pertama saya yang jatuh pada hari itu.

23 Oktober 2012 pukul 17.00 sore. MiRah sudah selesai mandi dan bersiap untuk Otonan. Alit, ibunya yang berencana natabin (menjalankan upakara) memilih duduk beristirahat lantaran sakit perutnya mulai menjadi. Akhirnya tugas natabin MiRah diganti neneknya. Saya sendiri masih sempat mengambil beberapa gambar upacara Otonan MiRah.

23 Oktober 2012 pukul 17.10. Sore yang panas. Saya memilih untuk mengguyur badan dengan air untuk membuat panas ini menjauh. Sementara itu, Air ketuban kandungan istri pecah. Ibu, neneknya MiRah tampak mulai kebingungan. Antara berkonsentrasi natabin upakaranya MiRah, dengan shock melihat kondisi Alit istri saya, mulai menggedor pintu kamar mandi. Sayapun diminta bergegas dan langsung menuju mobil. Meski Bidan Wiratni hanya beberapa langkah dari rumah, namun kondisi Istri tampaknya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan lagi.

23 Oktober 2012 pukul 17.15. Kami sampai di Bidan Wiratni. Dengan segera istri dibopong ke Ruang Bersalin untuk memeriksakan status kandungannya. Hasilnya cukup mengagetkan. Bayi sudah bersiap untuk dilahirkan. Dokterpun dipanggil beserta Bidan Wiratni, turun tangan langsung menangani kandungan istri. Saya masih berusaha untuk menghubungi rumah, meminta agar disiapkan roti serta air mineral untuk dibawa ke Bidan. Karena pengalaman saat kelahiran putri pertama kami, Alit cukup lapar pasca proses, bisa jadi lantaran tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan persalinan normal sangat menguras energi.

23 Oktober 2012 pukul 17.25. Tangis bayi memecah sore ruang tunggu Bidan Wiratni. Bayi kami lahir, dan sayapun masih shock lantaran kebingungan. Antara gembira, haru dan masih was-was usai pecah air ketuban tadi. Telepon rumah kembali dihubungi, untuk mengabarkan hal ini. Seisi rumah jelas ikutan shock. Kaget lantaran tidak menyangka jika proses persalinan berjalan begitu cepat.

23 Oktober 2012 pukul 17.25. Putri kedua kami lahir ke dunia. Sementara waktu kami belum punya nama untuknya. Di memo Tablet hanya ada draft nama yang saya catatkan untuk dua alternatif. Nama anak laki dan perempuan. Pada akhirnya Tuhan memberi yang kedua. Dan nama itu bertuliskan ‘Pande Made …… PradnyaniDewi’.

Nama yang bernuansa dan berarti Bali. Seperti halnya kakaknya ‘Pande Putu MiRah GayatriDewi’. Yang kemudian menjadi pertanyaan, nama tengah yang akan digunakan agar memiliki makna yang kurang lebih sama dengan MiRah (batu permata). Pilihannya ada dua, Intan (saran dari saya dan kakeknya) dan Mas (saran dadi nenek Canggu, ibu mertua saya). Kamipun hingga hari ini belum menjatuhkan pilihan. Sementara saya pribadi masih memanggilnya Gek Ade. Gek – Geg dari Jegeg (cantik dalam bahasa Bali), dan Ade – Made (sebutan untuk anak kedua dalam budaya Bali). Namun mengingat kami pernah memiliki satu insan yang gugur dalam kandungan akhir tahun 2011 lalu, nama Made masih kami ragukan untuk digunakan. Terserah apa permintaan sang bayi kelak saat ‘bertanya’ nanti.

Proses persalinan berlangsung cepat. Sayapun lalu bergantian dengan ibu, mengurusi kamar inap di Bidan Wiratni sambil mengambil beberapa perlengkapan yang sudah kami siapkan jauh sebelumnya. Jarak antara rumah dan Bidan Wiratni yang hanya beberapa meter menyebabkan proses berjalan cepat dan sandyakala semuanya sudah selesai dilakukan. Berdasarkan nasehat dari Ida nak lingsir Sri Empu yang kami hubungi, proses penanaman ari-ari bayi akan dilakukan esok pagi, berhubung hari lahir sang bayi merupakan hari dewasa ayu yang sangat dikeramatkan oleh sebagian besar umat Hindu.

