Menu
Categories
Pracasti Pande (Bagian 03 – Bhagawan Pandya Empu Bhumi Sakti)
November 5, 2011 tentang DiRi SenDiri

BHAGAWAN PANDYA EMPU BHUMI CAKTI

Tiada dikisahkan tentang Hyang Brahma lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah memasuki umur dewasa, kesaktian yang dimilikinya sama dengan ayahnya, kuat melakukan tapa. Lambat laun tersiarlah diseluruh permukaan bumf tentang sakti mantranya Empu Brahmaraja, sehingga banyak orang berdatangan mohon nasehat-nasehat dan penyelesaian yadnya.

Pada masa itu tersebut Patih Madhu di Madura, atas ijin raja Majapahit yaitu Sri Hayam Wuruk, berkehendak akan membangun yadnya, misalnya pitra­-yadnya dan bhuta-yadnya. Kehendaknya ini lama tertekan karena sangat susah dan belum dapat mencari seorang pendeta yang sakti yang saktinya sama dengan Empu Logawe.

Pada suatu ketika Kryan Madhu mendengar berita bahwa digunung Hyang ada seorang Empu Sakti sedang melakukan tapa. Patih Madhu segera berangkat menuju gunung Hyang, dengan maksud mengundang Sang Empu datang ke Madura untuk menyelesaikan pitra-yadnya. Setibanya dipertapaan maka dijumpai Empu Brahmaraja sedang duduk dibalai-balai payasannya. Setelah Kryan Madhu masuk ke halaman asrama segera menyembah Sang Empu yang sedang duduk, lanjut menghadap.

Empu Brahmaraja telah mengetahui nama dan maksud seorang yang datang menghadap itu, segera berkata dengan lemah lembutnya.

“Wahai Kryan Madhu, bapa mengucapkan selamat datang kepada tuan hamba. Sangat senang hati bapa dengan kedatangan tuan hamba baru pertama ini. Apakah maksud yang terkandung hingga tuan hamba datang keasrama bapa ini, cobalah ceritakan dengan sesungguhnya kepada Bapa.”

Demikian kata Empu Brahmaraja, maka Patih Madhu menjawab dengan sejujurnya. “Ya Maha Empu, untuk permulaan kata, ijinkanlah hamba melahirkan bisikan hati hamba serta merta.

Maha Empu, maklumilah perasaan bathin hamba seakan-akan menginjak alam Brahma loka tatkala hamba memasuki halaman asrama ini serta tatkala hamba mendengar sabda suci penyapa Maha Empu. Lapar dahaga hamba serentak musnah akibat hawa suci yang menyelubungi asrama ini.

Maksud utama kedatangan hamba menghadap Maha Empu, ialah dengan hormat mengundang Maha Empu, sudi kiranya datang ke tempat hamba di Madura untuk menyelesaikan pekerjaan hamba mitra yadnya. Hanya Maha Empu berkenan dihati hamba yang dapat akan menyelesaikan arwah kawitan hamba.”

“Duh, Rakryan patih,” jawab Empu Brahmaraja, “bapa akan berkenan meluluskan permintaan anakku datang ke Madura untuk menyelesaikan kawitan anakku, karena memang sepatutnya bapa sebagai seorang Brahmana memuja kawitan anakku.”

Tiada diuraikan tentang percakapan yang lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah berangkat ke Madura diiringi Patih Madhu. Setibanya maka Empu Brahmaraja diberi tempat penginapan dan pelayanan yang layak dipurinya Patih Madhu.

Tiada berapa lama selangnya, maka ramailah tamu-tamu undangan dari luar Madura hendak menyaksikan pekerjaan Patih Madhu dalam Pitra yadnya. Diantara tamu itu tampak datang para ksatria dari Blambangan, Pasuruan, Sumbawa, Sunda, Palembang dan seluruh pulau Jawa, demikian pula raja Bali yaitu Ida Dalem Ketut Ngulesir dengan gelar Dalem Smara Kapakisan sangat mashyur tampan rupa dan perawakannya seakan-akan Hyang Smara menjelma ke dunia. Semua tamu-tamu takjub melihat indah rupanya. Masing-masing tamu itu telah disediakan tempat penginapan dan santapannya menurut adat raja?raja.

Pada hari perayaan pitra yadnya telah tiba, maka sekalian upacara nyadan saji-saji telap disiapkan orang, misalnya susu, minyak, madu, dupa dan air suci telah siap dalam sangku, demikian pula caru (korban) telah diselenggarakan.

Setalah tiba waktunya Empu Brahmaraja naik dibalai pemujaan lengkap dengan pakaian kependetaan, yaitu memakai Bhawa (ketu), Ganitri, bresemajut Salimpet, seakan-akan Rsi Crengga yang sedang menyelesaikan yadnya Maharaja lksawakukula dalam cerita Kanda. Sekalian para tamu serempak melihat sang Empu memuja.

Setelah selesai memuja maka Empu Brahmaraja memanggil Patih Madhu, katanya “Hai Kryan Patih Madhu, bapa telah selesai memuja kawitan anakku dengan mantram Catur Weda. Kini cobalah buktikan betapa pekerjaan anakku, berhasil baik atau tidak.”

Demikian kata Empu Brahmaraja, maka Patih Madhu menjawab dengan segera, “Ya Maha Empu, betapa cara hamba membuktikannya? Siapakah yang patut hamba tanya ?”

“Anakku Patih Madhu,” jawab Empu Brahmaraja “sekalian yang ada dihadapan bapa ini boleh ditanyai.”

Demikian didengar kata sang demikian Empu demikian maka Patih Madhu lalu berdiri, bertanya kepada layang-layang, katanya  “Hai kamu Layang-layang, apakah pekerjaanku ini berhasil baik?”

Seluruh Layang-layang, menjawab dengan serentak, “Ya Gusti dan sekalian Kawitan I Gusti mendapat tempat yang layak disorga.”

Selanjutnya batu ditanya oleh Patih Madhu, batu itupun menjawab demikian. Pohon kayu ditanyainya, pohon itu mengatakan kerjanya berhasil baik.

Patih Madhu sangat gembira hatinya mendengar kawitannya semua menemukan sorga. Para tamu sangat takjub menyaksikan kebesaran jiwa Empu Brahmaraja itu dan semuanya memuji kesaktiannya. Semenjak itu sang Empu digelari Bhagawan Pandya Empu Bumi Cakti, karena Sakti mantramnya.

"2" Comments
  1. wah……..kisah legenda begini saya suka.numpang baca sob!!! dan salam kenal!!!!

    [Reply]

    pande Reply:

    ah, kalo yang ini hanya mengambil dari Buku lama, dengan tujuan menyebarluaskan agar mudah diakses dan dibaca saja… Salam kenal juga bli…

    [Reply]

Leave a Reply
*