Mengerjakan Tugas Kantoran dengan Android ? Siapa Takut ?

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu pertimbangan utama saya ketika memutuskan untuk membeli sebuah perangkat ponsel berlayar sentuh dan berbasis Android adalah kemampuannya untuk mendukung kerja kantoran yang kerap menjadi menu sehari-hari baik saat jam kerja maupun waktu rumahan. Dari beberapa tulisan yang berkaitan, ada satu solusi yang sejak awal sudah saya tanamkan untuk bisa mewujudkannya. Documents To Go.

Namun siapa sangka jika ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 yang saya beli pertengahan bulan Maret lalu, secara default bawaan malahan sudah mendukung semua yang saya butuhkan. Lebih malah. Dari Word Processing, Worksheet dan Presentasi ditambah dokumen digital rupanya telah terangkum dalam satu aplikasi handal ThinkFree Office.

ThinkFree Office Mobile for Android versi 2.0.1115.01 ini, dikembangkan oleh Hancom Inc sebagai partner kerja Google dan tentu saja Samsung dalam mendukung perangkat mobile mereka yang sepertinya merupakan Aplikasi Berbayar. Sepanjang yang saya ketahui, tidak saja mendukung file txt (NotePaD), doc (Microsoft Word), xls (Microsoft Excel) dan ppt (PowerPoint) saja namun juga file berekstensi pdf (Reader) bisa jua dilahap dengan baik.

Sayangnya, untuk bisa menjalankan aplikasi ThinkFree Office dalam perangkat Android ini dibutuhkan Space yang tergolong cukup besar apabila dibandingkan dengan aplikasi lainnya. Untuk versi Lite-nya saja saya lihat memiliki ukuran file installer sebesar 7,2 MB. Apalagi yang versi Full ? namun mengingat kemampuannya yang luar biasa, saya pribadi tidak merasa keberatan dengan semua itu, apalagi ada dua nilai plusnya juga loh.

Dibandingkan dengan Nokia C5 yang kebetulan mengadopsi sistem operasi Symbian yang pula mengandalkan layar sentuh, dalam bawaannya tidak menyediakan aplikasi Pengolah Data kantoran seperti halnya Samsung Galaxy ACE S5830 ini. Jikapun terpaksa melakukan perburuan di Ovi Store, rupanya dari beberapa aplikasi yang saya dapati, semuanya merupakan aplikasi berbayar ataupun Trial. Demikian halnya dengan ponsel bersistem operasi Windows Mobile Smartphone atau yang non TouchScreen memiliki nasib yang tidak jauh berbeda.

Kembali pada ThinkFree Office, dua nilai Plus yang saya maksudkan adalah kemampuannya untuk melakukan Editing File (tidak hanya berfungsi sebagai Viewer), dan juga kemampuannya dalam membaca file hasil kerja aplikasi Microsoft Office 2007 yang dikenal dengan tambahan ekstensi ‘x’ dibelakang ekstensi file versi sebelumnya. Docx, xlsx dan tentu saja pptx.

Jikapun masih merasa kurang dengan kemampuan aplikasi pengolah data ThinkFree Office ini, silahkan Hunting aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan lainnya di Android Market. Seperti yang saya unduh untuk melakukan perhitungan angka secara cepat dengan fungsi tambahan Sin, Cos dan Tangen. Real Calculator. Real Calculator ini serupa dengan Real Scientific Calculator yang dahulu merupakan aplikasi favorit saya saat menggunakan ponsel pda berbasis Windows Mobile PocketPC (touchscreen).

Mau mencobanya ?

Bagi satu dong Pak Video pornonya

10

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Rasanya untuk bisa menjadi seorang Public Figure itu sangat susah dilakukan, terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan biasa, dan dalam waktu singkat mendadak menjadi luar biasa. Jangankan menjadi Artis, menjadi seorang PNS yang Biasa-biasa saja sudah saya rasakan penuh tantangan lantaran tidak sedikit hujatan dan kecaman dilontarkan saat mulai bersikap layaknya orang normal. Apalagi anggota DPR ?

