Menyimak Cerita tentang Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande (bagian 2)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Memasuki sesi kedua Dharmawecana dilanjutkan dengan pemaparan dari Bapak Prof. Dr. Nyoman Weda Kusuma yang banyak menuturkan piteket-piteket pemahaman serta penerapan Bhisama di era Teknologi Informasi ini. Demikian halnya dengan Ibu Renawati, salah seorang Pengurus Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali yang baru saja usai menyelesaikan studi S3 Kajian Budayanya memberikan tips-tips Pergaulan bagi para Yowana Pande baik untuk mewujudkan rasa Bhakti kepada Orang tua, saudara, teman dan juga orang lain.

Dalam sesi tanya jawab yang dilakukan pasca semua pemaparan materi, setidaknya ada delapan pertanyaan yang penting untuk diketahui bersama, datang dari empat peserta Dharmawecana yang berkenan hadir hingga akhir acara.

Apa arti dari kata Pande ? atau mengapa orang lain menyebut kita sebagai Warga Pande ? Apakah Pande bisa digolongkan sebagai Brahmana ?

Penyebutan atau arti kata Pande, kurang lebih bermakna sebagai Pengakuan akan Profesi atau Keahlian terhadap seorang anak manusia dalam usahanya untuk mengolah logam baik Logam Besi, Logam Mulia atau Tembaga. Pengakuan ini kemudian dilakukan turun temurun terhadap semua keturunannya meski kelak mereka tidak lagi melakukan Profesi tersebut lantaran tuntutan jaman. Pande bisa pula disebut sebagai brahmana, ketika yang bersangkutan berperilaku sebagai seorang empu yang mampu membuat keris. Karena disamping menjadi seorang seniman, Pande dalam situasi demikian bisa juga berlaku sebagai seorang rohaniawan.

Dalam berperilaku, Warga Pande memiliki enam Bhisama yang kemudian menjadi panduan untuk melangkah kedepan secara sadar ataupun tidak. Lalu apakah Bhisama ini bisa berubah seperti halnya Fatwa dalam Agama lain ? dan apa yang akan terjadi ketika Bhisama itu dilanggar ?

Pada dasarnya ketika dahulu Bhisama dibuat dan ditetapkan oleh para leluhur, ada beberapa kepentingan yang sifatnya emergency dengan memanfaatkan Spirit memberikan jalan kepada Warganya untuk berbuat dan berperilaku yang terbaik dalam skala kualitas pada jamannya kelak. Hal ini kemudian selaras dengan beberapa aturan ataupun hukum yang berlaku sehingga bisa dikatakan Bhisama tetap harus dipatuhi dan dilakukan. Hanya saja memang dalam beberapa hal diperlukan penyesuaian-penyesuaian yang tidak dapat dipaksakan begitu saja. Ketika Bhisama ini dilanggar, secara kasat mata tentu saja tidak akan terjadi satu hal lain yang barangkali terkesan menghancurkan kehidupan seperti halnya yang diyakini oleh agama lain, terjadi begitu cepat dan nyata. Namun satu hal yang patut dicermati bahwa ketika Bhisama ini dilanggar, bisa jadi kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan yang bersangkutan didunia nyata merupakan orang yang tidak baik. Bhisama yang ada dalam skala kecil saja dilanggar apalagi Hukum dan aturan yang ada ?

Lantas bagaimana dengan larangan para orang tua kepada anak-anaknya untuk tidak mencari pasangan diluar soroh Pande ?

