iPad 2 Evolusi sebuah Trendsetter

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan kesuksesan iPad generasi pertama yang dirilis pada awal tahun 2010 lalu, Apple Inc memutuskan untuk menurunkan iPad generasi kedua pada 11 Maret 2011 dengan klaim 33% Thinner and 15% Lighter.

Nama iPad dan juga Apple Inc. seakan sudah menjadi sebuah jaminan mutu akan sebuah perangkat mobile elektronik TabletPC yang diharapkan mampu menjembatani keterbatasan perangkat ponsel dengan perangkat NoteBook. di Indonesia sendiri, Penggunaan nama iPad sepertinya telah menjadi pengganti untuk penyebutan istilah perangkat TabletPC terutama bagi mereka yang kurang paham dengan jenis dan spesifikasi yang digunakan.

Masih menggunakan dimensi yang kurang lebih sama dengan iPad generasi pertama, iPad 2 hadir dalam ketipisannya yang membuat banyak vendor lainnya kemudian saling berlomba untuk merilis perangkat sejenis dengan ketipisan yang diklaim mengalahkan ipad 2. Meski demikian, tetaplah iPad 2 merupakan perintis dari semua ketercapaian keberhasilan tersebut.

Mengusung prosesor Dual Core chipset A5, Apple mengklaim kecepatan akses dan grafis yang mampu dihasilkan oleh iPad 2 jauh lebih baik dari generasi pertama. Kecepatan ini tentu belum seberapa apabila melihat perkembangan kecepatan prosesor yang mampu dikembangkan tiga bulan terakhir yang sudah mencapai Quad Core. Kekurangan inilah yang kemudian dijanjikan akan terjawab saat suksesor Apple Inc. berikutnya dirilis.

Disamping adanya peningkatan secara fisikal, iPad 2 telah pula menggunakan sistem operasi iOS 5 yang menjanjikan perubahan notifikasi baik untuk email, pesan dan lainnya dalam bentuk banner popup yang akan muncul sewaktu-waktu. Desain seperti ini sebenarnya telah digunakan sejak awal rilis sistem operasi Android yang kemudian dihilangkan dalam rilis terakhir mereka, Honeycomb dan ICS, sistem operasi yang diperuntukkan dan dikembangkan secara khusus bagi perangkat TabletPC rilis Android.

Seperti halnya iPad generasi pertama, iPad 2 dirilis dalam dua versi, Wifi dan Wifi+3G. Jika tidak ingin kerepotan dalam mengakses dunia maya atau mengoptimalkan koneksi perangkat, yang patut direkomendasikan adalah tentu saja dukungan 3G. Sayangnya, entah apakah ini yang dinamakan keunikan dari perangkat iPad 2 atau malah sebuah kekurangan, terkait besaran chip sim card yang didukung untuk mampu disematkan dalam slot yang tersedia. Berukuran setengah dari sim card biasa. Diperlukan sebuah alat khusus untuk bisa memotongnya tanpa merusak fisik lebih jauh.

Hal ini tentu akan berpengaruh pada kebiasaan pengguna dalam mengaktifkan paket data plan koneski internet yang digunakan. apabila menggunakan layanan PraBayar, saran kami adalah mengisi ulang pulsa sesuai kebutuhan paket data plan sebelum masa aktif paket data habis. Apabila kemudian hal ini tidak dilakukan kemudian paket data plan tidak bisa dilanjutkan, lantaran perangkat iPad tidak mendukung phone dialer untuk melakukan aktivasi paket data, pengguna diwajibkan datang langsung ke kantor pemasaran operator atau dealer penjual iPhone terdekat, mengingat kartu sim card tidak dapat digunakan di perangkat ponsel biasa.