Figur yang terakhir saya sebutkan ini belakangan hari jadi makin terkenal dan termashyur akibat kelakuan dan tingkah polah yang kata Gus Dur dahulu malah mirip sekumpulan Anak TK. Dari yang tertangkap melakukan adegan mesum dengan artis ternama lantaran aksinya terekam dalam format video ponsel, yang meributkan soal tunjangan ini itu padahal kinerjanya masih perlu dibuktikan lagi, yang kerjanya plesiran mengatasnamakan Studi Banding, atau yang terakhir ngotor membangun gedung baru yang katanya sedikit lebih murah ketimbang biaya per meter sebuah instansi negara lainnya.

Menjadi seorang Anggota DPR bagi saya pribadi ya bak buah simalakama. Sama halnya seperti menjadi seorang PNS namun dalam kadar yang jauh lebih besar. Bertindak diluar norma dan etika kesusilaan, dikecam dan dihujat, bahkan bisa jadi malah dicerca dalam hitungan bulan sampe ada topik baru yang lebih menarik untuk menutupi perbuatannya. Sebaliknya, berusaha bertindak profesional dan berjalan diatas rel malah cenderung dipertanyakan, dianggap tak bersuara vokal dan tak inovatif dalam memperjuangkan hak rakyat. Sedangkan kalo bertindak yang lebih lagi malah dianggap cari muka atau persiapan kampanye untuk periode mendatang. Hehehe… serba salah.

Malah saking apatisnya, sebagian masyarakat lantas menganggap ‘ah, itu mah sudah biasa…’ dan kemudian tindakan itu malah dilegalkan oleh rekan sejawatnya. Aneh.

Adalah Arifinto, seorang anggota Dewan yang terhormat dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang notabene saat kampanye lalu sempat membentangkan kain putih sebagai wujud perjuangan mereka, bahkan sempat pula memberantas kemaksiatan lewat aksi sopannya, ternyata malah tertangkap kamera sedang menonton video porno ditengah Sidang Paripurna yang seharusnya ia perhatikan.

Arifinto jelas menyangkal dan mengatakan bahwa ia tak sengaja melihat video tak senonoh itu lantaran melakukan -klik- pada sebuah link yang tercantum dalam sebuah email yang diterimanya. Segera dalam hitungan detik ia buang dan sayangnya ia tak ingat dengan alamat pengirim email tersebut.

Penjelasan ini berbeda dengan pengakuan wartawan yang secara kebetulan menangkap basah melalui kamera yang ia gunakan. Bahkan beberapa hasil jepretan ini sempat diperlihatkan pula pada rekan sejawatnya, para wartawan maupun sejawat si Dewan, Nasir Djamil.

Kendati perbuatan tersebut kemudian dimaklumi lantaran manusiawi,karena  yang bersangkutan merasa jenuh  ditengah Sidang paripurna, namun yang kemudian dianggap penting untuk diajukan adalah, seberapa jauh kemajuan pemblokiran video dan situs porno yang dilakukan oleh Pemerintah seperti yang selama ini digembar gemborkan oleh salah satu Menteri negeri ini yang pula merupakan seorang Public Figure dunia maya.

Jikapun kemudian kemajuan tersebut sudah dianggap maksimal , lantas siapakah yang sebetulnya berbohong ? Pak Menteri ? ataukah anggota Dewan kita yang terhormat itu ? atau malah bisa jadi itu bukanlah Video Streaming secara online, tapi merupakan koleksi pribadi yang memang disimpan dalam perangkat yang dimiliki ? fiuh… memang susah kalo sudah jadi Public Figure di negeri ini. Baru ketangkep nonton Video porno saja sudah sebegitu hebohnya…

Bagi satu dong Pak, video pornonya… hehehe…

 

Mengenal Android Market

34

Category : tentang TeKnoLoGi

Android Market merupakan sebuah toko aplikasi/games online yang dikembangkan oleh Google untuk perangkat teknologi bersistem operasi Android.  Perangkat Teknologi disini bisa berupa ponsel, tablet pc ataupun music player. Sejauh perangkat tersebut dapat terhubung ke dunia maya, maka hampir dapat dipastikan, bisa terhubung dengan Android Market .

Android Market menyediakan aplikasi-games yang dikembangkan oleh pihak ketiga, yang dapat diunduh secara gratis maupun berbayar. Dari pengalaman pertama saya menguji ponsel Samsung Galaxy ACE S5830, baru satu aplikasi saja yang saya temukan merupakan aplikasi Trial sehingga untuk bisa menggunakannya dengan baik, mutlak harus membeli aplikasi tersebut.

