Menu
Categories
20 to 40
September 27, 2010 tentang KeseHaRian

Untuk menempuh jarak sejauh 9 sampai 10 km di pagi hari diperlukan waktu sekitar rata-rata setengah jam, kurang lebih begitu analisa saya tempo hari dalam tulisan ‘Jalan Panjang menuju Puspem Badung’. Itu artinya secara matematis kecepatan rata-rata kendaraan bermotor yang saya pacu adalah minimal 20 km/jam. Satu kecepatan yang barangkali jarang saya lakukan saat muda dahulu.

Kini, kenyataannya memang demikian. Tipe pengendara yang biasanya dialamatkan teman pada saya adalah ‘alon-alon asal klakon’ -biar lambat asal selamat- kata orang. Untuk berangkat kerja paling banter kecepatan motor saya pacu hingga 40 km/jam itupun jika jalanan tergolong lancar. Sedangkan jika lengang, kecepatan 60 km/jam baru bisa dicapai, itupun hanya terjadi di beberapa titik.

Bisa jadi kecepatan laju kendaraan motor yang saya gunakan terkena imbas laju kendaraan roda empat yang kerap saya lakoni lima tahun terakhir. Ya baru setelah menikah saya mulai merasakan ada perubahan laju kendaraan dari yang biasanya ngawur, zig zag dan gak terlalu peduli dengan keselamatan, berubah jadi kalem setenang sapi yang melewati ruas jalan seramai Teuku Umar barat sekalipun. Mungkin karena setelah menikah itu yang namanya nyawa mutlak dibagi dua bahkan tiga ataupun lebih. bergantung pada situasi dan kondisi keluarga. Satu untuk diri sendiri, sisanya untuk istri, anak hingga orang tua.

Bisa juga lantaran sejauh ini belum ada jadwal mendesak yang harus saya kejar setiap pagi berangkat kerja (kendatipun terlambat) ataupun sore sepulang kerja. Posisi sebagai seorang PNS yang biasa-biasa saja merupakan salah satu penyebabnya. Mengambil pekerjaan semampunya tanpa memaksa diri atau menargetkan sebuah jabatan misalnya. Hehehe…

Membiasakan diri dengan laju kecepatan kendaraan bermotor 20 km/jam hingga 40 km/jam selain bertujuan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain, pula menjaga kemungkinan terjadinya kecelakaan dengan tingkat kerusakan dan luka berat. Disamping itu ya melatih kesabaran serta emosi yang barangkali hingga kini masih kerap melonjak secara mendadak. Bagaimana dengan Anda ?

"11" Comments
  1. Pingback: Tweets that mention 20 to 40 | PanDe Baik -- Topsy.com

  2. Klo saya “alon-alon waton cepet”

    [Reply]

    pande Reply:

    artinya ? :p

    [Reply]

    Winarto Reply:

    Biar lambat asal cepat :mrgreen:

    [Reply]

  3. kalau saya sekarang malah kebalik bli, kecepatan rata2 meningkat semenjak naik Vixion, itupun karena terpaksa agar tidak terlambat tiba di kantor.

    Tapi bisa ngebut hanya saat jalanan by Pass lengang, karena belakangan ini by Pass sudah terasa seperti jalanan di dalam kota 🙁

    [Reply]

    pande Reply:

    Kalo profesi Dosen siy, ya wajar gag boleh telat. :p by pass ya ? he… paling sebel kalo balik dari daerah jimbaran pas jam 2-4 sore. macetnyaaaa…

    [Reply]

  4. Belajar nyetir kemarin sekarang malah bawa motor jadi pelan-pelan, malah jadi tambah lama di jalan :D.
    Tapi memang motor tua saya lambat sih :).

    [Reply]

    pande Reply:

    ah, Cahya bisa saja nih… yang penting selamat di perjalanan. Bukan begitu ?

    [Reply]

  5. Pingback: Boros Bensin di Musim Hujan | PanDe Baik

  6. saya dri kediri ke kantor (10 km pas) biasanya juga 15-20 mnt kalo bawa motor, jalan pasti lancar. kalo bawa mobil 30 mnt keatas soalnya pasti tertahan ama truck & bis dari jawa. cuma satu pesan saya, jangan mengendara dalam keadaan emosi, sangat berbahaya !!!!

    [Reply]

    pande Reply:

    esmosi jiwa ya ? ya enggak lah… :p

    [Reply]

Leave a Reply
*