23 Oktober 2012. Anggarkasih Tambir tepat jatuh pada Kajeng Kliwon. Merupakan hari lahir Bali yang sama dengan MiRah putri pertama kami. Alamat enam bulan kedepan, kami akan melaksanakan dua upakara otonan secara bersamaan. Beberapa keluarga menyatakan kekagetannya dengan kesamaan hari lahir, dan hari lahir yang dipilih oleh sang bayi untuk turun ke bumi. Mencirikan keteguhan hati dan kerasnya jiwa sang bayi kelak, demikian halnya dengan MiRah.

23 Oktober 2012, pula menjadikan hari lahir putri kedua kami ini bersamaan dengan hari lahir neneknya secara nasional. Mengambil bintang Libra, bintang yang senada pula dengan ibunya. Musti berhati-hati nih. Hehehe…

Lahir dengan berat 3,3 KG dan panjang 48 cm, sesuai dengan ramalan Dokter Wardiana, dokter kandungan yang kami hormati sejak kehamilan pertama dulu. Beliau pula yang menyarankan untuk melahirkan secara Normal dimanapun kami inginkan. Karena berdasarkan hasil USG masih memungkinkan untuk itu. Sesaat setelah kelahiran, sayapun mengabarkan Beliau tentang hal ini dan berTerima Kasih, sekaligus berjanji untuk program yang ketiga kelak. *uhuk

24 Oktober 2012. Kelahiran putri kami yang kedua ini terasa berbeda. Banyak hal baru yang kami lakoni, diantaranya pembaharuan tempat tidur yang kami desain khusus untuk kami berempat, aktifitas yang sudah mulai terpetakan sejak awal dan banyak kemudahan lainnya yang kami rasakan untuk berkabar. Namun Saking antusiasnya saya menyambut kehadiran putri kami yang kedua ini, tak satupun tulisan yang bisa saya lahirkan pada hari yang sama hingga pagi ini. Hampir tak ada waktu luang yang bisa dilakukan untuk menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, disamping tidak ada kata dan kalimat yang mampu saya lukiskan untuk menggambarkan kegembiraan ini.

25 Oktober 2012. Rencana ngantor hari ini batal saya laksanakan. MiRah putri kami positif dijangikiti Flu Singapura. Pantas saja sejak kemarinnya ia mengeluhkan sakit pada rongga mulut untuk menelan makanan, juga adanya bintik-bintik merah di kedua siku lengan, telapak tangan dan kaki. Sayapun memutuskan untuk terfokus pada MiRah, sembari ibu dan neneknya fokus pada bayi kami. Setelah menghubungi dua atasan, hari-hari penuh kesibukanpun kembali dilakoni. Mencuci popok, menyiapkan air, membuat susu dalam botol hingga menggendong si kecil dengan riang. De Ja Vu, semua sudah pernah dilakoni sebelumnya, jadi tidak ada rasa canggung lagi. Tinggal mengingat dan melakukannya lagi.

26 Oktober 2012. Kemarin malam adalah malam pertama kami begadang. Bayi tampak lebih nyaman untuk digendong di ruang tamu yang jauh lebih adem ketimbang dibobokan di ruang tidur. Kamipun bergantian mengajaknya, namun susu tetap menjadi tanggungjawab saya untuk menyiapkan.

Ini hari ketiga saya sudah tidak berolahraga. Minimal jalan kaki dini hari ke lapangan alun-alun. Maka itu saya pun bertekad untuk melakoninya agar tidak sampai parah kadar gula darahnya.

Adanya Diabetes pada tubuh saya menyebabkan rasa was-was apabila terjadi satu dan lain pada tubuh saat kami diminta untuk fokus pada kelahiran kedua ini. Itu sebabnya sayapun berusaha untuk menjaga kesehatan secara sadar agar tetap bisa bersama tiga bidadari cantik ini.

26 Oktober 2012 pukul 10.00. semua aktifitas telah diselesai dilaksanakan. Alit dan bayi kami sidah tertidur, membayar hutang tadi malam. MiRah usai minum obat dan belajar, memilih untuk beristirahat agar Flu Singapura-nya segera menjauh. Dan saya usai menyetrika, mencoba untuk duduk didepan NoteBook untuk melahirkan satu tulisan ini. Sebagai catatan bagi kami dimasa datang, sebagai ingatan bagi Putri kami yang kedua saat ia besar nanti, dan sebagai kewajiban seorang blogger untuk terus menulis dan menulis. Masa’ tentang gadget rajin banget mempublikasikan di blog ? sementara untuk kisah tentang putri kami yang kedua, hingga tiga hari ini belum jua ada ?