Sebenarnya ini bukanlah sebuah larangan, namun anjuran. Karena bagaimanapun juga seperti kata orang-orang tua kita, jodoh tetaplah ada di tangan Tuhan. Sehingga apapun usaha yang dilakukan untuk pencarian dan pencapaian sebuah perjalanan cinta tetap tak lepas dari Kuasa-Nya. Dikatakan sebagai anjuran, ya wajar saja mengingat orang tua mana sih yang ingin berpisah jauh dengan anaknya ? lagipula ketika misalkan seorang Teruni Pande kemudian menikah dengan Teruna yang berasal dari luar Pande dan dikhawatirkan mengakibatkan ‘kepanesan’ bagi keluarga laki-laki, semua itu masih bisa diminimalisir dengan menambahkan satu sarana banten khusus untuk menghilangkan ‘panas’nya darah Pande di dalam raga si Teruni. Hal ini terdapat dalam lontar SunariBungkah yang kemudian diharapkan bisa diterjemahkan dan disebarluaskan kepada semua Semeton sebagai satu pencerahan.

Disamping itu, jika seorang Teruni Pande mencari Sentana laki-laki yang berasal dari soroh diluar Pande, apakah yang bersangkutan bisa dikatakan sebagai Pande ?

Selama yang bersangkutan memuja Leluhur Pande serta melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kePandean, maka yang bersangkutan sudah pasti menjadi seorang Warga Pande. Namun apabila yang bersangkutan tidak ikut melaksanakannya, status yang bersangkutan hanya bisa dikatakan dinaungi oleh keluarga Pande.

Profesi Pande seperti yang telah diketahui bersama, tidak hanya ada di Bali dan tidak saja di agama Hindu. Di era kekinian, beberapa diantara mereka malah memanfaatkan status Pande sebagai profesi yang dianggap mampu menghasilkan uang dengan cara memproduksi dan mengolah logam secara massal. Apakah kemudian produksi yang mereka hasilkan (biasanya dalam bentuk kerajinan) bisa disejajarkan dengan produk seorang empu Pande ? bagaimana dengan penggunaan serta pemanfaatan kemajuan Teknologi dalam pelaksanaannya ?

Tidak ada yang menyalahkan pemanfaatan Teknologi demi kemudahan aktifitas Manusia, karena Teknologi memang diciptakan untuk itu. Pemanfataan modernisasi dalam laku seorang Pande beraktifitas secara Kreatif sangatlah dianjurkan apalagi jika memang ditujukan kepada kecepatan produksi demi menyikapi kemajuan dan tuntutan jaman. Namun disarankan agar jangan sampai dalam laku tersebut kemudian melupakan tata cara baku yang ada dalam Dharma Kepandean atau ajaran Panca Bayu yang notabene hanya mampu dilakukan oleh seorang Pande. Tujuan akhirnya tentu tidak hanya mengejar skala kuantitas namun diharapkan pula tetap mengutamakan kualitas.

Berkaitan dengan laku seorang Pande, apakah kemudian keberadaan Prapen dianggap perlu dibangun dalam pekarangan seorang Warga Pande ?

Jawabannya Jelas. Sangat perlu dan Mutlak hukumnya. Karena disamping berfungsi sebagai infrastruktur laku kewajiban Memande bagi seorang Pande, Prapen pula merupakan stana Ida betara Brahma Pasupati, tempat untuk melebur semua hal-hal buruk yang mengikuti kita sedari beraktifitas diluar rumah, agar tak merusak tatanan kehidupan dilingkungan rumah. Namun bagaimana seandainya secara luasan lahan tidak mencukupi untuk membangun sebuah Prapen ? tentu saja itu harus disesuaikan dengan kapasitas yang ada. Tidak harus luas dan megah seperti Prapen yang dimiliki Semeton lain. Minimal ada unsur-unsur penting yang menyertainya seperti Pelinggih, Prapen/Tungku dan pemalungan. Selain itu ada juga beberapa peralatan seperti Palu, sepit dan Culik Api yang biasanya menjadi simbol dari aktifitas laku Memande seorang Warga Pande.

Diluar pemahaman Bhisama ada juga pertanyaan yang dilontarkan terkait aturan Leteh atau Sebel yang sepatutnya dilaksanakan seorang Warga Pande usai melakukan prosesi Pengabenan misalnya. secara aturan yang ada di kalangan Warga Pande, sebel atau cuntaka hanya berlaku satu hari saja pasca prosesi pecaruan dilakukan. Namun tidak demikian halnya dengan Sebel atau Cuntaka yang diberlakukan di desa adat yang biasanya mencapai tiga hari. Mana yang harus dipatuhi ?