Sistem Operasi Android yang bersifat terbuka (open source) memungkinkan pihak ketiga terlibat dalam mengembangkan aplikasi untuk perangkat Android. Berdasarkan informasi yang tercatat pada Wikipedia, Pertama kali Android Market dibuka pada tanggal 22 Oktober 2008. Pertumbuhan jumlah aplikasi yang terdapat dalam Android Market bisa dikatakan sangat cepat. Untuk saat ini saja diperkirakan telah ada lebih dari 140.000 aplikasi padahal pada November 2009, jumlah aplikasi di Android Market hanya sekitar 2.300 aplikasi.

Dari puluhan ribu aplikasi tersebut, lebih dari setengahnya tidak berbayar. Meski banyak aplikasi yang di-gratis-kan, tidak berarti Android Market tidak mendatangkan keuntungan loh bagi para pengembang aplikasi tersebut. Keuntungan datang dari pengiklan yang dapat menyisipkan iklannya dalam aplikasi. Bila pengguna aplikasi mengklik iklan tersebut, pengembang bisa mendapat keuntungan sekitar 0,01 – 0,05 USD. Hal ini mirip dengan perilaku para Blogger yang memasang Adsense di halaman BloG-nya. Untuk aplikasi berbayar, Google menerapkan kebijakan pembagian keuntungan sebesar 70% untuk pengembang dan 30% untuk Google Market.

Android Market kabarnya hanya dapat diakses dari perangkat Android versi 2.1 ke atas. Namun ada juga beberapa vendor ternama yang masih betah menggunakan versi dibawahnya menyematkan  Android Market pada perangkatnya meski tidak semua dapat digunakan atau diinstalasi. Terkait mampu tidaknya digunakan/diinstalasi, saya memiliki pengalaman unik saat menemukan aplikasi Flash Player 10.2 yang ternyata tidak dapat disuntikkan kedalam perangkat Samsung Galaxy ACE S5830 yang saya miliki. Usut punya usut, ternyata perangkat yang notabene sudah berbasis Android 2.2 Froyo ini tidak mendukung aplikasi tersebut. Ealah…

Format aplikasi yang digunakan oleh ponsel Android adalah Android Package Files (APK). Aplikasi yang diunduh dari Android Market tidak secara otomatis terinstal manakala telah selesai diunduh. Diperlukan layanan file manager untuk menginstal aplikasi-aplikasi tersebut. Pada Android versi 2.1 kebawah, aplikasi akan terinstal di memori internal perangkat. Namun, pada Android versi 2.2, aplikasi dapat diinstal di memori eksternal, sehingga memori internal perangkat dapat lebih leluasa.

Sayangnya hingga saat ini saya belum menemukan cara agar pengguna memiliki kuasa penuh untuk mengatur dimana aplikasi itu diletakkan seperti halnya sistem operasi Symbian dan Windows Mobile. Lagi-lagi Android-lah yang kemudian mengatur, bahwa Aplikasi yang berkaitan dengan perangkat akan diinstalasi di memori internal sedangkan Games dan Aplikasi lainnya secara otomatis ditanamkan pada memori eksternal.

Langkah Instalasi aplikasi Android ini tergolong sederhana dan mudah.  Pertama, pengguna dapat Mencari aplikasi yang diinginkan berdasarkan klasifikasi, atau mengetikkan penggalan nama atau kata kunci pada fasilitas search yang disediakan. Kedua. apabila pengguna mengklik/memilih sebuah aplikasi, akan muncul deskripsi tentang aplikasi/games tersebut, rating yang diberikan oleh para penggunanya sekaligus dan review atau komentar. Lalu, bila pengguna mengklik/menekan tombol install, maka aplikasi akan segera diunduh dan proses unduhan akan berlangsung sebagai background process, sehingga pengguna dapat kembali berselancar di Android Market. Aplikasi yang telah diunduh dari Android Market akan tampil dalam menu downloads. Jikapun Pengguna merasa aplikasi ini tidak berguna, aplikasi yang telah diunduh tadi dapat dihapus dari Menu Task Manager.

