4Shared Ilegal nan Menakjubkan

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Sembari menanti selesainya urusan Download seratusan edisi majalah PlayBoy dan PentHouse via Torrentz beberapa waktu lalu, agar koneksi XL Unlimited yang saya gunakan tidak mubazir, salah satu pelampiasan tambahan yang dituju adalah 4Shared.

4Shared merupakan penyedia penyimpanan berkas dalam sebuah jaringan yang ternyata berasal dari Ukraina dan didirikan pada tahun 2005. Setidaknya demikian informasi yang saya dapatkan lewat Wikipedia. Adalah Alex Lunkov dan Sergey Chudnovsky yang memiliki peran besar dalam mengelola 5.300.234 pengguna, 11.000.222 kunjungan harian serta 940 TerraBytes berkas yang disimpan didalamnya.

4Shared memungkinkan aktifitas mengunggah (upload) dan mengunduh (download) berkas yang tersimpan dalam jaringan tersebut dengan menggunakan Perambah Web (Browser). Bagi pengguna gratisan seperti yang saya lakukan, setiap kali mencari dan mengunduh berkas, 4Shared memberikan batasan waktu menunggu dari 30 hingga maksimum 399 detik untuk menampilkan link yang kemudian digunakan untuk mengambil berkas.

Dalam dua bulan terakhir setidaknya sekitar 20 GB berkas yang saya dapatkan melalui 4Shared. Untuk bisa mewujudkan itu semua, tentu saja peran terbesar yang dibutuhkan adalah koneksi yang stabil (Terima Kasih untuk XL Unlimited), dan juga waktu untuk menanti proses pengunduhan selesai.

Terlepas dari sifat berkas yang iLegal, semua yang saya dapatkan melalui 4Shared ini cukup membuat hari-hari saya jauh lebih berwarna, karena banyak hal baru yang saya jumpai atau memang sudah saya nantikan sejak lama. Katakan saja album musik. Dari Soundtrack film tahun jadul seperti Lion King, My Girl, Days of the Thunder yang salah satunya terdapat tembang lawasnya Guns N Roses, hingga GodFather jilid 1,2 dan 3. Pula dari tahun terkini seperti empat edisi Fast and Furious, tiga edisi Pirates of the Caribbean, atau enam edisi Harry Potter. Tak lupa beberapa album Soundtrack yang barangkali sempat terdengar familiar bagi pembaca setia blog ini, lantaran sempat pula saya tuliskan beberapa waktu lalu. Detroit Metal City atau malah Need For Speed Undercover.

Tidak hanya Soundtrack Film yang menjadi sasaran, namun juga beberapa album punk lawas jaman saya kuliah dan sekolah dahulu. Beberapa diantaranya terdapat album pertama dari The Exploited, Kemuri, Rancid, Nofx atau malah album kompilasi Punk O Rama yang kaset aslinya hilang entah kemana. Demikian halnya dengan album Live Concert dari para musisi ternama, akustik dan Unplugged. Tercatat tidak kurang total ada 90-an album musik yang mampu diambil lewat 4Shared. Menakjubkan bukan ?

Puas menghabiskan berkas musik yang terdapat dalam jaringan 4Shared, sasaran selanjutnya adalah aplikasi Portable (yang tidak memerlukan proses Instalasi dan ketergantungan sistem) juga beberapa Games era 2000-an awal yang dahulu barangkali tak sempat saya cicipi. Hasilnya lumayan, dari photoshop CS 4, AutoCad 2008, hingga kumpulan aplikasi portable lainnya berhasil saya manfaatkan dengan baik. Demikian juga dengan Games unik seperti ReVolt (race Tamiya), Tank Racer, Sky Force (yang dulu kerap saya mainkan di ponsel Symbian 6600 gembul) dan juga Theme Hospital.

Games yang saya sebutkan terakhir ini, dahulu merupakan salah satu games bertipe Strategy yang paling saya sukai. Dengan interface yang sederhana, pola permainannya sempat memberikan gambaran awal ‘Bagaimana cara membangun sebuah Rumah Sakit’ untuk mendukung proses pembuatan tugas salah satu mata kuliah di jurusan Arsitektur. Studio Perancangan VI dengan ‘Perencanaan Rumah Sakit bertaraf Internasional’. Hehehe…

Kendati proses pengunduhan berkas sudah mencapai Gigabytes yang keduapuluh, saya pribadi masih belum merasa puas dengan itu. Karena memang masih banyak hal menakjubkan (walaupun berstatus iLegal) yang terdapat didalamnya. Ada yang mau nitip ?