Dalam aturan Sebel atau Cuntaka ada batasan waktu yang dapat diberlakukan sesuai kondisi, situasi serta Dresta yang ada di lingkungan Desa sekitarnya. 1, 3, 5, 7, 9, 11 dan 21 hari. Mengambil yang manapun boleh-boleh saja. Namun agar jangan sampai menimbulkan bentrok atau ketidakcocokan pemahaman dengan lingkungan sekitar, disarankan mengambil waktu Sebel atau Cuntaka sesuai aturan atau Dresta yang diberlakukan setempat.

Terakhir, berkaitan dengan pelaksanaan Dharmawecana yang kemudian sangat diapresiasi sebagai ide yang luar biasa bagi para penglingsir, diharapkan mampu dilaksanakan dan dijadikan sebagai agenda tahunan oleh para Yowana ataupun Maha Semaya sebagai induk organisasi. Yang dalam pelaksanaan nantinya dapat dilakukan secara bergilir di tiap-tiap kabupaten seluruh Bali dengan memanfaatkan Wantilan yang berada di Pura-Pura yang berkaitan dengan Pande. Tak lupa disertakan pula referensi-referensi yang digunakan dalam pemaparan materi, direkap dan simpulkan sehingga dapat dibaca dan dicermati oleh setiap peserta baik saat Dharmawecana berlangsung ataupun hingga pulang kerumah nantinya.

Menyimak Cerita tentang Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande (bagian 1)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

“Bahwasanya semua Bhisama Warga Pande tetap harus dilaksanakan, karena itu adalah merupakan sebuah Panduan untuk menjadikan kita yang terbaik bagi Keluarga dan juga lingkungan”

Pagi yang cerah kurasa…

Kegiatan Dharmawecana kedua kali ini digelar di GOR Permata Desa Ubung, alternatif keempat dari yang pernah kami diskusikan sebulan lalu. Entah mengapa kami sepakat untuk memilihnya. Dan waktu itupun sudah ditetapkan. Minggu, 15 Januari 2012.

Satu persatu kendaraan roda dua dan empat berdatangan memasuki parkiran GOR Permata. Wajah-wajah letih yang tampak sudah merasa tak sabar lagi untuk memulainya. Kami lewati malam tadi hingga pukul 01.30 dinihari, itupun masih kulanjutkan dengan menulis sedikit harapan yang barangkali kemudian aku sesali.

Sire Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani tampak hadir tepat pukul 8.00 pagi, dari Geriya Tunggak Karangasem diantar semeton Komink, seorang Yowana Pande dari Tabanan yang secara khusus menginap di Candidasa agar ia dapat menjemput Beliau lebih pagi. Kedatangan ini tentu saja membuat kami sedikit panik lantaran nyaris belum ada persiapan apapun untuk penyambutan yang bisa dilakukan. Akhirnya kami mendaulat Bapak yang memang sengaja kuajak datang lebih awal, untuk menemani Beliau bercengkrama sembari menanti waktu.

Pukul 9.00 pagi, parkiran dan lobby depan GOR Permata sudah tampak mulai ramai. Meski belum sesuai harapan kami, kehadiran semeton yang telah rela meluangkan waktunya untuk datang, begitu menggembirakan hati hingga tak segan kami saling menyapa. Proses Registrasi Peserta dan juga pembagian snack tampak berjalan dengan baik, tak sekrodit yang pernah kami bayangkan sebelumnya.

Sudah Lewat setengah jam dari jadwal yang kami susun. Namun jumlah Peserta memang jauh dari bayangan kami hingga sempat membuat hati ini berdesir kecewa. Rupanya apa yang kami lakukan belum mampu menggugah Semeton Pande yang lain untuk datang dan berbagi. But, the Show Must Go On kata Freddy Mercury dalam album terakhirnya.

