Samsung Galaxy Tab #2 7.0, the Best Value

8

Category : tentang TeKnoLoGi

Akhir bulan April lalu publik beberapa kota besar di Indonesia, dikejutkan oleh peluncuran sebuah perangkat TabletPC branded berotak dua inti yang dijual dengan harga promo 3,499 juta sudah termasuk dengan free 12 bulan paket internet. Bisa ditebak, 200 unit yang disediakan selama masa promo di masing-masing kota, ludes dalam sekejap. Satu minggu kemudian, perangkat tersebut dijual dengan harga normal yaitu 3,999 juta saja dengan bonus paket yang masih sama. Inilah Samsung Galaxy Tab #2 7.0 GT-P3100.

Samsung Galaxy Tab #2 7.0 GT-P3100 ini merupakan seri ketiga dari Samsung Android 7 series yang diluncurkan demi melanjutkan kesuksesan yang sudah digapai oleh dua seri sebelumnya, Samsung Galaxy Tab dan Samsung Galaxy Tab 7+.

Secara perwajahan, Galaxy Tab #2 sebenarnya hampir tak ada beda dengan seri Galaxy Tab 7+ terutama dalam kondisi off. Bisa jadi lantaran secara dimensi dan berat perangkat memang sama persis satu sama lain. Perbedaan baru akan terlihat secara jelas ketika diamati dari sisi belakang atau back cover, tepatnya pada ketiadaan Lampu LED Flash disebelah lensa kamera.

Dalam paket penjualannya, tak ditemukan adanya bonus Leather Case original dan Memory Card 16 GB seperti halnya penjualan Galaxy Tab 7+. Jadi satu-satunya bonus yang bisa didapat oleh pembeli atau pengguna hanyalah free internet unimited 12 bulan paket Indosat senilai masing-masing 50ribu rupiah.

Samsung Galaxy Tab #2 7.0 GT-P3100 ini merupakan TabletPC pertama Samsung yang mengadopsi sistem operasi versi 4.0.3 Ice Cream Sandwich secara resmi sejak peluncurannya. Saat dilihat lebih jauh tampilan yang dihadirkan pada homescreen, terdapat beberapa perubahan icon pada menu yang menjadikannya tampak lebih jernih dan segar ketimbang tampilan icon pada sistem operasi sebelumnya. Selain itu simbol (+) yang dahulunya berada di pojok kanan atas sebagai fungsi penambahan shortcut, wallpaper dan widget dihilangkan, menyisakan simbol akses Menunya saja.

Mengusung User Interface TouchWiz khas milik Samsung, perpindahan antar halaman pada homescreen disajikan secara continuous atau loop, mengingatkan kami pada User Interface Sense 3.0 milik HTC Flyer, TabletPC branded berukuran layar sama yang dirilis setahun lalu.

Masuk kedalam tampilan Menu, terdapat beberapa aplikasi serupa yang dapat ditemukan pada perangkat berlayar 5,3” Samsung Galaxy Note. Diantaranya Games Hub, Readers Hub, S Planner, Messenger dan Video Maker. Uniknya, lima aplikasi yang disebutkan tadi ternyata tidak hadir dalam perangkat Android 7 series lainnya.

Pembaharuan tampilan lainnya bisa ditemukan pada perwajahan halaman Setting/Pengaturan yang secara sepintas menurut kami meniru tampilan sistem operasi iOS pada perangkat iPhone dan iPad. Keyakinan ini jadi makin bertambah ketika melihat pilihan on/off yang dihadirkan dalam masing-masing opsi serta pembagian pola pengaturan berdasarkan fungsi dan penggunaannya. Adapun pembagian fungsi yang dimaksudkan meliputi Wireless and Network untuk opsi Wi-Fi-Bluetooth dan Data Usage, Device untuk opsi Sound-Wallpaper-Lock Screen-Display-Power Saving-Storage dan Battery, Personal untuk opsi Accounts and Sync-Location Service-Security-Language Input dan Backup and Reset, serta System untuk opsi Dock-Date and Time-Accesibility-Developer Options dan About Device.

Selain dilakukannya pembagian pola pengaturan, ada beberapa opsi pilihan yang ternyata berpindah tempat. Seperti opsi persetujuan melakukan instalasi aplikasi/games dari sumber yang tidak diketahui misalnya. Disamping itu ada juga penambahan fungsi seperti Data Usage untuk memantau penggunaan layanan data di masing-masing perangkat dihitung dalam rentang waktu tertentu. Kemudian ada Wi-Fi Peer to Peer yang memungkinkan pengguna bertukar data melalui jalur koneksi Wi-Fi. Uniknya lagi, dalam pola terakhir terdapat opsi ‘Developer Options’ yang bisa jadi diperuntukkan bagi Droiders tingkat Advanced. Didalamnya terdapat beberapa Pengaturan tambahan terkait Screen Flash, Touches, pointer dan usage CPU. Perubahan ini cukup membingungkan terutama bagi pengguna yang sudah terlanjur terbiasa dengan tampilan Pengaturan pada sistem operasi versi sebelumnya.

Dari daftar Spesifikasi yang hadir di perangkat Samsung Galaxy Tab #2 7.0 GT-P3100 sebetulnya tidak jauh berbeda dengan perangkat sebelumnya, Galaxy Tab 7+. Baik dari segi dimensi, berat perangkat, lebar layar, resolusi 1024×600 pixel, kedalaman dan kerapatan 170 ppi, besaran internal storage 16 GB, dukungan kemampuan eksternal storage hingga 64 GB pun 1 GB Memory RAM serta kapasitas daya tahan battery 4000 mAh. Selain itu, dukungan akan voice call dan juga messaging tetap mampu dilakukan.

Sedang beberapa perbedaan yang dapat ditemukan selain ketiadaan lampu LED Flash di sisi lensa kamera pada back cover adalah jenis lensa 3,15 Mega Pixel fixedfocus, resolusi kamera depan yang hanya berkualitas VGA, serta kekuatan chipset TI OMAP 4430 dualcore 1 GHz. Besaran cpu ini sedikit lebih kecil dari milik Samsung Galaxy Tab 7+ yang mengambil chipset Exynos 4210 berkekuatan dualcore 1,2 GHz.

