Menu
Categories
Bagi satu dong Pak Video pornonya
April 10, 2011 tentang Opini

Rasanya untuk bisa menjadi seorang Public Figure itu sangat susah dilakukan, terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan biasa, dan dalam waktu singkat mendadak menjadi luar biasa. Jangankan menjadi Artis, menjadi seorang PNS yang Biasa-biasa saja sudah saya rasakan penuh tantangan lantaran tidak sedikit hujatan dan kecaman dilontarkan saat mulai bersikap layaknya orang normal. Apalagi anggota DPR ?

Figur yang terakhir saya sebutkan ini belakangan hari jadi makin terkenal dan termashyur akibat kelakuan dan tingkah polah yang kata Gus Dur dahulu malah mirip sekumpulan Anak TK. Dari yang tertangkap melakukan adegan mesum dengan artis ternama lantaran aksinya terekam dalam format video ponsel, yang meributkan soal tunjangan ini itu padahal kinerjanya masih perlu dibuktikan lagi, yang kerjanya plesiran mengatasnamakan Studi Banding, atau yang terakhir ngotor membangun gedung baru yang katanya sedikit lebih murah ketimbang biaya per meter sebuah instansi negara lainnya.

Menjadi seorang Anggota DPR bagi saya pribadi ya bak buah simalakama. Sama halnya seperti menjadi seorang PNS namun dalam kadar yang jauh lebih besar. Bertindak diluar norma dan etika kesusilaan, dikecam dan dihujat, bahkan bisa jadi malah dicerca dalam hitungan bulan sampe ada topik baru yang lebih menarik untuk menutupi perbuatannya. Sebaliknya, berusaha bertindak profesional dan berjalan diatas rel malah cenderung dipertanyakan, dianggap tak bersuara vokal dan tak inovatif dalam memperjuangkan hak rakyat. Sedangkan kalo bertindak yang lebih lagi malah dianggap cari muka atau persiapan kampanye untuk periode mendatang. Hehehe… serba salah.

Malah saking apatisnya, sebagian masyarakat lantas menganggap ‘ah, itu mah sudah biasa…’ dan kemudian tindakan itu malah dilegalkan oleh rekan sejawatnya. Aneh.

Adalah Arifinto, seorang anggota Dewan yang terhormat dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang notabene saat kampanye lalu sempat membentangkan kain putih sebagai wujud perjuangan mereka, bahkan sempat pula memberantas kemaksiatan lewat aksi sopannya, ternyata malah tertangkap kamera sedang menonton video porno ditengah Sidang Paripurna yang seharusnya ia perhatikan.

Arifinto jelas menyangkal dan mengatakan bahwa ia tak sengaja melihat video tak senonoh itu lantaran melakukan -klik- pada sebuah link yang tercantum dalam sebuah email yang diterimanya. Segera dalam hitungan detik ia buang dan sayangnya ia tak ingat dengan alamat pengirim email tersebut.

Penjelasan ini berbeda dengan pengakuan wartawan yang secara kebetulan menangkap basah melalui kamera yang ia gunakan. Bahkan beberapa hasil jepretan ini sempat diperlihatkan pula pada rekan sejawatnya, para wartawan maupun sejawat si Dewan, Nasir Djamil.

Kendati perbuatan tersebut kemudian dimaklumi lantaran manusiawi,karena  yang bersangkutan merasa jenuh  ditengah Sidang paripurna, namun yang kemudian dianggap penting untuk diajukan adalah, seberapa jauh kemajuan pemblokiran video dan situs porno yang dilakukan oleh Pemerintah seperti yang selama ini digembar gemborkan oleh salah satu Menteri negeri ini yang pula merupakan seorang Public Figure dunia maya.

Jikapun kemudian kemajuan tersebut sudah dianggap maksimal , lantas siapakah yang sebetulnya berbohong ? Pak Menteri ? ataukah anggota Dewan kita yang terhormat itu ? atau malah bisa jadi itu bukanlah Video Streaming secara online, tapi merupakan koleksi pribadi yang memang disimpan dalam perangkat yang dimiliki ? fiuh… memang susah kalo sudah jadi Public Figure di negeri ini. Baru ketangkep nonton Video porno saja sudah sebegitu hebohnya…

Bagi satu dong Pak, video pornonya… hehehe…

 

"10" Comments
  1. untuk membuktikan apakah video porno berasal dari email (hanya beberapa detik) atau dari folder, pertama ya lihat saja kronologis akses video dari 60 frame foto yang diabadikan M Irvan sang wartawan saat Arifinto menonton video tersebut. Trus Kedua, kalo benar tu Email dihapus (dari Inbox), bukankah masih ada folder Trash ? periksa dulu folder tersebut untuk alternatif pembuktian lain. dan Ketiga, kenapa gag dicoba saja melakukan Video Streaming kembali dengan mengakses salah satu video di YouTube. apakah mampu dilakukan semulus aksi ataukan ada Bufferingnya ? hehehe…

    [Reply]

    imadewira Reply:

    Mereka mencoba membodohi rakyat bli, pake berkelit lagi. Ngaku aja, menurut saya normal kok orang nonton video porno, ya cuma dia salah tempat dan waktu aja.

    [Reply]

  2. Anggota dewan kita apa cuma latah teknologi ya :mrgreen:
    Cahya´s last blog post ..Blog itu Sebuah Buku Harian

    [Reply]

    pande Reply:

    hehehe… bisa jadi. Yang penting keren. 🙂

    [Reply]

  3. Bli….bli….. udah dapat email yang berisi link dari vicky vette ❓ 😕

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
    Sugeng´s last blog post ..Pengalaman Bongkar Memory RAM

    [Reply]

    pande Reply:

    Vicky Vette… *googling EH… kok malah Bintang Filem Porno ? Email apaan ???

    [Reply]

    Sugeng Reply:

    Lho yang ngirim email ke anggota dewan itu kan si vicky 😆 :mrgeen:

    [Reply]

    Sugeng Reply:

    Lho yang ngirim email ke anggota dewan itu kan si vicky 😆 :mrgreen:

    [Reply]

    pande Reply:

    ohya ? mau dong. hehehe…

  4. Pingback: PanDe Baik » Menyoal alamat Email Resmi [email protected] Komisi VIII DPR RI

Leave a Reply
*