Diawali dengan laporan Ketua Panitia Dharmawecana, I Made Dego Suryantara yang mengisahkan awal mula hingga terlaksanaknya Kegiatan Dharmawecana ini. Dilanjutkan dengan Kesan dan Pesan dari Penglingsir Warga Pande Desa Ubung Bapak Made Djesna yang jujur saja, berperan sangat besar atas sambutan Beliau dan semua keluarga besar Warga Pande Desa Ubung 8 Januari 2012 lalu. Dan pada akhirnya Kegiatanpun dibuka oleh Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali Bapak Kompyang Wisastera Pande.

Bli Komang Suarsana, Ketua Yowana Paramartha Warga Pande Propinsi Bali yang sejak awal dengan sabar membimbing dan menyemangati kami, kali ini didaulat sebagai Moderator Kegiatan dan mengawali Dharmawecana dengan gambaran awal kegiatan dan nantinya diharapkan akan ada diskusi.

Sesi pertama diisi oleh Sire Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani yang sempat menyatakan penghargaannya kepada para generasi muda Yowana Paramartha Warga Pande yang telah bersusah payah menyelenggarakan Dharmawecana kedua ini sedari tiga bulan sebelumnya. Harapan Beliau tentu saja, agar kegiatan semacam ini mampu menurunkan nilai-nilai budaya dan sejarah kePandean serta melakukan estafet transformasi informasi dari generasi tua ke generasi muda. Bahkan Beliau sempat pula mengartikatakan Yowana Paramartha sebagai Generasi Muda yang diharapkan mampu meraih nilai bobot jati diri yang prima.

“Wareg tanpa ngerayunan, Bungah tanpa pengangge”

Tak lupa Beliau menceriterakan pula harapan dan cita-citanya kedepan kelak. Dimana harapan ini telah dimulai jauh sebelumnya, saat Beliau masih berstatus Walaka. Mencoba menelusuri manuskrip, naskah, lontar dan sebagainya langsung dari asalnya, tempat dimana situs-situs pande berada. Dengan dibantu pengurus Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali, Beliau berkunjung ke seluruh geriya Pande dan yang berstatus bekas geriya. Dimana kemudian hasil dari penelusuran tersebut menyajikan berbagai macam informasi yang berkaitan dengan Dharma kePandean seperti Usadha,Kewisesan, Wariga dan lain sebagainya.

Beberapa diantara pun datang dari Tusan dan Tonja terdapat babad Purajurit dan Sunari Bungkah. Dari Tabanan ada lontar Brahma Pande Tatwa dan juga tentang Babad Semeton Pande Beratan. Demikian halnya dari Kamasan ada babad Semeton Pande Kamasan, Babad Semeton Pande Meranggi dan tentang ceritera yang isinya mengapa kita menjadi seorang Pande.

Dari semua itu, dikatakanlah bahwa dalam sebuah Mitos, Brahma Prajapati merupakan Pencipta dari semua Klan atau soroh yang ada di Bali. Mitos ini kemudian dianggap logis jika dikaitkan dengan arti Dewa Tri Murti dimana Brahma merupakan Pencipta segalanya. Oleh karena itu, apabila ada Semeton Pande yang mengklaim keberadaan Brahma sebagai miliknya, hal ini bisa dikatakan sangat kebablasan.

Terkait Tema Kegiatan Dharmawecana, dikisahkan dahulu Bhisama Warga Pande dibuat sebenarnya karena merupakan sebuah tuntutan dari sebuah kondisi yang disesuaikan dengan jaman saat Bhisama itu dilahirkan. Bhisama lantas dibuat untuk mengisi kebutuhan yang sifatnya emergency, sehingga semeton Warga Pande kelak dapat memanfaatkannya dengan baik.