Untuk masa penggunaan, iPad 2 diklaim mampu bertahan hingga 10 jam untuk pemakaian normal yang tentu saja jauh lebih irit daya ketimbang TabletPC lainnya dalam ukuran layar dan besaran daya yang sama. Hal ini bisa terjadi lantaran iPad 2 seperti halnya pula dengan iPad generasi pertama, tidak mendukung keberadaan Flash yang diduga sebagai penyebab utama borosnya daya perangkat TabletPC. Sayangnya, Ketiadaan ini mengakibatkan pengguna tidak dapat mengakses halaman web yang memanfaatkan Flash sebagai salah satu kontennya dengan baik.

Jika Rekan berminat, iPad 2 kini ditawarkan pada kisaran harga 6,5 juta rupiah untuk storage 16 GB dan tautan perbedaan kisaran 750ribu untuk kelipatan Storagenya.

iPad 2 bisa jadi hanyalah sebuah Evolusi dari Trendsetter yang telah diciptakan oleh iPad generasi pertama sejak awal. Mengingat tidak banyak perubahan desain dan juga kemampuan yang dapat dilakukan oleh iPad 2. Meski demikian, iPad 2 tetap mampu menginspirasi puluhan TabletPC lainnya untuk minimal melakukan pembaharuan demi melanjutkan masa kejayaan.

Mini Review iPad 2 (compare Samsung Galaxy Tab P1000)

17

Category : tentang TeKnoLoGi

Jarang-jarang bisa mendapatkan sebuah Gadget terkini untuk di-Review di blog www.pandebaik.com sejauh ini. Paling sering sih jauh sesudahnya bahkan bisa jadi ketika kehebohannya sudah mulai mereda. Tapi tidak untuk kali ini.

iPad 2. Siapa sih yang gag tau perangkat yang satu ini ? setelah sukses dengan pendahulunya, Apple di pertengahan tahun 2011 ini resmi meluncurkan perangkat tablet yang kabarnya jauh lebih cepat, lebih tipis dan tentu saja lebih dashyat secara multimedia dan terobosannya.

Pertama kali melihat video perkenalan perangkat iPad 2 yang dipaparkan the Founding Father Steve Jobs beberapa waktu lalu di portal penyedia video YouTube, bisa dikatakan sangat banyak fitur baru yang diperkenalkan di perangkat ipad 2 ini. Dari kabel converter yang memungkinkan pengguna untuk melakukan dua aktifitas sekaligus, smart cover yang secara otomatis mampu menonaktifkan fungsi layar saat ditutup sehingga menghemat daya, atau fitur Multimedianya yang memungkinkan beberapa pemusik mampu memainkan sebuah Live Concert hanya berbekalkan iPad 2. www.pandebaik.com beruntung bisa mendapatkan perangkat ini jauh lebih cepat dari perkiraan.

iPad 2 yang saya dapatkan, datang dengan Cover  kulit yang tadinya sempat saya kira malah dibungkus kardus. Kok aneh ya ? hehehe… tapi rasanya kok gak afdol kalo memegang perangkat iPad 2 harus bersama Cover kulit begitu. Maka jadilah untuk sementara covernya saya buka, dan benar, ketipisannya membuat saya gemetar akan kekwahatiran perangkat bakalan patah ketika saya genggam, saking tipisnya.

Kekaguman pertama yang hinggap dibenak saya adalah saat menjajal layar utama atau Homescreen, menggesernya kekanan dan kiri untuk mengakses halaman menu yang lain dan juga mencoba membuka salah satu menu yang ditampilkan. Jika dibandingkan dengan perangkat Android baik Samsung Galaxy ACE yang saya miliki ataupun Samsung Galaxy Tab yang beberapa waktu lalu sempat saya review pula, terlihat jelas perbedaan kelembutan sentuhan dan perubahan layarnya. iPad 2 jauh lebih soft dan menarik secara animasi dan responsif terhadap sentuhan jari.  Seperti halnya perangkat Android Premium, layar iPad 2 menggunakan layar Capatitive yang artinya pengguna dapat melakukan berbagai aktifitas dengan menggunakan kombinasi jari, dan bukan stylus. Selain itu, iPad 2 hanya memiliki halaman HomeScreen tanpa tambahan halaman Menu seperti halnya Android. Jadi semua aplikasi baik bawaan ataupun yang diunduh, akan secara otomatis tampil di halaman HomeScreen.

