Pecalang Perangkat Keamanan Panutan Desa Adat Bali

4

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Dalam beberapa hari kedepan, sosok tangguh yang satu ini bakalan kerap dijumpai disepanjang jalan pula Bali. Mereka akan hadir disetiap ujung jalan maupun persimpangan menjaga keamanan dan juga ketertiban pelaksanaan hari suci yang dipaling ditunggu-tunggu oleh semua umat Hindu. Tahun Baru Caka Hari Raya Nyepi 1933.

Pecalang adalah perangkat keamanan yang hadir disetiap desa adat yang secara tradisi diwarisi turun temurun dalam budaya Bali. Memiliki tugas untuk mengamankan dan menertibkan desa adat baik dalam keseharian maupun dalam hubungannya dengan penyelenggaraan upacara adat atau keagamaan.

Pada Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Caka, para pecalang ini melakukan ronda dari pagi hingga malam untuk memantau ketertiban pelaksanaan Brata Penyepian. Pakaian yang dikenakan dari satu daerah ke daerah lainnya bervariasi, namun pada umumnya tidak menggunakan baju atau atasan, sehingga penampilan Pecalang sekaligus sebagai ajang pamer kekekaran bidang tubuhnya. Meski demikian, ada juga pecalang yang mempergunakan baju perang tanpa lengan seperti rompi. Pecalang menggunakan Destar atau ikat kepala dan kain berwarna hitam, kampuh atau kain penutup badan bercorak belang khusus atau disebut poleng sudhamala. Setiap Pecalang biasanya menyungklit keris di bagian pinggang. Satu lagi yang tak kalah perannya adalah sebuah bunga kembang sepatu berwarna merah menyala yang terselip di telingan. Pucuk Arjuna.

Warna hitam yang mendominasi penampilan Pecalang melambangkan pengayoman dan pembinaan. Hal ini berkaitan dengan tugas dan kewajiban Pecalang yang diharapkan dapat membina ketertiban dan mengayomi masyarakat. Kain poleng Sudhamala sendiri yang memiliki tiga warna dasar, hitam, putih dan abu-abu memiliki arti atau makna ketegasan sikap yang mampu melebur segala kebusukan atau mala menjadi selaras dan harmonis.

Dengan bergesernya jaman, Pecalang dimasa kini hampir tidak lagi identik dengan badan yang kekar ataupun berwajah seram. Dari segi pakaian yang dikenakannya pun sudah mulai mengikuti perkembangan jaman. Atasan Kemeja berwarna gelap, dilengkapi dengan jaket hijau metalik yang biasanya digunakan pula oleh Polisi Lalu Lintas dan keris yang dahulunya kerap disandang, berganti dengan pentungan yang dapat dinyalakan sebagai tanda bagi para pengendara di jalan raya. Tidak jarang, perangkat komunikasi Handy Talkie pun disematkan di pinggang untuk mempermudah koordinasi jarak jauh.

Pecalang mulai naik daun ketika Bali diberi perhatian lebih untuk menyelenggarakan event-event besar baik dari kalangan partai politik maupun organisasi massa tertentu. Yang paling kentara adalah saat Kongres sebuah parpol berwarna dasar Merah yang dilaksanakan di lapangan Kapten Japa Padanggalak tahun 1999 lalu, peran Pecalang bisa dikatakan sangat dominan terlihat. Demikian halnya dalam setiap event berskala Regional digelar, Pecalang tak luput dari perhatian media.

Meski Pecalang memiliki tugas untuk membina ketertiban dan mengayomi masyarakat, ada saja satu dua oknum yang kemudian memanfaatkan emblem Pecalang ini untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang tak terpuji atau malah bertindak arogan dijalan raya. Itu sebabnya, terkadang ada saja yang terlihat petantang petenteng merasa paling berhak untuk mengatur segalanya.

Pecalang secara bahasa, kabarnya berasal dari kata ‘Celang’ atau Waspada. Sehingga diharapkan bagi mereka yang kemudian menyandang atau didaulat sebagai Pecalang harus mampu bersikap waspada terhadap segala tantangan baik itu yang datang dari masyarakat dan lingkungannya maupun dari diri sendiri. Pecalang memang sudah sepantasnya menjadi panutan bagi masyarakat.

Comments (4)

Pecalang memang memiliki tugas yang sangat mulia bli, namun tidak lepas dari kesan negatif karena ulah oknum tertentu yang tidak bisa menjaga nama baik pecalang.

[Reply]

eh baru tau lho filosofi warna pecalang dan asal katanya. selama hidup di bali biasanya “nak mule keto uli pidan” jawabannya. hehehe..

[Reply]

pande Reply:

He… Semoga bermanfaat…

[Reply]

Pada saat saya sedang mengendarai motor saya ke arah Ungasan (kearah Banyan Tree Resort – dekat sekolah SLTP negeri setempat), terdapat kerumunan penduduk setempat yang melakukan arak-arakan Ngaben. Entah bagaimana tiba-tiba terjadi sebuah insiden, seorang oknum pecalang dengan emosi menampar seorang wanita yang mengemudi motor searah dengan kerumunan arak-arakan tersebut. Hal ini terjadi pada tanggal 31 Oktober 2015 sekitar jam 12.25 siang hari (mungkin aparat kepolisian bisa melacak hal ini dari kantor adat / pemimpin adat setempat mengenai siapa saja yang waktu itu bertugas ambil bagian sebagai pecalang). Sangat disayangkan insiden seperti ini harus terjadi, apalagi yang menjadi korban pemukulan adalah seorang wanita! Sangat memalukan! Dimana sebagai seorang oknum yang seharusnya menjadi pengayom adat dan contoh masyarakat malah bertindak bak ‘algojo bayaran’! Sekali lagi, sungguh kelakuan yang tidak tahu adat! Saya melaporkan hal ini karena saya juga wanita dan merasa dipermalukan, meskipun saya bukanlah korban. Saya yakin hal semacam ini seringkali terjadi, dimana terkadang beberapa oknum pecalang yang cenderung berlaku kasar dan temperamental. Saya berharap melalui email ini ada tindakan tegas yang dapat ditunjukkan melalui aparat yang berwenang. Karena secara etika dan moral, tidak seharusnya seorang aparat (apalagi pria) berlaku kasar dan menampar wanita. Mohon tindakan tegas dari pihak aparat kepolisian agar kejadian yang sama jangan sampai terulang lagi. Karena menurut pengamatan, saya yakin bahwa wanita yang menjadi korban tersebut tidak akan ‘dibela’ mengingat prosedur pelaporan yang harus memakan waktu dan cenderung berbelit-belit.

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge