Menu
Categories
Playboy Magazine, antara Porno atau Nilai Seni ?
February 22, 2011 tentang TeKnoLoGi

Apa yang terlintas di benak Anda ketika saya menyebutkan dua kata kunci yang kabarnya mampu menurunkan sekompi pasukan Front Pembela Islam beberapa waktu lalu ?

“ Playboy Magazine “

Sebutan yang kurang lebih bermakna sama dengan Majalah Playboy (versi Indonesia) ini, benar-benar diidentikkan dengan majalah porno, mesum hingga tak sejalan dengan norma agama bangsa kita Indonesia. Walaupun ada sebagian kecil pendapat yang menyatakan bahwa ‘itu adalah sebuah karya seni yang diakui Dunia’. Wah, mana yang benar nih ?

Bagi saya sih ya bergantung pada pola pikir si pembaca saja kok. Kalo sedari awal memang sudah meyakini bahwa Playboy Magazine atau Majalah Playboy ini isinya full porno, buka-bukaan vulgar, atau gambar wanita telanjang ya saya yakin otakpun bakalan langsung terlintas adegan mesum kendati halaman yang pertama dibuka menyajikan iklan sebuah kendaraan keluaran terkini atau bahkan gambar sebuah botol minuman, sambil tak sabar terus membuka halaman satu persatu secara cepat hingga menemukan apa yang terpikirkan. ‘nah, benar kan apa yang saya katakan ?’ ujar si otak. Hehehe…

Menyimak perkembangannya dari beberapa tahun edisi yang saya dapatkan, terlihat jelas perbedaan kualitas gambar, penampilan majalah hingga penampilan wanitanya tentu saja. Bayangkan, dari tahun 1978 hingga tahun 2011 saya nikmati satu persatu meski tidak semua.

Memang saya akui bahwa dalam beberapa halaman di setiap edisi Playboy Magazine ini, jelas terdapat pose ataupun gambar telanjang para wanita yang mengundang jatuh air liur setiap pria normal di belahan dunia manapun. Namun informasi yang tertuang dalam sekian banyak halaman lainnya tak melulu soal pornografi dan seisinya. Seperti juga majalah dewasa lainnya, informasi seputar hobby ataupun kemaniakan para pria normal terhadap benda diluar wanitapun ada tertampil dalam layout yang memikat. Mencirikan  khas majalah luar, bathin saya. Jika masih bingung dengan bagaimana tampilannya tanpa ingin melihatnya langsung, bayangkan saja majalah lokal seperti Popular, Tempo ataupun RollingStones.

Benda yang saya maksudkan disini berupa mobil mewah gres keluaran brand ternama, motor besar, gadget, ponsel hingga asesoris seperti kacamata ataupun Tuxedo. Bagi yang belum masuk terlalu dalam ke seisi majalah, barangkali malah berpendapat sebaliknya ‘masa sih majalah Playboy edisi USA isinya hanya kaya’gini ?’ saya berani Taruhan loh.

Maka, seperti halnya puluhan majalah bertema khusus lainnya seperti M2 atau Cinemagz yang menjual informasi tentang film, Hai tentang Remaja atau bahkan Tempo yang menjual soal Politik, Hukum dan sebagainya, PlayBoy Magazine pun demikian. Hanya saja memang topic atau bahkan gambar pendukung yang berupa pose wanita telanjang bisa dikatakan sangat jarang kita saksikan di negeri sendiri secara langsung atau bahkan dianggap melanggar norma-norma kesusilaan. Meski sedari tampilan gambar dan halaman bagi saya malahan mampu mengundang decak kagum atas cara pengambilan angle, obyek hingga rasanya sayang jika isi majalah langsung habis ditelan dalam hitungan menit. Musti dicermati dan dinikmati dulu.

Seperti kalimat saya diatas, ya kembali pada pikiran si pembaca saja kok. Kalo memang sedari awal sudah beranggapan bahwa majalah Playboy atau diluar dikenal dengan sebutan Playboy Magazine merupakan majalah yang biasa-biasa saja seperti tag blog saya diatas, ya gag banyak emosi kok yang terasa. Kalopun kemudian mata disuguhkan pose wanita sexy nan menantang ya anggap saja itu semua sebagai Bonus atas kebosanan yang ada dari halaman pertama. Itu saja.

"7" Comments
  1. Pingback: Tweets that mention PanDe Baik » Playboy Magazine, antara Porno atau Nilai Seni ? -- Topsy.com

  2. Ha ha…, masalahnya saya bukan penilai seni, kalau memandang lukisan di galeri saya masih bisa melihat seninya, tapi kalau majalah dewasa ala Playboy gitu saya susah mencerna untuk menemukan esensi seninya di mana.

    Kalau saya lebih suka majalah yang sederhana ala BogBog :D.
    Cahya´s last blog post ..Sky Drive sebagai Media Penyimpanan Dokumen Daring

    [Reply]

    pande Reply:

    Bagi saya, seninya itu ya di sudut pengambilan gambar, estetisnya obyek, dan juga isi ceritanya. Coba deh nanti disandingkan dengan PentHouse (tulisan berikutnya), atau tabloid esek-esek produk lokal. Jauh banget bedanya. :p

    [Reply]

  3. Setuju! Sesuatu akan terlihat seperti apa yg dibayangkan terus-menerus, apalagi Majalah Playboy. Tergantung otak yang baca aja. Kecuali kalau “majalah-majalah lampu merah” di beberapa kota besar di Indonesia yang dijual bebas, baru cocok dibilang majalah porno. Bagaimana nggak, di dalamanya ada cerita mesum yang dijelaskan secara gamblang. Dan ini sempat jadi bacaan nakal saya saat jaman SMP :p.
    Outputnya? tergantung bagaimana otak mem-prosesnya.  😆  :mrgreen:
    Tamba Budiarsana´s last blog post ..Niat hati menghindar- tapi kena juga

    [Reply]

    pande Reply:

    Nah ini dia, ternyata bacaan kita sama ya ? hihihi… Majalah/Tabloid lampu merah itu malah jelas”gamblang, tapi gak disemprit… hehehe… *pembenaran sepihak

    [Reply]

  4. saya kurang paham juga bli, apakah ini mungkin disebut dengan stigma

    [Reply]

    pande Reply:

    Hehehe… bisa jadi :p

    [Reply]

Leave a Reply
*