Uniknya, fitur Accelerometer yang disematkan mampu merotasi layar sesuai arah genggam si pengguna. Sehingga satu kali saya nyalakan dalam posisi terbalik (tombol home berada diatas layar), sayapun sempat kebingungan mencari tombol tersebut. Hehehe…

Resolusi layar yang digunakan termasuk besar atau standar desktop pc. 1024×768 pixel atau sedikit lebih besar ketimbang Samsung Galaxy Tab yang hanya 1024×600 pixel. Efek positifnya, pengguna dapat memanfaatkan layar yang lebih lapang (10”) untuk beraktifitas namun akan kesulitan dengan besaran perangkat yang cukup repot untuk ditenteng kemana-mana. Bagai membawa satu ubin besar ketimbang sebuah agenda.

Masuk pada Menu Pengaturan/Setting, pengguna dapat mengakses seluruh fitur Pengaturan baik yang ada dalam perangkat iPad 2 maupun aplikasi dari pihak pengembang dalam satu jendela. Ini jauh lebih memudahkan untuk melakukan kustomisasi perangkat dalam satu waktu.

Sayangnya saat menelesuri lebih jauh saya tak menemukan tombol Back/kembali untuk mengakses halaman sebelumnya. Tombol pilihan ini saya temukan hanya pada beberapa menu saja, sehingga bisa dikatakan sangat membingungkan dan dengan terpaksa menekan tombol Home untuk kembali ke halaman awal. Mungkin itu sebabnya produk iPad dan juga iPhone dikatakan tidak mampu melakukan aktifitas MultiTasking seperti halnya ponsel atau perangkat pintar lainnya.

Jika dahulu saya begitu mendewakan perangkat Android untuk soal dukungan pekerjaan, dengan terpaksa saya harus menarik ucapan tersebut kali ini. iPad 2 dengan bawaan Office Applicationnya ternyata mampu membaca format Microsoft Office Application baik versi 97 ataupun 2003. Beberapa format seperti doc, docx, xls, ppt maupun pdf dapat dibuka dengan baik pada perangkat ini.

Sayangnya apabila kembali diCompare dengan perangkat Tablet milik Android, ada 2 kekurangan yang saya temukan dalam Mini Review kali ini. Pertama, Ketiadaan slot SimCard yang memaksa pengguna untuk selalu mencari Hotspot gratisan terdekat hanya untuk berinteraksi dengan dunia maya atau malah beraktifitas dengan aplikasi yang membutuhkan koneksi data. Salah satu solusi yang bisa digunakan adalah dengan membeli perangkat Android murah yang mampu dimanfaatkan sebagai HotSpot portable. Tapi apa mau tuh, kalo musti beli perangkat Android lagi ?

Kekurangan kedua, berkaitan dengan ketiadaan slot SimCard adalah ketiadaan fitur Tethering alias mengubah perangkat menjadi Hotspot tadi. Jadi iPad 2 bisa dikatakan hanya berfungsi sebagai perangkat bagi pengguna dunia maya saja. Hehehe… Sedangkan efek lainnya dari ketiadaan slot sim card tentu saja, iPad tidak bisa digunakan untuk voice call dan sms. Cukup mengandalkan email dan Chatting saja.

Menengok App Store yang ada dalam perangkat iPad, bisa dikatakan fitur pengenalan setiap aplikasi/games yang ingin diunduh/dibeli jauh lebih informatif ketimbang Android Market. Ini bisa dimaklumi lantaran secara resolusi atau besaran layar memang jauh lebih baik. Mungkin untuk kategori ini kelak bisa disandingkan dengan perangkat Android 8,9” atau 10.1” milik Samsung Galaxy Tab terbaru.