Dari pengujian Benchmark yang kami lakukan pada perangkat Samsung Galaxy Tab #2 7.0 GT-P3100 dengan menggunakan AnTuTu, hasil yang ditunjukkan rupanya tak jauh berbeda dengan hasil pengujian yang kami lakukan pada ponsel HTC Sensation XE beberapa waktu lalu. 4824 Poin, bandingkan dengan pengujian pada Galaxy Tab 7+ sebesar 5857. Itu artinya, apabila disandingkan terpaut lumayan jauh dibawahnya. Bisa jadi inilah alasan mengapa dari segi harga jual Galaxy Tab #2 cenderung lebih terjangkau.

Dalam rentang harga 4 juta rupiah, perangkat TabletPC Samsung Galaxy Tab #2 7.0 GT-P3100 bakalan bersaing dengan TabletPC branded HTC Flyer yang dirilis satu tahun lalu namun masih menggunakan single core 1,5 GHz dan ponsel premium milik Sony Ericsson seri Xperia Arc S berkekuatan single core 1,4 GHz.

Samsung Galaxy Tab #2 7.0 GT-P3100 dapat dijadikan sebagai pilihan bagi Rekan Tokoh yang memiliki keterbatasan Budget namun menginginkan Tablet Android mumpuni yang mampu mengakomodir kebutuhan akan pendukung kerja, hiburan maupun keterkinian OS, paling tidak masih bisa bertahan hingga setahun kedepan. Meski seri Galaxy Tab 7+ memang masih yang terbaik dari segi kemampuan dan kinerja, namun untuk pertimbangan best value tampaknya Samsung Galaxy Tab #2 7.0 GT-P3100 -lah yang terbaik.

Samsung Galaxy Tab Series, Pilih Mana ?

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Perpaduan dua nama besar Samsung vendor ternama dari Korea dan Android sistem operasi yang dikembangkan oleh Google, menghasilkan banyak peran penting di era Telekomunikasi terkini, utamanya dalam menciptakan perangkat ponsel pintar bagi semua orang. Sejak kerjasama itu terjadi, lebih dari 15 seri ponsel pintar telah diturunkan oleh Samsung dengan berbasis sistem operasi Android sepanjang kurun waktu dua setengah tahun. Jumlah ini belum termasuk dengan sedikitnya 5 seri TabletPC yang dirintis demi memenuhi hasrat pengguna akan perangkat berlayar lebar, menjembatani fungsi antara ponsel dengan DesktopPC.

Dibandingkan dengan beberapa nama besar vendor lainnya yang memanfaatkan sistem operasi yang sama, Samsung merupakan pemain tersukses dalam menjual perangkatnya meski dibayang-bayangi oleh klaim hak paten atas desain dan teknologi lainnya oleh Apple. Bisa jadi lantaran usahanya yang masuk dalam semua lini itulah, Samsung mampu bertahan dan menjadi besar ketimbang vendor lain seperjuangannya terdahulu.

Dalam tulisan kali ini kami tidak lagi berbicara tentang ponsel yang diberi nama Galaxy series tersebut, lantaran secara pangsa pasar sudah bisa dibaca dari spesifikasi dan juga harga jual yang ditawarkan sejak awal peluncuran. Akan tetapi bolehlah jika kami ingin memperkenalkan barisan perangkat TabletPC milik Samsung yang jujur saja tergolong Booming sejak rilis pertama dikeluarkan.

Samsung Galaxy Tab 7” P1000 merupakan TabletPC pertama yang dirilis Samsung dengan spesifikasi yang tergolong menawan untuk ukuran saat itu. Prosesor single core 1 GHz dipadu dengan 512 MB Memory RAM dan OS Android versi 2.2 Froyo yang dapat diUpgrade ke 2.3 GingerBread mendapat tempat lumayan lama di hati para pengguna baru Android. Dari yang hanya sekedar ingin tahu atau memang berpindah dari lain perangkat. Apalagi dengan adanya dukungan voice call, sms dan push email serta koneksi 3G, menjadikan Tab 7”seri pertama ini berada di posisi favorit selama satu tahun lamanya.

Samsung Galaxy Tab 10.1” P7100 merupakan rilis kedua Samsung yang hadir untuk bersaing dengan perangkat iPad yang telah lebih dahulu diluncurkan. Bisa ditebak, kehadirannya hampir selalu disandingkan dengan perangkat mutakhir milik Apple yang diminati banyak orang itu, jauh meninggalkan perangkat serupa milik Motorola yang dengan sengaja dirilis berbarengan.

Berbekal prosesor dua inti 1 GHz, 1 GB Memory RAM, kamera 8 Mega Pixel, 16/32 GB internal storage tanpa dukungan slot eksternal plus versi OS khusus TabletPC 3.0 HoneyComb dan tanpa voice call makin menguatkan image persaingan yang diatas kertas rupanya memiliki kemampuan jauh lebih unggul.

Samsung Galaxy Tab 8.9” P7300 dirilis gag jauh-jauh dari versi 10.1 dan masuk di lini yang hanya diisi oleh vendor LG yang menjual teknologi 3D-nya. Samsung sendiri masih mengandalkan spesifikasi yang sama dengan pendahulunya plus ketipisan perangkat yang hanya 8,6 mm. Hal ini tentu saja membuat banyak vendor yang meradang dan berlomba-lomba untuk bersaing di segi dimensi ini. Untuk sedikit membedakan, versi 8,9”ini dirilis pula dalam tiga varian storage, 16/32 dan 64 GB tanpa card slot ditambah aplikasi pengenalan bagian tubuh manusia untuk kebutuhan Medis.