Namun tidak semua Bhisama Warga Pande dibuat atau diturunkan atas kehendak dan pemikiran Warga Pande sendiri. Salah satu yang menguatkan pendapat ini ada terkait larangan untuk menggunakan Tirta Sulinggih lain yang rupanya datang justru dari golongan Brahmana sendiri yang dikisahkan dahulu pernah bersumpah tidak akan mau memberikan Tirta kepada Warga Pande. Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa ada satu sesi upacara yang memang melarang penggunaan Tirta Sulinggih selain Sire Empu Pande seperti yang dikatakan oleh Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali Bapak Kompyang Wisastera Pande, yaitu saat Pengabenan yang membutuhkan Tirta Pengentas.

Menurut Pembicara kedua Drs. I Made Ramayadi, bahwa Aktualisasi Bhisama Warga Pande hendaklah disikapi dengan bijak sesuai dengan perkembangan jaman dan era Teknologi Informasi dan tidak diartikan dalam lingkup pemikiran yang terbatas. Setidaknya beberapa Makna yang kemudian tertuang didalam Bhisama Warga Pande diharapkan agar selalu mengingat Leluhur dan orang tua dimanapun berada, bertindak berbuat dan berkarya yang kreatif dan terbaik penuh inovasi dengan mengandalkan semua kemampuan yang dimiliki, mengutamakan rasa persaudaraan dan juga tak lupa untuk mengingat keberadaan Pura yang berkaitan dengan Sejarah kePandean seperti Penataran Pande Besakih, Pura Gandamayu, Pura Batur, Tulukbiyu, Tamblingan dan ring Tengahing Segara. Untuk Pura yang disebutkan terakhir ini berdasarkan Wiyana yang ditenggarai berada ring Tengahing Segara adalah Pura Goa Lawah dimana pelinggih Meru nomor dua diperuntukkan bagi Ida Ratu Bagus Pande atau oleh Pemangku dikatakan sebagai linggihan Ida Betara Brahma.

Sebuah Catatan Pribadi tentang Dharmawecana kedua YPWP

8

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Ternyata tidak mudah untuk mengumpulkan Yowana dalam jumlah berskala besar dalam satu Dharmawecana

Setidaknya demikian bathin saya saat mulai menghitung jumlah peserta yang hadir dan datang mewakili golongan Yowana beberapa saat sebelum Dharmawecana kedua yang diselenggarakan oleh Yowana Paramartha Warga Pande hari Minggu pagi 15 Januari 2012 di GOR Permata Ubung. Satu hal yang sebenarnya sudah bisa saya tebak sejak awal ketika ide ini digulirkan akhir tahun 2011 lalu.

Meskipun ada faktor kengototan dari sebagian Rekan yang merasa optimis mampu mendatangkan seribu Yowana dalam event kedua kali ini demi menjawab tantangan dari Penglingsir sekaligus Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali, Bapak Kompyang Wisastra Pande, apresiasi tetap patut saya sampaikan kepada yang telah berkenan hadir dan tentu saja kepada Rekan-Rekan panitia yang tak kenal lelah berusaha untuk mewujudkan impiannya kali ini.

Sangat disayangkan memang. Saat satu waktu ketika kami berkumpul di dunia maya, terlihat begitu ramai dan antusias terhadap semua pertanyaan yang berkaitan dengan dunia remaja (Yowana) ditimpali dengan jawaban yang beraneka ragam sesuai dengan pola pikir, latar belakang pendidikan dan juga didikan serta pengaruh lingkungan, hal sebaliknya terjadi ketika kami berusaha untuk mengundang mereka datang secara langsung untuk mendengarkan dan menyaksikan jawaban akan semua pertanyaan tadi dari narasumber yang jauh lebih dapat dipercaya.

Dari target seribu Yowana yang diharapkan hadir dalam event Dharmawecana kedua ini, rupanya tidak sampai 100 orang peserta mewakili golongan tersebut. Padahal jumlah keanggotaan dunia maya yang terdaftar dalam Group Warga Pande Bali di akun jejaring sosial FaceBook mencapai nyaris 2500 akun. Kendati patut disadari bahwa ada kemungkinan satu orang dalam dunia nyata bisa memiliki akun dua sampai tiga copian yang tergabung dalam jumlah tersebut. Pula akun yang dimiliki oleh Semeton yang berada diluar Bali.