Sayangnya, akibat minim waktu yang saya dapatkan untuk menjajal perangkat iPad 2, hingga si pemilik datang meminta kembali perangkat mantap keluaran Apple ini, saya belum jua menemukan cara untuk melakukan Transfer Data ke prangkat lain seperti Android ataupun NoteBook yang saya gunakan. Dengan terpaksa sayapun mencari akal lain yaitu memanfaatkan email untuk mengirimkan dua screenshot pada layar yang saya ambil sebagai bukti nyata. Minimnya waktu untuk melakukan Review lebih jauh, pula menjadikan alasan mengapa tulisan kali ini ini saya beri headline Mini Review iPad 2.

Ohya, sekedar informasi tambahan, untuk melakukan pengambilan gambar (ScreenShot) pada layar iPad 2 ini, bisa dilakukan dengan menekan tombol Home dan Power secara bersamaan, namun memang memerlukan sedikit kesabaran untuk mampu melakukannya dengan mulus.

Akhir tulisan, bagi rekan-rekan yang hingga kini masih bertanya-tanya tentang “lebih baik memilih perangkat iPad 2 atau Samsung Galaxy Tab sebagai Next Gadget”, silahkan memikirkan kembali sedikit Review saya diatas. Jika yang dibutuhkan itu adalah iMage dan  fitur Multimedia, saya sarankan pilih iPad 2, karena saya yakin banyak orang yang bakalan tertarik pada perangkat yang Anda tenteng dan gunakan di keramaian. Namun jika yang dibutuhkan itu adalah kemampuan berselancar di dunia maya kapanpun dimanapun dan tanpa bantuan perangkat apapun, termasuk masih menginginkan adanya fitur Voice Call atau pun sms, silahkan pilih Samsung Galaxy Tab P1000 dengan layar 7”. Karena kabarnya Samsung Galaxy Tab 10.1 yang kelak dirilis, bakalan meniadakan semua fitur diatas alias murni bersaing dengan iPad 2.

Well, semoga saja berguna untuk Mini Review iPad 2 kali ini. See You later…

 

Chat with Android ? Gampang…

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah membahas Whatsapp beberapa waktu lalu, aplikasi Chat ala BBM-nya perangkat BlackBerry,  kali ini giliran Chat dengan menggunakan beberapa akun jejaring sosial ataupun akun email.

Chat memang mengasyikkan, apalagi bagi yang baru saja keranjingan, bisa membuatnya lupa waktu dan pekerjaan. Ditambah dengan puluhan dafyat kontak kenalan baru, jadi makin lengkap saja.

Beberapa akun yang dikenal dengan aktifitas Chatnya antara lain Yahoo! Messenger dengan akun email Yahoo!-nya, GTalk dengan akun email Gmail milik Google, FaceBook, ICQ, AIM dan masih banyak lagi.

Memang, untuk masing-masing akun tersebut, telah menyediakan aplikasi tersendiri yang dapat digunakan untuk melakukan aktifitas Chat, pun demikian ditambah aktifitas dan kebutuhan lainnya.

Akun FaceBook misalkan. Pada perangkat Android, FaceBook menawarkan aplikasi khusus ‘FaceBook for Android’ dimana memiliki fungsi layaknya akses melalui layar NoteBook, dari Home/Beranda, Wall/Profile, Photos, Link, Daftar Teman/Friends, Messages, Events bahkan Chat dan juga share Location. All in One Application. Jadi khusus untuk akun FaceBook, pengguna tidak lagi harus menginstalasi aplikasi terpisah hanya untuk melakukan aktifitas Chat seperti halnya yang terjadi pada perangkat BlackBerry atau Symbian.