Setelah gaung Samsung Galaxy Tab 7” versi pertama mulai tenggelam, alih-alih memperbaharui spesifikasi, Samsung malahan memperbaharui hampir di semua aspek (kecuali resolusi kamera 3,2 Mega Pixel), termasuk dimensi perangkat yang serupa dengan dua kakaknya tadi. Perangkat ini diberi embel-embel nama Plus (+) untuk membedakannya dengan perangkat terdahulu. Menggunakan Prosesor dua inti 1,2 GHz, 1 GB Memory RAM dan OS Android versi 3.2 HoneyComb, Samsung rupanya masih mempertahankan dukungan slot sim dan microsd card, voice call, sms, push email dan 3,2 Mega Pixel dalam perangkatnya kali ini.

Belum lagi hilang masa promo Samsung Galaxy Tab 7”+ P6200 yang ditawarkan dengan harga jual 5,499 juta sudah termasuk Leather Case Original, 16 GB microSD dan Free 6 bulan XL Unlimited 99ribu, kembali Samsung merilis varian dari 7 series ini, dengan nama 7,7” P6800. Dengan adanya penambahan ukuran dimensi lebar sekitar 1 cm dari 7”+, bisa ditebak resolusi layar yang dipergunakan dalam perangkat inipun bertambah sekitar 200pixel, ditambah dukungan layar Super AMOLED, tipikal layar yang memberikan tingkat kejernihan yang lebih baik. \

Dari 5 series Samsung Galaxy Tab ini kabarnya masih bakalan bertambah dalam waktu dekat dengan dirilisnya seri Samsung Galaxy Tab #2 10.1”, #2 7” dan Samsung Galaxy Note 10.1”. Satu Benang merah yang kelak bakalan menyambungkan ketiga rilis baru ini adalah penggunaan OS Android versi terbaru 4.0 Ice Cream Sandwich tanpa adanya penambahan spesifikasi lebih jauh. Hal ini mengingatkan kami dengan vendor besar asal Finland Nokia yang kerap merilis seri ponsel mereka dalam waktu yang berdekatan, dengan spesifikasi yang mirip satu sama lainnya.
Lantas diantara kelima rilis TabletPC milik Samsung diatas serta tiga seri yang kelak bakalan dirilis dalam waktu dekat, perangkat mana yang pantas menjadi Rekomendasi bagi Rekan Tokoh ?

Tergantung dari kebutuhan saja tentu, mengingat dari segi harga jual, gag jauh beda kok selisihnya. Pertama, lihat dan coba secara langsung perangkat yang diinginkan. Ini jelas berkaitan dengan mobilitas. Beberapa orang menganggap jauh lebih nyaman berinteraksi dengan dimensi layar 7”lantaran dapat digenggam dengan satu tangan, ada juga beberapa lainnya yang merasa jauh lebih nyaman dengan layar lebar untuk beragam aktifitas, termasuk menonton video dan membaca berita.

Dan Kedua, mengingat spesifikasinya yang juga tidak jauh berbeda, silahkan lirik kemampuan lain yang menyertainya. Apakah membutuhkan perangkat yang memiliki kemampuan untuk melakukan Voice Call dan sms atau tidak. Sekedar berbagi pengalaman bahwa Salah satu kelebihan perangkat yang mendukung Voice Call adalah kemudahannya untuk melakukan aktivasi paket layanan data apabila Rekan kelupaan mengisi pulsa saat paket dinyatakan habis masa berlakunya.

Jadi sudah gag bingung lagi kan ?

Bersemangat Pagi di Yogyakarta

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PLeSiran

Rasanya masih tak percaya saat mata membuka lebar pandangan keluar kamar dini hari tadi, sesaat setelah alarm yang kunyalakan berdering dua kali, tak seperti di Yogyakarta, bathinku. Mungkin lantaran hamparan rumput menghijau dibayangi pohon kelapa nan tinggi melambai dan beberapa jepun yang terurai di halaman tepi balkon mengingatkanku pada Bali dan suasananya.

Setelah menelan setengah dari 2 mg Amaril sesaat setelah semuanya siap kujalani, tapak kakipun satu persatu melangkah pelan menuju elevator yang berada dekat kamar 342, rasanya dari kemarin aku tak melihat tangga satupun disini.

Lantai 7 Sheraton Hotel Yogyakarta masih tampak lengang saat aku menuruni anak tangga utama menuju lobby, hanya ada satu kawan yang tampak memeriksa beberapa berkas sambil melemparkan senyum. Langit masih gelap.

Ada sedikit perasaan was was demi menapakkan kaki di jalanan yang berbatu ini, tau begini membawa sepatu olahraga barangkali merupakan keputusan terbaik. Suasana yang temaram dengan disinari lampu taman membuatku sedikit merinding, terbayang cerita akun Twit @kisahhoror yang biasanya kubaca sesaat sebelum tidur. Penakut !!! Pikirku…

Setelah menghitung 40an langkah dalam sekali jalan, aku melakukan sedikit pemanasan sambil terenjok enjok lantaran batu batu kecil satu persatu melekat di telapak kaki. Langitpun mulai menampakkan aura merahnya di penghujung timur.

Namun pada akhirnya tercapai jua hasrat untuk berkeliling diseputaran kolam belakang hotel. Baru berani dilakoni saat cahaya menerpa semua batu pilah yang hadir disepanjang koridor dan pedestrian menuju kolam. Keringatpun mulai menetes seiring waktu berjalan menunjukkan pukul 6 waktu setempat.

Mengingat sesi diskusi kemarin rasanya semangat pagi ini mulai terkumpul kembali. Ada banyak perubahan yang barangkali kelak akan kusampaikan secara langsung pada atasan pun kawan-kawan ULP Badung, baik dari pengembangan sistem aplikasi SPSE, hak akses masing-masing user dan juga penambahan fitur yang aku yakin bakalan membuat banyak perubahan budaya kerja nantinya.

