Menu
Categories
Menyimak Cerita tentang Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande (bagian 1)
January 18, 2012 tentang DiRi SenDiri

“Bahwasanya semua Bhisama Warga Pande tetap harus dilaksanakan, karena itu adalah merupakan sebuah Panduan untuk menjadikan kita yang terbaik bagi Keluarga dan juga lingkungan”

Pagi yang cerah kurasa…

Kegiatan Dharmawecana kedua kali ini digelar di GOR Permata Desa Ubung, alternatif keempat dari yang pernah kami diskusikan sebulan lalu. Entah mengapa kami sepakat untuk memilihnya. Dan waktu itupun sudah ditetapkan. Minggu, 15 Januari 2012.

Satu persatu kendaraan roda dua dan empat berdatangan memasuki parkiran GOR Permata. Wajah-wajah letih yang tampak sudah merasa tak sabar lagi untuk memulainya. Kami lewati malam tadi hingga pukul 01.30 dinihari, itupun masih kulanjutkan dengan menulis sedikit harapan yang barangkali kemudian aku sesali.

Sire Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani tampak hadir tepat pukul 8.00 pagi, dari Geriya Tunggak Karangasem diantar semeton Komink, seorang Yowana Pande dari Tabanan yang secara khusus menginap di Candidasa agar ia dapat menjemput Beliau lebih pagi. Kedatangan ini tentu saja membuat kami sedikit panik lantaran nyaris belum ada persiapan apapun untuk penyambutan yang bisa dilakukan. Akhirnya kami mendaulat Bapak yang memang sengaja kuajak datang lebih awal, untuk menemani Beliau bercengkrama sembari menanti waktu.

Pukul 9.00 pagi, parkiran dan lobby depan GOR Permata sudah tampak mulai ramai. Meski belum sesuai harapan kami, kehadiran semeton yang telah rela meluangkan waktunya untuk datang, begitu menggembirakan hati hingga tak segan kami saling menyapa. Proses Registrasi Peserta dan juga pembagian snack tampak berjalan dengan baik, tak sekrodit yang pernah kami bayangkan sebelumnya.

Sudah Lewat setengah jam dari jadwal yang kami susun. Namun jumlah Peserta memang jauh dari bayangan kami hingga sempat membuat hati ini berdesir kecewa. Rupanya apa yang kami lakukan belum mampu menggugah Semeton Pande yang lain untuk datang dan berbagi. But, the Show Must Go On kata Freddy Mercury dalam album terakhirnya.

Diawali dengan laporan Ketua Panitia Dharmawecana, I Made Dego Suryantara yang mengisahkan awal mula hingga terlaksanaknya Kegiatan Dharmawecana ini. Dilanjutkan dengan Kesan dan Pesan dari Penglingsir Warga Pande Desa Ubung Bapak Made Djesna yang jujur saja, berperan sangat besar atas sambutan Beliau dan semua keluarga besar Warga Pande Desa Ubung 8 Januari 2012 lalu. Dan pada akhirnya Kegiatanpun dibuka oleh Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali Bapak Kompyang Wisastera Pande.

Bli Komang Suarsana, Ketua Yowana Paramartha Warga Pande Propinsi Bali yang sejak awal dengan sabar membimbing dan menyemangati kami, kali ini didaulat sebagai Moderator Kegiatan dan mengawali Dharmawecana dengan gambaran awal kegiatan dan nantinya diharapkan akan ada diskusi.

Sesi pertama diisi oleh Sire Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani yang sempat menyatakan penghargaannya kepada para generasi muda Yowana Paramartha Warga Pande yang telah bersusah payah menyelenggarakan Dharmawecana kedua ini sedari tiga bulan sebelumnya. Harapan Beliau tentu saja, agar kegiatan semacam ini mampu menurunkan nilai-nilai budaya dan sejarah kePandean serta melakukan estafet transformasi informasi dari generasi tua ke generasi muda. Bahkan Beliau sempat pula mengartikatakan Yowana Paramartha sebagai Generasi Muda yang diharapkan mampu meraih nilai bobot jati diri yang prima.