Beberapa aplikasi yang hingga saat ini masih saya gunakan diantaranya AntiVirus, Ping, PaderSync (Trial), Opera Mini, Real Calculator, Compass, FxCamera, Barcode Scanner, Yahoo Messenger, Androidify, WordPress, Go Launcher Ex, Compass-Koi-Fish-Ballon Live Wallpaper, hingga jejaring sosial Waze, TweetDeck, FaceBook dan FourSquare. Sedangkan untuk Games ada Angry Birds, Brain Genius, Math Workout, Jewel, Unblock Me Free, Tangram, Word Search dan Sudoku.

Ohya, Android Market kini bisa juga diakses melalui PC/laptop loh. Yang dibutuhkan hanyalah alamat Email yang sama-sama digunakan pada perangkat Android. Jika berhasil, maka akan terlihat aplikasi/games yang digunakan pada perangkat Android pada menu akun Profile. Tak hanya itu, hingga nama perangkat yang digunakan pun terlihat dengan jelas. Itu sebabnya ketika saya iseng mencoba melakukan instalasi aplikasi Flash Player 10.2, apa yang terjadi sudah bisa ditebak kan ?

Trik Personalisasi Themes pada Android

8

Category : tentang TeKnoLoGi

Bosan dengan tampilan HomeScreen dan Menu Android yang itu-itu saja ? Silahkan personalisasi dengan tampilan Live Wallpaper. Gambar yang bergerak dan rata-rata bernuansa Dinamis ini minimal mampu memberikan sedikit warna untuk mengatasi kebosanan akan User Interface Android. Tapi kalo sampe bosan juga dengan yang namanya Live Wallpaper, apa ada solusi lain lagi ?

Silahkan coba aplikasi Go Launcher Ex yang dapat diunduh secara Free alias Gratis melalui Android Market. Ukuran installernya hanya sebesar 2,25 MB untuk versi terbaru 2.16. Sejauh ini Go Launcher merupakan salah satu aplikasi yang paling direkomendasikan oleh pengguna Android lantaran dapat memberikan sentuhan User Interface alias Theme yang berbeda dengan tampilan Default.

Dibandingkan tampilan HomeScreen milik Samsung Galaxy ACE S5830, dengan bantuan aplikasi Go Launcher Ex ini, selain menambah satu icon Browser Internet di posisi bawah layar, tampilan icon yang senada dengan wallpaper pun menjadi lebih unik dan menarik. Demikian halnya dengan tampilan Menu yang serupa dengan HomeScreen. Hanya saja apabila dibandingkan dengan tampilan Menu secara Default, terdapat tiga pilihan tambahan dibagian atas layar terdiri dari All (program yang terdapat pada handset), Recent (yang kerap atau terakhir digunakan) dan Running (yang sedang berjalan). Khusus pada pilihan Running ini, bisa juga difungsikan sebagai Task Manager alias menutup aplikasi yang sedang berjalan.

Bagusnya, Go Launcher Ex ini memberikan kesempatan pada pengembang lainnya yang ingin membuat paket Theme dengan menggunakan Go Launcher sebagai basis datanya. Itu artinya ada beberapa pilihan Theme lagi yang dapat dipilih selain Theme bawaan aplikasi.

Sebagai contoh ilustrasi, saya coba menggunakan Cartoon Theme yang memberikan nuansa anak muda yang begitu segar atau Sketch yang mengingatkan saya pada pendidikan Arsitektur dahulu atau Blux Theme hasil karya ZT Art yang elegant. Yang terpenting lagi adalah semua Theme ini bisa diunduh secara Free alias Gratis melalui Android Market.

Apabila ingin kembali pada tampilan Android secara Default, tutup saja aplikasinya melalu Menu Task Manager bawaan Android. Mudah bukan ?

Trik Personalisasi Nada RingTones pada Android

74

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa waktu lalu ketika saya bersua seorang kawan yang kebetulan memilih Pico Droid sebagai Jagoannya ketimbang BlackBerry, mengungkapkan kebingungannya terkait cara mengubah (baca:mempersonalisasi) nada dering baik Ringtones maupun Notification untuk SmS dan email pada Tablet Android yang ia punya. Keterbatasan kemampuan untuk mempersonalisasi nada ini sempat diungkapkan pula oleh seorang teman lainnya yang kebetulan baru memiliki ponsel iPhone 3GS yang di JailBreak ke iOS 4.

