SM*SH HITs

9

Category : tentang Opini

“…You know me so well …Girl i need you …Girl i love you …Girl i heart you”

Jujur saja, pertama kali saya mendengar Reffrain lagu ini yang langsung terlintas adalah sebuah BoyBand beranggotakan cowok-cowok abegeh dari luar sana, yang nge-dance kompak, penuh dengan nuansa cerah dan tentu saja teriakan para gadis. Masih belum ngeh saat sebuah stasiun televisi swasta heboh banget menampilkan mereka sebagai pamungkas acara. eh kecele abis rupanya…

BoyBand. Mesti dikecam namun sangat menggoda. Kemunculan mereka kabarnya dibenci namun diam-diam dicinta. Begitu kira-kira tulisan sebuah media cetak beberapa hari lalu. Bahkan beberapa musisi metal sempat melontarkan kritikan pedas terkait gaya panggung dan karya-karya yang lahir dari para remaja tanggung tersebut.

SM*SH (dibaca jadi SMASH kali ya ?) muncul ditengah-tengah kebosanan generasi muda Indonesia akan lagu-lagu melayu yang mendayu kendati penampilan mereka rada-rada metal. Satu hal yang bagus saya kira, bisa memberi warna pada blantika musik Indonesia awal tahun 2011 ini.

Sayangnya ditengah hysteria fans, banyak komentar ataupun berita miring yang dikaitkan dengan SM*SH. Salah satu yang paling pedas barangkali soal ‘meniru’.

Di Korea sana kabarnya sudah ada satu BoyBand yang jua menggunakan nama sama dengan debut mereka sejak tahun 2008 lalu. Iseng saya cari di Google Images, hasilnya ada dua BoyBand dengan nama sama namun beda kelahiran. Hehehe… SM*SH Korea itu beranggotakan 5 (lima) abegeh kurus berwajah Vic Shou Meteor Garden sedang SM*SH ala Indonesia itu beranggotakan 6 (enam) abegeh berwajah menggemaskan (kata cewek-cewek abegeh rumah) yang salah satunya berambut putih ala Bang Buyung. *eh

Entah apa maksudnya menyamakan nama dengan BoyBand asal Korea tersebut (bisa jadi juga gaya tampil, cara dance dan lain-lain).

SM*SH bukanlah BoyBand pertama yang lahir di negeri ini. Kalau tidak salah jaman dulu itu (hihihi…) sudah ada yang namanya ME dengan lagu ‘Inikah Cinta’ atau BoyBand sekumpulan Model Cover Boy majalah remaja yang juga berumur jagung. Ngerilis dua tiga album trus gag kedengeran lagi.

Hysteria para Fans akan BoyBand Indonesia SM*SH pun sempat mengingatkan saya dengan BoyBand asal Irlandia ‘BoyZone’ atau BackStreets Boys, Westlife dan sejenisnya yang sempat booming di awal dekade 2000an lalu. Namun yang paling mirip barangkali malah jauh kebelakang lagi, di tahun 1990an. Apalagi kalo bukan New Kids On The Block. Saya yakin, para Bapak dan Ibu muda masa kini yang berumuran 30-40 tahun dijamin kenal nama yang satu ini.

BoyBand jadul yang kini gosipnya sedang berusaha untuk tampil kembali (tentu dengan wajah penuh cambang dan perut yang mulai tampak menggelayut), merupakan salah satu panutan yang disegani oleh para penerusnya. Apalagi anggotanya masih berusaha eksis hingga kini. Bahkan lewat sebuah majalah film, saya baca salah satunya bakalan ikut ambil bagian dibidang acting. Wah…

Balik ke topik SM*SH, jujur saja, saya pribadi gag terlalu peduli dengan kemunculan mereka. Bisa jadi lantaran selera yang sudah mulai terlihat jadul dan gag mengikuti perkembangan jaman di bidang music tanah air. Jangankan SM*SH, nama-nama baru seperti ST12, Wali, Armada atau apalah itu malah membuat saya kebingungan dengan karya mereka yang mana. Satu sama lain terlihat sama. Hanya mengikuti seingatnya saja.

Tapi saya salut dengan eksistensi mereka yang berusaha tampil di jalur BoyBand. Sebuah jalur yang barangkali emoh untuk dilirik dalam rentang lima tahun terakhir. Setidaknya reffrain lagu mereka ‘I Heart You’ seperti yang tersebut diatas, minimal bisa menggoyang MiRah GayatriDewi, putri saya yang berusia 3 tahun itu untuk ikut-ikutan menyanyi sehafalnya.

“…I know you so well …Girl i need you …Girl i love you …Girl i heart you”

Tahun Baru, Beli Ponsel Baru gag ya ?

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Kalo dipikir-pikir, bekerja di lingkungan PNS yang notabene jarang bersentuhan dengan Teknologi, kerap memunculkan satu hiruk pikuk yang sebetulnya bagi saya pribadi merupakan hal yang kecil, namun bagi kami semua adalah hal yang menghebohkan. Tahun Baru (hampir selalu) identik dengan Ponsel Baru.