“Wareg tanpa ngerayunan, Bungah tanpa pengangge”

Tak lupa Beliau menceriterakan pula harapan dan cita-citanya kedepan kelak. Dimana harapan ini telah dimulai jauh sebelumnya, saat Beliau masih berstatus Walaka. Mencoba menelusuri manuskrip, naskah, lontar dan sebagainya langsung dari asalnya, tempat dimana situs-situs pande berada. Dengan dibantu pengurus Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali, Beliau berkunjung ke seluruh geriya Pande dan yang berstatus bekas geriya. Dimana kemudian hasil dari penelusuran tersebut menyajikan berbagai macam informasi yang berkaitan dengan Dharma kePandean seperti Usadha,Kewisesan, Wariga dan lain sebagainya.

Beberapa diantara pun datang dari Tusan dan Tonja terdapat babad Purajurit dan Sunari Bungkah. Dari Tabanan ada lontar Brahma Pande Tatwa dan juga tentang Babad Semeton Pande Beratan. Demikian halnya dari Kamasan ada babad Semeton Pande Kamasan, Babad Semeton Pande Meranggi dan tentang ceritera yang isinya mengapa kita menjadi seorang Pande.

Dari semua itu, dikatakanlah bahwa dalam sebuah Mitos, Brahma Prajapati merupakan Pencipta dari semua Klan atau soroh yang ada di Bali. Mitos ini kemudian dianggap logis jika dikaitkan dengan arti Dewa Tri Murti dimana Brahma merupakan Pencipta segalanya. Oleh karena itu, apabila ada Semeton Pande yang mengklaim keberadaan Brahma sebagai miliknya, hal ini bisa dikatakan sangat kebablasan.

Terkait Tema Kegiatan Dharmawecana, dikisahkan dahulu Bhisama Warga Pande dibuat sebenarnya karena merupakan sebuah tuntutan dari sebuah kondisi yang disesuaikan dengan jaman saat Bhisama itu dilahirkan. Bhisama lantas dibuat untuk mengisi kebutuhan yang sifatnya emergency, sehingga semeton Warga Pande kelak dapat memanfaatkannya dengan baik.

Namun tidak semua Bhisama Warga Pande dibuat atau diturunkan atas kehendak dan pemikiran Warga Pande sendiri. Salah satu yang menguatkan pendapat ini ada terkait larangan untuk menggunakan Tirta Sulinggih lain yang rupanya datang justru dari golongan Brahmana sendiri yang dikisahkan dahulu pernah bersumpah tidak akan mau memberikan Tirta kepada Warga Pande. Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa ada satu sesi upacara yang memang melarang penggunaan Tirta Sulinggih selain Sire Empu Pande seperti yang dikatakan oleh Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali Bapak Kompyang Wisastera Pande, yaitu saat Pengabenan yang membutuhkan Tirta Pengentas.

Menurut Pembicara kedua Drs. I Made Ramayadi, bahwa Aktualisasi Bhisama Warga Pande hendaklah disikapi dengan bijak sesuai dengan perkembangan jaman dan era Teknologi Informasi dan tidak diartikan dalam lingkup pemikiran yang terbatas. Setidaknya beberapa Makna yang kemudian tertuang didalam Bhisama Warga Pande diharapkan agar selalu mengingat Leluhur dan orang tua dimanapun berada, bertindak berbuat dan berkarya yang kreatif dan terbaik penuh inovasi dengan mengandalkan semua kemampuan yang dimiliki, mengutamakan rasa persaudaraan dan juga tak lupa untuk mengingat keberadaan Pura yang berkaitan dengan Sejarah kePandean seperti Penataran Pande Besakih, Pura Gandamayu, Pura Batur, Tulukbiyu, Tamblingan dan ring Tengahing Segara. Untuk Pura yang disebutkan terakhir ini berdasarkan Wiyana yang ditenggarai berada ring Tengahing Segara adalah Pura Goa Lawah dimana pelinggih Meru nomor dua diperuntukkan bagi Ida Ratu Bagus Pande atau oleh Pemangku dikatakan sebagai linggihan Ida Betara Brahma.

Leave a Reply
*