Jujur saja, saya pribadi baru menyadari hal ini saking asyiknya beraktifitas dengan Samsung galaxy ACE S5830, ponsel Android Froyo jagoan baru www.pandebaik.com. Sedari awal memang ni ponsel tidak saya gunakan untuk Voice Call ataupun Messaging. Hanya interaksi data atau internetan saja. Bahkan kartu sim card yang saya gunakan merupakan sim card XL yang dahulu saya gunakan sebagai alternatif koneksi pada modem saat Kuota IM2 Unlimited telah habis digunakan.

Keterbatasan kemampuan diatas tentu saja awalnya saya  maklumi. Lantaran belajar dari kepemilikan ponsel pintar terdahulu yang notabene berbasis Windows Mobile Pocket PC (Touchscreen) dan Smartphone (non TouchScreen). Sekedar informasi, kedua OS satu pabrikan tersebut secara Default memang memiliki keterbatasan Pengaturan nada Dering namun tidak menutup Peluang untuk mempersonalisasinya sesuai Keinginan. Satu hal yang patut dicatat adalah lokasi dimana Nada Dering itu ditempatkan.

Seperti halnya Windows pada NoteBook ataupun PC, kedua OS diatas tadi mensyaratkan lokasi nada dering mutlak ditempatkan pada folder /Windows/Media. Demikian halnya dengan Android.

Silahkan buka File Manager ponsel Android ataupun Tablet Android yang pada Samsung Galaxy ACE S5830 kebetulan disebut dengan MyFiles. Cari dan buka folder Media/Audio/ yang terdapat di dalam Memory Eksternal. Cara ini bisa dilakukan dengan menyambungkan ponsel atau handset Android melalui NoteBook/PC menggunakan kabel Data lalu buka melalui Explorer atau dengan membuka dan memasukkan Memory Card kedalam slot card pada NoteBook/PC.

Langkah kedua adalah membuat 3 (tiga) Folder baru didalam folder Media, yang masing-masing diberi nama Ringtones, Notifications dan Alarms. Jika sudah, siapkan file Nada Dering, Nada pengingat untuk SmS, Email dan Alarm dan pindahkan ke masing-masing folder sesuai peruntukkannya.  Lalu cabut kabel data atau masukkan kembali Memory Card-nya ke dalam Handset Android dan lakukan ReBoot atau Restart.

Saat Android dalam kondisi Siaga kembali, silahkan mengakses Pengaturan Nada Dering, Notification dan Alarm yang dalam ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 berada pada Menu Setting/Sound. Pilih Nada yang diinginkan lalu uji hasilnya.

Oya, untuk mendapatkan hasil nada dering yang jernih dan memuaskan, gunakan saja file berformat MP3 dengan bitrate minimal 128 kbps. Hal ini bisa dilihat melalui layar NoteBook/PC dengan memeriksa Detail Properties File yang dimaksud.

Semoga Trik kali ini bisa berguna.

4Shared Ilegal nan Menakjubkan

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Sembari menanti selesainya urusan Download seratusan edisi majalah PlayBoy dan PentHouse via Torrentz beberapa waktu lalu, agar koneksi XL Unlimited yang saya gunakan tidak mubazir, salah satu pelampiasan tambahan yang dituju adalah 4Shared.

4Shared merupakan penyedia penyimpanan berkas dalam sebuah jaringan yang ternyata berasal dari Ukraina dan didirikan pada tahun 2005. Setidaknya demikian informasi yang saya dapatkan lewat Wikipedia. Adalah Alex Lunkov dan Sergey Chudnovsky yang memiliki peran besar dalam mengelola 5.300.234 pengguna, 11.000.222 kunjungan harian serta 940 TerraBytes berkas yang disimpan didalamnya.

4Shared memungkinkan aktifitas mengunggah (upload) dan mengunduh (download) berkas yang tersimpan dalam jaringan tersebut dengan menggunakan Perambah Web (Browser). Bagi pengguna gratisan seperti yang saya lakukan, setiap kali mencari dan mengunduh berkas, 4Shared memberikan batasan waktu menunggu dari 30 hingga maksimum 399 detik untuk menampilkan link yang kemudian digunakan untuk mengambil berkas.