Jadi, Terima Kasih untuk semua ucapan dari Man Teman lewat jejaring sosial FaceBook, Twitter atau berkesempatan menengok langsung. Dan untuk menyambut kehadiran bidadari kecil kami ini, sementara tulisan tentang Gadget dan eksplorasi Custom ROM, saya hentikan dulu tanpa batas waktu. Mohon untuk dimaklumi, karena dengan inilah salah satu usaha untuk mampu mengungkapkan rasa cinta pada anak dan keluarga.

Selamat beraktifitas kawan-kawan…

Custom ROM Samsung Galaxy Ace : The Myth #2

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Sehari pasca rencana ‘Eksplorasi Custom ROM pada perangkat Samsung Galaxy Ace dimulai, giliran menyasar The Myth part 2 yang dapat diunduh dari halaman TheMythAce seperti yang direkomendasikan oleh Ketut Kumajaya di beberapa halaman forum. Tema dari Custom ROM The Myth #2 ini adalah Go Green.

Sesuai temanya, The Myth #2 menyajikan pewarnaan hijau rumput/daun di hampir semua elemen tampilan. Dari Homescreen, lis garis menu hingga beberapa font active. Mengambil DDKQ8 & XWKTM sebagai basis rom, The Myth #2 yang memang diperuntukkan secara khusus bagi perangkat Samsung Galaxy Ace ini memiliki layout khas ala Android 4.0 Ice Cream Sandwich.

Tidak hanya itu, untuk launcher-nya pun mengambil Touchwiz 3 khas milik Samsung. Jadi bagi yang sudah sangat mengenal perangkatnya jauh sebelumnya dijamin gag bakalan pangling dengan cara penggunaan dan pengoperasiannya.

Jika pada WP7 Custom Rom menyisakan 90 MB internal storage, tidak demikian halnya dengan The Myth #2. Hanya 65 MB saja. Meski demikian, selama pengujian hampir tidak ada lag atau hang seperti yang dialami sebelumnya. Maka bisa ditebak, umur pemanfaatan Custom Rom The Myth #2 jauh lebih panjang dari perkiraan awal.

Pasca Instalasi, terlihat beberapa aplikasi bawaan Samsung dihilangkan dari perangkat. Diganti dengan 6 (enam) utility tambahan diantaranya A2SDGUI, CWM, Go Tieng Viet (keyboard input), Solid Explorer, The Myth Updater dan Tweaks. Ditambah beberapa update untuk Google Play 3.4.7, Google Quick Search Box, Voice Search, Google Maps 6.4.0 dan Flash 11.

Untuk bisa melakukan instalasi Custom ROM The Myth #2, pihak pengembang mensyaratkan OS Android versi 2.3 GingerBread sudah terinstalasi pada perangkat Samsung Galaxy Ace. Itu artinya, perangkat harus diUpgrade terlebih dahulu dari OS versi Originalnya yang masih menggunakan 2.2 Froyo.

Setelah itu, pengguna bisa mengunduh The Myth #2 ROM ditambah aplikasi CWM recovery yang dapat diunduh dari halaman yang sama, pada User and Tools Area. Setelah itu, copy dan letakkan kedua file tersebut pada sdcard perangkat.

Langkah ketiga, matikan perangkat, dan masuk ke halaman Recovery Mode (tekan dan tahan tombol Home dan Power secara bersamaan hingga halaman Recovery muncul, baru kemudian lepaskan), lalu pilih ‘update from zip’ dan cari file CWM Recovery.

Di halaman CWM Recovery lakukan ‘full wipe (wipe data/factory reset) kemudian pilih ‘Install zip from sdcard’ dan pilih ‘TheMyth Rom’. Langkah terakhir, lakukan Reboot untuk menyelesaikan proses.

Perlu diketahui bahwa dalam proses instalasi The Myth ROM #2, dibutuhkan beberapa langkah lagi yang dapat diikuti dan dilengkapi sesuai keinginan pengguna.

