Sulitnya menjadi seorang Single Parent

Jika anak rewel, bisa jadi kesalahan ada pada si pengasuh. Setidaknya pemikiran itu sempat terlintas dibenak saya beberapa waktu lalu. Tepatnya ketika dipaksa menjadi seorang Single Parent dalam waktu dua setengah hari, liburan panjang namun disibukkan oleh kewajiban adat.

MiRah, putri kecil kami mendadak menjadi anak yang menyebalkan. Saya pribadi sempat merasa kecewa lantaran tidak sempat menegur sapa tetamu yang datang di perkawinan sepupu saya Jumat lalu. Dan kekesalan itu dengan terpaksa saya pendam dan biarkan mengingat penyebabnya merupakan seorang anak berusia tiga tahun.

Bisa jadi ada banyak hal yang ia rasakan yang tidak mampu saya rasakan disaat yang sama. Well, kami memiliki pemikiran, pemahaman dan juga tujuan hidup yang sudah sangat jelas berbeda. Dan disinilah baru saya menyadari betapa sulitnya menjadi seorang single parent.

โ€œIni baru satuโ€ tegur seorang rekan kerja kantor yang kini telah memiliki tiga putra. Ya, teguran yang makin menampar saya untuk segera menyadari bahwa apa yang saya alami, belumlah apa-apa. Apalagi ini hanya untuk dua setengah hari. Itupun tidak termasuk tidur malam dimana MiRah menginap bareng kakek neneknya.

Perilaku MiRah hari jumat lalu seakan menyadarkan saya, pada kemungkinan-kemungkinan yang mampu terjadi pada tumbuh kembang anak nantinya. Salah satunya jika saya melampiaskan marah secara terang-terangan, bisa jadi kelak, saya menjadi seorang Bapak yang tidak pernah mampu memberikan kasih sayang yang cukup untuk seorang anak.

Jika anak rewel, bisa jadi kesalahan ada pada si pengasuh. Ini pengalaman pertama saya menghadapi MiRah ditengah situasi krodit seorang diri. Mengurusi makan, penampilan serta berusaha menjaganya selama berlangsung upacara pernikahan merupakan satu mimpi buruk yang belum pernah terpikirkan. Ini terjadi baru beberapa jam, bagaimana dengan mereka yang telah menjadi seorang Single Parent dalam waktu yang sangat lama ?

MiRah memiliki gejala Batuk hari itu. Bisa jadi disebabkan oleh faktor cuaca dan angin malam sehari dua sebelumnya. Bisa juga lantaran keteledoran saya memberikan kentang kering (istilahnya untuk snack kentang goreng yang berisi cup saos didalamnya) plus sebungkus Chitato sebelumnya, yang saya pikir itulah yang disebutnya sebagai Kentang Kering. Dan Batuk merupakan sakit terburuk yang untuk MiRah yang saya tahu sejauh ini.

Batuk dapat menyebabkan kondisi dan daya tahan tubuhnya menurun, setidaknya itu yang terlintas pertama. Belum lagi Batuk mampu menurunkan nafsu makan MiRah yang biasanya selalu lahap meski hanya berlaukkan setengah telur mata sapi. Batuk tentu sangat mengganggu baginya saat situasi yang tak ia sukai.

Jika anak rewel, bisa jadi kesalahan ada pada si pengasuh. Well, saya kena batunya kali ini.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

12 thoughts on “Sulitnya menjadi seorang Single Parent

  • June 11, 2011 at 2:08 pm
    Permalink

    Kenapa Pak Pande ? Ada batu krikil apa yang membuatnya seperti itu ? Terkadang kita juga berpikir bahwa seperti itulah realita hidup kita. Jalani saja apa adanya. Hehehhehehe

  • June 13, 2011 at 3:32 pm
    Permalink

    Yup. Life still must go on…

  • June 13, 2011 at 3:33 pm
    Permalink

    Salam Kenal Juga… :p

  • June 14, 2011 at 8:02 pm
    Permalink

    Kalau Om MT bilang, jadilah pribadi yang layak sebagai orang tua :mrgreen:

  • June 15, 2011 at 8:53 am
    Permalink

    Salute… trus, kapan gilirannya ? :p

  • June 15, 2011 at 7:20 pm
    Permalink

    To Pande Baik,

    Tidak mudah memang merawat dan membesarkan putra/i sendirian.
    Sering kali Ortu jatuh bangun. Kalau tidak pernah jatuh, bagaimana mau bangun kembali?
    Hidup merupakan suatu perjuangan mencapai cita-cita.

    Salam.

  • June 17, 2011 at 5:04 am
    Permalink

    ….tenang bro…..semuanya pasti mengalaminya…..salut buat dirimu yang sudah menjadi bapak yang terbaik bagi mirah …everything has a reason ..:)…saling support…….karena semuanya masih belajar …termasuk saya …:)..maaf jika salah kata..:)

  • June 17, 2011 at 5:23 am
    Permalink

    ah, Om Budi bisa saja…

  • June 17, 2011 at 5:24 am
    Permalink

    Kalo Pak Dokter yang bilang begitu sih, saya percaya banget. sudah berpengalaman soale… ๐Ÿ™‚

  • June 20, 2011 at 9:37 am
    Permalink

    Bli, menurut saya, orang tua (ibu dan bapak) adalah orang yang paling paham dengan kondisi, perasaan, keadaan dan keinginan anaknya.

    Saya sendiri juga kalau disuruh ngempu sendiri tentu akan kesulitan, tapi tentu saja mau tidak mau akan bisa dilewati dengan baik karena itu anak kita sendiri, saya yakin itu dan saya rasa tiap orang tua juga seperti itu.

    Untuk mengajak anak ke sebuah acara, saya biasanya mempertimbangkan kondisi kesehatan dan fisiknya, asalkan dalam keadaan sehat dan tidak lelah/ngantuk pasti gampang ngempunya, tapi kalau kurang sehat atau ngantuk, nah itu bisa jadi masalah, hehe.

  • June 20, 2011 at 7:06 pm
    Permalink

    Tapi ternyata ada asyiknya juga. Beberapa petuah saya yang didengar MiRah saat main berdua, diingat hingga kini. ๐Ÿ™‚

Comments are closed.