Demikian halnya dengan aplikasi untuk akun Yahoo! Messenger serta GTalk. Selain mampu untuk melakukan Chat antar sesama pengguna akun email dengan domain sama, aplikasi tersebut menyediakan pula opsi untuk mengaktifkan fitur lainnya layaknya aplikasi serupa pada PC/NoteBook.

Lantas bagaimana seandainya jika yang dibutuhkan itu hanyalah aktifitas Chat-nya saja ? apakah harus menggunakan aplikasi terpisah untuk dapat melakukannya ? Jawabannya jelas tidak. Karena di Android Market sudah ditawarkan aplikasi yang mampu mengelola multiple Instant Messenger meliputi akun Yahoo!, GTalk, FaceBook, ICQ, AIM, MSN, Jabber dan lainnya. Salah satu yang bisa dicoba adalah Palringo.

Palringo yang  telah diperkenalkan sejak April 2007 lalu rupanya mampu berjalan pada multi Platform seperti Microsoft Windows, Windows Mobile, Mac, Symbian, Java, iOS, BlackBerry dan tentu saja Android. Fungsinya tentu saja untuk mengelola multiple instant Messenger seperti yang telah disebutkan diatas.

Aplikasi lainnya yang bisa dicoba adalah eBuddy. Seperti halnya Palringo, aplikasi eBuddy yang telah diperkenalkan sejak tahun 2003 ini juga memiliki kemampuan yang sama dalam mengelola multiple Instant Messenger

Uniknya, kedua aplikasi diatas sama sekali  tidak memerlukan instalasi pada perangkat yang digunakan, cukup dengan melakukan Login dengan menggunakan akun aplikasi masing-masing. Untuk itu, sebelum dapat menggunakan aplikasi Palringo maupun eBuddy, pengguna tinggal membuat satu akun secara gratis atau free hanya dalam hitungan menit. Setelah itu, silahkan memasukkan satu persatu akun Chat yang dimiliki hingga siap digunakan.

Beberapa fitur tambahan yang dapat dinikmati di kedua aplikasi ini adalah Create Group berdasarkan satu topik tertentu dan juga Emoticon untuk memudahkan ekspresi antar sesama pengguna saat melakukan Chat. Baik Palringo maupun eBuddy, keduanya dapat diunduh dan digunakan secara Free alias Gratis pada perangkat Android dari Android Market.

 

TweetDeck, Aplikasi Wajib Jejaring Sosial pada Android

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Pernah merasa kewalahan untuk berinteraksi lewat semua akun jejaring sosial dalam satu waktu melalui perangkat ponsel ? jangan khawatir, kalian tidak sendiri. Hehehe…

Memiliki satu akun FaceBook untuk berteman dan cuap-cuap di dunia maya sepertinya tidaklah cukup. Belum lengkap jika tanpa diselingi dengan Twitter dan tentu saja FourSQuare. Bisa jadi ada banyak lagi yang dimiliki, seperti MySpace, HiFive atau bahkan buatan anak bangsa yang diakusisi Yahoo, Koprol. Lantas, bagaimana caranya agar bisa tetap eksis didunia maya tanpa perlu direpotkan banyak aplikasi jejaring sosial dalam sebuah perangkat ponsel Android ? Gunakan saja TweetDeck.

TweetDeck merupakan sebuah aplikasi StreamReader yang dikembangkan oleh Ian Dodsworth dimana memungkinkan pengguna untuk mengakses lebih banyak akun lintas jejaring sosial melalui satu tampilan layar. Aplikasi yang pada awalnya diperuntukkan bagi pemilik dan pengguna akun jejaring Twitter ini, telah dikembangkan ke berbagai Platform seperti Microsoft Windows, Mac, linus bahkan perangkat mobile seperti Apple dengan iOS-nya dan tentu saja Android. Dalam perjalanannya, selain mampu mendukung Twitter, aplikasi ini pun mampu menjalankan beberapa akun jejaring sosial lainnya seperti FaceBook, MySpace, Linkedin dan juga FourQuare.

