Menu
Categories
Mari Mengenal (Lebih Jauh) Wayang Kulit
May 17, 2011 tentang iLMu tamBahan

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya terkait Mengenal Wayang Kulit, Wayang Parwa dan juga para Punakawannya, kali ini saya lengkapi sedikit terkait lakon dan juga bagaimana rupa dari Wayang Kulit tersebut.

Lazimnya sebuah dunia, sifat Rwa Bhineda baik dan buruk selalu mewarnai kehidupan. Demikian halnya dalam dunia Wayang dikenal 2 (dua) kelompok besar, kanan dan kiri. Golongan Kanan lebih mewakili sifat-sifat kebajikan. Dari lakon Mahabharata ada para Pandawa dan golongan Yadu sedangkan pada lakon Ramayana meliputi Rama, Laksamana, Hanoman, Sugriwa dkk. Sebaliknya Golongan Kiri disarati sifat-sifat kebhatilan yang diwakili oleh para Kurawa dalam lakon Mahabharata dan Rahwana beserta para Raksasa dalam lakon Ramayana.

Penampilan sebuah Wayang dilengkapi dengan ciri-ciri sifat dan kedudukannya. Misalkan untuk hiasan kepala, bagi para dewa atau raja berisikan gelung agung yang terdiri dari gelung candi kurung dan gelung rebah, melambangkan keagungan. Gelung candi kurung bisa ditemukan dalam sosok Wayang Siwa dan Karna sedangkan Gelung candi rebah bisa ditemukan pada sosok Dewata Nawasanga. Gelung prabu atau dikenal dengan istilah pepudakan digunakan untuk Wayang yang berperan raja seperti Duryodana, Subali dan juga Sugriwa. Gelung supit urang bagi para kesatria dan Gelung keklingkingan, pepisungan atau kekendon yang melambangkan kesederhanaan.

Bagian Mata Wayang yang digambarkan dengan mata bulat atau dedelingan diperuntukkan bagi para Raksasa dan kaum Korawa yang melambangkan ketegasan yang sempurna atau malah cenderung pemarah dan brangasan. Mata yang berbentuk segitiga tumpul untuk para Kesatria (Arjuna, Kresna dan Yudistira) melambangkan kearifan dan Mata yang berbentuk sipit untuk punakawan Tualen dan Merdah sebagai lambang pengalaman serta keTuhanan yang mendalam.

Mulut Wayang dibuat tidak sembarang. Mulut yang terbuka lebar dengan gigi taring mencuat melambangkan keserakahan dan keangkaramurkaan. Mulut bagian atas terbuka sehingga memperlihatkan giginya melambangkan sikap peran yang kerap memberikan wejangan baik sebagai raja, kesatria, dewa atau lainnya. Sedangkan Mulut yang dipakaikan Pecuntil -batangan pendek yang lentur, ditarik dengan benang- biasanya diperuntukkan bagi para punakawan dan bebondresan yang berfungsi menerjemahkan segala ucapan tokoh-tokoh pewayangan.

(Pesta Kesenian Bali Copyright Cita Budaya 1991)

"4" Comments
  1. asik tuh ulasanmu nde…..kira2 tau g dimana orang buat wayang kulit tp uk.kecil???anakku dl bl dipkb…lmyn mahal….dia seneng bgt ma wayang…info y kl tau..thanks

    [Reply]

  2. kalo gag salah pernah liat di jalan Gatsu Barat, perempatan Bung Tomo – Pidada, sebelah kiri jalan setelah traffic light menuju Mc.D

    [Reply]

  3. mantaf bli 🙂

    Jujur saja, walaupun tidak tahu selengkap bli pande, saya adalah satu penyuka wayang kulit bali, bahkan sebelum ada wayang cenk blonk. Jamannya wayang dalang Ida Bagus Alit yang dari Buduk, juga waktu jaman dalang Rupik yang terkenal dengan wayangnya yang berisi motor vespa itu lho, wayang itu biasa dipentaskan di dari atas truk, hehe

    [Reply]

    pande Reply:

    Ternyata seleranya sama loh. Sebelum ada Cengblonk saya beberapa kali menonton wayangnya Gus Buduk itu…

    [Reply]

Leave a Reply
*