Bersyukur daya tahan dari perangkat Samsung Galaxy Tab 7+ yang kubawa serta mampu bertahan hingga setengahnya saat istirahat makan tiba, ini setelah semua poin penting dari pemaparan yang disampaikan dalam beberapa sesi kemarin, diTweet ke dunia maya lewat akun tak resmi milik LPSE Badung, yang bisa jadi rata-rata bakalan menyangka bahwa aku malah sedang asyik bermain games atau menonton video porno layaknya anggota DPR kita itu. Semua ditujukan pada satu hal, pengingat. Sebagai bahan dasar laporan kami nantinya setiba di tanah Bali dan juga informasi yang kelak akan dibaca oleh kawan-kawan Pengelola LPSE yang tak kesampaian diundang oleh LKPP kali ini.

Tujuh putaran berkeliling kolam sudah kulakoni, peluh sudah mulai membasahi baju yang kupakai tidur semalam, saatnya untuk ngopi dan mandi. Semoga semangat pagi akan tetap terjaga hingga akhir nanti di Yogyakarta.

Merasakan Dinginnya Pagi di Yogyakarta

2

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Waktu masih menunjukkan pukul 7.50 pagi waktu Bali saat burung besi Garuda Airways GA 251 menapakkan cakarnya di landasan Adisucipto Yogyakarta, tepat waktu dari apa yang telah diperkirakan sebelumnya.

Dikejauhan satu dua kendaraan berlalu lalang menghampiri setiap manusia yang tampak sudah tak sabar melakukan aktifitasnya hari ini. Dering nada pembuka ponsel mulai bersahutan terdengar menyapa setiap sapa yang ada di ujung sana. Mengabarkan keselamatan yang kami pinta sejak dini hari tadi.

Tak membutuhkan waktu lama hingga kami menjejakkan kaki di halaman depan Sheraton Yogyakarta, lokasi kali ini rupanya sangat dekat dengan parkiran pesawat yg terhenti dengan sempurnanya. Bau rumput yang diterpa embun seakan belum jua menyadarkanku dari dinginnya pagi di Yogyakarta.

Rupanya Kami datang jauh lebih pagi dari jadwal yang seharusnya ditentukan, namun itu semua lantaran tiada pilihan lain ketimbang menanti senja, maka jadilah kaki ini mulai berjalan mengelilingi area hotel untuk sekedar melihat sejauh mana esok bisa menggerakkan badan demi melanjutkan pola kehidupan yang baru.

Satu persatu tomat merah kuhabiskan, bekal dari ibu yang setia membelikanku setiap pagi di pasar dekat rumah, ‘hanya ini yang bisa aku beri untuk kesehatanmu Nak’ ucapnya. Mungkin hanya bisa bertahan untuk hari ini saja…

Menghadirkan satu Tim lengkap LPSE Badung di agenda Rapat Koordinasi Teknis LPSE yang diselenggarakan LKPP kali ini tentu bukannya tanpa alasan. Pembaharuan sistem dan aplikasi yang sudah mencapai rilis 4 membuat kami sedikit khawatir dengan perubahan pola kerja dan cara, sehingga merasa perlu dipahami oleh semua bidang, minimal satu dari setiap bidangnya.

Selama tiga hari kedepan, kami akan berada di sunyinya pagi Sheraton Yogya, tempat yang sejuk layaknya rumah, berdampingan dengan penduduk yang tak menunjukkan perbedaan kulturalnya. Jadi tak merasa jika ini Yogayakarta.

image

Banyak hal baru yang kulihat disini, dari candi Selamat Datang yang menyerupai bentuk Prambanan lengkap dengan ornamen khas bersejarahnya, ukiran yang menghiasi setiap sudut ruangan dan juga putusnya struktur atap membuat pikiran sedikit bertanya, apa maksudnya?

Terakhir melewatkan malam di Malioboro pertengahan tahun 1995, rangkaian Studi Tour yang kami lakoni beberapa saat sebelum perpisahan masa SMA, mengingatkanku pada banyak teman lama yang baru bulan lalu bisa berkumpul kembali di pernikahan kawan.

Entah apa yang akan kami kenang kali ini…

Merasakan Dinginnya Pagi di Yogyakarta

2

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Waktu masih menunjukkan pukul 7.50 pagi waktu Bali saat burung besi Garuda Airways GA 251 menapakkan cakarnya di landasan Adisucipto Yogyakarta, tepat waktu dari apa yang telah diperkirakan sebelumnya.

Dikejauhan satu dua kendaraan berlalu lalang menghampiri setiap manusia yang tampak sudah tak sabar melakukan aktifitasnya hari ini. Dering nada pembuka ponsel mulai bersahutan terdengar menyapa setiap sapa yang ada di ujung sana. Mengabarkan keselamatan yang kami pinta sejak dini hari tadi.

Tak membutuhkan waktu lama hingga kami menjejakkan kaki di halaman depan Sheraton Yogyakarta, lokasi kali ini rupanya sangat dekat dengan parkiran pesawat yg terhenti dengan sempurnanya. Bau rumput yang diterpa embun seakan belum jua menyadarkanku dari dinginnya pagi di Yogyakarta.

Rupanya Kami datang jauh lebih pagi dari jadwal yang seharusnya ditentukan, namun itu semua lantaran tiada pilihan lain ketimbang menanti senja, maka jadilah kaki ini mulai berjalan mengelilingi area hotel untuk sekedar melihat sejauh mana esok bisa menggerakkan badan demi melanjutkan pola kehidupan yang baru.

Satu persatu tomat merah kuhabiskan, bekal dari ibu yang setia membelikanku setiap pagi di pasar dekat rumah, ‘hanya ini yang bisa aku beri untuk kesehatanmu Nak’ ucapnya. Mungkin hanya bisa bertahan untuk hari ini saja…

Menghadirkan satu Tim lengkap LPSE Badung di agenda Rapat Koordinasi Teknis LPSE yang diselenggarakan LKPP kali ini tentu bukannya tanpa alasan. Pembaharuan sistem dan aplikasi yang sudah mencapai rilis 4 membuat kami sedikit khawatir dengan perubahan pola kerja dan cara, sehingga merasa perlu dipahami oleh semua bidang, minimal satu dari setiap bidangnya.

