Menu
Categories
Mengetahui Bhisama Warga Pande (bag.1) Pertama dan Kedua
August 12, 2010 tentang iLMu tamBahan

Informasi berikut saya turunkan sebagai sebuah bahan pembelajaran agar Semeton Yowana Warga Pande khususnya dan Semeton Warga Pande umumnya dapat mengetahui secara garis besar terkait 6 (enam) Bhisama Warga Pande (dipecah menjadi 3 tulisan) dalam kegiatan Dharmawacana di Museum Seni ‘Keris’ Neka hari Minggu tanggal 15 Agustus 2010. Bagi yang belum mengetahui apa pengertian Bhisama secara umum (dari dua sisi), dapat melihat kembali tulisan (tepatnya, pertanyaan) saya sebelumnya terkait ‘Sejarah Bhisama Warga Pande.

* * *

Bhisama pertama, berupa bhisama agar Warga Pande tidak lupa menyungsung Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih. Bhisama ini dipesankan dengan tegas oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala di Pura Bukit Indrakila. Selengkapnya dapat dilihat pada tulisan berikut.

Warga pande harus menyadari bahwa Pura Penataran Ida Ratu Bagus Pande di Besakih memang mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Pura Besakih. Gelar abhiseka Ida Bhatara di Penataran Pande di Besakih justru diketemukan dalam Raja Purana Pura Besakih dan di dalam Babad Dalem Tarukan.

Dalam Raja Purana Pura Besakih dijelaskan bahwa nama abhiseka Ida Bhatara di Pura Penataran Pande di Besakih adalah Ida Ratu Bagus Pande. Dalam Raja Purana Pura Besakih terdapat uraian yang jelas mengenai abhiseka itu, demikian pula mengenai keterkaitan antara Pura Penataran Pande dengan Pura Penataran Agung, karena Pura Penataran Ida Ratu Bagus Pande di Pura Besakih merupakan salah satu catur lawa yang merupakan satu kesatuan dengan Penataran Agung Pura Besakih.

Gelar abhiseka sengaja dikemukakan agar warga Pande mengetahuinya, karena dalam babad-babad Pande gelar itu tidak pernah disebutkan. Warga Pande hendaknya mempergunakan gelar itu secara sadar, karena gelar itulah yang benar menurut sumber yang layak dipercaya. Oleh karena itu gelar abhiseka itu mutlak harus disosialisasikan kepada seluruh warga Pande agar mereka lebih mendalami jati dirinya guna memperkuat tekad ngayah, sebagaiman yang dibhisama kepada Brahmana Dwala oleh Mpu Siwa Saguna.

Apa akibatnya kalau Warga pande lupa nyungsung Ida Betara Kawitan yang berstana di Pura Ida Ratu Bagus Pande di Besakih ? Bhisama Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala menyebutkannya sebagai berikut :

” Warahakena katekeng mahagotranta, ri wekas inget-inget aja lali. Yan kita lipya ngaturanga panganjali ring Bhatara Kawitan, tan wun kita kabajrawisa de paduka Bhatara, sugih gawe kurang pangan ”

(sebarluaskanlah kepada keluarga besarmu, sampai keturunanmu dikemudian hari kelak. Ingatlah selalu, jangan sampai lupa. Kalau engkau sampai lupa menyembah (nyungsung) Bhatara Kawitan, engkau akan disalahkan oleh Ida Bhatara. Kedati usahamu sukses engkau akan selalu kekurangan pangan).

*

Secara pemahaman saya pribadi, terkait Bhisama Pertama ini hukumnya Mutlak. Mengingat siapapun yang menjadi keturunan sebuah soroh, wangsa ataupun kasta apapun itu, tetap diharapkan selalu ingat dengan luluhur dalam hal ini Kawitannya sendiri. Memang sayapun terkadang menganut paham berpikir, berkata dan berbuat yang baik jauh terasa lebih bermanfaat secara langsung, namun apa yang tersirat dalam Bhisama diatas, mampu melengkapi seluruh yadnya yang kita lakukan.

* * *

Bhisama kedua, berupa bhisama agar Warga Pande mampu memahami ajaran Panca Bayu, sebuah ajaran kekuatan yang sangat penting bagi mereka yang melakoni Dharma Kapandean. Panca Bayu juga sangat penting bagi pengendalian diri untuk mengenal fungsi-fungsi atau kekuatan anggota badan tertentu. (Note : ajaran ini pernah dijabarkan dalam tulisan saya sebelumnya ‘Asal Mula istilah Pande’)

Dalam ajaran Aji Panca Bayu memuat lima ajaran inti tentang Panca Cakra atau Panca Bayu yang kemudian disebut Panca Prana. Adapun Panca Bayu atau Panca Cakra itu meliputi :

  1. Prana Mantram : sumber dari segala sumber kekuatan cakra bertempat di Papusuhan atau pada jantung, keluar melalui hidung berfungsi sebagai hembusan
  2. Apana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada pori pori seluruh tubuh, keluar menjadi air disebut Palungan (sumber air)
  3. Sabana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada hati, keluar menjadi api melalui mata kanan
  4. Udana Mantram : kekuatan bersumber pada ubun-ubun keluar menjadi garam (inti Baja)
  5. Byana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada tiga persendian utama yaitu paha, tangan dan jari.

Cakram Mantram mengalir kepada paha menjadi kekuatan tanpa tanding, tahan api yang menyebabkan paha menjadi keras dan berfungsi sebagai landasan. Cakram Mantram mengalir ke tangan menyebabkan seluruh tangan menjadi kuat dan keras, tahan api, berfungsi sebagai palu. Cakram Mantram mengalir keseluruh jari jari tangan membuat jari menjadi tahan api, berfungsi sebagai penjepit atau sepit.

*

Secara pemahaman saya pribadi, terkait Bhisama Kedua ini masih dapat ditoleransi mengingat pada masa kini belum semua Semeton Warga Pande mampu menjalani kewajiban melaksanakan Darma Kepandean. Terutama mereka yang berada dalam rentang usia yang masih labil atau mereka yang sudah terlanjur bergerak dibidang lain. Namun tidak ada salahnya apabila satu saat nanti, ketika Semeton Warga Pande sudah siap untuk memahami proses akan kewajiban tersebut, barulah Bhisama Kedua ini dijalankan.

* * *

"5" Comments
  1. Pingback: Sedikit Cerita tentang Tulisan ber-Tema Keris (dan Bhisama) | PanDe Baik

  2. Pak PandeBaik, tulisan tentang sejarah sejarah pande sama bhisamanya boleh dipajang di blog saya gak?
    ya, kalo tidak boleh ya tidak apa – apa sih…………
    soalnya saya juga pingin tau tentang sejarah pande…..

    [Reply]

    pande Reply:

    Silahkan digunakan sebagaimana perlunya. Jangan sungkan-sungkan…

    [Reply]

  3. Pak tulisan nya boleh saya pakai di blog saya

    [Reply]

    pande Reply:

    Silahkan

    [Reply]

Leave a Reply
*