Samsung Champ Duos, Mini Wifi nan Menggoda

9

Category : tentang TeKnoLoGi

Tampaknya Samsung sebagai salah satu Brand papan atas benar-benar Serius ingin menghantam balik dominasi ponsel lokal yang dalam dua tahun terakhir benar-benar handal dalam memperebutkan kue penjualan. Setelah melepas dua varian Samsung [email protected], ponsel berkeypad QWERTY yang salah satunya mengadopsi dual sim card dan satu lainnya mengadopsi Wifi seharga 800ribuan saja, kini mereka sudah melepas ponsel dual sim card berlayar sentuh dan sudah Wifi pula. Samsung Champ Duos.

Terakhir dipantau (28/3) Samsung Champ Duos bisa dibawa pulang dengan menukarnya seharga 945ribu saja. Harga yang lumayan bersaing mengingat ponsel lokal yang memiliki kemampuan sejenis (dual sim, layar sentuh dan wifi) dilego dengan kisaran harga yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, bagi yang bosan dengan tampilan menu ponsel Lokal, bisa melirik ke Samsung Champ Duos ini kok.

Secara fisik bisa dikatakan Samsung Champ Duos tergolong ponsel Mini. Ketika beberapa kali saya genggam, tak ubahnya seperti membawa dompet gantungan kunci mobil yang Cuma berisikan STNK itu. Saking Mininya, Bisa jadi malahan orang gag akan tau kalo yang saya genggam itu adalah sebuah ponsel.

Dilepas dengan dua varian warna, Elegant Black dan Chic White, Samsung Champ Duos ini rupanya punya tongkrongan HomeScreen yang serupa dengan Android-nya Samsung Galaxy ACE. Saya pribadi sempat membathin, bahwa bagi yang awam, yakin banget bakalan mengira ni ponsel mengadopsi sistem operasi Android. Mengingat baik Samsung maupun brand lainnya sudah mulai melepaskan ponsel kalangan menengah berbasis Android dengan kisaran harga sejutaan saja.

Menilik HomeScreen atau tampilan layar utama, pengguna disajikan lima halaman yang dapat digeser-geser kesamping yang masing-masing terdapat empat icon aplikasi yang dapat di-Customize sesuai keinginan. Masuk pada Menu, pengguna disajikan grid icon 3×3 yang dapat digeser pula untuk mengakses menu yang lain. Sepintas, baik Tampilan HomeScreen maupun icon pada Menu yang digunakan, mengingatkan saya pada ponsel Samsung Galaxy ACE yang kini saya gunakan. Hanya saja berbeda kedalaman warna dan kejernihan grafisnya saja.

Dual Sim Card yang disematkan di badan ponsel dapat aktif secara bersamaan, dan uniknya, untuk bisa menelepon dengan kartu sim yang berbeda, pengguna tinggal menekan tombol kecil di sisi kanan bawah ponsel untuk mengaktifkan kartu sim mana yang ingin digunakan. Keunikan ini tentu berpengaruh pada perwajahan ponsel yang tidak menyajikan dua tombol hijau yang biasanya ada di ponsel-ponsel lokal.

Kameranya masih mengadopsi besaran 1,3 MP dengan Interface yang serupa pula dengan Samsung Galaxy ACE, serupa pula dengan Daftar Kontaknya yang bisa digulir dengan jari. Namun mengingat layar yang disematkan hanya berukuran 2,6 inchi, maka untuk melakukan input data, hanya disediakan keypad numerik virtual dan bukan QWERTY. Jelas ini jauh melegakan apalagi jika jari Pengguna tergolong sama dengan saya. Jempol semua. Hehehe…

Dari segi Multimedia, Samsung Champ Duos hanya menyediakan fitur Musik dan Radio minus Teve Analog. Untuk bisa mengaktifkannya, dalam paket penjualan sedah disediakan Headset yang berfungsi pula sebagai Antenna Radio.

Apa tadi saya sempat mengatakan bahwa Samsung Champ Duos ini sudah mengadopsi Wifi ? yup, itu benar. Ketika saya coba dengan menggunakan fitur Tethering-nya Samsung Galaxy ACE, aktifitas browsing pada Browser Internet bawaan dapat dijalankan dengan baik. Sayangnya, ketika kami mencoba mengunjungi alamat LPSE Badung yang notabene tidak memiliki Versi Mobile, kami kesulitan dalam mengakses halaman secara utuh. Hanya bisa dilakukan pada sisi kiri halaman dengan scroll atas bawah. Bisa jadi diperlukan sedikit pengaturan pada opsi Pilihan Browser. Ohya, bagi yang masih kagok dengan layar sentuhnya, Samsung menyediakan pula ‘Cotton Buds’ yang disematkan di cover belakang ponsel untuk membantu pengguna menunjuk-nunjuk layar layaknya ponsel PDA jadul itu.

Secara keseluruhan, ponsel Samsung Champ Duos ini bisa direkomenasikan bagi mereka yang menyukai ponsel simpel berlayar sentuh, dengan kebutuhan dual sim aktif dan telah mendukung koneksi Wifi. Dengan harga dibawah satu juta, ponsel berukuran mini ini tentu saja sangat menggoda untuk dimiliki.