BLoGWaLKing yoook

46

Category : tentang HoBBy PLeSiran, tentang Opini

Rasanya sudah lama nih gag jalan-jalan di dunia maya mengunjungi BLoG milik teman di komunitas Bali Blogger Community. Apa kabarnya ya mereka ?

Selama ini aktifitas Dunia Maya yang aku lakoni paling berputar di beberapa tempat. Blog pribadi, Blog-nya MiRah, Blog milik Kantor, Blog WargaPande, halaman LPSE Badung, FaceBook, Twitter, halaman depan Google (dalam misi melihat Doodle terbaru :p), Detik dotcom dan Vivanews untuk berita termutakhir, PCHolic dan FourSQuare (untuk berburu Badges) dan downloadfilem dotcom untuk mengunduh filem-filem terbaru. :p Beberapa halaman seperti Forum Android Indonesia, XDA Developers, Android Market dan beberapa situs penyedia komik Indonesia sudah mulai jarang dihampiri lagi.

Bisa jadi lantaran mulai dilanda kejenuhan bolak balik di semua situs tersebut secara rutin setiap harinya, mulai deh muncul rasa kangen untuk mampir sejenak di halaman BLoG milik rekan-rekan Tandem Bali Blogger yang dahulu pernah terjalin begitu erat dengan cara saling mengunjungi. Dari blog-nya ImadeWira dot net, BunganJepun BLoGspot, Hendra WS, Rumah Tulisannya Anton Muhajir, Yanuar KutakKutik pula si KotakKotaknya Gus Tulang sampai SiGilaHorror-nya Eka Ozawa pula Win.Arto dan DaniIswara dotnet dotcom.

Maka berbekal sebuah TabletPC HTC FLYer plus si kartu Eksis, saban pagi sambil menanti antrean kamar mandi, jalan-jalan atau yang dikenal dengan istilah BloGWaLKing pun dilakoni dengan penuh semangat. Dimulai dari yang terbawah dari Daftar para B(e)LoGGer yang sempat tercatat dahulu kala di blog www.pandebaik.com satu persatu. Komentar sebisa mungkin dicantumkan Seumpama tulisannya masih bisa dipahami. Namun jika memang belum jua mudeng, tinggal disapa saja. Hehehe…

Yang unik dari hasil BloGWaLking ini adalah ada beberapa klasifikasi yang kemudian dapat dibuat secara iseng hasil pemikiran saja berdasarkan kunjungan selama tiga hari berturut-turut. Yang di-Update secara berkala (dilihat dari arsip bulanan) entah itu sekali, dua tiga kali dalam satu bulan atau malah setiap hari, Yang blom di-Update atau Update seingatnya (dilihat dari jeda waktu antar tulisan) bisa jadi lantaran kesibukan atau minim ide, Yang sudah mulai dilupakan (tulisan terakhir kisaran Tahun 2011/2010 kebawah), dan Yang sudah tidak aktif atau berubah jadi pencari Content.

Lantas BLoG mana saja yang masuk kategori tersebut ? berikut beberapa diantaranya.

Yang di-Update secara berkala (dan tentu saja masih aktif) : I Made Wira dotcom plus AnkerZone-nya, Tamba Budiarsana, Win.Arto, Sugeng HarJono, SayLow, Putri Astiti, Pande Putra, Bungan Jepun-nya Inten, LoDe Suriyani, Hendra WS, HeLL-Da Remaja, Gung WS, GenTRY Amalo, GENDOvara, Enda Nasution, Eka Juni Artawan, Dokter Bedah, Dokter Cock BlogDokter, Dokter Basuki Pramana, Cahya Legawa, Dego pande, BrokenCode, Arqu3fiq, ALAmendah, Anton Muhajir dan Kotak Kotaknya Agus Tulank.

Yang belom di-Update atau seingatnya : Winardi R, Sri Widari, BaliUn, Novan Kojaque, MadKork, Made Suryawan, Made ‘Bajak laut’ Devari, SiGilaHoror, DaniIswara dotcom, Artha Web ID, BogeloBlast, Adi Setiawan dan Ancak Wardana.

Yang sudah mulai dilupakan : TriMartono, Sutawijaya, Ratna erhanana, RadioGrafer putu Adi Susanta, Yanuar Kutak Kutik, MiRah Trisna ADi, Fitria PS, Dwija Satria Madangkara, Dokter Oka with Blow Jokes-nya :p, Dental 15June, Wayan Artana, Arif Bung Tekno, Aprian dan Aditya Sudarsana.

