Menu
Categories
Catatan Perjalanan 19 Januari menuju Pura Penataran PanDe Tamblingan
January 22, 2011 tentang PLeSiran

Bau tanah yang disirami air hujan tercium dengan khasnya, rabu pagi 19 Januari 2011, hari yang telah kami nanti sejak lama. Entah mengapa setiap kali kami merencanakan untuk tangkil bersama keluarga, MiRah putri kami selalu saja dalam kondisi sakit. Demikian pula hari ini. Maka bisa ditebak, ada rasa khawatir yang hinggap di pikiran akan kesehatannya jika kami ajak ikut serta ke Pura Penataran Pande Tamblingan.

Tekad kami sudah bulat, kami harus berangkat apapun yang terjadi. Sarana upacara sudah siap demikian pula dengan kendaraan jadul yang kami miliki, setidaknya dipersiapkan pula lebih awal. Mengingat rasa khawatir kami yang kedua akhirnya terwujud jua. Hujan yang berpotensi meluluhlantakkan satu-satunya jalur kendaraan menuju pura.

Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih dan Penyayang umat-Nya. Beliau tahu harapan kami begitu besar untuk bisa hadir bersama keluarga. Terhitung perjalanan pasca daerah Luwus, hujan tak tampak lagi. Langit cerah ceria dipenuhi matahari yang tampak masih malu-malu diselimuti awan. Begitu pula dengan MiRah putri kami, batuknya tak tampak di sepanjang perjalanan. Bisa jadi lantaran ia begitu menikmati liburannya kali ini.

Kendaraan mulai menyusuri jalan masuk ditengah hutan. Sebuah Avanza awalnya tampak begitu jauh didepan kami, perlahan tapi pasti bisa didekati. Air danau yang meninggi, membuat jalur kendaraan alternatif di pinggiran tak dapat dilalui lagi. Akibat lainnya, jalan jadi penuh lumpur dan kendaraan kami ? bukan kendaraan yang disarankan oleh para Offroader untuk bisa melewati jalur tersebut.

Masalah muncul ketika beberapa kendaraan tampak berhenti didepan kami dari  arah yang berlawanan. Jalan yang sempit rasanya tidak mampu untuk memberi ruang dua kendaraan lalu lalang. Ban mobil yang terselippun kemudian menjadi pemandangan kami, kerjasama antara semeton PanDe benar-benar diuji kali ini.

Perjalanan selama tiga setengah jam, molor satu setengah dari perkiraan. Kami sampai di pelataran parkir Pura Penataran Pande Tamblingan dengan selamat. Rasa syukur menyelimuti hati yang digeluti hawa dinginnya Danau Tamblingan. Air benar-benar begitu tinggi, hingga setiap orang yang hadir hanya bisa mengakses Pura dari jalan kecil di samping kanan area.

Tampak bli Ande Tamanbali, sesepuh di Yowana Paramartha menyapa kami bersama ‘anak-anaknya’. Dari status akun FaceBook yang mereka update pagi tadi, jelas sekali kini sudah bersiap untuk pulang. Demikian halnya dengan rombongan Putu Yadnya (Pande Bali), yang sekendaraan dengan Gus Hardy, Gektu Cipluk dan pak guru Dego. Dancuk kami Yande Putrawan beserta istrinDa bu dokter Astrie, baru tiba ketika kami usai melakukan persembahyangan di areal utama Pura. Sesuai rencana, Yowana Paramartha sedang mencoba tampil di hadapan para Penglingsir.

MiRah tampak ceria hari ini. Tak tampak ia sakit sedikitpun, hingga mengundang pertanyaan dari para teman di jejaring social FaceBook. Wajah cerahpun ditunjukkan oleh ibu dan neneknya. Ini adalah pengalaman pertama mereka bisa hadir di Pura Penataran Pande Tamblingan ini. Bersua saudara, bersua  orang-orang baru.

Cuaca yang tampak bersahabat sepanjang hari membuat senda gurau dan cengkrama kami begitu hangat dan mengalahkan rasa dingin yang mencoba menggoda kami. Hujan rintik sesekali turun namun tak sampai membasahi. Rasa lapar yang timbul, masih bisa ditahan walau hanya dengan segelas kopi. Baru terobati ketika pulang menjelang.

Sengaja kami memutuskan untuk kembali saat semua orang sudah beranjak pulang. Minimal disepanjang perjalanan ada teman yang kelak bisa kami mohonkan pertolongannya, apabila terjadi situasi krodit seperti siang tadi. Beberapa kendaraan offroader tampak siaga di titik tertentu lengkap dengan fasilitas dereknya. Kami bersyukur bisa melewati rintangan dengan baik. Kijang Grand Extra tahun 88 tanpa modifikasi ini kembali membuktikan ketangguhannya.

Saat perjalanan pulang, dalam benak baru saya sadari bahwa apa yang menjadi tujuan semula, terlupakan begitu saja. Hasil Paruman Sri Empu beserta Pengurus Maha Semaya Warga Pande tak sedikitpun bisa saya ceritakan disini. Tumben, saya seperti tak peduli dengan jalannya parum, entah karena suasana bercengkrama yang begitu hangat, rasa bahagia bisa hadir bersama keluarga, atau karena keceriaan MiRah putri kami mendominasi suasana hati sepanjang hari. Semoga semeton lain bisa mengabarkannya.

"1" Comment
  1. wah, seru banget toe bli,,, 😛 😛

    [Reply]

Leave a Reply
*