Jadi sangat disayangkan memang, ketika semua usaha me-Yadnya yang kami lakukan kemudian tersia-siakan oleh pendapat-pendapat yang menyatakan ‘ah malas ikut Dharmawecana, paling juga Cuma duduk diam dan berjalan membosankan’ atau ‘ah itu bukan kegiatan yang saya banget…’

Terlepas dari semua alasan ketidakhadiran Semeton Yowana yang lain dimana setidaknya sekitar 1000an lebih undangan tersebar di seantero Propinsi Bali, satu hal yang kemudian patut dipertanyakan, apakah kelak event seperti ini patut diteruskan dan dilakukan kembali atau menjadi agenda kegiatan tahunan ? mengingat dua kali usaha ini kami lakukan, dua kali pula target jumlah yang hadir tidak tercapai, pun perjalanan situasi kegiatan yang rupanya tidak sesuai harapan kami.

Memang, seorang Rekan kami pernah berkata bahwa dari seribu Peserta yang kelak kami harapkan datang, hanya setengahnya yang mau hadir di lokasi kegiatan. Itupun setengahnya lagi yang mendengarkan secara seksama, dan kemudian setengahnya lagi yang dapat memahami makna dari kegiatan. Satu hal yang kemudian menjadi patokan kami untuk kegiatan selanjutnya. Namun jika boleh rumusan diatas diperlakukan pada jumlah Peserta yang hadir saat Dharmawecana kemarin, apakah dapat dibenarkan ? bisa jadi. Lantaran hampir sebagian Peserta dari Yowana memilih untuk meninggalkan Lokasi Kegiatan pasca Istirahat makan siang ketimbang mengikutinya hingga tuntas.

Sangat ironis bagi saya pribadi. Bahwa kelak Generasi Muda seperti kitalah yang diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada sekian banyak Semeton lainnya minimal informasi tersebut bisa didapatkan secara langsung dari narasumbernya atau penglingsir dan orang-orang tua yang kita miliki. Jangan sampai ketika informasi sejarah dan budaya serta mengapa semua itu ada dalam keseharian kita dipertanyakan oleh orang lain atau kelak anak cucu kita, rata-rata jawaban yang dilontarkan adalah sama.

‘Nak mule keto’ atau ‘entah ya, saya tidak pernah diberitahu oleh orang tua dahulu’

Kesempatan itu telah berusaha kami buka dan sebarluaskan. Namun jika memang tidak ada responnya sama sekali, meski ini merupakan ide kegiatan yang luar biasa seperti yang dipikirkan oleh para Penglingsir dan orang tua kita kemarin, mungkin lebih baik kami hentikan saja hingga disini.

Entah kegiatan apa yang kelak akan kami lakukan kedepannya dengan menyandang nama Yowana Paramartha Warga Pande. Tapi jika itu bisa terwujud, mungkin skala prioritas yang akan kami perjuangkan tak lagi untuk semua kalangan, minimal kami saja yang bisa memahaminya lebih dulu.

“ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country”

Kata-kata yang pernah dilontarkan oleh seorang pemimpin Negara Adikuasa Amerika John F Kennedy barangkali boleh saya gunakan dalam konteks tuntutan yang selalu dipertanyakan dalam lingkup pesemetonan Maha Semaya Warga Pande.

Satu pilihan yang mudah. Rekan akan ikut serta terlibat didalamnya, ataukah hanya sebatas omongan tanpa keinginan untuk melakukannya sama sekali.

Semoga Yowana Paramartha Warga Pande bisa lebih baik kedepannya.

Denpasar, 16 Januari 2012.