Sayangnya untuk pengaturan Keyboard yang dapat diakses melalui app Go Tieng Viet tadi, menggunakan bahasa yang sulit untuk dipahami, jadi mending biarkan saja. Demikian halnya dengan Solid Explorer yang membutuhkan Download ulang dari Market lantaran bawaan diklaim sudah expired :p

Custom ROM Samsung Galaxy Ace : WindowsPhone7 UI for Ace! v2.0

Category : tentang TeKnoLoGi

Target pertama saat keputusan mengeksplorasi Custom ROM pada perangkat Samsung Galaxy Ace ini muncul adalah mencoba versi WP7 alias Windows Phone 7 yang dapat diunduh melalui salah satu Thread Forum XDA Developers.

Beberapa features yang katanya hadir dalam Custom ROM ini adalah WP7 UI yang berasal dari WP7 Launcher dilengkapi dengan fitur Fonts, tampilan Alarms, Notifications, Ringtones, Boot Animation, Calculator, Dialer, Contacts, FaceBook, Email, Messaging, Setting dan Camera ala WP7. Fitur lainnya yang ikut hadir disini adalah Tweak Manager, Ad Free dan A2sd yang sudah built in. Yang artinya dalam kondisi berhasil terinstalasi, ponsel dalam keadaan sudah di Root.

Beberapa janji yang tampil dalam iklan si pengembang sih lumayan ‘menggoda, diantaranya LagFree, Stable, Very Fast, Excellent Multi Tasking dan menyisakan 90 MB free space internal. Namun sayangnya tidak semua bisa dibenarkan.

Dalam beberapa kali percobaan, Lag masih terjadi pada penggunaan Samsung Galaxy Ace baik saat offline, apalagi online. Entah mengapa bisa demikian, yang pasti saya malah jauh lebih nyaman menggunakan OS versi 2.3 GingerBread terdahulu. Begitu juga dengan fitur Camera yang kerap force closed.

Bisa ditebak, target pertama ‘Eksplorasi Custom ROM pada perangkat Samsung Galaxy Ace ini tidak bertahan lama. Gag sampe sehari. Apalagi fungsi Tethering Portable Hotspotnya kerap mengalami Lag dan Hang.

Ohya, untuk mengambil Screenshotnya, menggunakan cara yang serupa dengan perangkat iOS yaitu menekan secara bersamaan tombol Home dan Lock.

Kronologi Eksplorasi Custom ROM Samsung Galaxy Ace

Category : tentang TeKnoLoGi

Lama tak mengeksplorasi Android lewat perangkat ponsel Samsung Galaxy Ace yang saya beli awal 2011 lalu, menyebabkan meluapnya rasa kangen akan keinginan untuk mencoba sekian banyak Custom ROM yang selama ini dikumpulkan lewat berbagai Forum Diskusi online. Maklum, kesibukan sebagai Sekretaris LPSE Badung kini cukup banyak menyita waktu luang ditambah lagi status sebagai Kontributor kolom Tekno pada Koran Tokoh, praktis membuat mood untuk menjajal Android lebih jauh jadi tertanam dalam-dalam.

Namun pada akhirnya tiba jua saat yang lama dinantikan itu…

Segera setelah perangkat ponsel HTC One V kembali saya dapatkan lewat Sinar Gadget Shop, dua bulan tepat menginap di Sistech Kharisma Jakarta, perangkat tersebut saya tukar pakai dengan milik istri yang kemarin mengambil alih Samsung Galaxy Ace. Tekad saya sudah bulat. Mengingat saya sudah memegang Samsung Galaxy Tab 7+ sebagai ponsel utama, maka Samsung Galaxy Ace ini murni akan digunakan untuk kebutuhan eksplorasi. Minimal untuk mencoba Custom ROM tadi.

Bukan tanpa alasan mengapa saya memilih Samsung Galaxy Ace sebagai bahan eksplorasi. Pertama lantaran ketersediaan Custom ROM yang beragam dari berbagai forum komunitas, seperti Android Indonesia, The Myth atau XDA Developers. Kedua karena faktor kemudahan perangkat, yang memang sedikit banyak sudah saya hafalkan perilakunya. Dari cara mengakses Recovery Mode hingga Download Mode seumpama kelak proses flashing gagal di tengah jalan. Terakhir tentu saja aplikasi yang dibutuhkan sudah sangat lengkap untuk ukuran Samsung Galaxy Ace.

Maka, sejak awal Oktober 2012, keputusan untuk melakukan eksplorasi pada perangkat Samsung Galaxy Ace lebih jauh pun resmi dimulai.

Mau tau Custom ROM apa saja yang kemudian saya coba untuk dijajal ? tunggu kabar selanjutnya yah…