Ngomong-ngomong soal Ponsel Baru, ceritanya bulan pertama ini jadi bulan penuh berkah bagi sebagian besar PNS yang pada tahun lalu kebanjiran proyek. Honor ataupun apalah namanya itu datang silih berganti, sehingga sangat memungkinkan bagi si penerima untuk sekedar memberikan penghargaan pada diri sendiri dengan sebuah perangkat komunikasi terkini, entah memang karena keperluan yang mendesak atau hanya sekedar menaikkan gengsi. Bagi yang mendapatkannya jauh lebih besar, jangankan ponsel, mobil barupun jadi. Hehehe…

BlackBerry, tentu saja masih menjadi daya tarik yang menempati peringkat pertama sebagai ponsel yang paling diincar. Entah karena mereka memang sangat memerlukan layanan Push Email yang menjadi ‘jualan utama’ Researh In Motion, atau hanya sekedar ingin mencoba asyiknya BBM-an. Apalagi kini ditambah dengan iming-iming ‘social networking’ yang menyebabkan hip-nya FaceBook dikalangan abdi Masyarakat. Bisa dikatakan hampir sebagian besar teman kantor kini memiliki akun FB, meskipun rata-rata jarang apdet status.

Bagi yang rejekinya agak cekak lebih memilih brand Nokia sebagai pilihannya. Rata-rata seri yang diminati masih berkisar QWERTY desain, seperti E63 yang kiasaran harganya masih nangkring di 1,5 jutaan atau C3 yang lebih ‘down to earth’ sejutaan. Kedua pilihan tersebut bagi saya pribadi sudah cukup mantap mengingat dari segi fitur yang ditawarkan lumayan menggoda.

Sayangnya, yang namanya ‘Teknologi Ponsel’ dalam arti sebenarnya apalagi yang sebetulnya menjadi Hip tahun lalu dan perkiraan tahun ini, gag satupun saya lihat ada dalam daftar pilihan mereka. Katakanlah iPhone 4, Windows 7 atau bahkan Android. Bisa jadi lantaran faktor harga yang kurang menarik (terlalu mahal), bias juga lantaran factor ‘tingkat kesulitan untuk pemahaman penggunaan’. Karena gag semua mampu memahami cara penggunaan ponsel-ponsel high end ini.

Saya pribadi jujur saja malah belum tertarik untuk ikut-ikutan latah mengganti dua ponsel yang kini masih setia saya gunakan dengan BlackBerry, seperti saran rekan-rekan yang lain. Bisa jadi lantaran anggapan yang saya tanamkan pada otak kotor saya ini, bahwa ‘saya belum memerlukan benar teknologi ataupun fitur layanan yang ditawarkan oleh masing-masing brand besar’.

Untuk ponsel GSM, saya masih betah mengandalkan ponsel Nokia jadul N73 hitam yang saya beli beberapa saat sebelum MiRah GayatriDewi, putri kami lahir. Secara fitur yang kerap saya gunakan ada Kamera 3,2 MP yang sudah autofocus, untuk menggantikan peran kamera digital yang kelupaan dibawa atau kehabisan daya. Beberapa hasilnya bahkan saya gunakan sebagai ilustrasi blog ini. Demikian halnya dengan dual speaker Stereo-nya yang masih cukup mantap menemani waktu mandi saya. Hehehe…

Selebihnya, ponsel Nokia N73 ini hanya saya gunakan untuk Messaging atau mengirim SmS, dimana operator GSM paling getol menawarkan sejumlah SmS Gratis. Lumayan untuk mendukung aktifitas penjualan PulSa ataupun berkirim ucapan Hari Raya. Murahnya tariff koneksi data ketimbang Flexypun menyebabkan saya betah mengandalkan Web Browsernya hanya untuk melakukan aktifitas ‘Check-in’ di beberapa Venue FourSQuare dalam rangka berburu BadGe atau hanya sekedar ‘update status dan berkomentar pada akun FaceBook teman. Itupun untuk makin menghemat pulsa akibat pemakaian koneksi data, fitur Images, Foto dll, saya nonaktifkan. Hehehe…

Sedangkan untuk ponsel CDMA, saya masih setia menggunakan ponsel bertampang jadul  Motorola Q yang saya beli kisaran ratusan ribu saja (tak sampai sejuta). Ponsel ini lebih saya gunakan untuk Voice lantaran tarif flat Flexy yang jauh lebih memberikan rasa nyaman ketimbang promo gratisan operator GSM yang malah menguras pulsa.  Salah satu pertimbangan lainnya adalah adanya sistem operasi built in Windows Mobile 5, yang memberikan keleluasan jumlah PhoneBook ketimbang ponsel Nokia CDMA yang dahulu saya miliki. Sifatnya lebih pada Shared Memory ketimbang batasan jumlah. itu sebabnya saya lebih suka mencatat nomor baru di nomor CDMA ketimbang GSM.

Kendati kedua ponsel tersebut menyediakan fitur layanan sejenis yang dimiliki BlackBerry (Push Email melalui aplikasi MoZat dan Chatting melalui aplikasi eBuddy), jujur saja saya pribadi bisa dikatakan sangat jarang memanfaatkannya. Mungkin lantaran keinginan terpendam saya untuk mulai membatasi kedekatan fisik terhadap ponsel, yang kemudian malah lebih sering meninggalkan ponsel jauh di kamar saat berada dirumah ketimbang ditenteng kemana-mana.

Tahun Baru, Beli Ponsel Baru ?