Selama tiga hari kedepan, kami akan berada di sunyinya pagi Sheraton Yogya, tempat yang sejuk layaknya rumah, berdampingan dengan penduduk yang tak menunjukkan perbedaan kulturalnya. Jadi tak merasa jika ini Yogayakarta.

Banyak hal baru yang kulihat disini, dari candi Selamat Datang yang menyerupai bentuk Prambanan lengkap dengan ornamen khas bersejarahnya, ukiran yang menghiasi setiap sudut ruangan dan juga putusnya struktur atap membuat pikiran sedikit bertanya, apa maksudnya?

Terakhir melewatkan malam di Malioboro pertengahan tahun 1995, rangkaian Studi Tour yang kami lakoni beberapa saat sebelum perpisahan masa SMA, mengingatkanku pada banyak teman lama yang baru bulan lalu bisa berkumpul kembali di pernikahan kawan.

Entah apa yang akan kami kenang kali ini…

Mencoba Lakoni Pola Hidup Baru

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Awalnya sih gag terlalu merasakan perubahan yang terjadi pada berat badan, lantaran memang niat untuk menurunkannya sudah ada sejak awal tahun tempo hari. Namun lantaran rata-rata teman yang dijumpai menanyakan hal yang sama, mau gag mau akhirnya mengambil langkah juga untuk periksa lab terkait Kadar Gula Darah. Sekedar memastikan dan juga ingin mengetahuinya sejak awal.

Hasilnya, jumat lalu 26 Mei 2012 Kadar Gula Darah dinyatakan tinggi dengan poin 394. Sangat mengejutkan tentu, mengingat tidak ada tanda-tanda yang terlihat secara fisik kecuali penurunan berat badan sebesar 12 KG selama enam bulan lamanya. Beberapa gejala lain yang saya pantau dari dunia maya malahan gag saya rasakan sejak dulu. Meski dua hari terakhir sebelum melakukan Testing, sempat juga menguji kebenaran tersebut, terkait kencing yang dirubung semut jika memang benar kadar Gula Darah tergolong Tinggi.

Berita ini tentu mengejutkan bagi Istri dan juga Ibu yang sudah menduga lebih awal mengingat ada faktor keturunan dari Bapak yang sudah mengalaminya terlebih dulu. Maka jadilah sejak hari itu saya mencoba menjalani pola hidup baru dengan melakukan diet rendah karbohidrat dan kalori.

Lantaran sudah sekitaran enam bulan saya menjalani pola diet mengurangi volume Nasi dengan tujuan menurunkan berat badan, maka oleh dokter Gizi pasca pemeriksaan tersebut, sayapun tidak diminta untuk mengubah pola makan sehari-hari. Yang diubah hanyalah jenis makanan yang diasup selama ini. Disarankan demikian karena secara berat badan masih dianggap kelebihan sekitar 15 Kg lagi, maka sambil berusaha menurunkan kadar Gula Darah, sayapun disarankan untuk menurunkan pula berat badan hingga mencapai hasil ideal.

Selain oleh-oleh obat Amaril 2 mg yang saya dapat dari pemeriksaan dokter Wira Gotra yang berpraktek di Klinik jalan Suli Denpasar, sayapun mendapatkan oleh-oleh lain lagi dari dokter Gizi setempat berupa daftar makanan yang diajurkan dan sedapat mungkin dikurangi. Memang secara nasehat yang disampaikan oleh dokter, disarankan agar tidak terlalu terbebani dengan pola makan yang baru nantinya, namun secara kesadaran diri sendiri sih ingin juga menjalankannya sebisa mungkin. Jika memang mampu, mengapa tidak?

Maka selama dua hari saya berusaha memahami maksud dari daftar makan yang diberikan oleh dokter Gizi tersebut, minimal untuk mengetahui jenis mana saja yang harus dihindari dan jenis mana saja yang boleh bebas dikonsumsi. Ternyata ada beberapa makanan yang merupakan favorit saya selama menjalankan diet masuk pula dalam daftar disarankan seperti mentimun dan tomat. Sedang roti, yang selama ini saya gemari rupanya masuk dalam kategori pengganti Nasi. Artinya kalo nasi sudah dimakan dalam porsi yang cukup, ya gag boleh nambah lagi dengan roti. Ealah…

Setelah menjalani empat hari perubahan jenis makanan, sayapun kembali melakukan Test terkait Kadar Gula Darah melalui Laboratorium Prodia jalan Diponegoro, lantaran pengujian tempo hari dilakukan dengan menggunakan alat tester kecil yang kabarnya sudah dapat dibeli secara bebas di Apotik terdekat.

Hasilnya cukup menggembirakan, bahwa setelah melakukan Puasa selama 12 jam lamanya, kadar Gula Darah saya turun hingga 128 dan pasca beraktifitas dan makan malam, naik hingga 145. Hasil yang memuaskan kata dokter. Itu artinya usaha yang saya lakukan selama empat hari lamanya sudah benar dari pola dan jenis makanannya. Tinggal mempertahankannya selama bulan-bulan kedepan dengan cara yang kurang lebih sama. Menjaga asupan karbohidrat dan juga kalori kedalam tubuh serta rajin berolahraga.

Ngomong-ngomong soal olahraga nih, sejak pemeriksaan saya jadi menyadari bahwa kesehatan itu penting. Hingga kemudian memutuskan untuk melewati 30 menit hingga satu jam lamanya di pagi hari untuk bergerak, berjalan kaki menuju lapangan Puputan Kota Denpasar atau sekedar berjemur sesaat setelah sampai di kantor. Tips ini makin suka saya jalani pasca membaca beberapa catatan kliping tentang Diabetes saat menanti proses testing di Prodia beberapa waktu lalu.

Terakhir, hasrat untuk melakukan Pemeriksaan Kadar Gula Darah sendiri secara berkalapun akhirnya tercapai juga. Dengan harga 495ribu untuk sebuah alat Accu Check, kini aktifitas tersebut dapat saya lakukan kapanpun diinginkan. Selain dapat dimanfaatkan secara pribadi, dapat pula digunakan untuk memeriksakan Bapak, Ibu dan Istri yang memang pula harus ikut waspada terhadap the Silent Killer ini.