PanDe Baik

Persiapan menuju Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

“Ide-ide briliant biasanya akan muncul saat detik-detik terakhir kegiatan…”

Demikian bunyi sebuah pesan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande, I Made Dego Suryantara beberapa hari lalu. Dan itu benar adanya.

Kami sendiri sebenarnya membayangkan bahwa apa yang akan kami laksanakan kali ini, kelak bisa berjalan dengan sederhana dan minimal mampu memberikan sedikit pengalaman tambahan dalam berorganisasi dan bersosialisasi dengan pesemetonan Warga Pande. Namun dalam kenyataannya malah lebih dari itu.

Semua usaha yang telah dilakukan oleh keluarga Besar Semeton Warga Pande Desa Ubung hingga pukul 01.00 dinihari tadi benar-benar membuat kejutan besar atas semua pengharapan kami sejak awal. Sedari sambutan, penyampaian hingga perwujudan semua ide dekorasi yang beberapa waktu lalu sebenarnya masih ragu kami pinta.

Tidak tanggung-tanggung. Dari beberapa daftar yang kami pesan saat pertemuan di hari Minggu malam, 8 Januari lalu di Pura Penataran Pande Ubung, dapat terwujud dengan baik dan hadir dengan banyak tambahan dekorasi lainnya. Bahkan beberapa Rencana tambahan untuk datang lebih pagi di hari Minggu pagi saat kegiatan akan dilangsungkan, rupanya bisa diselesaikan lebih awal meski harus menghabiskan waktu sejak pukul 10 malam hingga 01.00 dinihari.

Terlepas dari beberapa persiapan yang dilakukan oleh keluarga Besar Semeton Warga Pande Desa Ubung untuk mendekorasi ruangan gedung GOR Permata, yang patut diacungi pula dengan dua jempol adalah persiapan yang dilakukan oleh Panitia Dharmawecana sejak awal pembentukan. Baik itu untuk urusan Konsumsi, hal paling vital yang ditangani langsung oleh saudara PiP Ariadi, hingga penggalian dana yang dilakukan Bli Wayan Ande Tamanbali secara door to door di seputaran Gianyar secara intensif.

Semangat ngayah yang dilakukan dua Semeton pande ini tentu saja membuat semangat semeton lainnya makin bertambah untuk habis-habisan melaksanakan persiapan Dharmawecana kedua kali ini. Katakan saja Semeton Yowana Kabupaten Tabanan yang tak kenal lelah datang jauh-jauh untuk menghadiri Rapat Koordinasi secara intens ke Kota Denpasar hingga larut malam, atau Teruni Pande yang selalu mendatangkan angin segar bagi para Terunanya dalam setiap prosesi kegiatan. Satu pola yang kemudian kami harapkan mampu bertahan hingga kami semua berkeluarga nanti.

Umbul-umbul merah kini telah tampak berjajar di sisi jalan sekitar Banjar Sedana Mertha, lokasi GOR Permata Ubung, tempat dimana Dharmawecana kali ini dilaksanakan. Sebagai pertanda bahwa kami Generasi Muda Pande telah siap untuk ikut serta meng-Ajegkan Bali dengan cara yang mampu kami lakukan.

Jadi, bagi rekan yang mengaku merupakan Generasi Yowana Warga Pande, tentu saja wajib datang dan hadir di Minggu pagi 15 Januari 2012. Jangan sia-siakan usaha kami untuk berusaha berbuat meski sedikit untuk masa depan bersama. Kami akan tunggu kalian di lokasi…

5 Alasan Mengapa Saya Belum Menerima Permintaan Pertemanan Anda

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Dalam daftar Request Pertemanan akun FaceBook terdapat sedikitnya 100-an akun FaceBook lain yang mengirimkan permintaan pertemanan yang hingga kini masih berstatus Pending atau bahkan Hidden Request (permintaan yang ditolak). Semua itu dilakukan, bukan tanpa alasan. Karena bagaimanapun juga Status Pertemanan dalam dunia mayapun bagi saya pribadi tetaplah sama dengan harapan status pertemanan di dunia nyata. Lantas apabila kemudian permintaan/ permohonan yang disampaikan masih ter-Pending hingga kini, barangkali berikut bisa saya katakan Alasannya.