Uniknya, dengan menggunakan aplikasi TweetDeck ini, pengguna dapat melakukan Update Status (istilah beken para pemilik akun jejaring sosial), secara serempak di semua akun yang dimiliki. Saya pribadi hingga kini telah menggunakannya untuk akun Twitter, FaceBook dan FourSQuare sekaligus.

Dalam menggunakan aplikasi  TweetDeck ini, pengguna dapat melakukan perintah ReTweet, Reply dan  Reply All untuk akun Twitter, Comment dan Like untuk akun FaceBook serta Shout untuk akun FourSQuare ditambah masing-masing fungsi tambahan Share dan Translate bagi yang kesulitan untuk memahami Tweet rekan lain. Sedangkan untuk Update Statusnya selain menginputkan karakter huruf, TweetDeck juga mampu untuk berbagi gambar/foto dan juga Lokasi.

Untuk dapat mengenali penggunaan masing-masing akun, TweetDeck memberikan opsi perbedaan warna untuk menandai akun. Abu tua untuk Twitter, Biru tua untuk FaceBook  dan Biru muda untuk FourSQuare. Kalaupun pengguna menginginkan agar TweetDeck membedakan layar untuk masing-masing akun pun bisa. Tinggal menambahkan kolom tersendiri (add Column) untuk setiap akun yang dimiliki.

Fitur ‘add Column’ ini bisa juga digunakan untuk menambahkan kolom tersendiri bagi akun Twitter  Pribadi atau yang secara mengkhusus membahas topik tertentu seperti BaleBengong dengan topik seputar Bali, BlogDokter dengan info seputar Kesehatan, TeknoUp dengan info seputar Teknologi, GadgetLover dengan info gadget terkini, Ditlantasbali dengan info lalu lintas atau OrangDewasa dengan info ‘dewasa’nya.

Penggunaan TweetDeck sebagai salah satu media yang menggabungkan berbagai akun jejaring sosial dalam satu aplikasi, rupanya memiliki pesaing bernama Seesmic yang dapat pula ditemukan pada ponsel Android bahkan NoteBook dengan basis Microsoft Windows sekalipun. Namun pada intinya, ketimbang kerepotan dalam mengelola banyaknya akun jejaring sosial dalam sebuah perangkat ponsel khususnya Android, mengapa tidak ?

 

Gag sempat buka NoteBook di Proyek ? Gunakan saja AutoCAD WS for Android

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Entah sejak kapan saya mulai jatuh cinta dengan aplikasi yang berbasis web, aplikasi yang kurang lebih tidak terlalu banyak menghabiskan memory bagi penggunanya namun akan sangat bergantung pada koneksi internet ini. Menggunakan Email, BLoG atau bahkan ketika membuat rencana dasar Sistem Informasi Jalan Raya saat Thesis tempo hari.

Cara kerja aplikasi macam ini kalo saya gag salah mengerti, hanya membutuhkan satu aplikasi master serta space tambahan untuk data yang diinstalasi dan dijalankan pada Server, untuk kemudian diakses oleh banyak orang yang tak lagi dibatasi tempat, lokasi, waktu hingga perangkat. Namun tentu saja aplikasi tersebut mutlak menyediakan tampilan (User Interface) yang mudah digunakan baik oleh orang awam ataupun memang diperuntukkan bagi mereka yang bergerak dalam bidang tersebut.

Selain minimnya kapasitas memory yang dihabiskan (karena master installer dan tentu saja data hanya diletakkan pada komputer Server), pengguna lain juga mampu mengakses aplikasi hanya berbekal alamat dan akun apabila aplikasi tersebut menyediakan opsi untuk membuat user data sehingga para pengguna pun mampu melakukan penyimpanan data dalam jumlah tertentu untuk mendukung aktifitasnya.