Jikapun masih boleh memilih, inginnya sih tetap sehat tanpa ada kemungkinan terjangkit Diabetes lagi. Tapi yah lantaran sudah terlanjur menjalani pola hidup yang salah mau gag mau ya tetap berusaha. Jadi mohon doanya yah, biar saya bisa menjaga kesehatan, menjaga keluarga dan terus menulis. :p

Lumia Series, Harapan Baru Nokia SmartPhone

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah kalah perang dengan perangkat ponsel pintar berbasis iOS, Android dan BlackBerry, secara perlahan Nokia mulai mundur dari ajang pertempuran dan menghentikan proses produksi serta pengembangan OS Symbian, yang sedari awal tahun 2000 sempat melambungkan posisinya sebagai Nomor Satu baik di tanah air maupun secara global. Saking lemahnya posisi Nokia, beberapa ponsel berbasis Symbian dan juga MeeGo, yang sebenarnya sangat mumpuni untuk diadu dengan perangkat iPhone, Android dan BlackBerry malah tidak mendapatkan tempat di mata konsumen sebagaimana harapan awalnya.

Maka untuk mengantisipasi pergerakan persaingan teknologi telekomunikasi, dibuatlah kesepakatan bersama Microsoft pada 11 Februari 2011, yang pada awalnya sempat disayangkan oleh banyak pihak. Kesepakatan ini tiada lain bertujuan untuk mengkolaborasikan perangkat Nokia yang dikenal handal serta dan apik dalam hal desain dengan sistem operasi Windows Phone yang superior. Harapannya tentu saja mampu minimal menggeser keberadaan salah satu atau ketiga perangkat ponsel pintar yang kini sedang memimpin di garda depan.

Hanya Berselang delapan bulan, kerjasama Nokia-Microsoft ini mulai menunjukkan taringnya. Pada 26 Oktober 2011, Nokia secara resmi mengumumkan ponsel Windows Phone pertama mereka yang diberi codename ‘Sea Ray’ bertajuk Nokia Lumia 800.

Lumia 800 dirilis dalam bentukan desain yang tak jauh berbeda dengan ponsel Nokia N9, sebuah perangkat ponsel pintar pertama dan terakhir Nokia yang menggunakan sistem operasi MeeGo. Sebuah sistem operasi yang direncanakan bakalan mengganti keberadaan Symbian, namun patah arang ditengah jalan.

Tidak hanya dari sisi desain, secara spesifikasinya pun Lumia 800 bisa digolongkan sebagai salah satu ponsel premium Nokia hasil kerjasamanya bersama Microsoft. Ini dibuktikan dengan penggunaan chipset Qualcomm Snapdragon 1.4 GHz Scorpion plus GPU Adreno 205, 16 GB storage internal dan 512 MB RAM, kamera 8 MP Carl Zeiss optics, autofocus dan dual-LED flash, serta 3,7 inchi layar sentuh AMOLED kapatitif 16 juta warna. Sedang dukungan dari pihak Microsoft adalah ditanamkannya sistem operasi Microsoft Windows Phone 7.5 codename Mango.

Pasca rilis resmi Lumia 800, Seperti biasa Nokia kembali melepas varian ponselnya dalam rentang waktu yang berdekatan. Maka diperkenalkanlah seri Lumia 710 serta Lumia 900 pada 9 Januari 2012 dalam ajang International Consumer Electronics Show (CES) 2012 Las Vegas. Dimana secara spesifikasi yang disematkan dalam masing-masing perangkat, bisa dilihat bahwa Lumia 710 dilepas sebagai Lumia Series yang ditawarkan dengan harga yang terjangkau, sedang Lumia 900 merupakan pembaharuan seri premium dengan penambahan kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya.

Meski respon yang diharapkan dari konsumen belum mampu menggeser keberadaan perangkat ponsel pintar lainnya, namun sepertinya Kisah Lumia Series ini pelan tapi pasti bakalan mendapatkan tempat tersendiri demi menggantikan masa-masa kejayaan Symbian terdahulu seperti halnya ponsel pintar berbasis Windows Mobile. Apalagi dengan adanya dukungan dari pihak Microsoft yang kini menyediakan Windows Marketplace dalam setiap perangkat Lumia , sebuah application store yang memang menyediakan beragam aplikasi serta permainan dan hiburan lainnya secara terpusat.

Windows 8, Ramah untuk semua perangkat Mobile

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Berawal dari Consumer Electronics Show, Las Vegas Januari 2011, Microsoft mengumumkan penyertaan dukungan chipset ARM untuk mobile version dari sistem operasi terbaru mereka Windows 8, disamping microprosessor berarsitektur x86 untuk versi Desktop yang biasanya disupport dari Intel, AMD dan VIA. Sekedar Informasi, Chipset ARM yang dimaksudkan diatas adalah chipset yang kini banyak dipergunakan sebagai andalan dalam sebuah ponsel Smartphone dan juga TabletPC. Nvidia Tegra, Snapdragon atau Ti Omap merupakan beberapa contoh diantaranya.

Untuk mendukung pengembangan OS terbaru ini pada 15 Agustus di tahun yang sama, Microsoft kemudian membuat satu blog “Building Windows 8” yang diperuntukkan bagi para pengguna dan juga pengembang aplikasi berbasis Windows. Lanjut dengan Perkenalan pertama Windows 8 versi Beta pada tanggal 29 Februari 2012 lalu.

Lantas Apa sih yang menarik dari sebuah Sistem Operasi bernama Windows 8 ?

Pertama, dukungan akan perangkat PC Desktop, NoteBook dan juga TabletPC bahkan sebuah Smartphone. Bukan hanya sekali dua ini saja rumor yang beredar luas bahwa Microsoft lewat tandemnya kini, bakalan merilis perangkat TabletPC berbasis Windows, diluar Desktop dan NoteBook. Dimana antarmuka atau User Interface yang bakalan digunakan nantinya dikenal dengan nama ‘Metro Style, Menu berbentuk Tile yang diakses dengan cara menggeser kearah samping, serta sebelumnya telah diterapkan pada ponsel Windows Phone.