Yang sudah tidak Aktif lagi : Ramayadi, Madhyasta, Heru Gutomo (Error), Fenny AJaib, MidNightShadow, DaniIswara dotnet, Dek Didi, Bli Nyoman Budarsa dan Agus lenyot.

Jika ada yang merasa gag puas lantaran BLoG-nya dimasukkan ke tiga klasifikasi terakhir, langsung kontak saya yah. Hihihi…
,

Rekaman Lensa Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Berikut beberapa rekaman Lensa saat Dharmawecana yang diselenggarakan oleh Yowana Paramartha Warga Pande, hari Minggu 15 Januari 2012 di GOR Permata Desa Ubung, bekerja sama dengan seluruh Keluarga Besar Warga Pande Desa Ubung.

Support penuh dari Keluarga Besar Warga Pande Desa Ubung sejak H-1 minggu…

Suasana persiapan Lokasi, tepatnya di Lobby GOR Permata, H-1

Koordinasi persiapan Dharmawecana tetap dilaksanakan oleh para Admin Group Warga Pande Bali untuk memantapkan jalannya kegiatan. Thanks to Bli Ande TamanBali yang sudah banyak menginspirasi kami.

Suasana keakraban pagi para Penglingsir Maha Semaya Warga Pande, sesaat sebelum kegiatan Dharmawecana dimulai…

Kegiatan Dharmawecana dimulai pada pukul 09.30 pagi. btw, Chandra Lestari, Teruni Pande yang didaulat sebagai MC kali ini rupanya mendapat banyak perhatian lebih dari dua Fotografer kegiatan, hingga bisa dikatakan selama Kegiatan berlangsung banyak gambar yang diambil dan menghiasi album foto kami… :p

I Made Dego Suryantara, Ketua Panitia Dharmawecana tampak memberikan Ucapan Terima Kasih bagi seluruh Semeton yang sudah berkenan hadir dalam kegiatan Dharmawecana kali ini, pula untuk para Donatur dan tentu saja Panitia Dharmawecana yang sudah meluangkan waktunya untuk Ngayah sedari akhir tahun 2011 lalu.

Hall indoor GOR Permata yang tampak lowong saking besarnya ruangan, sementara jumlah Peserta yang berkenan hadir sangat jauh dari harapan kami. Faktor Akustik ruangan ternyata berpengaruh pula pada jalannya Dharmawecana. Satu masukan untuk panitia kelak, dalam memilih lokasi Dharmawecana yang representatif.

Bagian Konsumsi yang dibantu oleh Teruni Pande dari Desa Ubung, dengan setia membagikan Snak jajanan bali pula Nasi bungkus saat rehat Istirahat Siang. Terima Kasih ya dik…

Menyempatkan diri untuk berfoto bersama para Pembicara Dharmawecana dan tentu saja Admin Group Warga Pande Bali sekaligus Panitia Inti dalam Dharmawecana kali ini.

Ini dia Tuan Rumah Dharmawecana Warga Pande kali ini. Terima Kasih banyak untuk dukungan dan semangatnya ya, jangan pernah letih untuk membantu dan membimbing kami…

…dan inilah Panitia Dahrmawecana kedua yang diselenggarakan oleh Yowana Paramartha Warga Pande, gabungan dari semua Kabupaten/Kota. Semoga apa yang kita impikan bersama dapat pula terwujud di masa yang akan datang. Tegakkan kepala kalian semua…

Bagi yang ingin melihat Rekaman Lensa lebih jauh terkait kegiatan kami, silahkan main ke akun Group FaceBook kami, Warga Pande Bali atau langsung ke album Dharmawecana Pretisentana Pande disini.

Sedang bagi yang belum menyaksikan tayangan media BaliTV yang kami undang untuk meliput Dahrmawecana, silahkan mampir dihalaman YouTube link berikut ini.

Sampai jumpa di Kegiatan berikutnya, tetap Semangat !!!

Menyimak Cerita tentang Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande (bagian 2)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Memasuki sesi kedua Dharmawecana dilanjutkan dengan pemaparan dari Bapak Prof. Dr. Nyoman Weda Kusuma yang banyak menuturkan piteket-piteket pemahaman serta penerapan Bhisama di era Teknologi Informasi ini. Demikian halnya dengan Ibu Renawati, salah seorang Pengurus Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali yang baru saja usai menyelesaikan studi S3 Kajian Budayanya memberikan tips-tips Pergaulan bagi para Yowana Pande baik untuk mewujudkan rasa Bhakti kepada Orang tua, saudara, teman dan juga orang lain.