Dalam dua bulan terakhir setidaknya sekitar 20 GB berkas yang saya dapatkan melalui 4Shared. Untuk bisa mewujudkan itu semua, tentu saja peran terbesar yang dibutuhkan adalah koneksi yang stabil (Terima Kasih untuk XL Unlimited), dan juga waktu untuk menanti proses pengunduhan selesai.

Terlepas dari sifat berkas yang iLegal, semua yang saya dapatkan melalui 4Shared ini cukup membuat hari-hari saya jauh lebih berwarna, karena banyak hal baru yang saya jumpai atau memang sudah saya nantikan sejak lama. Katakan saja album musik. Dari Soundtrack film tahun jadul seperti Lion King, My Girl, Days of the Thunder yang salah satunya terdapat tembang lawasnya Guns N Roses, hingga GodFather jilid 1,2 dan 3. Pula dari tahun terkini seperti empat edisi Fast and Furious, tiga edisi Pirates of the Caribbean, atau enam edisi Harry Potter. Tak lupa beberapa album Soundtrack yang barangkali sempat terdengar familiar bagi pembaca setia blog ini, lantaran sempat pula saya tuliskan beberapa waktu lalu. Detroit Metal City atau malah Need For Speed Undercover.

Tidak hanya Soundtrack Film yang menjadi sasaran, namun juga beberapa album punk lawas jaman saya kuliah dan sekolah dahulu. Beberapa diantaranya terdapat album pertama dari The Exploited, Kemuri, Rancid, Nofx atau malah album kompilasi Punk O Rama yang kaset aslinya hilang entah kemana. Demikian halnya dengan album Live Concert dari para musisi ternama, akustik dan Unplugged. Tercatat tidak kurang total ada 90-an album musik yang mampu diambil lewat 4Shared. Menakjubkan bukan ?

Puas menghabiskan berkas musik yang terdapat dalam jaringan 4Shared, sasaran selanjutnya adalah aplikasi Portable (yang tidak memerlukan proses Instalasi dan ketergantungan sistem) juga beberapa Games era 2000-an awal yang dahulu barangkali tak sempat saya cicipi. Hasilnya lumayan, dari photoshop CS 4, AutoCad 2008, hingga kumpulan aplikasi portable lainnya berhasil saya manfaatkan dengan baik. Demikian juga dengan Games unik seperti ReVolt (race Tamiya), Tank Racer, Sky Force (yang dulu kerap saya mainkan di ponsel Symbian 6600 gembul) dan juga Theme Hospital.

Games yang saya sebutkan terakhir ini, dahulu merupakan salah satu games bertipe Strategy yang paling saya sukai. Dengan interface yang sederhana, pola permainannya sempat memberikan gambaran awal ‘Bagaimana cara membangun sebuah Rumah Sakit’ untuk mendukung proses pembuatan tugas salah satu mata kuliah di jurusan Arsitektur. Studio Perancangan VI dengan ‘Perencanaan Rumah Sakit bertaraf Internasional’. Hehehe…

Kendati proses pengunduhan berkas sudah mencapai Gigabytes yang keduapuluh, saya pribadi masih belum merasa puas dengan itu. Karena memang masih banyak hal menakjubkan (walaupun berstatus iLegal) yang terdapat didalamnya. Ada yang mau nitip ?

Samsung Champ Duos, Mini Wifi nan Menggoda

9

Category : tentang TeKnoLoGi

Tampaknya Samsung sebagai salah satu Brand papan atas benar-benar Serius ingin menghantam balik dominasi ponsel lokal yang dalam dua tahun terakhir benar-benar handal dalam memperebutkan kue penjualan. Setelah melepas dua varian Samsung [email protected], ponsel berkeypad QWERTY yang salah satunya mengadopsi dual sim card dan satu lainnya mengadopsi Wifi seharga 800ribuan saja, kini mereka sudah melepas ponsel dual sim card berlayar sentuh dan sudah Wifi pula. Samsung Champ Duos.

Terakhir dipantau (28/3) Samsung Champ Duos bisa dibawa pulang dengan menukarnya seharga 945ribu saja. Harga yang lumayan bersaing mengingat ponsel lokal yang memiliki kemampuan sejenis (dual sim, layar sentuh dan wifi) dilego dengan kisaran harga yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, bagi yang bosan dengan tampilan menu ponsel Lokal, bisa melirik ke Samsung Champ Duos ini kok.