Kedua, lantaran dukungan perangkat TabletPC yang mampu dilakukan oleh OS Windows 8, maka penggunaannya nanti tentu akan lebih banyak memanfaatkan fitur layar sentuh atau TouchScreen, meski masih dapat diakses dengan baik melalui Mouse dan Keyboard.

Ketiga, Picture Password. Bila sebelumnya aktifitas Login menuju perangkat berbasis Windows selalu menggunakan cara pengetikan karakter, kini Microsoft mencoba memperkenalkan aksi gerakan dengan memanfaatkan media gambar. Aktifitas semacam ini kami yakin telah Rekan kenali sebelumnya lewat ‘Slide to Unlock’-nya iOS dan juga Lock Screen Pattern-nya Android. Meski demikian, Microsoft tetap menyediakan opsi pengetikan karakter untuk berjaga-jaga apabila pemilik lupa dengan cara dan gerakan Login yang ditetapkan sebelumnya.

Keempat, Application Store. Layaknya perangkat Smartphone terkini dan juga Mac saingan terberatnya, Windows 8 kini dibekali dengan Application Store, sebuah toko yang menyediakan beragam aplikasi dan juga permainan siap unduh untuk memudahkan pengguna dalam mengoptimalkan Windows 8. Sayangnya, perbedaan arsitektur chipset baik ARM dan x86, menyebabkan aplikasi yang kelak bakal diunduh lewat perangkat mobile, tidak akan dapat dipergunakan pada perangkat Desktop.

Kelima, Internet Explorer 10. Sepintas, tampilan Browser yang dikembangkan oleh Microsoft kali ini terlihat tidak jauh berbeda dengan Google Chrome yang memperkenalkan sistem Thumbnail disisi atas jendela untuk mempermudah pengguna memantau proses aktifitasnya. Namun uniknya, tab url bar yang biasanya berada disisi atas halaman, kini dipindahkan ke sisi bawah yang barangkali akan memerlukan perubahan kebiasaan pemakaian bagi para penggunanya.

Lebih Cepat dan Lebih Baik. Seperti jargon kampanye salah satu calon Presiden terdahulu, Kinerja serta Booting yang kelak akan disajikan oleh Windows 8 diklaim jauh lebih singkat dari versi sebelumnya. Hal ini bisa jadi lantaran dukungan yang dibutuhkan masih mampu ditangani dengan baik oleh prosesor versi mobile ARM. Selain itu, kabarnya Windows 8 pun akan dapat dijalankan melalui USB Flash Disk secara portable yang dikenal dengan istilah Windows To Go.

Bagi Rekan yang ingin mencoba atau ingin tahu versi Beta (uji) dari OS Windows 8 dapat mengaksesnya secara langsung alamat windows.microsoft.com pada bagian Consumer Preview.

BlackBerry Curve 9220, Osv7 Termurah kelas Pemula

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Di tengah gencarnya serangan perangkat Android multi vendor, nama BlackBerry bisa dikatakan makin tertatih dengan bukti penurunan tingkat penjualan di akhir Tahun 2011 lalu. Makin menjadi setelah Lazaridis dan Jim Balsillie dua CEO yang membidani kelahiran BlackBerry mengundurkan diri akhir Januari kemarin lantaran ketidakmampuan mereka menjaga Market Share-nya.

Demi merebut kembali pengguna Handhelds BlackBerry yang kini banyak diambil alih oleh Android, Research In Motions (RIM) mencoba merilis perangkat terkini mereka dengan mengandalkan sistem operasi Osv7 yang tempo hari sempat meramaikan bursa dengan lima rilis awal, dan dilempar untuk mengisi peluang di tingkat pemula atau Entry Level.

BlackBerry Curve 9220 aka Davis, diluncurkan secara resmi ke pasar global per bulan April lalu menyajikan rupa yang jujur saja bagi kami malah mirip dengan perangkat ponsel China dan mengabaikan kesan ekslusifitas BlackBerry seperti yang dikenal selama ini. Dengan bentukan yang rounded di keempat sudut, sepintas memang mengingatkan kami pada BlackBerry termurah versi sebelumnya, Curve 8520 Gemini. Sehingga sangat wajar apabila kemudian BlackBerry Curve 9220 ini dianggap sebagai calon pengganti versi Gemini yang banyak dikeluhkan oleh pengguna akan lemot atau leletnya kinerja perangkat. Image ini makin kuat kami rasakan ketika mengetahui jaringan nirkabel yang didukung hanyalah Quadband 2G seperti halnya versi Gemini.

Untuk dimensi layar Curve 9220 hanya mengadopsi ukuran 2,4 inchi 320×240 pixel TFT 65K Warna. Spesifikasi ini setara dengan pendahulunya yang notabene masuk dalam kategori standar ponsel pemula. Sayangnya dibandingkan dengan sejawatnya yang lain, tingkat kejernihan layar yang disajikan tampaknya bakalan kurang memuaskan bagi mata pengguna.
Demikian halnya dengan lensa kamera utama yang masih mengandalkan resolusi 2 Mega Pixel tanpa dukungan kamera sekunder. Urusan rekam video yang mampu dilakukan masih sebatas QVGA dengan dukungan file multimedia MP4/H.263/H.264/WMV.

Apabila keluhan akan lelet dan lemotnya kinerja ponsel kerap dialami pengguna pada versi 8520 Gemini terdahulu, agaknya kini tak lagi perlu dikhawatirkan mengingat secara jeroan kecepatan sudah mendapatkan peningkatan yang sangat berarti untuk ukurannya. Kekuatan cpu sebesar 800 MHz ditambah besaran 512 MB RAM dan 512 MB ROM siap menjadikan Curve 9220 sebagai teman kerja Pengguna dalam mendukung aktifitas multitasking. Bandingkan dengan para pendahulunya Onyx dan Torch generasi pertama yang masih menggunakan cpu 600 MHz dan internal storage sebesar 256 MB dengan banderol harga lebih mahal.