Dalam sesi tanya jawab yang dilakukan pasca semua pemaparan materi, setidaknya ada delapan pertanyaan yang penting untuk diketahui bersama, datang dari empat peserta Dharmawecana yang berkenan hadir hingga akhir acara.

Apa arti dari kata Pande ? atau mengapa orang lain menyebut kita sebagai Warga Pande ? Apakah Pande bisa digolongkan sebagai Brahmana ?

Penyebutan atau arti kata Pande, kurang lebih bermakna sebagai Pengakuan akan Profesi atau Keahlian terhadap seorang anak manusia dalam usahanya untuk mengolah logam baik Logam Besi, Logam Mulia atau Tembaga. Pengakuan ini kemudian dilakukan turun temurun terhadap semua keturunannya meski kelak mereka tidak lagi melakukan Profesi tersebut lantaran tuntutan jaman. Pande bisa pula disebut sebagai brahmana, ketika yang bersangkutan berperilaku sebagai seorang empu yang mampu membuat keris. Karena disamping menjadi seorang seniman, Pande dalam situasi demikian bisa juga berlaku sebagai seorang rohaniawan.

Dalam berperilaku, Warga Pande memiliki enam Bhisama yang kemudian menjadi panduan untuk melangkah kedepan secara sadar ataupun tidak. Lalu apakah Bhisama ini bisa berubah seperti halnya Fatwa dalam Agama lain ? dan apa yang akan terjadi ketika Bhisama itu dilanggar ?

Pada dasarnya ketika dahulu Bhisama dibuat dan ditetapkan oleh para leluhur, ada beberapa kepentingan yang sifatnya emergency dengan memanfaatkan Spirit memberikan jalan kepada Warganya untuk berbuat dan berperilaku yang terbaik dalam skala kualitas pada jamannya kelak. Hal ini kemudian selaras dengan beberapa aturan ataupun hukum yang berlaku sehingga bisa dikatakan Bhisama tetap harus dipatuhi dan dilakukan. Hanya saja memang dalam beberapa hal diperlukan penyesuaian-penyesuaian yang tidak dapat dipaksakan begitu saja. Ketika Bhisama ini dilanggar, secara kasat mata tentu saja tidak akan terjadi satu hal lain yang barangkali terkesan menghancurkan kehidupan seperti halnya yang diyakini oleh agama lain, terjadi begitu cepat dan nyata. Namun satu hal yang patut dicermati bahwa ketika Bhisama ini dilanggar, bisa jadi kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan yang bersangkutan didunia nyata merupakan orang yang tidak baik. Bhisama yang ada dalam skala kecil saja dilanggar apalagi Hukum dan aturan yang ada ?

Lantas bagaimana dengan larangan para orang tua kepada anak-anaknya untuk tidak mencari pasangan diluar soroh Pande ?

Sebenarnya ini bukanlah sebuah larangan, namun anjuran. Karena bagaimanapun juga seperti kata orang-orang tua kita, jodoh tetaplah ada di tangan Tuhan. Sehingga apapun usaha yang dilakukan untuk pencarian dan pencapaian sebuah perjalanan cinta tetap tak lepas dari Kuasa-Nya. Dikatakan sebagai anjuran, ya wajar saja mengingat orang tua mana sih yang ingin berpisah jauh dengan anaknya ? lagipula ketika misalkan seorang Teruni Pande kemudian menikah dengan Teruna yang berasal dari luar Pande dan dikhawatirkan mengakibatkan ‘kepanesan’ bagi keluarga laki-laki, semua itu masih bisa diminimalisir dengan menambahkan satu sarana banten khusus untuk menghilangkan ‘panas’nya darah Pande di dalam raga si Teruni. Hal ini terdapat dalam lontar SunariBungkah yang kemudian diharapkan bisa diterjemahkan dan disebarluaskan kepada semua Semeton sebagai satu pencerahan.

Disamping itu, jika seorang Teruni Pande mencari Sentana laki-laki yang berasal dari soroh diluar Pande, apakah yang bersangkutan bisa dikatakan sebagai Pande ?

Selama yang bersangkutan memuja Leluhur Pande serta melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kePandean, maka yang bersangkutan sudah pasti menjadi seorang Warga Pande. Namun apabila yang bersangkutan tidak ikut melaksanakannya, status yang bersangkutan hanya bisa dikatakan dinaungi oleh keluarga Pande.