Secara fisik bisa dikatakan Samsung Champ Duos tergolong ponsel Mini. Ketika beberapa kali saya genggam, tak ubahnya seperti membawa dompet gantungan kunci mobil yang Cuma berisikan STNK itu. Saking Mininya, Bisa jadi malahan orang gag akan tau kalo yang saya genggam itu adalah sebuah ponsel.

Dilepas dengan dua varian warna, Elegant Black dan Chic White, Samsung Champ Duos ini rupanya punya tongkrongan HomeScreen yang serupa dengan Android-nya Samsung Galaxy ACE. Saya pribadi sempat membathin, bahwa bagi yang awam, yakin banget bakalan mengira ni ponsel mengadopsi sistem operasi Android. Mengingat baik Samsung maupun brand lainnya sudah mulai melepaskan ponsel kalangan menengah berbasis Android dengan kisaran harga sejutaan saja.

Menilik HomeScreen atau tampilan layar utama, pengguna disajikan lima halaman yang dapat digeser-geser kesamping yang masing-masing terdapat empat icon aplikasi yang dapat di-Customize sesuai keinginan. Masuk pada Menu, pengguna disajikan grid icon 3×3 yang dapat digeser pula untuk mengakses menu yang lain. Sepintas, baik Tampilan HomeScreen maupun icon pada Menu yang digunakan, mengingatkan saya pada ponsel Samsung Galaxy ACE yang kini saya gunakan. Hanya saja berbeda kedalaman warna dan kejernihan grafisnya saja.

Dual Sim Card yang disematkan di badan ponsel dapat aktif secara bersamaan, dan uniknya, untuk bisa menelepon dengan kartu sim yang berbeda, pengguna tinggal menekan tombol kecil di sisi kanan bawah ponsel untuk mengaktifkan kartu sim mana yang ingin digunakan. Keunikan ini tentu berpengaruh pada perwajahan ponsel yang tidak menyajikan dua tombol hijau yang biasanya ada di ponsel-ponsel lokal.

Kameranya masih mengadopsi besaran 1,3 MP dengan Interface yang serupa pula dengan Samsung Galaxy ACE, serupa pula dengan Daftar Kontaknya yang bisa digulir dengan jari. Namun mengingat layar yang disematkan hanya berukuran 2,6 inchi, maka untuk melakukan input data, hanya disediakan keypad numerik virtual dan bukan QWERTY. Jelas ini jauh melegakan apalagi jika jari Pengguna tergolong sama dengan saya. Jempol semua. Hehehe…

Dari segi Multimedia, Samsung Champ Duos hanya menyediakan fitur Musik dan Radio minus Teve Analog. Untuk bisa mengaktifkannya, dalam paket penjualan sedah disediakan Headset yang berfungsi pula sebagai Antenna Radio.

Apa tadi saya sempat mengatakan bahwa Samsung Champ Duos ini sudah mengadopsi Wifi ? yup, itu benar. Ketika saya coba dengan menggunakan fitur Tethering-nya Samsung Galaxy ACE, aktifitas browsing pada Browser Internet bawaan dapat dijalankan dengan baik. Sayangnya, ketika kami mencoba mengunjungi alamat LPSE Badung yang notabene tidak memiliki Versi Mobile, kami kesulitan dalam mengakses halaman secara utuh. Hanya bisa dilakukan pada sisi kiri halaman dengan scroll atas bawah. Bisa jadi diperlukan sedikit pengaturan pada opsi Pilihan Browser. Ohya, bagi yang masih kagok dengan layar sentuhnya, Samsung menyediakan pula ‘Cotton Buds’ yang disematkan di cover belakang ponsel untuk membantu pengguna menunjuk-nunjuk layar layaknya ponsel PDA jadul itu.

Secara keseluruhan, ponsel Samsung Champ Duos ini bisa direkomenasikan bagi mereka yang menyukai ponsel simpel berlayar sentuh, dengan kebutuhan dual sim aktif dan telah mendukung koneksi Wifi. Dengan harga dibawah satu juta, ponsel berukuran mini ini tentu saja sangat menggoda untuk dimiliki.