Selain adanya peningkatan pada cpu, BlackBerry Curve 9220 ini ditunjang pula dengan daya tahan batere 1450 mAh, sebuah kapasitas yang cukup besar untuk ukuran HandHelds BlackBerry. Disamping itu ada juga fitur Radio FM yang sebelumnya sudah sempat disematkan pada BlackBerry seri 9360/9380 cukup untuk hiburan tambahan bagi pengguna saat dilanda kebosanan.

Dengan harga jual yang hanya berkisar 1,99 juta rupiah saat diluncurkan, Curve 9220 tampaknya masih mengandalkan jualan aplikasi Messengernya yang fenomenal itu dengan menambahkan dedicated key di sisi kiri perangkat untuk akses langsung, ditambah dinamisnya User Interface yang disajikan oleh sistem operasi terkini Osv7. Di luar itu tampaknya tidak ada lagi teknologi baru yang mampu ditawarkan kepada pengguna sebagai penarik minat. Pilihan tentu diserahkan kembali pada pasar. Apakah bakalan memilih perangkat lain yang memiliki kemampuan lebih baik dalam rentang harga yang sama ataukah memilih kemampuan ber-BBM dengan harga yang terjangkau ?

Sony Xperia S, Android Premium buatan Jepang

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Pecah kongsi dengan perusahaan Ericsson tahun 2011 lalu tampaknya tak membuat Sony raksasa multimedia kelahiran Jepang patah arang atau mengalami kejatuhan. Tidak tanggung-tanggung, malahan makin percaya diri merilis Xperia series sebagai bukti pertama pada dunia atas nama kegigihan perjuangan mereka.

Sony Xperia S, merupakan perangkat Android pertama yang dirilis pasca berita perpisahan tersebut diketahui publik. Tampil dalam form factor persegi khas ponsel lama milik Sony, dengan klir aluminium di bagian bawah seakan memiliki kesan memisahkan atau malah menegaskan desain ponsel yang memang tampak elegan dan kuat. Bisa dikatakan, dengan penampilannya kali ini Sony ingin memberikan kesan ponsel Android kelas Premium yang pantas untuk dimiliki.

Mengusung dimensi layar lebar 4,3 inchi dengan resolusi HD 720×1280 pixel 16 Juta Warna, tampaknya bakalan bersaing dengan kompetitor terbatas meliputi HTC Sensation Series atau Samsung Galaxy Nexus. Didukung oleh teknologi Sony Mobile Bravia Engine makin memanjakan mata pengguna dengan tingkat kecerahan dan kejernihan layar yang lebih baik.

Ditilik lebih jauh, taji Sony terlihat makin tajam dengan dukungan prosesor Dual Core 1,5 GHz Adreno 220 GPU Qualcomm Snapdragon chipset setara dengan HTC Sensation XE yang tempo hari sempat kami review dihalaman ini, plus 1 GHz Memory RAM dan Internal Storage 32 GB. Spesifikasi yang disebutkan terakhir, kami rasa mampu menjadi nilai tambah bagi Pengguna mengingat besaran tersebut lantas menjadikan Xperia S sebagai satu-satunya ponsel Android yang memiliki kapasitas internal paling lega.

Urusan koneksi data, Sony Xperia S sudah dibekali dengan jaringan nirkabel HSDPA 14,4 Mbps dan HSUPA 5,8 Mbps ditambah kemampuannya sebagai portable Wifi Hotspot plus teknologi Near Field Communications NFC yang kini sudah mulai ditanamkan pada perangkat ponsel rilis terbaru. Disamping itu tersedia pula port microHDMI dan microUSB v2.0 sebagai alternatif tambahan.

Yang patut diberikan acungan jempol adalah konsistensi Sony akan dukungan lensa kamera utama yang disertakan mencapai Resolusi 12 Mega Pixel dengan kemampuan rekam video resolusi full HD 1080p. Masih ditambah dengan lensa kamera Sekunder di sisi depan dengan resolusi 1,3 Mega Pixel dan kemampuan rekam video 720p. Mengagumkan tentu. Ini sempat mengingatkan kami pada masa lalu, saat dimana Sony merilis ponsel berbasis java K750 yang mengandalkan kemampuan kamera dengan fitur autofocus, dimana belum satupun vendor lain mampu melakukannya.

Perangkat Sony Xperia S yang datang dalam pengujian kami rupanya masih mengusung OS Android versi 2.3 GingerBread, namun kabarnya dalam waktu dekat bakalan mendapatkan versi Upgrade ke 4.0 Ice Cream Sandwich. Untuk User Interface masih mengandalkan Timescape UI yang sudah eksis sejak vendor masih menggandeng nama Ericsson. Selain itu ada juga tambahan Widget Mediascape dan Lockscreen yang mampu menampilkan beberapa notifikasi tertentu.

Untuk hasil pengujian Benchmark, tampaknya kami harus mengacungkan jempol kembali saat melihat poin 6652 yang tampil dilayar Xperia S. Poin ini jauh lebih baik ketimbang hasil Benchmark dengan menggunakan AnTuTu yang diuji pada perangkat HTC Sensation XE beberapa waktu lalu. Padahal secara spesifikasi bisa dikatakan antara Xperia S dengan XE setara satu sama lain.

Adapun besaran daya yang dibekali untuk mendukung semua kinerja dan aktifitas pengguna sudah ditingkatkan menjadi 1750 mAh, sebuah ukuran yang barangkali masih belum cukup mengingat kombinasi grafis layar Sony Xperia S dengan User Interface yang digunakan, membutuhkan daya yang tidak kalah besar dibanding perangkat sejenis lainnya.

Dengan harga jual yang masih berada di angka 5,4 Juta, tampaknya Sony Xperia S dapat dijadikan pilihan bagi Droiders yang memang menginginkan perangkat Android kelas Premium dengan kemampuan handal.