Profesi Pande seperti yang telah diketahui bersama, tidak hanya ada di Bali dan tidak saja di agama Hindu. Di era kekinian, beberapa diantara mereka malah memanfaatkan status Pande sebagai profesi yang dianggap mampu menghasilkan uang dengan cara memproduksi dan mengolah logam secara massal. Apakah kemudian produksi yang mereka hasilkan (biasanya dalam bentuk kerajinan) bisa disejajarkan dengan produk seorang empu Pande ? bagaimana dengan penggunaan serta pemanfaatan kemajuan Teknologi dalam pelaksanaannya ?

Tidak ada yang menyalahkan pemanfaatan Teknologi demi kemudahan aktifitas Manusia, karena Teknologi memang diciptakan untuk itu. Pemanfataan modernisasi dalam laku seorang Pande beraktifitas secara Kreatif sangatlah dianjurkan apalagi jika memang ditujukan kepada kecepatan produksi demi menyikapi kemajuan dan tuntutan jaman. Namun disarankan agar jangan sampai dalam laku tersebut kemudian melupakan tata cara baku yang ada dalam Dharma Kepandean atau ajaran Panca Bayu yang notabene hanya mampu dilakukan oleh seorang Pande. Tujuan akhirnya tentu tidak hanya mengejar skala kuantitas namun diharapkan pula tetap mengutamakan kualitas.

Berkaitan dengan laku seorang Pande, apakah kemudian keberadaan Prapen dianggap perlu dibangun dalam pekarangan seorang Warga Pande ?

Jawabannya Jelas. Sangat perlu dan Mutlak hukumnya. Karena disamping berfungsi sebagai infrastruktur laku kewajiban Memande bagi seorang Pande, Prapen pula merupakan stana Ida betara Brahma Pasupati, tempat untuk melebur semua hal-hal buruk yang mengikuti kita sedari beraktifitas diluar rumah, agar tak merusak tatanan kehidupan dilingkungan rumah. Namun bagaimana seandainya secara luasan lahan tidak mencukupi untuk membangun sebuah Prapen ? tentu saja itu harus disesuaikan dengan kapasitas yang ada. Tidak harus luas dan megah seperti Prapen yang dimiliki Semeton lain. Minimal ada unsur-unsur penting yang menyertainya seperti Pelinggih, Prapen/Tungku dan pemalungan. Selain itu ada juga beberapa peralatan seperti Palu, sepit dan Culik Api yang biasanya menjadi simbol dari aktifitas laku Memande seorang Warga Pande.

Diluar pemahaman Bhisama ada juga pertanyaan yang dilontarkan terkait aturan Leteh atau Sebel yang sepatutnya dilaksanakan seorang Warga Pande usai melakukan prosesi Pengabenan misalnya. secara aturan yang ada di kalangan Warga Pande, sebel atau cuntaka hanya berlaku satu hari saja pasca prosesi pecaruan dilakukan. Namun tidak demikian halnya dengan Sebel atau Cuntaka yang diberlakukan di desa adat yang biasanya mencapai tiga hari. Mana yang harus dipatuhi ?

Dalam aturan Sebel atau Cuntaka ada batasan waktu yang dapat diberlakukan sesuai kondisi, situasi serta Dresta yang ada di lingkungan Desa sekitarnya. 1, 3, 5, 7, 9, 11 dan 21 hari. Mengambil yang manapun boleh-boleh saja. Namun agar jangan sampai menimbulkan bentrok atau ketidakcocokan pemahaman dengan lingkungan sekitar, disarankan mengambil waktu Sebel atau Cuntaka sesuai aturan atau Dresta yang diberlakukan setempat.

Terakhir, berkaitan dengan pelaksanaan Dharmawecana yang kemudian sangat diapresiasi sebagai ide yang luar biasa bagi para penglingsir, diharapkan mampu dilaksanakan dan dijadikan sebagai agenda tahunan oleh para Yowana ataupun Maha Semaya sebagai induk organisasi. Yang dalam pelaksanaan nantinya dapat dilakukan secara bergilir di tiap-tiap kabupaten seluruh Bali dengan memanfaatkan Wantilan yang berada di Pura-Pura yang berkaitan dengan Pande. Tak lupa disertakan pula referensi-referensi yang digunakan dalam pemaparan materi, direkap dan simpulkan sehingga dapat dibaca dan dicermati oleh setiap peserta baik saat Dharmawecana berlangsung ataupun hingga pulang kerumah nantinya.