AutoCAD dikenal luas sebagai salah satu aplikasi standalone (berdiri sendiri) yang dikembangkan oleh AutoDesk yang secara khusus bergerak di bidang grafis vektor 2D maupun secara 3D. Bagi yang sudah kerap menggunakannya, AutoCAD merupakan salah satu aplikasi yang membutuhkan memory space tidak sedikit ditambah pula dengan kartu grafis untuk mempercepat proses Rendering. Itu sebabnya, seorang pengguna sebelum memutuskan untuk membeli sebuah perangkat pc ataupun NoteBook untuk kebutuhan grafis AutoCAD, yang  mutlak dipersyaratkan adalah Space Hard Disk, Memory RAM dan kartu Grafis. Lantas bagaimana seandainya kondisi yang dihadapi tidak memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap satu gambar desain (membuka sebuah NoteBook), dimana saat yang sama, satu keputusan akan perubahan gambar mutlak dibutuhkan  ?

Jika disitu terdapat sebuah perangkat/ponsel Android dan tentu saja koneksinya, Gunakan saja AutoCAD WS for Android.

AutoCAD WS for Android merupakan satu terobosan baru dari pengembang AutoDesk, yang memungkinkan penggunanya melakukan Viewer dan Editing pada sebuah gambar desain secara online melalui sebuah perangkat Android tanpa membutuhkan penghabisan Space serta Memory yang besar. Tinggal Sign In dan buka file gambar yang telah disimpan sebelumnya dalam akun tersebut.

Dari beberapa percobaan yang saya lakukan dalam mengoperasikan AutoCAD WS for Android ini, koneksi internet merupakan satu hal yang mutlak. Aplikasi tidak akan bisa digunakan apabila Proses Sign In (Log in) belum dilalui oleh setiap penggunanya. AutoCAD WS yang merupakan salah satu aplikasi berbasis Web, tentu saja sangat bermanfaat bagi mereka yang jarang memiliki waktu untuk membuka NoteBook, mengoperasikannya serta melakukan editing apalagi dalam keadaan mobile.

Saat melakukan fungsi Editing ternyata AutoCAD WS for Android memiliki kemampuan untuk mengakses tampilan gambar dalam Model maupun Layout. Beberapa fungsi dasar AutoCAD seperti Copy, Move, Rotate ataupun Line, Polyline, Circle,  Rectangle dan juga oSnap pun dapat digunakan dengan baik. Pula dengan pengukuran dimensi satu objek sekalipun. Tak hanya itu, Editing dapat pula memanfaatkan opsi painttool yang memungkinkan pengguna menggambarkan garis-garis sketsa buatan tangan.

Mengingat salah satu kelebihan AutoCAD WS for Android ini adalah pengguna mampu melakukan Editing ataupun Viewer satu desain dari mana saja dan kapan saja, maka salah satu opsi yang mutlak dilakukan adalah meng-upload atau menyimpan gambar desain tersebut dalam database personal akun yang telah dimiliki. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk itu, melalui perangkat Mobile Android dan perangkat PC/NoteBook.

Sejauh ini aplikasi AutoCAD WS baru tersedia hanya untuk perangkat Android dan tentu saja iPhone. Bisa didapatkan melalui Android Market atau App Store secara Gratis. Aplikasi serupa dahulu pernah juga saya gunakan, saat masih betah dengan OS Windows Mobile, sayangnya kemampuan yang dimiliki aplikasi tersebut (kalo gag salah namanya Cad Viewer) hanyalah sebagai Viewer saja, itupun gambar mutlak diposisikan pada Model, bukan layout. Ukurannya cukup ringkas, sekitar 800kb.

Untuk perangkat Nokia, sepengetahuan saya sih ada, hanya saja ya untuk bisa menggunakannya musti bayar $77. Itupun seri yang didukung adalah Symbian yang berlayar Landscape seperti E63 atau E71. Sedangkan untuk perangkat BlackBerry, ada yang tahu barangkali ? hehehe…