Pertama, Asal Usul yang Tidak Jelas. Minimal apa latar belakang permintaan atau permohonan teman dilakukan. Apakah lantaran satu hobi, satu tempat kerja, satu almamater ataukah barangkali satu guru satu elmu ? he… sama halnya dengan dunia nyata, orang tak akan mungkin bisa berteman tidak memiliki kesamaan situasi. Ini bisa dilakukan dengan menyisipkan pesan didalam permintaan atau bahkan bergabung dalam sebuah Page/Group sehingga informasi tersebut minimal bisa tampil dihalaman Info pribadi. Jikapun kemudian ini dipaksakan, bisa jadi status pertemanan yang ada hanyalah semu tanpa memiliki arti lebih.

Kedua, Akun ID 4L4Y. Seperti yang pernah saya ungkapkan dalam salah satu Alasan Mengapa Saya Memblokir Akun FaceBook Anda, menggunakan nama akun 4L4Y secara otomatis akan menempatkan akun tersebut berada dalam urutan pertama untuk menolak permintaan apalagi tanpa disertai ‘Asal Usul’ diatas. Jadi jika Rekan merasa memiliki akun ID dalam format 4L4Y, jangan segan untuk menghapus akun ID saya dari dartar permohonan yang Rekan kirimkan yah.

Ketiga, Over Protected. Merahasiakan Informasi Pribadi pada akun FaceBook memang merupakan satu Poin Penting yang selalu saya rekomendasikan untuk dilakukan. Namun saat Rekan memohon permintaan Pertemanan, jangan sekali-sekali merahasiakan Informasi pribadi dengan hanya meninggalkan Nama dan Profile Picture saja untuk bisa diakses. Kembali kepada Alasan pertama diatas, bagaimana mau berteman jika tidak mengetahui asal-usulnya ?

Keempat, isi TimeLine. Apabila kemudian akun ID Rekan sudah menyajikan Informasi dan Asal Usul yang Jelas dan tidak 4L4Y, pertimbangan keempat yang biasanya saya pegang adalah TimeLine yang disajikan dalam Wall. Jika menyajikan ‘Cerita Status’ yang kerap Menghina atau mencaci maki seperti alasan Kedua dalam 10 Alasan Mengapa Saya Memblokir Akun FaceBook Anda atau bahkan jualan melulu seperti pada alasan Ketiga, maka dengan terpaksa permohonan akan saya tolak dengan segera. Ketimbang mengambil resiko yang sebetulnya tidak perlu.

Kelima, Kelupaan. Nah kalo alasan yang satu ini murni kesalahan ada pada pikiran saya pribadi. Terkadang hal pertama yang saya lakukan ketika masuk ke akun ID FaceBook adalah memeriksa TimeLine Status teman di halaman Beranda pula perkembangan terbaru dari beberapa akun Group/Page yang saya ikuti. Daftar Pertemanan bisa jadi merupakan langkah kesekian yang saya periksa mengingat ‘Lupa gara-gara keasyikan berinteraksi dengan aktifitas lainnya didunia maya.

Jadi jika Rekan memiliki Kriteria yang tidak mengarah pada Empat Alasan pertama diatas, dan permintaan sudah terlalu lama, jangan segan untuk mengingatkan saya lewat cara lain yah. Entah sms, kontak lewat Whatsapp atau email. Bagi yang ingin tau lebih jauh nomor kontak ID dan email, silahkan lihat di Halaman Admin pada blog ini.
Mengapa kemudian saya begitu ketat dalam menerima permintaan pertemanan, pertama lantaran saya bukanlah artis kenamaan atau orang yang populer dan kedua, agar kelak saya tidak akan salah menanggapi apabila ada ‘cerita status’ yang diungkap dalam TimeLine yang Rekan lakukan.